M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

ISI BALI Gelar Pameran BURU–JIWA–BUMI, Perkuat Dialog Seni Bali–Seoul

Oct 19, 2026 | Berita, Berita Kegiatan, Headline, Kerjasama

Foto: Pameran seni rupa BURU–JIWA–BUMI bertajuk Bali–Seoul on Dialogue di Nata-Citta Arts Space (N-CAS), ISI BALI, Jumat (16/10)

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) bekerja sama dengan The Korea Indonesia Center (KIC) menghadirkan pameran seni rupa BURU–JIWA–BUMI serangkaian Festival Internasional Bali Padma Bhuwana VI, dalam Program Bali-Bhuwana Rupa #2 bertajuk Bali–Seoul on Dialogue. Pameran ini dibuka oleh pendiri Agung Rai Museum of Art (ARMA), Anak Agung Gde Rai, Jumat (16/10) di Nata-Citta Arts Space (N-CAS), ISI BALI.

Pameran ini mempertemukan empat seniman dari Bali dan Korea Selatan melalui karya keramik, fotografi, gerabah, dan lukisan yang mengeksplorasi hubungan manusia, pengalaman batin, dan alam. Mereka, yakni Prof. Wayan Kun Adnyana, Young Choi, I Ketut Muka Pendet, dan Hyonsun Kim. Pameran ini dikuratori oleh Prof. Koh Young Hun dan Warih Wisatsana, yang merangkai perbedaan latar budaya dan medium artistik menjadi ruang dialog lintas budaya.

Dalam sambutannya sebagai tuan rumah, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI, Prof. Dr. Komang Sudirga, menyampaikan bahwa pameran ini juga mencerminkan eratnya hubungan dan kerja sama yang terus terjalin antara ISI BALI dan Korea Selatan. Kolaborasi tersebut telah diwujudkan melalui berbagai kegiatan akademik dan seni yang mempertemukan komunitas kedua negara.

Foto: Pameran seni rupa BURU–JIWA–BUMI bertajuk Bali–Seoul on Dialogue di Nata-Citta Arts Space (N-CAS), ISI BALI, Jumat (16/10)

Pada 2025, ISI BALI bekerja sama dengan KIC, Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) dan Korea Association of Malay-Indonesian Studies (KAMIS) menyelenggarakan Seminar Internasional Bali-Bhuwana Waskita V bertajuk Pram–Bhuwana–Prana (Pramoedya–World–Paradigm). Kegiatan tersebut digelar untuk memperingati 100 tahun kelahiran sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.

Selain kerja sama akademik, ISI BALI juga kerap menghadirkan karya fotografer Korea Selatan dalam berbagai pameran, termasuk Bali-Bhuwana Rupa dan Bali-Global Art Maps (B-GAME), yang diselenggarakan dalam rangkaian Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD).

Menurut Komang Sudirga, berbagai kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa seni dan budaya dapat menjadi jembatan antarmasyarakat sekaligus memperkuat pemahaman bersama. Melalui pameran BURU–JIWA–BUMI, hubungan tersebut kembali memperoleh ruang perjumpaan melalui praktik seni dan pertukaran gagasan lintas budaya.

Kurator Warih Wisatsana menjelaskan bahwa BURU–JIWA–BUMI berangkat dari gagasan penciptaan seni sebagai perjalanan pencarian dan penemuan diri. Buru merepresentasikan keberanian menjelajahi kemungkinan baru, jiwa menggambarkan pengalaman yang membentuk karakter dan bahasa artistik, sedangkan bumi menjadi sumber sekaligus ruang kehidupan tempat pengalaman berakar.

Gagasan tersebut juga beririsan dengan konsep estetika wabi-sabi, yang menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan, ketidakteraturan, dan kefanaan. Melalui pendekatan ini, karya seni tidak hanya dipandang sebagai objek visual, tetapi juga sebagai ruang perenungan tentang kehidupan dan hubungan manusia dengan alam.

Foto: Pameran seni rupa BURU–JIWA–BUMI bertajuk Bali–Seoul on Dialogue di Nata-Citta Arts Space (N-CAS), ISI BALI, Jumat (16/10)

Masing-masing seniman menghadirkan pendekatan yang khas. Kim Hyonsun mengeksplorasi tanah liat melalui bentuk-bentuk keramik yang ekspresif. Young Choi mengolah cahaya, bayangan, dan ruang dalam fotografi untuk menghadirkan perspektif baru terhadap objek keramik. Sementara itu, I Ketut Muka Pendet mengangkat makna spiritual dan kultural wadah air suci kumba dalam tradISI BALI melalui karya gerabah.

Adapun Wayan Kun Adnyana menampilkan eksplorasi abstraksi melalui lapisan warna, guratan, dan tekstur yang menyimpan jejak pengalaman serta perjalanan waktu. Karya-karyanya memperlihatkan perkembangan bahasa visual yang tidak sekadar menggambarkan kenyataan, tetapi menafsirkan kembali pengalaman melalui kebebasan artistik.

Melalui pertemuan empat pendekatan tersebut, BURU–JIWA–BUMI tidak berupaya menyeragamkan perbedaan, melainkan membuka ruang bagi beragam cara pandang dalam memaknai alam, tradisi, dan kehidupan. Pameran ini sekaligus menjadi wadah pertukaran gagasan artistik antara Bali dan Seoul melalui bahasa seni yang melampaui batas medium maupun budaya.

Categories

Loading...