Foto: Campus Week International Exhibition 3.0 di Nata-Citta Art Space ISI BALI, Kamis (30/7).
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menghadirkan ruang apresiasi seni berskala internasional melalui Campus Week International Exhibition 3.0 bertajuk “Adi Karsa Anantari”. Pameran yang menampilkan 39 karya terpilih hasil open call ini resmi dibuka oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, di Nata-Citta Art Space (N-CAS) ISI BALI, Kamis (30/7).
Sebanyak 39 peserta terpilih melalui proses kurasi dari 116 submitter yang mengikuti open call. Para peserta terdiri atas mahasiswa ISI BALI serta perupa umum dari dalam dan luar negeri, antara lain Indonesia, Inggris, Thailand, Australia, India, dan Chili. Keberagaman latar belakang tersebut memperkaya perspektif dalam pameran sekaligus mempertegas semangat kolaborasi lintas budaya yang diusung Campus Week 2026.
Pameran ini menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Campus Week 2026 yang memberikan ruang bagi mahasiswa dan seniman untuk menampilkan gagasan kreatif melalui berbagai medium seni. Sebanyak 39 karya yang dipamerkan mengeksplorasi beragam isu kontemporer, seperti tradisi, lingkungan, pemberdayaan perempuan, teknologi, hingga identitas budaya melalui media lukisan, ilustrasi, seni digital, dan instalasi.
Foto: Pembukaan Campus Week International Exhibition 3.0 di Nata-Citta Art Space ISI BALI, Kamis (30/7).
Dalam sambutannya, Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, menyampaikan apresiasi kepada BEM ISI BALI atas terselenggaranya pameran internasional yang dinilai mampu menunjukkan kapasitas mahasiswa dalam menghadirkan ruang berkesenian yang berkualitas dan terbuka bagi masyarakat.
Menurutnya, seni dan desain merupakan medium yang memungkinkan mahasiswa menyampaikan gagasan secara bijaksana melalui bahasa visual yang estetik, unik, dan berkepribadian. Proses menjadi seniman maupun desainer bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi juga perjalanan untuk terus mengeksplorasi keunikan, menemukan jati diri, serta membangun keberlanjutan dalam berkarya. “Mahasiswa memiliki kemampuan untuk mengakses berbagai media dan menjadikan seni sebagai cara menyampaikan sesuatu secara bijaksana. Keunikan dan keindahan dalam setiap karya perlu terus dieksplorasi sebagai bagian dari pencarian jati diri seorang seniman maupun desainer. Masa depan ada di tangan mahasiswa ISI BALI. Teruslah berkarya dan jadikan seni sebagai ruang untuk menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan bagi masyarakat,” ujar Rektor.
Foto: Campus Week International Exhibition 3.0 di Nata-Citta Art Space ISI BALI, Kamis (30/7).
Mengusung tema “Adi Karsa Anantari”, pameran ini mengangkat makna kehendak mulia yang terus mengalir tanpa henti menembus batas waktu. Dalam pengantar kuratorial yang ditulis oleh Dewa Ayu Eka Savitri Sastrawan, S.Sn., M.A. dan Dr. Bianca Winataputri dijelaskan bahwa tema tersebut menjadi pengingat bahwa berbagai kemajuan yang dinikmati generasi muda saat ini merupakan hasil dari perjuangan panjang generasi sebelumnya. Melalui tema ini, BEM ISI BALI mengajak masyarakat untuk menghargai semangat, kerja keras, dan nilai-nilai yang telah menjadi fondasi kehidupan bersama.
Kurator menjelaskan bahwa pameran ini juga berangkat dari kegelisahan terhadap derasnya arus informasi yang sering kali membuat masyarakat kehilangan ruang untuk mengingat dan merefleksikan berbagai persoalan secara mendalam. Dalam konteks tersebut, seni hadir sebagai medium yang mampu menghadirkan pengalaman yang lebih reflektif melalui kekuatan bercerita (storytelling), sehingga berbagai isu dapat dipahami dengan lebih utuh dan bertanggung jawab.
Melalui proses kurasi, karya-karya yang dipilih menampilkan beragam narasi lintas generasi yang merespons isu-isu kontemporer, seperti tradisi, lingkungan, pemberdayaan perempuan, dan perkembangan teknologi. Berbagai medium dimanfaatkan secara kreatif, mulai dari media digital, media cetak, lukisan, hingga instalasi. Sejumlah karya mengadaptasi cerita-cerita lokal Bali, sejarah lisan, mitologi, hingga kisah-kisah dari berbagai negara, sekaligus menunjukkan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), tetap membutuhkan sentuhan dan kreativitas manusia (human touch) dalam proses penciptaan karya seni.
Keikutsertaan mahasiswa ISI BALI bersama para perupa dari berbagai negara memperlihatkan bagaimana seni menjadi bahasa universal yang mampu mempertemukan beragam latar belakang budaya dalam satu ruang dialog. Melalui karya-karya yang dipamerkan, para peserta tidak hanya menyampaikan ekspresi artistik, tetapi juga menawarkan refleksi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat global saat ini. (ISIBALI/Humas)
Foto: Tiga mahasiswa ISI BALI peraih beasiswa Asian International Mobility for Students (AIMS) Program menuju Thammasat University, Thailand, Kamis (30/7)
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) kembali memperkuat komitmennya dalam mendorong internasasionalisasi pendidikan tinggi melalui partisipasi mahasiswa dalam program mobilitas internasional. Tiga mahasiswa terbaik ISI BALI resmi diberangkatkan pada Kamis (30/7)untuk mengikuti Asian International Mobility for Students (AIMS) Program di Thammasat University, Thailand. Selama enam bulan atau satu semester, mereka akan menjalani perkuliahan sekaligus memperoleh pengalaman akademik dan budaya di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Thailand.
Ketiga mahasiswa tersebut merupakan penerima Beasiswa AIMS Tahun 2026 yang telah lolos seleksi internal ISI BALI pada 21–22 Mei 2026. Berdasarkan Surat Penetapan Penerima Beasiswa AIMS Tahun 2026 Nomor 6173/DST/IT5.3/KM.00.10/2026 tanggal 25 Mei 2026, mereka ditetapkan sebagai peserta dengan capaian nilai terbaik, yakni Skyrio Chandra dari Program Studi Musik, Ni Putu Herliana Astika Deavi dari Program Studi Desain Interior, serta Aurel Nathania dari Program Studi Desain Komunikasi Visual.
Keikutsertaan ketiga mahasiswa tersebut dalam Program AIMS menjadi wujud nyata komitmen ISI BALI dalam memperluas akses mahasiswa terhadap pengalaman belajar bertaraf internasional. Selama mengikuti perkuliahan di Thammasat University, para mahasiswa akan mempelajari berbagai mata kuliah sesuai bidang keilmuan masing-masing, berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara, serta mengembangkan kemampuan akademik, komunikasi lintas budaya, dan jejaring internasasional.
Foto: Tiga mahasiswa ISI BALI peraih beasiswa Asian International Mobility for Students (AIMS) Program bersama Kepala Pusat Urusan Internasional, Dr. Ni Kadek Dwiyani, Kamis (30/7).
Program AIMS merupakan salah satu program mobilitas mahasiswa di kawasan Asia yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi melalui pertukaran mahasiswa antarperguruan tinggi mitra. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar di lingkungan akademik internasional, tetapi juga berkesempatan memperkenalkan seni, budaya, dan identitas Indonesia, khususnya Bali, kepada masyarakat global.
Rektor ISI BALI beserta sivitas akademika menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada ketiga mahasiswa yang berhasil memperoleh kesempatan mengikuti Program AIMS Tahun 2026. Keberangkatan mereka diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus meningkatkan prestasi akademik, kemampuan berbahasa asing, serta keberanian mengambil peluang di tingkat internasional. Selain menjadi duta akademik ISI BALI, ketiga mahasiswa tersebut juga diharapkan dapat membawa pulang pengalaman, pengetahuan, dan jejaring yang akan memberikan kontribusi positif bagi pengembangan pendidikan dan seni di lingkungan ISI BALI. (ISIBALI/Humas)
Foto: Sosialisasi Peningkatan Pencatatan Hak Cipta dan Produk Hak Terkait di Ruang Kuliah Umum Gedung Desain Hub ISI BALI, Selasa (28/7)
Upaya memperkuat pemahaman dan pemanfaatan Kekayaan Intelektual kembali mendapat perhatian besar di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Pada Selasa, 28 Juli 2026, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (DJKI) melalui Direktorat Hak Cipta dan Desain Industri menyelenggarakan kegiatan bertema “Lindungi Karya, Ciptakan Peluang: Mencatat Hak Cipta untuk Kreativitas dan Ekonomi Bangsa”. Sejak pagi, Ruang Kuliah Umum Gedung Desain Hub tampak dipadati dosen dan mahasiswa yang ingin memahami lebih jauh proses pencatatan hak cipta.
Kegiatan dimulai pukul 08.00 dengan registrasi peserta. Suasana formal namun hangat terasa ketika I Wayan Redana, Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kantor Wilayah Kementerian Hukum Bali, menyampaikan keynote speech sekaligus membuka kegiatan secara resmi.
Pimpinan ISI Bali yang diwakili Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama yaitu Prof. Dr. I Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum, kemudian memberikan sambutan yang menekankan pentingnya perlindungan karya di lingkungan kampus seni. Mereka mengapresiasi penuh kolaborasi dengan DJKI, terutama karena pencatatan hak cipta kini menjadi kebutuhan mendesak bagi sivitas akademika yang aktif berkarya. Antusiasme peserta semakin terlihat saat memasuki sesi berbagi pengalaman, ketika Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama juga menjadi narasumber utama dalam sesi ini. Beliau memaparkan perkembangan industri kreatif dan berbagai kendala pencatatan hak cipta yang masih ditemui di kampus dengan topik “Perkembangan terkini industri kreatif dan kendala proses Pencatatan Hak Cipta di lingkungan Institut Seni Indonesia Bali” .
Foto: Sosialisasi Peningkatan Pencatatan Hak Cipta dan Produk Hak Terkait di Ruang Kuliah Umum Gedung Desain Hub ISI BALI, Selasa (28/7)
Diskusi kemudian berlanjut pada materi inti mengenai pelindungan hukum hak cipta dan produk hak terkait, serta tata cara pencatatan melalui Sistem POP HC. Dua narasumber dari DJKI, yaitu Ariyanti, S.H., M.H., sebagai Ketua Tim Kerja Permohonan dan Publikasi Hak Cipta, serta Dr. Novi Mirawanty, S.T., M.Ti., sebagai Sekretaris Permohonan Hak Cipta, menjelaskan prosedur pencatatan secara rinci. Banyak peserta mengajukan pertanyaan, terutama terkait karya seni yang sering kali memiliki bentuk non-konvensional.
Sesi ini dipandu oleh moderator I Putu Udiyana Wasista, S.Sn., M.Sn., Kepala Pusat Penerbitan dan Kekayaan Intelektual ISI Bali, yang memastikan diskusi berjalan interaktif dan mudah dipahami oleh peserta dari berbagai latar belakang seni.
Kegiatan yang berlangsung hingga siang hari ini meninggalkan kesan positif. Banyak dosen menyebut acara ini sebagai langkah nyata memperkuat budaya perlindungan karya di kampus seni. Mahasiswa pun merasa lebih percaya diri untuk mulai mencatat karya mereka.
Pimpinan ISI Bali menegaskan bahwa kegiatan seperti ini akan terus didorong agar kreativitas sivitas akademika tidak hanya berkembang, tetapi juga terlindungi secara hukum. Di tengah pesatnya industri kreatif, pencatatan hak cipta bukan lagi sekadar formalitas, melainkan fondasi penting bagi masa depan ekonomi kreatif Indonesia. (Udiyana)
Foto: Diseminasi Karya Tugas Akhir Mahasiswa Program “ISI BALI Berdampak” Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di N-CAS ISI BALI, Senin (27/7).
Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) resmi membuka gelaran Diseminasi Karya Tugas Akhir Mahasiswa Program “ISI BALI Berdampak” untuk Semester Genap Periode Tahun Akademik 2025/2026, Senin (27/7), bertempat di Gedung Nata Citha Art Space (N-CAS), Denpasar.
Kegiatan akademik dan pameran seni ini dibuka oleh Dekan FSRD serta dihadiri oleh jajaran Wakil Rektor, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan, Direktur Program Pascasarjana, para Kepala Biro, Ketua LPPM, Ketua LPMP, dosen pembimbing, mitra industri, tenaga kependidikan, serta mahasiswa.
Foto: Diseminasi Karya Tugas Akhir Mahasiswa Program “ISI BALI Berdampak” Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di N-CAS ISI BALI, Senin (27/7).
Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD ISI BALI sekaligus Ketua Panitia Pelaksana dalam laporannya menyampaikan bahwa pameran diseminasi ini merupakan puncak pertanggungjawaban akademik dan ruang dialektika publik bagi mahasiswa. Ajang ini menguji secara nyata bagaimana gagasan artistik dan inovasi desain dapat berinteraksi dengan kebutuhan masyarakat serta tantangan zaman.
Pada periode kali ini, pameran mengusung tema filosofis “Karsa-Kanti-Karana”, yang bermakna “Manifestasi daya cipta mahasiswa dalam merajut keindahan dan menggerakkan perubahan yang berdampak.” Penciptaan karya seni dan desain tidak boleh berhenti pada batas estetika visual semata. Karsa atau niat kreatif mahasiswa harus bertaut erat dengan semangat kanti (kemitraan dan kebersamaan) untuk menjadi karana (sebab atau penggerak) lahirnya perubahan sosial, ekologis, dan ekonomi yang transformatif,” ujar Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD ISI BALI dalam pameran tersebut.
Kolaborasi Lintas Prodi dan Sentuhan Internasional
Pameran diseminasi ini diikuti oleh 23 orang mahasiswa peserta Tugas Akhir dari berbagai program studi di lingkungan FSRD ISI BALI, dengan rincian:
Seni Murni : 2 Mahasiswa
Kriya : 1 Mahasiswa
Desain Komunikasi Visual (DKV) : 7 Mahasiswa
Fotografi : 6 Mahasiswa
Desain Mode : 1 Mahasiswa
Produksi Film dan Televisi : 6 Mahasiswa
Karya-karya yang dipamerkan mencerminkan keberagaman metodologi serta eksplorasi media yang sangat relevan dengan dinamika industri kreatif masa kini.
Istimewanya, gelaran kali ini juga diperkaya oleh kehadiran mahasiswa internasional dari Program B-IPAD (Bali International Project for Arts and Design Studies). Mahasiswa asal manca negara ini telah menuntaskan masa studinya di semester ini dan turut memamerkan karya-karya terbaik mereka. Hadirnya peserta internasional ini menciptakan cross-cultural dialogue (perjumpaan lintas budaya) yang tidak hanya memperkaya perspektif estetik lokal dengan wawasan global, tetapi juga mempertegas posisi ISI BALI sebagai episentrum pendidikan seni berpikiran maju (forward-thinking) di tingkat internasional.
Pihak panitia turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih mendalam kepada pimpinan institusi, dosen pembimbing, mitra industri, serta seluruh tenaga kependidikan dan panitia yang telah berkolaborasi suksesnya acara ini. Diharapkan karya-karya yang disajikan mampu memberikan inspirasi dan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat serta pemajuan seni dan budaya.
Foto: FGD Penyusunan Dokumen Clearance Kamis (23/7) di Ruang Kuliah Umum, Desain HUB ISI BALI.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menggelar Focus Group Discussion (FGD) penyusunan dokumen clearance bertema “Wakya Jnana Widya: Pranata Pemulia Pendidikan Seni”, Kamis (23/7), di Ruang Kuliah Umum, Desain HUB ISI BALI.
FGD ini menghadirkan narasumber dari Tim Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), Pusat Data dan Teknologi Informasi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yaitu Muchamad Rochim, S.Kom., Ikhwanul Hakim, B.ICT., dan Aziz Yanuar Saputra, S.Komp.
Ketua Panitia FGD, Agus Ngurah Arya Putraka, S.Sn., M.Sn., dalam laporannya menjelaskan bahwa dokumen clearance TIK merupakan bukti persetujuan atau rekomendasi dari instansi berwenang yang menyatakan bahwa rencana belanja infrastruktur, aplikasi, atau sistem teknologi informasi telah memenuhi prinsip efisiensi serta standar Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).
“Clearance merupakan tahapan persetujuan dan izin resmi dari pemerintah pusat yang harus dipenuhi dalam pengadaan barang tertentu, terutama perangkat TIK impor seperti hardware, komputer, mesin fotokopi, dan peralatan kantor lainnya yang memerlukan proses clearance,” ujarnya.
Foto: FGD Penyusunan Dokumen Clearance Kamis (23/7) di Ruang Kuliah Umum, Desain HUB ISI BALI.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi ISI BALI saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan secara resmi menyampaikan bahwa ISI BALI menargetkan pengajuan dokumen clearance TIK pada tahun ini untuk mendukung pengadaan kebutuhan teknologi informasi kampus.
Ia menekankan bahwa peningkatan jumlah mahasiswa menuntut adanya peremajaan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran dan layanan akademik. Karena itu, FGD ini menjadi forum strategis untuk menghimpun masukan dari seluruh unit pengguna di lingkungan ISI BALI.
“Kegiatan ini merupakan wujud komitmen bersama seluruh unit kerja dalam upaya meningkatkan infrastruktur layanan ISI BALI agar semakin maju dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global. Namun, proses pengadaan peralatan tersebut harus melalui tahapan administratif, salah satunya clearance yang disetujui oleh pemerintah berwenang. Oleh karena itu, pemahaman terhadap proses penyusunan dokumen clearance menjadi sangat penting,” jelasnya.
Dalam sesi pemaparan, tim SPBE Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi memberikan penjelasan mengenai mekanisme perencanaan kebutuhan TIK, penyusunan dokumen clearance, standar SPBE, serta langkah-langkah yang harus dipenuhi agar pengajuan pengadaan dapat diproses secara efektif dan sesuai regulasi.
FGD diikuti oleh berbagai unsur pimpinan dan pengelola administrasi di lingkungan ISI BALI, antara lain staf UPA TIK, wakil dekan bidang keuangan dan umum Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) dan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) beserta staf, Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama, Kepala Biro Perencanaan, Keuangan, dan Umum, para kepala bagian dan kepala subbagian terkait, termasuk Pascasarjana dan LPPM.
ISI BALI berharap proses penyusunan dokumen clearance dapat dilakukan secara lebih terarah, akuntabel, dan sesuai ketentuan pemerintah, sehingga penguatan infrastruktur digital kampus dapat segera diwujudkan untuk mendukung transformasi layanan pendidikan tinggi berkualitas. (ISIBALI/Humas)
Apresiasi atas Peningkatan Efisiensi dan Akuntabilitas Transaksi Keuangan
Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menerima penghargaan Peringkat 1 Satuan Kerja Pengguna CMS Teraktif Semester I Tahun 2026 di Aula A Gedung Keuangan Negara (GKN) I Denpasar, Rabu (22/7).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) meraih penghargaan Peringkat 1 Satuan Kerja Pengguna Cash Management System (CMS) Teraktif Semester I Tahun 2026 dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Denpasar. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala KPPN Denpasar, Aris Saputro, kepada Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana, dalam Forum Konsultasi Publik di Aula A Gedung Keuangan Negara (GKN) I Denpasar, Rabu (22/7).
Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas komitmen ISI BALI dalam mendukung pengelolaan keuangan negara yang modern, transparan, dan akuntabel melalui pemanfaatan teknologi digital dalam transaksi perbankan pemerintah.
ISI BALI dinilai aktif dan optimal dalam memanfaatkan layanan CMS untuk mendukung pengelolaan keuangan institusi. Melalui sistem tersebut, ISI BALI secara konsisten menggunakan berbagai fitur transaksi perbankan pemerintah secara realtime online, mulai dari informasi saldo, transfer antar rekening, pembayaran penerimaan negara, hingga pembayaran utilitas. Pemanfaatan CMS secara intensif tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi, ketepatan waktu, serta akuntabilitas pengelolaan keuangan institusi, sekaligus mendukung transformasi digital layanan perbendaharaan pemerintah yang lebih transparan dan modern.
Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana (2 dari kanan) menerima penghargaan Peringkat 1 Satuan Kerja Pengguna CMS Teraktif Semester I Tahun 2026 di Aula A Gedung Keuangan Negara (GKN) I Denpasar, Rabu (22/7).
Forum tersebut dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Bali, Supendi, yang menegaskan bahwa Forum Konsultasi Publik merupakan wadah untuk menghimpun masukan dari para pemangku kepentingan guna meningkatkan kualitas pelayanan publik sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri PANRB Nomor 16 Tahun 2017.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor ISI BALI menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh unsur pengelola keuangan di lingkungan kampus. Menurutnya, optimalisasi penggunaan CMS tidak hanya meningkatkan efisiensi administrasi keuangan, tetapi juga memperkuat tata kelola keuangan institusi yang selaras dengan prinsip good governance.
Cash Management System (CMS) merupakan sistem aplikasi dan informasi yang menyediakan berbagai layanan transaksi perbankan secara realtime online, antara lain informasi saldo rekening, transfer antar rekening, pembayaran penerimaan negara, pembayaran utilitas, serta fasilitas transaksi lainnya yang mendukung pelaksanaan pengelolaan keuangan satuan kerja pemerintah.
Pada kesempatan tersebut, Kepala KPPN Denpasar, Aris Saputro, bersama Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran (PPA) I Kanwil DJPb Provinsi Bali turut memaparkan evaluasi pelaksanaan anggaran, sekaligus memperkenalkan tugas, fungsi, dan standar layanan KPPN kepada seluruh peserta forum.
Dengan diraihnya penghargaan ini, ISI BALI menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola keuangan berbasis digital, sekaligus mendukung transformasi layanan keuangan pemerintah yang semakin efisien, transparan, dan akuntabel. (ISIBALI/Humas)