
Foto: FGD penyusunan buku profil Industri Kecil dan Menengah (IKM) perajin wastra dan logam Kabupaten Gianyar, Jumat (18/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gianyar menggelar Diskusi Terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) bertajuk “Gina-Jnana-Guna (Kharisma Mahakarya Pengetahuan)”, Jumat (18/9). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen, Lantai 3 ISI BALI ini menjadi bagian dari proses penyusunan buku profil Industri Kecil dan Menengah (IKM) perajin wastra dan logam Kabupaten Gianyar.
FGD digelar untuk memperdalam dan merekam kekayaan kriya Gianyar, mulai dari taksonomi wastra dan logam, perjalanan historis usaha, kapasitas produksi, hingga daya resiliensi pelaku IKM dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan industri. Pendalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat dokumentasi sekaligus memberikan gambaran mengenai potensi pengembangan IKM wastra dan logam Gianyar di masa mendatang.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, dalam sambutannya menyampaikan bahwa proses pendalaman bersama pelaku usaha dan perajin menunjukkan besarnya potensi kriya Gianyar untuk terus berkembang. Tim dari Program Studi Kriya dan Program Studi Desain ISI BALI juga menemukan berbagai bukti mengenai daya kebertahanan atau resilience IKM di tengah perubahan lingkungan usaha.

Foto: FGD penyusunan buku profil Industri Kecil dan Menengah (IKM) perajin wastra dan logam Kabupaten Gianyar, Jumat (18/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama.
“Pendalaman yang dilakukan bersama narasumber, baik pengusaha maupun perajin kecil dan menengah, semakin memperlihatkan bahwa Gianyar memiliki potensi besar untuk terus berkembang di masa mendatang. Kami menemukan berbagai fakta dan pengalaman baru yang menunjukkan bagaimana pelaku IKM mampu mempertahankan keberlangsungan usahanya di tengah berbagai tantangan, mulai dari persaingan yang semakin ketat, keterbatasan dan kelangkaan bahan baku, hingga hadirnya industri-industri baru. Kemampuan untuk beradaptasi, berinovasi, dan mempertahankan pengetahuan kriya yang diwariskan menjadi bagian penting dari daya resiliensi pelaku IKM. Temuan-temuan inilah yang kemudian menjadi bagian penting dalam membaca masa depan kriya Gianyar,” jelasnya.
Hasil pengkajian tersebut kemudian dikonstruksi menjadi dua buku, yakni Sawen Wastra Gianyar yang mengangkat profil 20 IKM dan perajin wastra terpilih serta Tatah Logam Titah Leluhur yang mendokumentasikan profil IKM dan perajin logam terpilih di Kabupaten Gianyar.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Gianyar, Dr. Surya Adnyani Mahayastra, yang membuka FGD secara resmi, menegaskan pentingnya upaya dokumentasi dan pelestarian karya kriya Gianyar, terlebih Gianyar telah dikenal sebagai World Craft City.
“Sebagai World Craft City, Gianyar memiliki kekayaan kriya yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Tantangannya bukan hanya mempertahankan karya yang telah diwariskan, tetapi juga memastikan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang menyertainya tetap hidup dan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, kerja sama Pemerintah Kabupaten Gianyar dengan ISI BALI dalam penyusunan buku ini menjadi langkah penting untuk mendokumentasikan kekayaan kriya dan wastra Gianyar secara lebih komprehensif. Melalui FGD ini, berbagai pengalaman dan pengetahuan langsung dari perajin dapat dihimpun sebagai bahan untuk merumuskan langkah pengembangan yang lebih tepat, sekaligus menjadi masukan bagi Pemerintah Kabupaten Gianyar dalam menjaga keberlanjutan, memajukan, dan memperluas apresiasi terhadap kriya dan wastra Gianyar,” ujarnya.

Foto: FGD penyusunan buku profil Industri Kecil dan Menengah (IKM) perajin wastra dan logam Kabupaten Gianyar, Jumat (18/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama.
Ketua Tim Penyusun Buku, Nyoman Dewi Pebryani, ST., MA., Ph.D, memaparkan perkembangan penyusunan kedua buku yang disusun 12 peneliti. Sawen Wastra Gianyar disusun sebagai penanda kekhasan wastra Gianyar, mencakup teknik, motif, warna, serta sistem pewarisan pengetahuan dari generasi ke generasi. Buku ini terdiri atas tiga bab yang membahas endek, songket, serta wastra berbasis pewarna alam.
Sementara itu, Tatah Logam Titah Leluhur mengangkat totalitas perajin logam Gianyar dalam mempertahankan warisan tradisi pahat emas dan perak sekaligus mengembangkan kreativitas untuk menjawab kebutuhan masa kini. Buku ini terdiri atas empat bab yang membahas perajin keris dan pusaka; tatah perak untuk sesuhunan, wayang pacadatu, serta rangkaian uang kepeng hingga perkembangan kriya dan perak kontemporer; inovasi branding untuk memperluas pasar; serta pengembangan kriya logam sebagai produk cenderamata.
Pendalaman melalui FGD menghadirkan empat narasumber yang merepresentasikan pengalaman dan perspektif pelaku IKM wastra dan logam Gianyar. Ni Nengah Sri Swarti Asih, pemilik Sri Intan Jewelry, memaparkan “Kreativitas Desain Aksesoris dan Tata Kelola Bisnis Berkelanjutan”. Selanjutnya, I Made Megayasa, Ketua Celuk Design Center, membawakan materi “Produktivitas dan Daya Dukung Modal pada IKM Logam”.
Dari sektor wastra, Ida Bagus Adnyana, pemilik Pertenunan Putri Ayu, menyampaikan paparan “Inovasi dan Sistem Pewarisan Tenun Gianyar”, sedangkan Pande Nyoman Yori Pratana, generasi penerus Pertenunan Setia Cap Cili, mengangkat tema “Resiliensi dan Regenerasi Perajin Wastra Gianyar”.
Keempat perspektif tersebut memperkaya penyusunan profil IKM dengan tidak hanya mendokumentasikan produk, tetapi juga menelusuri pengetahuan, pengalaman usaha, proses regenerasi, inovasi, pengelolaan bisnis, serta strategi perajin dalam mempertahankan keberlanjutan usaha.
Melalui FGD ini, Sawen Wastra Gianyar dan Tatah Logam Titah Leluhur diarahkan menjadi lebih dari sekadar buku profil. Keduanya diharapkan menjadi dokumentasi kekayaan kriya Gianyar, khususnya wastra dan logam, sekaligus media pelestarian pengetahuan dan tradisi perajin agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kedua buku tersebut juga diharapkan dapat menjadi sarana promosi bagi IKM unggulan Kabupaten Gianyar kepada masyarakat, wisatawan, kolektor, dan pasar yang lebih luas. Di sisi lain, dokumentasi ini diharapkan memperkuat identitas dan kekhasan produk Gianyar dengan memperlihatkan hubungan antara keterampilan, kreativitas, budaya, dan nilai-nilai leluhur.
Lebih lanjut, hasil pengkajian diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan IKM Gianyar, terutama dalam aspek regenerasi perajin, inovasi desain, peningkatan kualitas produk, penguatan branding, dan perluasan akses pasar.
Dengan demikian, penyusunan kedua buku tidak hanya merekam apa yang telah diwariskan, tetapi juga memetakan bagaimana pengetahuan dan keterampilan kriya Gianyar dapat terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (ISIBALI/Humas)










