Foto: Pameran Desain Internasional Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) di Neka Art Museum (NAM), Senin, 26 Oktober 2026.
Serangkaian B-GAAD III Tahun 2026, ISI BALI mempersembahkan Pameran Seni Rupa Internasional Bali-Global Art Map Exhibition (B-GAME) dan Pameran Desain Internasional Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME). Pameran seni rupa menawarkan capaian-capaian artistika rupa baru, sementara wujud desain menyajikan keberagaman visual kini berbasis aneka medium.
Adapun B-GIDME bertema “Soulful Space on Design Innovation Now” mengeksplorasi hubungan antara ruang, emosi, dan nilai-nilai kemanusiaan melalui beragam karya desain kontemporer. Pameran yang dikuratori Anak Agung Bagus Udayana, Melati Blanca Danes, dan Loyce L. Arthur, dibuka oleh Dewan Penasihat ISI BALI, Drs. Tjokorda Gde Putra Sukawati, pada Senin (26/10/2026) di Neka Art Museum (NAM), Bali. B-GIDME menghadirkan karya dari 53 desainer bereputasi internasional yang berasal dari lima negara di kawasan Asia-Pasifik, yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Jepang, dan India.
Pameran seni rupa internasional B-GAME, diadakan di tiga tempat, yakni Nata-Citta Art Space (N-CAS) ISI BALI, Komaneka Art Gallery Ubud, dan Komaneka Art Gallery Keramas. Pembukaan pameran dilaksanakan di N-CAS ISI BALI, Selasa, 27 Oktober 2026 oleh pendiri Museum ARMA, Anak Agung Gde Rai. B-GAME 2026 diikuti 135 karya dari 108 perupa lima negara, yakni Australia, Indonesia, Iran, Korea Selatan, dan Malaysia. Kurator pameran, Wayan Kun Adnyana, Jeon Dongsu, dan Warih Wisatsana mengetengahkan gagasan Soul and Sincerity in the Creation of Now Metaphor menempatkan jiwa dan ketulusan sebagai daya kreatif dalam menanggapi pengalaman personal, perubahan sosial, serta kenyataan kehidupan kontemporer.
Foto: Bali-Global Art and Design Symposium (B-GADS) 2026 di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI, Kamis, 29 Oktober 2026
Leader Summit serangkaian B-GAAD III Tahun 2026, digelar Selasa, 27 Oktober 2026 di Ruang Sabha Citta Mahottama, Gedung Desain Hub, ISI BALI diikuti 12 pimpinan atau perwakilan perguruan tinggi seni dan desain Asia-Pasifik, serta 18 jajaran pimpinan ISI BALI. Leader Summit berlangsung hangat dan penuh antusias dengan beragam pandangan, berhasil melahirkan Bali’s Perspectives yang merupakan aktualisasi dari lima visi B-GAAD, Panca Mahadharma:
Pendidikan tinggi seni dan desain merupakan pembelajaran holistik yang mengintegrasikan pengetahuan, pengalaman, dan daya kreatif. Inisiatif mobilitas dalam berbagai bentuk, termasuk program gelar ganda (double degree), yang menghubungkan mahasiswa dan dosen seni dan desain dengan beragam budaya lokal, medan seni dan desain, serta jejaring lintas negara di kawasan Asia-Pasifik, merupakan hal yang sangat fundamental. Inisiatif mobilitas (mobility program) menjadi elemen strategis dalam memperkuat kualitas dan reputasi pendidikan seni dan desain hari ini.
Kreativitas dan inovasi seni dan desain harus menempatkan seniman atau desainer sebagai pencipta utama, olah tangan dan jiwa tetap menjadi unsur hakiki dalam proses penciptaan. Teknologi kecerdasan buatan (AI) atau bentuk kecanggihan teknologi lainnya tetaplah diposisikan sebagai piranti kreatif. Pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana dengan tetap memastikan bahwa keutamaan penciptaan tetap menghubungkan spirit pencipta dengan makna budaya.
Secara hakekat, seni dan desain dicipta untuk masyarakat. Kami sepenuhnya memahami bahwa budaya lokal merupakan sumber utama kreativitas, sekaligus sumber inspirasi yang terbuka bagi berbagai pengembangan baru, yang harus senantiasa dilakukan dengan penghormatan setinggi-tingginya terhadap budaya lokal yang telah ada.
Relevansi cipta/kaji seni-desain dalam konservasi lingkungan alam menuntut sinergi dengan penelitian ilmiah. Keutamaan dan keunikan cipta/kaji seni dan desain adalah mengajukan pertanyaan serta menawarkan perspektif baru yang lahir dari imajinasi dan spirit cipta. Relevansi cipta/kaji seni-desain dalam menumbuhkan kebersamaan global tentang kepedulian pada alam, memungkinkan terwujudnya keragaman masa depan yang lebih baik.
B-GAAD diyakini menjadi platform strategis sekaligus wadah pertemuan dan pertukaran gagasan bagi perguruan tinggi seni dan desain di berbagai institusi kawasan Asia-Pasifik. Platform ini didedikasikan untuk menjembatani tradisi dengan inovasi, serta teknologi dengan jiwa kemanusiaan, demi mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Butir-butir dalam Bali’s Perspectives terefleksikan pada Bali-Global Art and Design Symposium (B-GADS). Seluruh pembicara kunci dan pembicara undangan menyodorkan data lapangan dan perspektif analitik sebagaimana ditengarai dalam pembahasan pembentukan butir-butir Bali’s Perspectives pada B-GAAD’s Leader Summit.
B-GADS mengahadirka 18 pembicara terpilih, dua pembicara utama sebagai pemantik, yakni Presiden Phetcaburi Radjabhat University, Thailand, Assoc. Prof. Dr. Phatcharasak Arlai dan Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Anyana. B-GADS dilaksanakan pada Kamis, 29 Oktober 2026 di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama. Adapun pembicara undangan lainnya terdiri dari: Professor Ye Eun Lee (Dongduck Women’s University) dan Professor Min Seol (Sungkyunkwan University), Korea Selatan, Prof. Jaygo Bloom (LASALLE College of the Arts), Singapura, Prof. Jeremy Grimshaw (Brigham Young University), USA, Assoc. Prof Suzlee Ibrahim (Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan (ASWARA), Prof. Azril Ismail (School of Postgraduate Studies, UCYP University), dan Ts. Dr. Ellyana Mohd Muslim Tan (Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia, Prof. Justin DeHart (University of Canterbury), New Zealand, Prof. Masaru Nakamoto (Okinawa Prefectural University of Arts (OPUA), Japan, Prof. Ying-fen Wang (Graduate Institute of Musicology, National Taiwan University), Taiwan. Sementara, representasi Bali-Indonesia, tampil Pendiri Agung Rai Museum of Art (ARMA) Anak Agung Gde Rai, dan General Affairs Neka Art Museum (NAM) Pande Made Amarysti Kardi, B.Sc. Delegasi ISI BALI, yakni Dr. Made Kartawan, Dr. Anak Agung Ngurah Anom Mayun Konta Tenaya, Dr. Ida Ayu Wayan Arya Satyani, dan Dr. Made Jodog.
Foto: Pembukaan B-GAAD III Tahun 2026 di Panggung Terbuka Nretya Mandala, ISI BALI, Selasa, 27 Oktober 2026.
Semua program Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) III, tahun 2026 inisiasi Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) yang digelar sejak 26 – 30 Oktober telah berjalan sukses dan membahagiakan. Selama lima hari penyelenggaraan, B-GAAD III bertema Roh-Rong-Reh “Soul-Space-Sincerity (Jiwa-Jagat-Junjung)” mendapat apresiasi luas dan meneguhkan persaudaraan sivitas akademika perguruan tinggi seni dan desain di Asia Pasifik.
Pembukaan B-GAAD III pada Selasa, 27 Oktober 2026 di Panggung Terbuka Nretya Mandala, ISI BALI ditandai Konser Gamelan The Colossal World Gamelan Celebration bertajuk Wakya-Rong-Wahyu (The Rhythm of the Universe). Konser memadu-padu lima komposisi gamelan karya komposer bereputasi internasional, Nyoman Windha, Dewa Putu Berata, Ketut Suryatini, Ketut Garwa, dan Jeremy Grimshaw, berikut satu komposisi vokal karya Gusti Putu Sudarta.
Konser menyuguhkan warna musikal ensambel gamelan Bali, berupa barungan Gender Wayang, Selonding, Gong Gede, dan Gong Semara Dana “Damuh Tuwuh”. Barungan tersebut dipadu konfigurasi beragam instrumen gamelan dan musik etnik dunia (Jegog, Tawa-tawa, Neonolin, Busi, Selentem, Gambang Jawa, Jimbe Afrika, Rebana Nusantara, Seruling, Rebab, dan Biola).
“B-GAAD III mengutamakan kebersamaan, keseksamaan, keunggulan capaian, dan persaudaraan lintas bangsa di Asia-Pasifik. Tema Roh-Rong-Reh, yang mengikhtiarkan tentang pemaknaan keberadaan jiwa dan tubuh bertemali ketulusan, monodualitas yang menggema dalam seluruh isian program,” jelas Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana.
Ketua panitia B-GAAD III, Dr. Kadek Dwiyani, dalam laporannya menyampaikan, bahwa pelaksanaan sembilan program B-GAAD III, meliputi Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME), Bali-Global Art Map Exhibition (B-GAME), B-GAAD’s Leader Summit, Bali-Global Arts and Design Symposium (B-GADS), Bali-Global Performing Arts Map (B-GPAM), Bali-Global Encounter Figure (B-GEF), Bali-Global Authentic Trip (B-GAT), Bali-Global Expo and Job Fair (B-GEJF), dan World Cultural Carnival, melibatkan 1,616 peserta dari 12 negara, terdiri atas delegasi perguruan tinggi luar negeri, pembicara simposium, peserta leader summit, peserta pameran desain/seni rupa, serta penyaji konser, karnaval, dan workshop. Perayaan malam pembukaan diwarnai tayangan video mapping karya dosen dan mahasiswa ISI Bali mengelaborasi Candi Bhuwana Citta dengan keindahan tata cahaya pilihan. Peresmian perhelatan B-GAAD III ditandai penandatanganan poster adikarya oleh pimpinan ISI BALI (Ketua Senat, Prof. Ketut Muka, Wakil Rektor Prof. Anak Agung Gde Bagus Udayana, Dr. Made Jodog, dan Prof. Komang Sudirga), dewan pertimbangan, serta delegasi luar negeri. Kehangatan persaudaraan B-GAAD tercermin juga pada World Cultural Carnival yang dimeriahkan 240 peserta dari program studi sarjana/sarjana terapan dan pasca sarjana ISI BALI, berikut delegasi internasional dari Brigham Young University, USA, dan Phetcaburi Radjabhat University, Thailand.
Foto: Delegasi ISI BALI dalam (FKI+) XIII Tahun 2026, Sabtu, 24 Oktober 2026 di ISI Padangpanjang, Sumatera Barat.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) meraih delapan gelar juara dalam Festival Kesenian Indonesia (FKI+) XIII Tahun 2026 yang berlangsung pada 20–24 Oktober 2026 di Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Sumatera Barat. Prestasi tersebut diraih mahasiswa ISI BALI dalam berbagai cabang lomba seni, mulai dari musik, seni rupa, desain, hingga film pendek.
Pengumuman pemenang dilaksanakan dalam acara penutupan FKI+ XIII 2026 pada Sabtu (24/10) di ISI Padangpanjang. Capaian ini menjadi bukti kreativitas, keterampilan, dan daya saing mahasiswa ISI BALI dalam ajang yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi seni di Indonesia.
Prestasi tertinggi diraih Marcella Gracia Joana Tasya, mahasiswa Program Studi Musik, yang berhasil meraih Juara I Lomba Menyanyi Solo. Gelar Juara I juga diraih tim ISI BALI dalam Lomba Musik Kontemporer melalui kolaborasi mahasiswa lintas program studi, yakni Ketut Yogi Wiriatama, I Gede Galih Sastrawan, I Gede Nova Surya Rahmadi dari Program Studi Seni Karawitan, Ni Luh Putu Marselina Damayanti dari Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan, serta Ni Kadek Thaly Titi Kasih dari Program Studi Teater.
Pada cabang seni rupa dan desain, mahasiswa ISI BALI kembali menunjukkan prestasi. I Kadek Wantaro dari Program Studi Desain Interior meraih Juara II Lomba Sketsa Arsitektur, sedangkan I Kadek Agus Aditya Pratama dari Program Studi Seni Murni meraih Juara II Lomba Lukis. Prestasi berikutnya diraih I Nyoman Jati Sumarsana dari Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) yang memperoleh Juara II Lomba Desain Poster.
Sementara itu, Ni Made Suanditari dari Program Studi Desain Mode meraih Juara III Lomba Desain Fashion, dan Laetitia Gabriella dari Program Studi Animasi memperoleh Juara III Lomba Lukis Digital. Di bidang perfilman, tim mahasiswa Program Studi Produksi Film dan Televisi (PFTV) yang terdiri atas Kanaya Khumaira Aisya, I Dewa Putu Nova Andika Putra, I Komang Mahkota Rama Adinata, dan Naufall Adithya Islami Pasya berhasil meraih Juara III Lomba Film Pendek.
Selain para peraih juara, mahasiswa ISI BALI juga berpartisipasi dalam sejumlah cabang lomba lainnya, yakni fotografi yang diwakili I Wayan Arwin Pratama dari Program Studi Fotografi; tari kontemporer oleh Yemima Grace Susanto dan Ni Made Dwi Novita Sawitri dari Program Studi Tari; monolog oleh I Komang Arthana Anugrah dari Program Studi Teater; serta tatah kulit oleh Kadek Yosa Prayoga dari Program Studi Kriya. Meski belum meraih gelar juara, keikutsertaan mereka menjadi bagian penting dari proses berkarya, mengasah kemampuan, dan memperkaya pengalaman berkompetisi di tingkat nasional.
FKI+ XIII 2026 mengusung tema “Art Folklore and Ecology” dan diselenggarakan oleh Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Seni Indonesia (BKS-PTSI). Melalui partisipasi dalam festival ini, ISI BALI tidak hanya memperkenalkan karya dan talenta mahasiswa, tetapi juga memperkuat ruang pertukaran gagasan, pengalaman, dan jejaring antarmahasiswa serta perguruan tinggi seni di Indonesia.
Capaian delapan gelar juara ini diharapkan menjadi penyemangat bagi mahasiswa ISI BALI untuk terus berkarya, berinovasi, dan mengembangkan potensi seni di berbagai bidang. Apresiasi juga diberikan kepada seluruh mahasiswa yang telah membawa nama ISI BALI dan menunjukkan dedikasi serta kreativitas sepanjang pelaksanaan FKI+ XIII 2026. (ISIBALI/Humas)
Perkumpulan Wayang Wong Prodi Seni Pedalangan FSP ISI Bali melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan menyajikan sesolahan tabuh dan tari wayang wong dalam rangka pelaksanaan upacara Padudusan Alit, Mupuk Padagingan, Tawur Balik Sumpah, dan Ngresigana di Pura Alas Arum Banjar Lodsema, Desa Adat Mawang Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar. Adapun peserta yang dilibatkan dalam kegiatan ini adalah sejumlah dosen, mahasiswa aktif dan alumni dari Program Studi Seni Pedalangan, dan juga diikuti oleh beberapa staff tendik dan dosen dari Fakultas Seni Pertunjukan. Kegiatan dilaksanakan pada Rabu, 21 Oktober 2026 mulai pukul 20.00 wita hingga selesai. Adapun kegiatan ini adalah untuk memenuhi permohonan pengabdian dalam bentuk ayah-ayahan yang disampaikan oleh panitia di pura tersebut kepada Institut Seni Indonesia Bali yang dalam hal ini secara langsung didisposisikan ke Fakultas Seni Pertunjukan. Sebelum kegiatan pengabdian dilaksanakan, para peserta yang telah ditugaskan dihimpun terlebih dahulu, dan melakukan latihan yang intensif selama beberapa hari, agar dapat memberikan performa yang maksimal pada saat kegiatan berlangsung, dan tentu bisa mengharumkan nama ISI Bali di masyarakat. Kegiatan serupa juga pernah dilakukan di kampus ISI Bali dalam menunjang pelaksanaan piodalan di Pura Padma Nareswara ISI Bali, dan juga pernah beberapa kali dilaksanakan di beberapa Desa Adat di Bali. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan mampu untuk menjadi sarana pembelajaran, penelitiang, pemberdayaan, dan revitalisasi eksistensi pertunjukan wayang wong di Bali.
Foto: Pergelaran inovatif intermedium Huni-Jnana-Hana di Museum Rudana, Ubud, Senin (19/10)
Merangkai Setanggi Puspa Budaya untuk memperingati Hari Museum Indonesia 2026, Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menghadirkan pergelaran inovatif intermedium Huni-Jnana-Hana di Museum Rudana, Ubud, Senin (19/10). Pertunjukan ini menjadi wujud pengembangan seni berbasis penelitian dan penciptaan dosen melalui Program Penciptaan Dosen Seni dan Desain (P2DSD) II Tahun 2026 yang didukung hibah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP2MP) ISI BALI.
Mengusung tema “Museum Soko Guru Bangsa, Rumah Kebudayaan Kita”, rangkaian kegiatan tersebut turut diisi dengan peresmian pameran seni rupa Guwung Suwung karya Rektor ISI BALI, Wayan ‘Kun’ Adnyana. Kegiatan ini dihadiri Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon, Ketua Asosiasi Museum I Putu Supadma Rudana, serta undangan dari kalangan kebudayaan, akademisi, permuseuman, dan pelaku seni.
Foto: Pergelaran inovatif intermedium Huni-Jnana-Hana di Museum Rudana, Ubud, Senin (19/10)
Karya ini merupakan hasil penelitian dan penciptaan tiga dosen ISI BALI, yaitu Dr. Ni Wayan Ardini, S.Sn., M.Si., sebagai ketua peneliti HUNI; Dr. I Wayan Budiarsa, S.Sn., M.Si., sebagai ketua peneliti HANA; serta Guntur Eko Prasetyo, S.Pd., M.Sn., sebagai ketua peneliti JNANA. Ketiga karya tersebut dirangkai menjadi satu pertunjukan yang menghubungkan hasil penelitian dengan praktik penciptaan seni.
Melalui perpaduan tari, musik, gamelan Bali, dan harmoni musik Barat, Huni-Jnana-Hana mengajak penonton merenungkan hubungan antara pengetahuan, keberadaan, dan kehidupan. Karya ini merangkai tiga gagasan penciptaan, yakni HUNI, JNANA, dan HANA, yang mengeksplorasi bagaimana pengetahuan tidak hanya dipahami melalui pikiran, tetapi juga dihayati dan diwujudkan melalui tubuh serta ekspresi artistik.
Foto: Pergelaran inovatif intermedium Huni-Jnana-Hana di Museum Rudana, Ubud, Senin (19/10)
Gagasan tersebut diterjemahkan melalui gerak, bunyi, ritme, jeda, dan dinamika komposisi panggung. Pertemuan berbagai unsur seni menghadirkan pengalaman yang mempertemukan tradisi dengan pendekatan artistik kontemporer, sekaligus membuka ruang refleksi tentang makna kehadiran dan kesadaran manusia.
Sebanyak 150 personel terlibat dalam proses penciptaan ini, terdiri atas 105 penari dan pemusik serta 45 anggota tim peneliti. Kelompok HUNI dan HANA masing-masing melibatkan 35 penari dan 15 anggota tim peneliti, sedangkan kelompok JNANA melibatkan 35 pemusik dan 15 anggota tim peneliti.
Proses kreatif tersebut didukung tim artistik lintas disiplin yang terdiri atas penata tari, penata musik, dan penata kostum. Sinergi para dosen, mahasiswa, seniman, dan peneliti menjadi bagian penting dalam membangun pertunjukan yang menyatukan beragam keahlian dan pengalaman. Keterlibatan mahasiswa dari jenjang sarjana, magister, hingga doktor juga memperkuat ruang pembelajaran lintas generasi dan jenjang pendidikan di lingkungan ISI BALI.
Selain diwujudkan dalam pertunjukan langsung, proses penciptaan karya ini juga dikembangkan melalui Penciptaan Film Dokumenter Gelar Karya Seni Intermedium “Huni-Hana-Jnana”, yang diketuai oleh Desak Putu Yogi Antari Tirta Yasa, S.Sn., M.Sn. Dokumentasi dalam bentuk film ini menjadi bagian dari upaya merekam dan mengabadikan proses kreatif serta gelar karya seni intermedium tersebut, sehingga gagasan dan praktik penciptaannya dapat dikenali lebih luas oleh masyarakat. (ISIBALI/Humas)