M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Gemilang di FKI+ XIII 2026, Mahasiswa ISI BALI Borong Delapan Gelar Juara

Gemilang di FKI+ XIII 2026, Mahasiswa ISI BALI Borong Delapan Gelar Juara

Foto: Delegasi ISI BALI dalam (FKI+) XIII Tahun 2026, Sabtu, 24 Oktober 2026 di ISI Padangpanjang, Sumatera Barat.

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) meraih delapan gelar juara dalam Festival Kesenian Indonesia (FKI+) XIII Tahun 2026 yang berlangsung pada 20–24 Oktober 2026 di Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Sumatera Barat. Prestasi tersebut diraih mahasiswa ISI BALI dalam berbagai cabang lomba seni, mulai dari musik, seni rupa, desain, hingga film pendek.

Pengumuman pemenang dilaksanakan dalam acara penutupan FKI+ XIII 2026 pada Sabtu (24/10) di ISI Padangpanjang. Capaian ini menjadi bukti kreativitas, keterampilan, dan daya saing mahasiswa ISI BALI dalam ajang yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi seni di Indonesia.

Prestasi tertinggi diraih Marcella Gracia Joana Tasya, mahasiswa Program Studi Musik, yang berhasil meraih Juara I Lomba Menyanyi Solo. Gelar Juara I juga diraih tim ISI BALI dalam Lomba Musik Kontemporer melalui kolaborasi mahasiswa lintas program studi, yakni Ketut Yogi Wiriatama, I Gede Galih Sastrawan, I Gede Nova Surya Rahmadi dari Program Studi Seni Karawitan, Ni Luh Putu Marselina Damayanti dari Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan, serta Ni Kadek Thaly Titi Kasih dari Program Studi Teater.

Pada cabang seni rupa dan desain, mahasiswa ISI BALI kembali menunjukkan prestasi. I Kadek Wantaro dari Program Studi Desain Interior meraih Juara II Lomba Sketsa Arsitektur, sedangkan I Kadek Agus Aditya Pratama dari Program Studi Seni Murni meraih Juara II Lomba Lukis. Prestasi berikutnya diraih I Nyoman Jati Sumarsana dari Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) yang memperoleh Juara II Lomba Desain Poster.

Sementara itu, Ni Made Suanditari dari Program Studi Desain Mode meraih Juara III Lomba Desain Fashion, dan Laetitia Gabriella dari Program Studi Animasi memperoleh Juara III Lomba Lukis Digital. Di bidang perfilman, tim mahasiswa Program Studi Produksi Film dan Televisi (PFTV) yang terdiri atas Kanaya Khumaira Aisya, I Dewa Putu Nova Andika Putra, I Komang Mahkota Rama Adinata, dan Naufall Adithya Islami Pasya berhasil meraih Juara III Lomba Film Pendek.

Selain para peraih juara, mahasiswa ISI BALI juga berpartisipasi dalam sejumlah cabang lomba lainnya, yakni fotografi yang diwakili I Wayan Arwin Pratama dari Program Studi Fotografi; tari kontemporer oleh Yemima Grace Susanto dan Ni Made Dwi Novita Sawitri dari Program Studi Tari; monolog oleh I Komang Arthana Anugrah dari Program Studi Teater; serta tatah kulit oleh Kadek Yosa Prayoga dari Program Studi Kriya. Meski belum meraih gelar juara, keikutsertaan mereka menjadi bagian penting dari proses berkarya, mengasah kemampuan, dan memperkaya pengalaman berkompetisi di tingkat nasional.

FKI+ XIII 2026 mengusung tema “Art Folklore and Ecology” dan diselenggarakan oleh Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Seni Indonesia (BKS-PTSI). Melalui partisipasi dalam festival ini, ISI BALI tidak hanya memperkenalkan karya dan talenta mahasiswa, tetapi juga memperkuat ruang pertukaran gagasan, pengalaman, dan jejaring antarmahasiswa serta perguruan tinggi seni di Indonesia.

Capaian delapan gelar juara ini diharapkan menjadi penyemangat bagi mahasiswa ISI BALI untuk terus berkarya, berinovasi, dan mengembangkan potensi seni di berbagai bidang. Apresiasi juga diberikan kepada seluruh mahasiswa yang telah membawa nama ISI BALI dan menunjukkan dedikasi serta kreativitas sepanjang pelaksanaan FKI+ XIII 2026. (ISIBALI/Humas)

Pergelaran Inovatif Intermedium Huni-Jnana-Hana, Merangkai Setanggi Puspa Budaya

Pergelaran Inovatif Intermedium Huni-Jnana-Hana, Merangkai Setanggi Puspa Budaya

Foto: Pergelaran inovatif intermedium Huni-Jnana-Hana di Museum Rudana, Ubud, Senin (19/10)

Merangkai Setanggi Puspa Budaya untuk memperingati Hari Museum Indonesia 2026, Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menghadirkan pergelaran inovatif intermedium Huni-Jnana-Hana di Museum Rudana, Ubud, Senin (19/10). Pertunjukan ini menjadi wujud pengembangan seni berbasis penelitian dan penciptaan dosen melalui Program Penciptaan Dosen Seni dan Desain (P2DSD) II Tahun 2026 yang didukung hibah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP2MP) ISI BALI.

Mengusung tema “Museum Soko Guru Bangsa, Rumah Kebudayaan Kita”, rangkaian kegiatan tersebut turut diisi dengan peresmian pameran seni rupa Guwung Suwung karya Rektor ISI BALI, Wayan ‘Kun’ Adnyana. Kegiatan ini dihadiri Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon, Ketua Asosiasi Museum I Putu Supadma Rudana, serta undangan dari kalangan kebudayaan, akademisi, permuseuman, dan pelaku seni.

Foto: Pergelaran inovatif intermedium Huni-Jnana-Hana di Museum Rudana, Ubud, Senin (19/10)

Karya ini merupakan hasil penelitian dan penciptaan tiga dosen ISI BALI, yaitu Dr. Ni Wayan Ardini, S.Sn., M.Si., sebagai ketua peneliti HUNI; Dr. I Wayan Budiarsa, S.Sn., M.Si., sebagai ketua peneliti HANA; serta Guntur Eko Prasetyo, S.Pd., M.Sn., sebagai ketua peneliti JNANA. Ketiga karya tersebut dirangkai menjadi satu pertunjukan yang menghubungkan hasil penelitian dengan praktik penciptaan seni.

Melalui perpaduan tari, musik, gamelan Bali, dan harmoni musik Barat, Huni-Jnana-Hana mengajak penonton merenungkan hubungan antara pengetahuan, keberadaan, dan kehidupan. Karya ini merangkai tiga gagasan penciptaan, yakni HUNI, JNANA, dan HANA, yang mengeksplorasi bagaimana pengetahuan tidak hanya dipahami melalui pikiran, tetapi juga dihayati dan diwujudkan melalui tubuh serta ekspresi artistik.

Foto: Pergelaran inovatif intermedium Huni-Jnana-Hana di Museum Rudana, Ubud, Senin (19/10)

Gagasan tersebut diterjemahkan melalui gerak, bunyi, ritme, jeda, dan dinamika komposisi panggung. Pertemuan berbagai unsur seni menghadirkan pengalaman yang mempertemukan tradisi dengan pendekatan artistik kontemporer, sekaligus membuka ruang refleksi tentang makna kehadiran dan kesadaran manusia.

Sebanyak 150 personel terlibat dalam proses penciptaan ini, terdiri atas 105 penari dan pemusik serta 45 anggota tim peneliti. Kelompok HUNI dan HANA masing-masing melibatkan 35 penari dan 15 anggota tim peneliti, sedangkan kelompok JNANA melibatkan 35 pemusik dan 15 anggota tim peneliti.

Proses kreatif tersebut didukung tim artistik lintas disiplin yang terdiri atas penata tari, penata musik, dan penata kostum. Sinergi para dosen, mahasiswa, seniman, dan peneliti menjadi bagian penting dalam membangun pertunjukan yang menyatukan beragam keahlian dan pengalaman. Keterlibatan mahasiswa dari jenjang sarjana, magister, hingga doktor juga memperkuat ruang pembelajaran lintas generasi dan jenjang pendidikan di lingkungan ISI BALI.

Selain diwujudkan dalam pertunjukan langsung, proses penciptaan karya ini juga dikembangkan melalui Penciptaan Film Dokumenter Gelar Karya Seni Intermedium “Huni-Hana-Jnana”, yang diketuai oleh Desak Putu Yogi Antari Tirta Yasa, S.Sn., M.Sn. Dokumentasi dalam bentuk film ini menjadi bagian dari upaya merekam dan mengabadikan proses kreatif serta gelar karya seni intermedium tersebut, sehingga gagasan dan praktik penciptaannya dapat dikenali lebih luas oleh masyarakat. (ISIBALI/Humas)

ISI BALI Gelar Pameran BURU–JIWA–BUMI, Perkuat Dialog Seni Bali–Seoul

ISI BALI Gelar Pameran BURU–JIWA–BUMI, Perkuat Dialog Seni Bali–Seoul

Foto: Pameran seni rupa BURU–JIWA–BUMI bertajuk Bali–Seoul on Dialogue di Nata-Citta Arts Space (N-CAS), ISI BALI, Jumat (16/10)

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) bekerja sama dengan The Korea Indonesia Center (KIC) menghadirkan pameran seni rupa BURU–JIWA–BUMI serangkaian Festival Internasional Bali Padma Bhuwana VI, dalam Program Bali-Bhuwana Rupa #2 bertajuk Bali–Seoul on Dialogue. Pameran ini dibuka oleh pendiri Agung Rai Museum of Art (ARMA), Anak Agung Gde Rai, Jumat (16/10) di Nata-Citta Arts Space (N-CAS), ISI BALI.

Pameran ini mempertemukan empat seniman dari Bali dan Korea Selatan melalui karya keramik, fotografi, gerabah, dan lukisan yang mengeksplorasi hubungan manusia, pengalaman batin, dan alam. Mereka, yakni Prof. Wayan Kun Adnyana, Young Choi, I Ketut Muka Pendet, dan Hyonsun Kim. Pameran ini dikuratori oleh Prof. Koh Young Hun dan Warih Wisatsana, yang merangkai perbedaan latar budaya dan medium artistik menjadi ruang dialog lintas budaya.

Dalam sambutannya sebagai tuan rumah, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI, Prof. Dr. Komang Sudirga, menyampaikan bahwa pameran ini juga mencerminkan eratnya hubungan dan kerja sama yang terus terjalin antara ISI BALI dan Korea Selatan. Kolaborasi tersebut telah diwujudkan melalui berbagai kegiatan akademik dan seni yang mempertemukan komunitas kedua negara.

Foto: Pameran seni rupa BURU–JIWA–BUMI bertajuk Bali–Seoul on Dialogue di Nata-Citta Arts Space (N-CAS), ISI BALI, Jumat (16/10)

Pada 2025, ISI BALI bekerja sama dengan KIC, Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) dan Korea Association of Malay-Indonesian Studies (KAMIS) menyelenggarakan Seminar Internasional Bali-Bhuwana Waskita V bertajuk Pram–Bhuwana–Prana (Pramoedya–World–Paradigm). Kegiatan tersebut digelar untuk memperingati 100 tahun kelahiran sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.

Selain kerja sama akademik, ISI BALI juga kerap menghadirkan karya fotografer Korea Selatan dalam berbagai pameran, termasuk Bali-Bhuwana Rupa dan Bali-Global Art Maps (B-GAME), yang diselenggarakan dalam rangkaian Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD).

Menurut Komang Sudirga, berbagai kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa seni dan budaya dapat menjadi jembatan antarmasyarakat sekaligus memperkuat pemahaman bersama. Melalui pameran BURU–JIWA–BUMI, hubungan tersebut kembali memperoleh ruang perjumpaan melalui praktik seni dan pertukaran gagasan lintas budaya.

Kurator Warih Wisatsana menjelaskan bahwa BURU–JIWA–BUMI berangkat dari gagasan penciptaan seni sebagai perjalanan pencarian dan penemuan diri. Buru merepresentasikan keberanian menjelajahi kemungkinan baru, jiwa menggambarkan pengalaman yang membentuk karakter dan bahasa artistik, sedangkan bumi menjadi sumber sekaligus ruang kehidupan tempat pengalaman berakar.

Gagasan tersebut juga beririsan dengan konsep estetika wabi-sabi, yang menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan, ketidakteraturan, dan kefanaan. Melalui pendekatan ini, karya seni tidak hanya dipandang sebagai objek visual, tetapi juga sebagai ruang perenungan tentang kehidupan dan hubungan manusia dengan alam.

Foto: Pameran seni rupa BURU–JIWA–BUMI bertajuk Bali–Seoul on Dialogue di Nata-Citta Arts Space (N-CAS), ISI BALI, Jumat (16/10)

Masing-masing seniman menghadirkan pendekatan yang khas. Kim Hyonsun mengeksplorasi tanah liat melalui bentuk-bentuk keramik yang ekspresif. Young Choi mengolah cahaya, bayangan, dan ruang dalam fotografi untuk menghadirkan perspektif baru terhadap objek keramik. Sementara itu, I Ketut Muka Pendet mengangkat makna spiritual dan kultural wadah air suci kumba dalam tradISI BALI melalui karya gerabah.

Adapun Wayan Kun Adnyana menampilkan eksplorasi abstraksi melalui lapisan warna, guratan, dan tekstur yang menyimpan jejak pengalaman serta perjalanan waktu. Karya-karyanya memperlihatkan perkembangan bahasa visual yang tidak sekadar menggambarkan kenyataan, tetapi menafsirkan kembali pengalaman melalui kebebasan artistik.

Melalui pertemuan empat pendekatan tersebut, BURU–JIWA–BUMI tidak berupaya menyeragamkan perbedaan, melainkan membuka ruang bagi beragam cara pandang dalam memaknai alam, tradisi, dan kehidupan. Pameran ini sekaligus menjadi wadah pertukaran gagasan artistik antara Bali dan Seoul melalui bahasa seni yang melampaui batas medium maupun budaya.

Rektor ISI BALI, Prof Kun Adnyana Raih Global Arts Award

Rektor ISI BALI, Prof Kun Adnyana Raih Global Arts Award

Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menerima penghargaan Global Arts Award 2026 dari The Korea-Indonesia Center (KIC) di beranda Nata-Citta Art Space (N-CAS) ISI BALI, Jumat, 16 Oktober 2026.

Rektor Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI), Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menerima penghargaan Global Arts Award 2026 dari The Korea-Indonesia Center (KIC). Penghargaan diserahkan langsung Direktur KIC, Prof. Dr. Koh Young Hun di beranda Nata-Citta Art Space (N-CAS) ISI BALI, pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Penghargaan juga diberikan kepada Founder Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, Anak Agung Gde Rai, dan akademisi yang fotografer kebangsaan Korea Prof. Dr. Young Choi. Penghargaan disampaikan di tengah acara pembukaan pameran internasional Bali-Bhuwana Rupa #2 bertajuk Buru-Jiwa-Bumi serangkaian Festival Bali Padma Bhuwana VI. Pameran menghadirkan empat seniman, yakni Prof Kun Adnyana dengan karya lukis “Blue Period”,  Prof Young Choi dengan fotografi alam benda, Prof Ketut Muka Pendet dengan karya keramik dan gerabah, serta seniman Korea Hyonsun Kim menyertakan karya keramik. Penghargaan Global Art Awards didedikasikan kepada tokoh seni budaya yang dipandang memiliki dedikasi yang tinggi dalam memajukan seni budaya sekaligus berkontribusi dalam hubungan Indonesia-Korea. Ketiga tokoh, Prof Choi, Agung Rai, dan Prof. Kun Adnyana dipandang sangat mumpuni dan telah terbukti berkontribusi dalam pemajuan seni, berikut aktif membangun sinergi kreatif Indonesia-Korea.

ISI BALI Gaungkan Seni Bali di Panggung Diplomasi Vietnam

ISI BALI Gaungkan Seni Bali di Panggung Diplomasi Vietnam

Foto: Delegasi ISI BALIdalam malam resepsi perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 6–9 Oktober 2026 di Hanoi, Vietnam.

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) memperkuat diplomasi budaya Indonesia di kawasan Asia Tenggara melalui partisipasi dalam rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang diselenggarakan pada 6–9 Oktober 2026 di Hanoi, Vietnam. Kehadiran ISI BALI merupakan undangan Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Demokratik Vietnam, Adam Mulawarman Tugio, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Indonesia di kancah internasional.

Delegasi ISI BALI dipimpin Rektor Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, didampingi Wakil Rektor Dr. I Made Jodog, serta tiga mahasiswa, yakni Gede Dipta, Mitha Apsari, dan Diah Nanta. Selain berpartisipasi dalam resepsi diplomatik, delegasi ISI BALI memanfaatkan kunjungan tersebut untuk memperluas jejaring kelembagaan melalui pembahasan kerja sama dengan Vietnam Academy of Dance (VAD) serta penyelenggaraan lokakarya tari Bali.

Pertemuan dengan VAD menjadi langkah strategis untuk membuka peluang kolaborasi di bidang pendidikan, pengembangan kompetensi seni tari, dan pertukaran pengetahuan budaya antara Indonesia dan Vietnam. Melalui lokakarya tari Bali, ISI BALI turut memperkenalkan kekayaan tradisi tari Bali sekaligus memberikan pengalaman pembelajaran seni secara langsung.

Foto: Delegasi ISI BALI bersama mahasiswa Vietnam Academy of Dance (VAD), 6–9 Oktober 2026 di Hanoi, Vietnam.

Direktur VAD, Dr. Nguyễn Thúy Nga, menyambut baik rencana kerja sama tersebut. Kolaborasi ini dinilai dapat memperkaya pengalaman belajar mahasiswa VAD, khususnya dalam meningkatkan penguasaan tari Indonesia, terutama tari Bali. Pertukaran pengetahuan dan praktik seni diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai karakteristik, teknik, serta nilai budaya yang terkandung dalam tradisi tari Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana juga secara resmi menyampaikan undangan kepada Direktur dan delegasi VAD untuk berpartisipasi dalam Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) yang diselenggarakan di ISI BALI. Forum ini merupakan wadah kemitraan, dialog, dan kolaborasi lintas perguruan tinggi seni dan desain di kawasan Asia-Pasifik.(ISIBALI/Humas)

Diundang SEAP Cornell University, Amerika Serikat Rektor ISI Bali Prof. Kun Adnyana Usung Seni Rupa Maritim, Koorprodi Teater Dr. Gusti Sudarta Tampilkan Wayang Plastik

Diundang SEAP Cornell University, Amerika Serikat Rektor ISI Bali Prof. Kun Adnyana Usung Seni Rupa Maritim, Koorprodi Teater Dr. Gusti Sudarta Tampilkan Wayang Plastik

Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana sebagai pembicara dalam simposium internasional Sea-ing The Land: Nyegara Gunung, 21-28 September 2026 di Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University.

 The Southeast Asia Program (SEAP) Cornell University, Amerika Serikat mengundang Rektor Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI), Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana sebagai pembicara dalam simposium internasional Sea-ing The Land: Nyegara Gunung, 21-28 September 2026. Acara simposium dilaksanakan di Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University.

Prof Kun Adnyana membawakan presentasi berjudul Nyegara Gunung: Flowing Lines and The Metaphor of The Vessel, yang membahas ikonografi berbasis artistik garis tentang air dan ombak dalam beragam stilistika rupa seni lukis Bali. Simposium dipandu profesor sejarah seni Asia Tenggara, Prof. Dr. Kaja Maria McGowan. Selain presentasi makalah, karya Prof Kun Adnyana berjudul “Victory of Sailing”, ukuran 140 x 160 Cm, tinta cina dan acrylic di kanvas dipilih menjadi koleksi tetap Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University, berdampingan dengan karya seni rupa dan visual maestro berbagai negara.

Foto: Koordinator Prodi Teater, Dr. I Gusti Sudarta menampilkan pertunjukan Wayang Plastik dalam simposium internasional Sea-ing The Land: Nyegara Gunung, 21-28 September 2026 di Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University.

Selain Prof Kun Adnyana, dosen ISI Bali, yang juga Koordinator Prodi Teater, Dr. I Gusti Sudarta diundang untuk menampilkan pertunjukan Wayang Plastik serangkaian acara simposium dimaksud. Dr. Sudarta berkolaborasi dengan profesor musik, Prof Christopher J. Miller dan konposer Peni Candra Rini. Pertunjukan disambut antusias masyarakat kampus dan juga alumni Cornell University, di kota Itacha, New York.

Momentum undangan sebagai narasumber simposium, dimanfaatkan juga oleh Rektor ISI BALI Prof Kun Adnyana untuk membahas kerja sama antara ISI BALI dengan SEAP Cornell University. Prof Kun Adnyana bersama Direktur SEAP, Prof. Eric Tagliacozzo, telah menyepakati beberapa program, di antaranya mahasiswa peserta SEAP ke depan dapat mengikuti program internasional ISI BALI, termasuk visiting profesor kedua perguruan tinggi. (ISIBALI/Humas)

Loading...