M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

ISI BALI dan BESTie CO., Ltd. Matangkan Program Magang Internasional di Jepang

ISI BALI dan BESTie CO., Ltd. Matangkan Program Magang Internasional di Jepang

Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana (kanan) dan CEO BESTie CO., Ltd., Mr. Matsumoto Yuki dalam rapat pembahasan persiapan program magang internasional di Ruang Sabha Citta Mahottama ISI BALI, Rabu (8/7).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) terus mematangkan pelaksanaan program magang internasional dengan Industri keramik di Kota Hasami, Jepang. Sebagai tindak lanjut kerja sama yang baru disepakati melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan mitra di Jepang, Chief Executive Officer (CEO) BESTie CO., Ltd., Mr. Matsumoto Yuki, mengunjungi ISI BALI pada Rabu (8/7) untuk membahas persiapan pelaksanaan program bersama jajaran pimpinan institut.

Pertemuan yang berlangsung di Ruang Teleconference ISI BALI tersebut diterima langsung oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. I Wayan “Kun” Adnyana, didampingi para wakil rektor, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD, Direktur Pascasarjana, Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama, serta Kepala Biro Perencanaan, Umum, dan Keuangan. Mr. Matsumoto hadir bersama Ibu Alja, pengajar bahasa Jepang yang akan memberikan pelatihan kepada mahasiswa calon peserta magang.

Sebelumnya, pada Selasa (23/6), ISI BALI menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Hasami Tohjiki Industrial Association dan BESTie Co., Ltd. di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang. Nota Kesepahaman tersebut ditandatangani oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. I Wayan “Kun” Adnyana, bersama Chairman Hasami Tohjiki Industrial Association Kazuhiko Ota dan CEO BESTie Co., Ltd. Matsumoto Yuki. Pada kesempatan yang sama juga ditandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI BALI dengan kedua mitra Jepang tersebut yang ditandatangani oleh Dekan FSRD ISI BALI, Drs. I Nengah Sudika Negara, M.Erg.

Foto: Pertemuan ISI BALI dan BESTie CO., Ltd membahas persiapan program magang internasional di Hasami Jepang, Rabu (8/7) di Ruang Sabha Citta Mahottama ISI BALI.

Rektor ISI BALI, Prof. Wayan ‘Kun’ Adnyana, menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut sebagai langkah lanjutan untuk merealisasikan program magang internasional yang telah disepakati. Pembahasan teknis mengenai kurikulum pelatihan akan ditindaklanjuti bersama pimpinan Fakultas Seni Rupa dan Desain agar program dapat berjalan sesuai kebutuhan industri keramik di Jepang.

“Terima kasih atas kunjungan Mr. Matsumoto. Pembahasan mengenai kurikulum dapat dilanjutkan bersama Dekan dan Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD. Dalam waktu dekat ISI BALI juga akan segera menyebarluaskan informasi rekrutmen peserta pelatihan,” ujarnya.

Pada tahap awal, ISI BALI akan merekrut sebanyak 25 mahasiswa semester tujuh yang berasal dari Program Studi Seni Kriya, Seni Murni, dan Desain Produk. Para peserta akan mengikuti pelatihan intensif, termasuk pembelajaran bahasa Jepang, yang direncanakan dimulai pada 1 September 2026 sebagai bekal sebelum memasuki dunia industri. Setelah menyelesaikan pelatihan, delapan peserta terbaik akan dipilih untuk mengikuti program magang internasional di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang. Sementara itu, 17 peserta lainnya akan menjalani program magang pada mitra industri seni kriya bereputasi di dalam negeri, sehingga seluruh peserta tetap memperoleh pengalaman profesional sesuai bidang keahlian masing-masing.

Sementara itu, CEO BESTie CO., Ltd., Mr. Matsumoto Yuki, menyatakan kesiapan pihaknya untuk segera melaksanakan proses wawancara sebagai bagian dari seleksi mahasiswa peserta pelatihan. Ia juga memperkenalkan Ibu Alja sebagai salah satu pengajar bahasa Jepang yang akan mendampingi mahasiswa selama masa persiapan.

Mr. Matsumoto mengungkapkan bahwa kerja sama ini tidak hanya membuka kesempatan bagi mahasiswa ISI BALI untuk memperdalam seni keramik di Jepang, tetapi juga berpotensi menjadi wadah pertukaran budaya yang saling menguntungkan. Menurutnya, minat mahasiswa Jepang untuk mempelajari seni keramik dan kebudayaan Bali juga terus meningkat.

“Saya melihat banyak mahasiswa Jepang yang tertarik belajar keramik di Bali. Setelah mengunjungi beberapa pura, saya juga merasakan kekayaan spiritual dan budaya yang dimiliki Bali. Pengalaman seperti ini tentu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa Jepang untuk belajar di sini,” ungkapnya.

Ia berharap koordinasi dan kerja sama yang erat antara BESTie CO., Ltd., Hasami Tohjiki Industrial Association, dan ISI BALI dapat terus terjalin sehingga seluruh rangkaian pelatihan hingga pelaksanaan magang internasional dapat berlangsung dengan lancar serta memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.

Program magang internasional di Hasami merupakan implementasi awal dari MoU dan PKS yang telah disepakati antara ISI BALI dengan mitra di Jepang. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar di salah satu sentra keramik terkemuka di Jepang, tetapi juga berkesempatan memperluas wawasan internasional, meningkatkan kompetensi profesional, serta memperkuat jejaring kerja sama seni dan industri kreatif antara Indonesia dan Jepang. (ISIBALI/Humas)

ISI BALI dan ARMA Gelar Pameran Kriya Internasional

ISI BALI dan ARMA Gelar Pameran Kriya Internasional

Hadirkan 79 Karya dari Delapan Negara

Foto: Rektor ISI BALI meninjau pameran kriya internasional “Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma” di ARMA, Ubud, Minggu (5/7).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) bekerja sama dengan Agung Rai Museum of Art (ARMA) menghadirkan pameran kriya internasional bertajuk “Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma” sebagai bagian dari rangkaian peringatan 30 tahun ARMA. Pameran dibuka oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, Minggu (5/7), di ARMA, Ubud.

Pameran yang dikuratori oleh Jean Couteau, Wayan Seriyoga Parta, dan Warih Wisatsana ini menjadi ruang apresiasi sekaligus perjumpaan seniman kriya dari berbagai negara. Sebanyak 50 seniman dari delapan negara, yakni Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, Iran, dan Indonesia, menampilkan 79 karya dua dan tiga dimensi yang merepresentasikan beragam medium seni kriya.

Ketua Panitia Pameran, Prof. Dr. Wayan Suardana, menjelaskan bahwa pameran ini merupakan salah satu agenda dalam peringatan HUT ke-30 ARMA yang jatuh pada 9 Juni 2026. Melalui kolaborasi dengan Program Studi Kriya ISI BALI, ARMA menghadirkan pameran kriya berskala internasional yang berlangsung 5-18 Juli 2026.

Prof. Suardana menambahkan, selain diikuti seniman internasional, pameran juga melibatkan dosen dan praktisi seni dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, antara lain ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, ISBI Bandung, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Institut Informatika Indonesia Surabaya, Universitas Muhammadiyah Bandung, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Bumigora Nusa Tenggara Barat, serta kelompok seniman seni rupa Surabaya.

Foto: Pameran kriya internasional “Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma” di ARMA, Ubud, Minggu (5/7).

Sebanyak 79 karya yang dipamerkan terdiri atas 28 karya patung keramik, 6 karya terakota, 9 guci keramik, 4 karya kriya logam, 3 keris, 6 karya wastra, 3 karya batik seni, 2 karya kriya kayu, 4 tapestri, 6 karya mixed media, 1 wayang kulit, dan 4 instalasi.

Dalam sambutannya, Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana memberikan apresiasi kepada Program Studi Kriya ISI BALI yang menjadi penggagas sekaligus pelaksana utama pameran tersebut.

“Pameran ini merupakan inisiatif murni Program Studi Kriya ISI BALI tanpa dukungan pendanaan dari instansi. Ini menunjukkan semangat berkarya dan kemampuan membangun jejaring kolaborasi yang patut diapresiasi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa seni kriya selama ini kerap dipandang sebatas kerajinan atau produk massal, padahal sejatinya merupakan hasil olah cipta yang lahir dari perjalanan panjang peradaban manusia. Menurutnya, seni dan kriya tidak seharusnya dipisahkan karena keduanya sama-sama lahir dari proses perenungan, kreativitas, dan pencarian makna, dengan seni kriya memiliki nilai artistik sekaligus daya guna.

Rektor menjelaskan bahwa tema Prakriti–Pustaka–Padma menawarkan refleksi filosofis mengenai proses lahirnya sebuah karya kriya. Prakriti mengingatkan bahwa alam merupakan sumber inspirasi, material, energi, sekaligus pengetahuan. Pustaka menegaskan bahwa kreativitas tumbuh melalui tradisi intelektual, pengalaman empiris, eksplorasi teknik, dan dialog budaya. Sementara Padma melambangkan pencapaian estetika yang lahir dari penghayatan mendalam sehingga karya kriya memiliki nilai fungsional, artistik, spiritual, serta kemanusiaan yang bersifat universal.

“Seni kriya bukanlah seni kelas dua. Pameran ini menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa seni merupakan bagian penting dalam pembangunan peradaban. Dari alam lahir kreativitas, melalui ilmu karya dimatangkan, dan melalui keindahan nilai budaya diwariskan kepada generasi mendatang,” tegas Guru Besar Bidang Sejarah Seni ini.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Wayan “Kun” Adnyana juga menyampaikan perkembangan kerja sama internasional ISI BALI di bidang seni kriya. Ia mengungkapkan bahwa ISI BALI telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan Hasami Tohjiki Industrial Association dan BESTie Co., Ltd., di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang. Melalui implementasi kerja sama tersebut, ISI BALI akan mengembangkan skema kurikulum magang internasional yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengikuti pelatihan bahasa Jepang dan keterampilan keramik sebelum menjalani program magang sekaligus bekerja di industri keramik Hasami, Jepang.

Ia turut menyampaikan penghargaan kepada keluarga besar ARMA atas ruang kolaborasi yang telah dibangun, serta kepada para kurator, dosen, mahasiswa, alumni, seniman peserta, panitia, dan seluruh mitra yang telah berkontribusi menyukseskan pameran.

Sementara itu, Pendiri ARMA, Anak Agung Gde Rai, menyampaikan apresiasi kepada ISI BALI atas sinergi yang terus terjalin. Menurutnya, pameran “Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma” tidak hanya menghadirkan karya seni, tetapi juga merepresentasikan semangat untuk terus bertumbuh.

Agung Rai berharap pameran ini menjadi saksi bahwa dari Ubud, dari Bali, kita terus merajut dunia. Bahwa kriya bukan benda mati, melainkan pusaka hidup yang terus menjadi.

“Becoming bukan sekadar judul. Ia mencerminkan proses panjang untuk terus menjadi. Dari sebuah mimpi kecil di Ubud, ARMA tumbuh menjadi tempat bertemunya dunia dengan jiwa Bali. Spirit becoming itulah yang kami lihat menyala dalam karya-karya kriya yang dipamerkan hari ini,” ungkapnya. (ISIBALI/Humas)

ISI BALI dan Wake Forest University Lahirkan Film Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali

ISI BALI dan Wake Forest University Lahirkan Film Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali

Foto: Dosen ISI BALI, I Gde Made Indra Sadguna, Ph.D. (kiri), dan Professor Elizabeth A. Clendinning dari Wake Forest University (kanan) dalam pemutaran perdana film dokumenter Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali, Senin (29/6) di Ruang Vicon ISI BALI.

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) dan Wake Forest University, Amerika Serikat menyelenggarakan pemutaran perdana (screening) film dokumenter Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali pada Senin (29/6) di Ruang Vicon Gedung Citta Kelangen Lantai 2 ISI BALI. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk diseminasi hasil penelitian kolaboratif antara dosen ISI BALI, I Gde Made Indra Sadguna, Ph.D., dan Professor Elizabeth A. Clendinning dari Wake Forest University.

Kegiatan tersebut merupakan implementasi dari Memorandum of Agreement (MoA) antara Institut Seni Indonesia Denpasar (kini ISI BALI) dan Wake Forest University yang ditandatangani pada 12 Juli 2023. Melalui kerja sama tersebut, kedua peneliti mengembangkan riset mengenai instrumen musik tradisional Bali, khususnya suling dan sunari, yang telah berlangsung sejak tahun 2024.

Dosen ISI BALI, I Gde Made Indra Sadguna, Ph.D. mengatakan penelitian tersebut pada awalnya berfokus pada aspek artistik suling Bali. Namun dalam perkembangannya, tim peneliti menemukan bahwa suling tidak dapat dipisahkan dari sunari serta ekosistem budaya yang melingkupinya. Hal ini kemudian memperluas cakupan penelitian, tidak hanya membahas instrumen musik sebagai benda seni, tetapi juga mengkaji hubungan antara material bambu, proses kreatif masyarakat, praktik budaya, hingga nilai-nilai spiritual yang hidup dalam masyarakat Bali.

Menurut Indra Sadguna, penelitian ini bertujuan memperkenalkan kearifan lokal Bali kepada masyarakat internasional melalui pendekatan akademik dan media visual. “Kami ingin semakin banyak masyarakat global memahami kearifan lokal Bali. Awalnya penelitian hanya berfokus pada suling, tetapi kami menyadari bahwa suling dan sunari merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan Bali. Dari sana penelitian berkembang menjadi kajian yang lebih luas mengenai hubungan antara alam, manusia, seni, dan Tuhan melalui pemanfaatan bambu,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa bambu dalam tradisi Bali bukan sekadar bahan baku pembuatan alat musik, melainkan memiliki makna filosofis yang mencerminkan penerapan konsep Tri Hita Karana, yaitu harmoni hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Perspektif tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat internasional memahami kebudayaan Bali secara lebih utuh.

Foto: Diskusi dalam pemutaran perdana film dokumenter Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali, Senin (29/6) di Ruang Vicon ISI BALI.

Kolaborasi penelitian ini telah menghasilkan sejumlah luaran akademik dan kreatif. Salah satunya adalah bab buku berjudul Crafting Harmony: Sustainable Instrument Production in Bali yang diterbitkan pada tahun 2025 oleh Universitätsverlag Hildesheim, Jerman. Selain itu, penelitian tersebut juga melahirkan film dokumenter Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali yang mengangkat nilai budaya, filosofi, dan praktik keberlanjutan dalam pemanfaatan bambu di Bali.

Film dokumenter tersebut diproduksi dengan dukungan program Wake the Arts dari Wake Forest University serta American Institute for Indonesian Studies (AIFIS). Seusai pemutaran perdana, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama para peneliti untuk membahas proses penelitian, substansi film, serta relevansinya terhadap pengembangan kajian seni dan budaya Bali.

Film Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali juga akan diperkenalkan kepada khalayak internasional melalui penayangan dalam Simposium Gabungan ICTMD kelompok studi Performing Arts of Southeast Asia (PASEA) di Chang Mai, Thailand, 2-8 Juli 2026 sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan diseminasi hasil penelitian lintas negara. (ISIBALI/Humas)

Foto: Pimpinan ISI BALI bersama narasumber dan peneliti dalam pemutaran perdana film dokumenter Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali, Senin (29/6) di Ruang Vicon ISI BALI.

Rektor ISI BALI Lantik Koordinator Prodi Desain Produk dan 16 PNS

Rektor ISI BALI Lantik Koordinator Prodi Desain Produk dan 16 PNS

Foto: Pengambilan sumpah dan pelantikan Koordinator Prodi Desain Produk serta 16 Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan ISI BALI, Senin (29/6) di Studio Media Rekam ISI BALI.

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) kembali memperkuat tata kelola kelembagaan melalui pengambilan sumpah dan pelantikan Koordinator Program Studi (Prodi) Desain Produk serta 16 Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan ISI BALI. Pelantikan dipimpin langsung oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn., pada Senin (29/6) di Studio Media Rekam ISI BALI.

Dalam pelantikan tersebut, Dr. I Kadek Dwi Noorwatha, S.Sn., M.Ds., resmi dilantik sebagai Koordinator Program Studi Desain Produk. Ia menggantikan Wahyu Indira, S.Sn., M.Sn., yang sebelumnya menjabat sebagai Koordinator Prodi Desain Produk dan telah berpulang pada Selasa (2/6) karena sakit.

Selain melantik Koordinator Prodi Desain Produk, Rektor ISI BALI juga mengambil sumpah dan melantik 16 Pegawai Negeri Sipil di lingkungan ISI BALI. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12 orang merupakan dosen dan empat orang merupakan tenaga kependidikan yang akan memperkuat pelaksanaan tridarma perguruan tinggi serta pelayanan administrasi di lingkungan kampus.

Foto: Pengambilan sumpah dan pelantikan Koordinator Prodi Desain Produk serta 16 Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan ISI BALI, Senin (29/6) di Studio Media Rekam ISI BALI.

Dalam sambutannya, Rektor ISI BALI menyampaikan bahwa pelantikan merupakan amanah sekaligus bentuk kepercayaan yang harus dijalankan dengan penuh integritas, profesionalisme, dan tanggung jawab. Menurutnya, setiap jabatan dan status sebagai aparatur sipil negara membawa konsekuensi untuk memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan institusi.

Kepada Koordinator Program Studi Desain Produk yang baru, Rektor berharap kepemimpinan yang dijalankan mampu melanjutkan berbagai program pengembangan akademik yang telah dirintis sebelumnya, sekaligus menghadirkan inovasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, kepada para PNS yang baru dilantik, Rektor berpesan agar senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai ASN, menjaga etika profesi, serta bekerja secara kolaboratif dalam mendukung visi ISI BALI menjadi perguruan tinggi seni yang berkarakter, unggul, dan bereputasi global.

Prosesi pelantikan berlangsung dengan khidmat dan disaksikan oleh seluruh pejabat struktural di lingkungan ISI BALI. Momentum ini menjadi bagian dari upaya penguatan sumber daya manusia sekaligus memastikan keberlanjutan tata kelola organisasi dalam mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi secara optimal. (ISIBALI/Humas)

ISI BALI Tandatangani MoU Magang Internasional dengan Industri Keramik di Hasami, Jepang

ISI BALI Tandatangani MoU Magang Internasional dengan Industri Keramik di Hasami, Jepang

Kolaborasi Selenggarakan Pendidikan Seni Kriya Internasional

Foto: Rektor ISI BALI Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana (2 dari kanan) didampingi Dekan FSRD ISI BALI Drs. I Nengah Sudika Negara, M.Erg menandatangani MoU dengan Chairman Hasami Tohjiki Industrial Association Kazuhiko Ota (2 dari kiri), dan CEO BESTie Co., Ltd., Matsumoto Yuki (kiri).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) terus memperluas jejaring internasional dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing lulusan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Hasami Tohjiki Industrial Association dan BESTie Co., Ltd., Jepang, pada Selasa (23/6) di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang.

Nota Kesepahaman ditandatangani oleh Rektor ISI BALI Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, dengan  Chairman Hasami Tohjiki Industrial Association Kazuhiko Ota, dan CEO BESTie Co., Ltd., Matsumoto Yuki. Pada kesempatan yang sama juga ditandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI BALI dengan kedua mitra Jepang tersebut. PKS ditandatangani oleh Dekan FSRD ISI BALI Drs. I Nengah Sudika Negara, M.Erg.

Foto: Acara Penandatangan MoU antara ISI BALI dengan Hasami Tohjiki Industrial Association dan BESTie Co., Ltd., Jepang, pada Selasa (23/6) di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang.

Acara penandatanganan berlangsung sangat spesial dan dalam suasana yang hangat. Hadir sekitar 40 Undangan dari unsur industri keramik, lembaga penelitian keramik, anggota parlemen, dan pemerintah kota Hasami dan Perfecture Nagasaki, termasuk wakil walikota Hasami, Murayama Hiroshi. Sebelum acara penandatanganan, dikumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu kebangsaan Jepang, Kimigayo.

Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam mendorong penyelenggaraan pendidikan seni keramik bertaraf internasional melalui sinergi antara perguruan tinggi dengan industri keramik Jepang yang telah memiliki reputasi mendunia.

Kolaborasi tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan Wali Kota Hasami, Yoshinori Maekawa, bersama Ketua Hasami Tohjiki Industrial Association, Kazuhiko Ota, ke Kampus ISI BALI pada 18 Februari 2026. Dalam kunjungan tersebut, kedua belah pihak melakukan penjajakan kerja sama yang kemudian berlanjut dengan undangan resmi kepada Rektor ISI BALI dan Dekan FSRD untuk menghadiri penandatanganan kesepakatan di Jepang.

Foto: Keramik hasil prooduksi di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang.

Hasami dikenal sebagai salah satu sentra industri keramik paling terkenal di Jepang yang telah menghasilkan produk berkualitas tinggi selama ratusan tahun. Melalui kerja sama ini, Kota Hasami berupaya membangun proyek kolaboratif yang menjadi jembatan antara manusia, pendidikan, dan teknologi di Indonesia dan Jepang, sekaligus memperkuat hubungan antara dunia akademik dengan industri kreatif.

Rektor ISI BALI, Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn., menyambut baik terjalinnya kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi ini menjadi peluang penting bagi pengembangan pendidikan seni kriya di ISI BALI sekaligus membuka akses mahasiswa terhadap pengalaman belajar dan praktik kerja di lingkungan industri internasional.

“Program Studi Kriya, Desain Produk, dan Seni Murni di ISI BALI memiliki kualitas yang sangat baik dalam menghasilkan karya keramik inovatif. Mahasiswa tidak hanya menghasilkan karya keramik murni, tetapi juga berbagai produk keramik fungsional yang siap dipasarkan. Karena itu, kerja sama dengan industri keramik Jepang ini akan memperkuat kompetensi mahasiswa sekaligus mempersiapkan mereka memasuki dunia kerja global,” ujarnya.

Sementara itu, pihak Hasami menyatakan komitmennya untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan berbasis industri. Selain memberikan kesempatan bagi mahasiswa ISI BALI mempelajari industri keramik tradisional Jepang secara langsung, kerja sama ini juga membuka peluang karier bagi lulusan yang memiliki kompetensi di bidang keramik untuk bekerja di Hasami, Jepang.

Melalui Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerja Sama tersebut, para pihak sepakat mengembangkan berbagai program, meliputi penyelenggaraan pendidikan, pengembangan kurikulum internasional, pelaksanaan Kuliah Kerja Praktik (internship), penempatan kerja mahasiswa dan alumni, penyediaan infrastruktur pendidikan, serta berbagai bidang lain yang disepakati bersama.

Salah satu program prioritas yang segera direalisasikan adalah penyusunan dan penerapan kurikulum standar Jepang dalam penyelenggaraan pendidikan seni kriya internasional di ISI BALI. Kurikulum tersebut akan disusun bersama mitra industri di Jepang sehingga selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri keramik internasional.

Selain itu, mahasiswa akan memperoleh kesempatan mengikuti program Kuliah Kerja Praktik (internship) di perusahaan dan industri keramik di Hasami dengan fasilitasi penuh dari pihak Jepang. Program ini ditujukan bagi mahasiswa semester VII Program Studi Seni Murni, Seni Kriya, dan Desain Produk, serta direncanakan mulai dilaksanakan pada September 2026.

Melalui pengalaman belajar langsung di pusat industri keramik Jepang, mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai teknik produksi dan inovasi material, tetapi juga memahami budaya kerja, manajemen industri, hingga standar kualitas internasional. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal penting bagi lulusan ISI BALI untuk bersaing di tingkat global. (ISIBALI/Humas)

ISI BALI dan AIIT, Jepang Selenggarakan Seminar Bersama Bahas Relasi Agama dan Seni dalam Budaya Bali

ISI BALI dan AIIT, Jepang Selenggarakan Seminar Bersama Bahas Relasi Agama dan Seni dalam Budaya Bali

Foto: Seminar Bersama ISI BALI dan AIIT Jepang Selasa (23/6) di Ruang Kuliah Umum, Desain Hub ISI BALI.

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) bekerja sama dengan Advanced Institute of Industrial Technology (AIIT), Jepang, menyelenggarakan seminar bersama bertajuk “Religion in Art” (With Particular Focus on Balinese Hinduism and Culture) pada Selasa (23/6) di Ruang Kuliah Umum, Desain Hub ISI BALI. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Bali-Bhuwana Kanti (Global-Culture and Arts Project Networking) dalam rangkaian Bali Padma Bhuwana VI Tahun 2026.

Seminar menghadirkan tiga narasumber dari Indonesia dan Jepang yang membahas keterkaitan agama, seni, dan budaya dalam kehidupan masyarakat Bali. Mereka adalah Secretary General of Asia Professional Education Network (APEN) Prof. Mitsuhiro Maeda, Executive Director of Global Association of Civilizational Diversity Mr. Masashi Nakagawa, serta Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI BALI Prof. Dr. Gede Yudarta.

Dalam pemaparannya, Prof. Mitsuhiro Maeda mengangkat topik “Balinese Community Rituals/Festivals as a New Civilization: Towards Brain Functional Civilizational Analysis”. Ia menjelaskan bahwa ritual dan festival masyarakat Bali tidak hanya memiliki nilai spiritual dan budaya, tetapi juga dapat dipahami sebagai bagian dari peradaban yang membentuk pola pikir, perilaku sosial, serta hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai keagamaan.

Foto: Seminar Bersama ISI BALI dan AIIT Jepang Selasa (23/6) di Ruang Kuliah Umum, Desain Hub ISI BALI

Sementara itu, Mr. Masashi Nakagawa membawakan materi “From Artwork to Resonance: Art as a Living Connection in Balinese Society”. Ia menyoroti bagaimana karya seni di Bali tidak berdiri sebagai objek estetis semata, melainkan menjadi media yang menghubungkan masyarakat dengan tradisi, lingkungan sosial, dan nilai-nilai spiritual yang hidup dalam keseharian.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Gede Yudarta memaparkan kajian berjudul “Religiusitas dan Eksistensi Gamelan Gong Beruk dalam Ritual Ngusaba Desa di Pura Pemaksan Bangle, Karangasem, Bali”. Ia menjelaskan bahwa Gamelan Gong Beruk merupakan warisan budaya yang memiliki fungsi penting dalam pelaksanaan ritual keagamaan masyarakat setempat. Keberadaannya tidak hanya sebagai sarana pertunjukan seni, tetapi juga menjadi bagian integral dari praktik spiritual dan identitas budaya masyarakat Bali.

Foto: Seminar Bersama ISI BALI dan AIIT Jepang Selasa (23/6) di Ruang Kuliah Umum, Desain Hub ISI BALI

Seminar berlangsung interaktif dengan diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan ISI BALI. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi melalui berbagai pertanyaan dan diskusi yang membahas upaya pemertahanan, pelestarian, serta pengembangan seni dan budaya Bali di tengah arus globalisasi. (ISIBALI/Humas)

Loading...