Foto: Sosialisasi Peningkatan Pencatatan Hak Cipta dan Produk Hak Terkait di Ruang Kuliah Umum Gedung Desain Hub ISI BALI, Selasa (28/7)
Upaya memperkuat pemahaman dan pemanfaatan Kekayaan Intelektual kembali mendapat perhatian besar di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Pada Selasa, 28 Juli 2026, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (DJKI) melalui Direktorat Hak Cipta dan Desain Industri menyelenggarakan kegiatan bertema “Lindungi Karya, Ciptakan Peluang: Mencatat Hak Cipta untuk Kreativitas dan Ekonomi Bangsa”. Sejak pagi, Ruang Kuliah Umum Gedung Desain Hub tampak dipadati dosen dan mahasiswa yang ingin memahami lebih jauh proses pencatatan hak cipta.
Kegiatan dimulai pukul 08.00 dengan registrasi peserta. Suasana formal namun hangat terasa ketika I Wayan Redana, Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kantor Wilayah Kementerian Hukum Bali, menyampaikan keynote speech sekaligus membuka kegiatan secara resmi.
Pimpinan ISI Bali yang diwakili Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama yaitu Prof. Dr. I Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum, kemudian memberikan sambutan yang menekankan pentingnya perlindungan karya di lingkungan kampus seni. Mereka mengapresiasi penuh kolaborasi dengan DJKI, terutama karena pencatatan hak cipta kini menjadi kebutuhan mendesak bagi sivitas akademika yang aktif berkarya. Antusiasme peserta semakin terlihat saat memasuki sesi berbagi pengalaman, ketika Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama juga menjadi narasumber utama dalam sesi ini. Beliau memaparkan perkembangan industri kreatif dan berbagai kendala pencatatan hak cipta yang masih ditemui di kampus dengan topik “Perkembangan terkini industri kreatif dan kendala proses Pencatatan Hak Cipta di lingkungan Institut Seni Indonesia Bali” .
Foto: Sosialisasi Peningkatan Pencatatan Hak Cipta dan Produk Hak Terkait di Ruang Kuliah Umum Gedung Desain Hub ISI BALI, Selasa (28/7)
Diskusi kemudian berlanjut pada materi inti mengenai pelindungan hukum hak cipta dan produk hak terkait, serta tata cara pencatatan melalui Sistem POP HC. Dua narasumber dari DJKI, yaitu Ariyanti, S.H., M.H., sebagai Ketua Tim Kerja Permohonan dan Publikasi Hak Cipta, serta Dr. Novi Mirawanty, S.T., M.Ti., sebagai Sekretaris Permohonan Hak Cipta, menjelaskan prosedur pencatatan secara rinci. Banyak peserta mengajukan pertanyaan, terutama terkait karya seni yang sering kali memiliki bentuk non-konvensional.
Sesi ini dipandu oleh moderator I Putu Udiyana Wasista, S.Sn., M.Sn., Kepala Pusat Penerbitan dan Kekayaan Intelektual ISI Bali, yang memastikan diskusi berjalan interaktif dan mudah dipahami oleh peserta dari berbagai latar belakang seni.
Kegiatan yang berlangsung hingga siang hari ini meninggalkan kesan positif. Banyak dosen menyebut acara ini sebagai langkah nyata memperkuat budaya perlindungan karya di kampus seni. Mahasiswa pun merasa lebih percaya diri untuk mulai mencatat karya mereka.
Pimpinan ISI Bali menegaskan bahwa kegiatan seperti ini akan terus didorong agar kreativitas sivitas akademika tidak hanya berkembang, tetapi juga terlindungi secara hukum. Di tengah pesatnya industri kreatif, pencatatan hak cipta bukan lagi sekadar formalitas, melainkan fondasi penting bagi masa depan ekonomi kreatif Indonesia. (Udiyana)
Foto: Diseminasi Karya Tugas Akhir Mahasiswa Program “ISI BALI Berdampak” Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di N-CAS ISI BALI, Senin (27/7).
Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) resmi membuka gelaran Diseminasi Karya Tugas Akhir Mahasiswa Program “ISI BALI Berdampak” untuk Semester Genap Periode Tahun Akademik 2025/2026, Senin (27/7), bertempat di Gedung Nata Citha Art Space (N-CAS), Denpasar.
Kegiatan akademik dan pameran seni ini dibuka oleh Dekan FSRD serta dihadiri oleh jajaran Wakil Rektor, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan, Direktur Program Pascasarjana, para Kepala Biro, Ketua LPPM, Ketua LPMP, dosen pembimbing, mitra industri, tenaga kependidikan, serta mahasiswa.
Foto: Diseminasi Karya Tugas Akhir Mahasiswa Program “ISI BALI Berdampak” Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di N-CAS ISI BALI, Senin (27/7).
Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD ISI BALI sekaligus Ketua Panitia Pelaksana dalam laporannya menyampaikan bahwa pameran diseminasi ini merupakan puncak pertanggungjawaban akademik dan ruang dialektika publik bagi mahasiswa. Ajang ini menguji secara nyata bagaimana gagasan artistik dan inovasi desain dapat berinteraksi dengan kebutuhan masyarakat serta tantangan zaman.
Pada periode kali ini, pameran mengusung tema filosofis “Karsa-Kanti-Karana”, yang bermakna “Manifestasi daya cipta mahasiswa dalam merajut keindahan dan menggerakkan perubahan yang berdampak.” Penciptaan karya seni dan desain tidak boleh berhenti pada batas estetika visual semata. Karsa atau niat kreatif mahasiswa harus bertaut erat dengan semangat kanti (kemitraan dan kebersamaan) untuk menjadi karana (sebab atau penggerak) lahirnya perubahan sosial, ekologis, dan ekonomi yang transformatif,” ujar Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD ISI BALI dalam pameran tersebut.
Kolaborasi Lintas Prodi dan Sentuhan Internasional
Pameran diseminasi ini diikuti oleh 23 orang mahasiswa peserta Tugas Akhir dari berbagai program studi di lingkungan FSRD ISI BALI, dengan rincian:
Seni Murni : 2 Mahasiswa
Kriya : 1 Mahasiswa
Desain Komunikasi Visual (DKV) : 7 Mahasiswa
Fotografi : 6 Mahasiswa
Desain Mode : 1 Mahasiswa
Produksi Film dan Televisi : 6 Mahasiswa
Karya-karya yang dipamerkan mencerminkan keberagaman metodologi serta eksplorasi media yang sangat relevan dengan dinamika industri kreatif masa kini.
Istimewanya, gelaran kali ini juga diperkaya oleh kehadiran mahasiswa internasional dari Program B-IPAD (Bali International Project for Arts and Design Studies). Mahasiswa asal manca negara ini telah menuntaskan masa studinya di semester ini dan turut memamerkan karya-karya terbaik mereka. Hadirnya peserta internasional ini menciptakan cross-cultural dialogue (perjumpaan lintas budaya) yang tidak hanya memperkaya perspektif estetik lokal dengan wawasan global, tetapi juga mempertegas posisi ISI BALI sebagai episentrum pendidikan seni berpikiran maju (forward-thinking) di tingkat internasional.
Pihak panitia turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih mendalam kepada pimpinan institusi, dosen pembimbing, mitra industri, serta seluruh tenaga kependidikan dan panitia yang telah berkolaborasi suksesnya acara ini. Diharapkan karya-karya yang disajikan mampu memberikan inspirasi dan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat serta pemajuan seni dan budaya.
Foto: FGD Penyusunan Dokumen Clearance Kamis (23/7) di Ruang Kuliah Umum, Desain HUB ISI BALI.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menggelar Focus Group Discussion (FGD) penyusunan dokumen clearance bertema “Wakya Jnana Widya: Pranata Pemulia Pendidikan Seni”, Kamis (23/7), di Ruang Kuliah Umum, Desain HUB ISI BALI.
FGD ini menghadirkan narasumber dari Tim Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), Pusat Data dan Teknologi Informasi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yaitu Muchamad Rochim, S.Kom., Ikhwanul Hakim, B.ICT., dan Aziz Yanuar Saputra, S.Komp.
Ketua Panitia FGD, Agus Ngurah Arya Putraka, S.Sn., M.Sn., dalam laporannya menjelaskan bahwa dokumen clearance TIK merupakan bukti persetujuan atau rekomendasi dari instansi berwenang yang menyatakan bahwa rencana belanja infrastruktur, aplikasi, atau sistem teknologi informasi telah memenuhi prinsip efisiensi serta standar Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).
“Clearance merupakan tahapan persetujuan dan izin resmi dari pemerintah pusat yang harus dipenuhi dalam pengadaan barang tertentu, terutama perangkat TIK impor seperti hardware, komputer, mesin fotokopi, dan peralatan kantor lainnya yang memerlukan proses clearance,” ujarnya.
Foto: FGD Penyusunan Dokumen Clearance Kamis (23/7) di Ruang Kuliah Umum, Desain HUB ISI BALI.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi ISI BALI saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan secara resmi menyampaikan bahwa ISI BALI menargetkan pengajuan dokumen clearance TIK pada tahun ini untuk mendukung pengadaan kebutuhan teknologi informasi kampus.
Ia menekankan bahwa peningkatan jumlah mahasiswa menuntut adanya peremajaan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran dan layanan akademik. Karena itu, FGD ini menjadi forum strategis untuk menghimpun masukan dari seluruh unit pengguna di lingkungan ISI BALI.
“Kegiatan ini merupakan wujud komitmen bersama seluruh unit kerja dalam upaya meningkatkan infrastruktur layanan ISI BALI agar semakin maju dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global. Namun, proses pengadaan peralatan tersebut harus melalui tahapan administratif, salah satunya clearance yang disetujui oleh pemerintah berwenang. Oleh karena itu, pemahaman terhadap proses penyusunan dokumen clearance menjadi sangat penting,” jelasnya.
Dalam sesi pemaparan, tim SPBE Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi memberikan penjelasan mengenai mekanisme perencanaan kebutuhan TIK, penyusunan dokumen clearance, standar SPBE, serta langkah-langkah yang harus dipenuhi agar pengajuan pengadaan dapat diproses secara efektif dan sesuai regulasi.
FGD diikuti oleh berbagai unsur pimpinan dan pengelola administrasi di lingkungan ISI BALI, antara lain staf UPA TIK, wakil dekan bidang keuangan dan umum Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) dan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) beserta staf, Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama, Kepala Biro Perencanaan, Keuangan, dan Umum, para kepala bagian dan kepala subbagian terkait, termasuk Pascasarjana dan LPPM.
ISI BALI berharap proses penyusunan dokumen clearance dapat dilakukan secara lebih terarah, akuntabel, dan sesuai ketentuan pemerintah, sehingga penguatan infrastruktur digital kampus dapat segera diwujudkan untuk mendukung transformasi layanan pendidikan tinggi berkualitas. (ISIBALI/Humas)
Apresiasi atas Peningkatan Efisiensi dan Akuntabilitas Transaksi Keuangan
Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menerima penghargaan Peringkat 1 Satuan Kerja Pengguna CMS Teraktif Semester I Tahun 2026 di Aula A Gedung Keuangan Negara (GKN) I Denpasar, Rabu (22/7).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) meraih penghargaan Peringkat 1 Satuan Kerja Pengguna Cash Management System (CMS) Teraktif Semester I Tahun 2026 dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Denpasar. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala KPPN Denpasar, Aris Saputro, kepada Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana, dalam Forum Konsultasi Publik di Aula A Gedung Keuangan Negara (GKN) I Denpasar, Rabu (22/7).
Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas komitmen ISI BALI dalam mendukung pengelolaan keuangan negara yang modern, transparan, dan akuntabel melalui pemanfaatan teknologi digital dalam transaksi perbankan pemerintah.
ISI BALI dinilai aktif dan optimal dalam memanfaatkan layanan CMS untuk mendukung pengelolaan keuangan institusi. Melalui sistem tersebut, ISI BALI secara konsisten menggunakan berbagai fitur transaksi perbankan pemerintah secara realtime online, mulai dari informasi saldo, transfer antar rekening, pembayaran penerimaan negara, hingga pembayaran utilitas. Pemanfaatan CMS secara intensif tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi, ketepatan waktu, serta akuntabilitas pengelolaan keuangan institusi, sekaligus mendukung transformasi digital layanan perbendaharaan pemerintah yang lebih transparan dan modern.
Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana (2 dari kanan) menerima penghargaan Peringkat 1 Satuan Kerja Pengguna CMS Teraktif Semester I Tahun 2026 di Aula A Gedung Keuangan Negara (GKN) I Denpasar, Rabu (22/7).
Forum tersebut dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Bali, Supendi, yang menegaskan bahwa Forum Konsultasi Publik merupakan wadah untuk menghimpun masukan dari para pemangku kepentingan guna meningkatkan kualitas pelayanan publik sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri PANRB Nomor 16 Tahun 2017.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor ISI BALI menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh unsur pengelola keuangan di lingkungan kampus. Menurutnya, optimalisasi penggunaan CMS tidak hanya meningkatkan efisiensi administrasi keuangan, tetapi juga memperkuat tata kelola keuangan institusi yang selaras dengan prinsip good governance.
Cash Management System (CMS) merupakan sistem aplikasi dan informasi yang menyediakan berbagai layanan transaksi perbankan secara realtime online, antara lain informasi saldo rekening, transfer antar rekening, pembayaran penerimaan negara, pembayaran utilitas, serta fasilitas transaksi lainnya yang mendukung pelaksanaan pengelolaan keuangan satuan kerja pemerintah.
Pada kesempatan tersebut, Kepala KPPN Denpasar, Aris Saputro, bersama Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran (PPA) I Kanwil DJPb Provinsi Bali turut memaparkan evaluasi pelaksanaan anggaran, sekaligus memperkenalkan tugas, fungsi, dan standar layanan KPPN kepada seluruh peserta forum.
Dengan diraihnya penghargaan ini, ISI BALI menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola keuangan berbasis digital, sekaligus mendukung transformasi layanan keuangan pemerintah yang semakin efisien, transparan, dan akuntabel. (ISIBALI/Humas)
Foto: kunjungan tim evaluator Bapenas dalam rangka Evaluasi Pemanfaatan Proyek SBSN TA 2024, Jumat (17/7/2026), di Ruang Sabha Citta Mahottama, Gedung Desain Hub ISI BALI.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menerima kunjungan tim evaluator dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) dalam rangka Evaluasi Pemanfaatan Proyek Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Tahun Anggaran 2024, Jumat (17/7/2026), di Ruang Sabha Citta Mahottama, Gedung Desain Hub ISI BALI.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari surat Direktur Pendidikan Tinggi dan IPTEK Kementerian PPN/BAPPENAS mengenai pelaksanaan evaluasi pemanfaatan hasil proyek SBSN pada perguruan tinggi. Fokus evaluasi di ISI BALI adalah Gedung Desain Hub, yang dibangun melalui pendanaan SBSN Tahun Anggaran 2024 dan telah selesai pada tahun 2025.
Tim evaluator BAPPENAS yang hadir terdiri atas Dimas Suryo Sudarso, Ahmad Kholil, dan Yudi Lesmana. Kehadiran tim disambut langsung oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, didampingi para wakil rektor, kepala biro, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, serta para koordinator program studi yang menjadi pengguna fasilitas di Gedung Desain Hub.
Foto: kunjungan tim evaluator Bapenas dalam rangka Evaluasi Pemanfaatan Proyek SBSN TA 2024, Jumat (17/7/2026), di Ruang Sabha Citta Mahottama, Gedung Desain Hub ISI BALI.
Dalam pemaparannya, Rektor menjelaskan berbagai bentuk pemanfaatan Gedung Desain Hub beserta dampaknya terhadap peningkatan kualitas pembelajaran, pengembangan kreativitas mahasiswa, dan penguatan ekosistem pendidikan seni dan desain di lingkungan ISI BALI.
Saat ini, Gedung Desain Hub dimanfaatkan oleh Program Studi Desain Komunikasi Visual, Desain Interior, Arsitektur, serta Produksi Film dan Televisi sebagai pusat kegiatan akademik dan pengembangan karya kreatif mahasiswa. Selain itu, lantai 1 Gedung Desain Hub juga digunakan oleh Program Pascasarjana sebagai ruang administrasi sementara selama proses renovasi gedung Pascasarjana berlangsung.
Tim evaluator kemudian menggali informasi lebih rinci mengenai tingkat pemanfaatan ruang, sistem pengelolaan fasilitas, pemeliharaan sarana prasarana, serta rencana keberlanjutan operasional gedung agar manfaat investasi SBSN dapat terus dirasakan dalam jangka panjang.
Foto: kunjungan tim evaluator Bapenas dalam rangka Evaluasi Pemanfaatan Proyek SBSN TA 2024, Jumat (17/7/2026), di Ruang Sabha Citta Mahottama, Gedung Desain Hub ISI BALI.
Usai sesi pemaparan dan diskusi, tim evaluator bersama Rektor dan jajaran pimpinan ISI BALI melakukan peninjauan langsung ke seluruh area Gedung Desain Hub untuk melihat kondisi fasilitas dan penggunaannya dalam mendukung proses pembelajaran, produksi karya, serta aktivitas kreatif mahasiswa.
Melalui evaluasi ini, ISI BALI berharap pemanfaatan infrastruktur yang dibangun melalui skema SBSN dapat terus dioptimalkan dan memberikan dampak yang berkelanjutan bagi pengembangan pendidikan tinggi seni, desain, dan industri kreatif di Bali. Gedung Desain Hub diharapkan menjadi salah satu pusat inovasi dan kolaborasi yang mampu memperkuat daya saing lulusan ISI BALI di tingkat nasional maupun internasional. (ISIBALI/Humas)
Foto: FGD Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Senin (13/7), di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI BALI.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali menyelenggarakan Diskusi Terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Senin (13/7), di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI BALI. Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama penelitian antara ISI BALI dan BRIDA Provinsi Bali dalam menyusun kajian komprehensif mengenai refleksi perjalanan satu abad kepariwisataan budaya Bali.
FGD menghadirkan tiga narasumber yang membahas sejarah dan perkembangan kepariwisataan Bali dari berbagai sudut pandang. Mereka, yakni Wakil Gubernur Bali periode 2018–2023 sekaligus Ketua PHRI Bali Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si., tokoh dan pelaku pariwisata Bali Ida Bagus Ngurah Wijaya, dan pengamat budaya dan ahli lontar Sugi Lanus.
FGD dibuka oleh Kepala BRIDA Provinsi Bali, Dr. Ketut Wica, S.Sos., M.H., serta dihadiri Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana, akademisi, pelaku pariwisata, budayawan, dan peneliti yang turut memberikan perspektif historis maupun akademis terhadap perkembangan kepariwisataan Bali.
Foto: FGD Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Senin (13/7), di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI BALI.
alam sambutannya, Dr. Ketut Wica menegaskan bahwa penelitian ini bertujuan membangun fondasi ilmiah bagi arah kebijakan kepariwisataan Bali di masa depan. Menurutnya, budaya Bali tidak boleh diperlakukan semata sebagai komoditas ekonomi yang kehilangan nilai kesakralan dan spiritualitasnya.
“Kajian ini dilakukan agar budaya Bali tidak dijual murah hingga kehilangan kesakralan dan spiritualitasnya di tengah masyarakat. Kebijakan yang nantinya disusun pemerintah harus mampu melindungi masyarakat sekaligus menjaga nilai-nilai budaya Bali,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kepariwisataan Bali tumbuh secara organis dari denyut kehidupan masyarakat yang berlandaskan taksu, seni, dan budaya. Melalui kolaborasi antara ISI BALI dan BRIDA Provinsi Bali, penelitian ini berupaya menarik benang merah perjalanan sejarah tersebut, mulai dari interaksi seniman, tokoh puri, peneliti, hingga masyarakat yang menjadi fondasi berkembangnya pariwisata Bali.
Menjelang satu abad kepariwisataan Bali, menurutnya, momentum ini menjadi refleksi penting untuk mengevaluasi apakah pembangunan pariwisata masih berpijak pada keaslian budaya Bali serta sejauh mana ketahanan budaya mampu menghadapi arus globalisasi dan dinamika zaman.
“Pemerintah Provinsi Bali melalui BRIDA ingin membangun kajian yang tajam secara akademis, tetapi juga valid secara sosial dan historis. Insan pariwisata, Asita Bali, telah mulai menggaungkan road to 100 years Bali tourism, melalui event Bali Tourism Run 2026 di Jatiluwih, “tambahnya.
Sementara itu, Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, memaparkan hasil penelitian awal yang menunjukkan bahwa perkembangan kepariwisataan budaya Bali dapat dipetakan ke dalam beberapa fase penting, yaitu masa perintisan, masa pembentukan, masa kebangkitan pertama, masa kebangkitan kedua, masa kebangkitan ketiga, dan masa kebangkitan keempat.
Menurutnya, perjalanan kepariwisataan budaya Bali tidak dibangun secara instan, melainkan tumbuh secara alami melalui kekuatan masyarakat dan industri budaya yang telah berkembang sejak awal abad ke-20.
“Kepariwisataan budaya Bali dalam refleksi kesejarahan dibangun secara organis oleh masyarakat Bali berbasis industri budaya. Interaksi dan kolaborasi antara masyarakat, seniman lokal, peneliti, serta tetamu internasional membangun ekosistem seni dan budaya yang kemudian memuarakan kunjungan pariwisata dan menggema secara luas pada medio akhir tahun 1920-an di Bali,” jelasnya.
Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si., Wakil Gubernur Bali periode 2018–2023 sekaligus Ketua PHRI Bali, memaparkan materi “Lahirnya Gagasan Menuju 100 Tahun Pariwisata Bali”. Ia mengulas lahirnya konsep kepariwisataan Bali yang bertumpu pada kekuatan budaya sebagai identitas utama destinasi.
Selanjutnya, Ida Bagus Ngurah Wijaya, tokoh dan pelaku pariwisata Bali, menyampaikan materi “Sanur dan Pariwisata: Refleksi Sejarah” yang mengangkat peran kawasan Sanur sebagai salah satu titik awal perkembangan industri pariwisata modern di Bali.
Sementara itu, Sugi Lanus, pengamat budaya dan ahli lontar, membawakan materi “Fajar Pariwisata Bali: Melihat Cikal-Bakal Infrastruktur Fisik dan Kultural Kepariwisataan Bali dari ‘Kaca Mata’ Rabindranath Tagore (1927)”. Pemaparannya menyoroti pengaruh kunjungan tokoh dunia seperti Rabindranath Tagore dalam memperkuat citra Bali sebagai pusat kebudayaan yang kemudian menarik perhatian masyarakat internasional.
Diskusi dipandu oleh Prof. Dr. I Komang Sudirga, M.Hum., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI. Melalui forum ini, para narasumber, peneliti, dan peserta mendiskusikan berbagai dinamika sejarah, tantangan, serta arah pengembangan kepariwisataan budaya Bali menjelang peringatan 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali.
Foto: FGD Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Senin (13/7), di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI BALI.
Diskusi juga diperkaya dengan masukan dari Tim Pengendali Mutu Penelitian, Prof. Ir. Made Supartha Utama, yang mengajak peserta merefleksikan kembali posisi budaya Bali dalam pembangunan kepariwisataan.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan sekadar bagaimana budaya Bali dipromosikan sebagai daya tarik wisata, tetapi sejauh mana nilai-nilai luhur yang hidup di dalamnya benar-benar dijadikan foundation value atau nilai dasar dalam tata kelola pembangunan. Ia menekankan bahwa nilai-nilai budaya Bali semestinya menjadi landasan dalam membangun sistem kepariwisataan, sistem hukum, maupun sistem sosial di Bali. Dengan demikian, pariwisata tidak hanya berorientasi pada penampilan luar atau aspek seremonial budaya semata.
“Yang perlu kita refleksikan adalah sejauh mana nilai-nilai budaya Bali telah dijadikan foundation value dalam tata kelola sistem pariwisata, sistem hukum, dan sistem sosial. Jangan sampai perhatian kita hanya tertuju pada behavior atau seremoni budaya, seperti upacara ngaben, tanpa memahami nilai-nilai filosofis yang menjadi roh di baliknya,” ujarnya.
Melalui penelitian kolaboratif ini, ISI BALI dan BRIDA Provinsi Bali berharap dapat menghasilkan rekomendasi akademis yang menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan kepariwisataan yang tetap berpijak pada nilai-nilai budaya, menjaga kesakralan tradisi, sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai destinasi budaya yang berkelanjutan di tingkat dunia.(ISIBALI/Humas)