Foto: FGD penyusunan buku profil Industri Kecil dan Menengah (IKM) perajin wastra dan logam Kabupaten Gianyar, Jumat (18/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gianyar menggelar Diskusi Terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) bertajuk “Gina-Jnana-Guna (Kharisma Mahakarya Pengetahuan)”, Jumat (18/9). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen, Lantai 3 ISI BALI ini menjadi bagian dari proses penyusunan buku profil Industri Kecil dan Menengah (IKM) perajin wastra dan logam Kabupaten Gianyar.
FGD digelar untuk memperdalam dan merekam kekayaan kriya Gianyar, mulai dari taksonomi wastra dan logam, perjalanan historis usaha, kapasitas produksi, hingga daya resiliensi pelaku IKM dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan industri. Pendalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat dokumentasi sekaligus memberikan gambaran mengenai potensi pengembangan IKM wastra dan logam Gianyar di masa mendatang.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, dalam sambutannya menyampaikan bahwa proses pendalaman bersama pelaku usaha dan perajin menunjukkan besarnya potensi kriya Gianyar untuk terus berkembang. Tim dari Program Studi Kriya dan Program Studi Desain ISI BALI juga menemukan berbagai bukti mengenai daya kebertahanan atau resilience IKM di tengah perubahan lingkungan usaha.
Foto: FGD penyusunan buku profil Industri Kecil dan Menengah (IKM) perajin wastra dan logam Kabupaten Gianyar, Jumat (18/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama.
“Pendalaman yang dilakukan bersama narasumber, baik pengusaha maupun perajin kecil dan menengah, semakin memperlihatkan bahwa Gianyar memiliki potensi besar untuk terus berkembang di masa mendatang. Kami menemukan berbagai fakta dan pengalaman baru yang menunjukkan bagaimana pelaku IKM mampu mempertahankan keberlangsungan usahanya di tengah berbagai tantangan, mulai dari persaingan yang semakin ketat, keterbatasan dan kelangkaan bahan baku, hingga hadirnya industri-industri baru. Kemampuan untuk beradaptasi, berinovasi, dan mempertahankan pengetahuan kriya yang diwariskan menjadi bagian penting dari daya resiliensi pelaku IKM. Temuan-temuan inilah yang kemudian menjadi bagian penting dalam membaca masa depan kriya Gianyar,” jelasnya.
Hasil pengkajian tersebut kemudian dikonstruksi menjadi dua buku, yakni Sawen Wastra Gianyar yang mengangkat profil 20 IKM dan perajin wastra terpilih serta Tatah Logam Titah Leluhur yang mendokumentasikan profil IKM dan perajin logam terpilih di Kabupaten Gianyar.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Gianyar, Dr. Surya Adnyani Mahayastra, yang membuka FGD secara resmi, menegaskan pentingnya upaya dokumentasi dan pelestarian karya kriya Gianyar, terlebih Gianyar telah dikenal sebagai World Craft City.
“Sebagai World Craft City, Gianyar memiliki kekayaan kriya yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Tantangannya bukan hanya mempertahankan karya yang telah diwariskan, tetapi juga memastikan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang menyertainya tetap hidup dan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, kerja sama Pemerintah Kabupaten Gianyar dengan ISI BALI dalam penyusunan buku ini menjadi langkah penting untuk mendokumentasikan kekayaan kriya dan wastra Gianyar secara lebih komprehensif. Melalui FGD ini, berbagai pengalaman dan pengetahuan langsung dari perajin dapat dihimpun sebagai bahan untuk merumuskan langkah pengembangan yang lebih tepat, sekaligus menjadi masukan bagi Pemerintah Kabupaten Gianyar dalam menjaga keberlanjutan, memajukan, dan memperluas apresiasi terhadap kriya dan wastra Gianyar,” ujarnya.
Foto: FGD penyusunan buku profil Industri Kecil dan Menengah (IKM) perajin wastra dan logam Kabupaten Gianyar, Jumat (18/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama.
Ketua Tim Penyusun Buku, Nyoman Dewi Pebryani, ST., MA., Ph.D, memaparkan perkembangan penyusunan kedua buku yang disusun 12 peneliti. Sawen Wastra Gianyar disusun sebagai penanda kekhasan wastra Gianyar, mencakup teknik, motif, warna, serta sistem pewarisan pengetahuan dari generasi ke generasi. Buku ini terdiri atas tiga bab yang membahas endek, songket, serta wastra berbasis pewarna alam.
Sementara itu, Tatah Logam Titah Leluhur mengangkat totalitas perajin logam Gianyar dalam mempertahankan warisan tradisi pahat emas dan perak sekaligus mengembangkan kreativitas untuk menjawab kebutuhan masa kini. Buku ini terdiri atas empat bab yang membahas perajin keris dan pusaka; tatah perak untuk sesuhunan, wayang pacadatu, serta rangkaian uang kepeng hingga perkembangan kriya dan perak kontemporer; inovasi branding untuk memperluas pasar; serta pengembangan kriya logam sebagai produk cenderamata.
Pendalaman melalui FGD menghadirkan empat narasumber yang merepresentasikan pengalaman dan perspektif pelaku IKM wastra dan logam Gianyar. Ni Nengah Sri Swarti Asih, pemilik Sri Intan Jewelry, memaparkan “Kreativitas Desain Aksesoris dan Tata Kelola Bisnis Berkelanjutan”. Selanjutnya, I Made Megayasa, Ketua Celuk Design Center, membawakan materi “Produktivitas dan Daya Dukung Modal pada IKM Logam”.
Dari sektor wastra, Ida Bagus Adnyana, pemilik Pertenunan Putri Ayu, menyampaikan paparan “Inovasi dan Sistem Pewarisan Tenun Gianyar”, sedangkan Pande Nyoman Yori Pratana, generasi penerus Pertenunan Setia Cap Cili, mengangkat tema “Resiliensi dan Regenerasi Perajin Wastra Gianyar”.
Keempat perspektif tersebut memperkaya penyusunan profil IKM dengan tidak hanya mendokumentasikan produk, tetapi juga menelusuri pengetahuan, pengalaman usaha, proses regenerasi, inovasi, pengelolaan bisnis, serta strategi perajin dalam mempertahankan keberlanjutan usaha.
Melalui FGD ini, Sawen Wastra Gianyar dan Tatah Logam Titah Leluhur diarahkan menjadi lebih dari sekadar buku profil. Keduanya diharapkan menjadi dokumentasi kekayaan kriya Gianyar, khususnya wastra dan logam, sekaligus media pelestarian pengetahuan dan tradisi perajin agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kedua buku tersebut juga diharapkan dapat menjadi sarana promosi bagi IKM unggulan Kabupaten Gianyar kepada masyarakat, wisatawan, kolektor, dan pasar yang lebih luas. Di sisi lain, dokumentasi ini diharapkan memperkuat identitas dan kekhasan produk Gianyar dengan memperlihatkan hubungan antara keterampilan, kreativitas, budaya, dan nilai-nilai leluhur.
Lebih lanjut, hasil pengkajian diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan IKM Gianyar, terutama dalam aspek regenerasi perajin, inovasi desain, peningkatan kualitas produk, penguatan branding, dan perluasan akses pasar.
Dengan demikian, penyusunan kedua buku tidak hanya merekam apa yang telah diwariskan, tetapi juga memetakan bagaimana pengetahuan dan keterampilan kriya Gianyar dapat terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (ISIBALI/Humas)
Foto: FGD “Menuju 100 Tahun Kepariwisataan Bali #2”, Rabu (16/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Guna mematangkan penyusunan buku kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Institut Seni Indonesia (ISI) BALI dan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali kembali menggelar Diskusi Terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) bertajuk “Menuju 100 Tahun Kepariwisataan Bali #2”, Rabu (16/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mematangkan penyusunan buku kajian 100 Tahun Kepariwisataan Bali yang direncanakan terbit pada 2027, bertepatan dengan satu abad perkembangan pariwisata Bali.
FGD yang mengusung tema “Yukti-Jnana-Yatra”, yang dimaknai sebagai pelayaran menuju kedalaman pengetahuan, merupakan kelanjutan dari FGD pertama yang telah dilaksanakan pada 13 Juli 2026. Forum ini mempertemukan akademisi, Kelompok Ahli Pembangunan Bidang Budaya dan Pariwisata Provinsi Bali, pelaku pariwisata, budayawan, serta peneliti untuk memperkaya kajian melalui perspektif historis, akademis, dan pengalaman praktis di lapangan.
Hadir membuka kegiatan, Sekretaris Kepala BRIDA Provinsi Bali, Ni Luh Putu Seni Artini, S.E., Ak., M.Si. Sementara itu, forum menghadirkan tiga narasumber dari berbagai latar belakang kepariwisataan Bali, yakni pendiri Agung Rai Museum of Art (ARMA), AA Gde Rai; Ketua Yayasan Pembangunan Sanur, Ida Bagus Sidharta Putra; serta Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya.
Dalam forum tersebut, Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, memaparkan hasil penelitian mengenai perkembangan kepariwisataan budaya Bali yang dipetakan ke dalam lima pembabakan waktu. Pembabakan tersebut meliputi Masa Pembentukan Kepariwisataan Bali (1927–1945), Masa Kebangkitan Pariwisata Bali Pertama (1945–1965), Masa Kebangkitan Kedua (1965–1996), Masa Kebangkitan Ketiga (1997–2017), serta Masa Kebangkitan Keempat (2018–kini).
Foto: FGD “Menuju 100 Tahun Kepariwisataan Bali #2”, Rabu (16/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Pemetaan tersebut menjadi salah satu pijakan dalam penyusunan buku yang dikerjakan oleh tim beranggotakan 20 orang, termasuk lima guru besar. Melalui rangkaian FGD, tim penyusun terus menggodok substansi buku agar mampu merekam perjalanan kepariwisataan Bali secara lebih utuh sekaligus memberikan perspektif terhadap perkembangan pariwisata Bali ke depan.
Sejumlah aspek strategis kemudian dibahas oleh para narasumber. AA Gde Rai menyampaikan materi bertajuk “Museum Sebagai Lembaga Pelestari Seni, Budaya, dan juga sebagai Destinasi Wisata”, yang menyoroti posisi museum dalam pelestarian kebudayaan sekaligus pengembangan daya tarik wisata.
Sementara itu, Ida Bagus Sidharta Putra membahas “Tata Kelola Pariwisata Berbasis Kawasan Sanur”, dengan mengangkat pengalaman pengelolaan kawasan Sanur yang melibatkan masyarakat. Adapun I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya memaparkan “Tata Kelola Destinasi dan Praktik Hospitality Khas Bali”, termasuk dinamika pengelolaan destinasi dan tantangan pariwisata Bali saat ini, seperti overtourism.
Foto: Penyerahan Piagam Penghargaan kepada narasumber FGD “Menuju 100 Tahun Kepariwisataan Bali #2”, Rabu (16/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Diskusi juga berkembang pada pemahaman bahwa kepariwisataan Bali tidak semata-mata bertumpu pada kebudayaan sebagai produk wisata, tetapi mencakup berbagai aktivitas dan daya tarik yang berkembang seiring perjalanan pariwisata Bali.
Anggota Kelompok Ahli Pembangunan Bidang Pariwisata Provinsi Bali, Cipto Aji Gunawan, mencontohkan perkembangan wisata bahari, khususnya surfing dan diving, yang turut membentuk karakter pariwisata Bali. Menurutnya, aktivitas tersebut pada awalnya diperkenalkan oleh wisatawan mancanegara, kemudian berkembang dan menjadi bagian dari ikon kepariwisataan Bali. Perspektif tersebut dinilai penting untuk melihat perkembangan pariwisata Bali secara lebih luas, termasuk interaksi antara masyarakat lokal dan berbagai pengaruh dari luar.
Masukan lainnya disampaikan Ir. Made Gunaja, M.Si., perwakilan Tim Pengendali Mutu BRIDA Provinsi Bali. Ia menekankan pentingnya memasukkan rekam kebijakan serta dukungan pemerintah daerah dalam perjalanan kepariwisataan Bali. Menurutnya, kebijakan dan dukungan para pemimpin Bali, termasuk gubernur pada setiap periode, perlu terdokumentasi sebagai bagian dari landasan objektif untuk melihat peran pemerintah dalam perkembangan pariwisata Bali.
Berbagai pandangan yang muncul dalam FGD tersebut selanjutnya menjadi bahan pengayaan bagi tim penyusun dalam menyempurnakan kajian 100 Tahun Kepariwisataan Bali. Melalui pendekatan yang memadukan catatan sejarah, hasil penelitian, pengalaman pelaku, serta perspektif kebijakan, buku tersebut diharapkan dapat menghadirkan dokumentasi komprehensif mengenai perjalanan satu abad kepariwisataan Bali. (ISIBALI/Humas)
Foto: Mahasiswa ISI BALI pada malam pengumuman juara PEKSIMINAS XVIII di Universitas Jember, Kamis (10/9)
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) kembali mencatatkan prestasi pada ajang Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) XVIII Tahun 2026 yang diselenggarakan di Universitas Jember, Jawa Timur, 7–10 September 2026. Dari sejumlah tangkai lomba yang diikuti mahasiswa ISI BALI sebagai bagian dari Kontingen Provinsi Bali, empat tangkai berhasil menyumbangkan prestasi bagi Bali di tingkat nasional.
Prestasi tertinggi diraih Sri Agung Wulandewi Putri Laksana, mahasiswa Program Studi (Prodi) Musik yang berhasil meraih Juara I Tangkai Lomba Menyanyi Keroncong Putri. Capaian tersebut menjadi salah satu prestasi terbaik Kontingen Provinsi Bali sekaligus menunjukkan kemampuan mahasiswa ISI BALI dalam berkompetisi pada ajang seni mahasiswa tingkat nasional.
Prestasi berikutnya diraih Insan Kamis, mahasiswa Prodi Fotografi ISI BALI, yang memperoleh Juara II Tangkai Lomba Fotografi Jurnalistik Dokumenter. Sementara itu, Ni Luh Made Bindi Hita dari Prodi Animasi berhasil meraih Harapan II pada Tangkai Lomba Komik Strip.
Pada tangkai lomba Tari, ISI BALI turut memperkuat Kontingen Provinsi Bali melalui karya berjudul “Ngetug Bumi” yang dibawakan oleh tujuh mahasiswa Prodi Tari, yakni I Putu Gede Pradipta Utama, Ni Kadek Dhya Sumitha Apsari, Made Githa Sanjiwani, I Made Wahyu Danurtha, Ida Ayu Adi Tri Wiranti, Ni Nengah Diah Tantri, dan G. Ngr Bagus Andika Prasetya. Karya tersebut berhasil meraih Harapan I.
Sebelumnya, mahasiswa ISI BALI yang tergabung dalam Kontingen Provinsi Bali telah melalui proses seleksi dan pembinaan setelah meraih prestasi pada PEKSIMIDA Bali. Selain empat tangkai tersebut, ISI BALI juga mengirimkan Zahid Zahendra dari Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan pada Tangkai Lomba Menyanyi Dangdut Putra dan mahasiswa Prodi Desain Komunikasi Visual, I Kadek Ariandi Triana Putra Widi Nugraha pada Tangkai Lomba Baca Puisi Putra.
Foto: Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI sekaligus Ketua Umum Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Pengprov Bali, Prof. Dr. Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum., menerima penghargaan Terbaik 7 PEKSIMINAS XVIII di Universitas Jember, Kamis (10/9)
Keikutsertaan mahasiswa ISI BALI dalam PEKSIMINAS XVIII menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan, kreativitas, dan pengalaman berkompetisi di tingkat nasional. Prestasi yang diraih juga menjadi hasil dari proses persiapan dan pembinaan yang dilakukan secara serius bersama dosen pendamping sebelum mahasiswa bertanding di tingkat nasional.
Secara keseluruhan, Kontingen Provinsi Bali berhasil meraih sembilan prestasi pada PEKSIMINAS XVIII, terdiri atas Juara I Keroncong Putri, Juara II Lukis, Juara II Fotografi Jurnalistik, Harapan I Desain Poster, Harapan II Komik Strip, Harapan I Baca Puisi Putri, Harapan II Monolog, Harapan III Vokal Grup, serta Harapan I Tari.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI sekaligus Ketua Umum Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Pengprov Bali, Prof. Dr. Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum., menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas perjuangan seluruh mahasiswa yang tergabung dalam Kontingen Provinsi Bali pada PEKSIMINAS XVIII.
“Selamat kepada adik-adik yang telah berhasil meraih prestasi dari berbagai tangkai lomba. Kami salut dan bangga atas totalitas kalian. Bagi yang belum beruntung, jangan kecewa karena persaingan sangat ketat. Jadikan pengalaman ini sebagai motivasi untuk memperbaiki dan menyempurnakan diri ke depan. Yang tidak kalah penting, mari tetap solid karena merawat persaudaraan adalah bagian penting selain kejuaraan,” ujar Prof. Komang
Capaian tersebut menempatkan Kontingen Provinsi Bali sebagai salah satu kontingen terbaik, yakni peringkat ketujuh dari seluruh provinsi di Indonesia. Hasil ini menjadi capaian membanggakan bagi Bali sekaligus memperlihatkan kontribusi mahasiswa ISI BALI dalam mengharumkan nama daerah melalui prestasi di bidang seni pada tingkat nasional. (ISIBALI/Humas)
Foto: Kunjungan Koordinator The Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable (AOTS) Kazuki Takahashi, Jumat (4/9).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menerima kunjungan Koordinator The Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable (AOTS) Kazuki Takahashi, Jumat (4/9). Kunjungan yang berlangsung di Ruang Sabha Citta Mahottama (Teleconference), Desain Hub, ISI BALI, tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut penyelenggaraan Program Magang Kreatif Bersertifikat Internasional yang merupakan kerja sama ISI BALI dengan Hasami Ceramic Industry Cooperative Association dan BESTie Co., Ltd., Jepang.
Dalam kunjungan tersebut, Kazuki Takahashi berdiskusi dengan Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI BALI, Nengah Sudika Negara, M.Erg., beserta Wakil Dekan dan Panitia Magang Kreatif Bersertifikat Internasional. Pertemuan membahas harapan ISI BALI terhadap pelaksanaan program magang internasional sekaligus penguatan kerja sama agar program dapat memberikan manfaat optimal bagi mahasiswa dan terus dikembangkan secara berkelanjutan.
Pelatihan untuk Program Magang Kreatif Bersertifikat Internasional ini diikuti oleh 25 mahasiswa semester tujuh yang berasal dari Program Studi Seni Kriya, Seni Murni, dan Desain Produk. Para peserta terpilih melalui proses seleksi yang dilaksanakan ISI BALI bersama mitra industri keramik Jepang.
Ke-25 mahasiswa tersebut terdiri atas I Gusti Ayu Wijayanti P., Ida Made Gaodya Rendraswara, I Dewa Bagus Wahyu, I Wayan Aria Santosa, Rayna Najla K., I Wayan Aria Sisya N., Martha, I Made Sofyan, Zefanya Awan B., Ni Wayan Arianti Dewi, Arwen Jennifer P., Ni Luh Dewi Kusuma W., I Komang Aryawan, Cokorda Gede Raka Wisma W., Ni Luh Putu Karina Praba D., I Putu Ranu Weda W., I Kadek Agus Adi W., I Kadek Sudana, Ni Kadek Karini A., Adi Purnama Yoga, I Wayan Adi Wiryatama, I Kadek Fajar N., Alfridus Moensaku, I Kadek Calvin Y., dan I Gst. Ngurah Putu Diva.
Pelatihan intensif di ISI BALI meliputi pembelajaran Bahasa Jepang, teknik keramik Hasami, teknologi produksi keramik, desain produk 3D, serta berbagai materi pendukung lainnya. Pelatihan tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan teknis mahasiswa, tetapi juga mempersiapkan kemampuan komunikasi, adaptasi budaya, kedisiplinan, serta kesiapan bekerja dalam lingkungan industri yang memiliki standar profesional dan internasional.
Setelah menyelesaikan rangkaian pelatihan dan melalui proses evaluasi, delapan peserta terbaik akan dipilih untuk mengikuti program magang internasional di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang. Hasami dikenal sebagai salah satu sentra keramik penting di Jepang. Pengalaman magang di kawasan tersebut diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa mengenai proses produksi, inovasi desain, budaya kerja, serta perkembangan industri keramik Jepang.
Sementara itu, sebanyak 17 peserta lainnya akan menjalani program magang pada mitra industri seni kriya bereputasi di dalam negeri. Dengan skema tersebut, seluruh mahasiswa peserta tetap memperoleh kesempatan untuk mengimplementasikan kompetensi akademik ke dalam praktik profesional, baik melalui pengalaman industri di Jepang maupun di Indonesia. (ISIBALI/Humas)
Foto: Pelepasan duta seni Provinsi Bali menuju PEKSIMINAS XVIII Tahun 2026 di Gedung Natya Mandala ISI BALI, Jumat (4/9).
Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Pengurus Daerah Provinsi Bali menyelenggarakan pelepasan duta seni Provinsi Bali menuju Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) XVIII Tahun 2026 yang akan berlangsung di Universitas Jember, Jawa Timur, 7–10 September 2026. Pelepasan kontingen Bali dilaksanakan Jumat (4/9) di Gedung Natya Mandala Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI).
Kegiatan pelepasan dihadiri Sekretaris Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali saat ini dijabat oleh Drs. I Made Arbawa, M.Si yang mewakili Gubernur Bali, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Umum, dan Keuangan ISI BALI, Dr. Made Jodog, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama ISI BALI sekaligus Ketua Umum Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Pengprov Bali, Prof. Dr. Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum., Kepala LLDIKTI Wilayah VIII Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, S.T., M.T., IPU., ASEAN.Eng., Pengurus BPSMI Pengprov Bali, serta seluruh kontingen PEKSIMINAS Provinsi Bali.
PEKSIMINAS XVIII merupakan ajang kompetisi seni mahasiswa tingkat nasional yang mempertemukan mahasiswa berprestasi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kontingen Bali akan mengikuti sejumlah tangkai lomba dengan mengirimkan mahasiswa terbaik yang sebelumnya telah berhasil meraih prestasi pada PEKSIMIDA Bali.
Dari ISI BALI, sejumlah mahasiswa dipercaya menjadi bagian dari kontingen Provinsi Bali. Pada tangkai lomba tari, ISI BALI menampilkan karya berjudul “Ngetug Bumi” yang dibawakan oleh tujuh mahasiswa, yakni I Putu Gede Pradipta Utama, Ni Kadek Dhya Sumitha Apsari, Made Githa Sanjiwani, I Made Wahyu Danurtha, Ida Ayu Adi Tri Wiranti, Ni Nengah Diah Tantri, dan G. Ngr Bagus Andika Prasetya.
Sementara itu, ISI BALI juga mengirimkan Zahid Zahendra untuk mengikuti Tangkai Lomba Menyanyi Dangdut Putra, Sri Agung Wulandewi Putri Laksana pada Tangkai Lomba Menyanyi Keroncong Putri, serta I Kadek Ariandi Triana Putra Widi Nugraha pada Tangkai Lomba Baca Puisi Putra.
Sementara itu, Ni Luh Made Bindi Hita mewakili Bali pada tangkai lomba Komik Strip. Prestasi serupa diraih Insan Kamis dari Program Studi Fotografi yang berlaga pada tangkai lomba Fotografi Jurnalistik Dokumenter.
Dalam kesempatan pelepasan, para peserta juga mempersembahkan penampilan yang akan dibawakan dalam kompetisi PEKSIMINAS XVIII. Penampilan tersebut menjadi gambaran kesiapan sekaligus ruang bagi para duta seni untuk menunjukkan kemampuan terbaik sebelum bertolak ke Jawa Timur.
Prof. Dr. Komang Sudirga menyampaikan dukungan dan apresiasi kepada seluruh mahasiswa yang telah berjuang hingga terpilih mewakili Bali. Menurutnya, keikutsertaan dalam PEKSIMINAS merupakan kesempatan penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan pengalaman berkesenian, membangun jejaring, sekaligus mengharumkan nama Bali melalui prestasi di tingkat nasional.
“Kami berharap seluruh peserta dapat tampil dengan penuh percaya diri, menjunjung sportivitas, dan memberikan yang terbaik. Keikutsertaan ini bukan hanya tentang meraih juara, tetapi juga tentang membawa nama baik Bali dan menunjukkan kualitas seni mahasiswa Bali di tingkat nasional,” ungkapnya.
Dukungan juga disampaikan Kepala LLDIKTI Wilayah VIII Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi. Kehadiran LLDIKTI Wilayah VIII dalam pelepasan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap pengembangan prestasi dan kreativitas mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi Bali. (ISIBALI/Humas)
Foto: Pelaksanaan gladi tangkai lomba Tari untuk Peksiminas XVIII di Ruang Natya Mandala ISI BALI, Rabu (3/9).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) mematangkan persiapan 12 mahasiswa yang akan mewakili Provinsi Bali pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVIII Tahun 2026. Ajang seni mahasiswa tingkat nasional tersebut akan diselenggarakan pada 8–12 September 2026 di Universitas Jember (UNEJ), Jawa Timur.
12 mahasiswa tersebut sebelumnya telah berhasil meraih juara pertama pada Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Provinsi Bali. Atas prestasi tersebut, mereka terpilih menjadi wakil Provinsi Bali untuk berkompetisi pada Peksiminas XVIII di tingkat nasional.
Menjelang keberangkatan, kontingen ISI BALI terus melakukan persiapan secara intensif melalui latihan dan pemantapan materi pada masing-masing tangkai lomba. Persiapan tersebut juga dilengkapi dengan gladi yang dilaksanakan di Ruang Natya Mandala ISI BALI, Rabu (3/9), sebagai bagian dari evaluasi dan pemantapan kesiapan mahasiswa sebelum tampil di tingkat nasional.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI, Prof. Dr. Komang Sudirga, menyampaikan bahwa kontingen ISI BALI mempersiapkan diri secara serius untuk menghadapi Peksiminas XVIII. Persiapan dilakukan secara bersama-sama antara mahasiswa, dosen pembimbing, dan dosen pendamping untuk memastikan kesiapan peserta, baik dari sisi teknis penampilan maupun mental dalam menghadapi kompetisi tingkat nasional.
“Kontingen ISI BALI mempersiapkan diri dengan serius. Setelah berhasil menjadi juara pada Peksimida Bali, mahasiswa terus melakukan pemantapan melalui latihan bersama dosen pembimbing dan pendamping. Kami berharap proses persiapan ini dapat memberikan bekal yang optimal sehingga mahasiswa mampu tampil percaya diri dan memberikan yang terbaik pada Peksiminas,” ujar Prof. Dr. Komang Sudirga.
Ia menambahkan, keikutsertaan pada Peksiminas tidak hanya menjadi kesempatan untuk meraih prestasi, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman berkompetisi, mengembangkan kreativitas, serta membangun kepercayaan diri dan kemampuan berkarya di tingkat nasional.
Sebanyak 12 mahasiswa ISI BALI tersebut akan berkompetisi pada enam tangkai lomba. Mereka terdiri atas Zahid Zahendra dari Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan pada tangkai lomba Menyanyi Dangdut, Sri Agung Wulandewi Putri Laksana dari Program Studi Musik pada tangkai lomba Menyanyi Keroncong Putri, serta I Kadek Ariandi Triana Putra Widi Nugraha dari Program Studi Desain Komunikasi Visual pada tangkai lomba Baca Puisi.
Pada tangkai lomba Tari, ISI BALI mengirimkan satu tim yang terdiri atas Ida Ayu Adi Tri Wiranti, Ni Kadek Dhya Sumitha Apsari, Ni Nengah Diah Tantri, Made Githa Sanjiwani, I Made Wahyu Danutirtha, I Putu Gede Pradipta Utama, dan G. Ngr. Bagus Andika Prasetya. Tim tersebut berhasil menjadi juara pertama Peksimida Bali dan selanjutnya akan mewakili Provinsi Bali pada Peksiminas XVIII.
Sementara itu, Ni Luh Made Bindi Hita dari Program Studi Animasi berhasil meraih juara pertama pada tangkai lomba Komik Strip. Prestasi serupa diraih Insan Kamis dari Program Studi Fotografi yang menjadi juara pertama pada tangkai lomba Fotografi Jurnalistik Dokumenter.
Dengan persiapan yang telah dilakukan secara intensif, kontingen ISI BALI diharapkan mampu tampil maksimal pada Peksiminas XVIII. Tidak hanya membawa semangat untuk meraih prestasi, para mahasiswa juga diharapkan mampu menunjukkan kreativitas dan kualitas seni mahasiswa Bali sekaligus mengharumkan nama Provinsi Bali dan ISI BALI di tingkat nasional.(ISIBALI/Humas)