
Foto: Dosen ISI BALI, I Gde Made Indra Sadguna, Ph.D. (kiri), dan Professor Elizabeth A. Clendinning dari Wake Forest University (kanan) dalam pemutaran perdana film dokumenter Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali, Senin (29/6) di Ruang Vicon ISI BALI.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) dan Wake Forest University, Amerika Serikat menyelenggarakan pemutaran perdana (screening) film dokumenter Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali pada Senin (29/6) di Ruang Vicon Gedung Citta Kelangen Lantai 2 ISI BALI. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk diseminasi hasil penelitian kolaboratif antara dosen ISI BALI, I Gde Made Indra Sadguna, Ph.D., dan Professor Elizabeth A. Clendinning dari Wake Forest University.
Kegiatan tersebut merupakan implementasi dari Memorandum of Agreement (MoA) antara Institut Seni Indonesia Denpasar (kini ISI BALI) dan Wake Forest University yang ditandatangani pada 12 Juli 2023. Melalui kerja sama tersebut, kedua peneliti mengembangkan riset mengenai instrumen musik tradisional Bali, khususnya suling dan sunari, yang telah berlangsung sejak tahun 2024.
Dosen ISI BALI, I Gde Made Indra Sadguna, Ph.D. mengatakan penelitian tersebut pada awalnya berfokus pada aspek artistik suling Bali. Namun dalam perkembangannya, tim peneliti menemukan bahwa suling tidak dapat dipisahkan dari sunari serta ekosistem budaya yang melingkupinya. Hal ini kemudian memperluas cakupan penelitian, tidak hanya membahas instrumen musik sebagai benda seni, tetapi juga mengkaji hubungan antara material bambu, proses kreatif masyarakat, praktik budaya, hingga nilai-nilai spiritual yang hidup dalam masyarakat Bali.
Menurut Indra Sadguna, penelitian ini bertujuan memperkenalkan kearifan lokal Bali kepada masyarakat internasional melalui pendekatan akademik dan media visual. “Kami ingin semakin banyak masyarakat global memahami kearifan lokal Bali. Awalnya penelitian hanya berfokus pada suling, tetapi kami menyadari bahwa suling dan sunari merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan Bali. Dari sana penelitian berkembang menjadi kajian yang lebih luas mengenai hubungan antara alam, manusia, seni, dan Tuhan melalui pemanfaatan bambu,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa bambu dalam tradisi Bali bukan sekadar bahan baku pembuatan alat musik, melainkan memiliki makna filosofis yang mencerminkan penerapan konsep Tri Hita Karana, yaitu harmoni hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Perspektif tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat internasional memahami kebudayaan Bali secara lebih utuh.

Foto: Diskusi dalam pemutaran perdana film dokumenter Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali, Senin (29/6) di Ruang Vicon ISI BALI.
Kolaborasi penelitian ini telah menghasilkan sejumlah luaran akademik dan kreatif. Salah satunya adalah bab buku berjudul Crafting Harmony: Sustainable Instrument Production in Bali yang diterbitkan pada tahun 2025 oleh Universitätsverlag Hildesheim, Jerman. Selain itu, penelitian tersebut juga melahirkan film dokumenter Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali yang mengangkat nilai budaya, filosofi, dan praktik keberlanjutan dalam pemanfaatan bambu di Bali.
Film dokumenter tersebut diproduksi dengan dukungan program Wake the Arts dari Wake Forest University serta American Institute for Indonesian Studies (AIFIS). Seusai pemutaran perdana, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama para peneliti untuk membahas proses penelitian, substansi film, serta relevansinya terhadap pengembangan kajian seni dan budaya Bali.
Film Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali juga akan diperkenalkan kepada khalayak internasional melalui penayangan dalam Simposium Gabungan ICTMD kelompok studi Performing Arts of Southeast Asia (PASEA) di Chang Mai, Thailand, 2-8 Juli 2026 sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan diseminasi hasil penelitian lintas negara. (ISIBALI/Humas)

Foto: Pimpinan ISI BALI bersama narasumber dan peneliti dalam pemutaran perdana film dokumenter Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali, Senin (29/6) di Ruang Vicon ISI BALI.










