M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Revitalisasi Tari Rejang Keraman, Tim PISN Hadirkan Inovasi Pembelajaran Digital di Desa Kedis

Revitalisasi Tari Rejang Keraman, Tim PISN Hadirkan Inovasi Pembelajaran Digital di Desa Kedis

Buleleng, Bali — Upaya menjaga keberlanjutan seni tradisi di tengah derasnya perubahan sosial dan perkembangan teknologi terus dilakukan melalui berbagai pendekatan inovatif. Salah satunya diwujudkan melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang mengangkat revitalisasi Tari Rejang Keraman di Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali.Program ini tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan bentuk dan ritus Tari Rejang Keraman sebagaimana diwariskan oleh generasi terdahulu, tetapi juga dikembangkan sebagai upaya menjaga keberlanjutan sistem pengetahuan budaya agar tetap hidup, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tari Rejang Keraman merupakan salah satu tari sakral yang memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Desa Kedis. Tari ini hadir dalam rangkaian upacara keagamaan desa adat dan memiliki karakteristik yang menarik karena melibatkan perempuan dan laki-laki secara setara. Keterlibatan tersebut mencerminkan nilai kebersamaan, gotong royong, dan kesetaraan peran yang hidup dalam masyarakat setempat. Namun, keberlanjutan Tari Rejang Keraman menghadapi tantangan seiring perubahan pola kehidupan masyarakat dan perkembangan teknologi. Selama ini, proses pewarisan tari masih banyak mengandalkan transmisi lisan dan praktik langsung dari generasi senior kepada generasi berikutnya. Pola tersebut memiliki nilai penting karena memungkinkan terjadinya transfer pengalaman secara langsung, tetapi sekaligus menghadapi tantangan ketika generasi muda semakin akrab dengan pola belajar visual, audiovisual, dan berbasis teknologi digital.

Kondisi tersebut menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program PISN. Keterbatasan media pembelajaran yang sistematis berpotensi menimbulkan persoalan dalam proses regenerasi, mulai dari penyederhanaan struktur gerak, kurangnya pemahaman terhadap pola lantai, hingga berkurangnya pemahaman terhadap makna simbolik yang terkandung dalam Tari Rejang Keraman. Karena itu, pelestarian seni tradisi dipandang tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan konservatif dengan mempertahankan bentuk yang telah ada. Pelestarian perlu dikembangkan sebagai proses adaptasi yang memungkinkan pengetahuan budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Menjembatani Tradisi dan Teknologi

Melalui program PISN, tim pengabdian mengembangkan pendekatan pembelajaran yang memadukan praktik seni tradisi dengan media audiovisual. Video pembelajaran dirancang bukan sekadar sebagai dokumentasi pertunjukan, tetapi sebagai media alih pengetahuan yang dapat digunakan dalam proses latihan dan pembelajaran Tari Rejang Keraman. Media tersebut dikembangkan untuk membantu peserta memahami struktur gerak, pola lantai, serta konteks dan makna simbolik tari secara lebih sistematis. Visualisasi gerak secara bertahap diharapkan dapat memudahkan generasi muda dalam mempelajari materi tari sekaligus membantu menjaga ketepatan bentuk gerak yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Dengan pendekatan tersebut, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti praktik tradisi, melainkan sebagai sarana pendukung untuk memperkuat proses pewarisan. Pengetahuan yang sebelumnya banyak disampaikan secara lisan dan melalui praktik langsung mulai diperkuat melalui dokumentasi audiovisual yang dapat dipelajari kembali secara berulang. Pendekatan ini sekaligus membuka ruang pembelajaran seni yang lebih adaptif. Generasi muda dapat tetap belajar dari penari senior dan pelaku budaya, tetapi memiliki media pendamping yang memungkinkan mereka mengulang materi secara mandiri di luar waktu latihan bersama.

Berangkat dari Potensi Masyarakat Desa Kedis

Pelaksanaan program melibatkan Kelompok Seni Kencana Jaya Paksi sebagai mitra masyarakat. Kelompok ini memiliki peran penting dalam aktivitas seni dan budaya masyarakat Desa Kedis serta memiliki keterlibatan langsung dalam praktik Tari Rejang Keraman. Potensi sumber daya manusia yang dimiliki mitra menjadi modal utama dalam pelaksanaan program. Para pelaku seni dan penari senior memiliki pengetahuan empirik mengenai bentuk gerak, tata cara pelaksanaan, serta konteks budaya Tari Rejang Keraman. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi sumber utama dalam proses dokumentasi dan pengembangan media pembelajaran. Di sisi lain, mitra juga menghadapi kebutuhan terhadap metode pembelajaran yang lebih terstruktur, dokumentasi gerak yang dapat digunakan sebagai rujukan, serta media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Pertemuan antara potensi dan kebutuhan tersebut kemudian menjadi dasar bagi pengembangan program yang bersifat kolaboratif. Tim pengabdian tidak hanya membawa teknologi kepada masyarakat, tetapi juga belajar dari pengetahuan lokal yang dimiliki para pelaku tradisi. Dengan demikian, proses revitalisasi tidak menghilangkan otoritas masyarakat sebagai pemilik dan pelaku budaya. Sebaliknya, masyarakat ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses produksi pengetahuan, dokumentasi, pembelajaran, dan keberlanjutan Tari Rejang Keraman.

Dilaksanakan Bertahap dari Mei hingga Agustus

Program PISN dilaksanakan melalui beberapa tahapan kegiatan sejak bulan Mei hingga Agustus. Tahap awal pada bulan Mei difokuskan pada koordinasi internal tim pelaksana, sosialisasi program kepada mitra dan pemangku kepentingan, identifikasi kebutuhan serta pemetaan permasalahan mitra, dan penyusunan materi pelatihan Tari Rejang Keraman.

Tahapan tersebut menjadi fondasi penting sebelum program memasuki proses pelatihan dan produksi media. Identifikasi kebutuhan dilakukan untuk memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kondisi masyarakat dan kebutuhan mitra.

Selanjutnya, pada bulan Juni hingga Agustus dilaksanakan pelatihan Tari Rejang Keraman tahap I dan tahap II, perekaman gerak dan dokumentasi Tari Rejang Keraman, penyusunan serta pengolahan media pembelajaran interaktif, dan uji pemanfaatan media pembelajaran dalam kegiatan latihan.

Proses perekaman tidak hanya memperhatikan aspek estetika visual, tetapi juga diarahkan untuk mendokumentasikan gerak tari secara sistematis agar dapat digunakan sebagai sumber belajar. Hasil dokumentasi kemudian diolah menjadi media pembelajaran yang lebih komunikatif dan mudah digunakan dalam kegiatan latihan. Uji pemanfaatan media dilakukan bersama mitra dalam situasi latihan. Tahapan ini penting untuk memperoleh pengalaman langsung mengenai sejauh mana media dapat membantu proses pembelajaran dan bagaimana media tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta.

Dari Pelestarian Menuju Keberlanjutan Pengetahuan Budaya

Program revitalisasi Tari Rejang Keraman menunjukkan bahwa pelestarian seni tradisi pada era digital tidak harus mempertentangkan tradisi dengan teknologi. Keduanya dapat dipertemukan melalui strategi yang tetap menghormati nilai, makna, fungsi ritual, serta pengetahuan lokal yang melekat pada sebuah karya seni.

Video pembelajaran yang dikembangkan dalam program ini diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat regenerasi penari dan menjaga kesinambungan pengetahuan Tari Rejang Keraman. Lebih jauh, media tersebut dapat menjadi bagian dari sistem dokumentasi budaya masyarakat Desa Kedis yang dapat dimanfaatkan oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang. Upaya tersebut juga memiliki relevansi dengan pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Pengembangan media pembelajaran seni tradisi berbasis teknologi tidak hanya berbicara mengenai pelestarian kebudayaan, tetapi juga mendorong masyarakat untuk memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan akar budaya.

Program ini sejalan dengan semangat Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045, khususnya agenda penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan, sains, teknologi, dan prestasi. Pada saat yang sama, inovasi pembelajaran seni tradisi juga memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan akses pembelajaran yang lebih inovatif dan kontekstual, serta SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan melalui pemanfaatan teknologi untuk memperkuat kapasitas pengetahuan masyarakat di wilayah pedesaan.

Apresiasi untuk Pemerintah dan Tim Pengabdian

Pelaksanaan program revitalisasi Tari Rejang Keraman ini tidak terlepas dari dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui BIMA dalam skema Pengabdian Program Inovasi Seni Nusantara (PISN). Dukungan tersebut memberikan ruang bagi perguruan tinggi untuk tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian, tetapi juga hadir secara nyata di tengah masyarakat melalui pengembangan dan penerapan inovasi seni yang berangkat dari kebutuhan lokal.

Tim pengabdian menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui BIMA atas dukungan terhadap pelaksanaan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN). Melalui program ini, tim memperoleh kesempatan untuk berkontribusi secara langsung dalam menjaga keberlanjutan seni tradisi sekaligus memberikan sumbangsih bagi masyarakat melalui inovasi pembelajaran seni berbasis teknologi.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada masyarakat Desa Kedis, para pelaku seni, pemangku kepentingan desa adat, serta Kelompok Seni Kencana Jaya Paksi yang telah berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan. Program ini dilaksanakan oleh tim pengabdian yang terdiri atas Prof. Dr. Ni Luh Sustiawati sebagai Ketua Tim Pengabdian, Dr. I Nyoman Larry Julianto sebagai Anggota Pengabdian, dan Dr. I Gusti Putu Sudarta sebagai Anggota Tim Pengabdian. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan tidak berhenti sebagai sebuah program, tetapi dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan.

Menjaga Tradisi agar Tetap Hidup

Revitalisasi Tari Rejang Keraman pada akhirnya bukan sekadar tentang mendokumentasikan sebuah tari tradisional. Lebih dari itu, program ini merupakan upaya menjaga pengetahuan, nilai, identitas, dan praktik budaya masyarakat agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Tradisi tidak harus berhenti pada masa lalu. Dengan strategi yang tepat, teknologi justru dapat menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman generasi terdahulu dengan cara belajar generasi masa kini.

Melalui inovasi pembelajaran digital, Tari Rejang Keraman diharapkan tidak hanya tetap hadir dalam ritual masyarakat Desa Kedis, tetapi juga terus dipahami, dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan oleh generasi berikutnya.

Dengan demikian, pelestarian seni tradisi bukan sekadar mempertahankan apa yang pernah ada, melainkan memastikan agar pengetahuan budaya tetap memiliki kehidupan, fungsi, dan makna bagi masyarakat pada masa kini dan masa yang akan datang.

Gambar 1. Koordinasi internal tim pelaksana dan Sosialisasi program kepada mitra dan pemangku kepentingan di Desa Kedis

Gambar 2. Pelaksanaan pelatihan Tari Rejang Keraman

Gambar 3. Tim pengabdian dan mitra PISN

Lewat Program Inovasi Seni Nusantara (PISN), “Ngenkebang Batu” Hadirkan Tari Inklusif bagi Tunanetra

Lewat Program Inovasi Seni Nusantara (PISN), “Ngenkebang Batu” Hadirkan Tari Inklusif bagi Tunanetra

DENPASAR – Permainan tradisional Bali tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga menyimpan potensi sebagai sumber pembelajaran seni yang mampu melibatkan tubuh, bunyi, ritme, sentuhan, dan interaksi sosial. Potensi tersebut kini dikembangkan melalui program “Ngenkebang Batu: Penciptaan Tari Intermedia Berbasis Permainan Tradisional Bali sebagai Media Peningkatan Kepekaan Sensorik dan Kesadaran Budaya bagi Tunanetra.”

Program pengabdian yang dilaksanakan di Desa Penatih Dangin Puri, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar, ini menghadirkan pendekatan seni tari yang lebih inklusif dengan menempatkan penyandang tunanetra sebagai subjek aktif dalam proses penciptaan dan pengalaman artistik. Program tersebut dilaksanakan bersama Sanggar Seni Kukuruyuk, sebuah sanggar yang selama ini aktif dalam pengembangan permainan tradisional dan kegiatan kebudayaan Bali. Melalui kolaborasi tersebut, permainan tradisional Bali ngenkebang batu dikembangkan menjadi sumber inspirasi penciptaan tari intermedia yang mengutamakan pengalaman nonvisual.

Berbeda dengan pembelajaran tari yang pada umumnya sangat bergantung pada pengamatan gerak secara visual, program Ngenkebang Batu mengembangkan pengalaman artistik melalui bunyi, sentuhan, ritme, gerak tubuh, kesadaran ruang, serta interaksi antarpeserta. Pendekatan ini membuka peluang bagi penyandang tunanetra untuk tidak hanya menikmati seni, tetapi juga terlibat secara langsung dalam proses kreatif.

Permainan tradisional dipilih karena memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan sosial masyarakat. Dalam permainan tradisional terdapat aktivitas bergerak, mengikuti ritme, merespons bunyi, menggunakan ruang, membangun komunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Unsur-unsur tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam proses penciptaan tari intermedia.

“Melalui Ngenkebang Batu, kami ingin menunjukkan bahwa seni tari tidak harus selalu berangkat dari pengalaman visual. Tubuh, bunyi, sentuhan, ritme, dan ruang juga dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus pengalaman artistik,” ujar tim pelaksana program.

Menghubungkan Tradisi dan Seni Inklusif

Program ini berangkat dari keprihatinan terhadap masih terbatasnya ruang partisipasi penyandang tunanetra dalam praktik seni tari. Selama ini, pembelajaran dan apresiasi tari cenderung menggunakan pendekatan visual sehingga diperlukan metode yang lebih adaptif terhadap pengalaman sensorik nonvisual.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya pengembangan praktik seni yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian bentuk tradisi, tetapi juga mampu memperluas fungsi seni sebagai ruang partisipasi sosial yang setara. Melalui permainan tradisional Bali, program ini berupaya mempertemukan dua hal penting, yakni pelestarian kebudayaan dan pengembangan seni yang inklusif. Permainan ngenkebang batu tidak ditempatkan semata-mata sebagai objek budaya yang harus dilestarikan, tetapi sebagai sumber gagasan kreatif yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman seni baru. Dengan demikian, nilai-nilai yang terkandung dalam permainan seperti kebersamaan, kepekaan terhadap lingkungan, koordinasi tubuh, ritme, dan interaksi sosial dapat dihadirkan kembali dalam bentuk yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Sanggar Menjadi Ruang Eksplorasi

Pemilihan Desa Penatih Dangin Puri sebagai lokasi program juga memiliki pertimbangan tersendiri. Kawasan tersebut masih memiliki keterikatan yang kuat dengan aktivitas sosial dan budaya masyarakat Bali. Keberadaan banjar, lingkungan pemukiman, aktivitas gotong royong, serta berbagai kegiatan seni dan budaya menjadikan sanggar tidak berdiri sebagai ruang seni yang terpisah dari masyarakat. Dalam program ini, Sanggar Seni Kukuruyuk menjadi mitra utama sekaligus ruang berlangsungnya berbagai aktivitas. Pengalaman sanggar dalam mengembangkan permainan tradisional menjadi modal penting dalam proses penciptaan karya.

Rangkaian kegiatan dimulai pada Mei 2026 melalui koordinasi dan penyelarasan program bersama mitra, sekaligus sosialisasi mengenai konsep seni inklusif dan permainan tradisional.

Selanjutnya, pada Juni hingga Agustus 2026, kegiatan dikembangkan melalui sejumlah tahapan, antara lain pelatihan koreografi tari intermedia, pelatihan pendukung sensorik dan penataan ruang, pelatihan dokumentasi dan publikasi digital, proses kreatif penciptaan karya tari kolaboratif, serta penataan lingkungan sanggar berbasis sensorik. Rangkaian tersebut dirancang agar proses penciptaan tidak berhenti pada menghasilkan sebuah karya tari, tetapi juga membangun kemampuan dan pengalaman baru bagi peserta serta mitra.

Mendorong Partisipasi Budaya yang Setara

Melalui pendekatan tersebut, Ngenkebang Batu diarahkan untuk menghasilkan model penciptaan tari intermedia yang dapat meningkatkan kepekaan sensorik sekaligus kesadaran budaya penyandang tunanetra.

Peserta tidak ditempatkan sebagai penerima manfaat secara pasif, tetapi sebagai bagian dari proses penciptaan. Mereka diberikan ruang untuk mengeksplorasi gerak, bunyi, ritme, ruang, dan interaksi sehingga pengalaman artistik dibangun berdasarkan kemampuan dan pengalaman tubuh masing-masing.

Program ini sekaligus menjadi upaya memperluas pemaknaan terhadap pelestarian budaya. Kebudayaan tidak hanya dilestarikan dengan mempertahankan bentuk tradisi, tetapi juga dengan memastikan bahwa berbagai kelompok masyarakat memiliki kesempatan untuk mengenal, mengalami, dan terlibat dalam praktik kebudayaan tersebut. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan inklusif serta SDG 10 tentang pengurangan kesenjangan. Program ini juga mendukung Asta Cita poin ke-4, khususnya dalam penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.

Didukung BIMA Kemendiktisaintek melalui Program PISN

Pelaksanaan program Ngenkebang Batu tidak terlepas dari dukungan BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN). Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam memungkinkan proses pengembangan program, mulai dari koordinasi dengan mitra, pelatihan, eksplorasi artistik, proses penciptaan karya, hingga pengembangan lingkungan sanggar yang lebih responsif terhadap kebutuhan sensorik peserta.

Tim pelaksana yang terdiri dari; Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati,SST.,M.Si sebagai Ketua Pengusul dengan Anggota; Dr. I Gusti Putu Sudarta, SSP.,M.Sn, dan Ida Bagus Ketut Trinawindu,S.Sn.,M.Erg  menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada BIMA Kemendiktisaintek melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) atas dukungan yang diberikan sehingga program Ngenkebang Batu dapat dilaksanakan dan berjalan dengan baik.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada BIMA Kemendiktisaintek melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program ini. Dukungan tersebut sangat berarti dalam membantu kami menjalankan proses penciptaan, pelatihan, dan pengembangan seni yang inklusif berbasis budaya lokal Bali.”

Program Ngenkebang Batu diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan pengabdian, tetapi dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan praktik seni inklusif yang berakar pada kebudayaan lokal. Melalui perpaduan permainan tradisional, tari intermedia, dan pendekatan multisensorik, program ini menunjukkan bahwa warisan budaya dapat terus hidup dengan menghadirkan ruang partisipasi yang lebih luas bagi seluruh masyarakat, termasuk penyandang tunanetra.

(foto pada saat Sosialisasi Konsep Seni Inklusif dan Permainan Tradisional)

(gambar pada saat Pelatihan Pendukung Sensorik dan Penataan Ruang)

(gambar pada saat Proses Kreatif Penciptaan Karya Tari Kolaboratif)

ISI BALI Peringati HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Teguhkan Peran Perguruan Tinggi Seni dalam Pemajuan Bangsa

ISI BALI Peringati HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Teguhkan Peran Perguruan Tinggi Seni dalam Pemajuan Bangsa

Foto: Upacara bendera memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Widya Mahardika ISI BALI, Senin (17/8).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) melaksanakan upacara bendera memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Widya Mahardika ISI BALI, Senin (17/8). Mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, upacara berlangsung khidmat dan diikuti jajaran pimpinan ISI BALI, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa.

Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, bertindak sebagai pembina upacara sekaligus menyampaikan amanat Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dalam amanat tersebut ditegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam meneruskan cita-cita kemerdekaan dan mempersiapkan masa depan Indonesia.

Foto: Upacara bendera memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Widya Mahardika ISI BALI, Senin (17/8).

Kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan dengan keberanian, pengorbanan, persatuan, serta darah dan air mata para pahlawan, menjadi tanggung jawab generasi saat ini untuk diisi dengan kerja keras dan karya nyata. Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi tempat pendidikan, tetapi turut menjadi kekuatan penting dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat, maju, adil, makmur, dan disegani dunia.

Dalam amanat tersebut, pemerintah terus memperkuat berbagai fondasi pembangunan nasional, mulai dari ketahanan pangan dan energi, perluasan layanan pendidikan dan kesehatan, pembenahan tata kelola, hingga hilirisasi dan industrialisasi. Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi, perguruan tinggi didorong untuk mengambil peran aktif melalui pengembangan talenta, riset, inovasi, teknologi, serta pemikiran yang mampu menjawab kebutuhan bangsa.

Perguruan tinggi, lanjut amanat tersebut, tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan memberikan gelar. Kampus harus menjadi ruang lahirnya sumber daya manusia yang unggul dan berintegritas, menguasai ilmu pengetahuan, mencintai bangsa, serta memiliki keberanian untuk mengambil tanggung jawab bagi kemajuan Indonesia. Riset dan inovasi juga diharapkan tidak berhenti pada laporan maupun publikasi, tetapi dapat berkembang menjadi prototipe, paten, produk, teknologi, dan solusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam mendorong kemandirian bangsa di bidang sains, teknologi, dan industri. Kampus diharapkan mampu melahirkan berbagai inovasi dan talenta yang dapat memperkuat daya saing Indonesia, sekaligus membuka peluang terciptanya lapangan kerja berkualitas dan industri baru.

Amanat Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga menekankan pentingnya kolaborasi. Perguruan tinggi perlu membangun sinergi dengan pemerintah, industri, BUMN, pemerintah daerah, lembaga riset, serta masyarakat. Perbedaan disiplin ilmu, latar belakang, maupun wilayah tidak seharusnya menjadi penghalang, melainkan dapat menjadi kekuatan untuk mencapai tujuan bersama, yakni kemajuan Indonesia.

Harapan besar tersebut berada di pundak seluruh sivitas akademika. Pimpinan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab membawa kampus menjadi kekuatan pembangunan bangsa, sementara guru besar, dosen, peneliti, dan tenaga kependidikan memiliki peran dalam menjaga marwah keilmuan, mendidik generasi penerus, menghasilkan riset yang relevan, serta memastikan penyelenggaraan pendidikan tinggi berjalan dengan baik.

Mahasiswa sebagai generasi penerus juga mendapat perhatian khusus. Mereka didorong untuk berani mencoba, meneliti, menciptakan, dan membangun sesuatu yang baru. Ilmu pengetahuan yang diperoleh di perguruan tinggi diharapkan tidak hanya digunakan untuk keberhasilan pribadi, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Bagi ISI BALI sebagai perguruan tinggi seni, semangat tersebut menjadi dorongan untuk terus menempatkan kreativitas, ilmu pengetahuan, inovasi, dan karya seni sebagai bagian dari kontribusi bagi pembangunan Indonesia. Seni dan kreativitas memiliki ruang penting dalam membangun karakter, memperkuat identitas budaya, sekaligus menciptakan gagasan dan karya yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Usai pelaksanaan upacara, rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di ISI BALI dilanjutkan dengan penyerahan sejumlah penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian dan prestasi sivitas akademika.

Penghargaan Satyalancana Karya Satya diserahkan kepada dosen dan tenaga kependidikan ISI BALI sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan pengabdian dalam menjalankan tugas sebagai aparatur negara. Penghargaan tersebut menjadi simbol apresiasi atas loyalitas, integritas, dan pengabdian yang telah diberikan dalam mendukung pelaksanaan pendidikan tinggi di ISI BALI.

Selain itu, penghargaan Sewaka Mahabakti Nugraha diberikan kepada dosen dan tenaga kependidikan ISI BALI yang telah memasuki masa purnabakti. Penghargaan ini menjadi bentuk penghormatan dan apresiasi institusi atas pengabdian yang telah diberikan selama menjalankan tugas dan menjadi bagian dari perjalanan ISI BALI. Apresiasi juga diberikan kepada mahasiswa melalui penghargaan Mahasiswa Nata Kerthi Nugraha kepada mahasiswa berprestasi. Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas capaian dan kontribusi mahasiswa, sekaligus memberikan motivasi agar generasi muda ISI BALI terus mengembangkan potensi, kreativitas, prestasi, dan karya yang membawa nama baik almamater. (ISIBALI/Humas)

Pascasarjana ISI BALI Gelar Yudisium Program Magister

Pascasarjana ISI BALI Gelar Yudisium Program Magister

Foto: Yudisium Program Magister Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Ruang Vicon, Gedung Citta Kelangen ISI BALI, Selasa (11/8).

Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Bali melaksanakan Yudisium Program Magister Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Ruang Vicon, Gedung Citta Kelangen ISI BALI, Selasa (11/8). Kegiatan yudisium mengangkat tema “Weruh-Ranu-Wangi, Pengetahuan Mengalir Mewangi”.

Sebanyak 60 mahasiswa Program Magister mengikuti yudisium pada tahun akademik ini. Para lulusan tersebut terdiri atas 28 lulusan Program Studi Seni Program Magister, 15 lulusan Program Studi Desain Program Magister, 10 lulusan Program Studi Pendidikan Seni Program Magister, serta 7 lulusan Program Studi Tata Kelola Seni Program Magister.

Direktur Program Pascasarjana ISI Bali, Nyoman Dewi Pebryani, ST., MA., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh lulusan Magister. Ia berpesan agar pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di ISI Bali dapat terus mengalir dan memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.

“Weruh” dalam tema yudisium dimaknai sebagai pengetahuan yang diperoleh selama masa studi. Pengetahuan tersebut diharapkan senantiasa mengalirkan keberlimpahan dan kebermanfaatan bagi masyarakat, sebagaimana makna “Ranu”, serta membawa keharuman atau “Wangi” hingga ke kancah yang lebih luas.

Foto: Yudisium Program Magister Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Ruang Vicon, Gedung Citta Kelangen ISI BALI, Selasa (11/8).

Selanjutnya, kegiatan yudisium dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi ISI Bali, Prof. Dr. Anak Agung Bagus Udayana, S.Sn., M.Si. Dalam sambutannya, ia berpesan agar para lulusan Magister senantiasa menjalin kolaborasi dan tetap berkontribusi bersama almamater melalui jejaring alumni.

Menurutnya, jejaring alumni yang kuat dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat keberadaan dan pengembangan Program Pascasarjana ISI Bali di masa mendatang.

Sementara itu, pesan dan kesan dari perwakilan mahasiswa disampaikan oleh Ni Wayan Yuliani, mahasiswa Program Magister Tata Kelola Seni yang lebih dikenal dengan nama Ayu Saraswati. Dalam pidatonya, Ayu Saraswati menyampaikan bahwa pengalaman menempuh pendidikan Magister di ISI Bali memberikan perubahan yang signifikan, khususnya dalam cara berpikir dan menyampaikan gagasan.

Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama masa studi tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga memberikan perkembangan dalam menyampaikan pendapat melalui tulisan maupun meningkatkan keterampilan komunikasi.

Kegiatan yudisium turut dihadiri oleh para pejabat struktural di lingkungan ISI Bali serta dosen pembimbing Program Pascasarjana ISI BALI. Kehadiran para pimpinan, pejabat struktural, dan dosen menjadi bagian penting dalam memberikan dukungan serta apresiasi kepada para lulusan yang telah menyelesaikan proses pendidikan pada jenjang Magister.

Yudisium Program Magister ISI Bali Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 menjadi momentum penting bagi para lulusan untuk melangkah ke jenjang berikutnya. Dengan bekal pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang diperoleh selama menempuh pendidikan, para lulusan diharapkan mampu menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat sekaligus membawa nama baik ISI Bali di berbagai ruang pengabdian dan profesional.

ISI BALI Inagurasi 1.121 Mahasiswa Baru

ISI BALI Inagurasi 1.121 Mahasiswa Baru

Foto: Inagurasi Mahasiswa Baru ISI BALI di Panggung Terbuka Nretya Mandala ISI BALI, Selasa (11/8).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menginagurasi 1.121 mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 dalam prosesi bertajuk “Carma-Jnana-Cita (Karisma Cita-Cita Mulia)” yang berlangsung di Panggung Terbuka Nretya Mandala ISI BALI, Selasa (11/8). Pengesahan mahasiswa baru ditandai dengan pemakaian jas almamater kepada perwakilan mahasiswa dari 19 program studi pada jenjang Sarjana dan Sarjana Terapan oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana.

Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru. Ia mengingatkan bahwa memasuki jenjang perguruan tinggi merupakan fase penting dalam kehidupan karena mahasiswa mulai memasuki usia yang lebih matang, dengan tanggung jawab yang semakin besar.

Ia mengatakan ISI BALI merupakan ruang untuk mengembangkan talenta dan menyemai keterampilan mahasiswa hingga tumbuh menjadi pribadi yang matang dan siap berkontribusi di tengah masyarakat. Karena itu, mahasiswa diharapkan tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membangun karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab selama menjalani proses pendidikan.

“ISI BALI menjadi ruang pengembangan talenta dan menyemai skill hingga dewasa. ISI BALI menjadi bagian dari perjuangan. Usia yang semakin matang berarti tanggung jawab kita kepada orang banyak juga semakin besar,” katanya.

Menurut Prof. Kun Adnyana, pilihan untuk menempuh pendidikan di ISI BALI merupakan bagian dari perjalanan masing-masing mahasiswa. Ia mengajak mahasiswa baru untuk menjadikan kesempatan tersebut sebagai momentum untuk berkarya dan berkompetisi secara sehat dalam memajukan seni, desain, serta inovasi digital.

“Memilih ISI BALI adalah pilihan yang diamanatkan oleh semesta. Mari bersaing untuk kemajuan seni, desain, dan inovasi digital. Ini adalah karma baik kita semua sehingga dapat bertemu di ISI BALI,” ujarnya.

Foto: Inagurasi Mahasiswa Baru ISI BALI di Panggung Terbuka Nretya Mandala ISI BALI, Selasa (11/8).

Pada tahun akademik 2026/2027, ISI BALI juga mencatat kehadiran dua program studi baru yang untuk pertama kalinya menerima mahasiswa. Kedua program studi tersebut yakni Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris dengan 28 mahasiswa serta Program Studi Pendidikan Vokasional Tata Rias dengan delapan mahasiswa.

Dengan tambahan dua program studi tersebut, ISI BALI terus memperluas ruang pendidikan yang tidak hanya berfokus pada bidang seni, tetapi juga merespons perkembangan kebutuhan keilmuan dan dunia kreatif yang semakin beragam.

Jumlah mahasiswa baru ISI BALI tahun ini juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, jumlah mahasiswa baru tercatat sebanyak 1.043 orang, sedangkan pada 2026 meningkat menjadi 1.121 orang. Jumlah tersebut bertambah 78 mahasiswa atau sekitar 7,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan jumlah mahasiswa baru tersebut menjadi salah satu gambaran semakin besarnya minat terhadap pendidikan yang ditawarkan ISI BALI. Kehadiran mahasiswa dari berbagai latar belakang juga memperkaya ekosistem akademik dan kreativitas kampus dalam mengembangkan seni, budaya, desain, serta inovasi.

Foto: Inagurasi Mahasiswa Baru ISI BALI di Panggung Terbuka Nretya Mandala ISI BALI, Selasa (11/8).

Prosesi inagurasi mahasiswa baru ini menjadi bagian dari rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) ISI BALI yang berlangsung pada 11–12 Agustus 2026. Setelah itu, rangkaian penyambutan mahasiswa baru dilanjutkan dengan Student Day pada 13 Agustus 2026.

Dalam kegiatan PKKMB, mahasiswa baru diperkenalkan dengan lingkungan kampus, tata kehidupan akademik, fasilitas, serta berbagai sistem layanan yang tersedia di ISI BALI. Mereka juga mendapatkan pembekalan dari sejumlah narasumber mengenai etika mahasiswa, bela negara, sistem terintegrasi ISI BALI, serta berbagai materi lain yang berkaitan dengan kehidupan dan pengembangan diri sebagai mahasiswa.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi langkah awal bagi 1.121 mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan akademiknya sekaligus memulai perjalanan pendidikan di ISI BALI. Dengan semangat Carma-Jnana-Cita, mereka diharapkan mampu tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya memiliki kompetensi, tetapi juga menjunjung tanggung jawab, ketekunan, dan cita-cita mulia dalam berkarya serta memberikan kontribusi bagi masyarakat.(ISIBALI/Humas)

Maknai 100 Tahun Rarud Batur, ISI BALI Diseminasikan Pergelaran Intermedium

Maknai 100 Tahun Rarud Batur, ISI BALI Diseminasikan Pergelaran Intermedium

Foto: Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026 Memaknai 100 Tahun Rarud Batur di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan seni berbasis riset melalui penyelenggaraan Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026. Mengambil momentum peringatan 100 Tahun Rarud Batur, ISI BALI mempersembahkan tiga karya hasil penelitian dan penciptaan seni, yakni Fragmen Tari Anyar “Ranu Saraswati Rena”, Tari Tengklung Kebah, dan komposisi musik “Cipta Gamelan Saraswati”, yang dipentaskan di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Ketiga karya tersebut menjadi bentuk diseminasi hasil penelitian sekaligus penghormatan terhadap sejarah, spiritualitas, dan kekayaan pengetahuan masyarakat Batur yang tetap lestari hingga kini. Pergelaran ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Rarud Batur, sebuah momentum bersejarah untuk mengenang satu abad perpindahan masyarakat Desa Adat Batur dari kawasan Batur Let menuju Batur Karangan Anyar akibat letusan besar Gunung Batur pada Agustus 1926.

Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menyampaikan sambutan dalam P2DSD Tahun 2026 Memaknai 100 Tahun Rarud Batur di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, mengatakan bahwa kawasan Batur merupakan pusat pengetahuan yang terus mengalir layaknya air Danau Batur. Pengetahuan tersebut tidak hanya hidup dalam tradisi masyarakat, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan penciptaan seni di ISI BALI.

“ISI BALI memuliakan pengetahuan yang begitu berlimpah seperti aliran Danau Batur. Pengetahuan itu terus mengalir dan bergema ke berbagai wilayah, termasuk menjadi sumber inspirasi bagi ISI BALI,” ujarnya.

Menurut Prof. Kun Adnyana, melalui Program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026, ISI BALI melaksanakan empat judul penelitian yang melibatkan sekitar 175 orang, terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Empat penelitian tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Wayan Suardana, Dr. Made Kartawan, Wayan Diana Putra, M.Sn., dan AA Ayu Mayun Artati, M.Sn.

Foto: Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026 Memaknai 100 Tahun Rarud Batur di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Ia menegaskan bahwa seluruh karya yang dipersembahkan merupakan bentuk pemaknaan terhadap lahirnya peradaban baru masyarakat Batur tanpa meninggalkan hulunya yang telah terbangun sejak ribuan tahun silam di Batur Let. Menurutnya, ISI BALI memiliki ikatan sekala dan niskala dengan Batur yang terus dirawat melalui pendidikan, penelitian, penciptaan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Prof. Kun Adnyana juga mengungkapkan bahwa ISI BALI menyucikan sesuhunan “Ratu Ayu Mas Membah”, sebuah topeng ciptaan maestro Cok Alit Artawan yang dibuat dari kayu Pura Dalem Serongga, salah satu pasihan Batur. Sesuhunan tersebut menjadi simbol yang diinternalisasikan oleh sivitas akademika ISI BALI sebagai sumber inspirasi untuk terus berkarya secara kreatif sekaligus mendalami khazanah pengetahuan warisan leluhur.

Foto: Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026 Memaknai 100 Tahun Rarud Batur di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Jro Penyarikan Duuran Batur menyampaikan apresiasi kepada ISI BALI atas partisipasinya dalam memaknai peringatan 100 Tahun Rarud Batur melalui karya-karya seni berbasis penelitian. Menurutnya, perpindahan Desa Adat Batur akibat letusan Gunung Batur pada tahun 1926 bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, tetapi juga peristiwa yang menguji keteguhan budaya, spiritualitas, dan kebersamaan masyarakat adat.

Ia menegaskan bahwa peringatan satu abad Rarud Batur bukan hanya menjadi seremoni mengenang masa lalu, melainkan gerakan bersama untuk merawat nilai-nilai luhur, memperkuat identitas budaya, serta membangun Batur yang lestari, harmonis, dan berdaya bagi generasi mendatang.

Salah satu karya utama yang dipentaskan adalah Fragmen Tari Anyar “Ranu Saraswati Rena” yang mengangkat kisah perpindahan masyarakat Batur Let menuju Batur Karangan Anyar setelah letusan Gunung Batur pada tahun 1926. Melalui perpaduan tari, musik, dan dramatika, karya ini merefleksikan perjalanan masyarakat yang tetap menjaga sastra agama, Raja Purana, pratima, serta berbagai perangkat upacara sebagai simbol keberlanjutan peradaban dan spiritualitas. Seratus Tahun Rarud Batur dimaknai sebagai pusaka pengetahuan dan bhakti kepada Hyang Dewi Danu yang menjadi spirit utama penciptaan karya tersebut. Fragmen tari ini dikomposisikan oleh Dr. Made Kartawan dan Dr. I Nyoman Kariasa, dengan penata gerong Nyoman Nik Suasti, S.Sn., serta koreografer AA Ayu Mayun Artati, M.Sn., I Gede Oka Surya Negara, S.ST., M.Sn., dan Gede Radiana Putra, M.Sn.

Selain itu, ISI BALI juga mendiseminasikan Tari Tengklung Kebah yang terinspirasi dari gerak olahraga bela diri tradisional Bali, yakni tengklung atau pencak silat. Karya tari ini menggambarkan semangat para pemuda dalam mengasah ketangkasan, kekuatan, dan ketangguhan melalui gerakan-gerakan yang menampilkan kuda-kuda yang kokoh, tangkisan yang lincah, serta langkah silat yang dinamis. Tari Tengklung Kebah dikoreografikan oleh I Gede Oka Surya Negara, S.ST., M.Sn., dengan komposisi musik garapan I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn.

Foto: Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026 Memaknai 100 Tahun Rarud Batur di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Pergelaran juga menghadirkan komposisi musik “Cipta Gamelan Saraswati”, sebuah karya yang lahir dari kajian terhadap Tabuh Pat Parianom sebagai warisan musikal masyarakat Desa Adat Batur. Karya ini berpijak pada pemaknaan Dewi Saraswati sebagai simbol pengetahuan yang terus mengalir dan Betari Danu sebagai sumber kesejahteraan, sehingga menghadirkan gagasan bahwa pengetahuan mengenai konservasi lingkungan menjadi fondasi dalam membangun peradaban.

Melalui pengembangan formulasi musikal Tabuh Pat Parianom ke dalam gramatika musikal baru, “Cipta Gamelan Saraswati” memperlihatkan bagaimana pengetahuan lokal yang hidup dalam ruang-ruang ritual masyarakat Batur terus berkembang dan memperoleh dimensi akademik melalui penelitian dan penciptaan seni di ISI BALI. Komposisi ini digarap oleh I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn., Dr. I Nyoman Kariasa, S.Sn., M.Sn., dan I Made Dwi Andika Putra, S.Sn., M.Sn., dengan penata gerong Ni Komang Sekar Marheni, S.S.P., M.Si.

Melalui ketiga karya tersebut, ISI BALI menegaskan bahwa hasil penelitian dan penciptaan seni tidak berhenti sebagai luaran akademik, tetapi didiseminasikan kepada masyarakat sebagai media edukasi, pelestarian budaya, serta penguatan memori kolektif terhadap sejarah dan pengetahuan lokal. Momentum 100 Tahun Rarud Batur pun menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi seni dan masyarakat adat dalam menjaga kesinambungan warisan budaya Bali melalui pendekatan ilmiah, artistik, dan spiritual. (ISIBALI/Humas)

Foto: Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026 Memaknai 100 Tahun Rarud Batur di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Loading...