M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

ISI BALI dan ARMA Gelar Pameran Kriya Internasional

Jul 6, 2026 | Berita, Berita Kegiatan

Hadirkan 79 Karya dari Delapan Negara

Foto: Rektor ISI BALI meninjau pameran kriya internasional “Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma” di ARMA, Ubud, Minggu (5/7).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) bekerja sama dengan Agung Rai Museum of Art (ARMA) menghadirkan pameran kriya internasional bertajuk “Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma” sebagai bagian dari rangkaian peringatan 30 tahun ARMA. Pameran dibuka oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, Minggu (5/7), di ARMA, Ubud.

Pameran yang dikuratori oleh Jean Couteau, Wayan Seriyoga Parta, dan Warih Wisatsana ini menjadi ruang apresiasi sekaligus perjumpaan seniman kriya dari berbagai negara. Sebanyak 50 seniman dari delapan negara, yakni Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, Iran, dan Indonesia, menampilkan 79 karya dua dan tiga dimensi yang merepresentasikan beragam medium seni kriya.

Ketua Panitia Pameran, Prof. Dr. Wayan Suardana, menjelaskan bahwa pameran ini merupakan salah satu agenda dalam peringatan HUT ke-30 ARMA yang jatuh pada 9 Juni 2026. Melalui kolaborasi dengan Program Studi Kriya ISI BALI, ARMA menghadirkan pameran kriya berskala internasional yang berlangsung 5-18 Juli 2026.

Prof. Suardana menambahkan, selain diikuti seniman internasional, pameran juga melibatkan dosen dan praktisi seni dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, antara lain ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, ISBI Bandung, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Institut Informatika Indonesia Surabaya, Universitas Muhammadiyah Bandung, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Bumigora Nusa Tenggara Barat, serta kelompok seniman seni rupa Surabaya.

Foto: Pameran kriya internasional “Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma” di ARMA, Ubud, Minggu (5/7).

Sebanyak 79 karya yang dipamerkan terdiri atas 28 karya patung keramik, 6 karya terakota, 9 guci keramik, 4 karya kriya logam, 3 keris, 6 karya wastra, 3 karya batik seni, 2 karya kriya kayu, 4 tapestri, 6 karya mixed media, 1 wayang kulit, dan 4 instalasi.

Dalam sambutannya, Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana memberikan apresiasi kepada Program Studi Kriya ISI BALI yang menjadi penggagas sekaligus pelaksana utama pameran tersebut.

“Pameran ini merupakan inisiatif murni Program Studi Kriya ISI BALI tanpa dukungan pendanaan dari instansi. Ini menunjukkan semangat berkarya dan kemampuan membangun jejaring kolaborasi yang patut diapresiasi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa seni kriya selama ini kerap dipandang sebatas kerajinan atau produk massal, padahal sejatinya merupakan hasil olah cipta yang lahir dari perjalanan panjang peradaban manusia. Menurutnya, seni dan kriya tidak seharusnya dipisahkan karena keduanya sama-sama lahir dari proses perenungan, kreativitas, dan pencarian makna, dengan seni kriya memiliki nilai artistik sekaligus daya guna.

Rektor menjelaskan bahwa tema Prakriti–Pustaka–Padma menawarkan refleksi filosofis mengenai proses lahirnya sebuah karya kriya. Prakriti mengingatkan bahwa alam merupakan sumber inspirasi, material, energi, sekaligus pengetahuan. Pustaka menegaskan bahwa kreativitas tumbuh melalui tradisi intelektual, pengalaman empiris, eksplorasi teknik, dan dialog budaya. Sementara Padma melambangkan pencapaian estetika yang lahir dari penghayatan mendalam sehingga karya kriya memiliki nilai fungsional, artistik, spiritual, serta kemanusiaan yang bersifat universal.

“Seni kriya bukanlah seni kelas dua. Pameran ini menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa seni merupakan bagian penting dalam pembangunan peradaban. Dari alam lahir kreativitas, melalui ilmu karya dimatangkan, dan melalui keindahan nilai budaya diwariskan kepada generasi mendatang,” tegas Guru Besar Bidang Sejarah Seni ini.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Wayan “Kun” Adnyana juga menyampaikan perkembangan kerja sama internasional ISI BALI di bidang seni kriya. Ia mengungkapkan bahwa ISI BALI telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan Hasami Tohjiki Industrial Association dan BESTie Co., Ltd., di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang. Melalui implementasi kerja sama tersebut, ISI BALI akan mengembangkan skema kurikulum magang internasional yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengikuti pelatihan bahasa Jepang dan keterampilan keramik sebelum menjalani program magang sekaligus bekerja di industri keramik Hasami, Jepang.

Ia turut menyampaikan penghargaan kepada keluarga besar ARMA atas ruang kolaborasi yang telah dibangun, serta kepada para kurator, dosen, mahasiswa, alumni, seniman peserta, panitia, dan seluruh mitra yang telah berkontribusi menyukseskan pameran.

Sementara itu, Pendiri ARMA, Anak Agung Gde Rai, menyampaikan apresiasi kepada ISI BALI atas sinergi yang terus terjalin. Menurutnya, pameran “Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma” tidak hanya menghadirkan karya seni, tetapi juga merepresentasikan semangat untuk terus bertumbuh.

Agung Rai berharap pameran ini menjadi saksi bahwa dari Ubud, dari Bali, kita terus merajut dunia. Bahwa kriya bukan benda mati, melainkan pusaka hidup yang terus menjadi.

“Becoming bukan sekadar judul. Ia mencerminkan proses panjang untuk terus menjadi. Dari sebuah mimpi kecil di Ubud, ARMA tumbuh menjadi tempat bertemunya dunia dengan jiwa Bali. Spirit becoming itulah yang kami lihat menyala dalam karya-karya kriya yang dipamerkan hari ini,” ungkapnya. (ISIBALI/Humas)

Categories

Loading...