M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Pergelaran Inovatif Intermedium Huni-Jnana-Hana, Merangkai Setanggi Puspa Budaya

Oct 21, 2026 | Berita, Berita Kegiatan, Headline

Foto: Pergelaran inovatif intermedium Huni-Jnana-Hana di Museum Rudana, Ubud, Senin (19/10)

Merangkai Setanggi Puspa Budaya untuk memperingati Hari Museum Indonesia 2026, Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menghadirkan pergelaran inovatif intermedium Huni-Jnana-Hana di Museum Rudana, Ubud, Senin (19/10). Pertunjukan ini menjadi wujud pengembangan seni berbasis penelitian dan penciptaan dosen melalui Program Penciptaan Dosen Seni dan Desain (P2DSD) II Tahun 2026 yang didukung hibah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP2MP) ISI BALI.

Mengusung tema “Museum Soko Guru Bangsa, Rumah Kebudayaan Kita”, rangkaian kegiatan tersebut turut diisi dengan peresmian pameran seni rupa Guwung Suwung karya Rektor ISI BALI, Wayan ‘Kun’ Adnyana. Kegiatan ini dihadiri Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon, Ketua Asosiasi Museum I Putu Supadma Rudana, serta undangan dari kalangan kebudayaan, akademisi, permuseuman, dan pelaku seni.

Foto: Pergelaran inovatif intermedium Huni-Jnana-Hana di Museum Rudana, Ubud, Senin (19/10)

Karya ini merupakan hasil penelitian dan penciptaan tiga dosen ISI BALI, yaitu Dr. Ni Wayan Ardini, S.Sn., M.Si., sebagai ketua peneliti HUNI; Dr. I Wayan Budiarsa, S.Sn., M.Si., sebagai ketua peneliti HANA; serta Guntur Eko Prasetyo, S.Pd., M.Sn., sebagai ketua peneliti JNANA. Ketiga karya tersebut dirangkai menjadi satu pertunjukan yang menghubungkan hasil penelitian dengan praktik penciptaan seni.

Melalui perpaduan tari, musik, gamelan Bali, dan harmoni musik Barat, Huni-Jnana-Hana mengajak penonton merenungkan hubungan antara pengetahuan, keberadaan, dan kehidupan. Karya ini merangkai tiga gagasan penciptaan, yakni HUNI, JNANA, dan HANA, yang mengeksplorasi bagaimana pengetahuan tidak hanya dipahami melalui pikiran, tetapi juga dihayati dan diwujudkan melalui tubuh serta ekspresi artistik.

Foto: Pergelaran inovatif intermedium Huni-Jnana-Hana di Museum Rudana, Ubud, Senin (19/10)

Gagasan tersebut diterjemahkan melalui gerak, bunyi, ritme, jeda, dan dinamika komposisi panggung. Pertemuan berbagai unsur seni menghadirkan pengalaman yang mempertemukan tradisi dengan pendekatan artistik kontemporer, sekaligus membuka ruang refleksi tentang makna kehadiran dan kesadaran manusia.

Sebanyak 150 personel terlibat dalam proses penciptaan ini, terdiri atas 105 penari dan pemusik serta 45 anggota tim peneliti. Kelompok HUNI dan HANA masing-masing melibatkan 35 penari dan 15 anggota tim peneliti, sedangkan kelompok JNANA melibatkan 35 pemusik dan 15 anggota tim peneliti.

Proses kreatif tersebut didukung tim artistik lintas disiplin yang terdiri atas penata tari, penata musik, dan penata kostum. Sinergi para dosen, mahasiswa, seniman, dan peneliti menjadi bagian penting dalam membangun pertunjukan yang menyatukan beragam keahlian dan pengalaman. Keterlibatan mahasiswa dari jenjang sarjana, magister, hingga doktor juga memperkuat ruang pembelajaran lintas generasi dan jenjang pendidikan di lingkungan ISI BALI.

Selain diwujudkan dalam pertunjukan langsung, proses penciptaan karya ini juga dikembangkan melalui Penciptaan Film Dokumenter Gelar Karya Seni Intermedium “Huni-Hana-Jnana”, yang diketuai oleh Desak Putu Yogi Antari Tirta Yasa, S.Sn., M.Sn. Dokumentasi dalam bentuk film ini menjadi bagian dari upaya merekam dan mengabadikan proses kreatif serta gelar karya seni intermedium tersebut, sehingga gagasan dan praktik penciptaannya dapat dikenali lebih luas oleh masyarakat. (ISIBALI/Humas)

Categories

Loading...