M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

ISI BALI dan BRIDA Provinsi Bali Gelar FGD 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali

Jul 14, 2026 | Berita, Berita Kegiatan, Headline

Foto: FGD Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Senin (13/7), di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI BALI.

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali menyelenggarakan Diskusi Terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Senin (13/7), di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI BALI. Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama penelitian antara ISI BALI dan BRIDA Provinsi Bali dalam menyusun kajian komprehensif mengenai refleksi perjalanan satu abad kepariwisataan budaya Bali.

FGD menghadirkan tiga narasumber yang membahas sejarah dan perkembangan kepariwisataan Bali dari berbagai sudut pandang. Mereka, yakni Wakil Gubernur Bali periode 2018–2023 sekaligus Ketua PHRI Bali Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si., tokoh dan pelaku pariwisata Bali Ida Bagus Ngurah Wijaya, dan pengamat budaya dan ahli lontar Sugi Lanus.

FGD dibuka oleh Kepala BRIDA Provinsi Bali, Dr. Ketut Wica, S.Sos., M.H., serta dihadiri Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana, akademisi, pelaku pariwisata, budayawan, dan peneliti yang turut memberikan perspektif historis maupun akademis terhadap perkembangan kepariwisataan Bali.

Foto: FGD Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Senin (13/7), di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI BALI.

alam sambutannya, Dr. Ketut Wica menegaskan bahwa penelitian ini bertujuan membangun fondasi ilmiah bagi arah kebijakan kepariwisataan Bali di masa depan. Menurutnya, budaya Bali tidak boleh diperlakukan semata sebagai komoditas ekonomi yang kehilangan nilai kesakralan dan spiritualitasnya.

“Kajian ini dilakukan agar budaya Bali tidak dijual murah hingga kehilangan kesakralan dan spiritualitasnya di tengah masyarakat. Kebijakan yang nantinya disusun pemerintah harus mampu melindungi masyarakat sekaligus menjaga nilai-nilai budaya Bali,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kepariwisataan Bali tumbuh secara organis dari denyut kehidupan masyarakat yang berlandaskan taksu, seni, dan budaya. Melalui kolaborasi antara ISI BALI dan BRIDA Provinsi Bali, penelitian ini berupaya menarik benang merah perjalanan sejarah tersebut, mulai dari interaksi seniman, tokoh puri, peneliti, hingga masyarakat yang menjadi fondasi berkembangnya pariwisata Bali.

Menjelang satu abad kepariwisataan Bali, menurutnya, momentum ini menjadi refleksi penting untuk mengevaluasi apakah pembangunan pariwisata masih berpijak pada keaslian budaya Bali serta sejauh mana ketahanan budaya mampu menghadapi arus globalisasi dan dinamika zaman.

“Pemerintah Provinsi Bali melalui BRIDA ingin membangun kajian yang tajam secara akademis, tetapi juga valid secara sosial dan historis. Insan pariwisata, Asita Bali, telah mulai menggaungkan road to 100 years Bali tourism, melalui event Bali Tourism Run 2026 di Jatiluwih, “tambahnya.

Sementara itu, Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, memaparkan hasil penelitian awal yang menunjukkan bahwa perkembangan kepariwisataan budaya Bali dapat dipetakan ke dalam beberapa fase penting, yaitu masa perintisan, masa pembentukan, masa kebangkitan pertama, masa kebangkitan kedua, masa kebangkitan ketiga, dan masa kebangkitan keempat.

Menurutnya, perjalanan kepariwisataan budaya Bali tidak dibangun secara instan, melainkan tumbuh secara alami melalui kekuatan masyarakat dan industri budaya yang telah berkembang sejak awal abad ke-20.

“Kepariwisataan budaya Bali dalam refleksi kesejarahan dibangun secara organis oleh masyarakat Bali berbasis industri budaya. Interaksi dan kolaborasi antara masyarakat, seniman lokal, peneliti, serta tetamu internasional membangun ekosistem seni dan budaya yang kemudian memuarakan kunjungan pariwisata dan menggema secara luas pada medio akhir tahun 1920-an di Bali,” jelasnya.

Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si., Wakil Gubernur Bali periode 2018–2023 sekaligus Ketua PHRI Bali, memaparkan materi “Lahirnya Gagasan Menuju 100 Tahun Pariwisata Bali”. Ia mengulas lahirnya konsep kepariwisataan Bali yang bertumpu pada kekuatan budaya sebagai identitas utama destinasi.

Selanjutnya, Ida Bagus Ngurah Wijaya, tokoh dan pelaku pariwisata Bali, menyampaikan materi “Sanur dan Pariwisata: Refleksi Sejarah” yang mengangkat peran kawasan Sanur sebagai salah satu titik awal perkembangan industri pariwisata modern di Bali.

Sementara itu, Sugi Lanus, pengamat budaya dan ahli lontar, membawakan materi “Fajar Pariwisata Bali: Melihat Cikal-Bakal Infrastruktur Fisik dan Kultural Kepariwisataan Bali dari ‘Kaca Mata’ Rabindranath Tagore (1927)”. Pemaparannya menyoroti pengaruh kunjungan tokoh dunia seperti Rabindranath Tagore dalam memperkuat citra Bali sebagai pusat kebudayaan yang kemudian menarik perhatian masyarakat internasional.

Diskusi dipandu oleh Prof. Dr. I Komang Sudirga, M.Hum., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI. Melalui forum ini, para narasumber, peneliti, dan peserta mendiskusikan berbagai dinamika sejarah, tantangan, serta arah pengembangan kepariwisataan budaya Bali menjelang peringatan 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali.

Foto: FGD Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Senin (13/7), di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI BALI.

Diskusi juga diperkaya dengan masukan dari Tim Pengendali Mutu Penelitian, Prof. Ir. Made Supartha Utama, yang mengajak peserta merefleksikan kembali posisi budaya Bali dalam pembangunan kepariwisataan.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan sekadar bagaimana budaya Bali dipromosikan sebagai daya tarik wisata, tetapi sejauh mana nilai-nilai luhur yang hidup di dalamnya benar-benar dijadikan foundation value atau nilai dasar dalam tata kelola pembangunan. Ia menekankan bahwa nilai-nilai budaya Bali semestinya menjadi landasan dalam membangun sistem kepariwisataan, sistem hukum, maupun sistem sosial di Bali. Dengan demikian, pariwisata tidak hanya berorientasi pada penampilan luar atau aspek seremonial budaya semata.

“Yang perlu kita refleksikan adalah sejauh mana nilai-nilai budaya Bali telah dijadikan foundation value dalam tata kelola sistem pariwisata, sistem hukum, dan sistem sosial. Jangan sampai perhatian kita hanya tertuju pada behavior atau seremoni budaya, seperti upacara ngaben, tanpa memahami nilai-nilai filosofis yang menjadi roh di baliknya,” ujarnya.

Melalui penelitian kolaboratif ini, ISI BALI dan BRIDA Provinsi Bali berharap dapat menghasilkan rekomendasi akademis yang menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan kepariwisataan yang tetap berpijak pada nilai-nilai budaya, menjaga kesakralan tradisi, sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai destinasi budaya yang berkelanjutan di tingkat dunia.(ISIBALI/Humas)

Categories

Loading...