Kolaborasi Selenggarakan Pendidikan Seni Kriya Internasional
Foto: Rektor ISI BALI Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana (2 dari kanan) didampingi Dekan FSRD ISI BALI Drs. I Nengah Sudika Negara, M.Erg menandatangani MoU dengan Chairman Hasami Tohjiki Industrial Association Kazuhiko Ota (2 dari kiri), dan CEO BESTie Co., Ltd., Matsumoto Yuki (kiri).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) terus memperluas jejaring internasional dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing lulusan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Hasami Tohjiki Industrial Association dan BESTie Co., Ltd., Jepang, pada Selasa (23/6) di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang.
Nota Kesepahaman ditandatangani oleh Rektor ISI BALI Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, dengan Chairman Hasami Tohjiki Industrial Association Kazuhiko Ota, dan CEO BESTie Co., Ltd., Matsumoto Yuki. Pada kesempatan yang sama juga ditandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI BALI dengan kedua mitra Jepang tersebut. PKS ditandatangani oleh Dekan FSRD ISI BALI Drs. I Nengah Sudika Negara, M.Erg.
Foto: Acara Penandatangan MoU antara ISI BALI dengan Hasami Tohjiki Industrial Association dan BESTie Co., Ltd., Jepang, pada Selasa (23/6) di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang.
Acara penandatanganan berlangsung sangat spesial dan dalam suasana yang hangat. Hadir sekitar 40 Undangan dari unsur industri keramik, lembaga penelitian keramik, anggota parlemen, dan pemerintah kota Hasami dan Perfecture Nagasaki, termasuk wakil walikota Hasami, Murayama Hiroshi. Sebelum acara penandatanganan, dikumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu kebangsaan Jepang, Kimigayo.
Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam mendorong penyelenggaraan pendidikan seni keramik bertaraf internasional melalui sinergi antara perguruan tinggi dengan industri keramik Jepang yang telah memiliki reputasi mendunia.
Kolaborasi tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan Wali Kota Hasami, Yoshinori Maekawa, bersama Ketua Hasami Tohjiki Industrial Association, Kazuhiko Ota, ke Kampus ISI BALI pada 18 Februari 2026. Dalam kunjungan tersebut, kedua belah pihak melakukan penjajakan kerja sama yang kemudian berlanjut dengan undangan resmi kepada Rektor ISI BALI dan Dekan FSRD untuk menghadiri penandatanganan kesepakatan di Jepang.
Foto: Keramik hasil prooduksi di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang.
Hasami dikenal sebagai salah satu sentra industri keramik paling terkenal di Jepang yang telah menghasilkan produk berkualitas tinggi selama ratusan tahun. Melalui kerja sama ini, Kota Hasami berupaya membangun proyek kolaboratif yang menjadi jembatan antara manusia, pendidikan, dan teknologi di Indonesia dan Jepang, sekaligus memperkuat hubungan antara dunia akademik dengan industri kreatif.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn., menyambut baik terjalinnya kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi ini menjadi peluang penting bagi pengembangan pendidikan seni kriya di ISI BALI sekaligus membuka akses mahasiswa terhadap pengalaman belajar dan praktik kerja di lingkungan industri internasional.
“Program Studi Kriya, Desain Produk, dan Seni Murni di ISI BALI memiliki kualitas yang sangat baik dalam menghasilkan karya keramik inovatif. Mahasiswa tidak hanya menghasilkan karya keramik murni, tetapi juga berbagai produk keramik fungsional yang siap dipasarkan. Karena itu, kerja sama dengan industri keramik Jepang ini akan memperkuat kompetensi mahasiswa sekaligus mempersiapkan mereka memasuki dunia kerja global,” ujarnya.
Sementara itu, pihak Hasami menyatakan komitmennya untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan berbasis industri. Selain memberikan kesempatan bagi mahasiswa ISI BALI mempelajari industri keramik tradisional Jepang secara langsung, kerja sama ini juga membuka peluang karier bagi lulusan yang memiliki kompetensi di bidang keramik untuk bekerja di Hasami, Jepang.
Melalui Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerja Sama tersebut, para pihak sepakat mengembangkan berbagai program, meliputi penyelenggaraan pendidikan, pengembangan kurikulum internasional, pelaksanaan Kuliah Kerja Praktik (internship), penempatan kerja mahasiswa dan alumni, penyediaan infrastruktur pendidikan, serta berbagai bidang lain yang disepakati bersama.
Salah satu program prioritas yang segera direalisasikan adalah penyusunan dan penerapan kurikulum standar Jepang dalam penyelenggaraan pendidikan seni kriya internasional di ISI BALI. Kurikulum tersebut akan disusun bersama mitra industri di Jepang sehingga selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri keramik internasional.
Selain itu, mahasiswa akan memperoleh kesempatan mengikuti program Kuliah Kerja Praktik (internship) di perusahaan dan industri keramik di Hasami dengan fasilitasi penuh dari pihak Jepang. Program ini ditujukan bagi mahasiswa semester VII Program Studi Seni Murni, Seni Kriya, dan Desain Produk, serta direncanakan mulai dilaksanakan pada September 2026.
Melalui pengalaman belajar langsung di pusat industri keramik Jepang, mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai teknik produksi dan inovasi material, tetapi juga memahami budaya kerja, manajemen industri, hingga standar kualitas internasional. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal penting bagi lulusan ISI BALI untuk bersaing di tingkat global. (ISIBALI/Humas)
Foto: Seminar Bersama ISI BALI dan AIIT Jepang Selasa (23/6) di Ruang Kuliah Umum, Desain Hub ISI BALI.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) bekerja sama dengan Advanced Institute of Industrial Technology (AIIT), Jepang, menyelenggarakan seminar bersama bertajuk “Religion in Art” (With Particular Focus on Balinese Hinduism and Culture) pada Selasa (23/6) di Ruang Kuliah Umum, Desain Hub ISI BALI. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Bali-Bhuwana Kanti (Global-Culture and Arts Project Networking) dalam rangkaian Bali Padma Bhuwana VI Tahun 2026.
Seminar menghadirkan tiga narasumber dari Indonesia dan Jepang yang membahas keterkaitan agama, seni, dan budaya dalam kehidupan masyarakat Bali. Mereka adalah Secretary General of Asia Professional Education Network (APEN) Prof. Mitsuhiro Maeda, Executive Director of Global Association of Civilizational Diversity Mr. Masashi Nakagawa, serta Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI BALI Prof. Dr. Gede Yudarta.
Dalam pemaparannya, Prof. Mitsuhiro Maeda mengangkat topik “Balinese Community Rituals/Festivals as a New Civilization: Towards Brain Functional Civilizational Analysis”. Ia menjelaskan bahwa ritual dan festival masyarakat Bali tidak hanya memiliki nilai spiritual dan budaya, tetapi juga dapat dipahami sebagai bagian dari peradaban yang membentuk pola pikir, perilaku sosial, serta hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai keagamaan.
Foto: Seminar Bersama ISI BALI dan AIIT Jepang Selasa (23/6) di Ruang Kuliah Umum, Desain Hub ISI BALI
Sementara itu, Mr. Masashi Nakagawa membawakan materi “From Artwork to Resonance: Art as a Living Connection in Balinese Society”. Ia menyoroti bagaimana karya seni di Bali tidak berdiri sebagai objek estetis semata, melainkan menjadi media yang menghubungkan masyarakat dengan tradisi, lingkungan sosial, dan nilai-nilai spiritual yang hidup dalam keseharian.
Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Gede Yudarta memaparkan kajian berjudul “Religiusitas dan Eksistensi Gamelan Gong Beruk dalam Ritual Ngusaba Desa di Pura Pemaksan Bangle, Karangasem, Bali”. Ia menjelaskan bahwa Gamelan Gong Beruk merupakan warisan budaya yang memiliki fungsi penting dalam pelaksanaan ritual keagamaan masyarakat setempat. Keberadaannya tidak hanya sebagai sarana pertunjukan seni, tetapi juga menjadi bagian integral dari praktik spiritual dan identitas budaya masyarakat Bali.
Foto: Seminar Bersama ISI BALI dan AIIT Jepang Selasa (23/6) di Ruang Kuliah Umum, Desain Hub ISI BALI
Seminar berlangsung interaktif dengan diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan ISI BALI. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi melalui berbagai pertanyaan dan diskusi yang membahas upaya pemertahanan, pelestarian, serta pengembangan seni dan budaya Bali di tengah arus globalisasi. (ISIBALI/Humas)
Foto: Penandatanganan MoU antara ISI BALI dan Studio Arsitektur Rumah Intaran, Senin (22/6) di Ruang Nata Widya Sabha, ISI BALI.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) resmi menjalin kerja sama dengan Studio Arsitektur Rumah Intaran melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang berlangsung di Ruang Nata Widya Sabha ISI BALI, Senin (22/6/2026).
Penandatanganan MoU dilakukan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI, Prof. Dr. Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum., bersama Pendiri Studio Arsitektur Rumah Intaran, Gede Kresna Nata Dwijaksana. Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi seni dengan ruang kreatif yang aktif mengembangkan praktik seni, budaya, dan arsitektur di Bali.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI, Prof. Dr. Komang Sudirga, menyambut baik terjalinnya kerja sama tersebut. Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi dan pelaku industri kreatif maupun ruang budaya sangat penting untuk memperluas pengalaman belajar mahasiswa sekaligus memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“ISI BALI terus berupaya membangun jejaring kerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki visi sejalan dalam pengembangan seni, budaya, dan kreativitas. Rumah Intaran merupakan ruang yang telah dikenal aktif menginisiasi berbagai kegiatan seni dan budaya. Kami berharap kerja sama ini dapat membuka lebih banyak peluang bagi mahasiswa, dosen, maupun seniman untuk berkolaborasi, berkarya, dan berinovasi bersama,” ujarnya.
Foto: Penandatanganan MoU antara ISI BALI dan Studio Arsitektur Rumah Intaran, Senin (22/6) di Ruang Nata Widya Sabha, ISI BALI.
Ia menambahkan, kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya berhenti pada aspek formalitas, tetapi dapat diwujudkan melalui berbagai program konkret seperti pameran, pertunjukan, diskusi, riset, pengabdian kepada masyarakat, hingga pengembangan program magang dan pembelajaran berbasis praktik.
Sementara itu, Pendiri Studio Arsitektur Rumah Intaran, Gede Kresna Nata Dwijaksana, mengungkapkan bahwa hubungan antara Rumah Intaran dan sivitas akademika ISI BALI sejatinya telah terjalin sejak lama. Berbagai kegiatan seni dan budaya yang melibatkan dosen, mahasiswa, alumni, maupun seniman yang berafiliasi dengan ISI BALI telah beberapa kali berlangsung di Rumah Intaran, meskipun selama ini sifatnya masih informal.
“Rumah Intaran sudah lama menjadi ruang perjumpaan bagi banyak seniman, termasuk sivitas akademika ISI BALI. Berbagai pameran seni rupa, pertunjukan, diskusi, hingga kegiatan kreatif lainnya telah diselenggarakan di tempat kami. Karena itu, penandatanganan MoU ini menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan yang selama ini telah berjalan secara alami dan menjadikannya lebih terarah serta berkelanjutan,” katanya.
Menurutnya, kolaborasi dengan ISI BALI akan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak dalam menciptakan ekosistem kreatif yang lebih dinamis serta mendukung perkembangan seni dan budaya Bali di tengah tantangan zaman.
Melalui kerja sama ini, ISI BALI dan Rumah Intaran berkomitmen untuk mengembangkan berbagai program kolaboratif yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta penguatan ekosistem seni dan budaya di Bali.
Sebagai informasi, Rumah Intaran merupakan studio arsitektur berbasis riset dan ruang kreatif dan pembelajaran lintas disiplin berbasis masyarakat yang menjadi wadah kolaborasi di bidang seni, budaya, desain, lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi kreatif di Bali Utara. (ISIBALI/Humas)
Foto: Booth pameran ISI BALI dalam Badung Education Fair (BEF) 2026 di Balai Budaya Giri Nata Mandala, Rabu (10/6).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) turut ambil bagian dalam Badung Education Fair (BEF) 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Badung di Balai Budaya Giri Nata Mandala, Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung, pada 9–11 Juni 2026. Kegiatan yang mengusung tema “Pendidikan Berkelanjutan untuk Semua” ini menjadi ajang promosi pendidikan sekaligus wadah bagi siswa untuk mengenal berbagai pilihan perguruan tinggi dan program beasiswa.
BEF 2026 kembali digelar sebagai pameran pendidikan tahunan yang bertujuan membantu lulusan sekolah menengah atas (SMA) dan sederajat dalam menentukan pilihan program studi serta memperoleh informasi terkait program bantuan pendidikan dan beasiswa yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Badung. Melalui sosialisasi yang masif, pemerintah daerah berupaya memastikan seluruh informasi mengenai akses pendidikan dapat diterima secara langsung dan dipahami oleh calon penerima manfaat.
Selain menjadi sarana informasi pendidikan, BEF 2026 juga dirancang sebagai ruang apresiasi bagi para pelajar di Kabupaten Badung. Berbagai prestasi akademik dan non-akademik dari tingkat lokal hingga nasional dipamerkan kepada masyarakat. Kegiatan ini semakin semarak dengan kehadiran sekitar 20 perguruan tinggi yang membuka stan pameran untuk memperkenalkan program studi unggulan masing-masing.
Foto: Booth pameran ISI BALI dalam Badung Education Fair (BEF) 2026 di Balai Budaya Giri Nata Mandala, Rabu (10/6).
Pada kesempatan tersebut, ISI BALI menghadirkan beragam karya kreatif mahasiswa dan dosen yang mengedepankan konsep seni berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pengunjung dapat menyaksikan berbagai produk dan karya inovatif, mulai dari eco fashion, eco craft, wayang kulit, keramik, hingga beragam hasil kreativitas lainnya yang memadukan unsur seni, budaya, dan keberlanjutan.
Keikutsertaan ISI BALI dalam BEF 2026 menjadi momentum penting untuk memperkenalkan berbagai program studi serta capaian akademik dan kreativitas sivitas akademika kepada masyarakat, khususnya generasi muda yang tengah mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Melalui stan pameran yang interaktif, ISI BALI juga memberikan informasi mengenai jalur penerimaan mahasiswa baru, prospek karier lulusan, serta berbagai peluang pengembangan bakat dan kreativitas yang dapat diperoleh selama menempuh pendidikan di kampus seni negeri di Bali tersebut. (ISIBALI/Humas)
Foto: Booth pameran ISI BALI dalam Badung Education Fair (BEF) 2026 di Balai Budaya Giri Nata Mandala, Rabu (10/6).
Foto: Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana bersama Wakil Menteri Diktisaintek Prof. Stella Christie pada ArtMoments Jakarta.
Kehadiran Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) dalam pameran seni rupa kontemporer dan modern internasional ArtMoments Jakarta 2026 mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan. Melalui booth Nata-Citta Art Space (N-CAS) yang mengusung tajuk RAYA-CITTA-RUPA (Cahya Imaji Cipta), karya-karya dosen dan mahasiswa ISI BALI dikunjungi sejumlah pejabat negara, kolektor, jurnalis, hingga tokoh seni nasional selama penyelenggaraan pameran di Agora Ballroom Jakarta, 4–7 Juni 2026.
Salah satu kunjungan penting datang dari Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie. Dalam kunjungannya, Wamen Stella mengapresiasi partisipasi ISI BALI yang menghadirkan beragam karya seni rupa kontemporer Bali dalam ajang internasional tersebut. Selain Stella Christie, booth N-CAS juga dikunjungi Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita serta Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha.
Foto: Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana bersama Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha pada ArtMoments Jakarta.
Tak hanya menarik perhatian kalangan pemerintahan, booth ISI BALI juga menjadi salah satu titik temu berbagai tokoh seni dan media. Sejumlah nama yang tercatat mengunjungi pameran antara lain jurnalis Kompas Hilmi Faiq, pendiri Nawa Tunggal, Pemimpin Majalah Prestige Ronald Liem, penulis dan kritikus seni Agus Dermawan T., serta Bambang Bujono. Dari kalangan kolektor hadir Tossin Himawan, Wiyu Wahono, dan Sendy Widjaya. Sejumlah figur publik seperti Anjasmara dan Chef Juna Rorimpandey juga tampak menyambangi booth ISI BALI.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana mengatakan, dalam ArtMoments Jakarta tahun ini, Nata-Citta Art Space (N-CAS) menampilkan karya-karya seni lukis, fotografi, patung, kriya keramik, serta desain wastra yang merepresentasikan perkembangan mutakhir seni rupa kontemporer Bali.
Foto: Booth Nata-Citta Art Space ISI BALI dalam ArtMoments Jakarta.
Pameran ini dikuratori oleh Prof. Dr. AA Rai Remawa, Warih Wisatsana, dan Alaida Niwaya. Sebanyak 16 perupa lintas generasi terlibat dalam pameran bersama ini, terdiri atas 13 dosen dan tiga mahasiswa terpilih ISI BALI. Mereka adalah I Wayan “Kun” Adnyana, I Ketut Muka Pendet, I Nengah Wira Kesuma, Wayan Sujana Suklu, I Made Jodog, I Made Suparta, Ida Ayu Gede Artayani, Tjok Istri Ratna C.S., Ida Bagus Candra Yana, Ni Made Tiartini Mudarahayu, I Made Hendra Mahajaya P., I Gede Jaya Putra, I Wayan Adi Sucipta, I Gede Ari Widia Utama Pucangan, Tebuana Istri Mahisarani, dan Desak Putu Agnis.
Prof. Kun Adnyana menambahkan, karya-karya yang ditampilkan lahir dari proses kreatif yang panjang, memadukan pengalaman personal, riset artistik, pengamatan empiris, dan pembacaan ulang terhadap berbagai jejak budaya yang hidup di Bali. “Beragam medium dan pendekatan artistik yang ditampilkan menunjukkan bagaimana seni rupa kontemporer Bali terus berkembang tanpa melepaskan akar budaya yang menjadi fondasinya,” ujar Guru Besar Bidang Sejarah Seni ini. Partisipasi ISI BALI dalam ArtMoments Jakarta 2026 menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan capaian kreatif sivitas akademika kepada publik nasional maupun internasional. Kehadiran berbagai pejabat, kolektor, pelaku industri kreatif, dan tokoh seni di booth N-CAS menunjukkan tingginya perhatian terhadap perkembangan seni rupa kontemporer yang lahir dari lingkungan akademik ISI BALI. (ISIBALI/Humas)
Foto: Pembukaan Peksimida Bali Tahun 2026, Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, ISI BALI, Sabtu (6/6).
12 mahasiswa Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) berhasil mengamankan tiket menuju Pekan Kesenian Mahasiswa Nasional (Peksiminas) 2026 setelah meraih juara pertama dalam Pekan Kesenian Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali Tahun 2026. Ajang tersebut diselenggarakan di Kampus ISI BALI pada Sabtu (6/6).
Keberhasilan ini menjadi bukti prestasi mahasiswa ISI BALI dalam berbagai cabang seni yang dipertandingkan. Sebanyak 12 mahasiswa yang tergabung dalam enam tangkai lomba berhasil meraih juara pertama dan akan mewakili Provinsi Bali pada tingkat nasional.
Foto: Pelaksanaan tangkai lomba komik strip pada Peksimida 2026, Sabtu (6/6) di Gedung Desain Hub ISI BALI.
Adapun mahasiswa yang berhasil meraih juara pertama yakni Zahid Zahendra dari Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan pada tangkai lomba Menyanyi Dangdut, Sri Agung Wulandewi Putri Laksana dari Program Studi Musik pada tangkai lomba Menyanyi Keroncong Putri, serta I Kadek Ariandi Triana Putra Widi Nugraha dari Program Studi Desain Komunikasi Visual pada tangkai lomba Baca Puisi.
Pada tangkai lomba Tari, tim ISI BALI yang terdiri atas Ida Ayu Adi Tri Wiranti, Ni Kadek Dhya Sumitha Apsari, Ni Nengah Diah Tantri, Made Githa Sanjiwani, I Made Wahyu Danutirtha, I Putu Gede Pradipta Utama, dan G. Ngr. Bagus Andika Prasetya berhasil meraih juara pertama. Selain itu, Ni Luh Made Bindi Hita dari Program Studi Animasi menjadi juara pertama pada tangkai lomba Komik Strip, sementara Insan Kamis dari Program Studi Fotografi meraih juara pertama pada tangkai lomba Fotografi Jurnalistik Dokumenter.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI menyampaikan apresiasi atas capaian para mahasiswa yang telah menunjukkan dedikasi, kreativitas, dan kemampuan terbaiknya dalam ajang tersebut.
“Prestasi ini merupakan hasil kerja keras mahasiswa, dosen pembimbing, serta dukungan seluruh sivitas akademika ISI BALI. Kami bangga karena mahasiswa mampu menunjukkan kualitas dan daya saingnya di tingkat daerah. Semoga para pemenang dapat mempersiapkan diri dengan baik dan kembali mengharumkan nama Bali serta ISI BALI pada ajang nasional,” ujarnya.
Foto: Pelaksanaan tangkai lomba lukis pada Peksimida 2026, Sabtu (6/6) di Studio Seni Murni ISI BALI.
Selain meraih enam gelar juara pertama, kontingen ISI BALI juga menorehkan sejumlah prestasi pada berbagai tangkai lomba lainnya. ISI BALI berhasil meraih juara kedua pada tangkai lomba Vokal Grup, Menyanyi Seriosa Putri, Menyanyi Pop Putra, Baca Puisi Putri, dan Lukis.
Sementara itu, juara ketiga diraih pada tangkai lomba Desain Poster. Pada kategori penghargaan harapan, mahasiswa ISI BALI memperoleh Harapan II pada tangkai lomba Monolog dan Menulis Puisi.
Raihan prestasi tersebut semakin menegaskan peran ISI BALI sebagai perguruan tinggi seni yang konsisten melahirkan talenta-talenta unggul di bidang seni dan budaya. Keikutsertaan mahasiswa dalam Peksimida tidak hanya menjadi wadah kompetisi, tetapi juga sarana pengembangan kreativitas, apresiasi seni, serta penguatan karakter generasi muda yang berbudaya dan berprestasi.(ISIBALI/Humas)