M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

ISI BALI Peringati HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Teguhkan Peran Perguruan Tinggi Seni dalam Pemajuan Bangsa

ISI BALI Peringati HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Teguhkan Peran Perguruan Tinggi Seni dalam Pemajuan Bangsa

Foto: Upacara bendera memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Widya Mahardika ISI BALI, Senin (17/8).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) melaksanakan upacara bendera memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Widya Mahardika ISI BALI, Senin (17/8). Mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, upacara berlangsung khidmat dan diikuti jajaran pimpinan ISI BALI, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa.

Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, bertindak sebagai pembina upacara sekaligus menyampaikan amanat Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dalam amanat tersebut ditegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam meneruskan cita-cita kemerdekaan dan mempersiapkan masa depan Indonesia.

Foto: Upacara bendera memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Widya Mahardika ISI BALI, Senin (17/8).

Kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan dengan keberanian, pengorbanan, persatuan, serta darah dan air mata para pahlawan, menjadi tanggung jawab generasi saat ini untuk diisi dengan kerja keras dan karya nyata. Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi tempat pendidikan, tetapi turut menjadi kekuatan penting dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat, maju, adil, makmur, dan disegani dunia.

Dalam amanat tersebut, pemerintah terus memperkuat berbagai fondasi pembangunan nasional, mulai dari ketahanan pangan dan energi, perluasan layanan pendidikan dan kesehatan, pembenahan tata kelola, hingga hilirisasi dan industrialisasi. Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi, perguruan tinggi didorong untuk mengambil peran aktif melalui pengembangan talenta, riset, inovasi, teknologi, serta pemikiran yang mampu menjawab kebutuhan bangsa.

Perguruan tinggi, lanjut amanat tersebut, tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan memberikan gelar. Kampus harus menjadi ruang lahirnya sumber daya manusia yang unggul dan berintegritas, menguasai ilmu pengetahuan, mencintai bangsa, serta memiliki keberanian untuk mengambil tanggung jawab bagi kemajuan Indonesia. Riset dan inovasi juga diharapkan tidak berhenti pada laporan maupun publikasi, tetapi dapat berkembang menjadi prototipe, paten, produk, teknologi, dan solusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam mendorong kemandirian bangsa di bidang sains, teknologi, dan industri. Kampus diharapkan mampu melahirkan berbagai inovasi dan talenta yang dapat memperkuat daya saing Indonesia, sekaligus membuka peluang terciptanya lapangan kerja berkualitas dan industri baru.

Amanat Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga menekankan pentingnya kolaborasi. Perguruan tinggi perlu membangun sinergi dengan pemerintah, industri, BUMN, pemerintah daerah, lembaga riset, serta masyarakat. Perbedaan disiplin ilmu, latar belakang, maupun wilayah tidak seharusnya menjadi penghalang, melainkan dapat menjadi kekuatan untuk mencapai tujuan bersama, yakni kemajuan Indonesia.

Harapan besar tersebut berada di pundak seluruh sivitas akademika. Pimpinan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab membawa kampus menjadi kekuatan pembangunan bangsa, sementara guru besar, dosen, peneliti, dan tenaga kependidikan memiliki peran dalam menjaga marwah keilmuan, mendidik generasi penerus, menghasilkan riset yang relevan, serta memastikan penyelenggaraan pendidikan tinggi berjalan dengan baik.

Mahasiswa sebagai generasi penerus juga mendapat perhatian khusus. Mereka didorong untuk berani mencoba, meneliti, menciptakan, dan membangun sesuatu yang baru. Ilmu pengetahuan yang diperoleh di perguruan tinggi diharapkan tidak hanya digunakan untuk keberhasilan pribadi, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Bagi ISI BALI sebagai perguruan tinggi seni, semangat tersebut menjadi dorongan untuk terus menempatkan kreativitas, ilmu pengetahuan, inovasi, dan karya seni sebagai bagian dari kontribusi bagi pembangunan Indonesia. Seni dan kreativitas memiliki ruang penting dalam membangun karakter, memperkuat identitas budaya, sekaligus menciptakan gagasan dan karya yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Usai pelaksanaan upacara, rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di ISI BALI dilanjutkan dengan penyerahan sejumlah penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian dan prestasi sivitas akademika.

Penghargaan Satyalancana Karya Satya diserahkan kepada dosen dan tenaga kependidikan ISI BALI sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan pengabdian dalam menjalankan tugas sebagai aparatur negara. Penghargaan tersebut menjadi simbol apresiasi atas loyalitas, integritas, dan pengabdian yang telah diberikan dalam mendukung pelaksanaan pendidikan tinggi di ISI BALI.

Selain itu, penghargaan Sewaka Mahabakti Nugraha diberikan kepada dosen dan tenaga kependidikan ISI BALI yang telah memasuki masa purnabakti. Penghargaan ini menjadi bentuk penghormatan dan apresiasi institusi atas pengabdian yang telah diberikan selama menjalankan tugas dan menjadi bagian dari perjalanan ISI BALI. Apresiasi juga diberikan kepada mahasiswa melalui penghargaan Mahasiswa Nata Kerthi Nugraha kepada mahasiswa berprestasi. Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas capaian dan kontribusi mahasiswa, sekaligus memberikan motivasi agar generasi muda ISI BALI terus mengembangkan potensi, kreativitas, prestasi, dan karya yang membawa nama baik almamater. (ISIBALI/Humas)

Pascasarjana ISI BALI Gelar Yudisium Program Magister

Pascasarjana ISI BALI Gelar Yudisium Program Magister

Foto: Yudisium Program Magister Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Ruang Vicon, Gedung Citta Kelangen ISI BALI, Selasa (11/8).

Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Bali melaksanakan Yudisium Program Magister Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Ruang Vicon, Gedung Citta Kelangen ISI BALI, Selasa (11/8). Kegiatan yudisium mengangkat tema “Weruh-Ranu-Wangi, Pengetahuan Mengalir Mewangi”.

Sebanyak 60 mahasiswa Program Magister mengikuti yudisium pada tahun akademik ini. Para lulusan tersebut terdiri atas 28 lulusan Program Studi Seni Program Magister, 15 lulusan Program Studi Desain Program Magister, 10 lulusan Program Studi Pendidikan Seni Program Magister, serta 7 lulusan Program Studi Tata Kelola Seni Program Magister.

Direktur Program Pascasarjana ISI Bali, Nyoman Dewi Pebryani, ST., MA., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh lulusan Magister. Ia berpesan agar pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di ISI Bali dapat terus mengalir dan memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.

“Weruh” dalam tema yudisium dimaknai sebagai pengetahuan yang diperoleh selama masa studi. Pengetahuan tersebut diharapkan senantiasa mengalirkan keberlimpahan dan kebermanfaatan bagi masyarakat, sebagaimana makna “Ranu”, serta membawa keharuman atau “Wangi” hingga ke kancah yang lebih luas.

Foto: Yudisium Program Magister Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Ruang Vicon, Gedung Citta Kelangen ISI BALI, Selasa (11/8).

Selanjutnya, kegiatan yudisium dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi ISI Bali, Prof. Dr. Anak Agung Bagus Udayana, S.Sn., M.Si. Dalam sambutannya, ia berpesan agar para lulusan Magister senantiasa menjalin kolaborasi dan tetap berkontribusi bersama almamater melalui jejaring alumni.

Menurutnya, jejaring alumni yang kuat dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat keberadaan dan pengembangan Program Pascasarjana ISI Bali di masa mendatang.

Sementara itu, pesan dan kesan dari perwakilan mahasiswa disampaikan oleh Ni Wayan Yuliani, mahasiswa Program Magister Tata Kelola Seni yang lebih dikenal dengan nama Ayu Saraswati. Dalam pidatonya, Ayu Saraswati menyampaikan bahwa pengalaman menempuh pendidikan Magister di ISI Bali memberikan perubahan yang signifikan, khususnya dalam cara berpikir dan menyampaikan gagasan.

Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama masa studi tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga memberikan perkembangan dalam menyampaikan pendapat melalui tulisan maupun meningkatkan keterampilan komunikasi.

Kegiatan yudisium turut dihadiri oleh para pejabat struktural di lingkungan ISI Bali serta dosen pembimbing Program Pascasarjana ISI BALI. Kehadiran para pimpinan, pejabat struktural, dan dosen menjadi bagian penting dalam memberikan dukungan serta apresiasi kepada para lulusan yang telah menyelesaikan proses pendidikan pada jenjang Magister.

Yudisium Program Magister ISI Bali Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 menjadi momentum penting bagi para lulusan untuk melangkah ke jenjang berikutnya. Dengan bekal pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang diperoleh selama menempuh pendidikan, para lulusan diharapkan mampu menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat sekaligus membawa nama baik ISI Bali di berbagai ruang pengabdian dan profesional.

ISI BALI Inagurasi 1.121 Mahasiswa Baru

ISI BALI Inagurasi 1.121 Mahasiswa Baru

Foto: Inagurasi Mahasiswa Baru ISI BALI di Panggung Terbuka Nretya Mandala ISI BALI, Selasa (11/8).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menginagurasi 1.121 mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 dalam prosesi bertajuk “Carma-Jnana-Cita (Karisma Cita-Cita Mulia)” yang berlangsung di Panggung Terbuka Nretya Mandala ISI BALI, Selasa (11/8). Pengesahan mahasiswa baru ditandai dengan pemakaian jas almamater kepada perwakilan mahasiswa dari 19 program studi pada jenjang Sarjana dan Sarjana Terapan oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana.

Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru. Ia mengingatkan bahwa memasuki jenjang perguruan tinggi merupakan fase penting dalam kehidupan karena mahasiswa mulai memasuki usia yang lebih matang, dengan tanggung jawab yang semakin besar.

Ia mengatakan ISI BALI merupakan ruang untuk mengembangkan talenta dan menyemai keterampilan mahasiswa hingga tumbuh menjadi pribadi yang matang dan siap berkontribusi di tengah masyarakat. Karena itu, mahasiswa diharapkan tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membangun karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab selama menjalani proses pendidikan.

“ISI BALI menjadi ruang pengembangan talenta dan menyemai skill hingga dewasa. ISI BALI menjadi bagian dari perjuangan. Usia yang semakin matang berarti tanggung jawab kita kepada orang banyak juga semakin besar,” katanya.

Menurut Prof. Kun Adnyana, pilihan untuk menempuh pendidikan di ISI BALI merupakan bagian dari perjalanan masing-masing mahasiswa. Ia mengajak mahasiswa baru untuk menjadikan kesempatan tersebut sebagai momentum untuk berkarya dan berkompetisi secara sehat dalam memajukan seni, desain, serta inovasi digital.

“Memilih ISI BALI adalah pilihan yang diamanatkan oleh semesta. Mari bersaing untuk kemajuan seni, desain, dan inovasi digital. Ini adalah karma baik kita semua sehingga dapat bertemu di ISI BALI,” ujarnya.

Foto: Inagurasi Mahasiswa Baru ISI BALI di Panggung Terbuka Nretya Mandala ISI BALI, Selasa (11/8).

Pada tahun akademik 2026/2027, ISI BALI juga mencatat kehadiran dua program studi baru yang untuk pertama kalinya menerima mahasiswa. Kedua program studi tersebut yakni Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris dengan 28 mahasiswa serta Program Studi Pendidikan Vokasional Tata Rias dengan delapan mahasiswa.

Dengan tambahan dua program studi tersebut, ISI BALI terus memperluas ruang pendidikan yang tidak hanya berfokus pada bidang seni, tetapi juga merespons perkembangan kebutuhan keilmuan dan dunia kreatif yang semakin beragam.

Jumlah mahasiswa baru ISI BALI tahun ini juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, jumlah mahasiswa baru tercatat sebanyak 1.043 orang, sedangkan pada 2026 meningkat menjadi 1.121 orang. Jumlah tersebut bertambah 78 mahasiswa atau sekitar 7,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan jumlah mahasiswa baru tersebut menjadi salah satu gambaran semakin besarnya minat terhadap pendidikan yang ditawarkan ISI BALI. Kehadiran mahasiswa dari berbagai latar belakang juga memperkaya ekosistem akademik dan kreativitas kampus dalam mengembangkan seni, budaya, desain, serta inovasi.

Foto: Inagurasi Mahasiswa Baru ISI BALI di Panggung Terbuka Nretya Mandala ISI BALI, Selasa (11/8).

Prosesi inagurasi mahasiswa baru ini menjadi bagian dari rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) ISI BALI yang berlangsung pada 11–12 Agustus 2026. Setelah itu, rangkaian penyambutan mahasiswa baru dilanjutkan dengan Student Day pada 13 Agustus 2026.

Dalam kegiatan PKKMB, mahasiswa baru diperkenalkan dengan lingkungan kampus, tata kehidupan akademik, fasilitas, serta berbagai sistem layanan yang tersedia di ISI BALI. Mereka juga mendapatkan pembekalan dari sejumlah narasumber mengenai etika mahasiswa, bela negara, sistem terintegrasi ISI BALI, serta berbagai materi lain yang berkaitan dengan kehidupan dan pengembangan diri sebagai mahasiswa.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi langkah awal bagi 1.121 mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan akademiknya sekaligus memulai perjalanan pendidikan di ISI BALI. Dengan semangat Carma-Jnana-Cita, mereka diharapkan mampu tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya memiliki kompetensi, tetapi juga menjunjung tanggung jawab, ketekunan, dan cita-cita mulia dalam berkarya serta memberikan kontribusi bagi masyarakat.(ISIBALI/Humas)

Maknai 100 Tahun Rarud Batur, ISI BALI Diseminasikan Pergelaran Intermedium

Maknai 100 Tahun Rarud Batur, ISI BALI Diseminasikan Pergelaran Intermedium

Foto: Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026 Memaknai 100 Tahun Rarud Batur di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan seni berbasis riset melalui penyelenggaraan Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026. Mengambil momentum peringatan 100 Tahun Rarud Batur, ISI BALI mempersembahkan tiga karya hasil penelitian dan penciptaan seni, yakni Fragmen Tari Anyar “Ranu Saraswati Rena”, Tari Tengklung Kebah, dan komposisi musik “Cipta Gamelan Saraswati”, yang dipentaskan di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Ketiga karya tersebut menjadi bentuk diseminasi hasil penelitian sekaligus penghormatan terhadap sejarah, spiritualitas, dan kekayaan pengetahuan masyarakat Batur yang tetap lestari hingga kini. Pergelaran ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Rarud Batur, sebuah momentum bersejarah untuk mengenang satu abad perpindahan masyarakat Desa Adat Batur dari kawasan Batur Let menuju Batur Karangan Anyar akibat letusan besar Gunung Batur pada Agustus 1926.

Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menyampaikan sambutan dalam P2DSD Tahun 2026 Memaknai 100 Tahun Rarud Batur di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, mengatakan bahwa kawasan Batur merupakan pusat pengetahuan yang terus mengalir layaknya air Danau Batur. Pengetahuan tersebut tidak hanya hidup dalam tradisi masyarakat, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan penciptaan seni di ISI BALI.

“ISI BALI memuliakan pengetahuan yang begitu berlimpah seperti aliran Danau Batur. Pengetahuan itu terus mengalir dan bergema ke berbagai wilayah, termasuk menjadi sumber inspirasi bagi ISI BALI,” ujarnya.

Menurut Prof. Kun Adnyana, melalui Program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026, ISI BALI melaksanakan empat judul penelitian yang melibatkan sekitar 175 orang, terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Empat penelitian tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Wayan Suardana, Dr. Made Kartawan, Wayan Diana Putra, M.Sn., dan AA Ayu Mayun Artati, M.Sn.

Foto: Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026 Memaknai 100 Tahun Rarud Batur di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Ia menegaskan bahwa seluruh karya yang dipersembahkan merupakan bentuk pemaknaan terhadap lahirnya peradaban baru masyarakat Batur tanpa meninggalkan hulunya yang telah terbangun sejak ribuan tahun silam di Batur Let. Menurutnya, ISI BALI memiliki ikatan sekala dan niskala dengan Batur yang terus dirawat melalui pendidikan, penelitian, penciptaan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Prof. Kun Adnyana juga mengungkapkan bahwa ISI BALI menyucikan sesuhunan “Ratu Ayu Mas Membah”, sebuah topeng ciptaan maestro Cok Alit Artawan yang dibuat dari kayu Pura Dalem Serongga, salah satu pasihan Batur. Sesuhunan tersebut menjadi simbol yang diinternalisasikan oleh sivitas akademika ISI BALI sebagai sumber inspirasi untuk terus berkarya secara kreatif sekaligus mendalami khazanah pengetahuan warisan leluhur.

Foto: Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026 Memaknai 100 Tahun Rarud Batur di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Jro Penyarikan Duuran Batur menyampaikan apresiasi kepada ISI BALI atas partisipasinya dalam memaknai peringatan 100 Tahun Rarud Batur melalui karya-karya seni berbasis penelitian. Menurutnya, perpindahan Desa Adat Batur akibat letusan Gunung Batur pada tahun 1926 bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, tetapi juga peristiwa yang menguji keteguhan budaya, spiritualitas, dan kebersamaan masyarakat adat.

Ia menegaskan bahwa peringatan satu abad Rarud Batur bukan hanya menjadi seremoni mengenang masa lalu, melainkan gerakan bersama untuk merawat nilai-nilai luhur, memperkuat identitas budaya, serta membangun Batur yang lestari, harmonis, dan berdaya bagi generasi mendatang.

Salah satu karya utama yang dipentaskan adalah Fragmen Tari Anyar “Ranu Saraswati Rena” yang mengangkat kisah perpindahan masyarakat Batur Let menuju Batur Karangan Anyar setelah letusan Gunung Batur pada tahun 1926. Melalui perpaduan tari, musik, dan dramatika, karya ini merefleksikan perjalanan masyarakat yang tetap menjaga sastra agama, Raja Purana, pratima, serta berbagai perangkat upacara sebagai simbol keberlanjutan peradaban dan spiritualitas. Seratus Tahun Rarud Batur dimaknai sebagai pusaka pengetahuan dan bhakti kepada Hyang Dewi Danu yang menjadi spirit utama penciptaan karya tersebut. Fragmen tari ini dikomposisikan oleh Dr. Made Kartawan dan Dr. I Nyoman Kariasa, dengan penata gerong Nyoman Nik Suasti, S.Sn., serta koreografer AA Ayu Mayun Artati, M.Sn., I Gede Oka Surya Negara, S.ST., M.Sn., dan Gede Radiana Putra, M.Sn.

Selain itu, ISI BALI juga mendiseminasikan Tari Tengklung Kebah yang terinspirasi dari gerak olahraga bela diri tradisional Bali, yakni tengklung atau pencak silat. Karya tari ini menggambarkan semangat para pemuda dalam mengasah ketangkasan, kekuatan, dan ketangguhan melalui gerakan-gerakan yang menampilkan kuda-kuda yang kokoh, tangkisan yang lincah, serta langkah silat yang dinamis. Tari Tengklung Kebah dikoreografikan oleh I Gede Oka Surya Negara, S.ST., M.Sn., dengan komposisi musik garapan I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn.

Foto: Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026 Memaknai 100 Tahun Rarud Batur di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Pergelaran juga menghadirkan komposisi musik “Cipta Gamelan Saraswati”, sebuah karya yang lahir dari kajian terhadap Tabuh Pat Parianom sebagai warisan musikal masyarakat Desa Adat Batur. Karya ini berpijak pada pemaknaan Dewi Saraswati sebagai simbol pengetahuan yang terus mengalir dan Betari Danu sebagai sumber kesejahteraan, sehingga menghadirkan gagasan bahwa pengetahuan mengenai konservasi lingkungan menjadi fondasi dalam membangun peradaban.

Melalui pengembangan formulasi musikal Tabuh Pat Parianom ke dalam gramatika musikal baru, “Cipta Gamelan Saraswati” memperlihatkan bagaimana pengetahuan lokal yang hidup dalam ruang-ruang ritual masyarakat Batur terus berkembang dan memperoleh dimensi akademik melalui penelitian dan penciptaan seni di ISI BALI. Komposisi ini digarap oleh I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn., Dr. I Nyoman Kariasa, S.Sn., M.Sn., dan I Made Dwi Andika Putra, S.Sn., M.Sn., dengan penata gerong Ni Komang Sekar Marheni, S.S.P., M.Si.

Melalui ketiga karya tersebut, ISI BALI menegaskan bahwa hasil penelitian dan penciptaan seni tidak berhenti sebagai luaran akademik, tetapi didiseminasikan kepada masyarakat sebagai media edukasi, pelestarian budaya, serta penguatan memori kolektif terhadap sejarah dan pengetahuan lokal. Momentum 100 Tahun Rarud Batur pun menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi seni dan masyarakat adat dalam menjaga kesinambungan warisan budaya Bali melalui pendekatan ilmiah, artistik, dan spiritual. (ISIBALI/Humas)

Foto: Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026 Memaknai 100 Tahun Rarud Batur di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Campus Week International Exhibition 3.0 Tampilkan Karya Seniman Muda dari Enam Negara

Campus Week International Exhibition 3.0 Tampilkan Karya Seniman Muda dari Enam Negara

Foto: Campus Week International Exhibition 3.0 di Nata-Citta Art Space ISI BALI, Kamis (30/7).

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menghadirkan ruang apresiasi seni berskala internasional melalui Campus Week International Exhibition 3.0 bertajuk “Adi Karsa Anantari”. Pameran yang menampilkan 39 karya terpilih hasil open call ini resmi dibuka oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, di Nata-Citta Art Space (N-CAS) ISI BALI, Kamis (30/7).

Sebanyak 39 peserta terpilih melalui proses kurasi dari 116 submitter yang mengikuti open call. Para peserta terdiri atas mahasiswa ISI BALI serta perupa umum dari dalam dan luar negeri, antara lain Indonesia, Inggris, Thailand, Australia, India, dan Chili. Keberagaman latar belakang tersebut memperkaya perspektif dalam pameran sekaligus mempertegas semangat kolaborasi lintas budaya yang diusung Campus Week 2026.

Pameran ini menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Campus Week 2026 yang memberikan ruang bagi mahasiswa dan seniman untuk menampilkan gagasan kreatif melalui berbagai medium seni. Sebanyak 39 karya yang dipamerkan mengeksplorasi beragam isu kontemporer, seperti tradisi, lingkungan, pemberdayaan perempuan, teknologi, hingga identitas budaya melalui media lukisan, ilustrasi, seni digital, dan instalasi.

Foto: Pembukaan Campus Week International Exhibition 3.0 di Nata-Citta Art Space ISI BALI, Kamis (30/7).

Dalam sambutannya, Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, menyampaikan apresiasi kepada BEM ISI BALI atas terselenggaranya pameran internasional yang dinilai mampu menunjukkan kapasitas mahasiswa dalam menghadirkan ruang berkesenian yang berkualitas dan terbuka bagi masyarakat.

Menurutnya, seni dan desain merupakan medium yang memungkinkan mahasiswa menyampaikan gagasan secara bijaksana melalui bahasa visual yang estetik, unik, dan berkepribadian. Proses menjadi seniman maupun desainer bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi juga perjalanan untuk terus mengeksplorasi keunikan, menemukan jati diri, serta membangun keberlanjutan dalam berkarya. “Mahasiswa memiliki kemampuan untuk mengakses berbagai media dan menjadikan seni sebagai cara menyampaikan sesuatu secara bijaksana. Keunikan dan keindahan dalam setiap karya perlu terus dieksplorasi sebagai bagian dari pencarian jati diri seorang seniman maupun desainer. Masa depan ada di tangan mahasiswa ISI BALI. Teruslah berkarya dan jadikan seni sebagai ruang untuk menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan bagi masyarakat,” ujar Rektor.

Foto: Campus Week International Exhibition 3.0 di Nata-Citta Art Space ISI BALI, Kamis (30/7).

Mengusung tema “Adi Karsa Anantari”, pameran ini mengangkat makna kehendak mulia yang terus mengalir tanpa henti menembus batas waktu. Dalam pengantar kuratorial yang ditulis oleh Dewa Ayu Eka Savitri Sastrawan, S.Sn., M.A. dan Dr. Bianca Winataputri dijelaskan bahwa tema tersebut menjadi pengingat bahwa berbagai kemajuan yang dinikmati generasi muda saat ini merupakan hasil dari perjuangan panjang generasi sebelumnya. Melalui tema ini, BEM ISI BALI mengajak masyarakat untuk menghargai semangat, kerja keras, dan nilai-nilai yang telah menjadi fondasi kehidupan bersama.

Kurator menjelaskan bahwa pameran ini juga berangkat dari kegelisahan terhadap derasnya arus informasi yang sering kali membuat masyarakat kehilangan ruang untuk mengingat dan merefleksikan berbagai persoalan secara mendalam. Dalam konteks tersebut, seni hadir sebagai medium yang mampu menghadirkan pengalaman yang lebih reflektif melalui kekuatan bercerita (storytelling), sehingga berbagai isu dapat dipahami dengan lebih utuh dan bertanggung jawab.

Melalui proses kurasi, karya-karya yang dipilih menampilkan beragam narasi lintas generasi yang merespons isu-isu kontemporer, seperti tradisi, lingkungan, pemberdayaan perempuan, dan perkembangan teknologi. Berbagai medium dimanfaatkan secara kreatif, mulai dari media digital, media cetak, lukisan, hingga instalasi. Sejumlah karya mengadaptasi cerita-cerita lokal Bali, sejarah lisan, mitologi, hingga kisah-kisah dari berbagai negara, sekaligus menunjukkan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), tetap membutuhkan sentuhan dan kreativitas manusia (human touch) dalam proses penciptaan karya seni.

Keikutsertaan mahasiswa ISI BALI bersama para perupa dari berbagai negara memperlihatkan bagaimana seni menjadi bahasa universal yang mampu mempertemukan beragam latar belakang budaya dalam satu ruang dialog. Melalui karya-karya yang dipamerkan, para peserta tidak hanya menyampaikan ekspresi artistik, tetapi juga menawarkan refleksi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat global saat ini. (ISIBALI/Humas)

Tiga Mahasiswa ISI BALI Ikuti Program AIMS di Thammasat University Thailand

Tiga Mahasiswa ISI BALI Ikuti Program AIMS di Thammasat University Thailand

Foto: Tiga mahasiswa ISI BALI peraih beasiswa Asian International Mobility for Students (AIMS) Program menuju Thammasat University, Thailand, Kamis (30/7)

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) kembali memperkuat komitmennya dalam mendorong internasasionalisasi pendidikan tinggi melalui partisipasi mahasiswa dalam program mobilitas internasional. Tiga mahasiswa terbaik ISI BALI resmi diberangkatkan pada Kamis (30/7)untuk mengikuti Asian International Mobility for Students (AIMS) Program di Thammasat University, Thailand. Selama enam bulan atau satu semester, mereka akan menjalani perkuliahan sekaligus memperoleh pengalaman akademik dan budaya di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Thailand.

Ketiga mahasiswa tersebut merupakan penerima Beasiswa AIMS Tahun 2026 yang telah lolos seleksi internal ISI BALI pada 21–22 Mei 2026. Berdasarkan Surat Penetapan Penerima Beasiswa AIMS Tahun 2026 Nomor 6173/DST/IT5.3/KM.00.10/2026 tanggal 25 Mei 2026, mereka ditetapkan sebagai peserta dengan capaian nilai terbaik, yakni Skyrio Chandra dari Program Studi Musik, Ni Putu Herliana Astika Deavi dari Program Studi Desain Interior, serta Aurel Nathania dari Program Studi Desain Komunikasi Visual.

Keikutsertaan ketiga mahasiswa tersebut dalam Program AIMS menjadi wujud nyata komitmen ISI BALI dalam memperluas akses mahasiswa terhadap pengalaman belajar bertaraf internasional. Selama mengikuti perkuliahan di Thammasat University, para mahasiswa akan mempelajari berbagai mata kuliah sesuai bidang keilmuan masing-masing, berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara, serta mengembangkan kemampuan akademik, komunikasi lintas budaya, dan jejaring internasasional.

Foto: Tiga mahasiswa ISI BALI peraih beasiswa Asian International Mobility for Students (AIMS) Program bersama Kepala Pusat Urusan Internasional, Dr. Ni Kadek Dwiyani, Kamis (30/7).

Program AIMS merupakan salah satu program mobilitas mahasiswa di kawasan Asia yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi melalui pertukaran mahasiswa antarperguruan tinggi mitra. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar di lingkungan akademik internasional, tetapi juga berkesempatan memperkenalkan seni, budaya, dan identitas Indonesia, khususnya Bali, kepada masyarakat global.

Rektor ISI BALI beserta sivitas akademika menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada ketiga mahasiswa yang berhasil memperoleh kesempatan mengikuti Program AIMS Tahun 2026. Keberangkatan mereka diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus meningkatkan prestasi akademik, kemampuan berbahasa asing, serta keberanian mengambil peluang di tingkat internasional. Selain menjadi duta akademik ISI BALI, ketiga mahasiswa tersebut juga diharapkan dapat membawa pulang pengalaman, pengetahuan, dan jejaring yang akan memberikan kontribusi positif bagi pengembangan pendidikan dan seni di lingkungan ISI BALI. (ISIBALI/Humas)

Loading...