Foto: Workshop Beatbox bersama Mad Twinz di Gedung Natya Mandala, ISI BALI, Rabu (7/10).
Institut Seni Indonesia (ISI) BALI berkolaborasi dengan Komite Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kabupaten Badung dan Beatland menggelar Workshop Beatbox di Gedung Natya Mandala, ISI BALI, Rabu (7/10). Kegiatan ini menghadirkan duo beatboxer kembar asal Rusia, Pavel Frolikov atau Pash dan Evgeny Frolikov atau Jayton, yang tergabung dalam grup Mad Twinz.
Workshop diikuti puluhan mahasiswa ISI BALI, khususnya dari Program Studi Karawitan dan Program Studi Musik. Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan memadukan sesi pengenalan teknik dasar beatbox, demonstrasi, hingga praktik langsung bersama para peserta.
Mad Twinz memperkenalkan beatbox sebagai bentuk eksplorasi musikal yang memanfaatkan suara manusia untuk menghasilkan berbagai elemen ritmis dan bunyi. Para mahasiswa tidak hanya diajak mengamati teknik yang diperagakan, tetapi juga mencoba secara langsung berbagai teknik beatbox dengan arahan Pash dan Jayton.
Suasana workshop semakin menarik ketika Mad Twinz berkolaborasi dengan mahasiswa ISI BALI untuk mengeksplorasi perpaduan beatbox dengan alat musik tradisional Bali, Jegog. Eksperimen tersebut mempertemukan karakter bunyi vokal beatbox dengan warna suara bambu Jegog, menciptakan pengalaman musikal yang berbeda sekaligus membuka ruang eksplorasi terhadap kemungkinan baru dalam pengembangan musik.
Foto: Workshop Beatbox bersama Mad Twinz di Gedung Natya Mandala, ISI BALI, Rabu (7/10).
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Seni Pertunjukan ISI BALI, Dr. I Kadek Widnyana, yang membuka kegiatan menyampaikan bahwa workshop tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman baru sekaligus mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan kreativitas.
“Melalui workshop ini, kami berharap para peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan dan keterampilan teknis mengenai beatbox, tetapi juga mendapatkan inspirasi untuk terus berkarya dan mengembangkan potensi diri,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara berbagai unsur dalam pengembangan ekosistem kreatif. Kolaborasi antara pelaku kreatif, institusi pendidikan, komunitas, dan pemerintah menjadi ruang strategis untuk mempertemukan pengetahuan, pengalaman, serta gagasan baru.
“Kami juga melihat bahwa kegiatan seperti ini merupakan bentuk kolaborasi yang sangat baik antara pelaku kreatif, institusi pendidikan, komunitas, dan pemerintah. Kolaborasi semacam inilah yang perlu terus kita bangun untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Kabupaten Badung dan Bali secara lebih luas,” katanya.
Bagi mahasiswa ISI BALI, kehadiran Mad Twinz memberikan kesempatan untuk mengenal teknik dan pendekatan musikal yang berkembang dalam budaya beatbox secara langsung dari praktisi. Sementara itu, eksplorasi bersama Jegog menjadi bagian menarik dari workshop karena memperlihatkan bagaimana musik tradisional dapat dipertemukan dengan bentuk ekspresi musik kontemporer.
Interaksi antara narasumber dan peserta berlangsung cair dan komunikatif. Mahasiswa tampak antusias mengikuti demonstrasi, mencoba teknik beatbox, serta terlibat dalam sesi kolaborasi. Workshop pun menjadi ruang transfer keterampilan serta menjadi wadah untuk bereksperimen dan menemukan kemungkinan-kemungkinan musikal baru.(ISIBALI/Humas)
Foto: Sosialisasi dan Edukasi Pencegahan Paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET), serta Fanatisme Kekerasan di Ruang Video Conference (Vicon), Gedung Citta Kelangen Lantai 2, ISI BALI, Selasa (6/10).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menggelar kegiatan “Sosialisasi dan Edukasi Pencegahan Paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET), serta Fanatisme Kekerasan”, Selasa (6/10). Kegiatan berlangsung di Ruang Video Conference (Vicon), Gedung Citta Kelangen Lantai 2, ISI BALI, dan diikuti puluhan mahasiswa dari Fakultas Seni Pertunjukan serta Fakultas Seni Rupa dan Desain.
Kegiatan ini menghadirkan Tim Pencegahan Satgas Wilayah Bali Densus 88 AT Polri, Briptu I Made Yoga Pramana, S.H., M.H., sebagai narasumber. Sosialisasi menjadi ruang edukasi bagi mahasiswa untuk memahami berbagai bentuk paham dan perilaku yang dapat mengarah pada intoleransi, radikalisme, ekstremisme, terorisme, maupun fanatisme kekerasan.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama ISI BALI, Dr. I Komang Arba Wirawan, S.Sn., M.Si. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya membekali mahasiswa dengan pemahaman dan kesadaran dalam menyikapi berbagai informasi serta dinamika sosial yang berkembang di lingkungan sekitar.
Sebagai bagian dari sivitas akademika, mahasiswa memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan saling menghargai. Karena itu, penguatan pemahaman mengenai pencegahan intoleransi dan kekerasan menjadi salah satu upaya untuk membangun daya kritis mahasiswa dalam menghadapi berbagai pengaruh yang berpotensi mengganggu kehidupan bersama.
Foto: Sosialisasi dan Edukasi Pencegahan Paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET), serta Fanatisme Kekerasan di Ruang Video Conference (Vicon), Gedung Citta Kelangen Lantai 2, ISI BALI, Selasa (6/10).
Dalam pemaparannya, Briptu I Made Yoga Pramana memberikan edukasi mengenai pengenalan dan pencegahan paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme, termasuk pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai bentuk pengaruh yang dapat berkembang di lingkungan sosial maupun ruang digital.
Mahasiswa juga diajak untuk tidak mudah menerima maupun menyebarkan informasi tanpa melakukan verifikasi. Kemampuan berpikir kritis, memahami keberagaman, serta membangun komunikasi yang sehat menjadi bagian penting dalam mencegah berkembangnya sikap dan tindakan yang mengarah pada kekerasan.
Sosialisasi berlangsung interaktif dengan mahasiswa berkesempatan menyampaikan pertanyaan dan berdiskusi terkait berbagai situasi yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memperluas pemahaman sekaligus membangun kesadaran mengenai pentingnya menjaga toleransi dan keharmonisan di tengah keberagaman.(ISIBALI/Humas)
Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana sebagai pembicara dalam simposium internasional Sea-ing The Land: Nyegara Gunung, 21-28 September 2026 di Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University.
The Southeast Asia Program (SEAP) Cornell University, Amerika Serikat mengundang Rektor Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI), Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana sebagai pembicara dalam simposium internasional Sea-ing The Land: Nyegara Gunung, 21-28 September 2026. Acara simposium dilaksanakan di Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University.
Prof Kun Adnyana membawakan presentasi berjudul Nyegara Gunung: Flowing Lines and The Metaphor of The Vessel, yang membahas ikonografi berbasis artistik garis tentang air dan ombak dalam beragam stilistika rupa seni lukis Bali. Simposium dipandu profesor sejarah seni Asia Tenggara, Prof. Dr. Kaja Maria McGowan. Selain presentasi makalah, karya Prof Kun Adnyana berjudul “Victory of Sailing”, ukuran 140 x 160 Cm, tinta cina dan acrylic di kanvas dipilih menjadi koleksi tetap Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University, berdampingan dengan karya seni rupa dan visual maestro berbagai negara.
Foto: Koordinator Prodi Teater, Dr. I Gusti Sudarta menampilkan pertunjukan Wayang Plastik dalam simposium internasional Sea-ing The Land: Nyegara Gunung, 21-28 September 2026 di Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University.
Selain Prof Kun Adnyana, dosen ISI Bali, yang juga Koordinator Prodi Teater, Dr. I Gusti Sudarta diundang untuk menampilkan pertunjukan Wayang Plastik serangkaian acara simposium dimaksud. Dr. Sudarta berkolaborasi dengan profesor musik, Prof Christopher J. Miller dan konposer Peni Candra Rini. Pertunjukan disambut antusias masyarakat kampus dan juga alumni Cornell University, di kota Itacha, New York.
Momentum undangan sebagai narasumber simposium, dimanfaatkan juga oleh Rektor ISI BALI Prof Kun Adnyana untuk membahas kerja sama antara ISI BALI dengan SEAP Cornell University. Prof Kun Adnyana bersama Direktur SEAP, Prof. Eric Tagliacozzo, telah menyepakati beberapa program, di antaranya mahasiswa peserta SEAP ke depan dapat mengikuti program internasional ISI BALI, termasuk visiting profesor kedua perguruan tinggi. (ISIBALI/Humas)
Foto: Sosialisasi Penguatan Tata Kelola Jurnal Menuju Akreditasi Nasional ISI BALI di Ruang Sidang Natha Widya Sabha, Gedung Rektorat Lantai 2 ISI BALI, Jumat (25/9).
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Seni Indonesia (ISI) Bali menggelar kegiatan “Sosialisasi Penguatan Tata Kelola Jurnal Menuju Akreditasi Nasional ISI BALI” pada Jumat, 25 September 2026 di Ruang Sidang Natha Widya Sabha, Gedung Rektorat Lantai 2 ISI BALI. Kegiatan diselenggarakan untuk mendorong peningkatan mutu serta tata kelola publikasi ilmiah di lingkungan kampus agar sesuai dengan standar akreditasi nasional berdasarkan ketentuan Permendiktisaintek Nomor 9 Tahun 2026.
Kegiatan dibuka Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi, Prof. Dr. Anak Agung Gde Bagus Udayana, S.Sn., M.Si. Hadir dalam kegiatan sosialisasi, Ketua LPPM ISI BALI, Dr. I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn., Kepala Pusat Penerbitan dan Kekayaan Intelektual ISI BALI I Putu Udiyana Wasista, S.Sn., M.Sn, serta dosen pengelola jurnal pada masing-masing program studi.
Sesi pemaparan materi inti menghadirkan I Dewa Gede Agung Kurnia Juliharta, MM, yang memberikan panduan teknis serta strategi penguatan tata kelola jurnal. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif dan evaluasi bersama para peserta. Antusiasme pengelola jurnal terlihat sepanjang sesi tanya jawab yang membahas berbagai tantangan teknis dalam pemenuhan substansi dan manajemen penerbitan berkala.
Sosialisasi ini melibatkan pengelola dari 15 jurnal program studi di lingkungan ISI BALI, di antaranya Amarasi, Ghurnita, Anggit, Anima Rupa, Vastukara, PENSI, Calaccitra, Hastagina, Damar Pedalangan, Cita Kara, Igel, Bhumidevi, Retina, Tattwaloka, serta Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management. Melalui sinergi ini, LPPM ISI BALI berkomitmen untuk terus mendampingi pengelola jurnal dalam mencapai standar reputasi ilmiah yang berkelanjutan.
LPPM ISI BALI Holds Socialization on Journal Governance Enhancement Towards National Accreditation
The Institute for Research and Community Services (LPPM) of Institut Seni Indonesia (ISI) Bali held a socialization session titled “Strengthening Journal Governance Towards National Accreditation at ISI BALI” on Friday, September 25, 2026. The event, which began at 08:30 WITA, took place in the Natha Widya Sabha Meeting Room, 2nd Floor of the Rectorate Building, ISI BALI. The activity was organized to enhance the quality and governance of scientific publications across the campus to meet national accreditation standards pursuant to Regulation of the Minister of Higher Education, Science, and Technology Number 9 of 2026.
The program commenced with participant registration and an official opening, featuring opening remarks from the Head of LPPM ISI BALI, Dr. I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn., and the Vice Rector for Academic Affairs and Information Systems, Prof. Dr. Anak Agung Gde Bagus Udayana, S.Sn., M.Si. The presence of institutional and faculty leaders underscored the importance of this agenda for the sustainability and advancement of ISI BALI’s academic publication reputation.
The core presentation session featured I Dewa Gede Agung Kurnia Juliharta, MM, who delivered technical guidance and strategies for strengthening journal management. The event continued with an interactive discussion and joint evaluation with the participants. The enthusiasm of the journal managers was evident throughout the Q&A session, which addressed technical challenges regarding substantive quality and periodic publishing management.
This socialization session involved representatives from 15 study program journals within ISI BALI, including Amarasi, Ghurnita, Anggit, Anima Rupa, Vastukara, PENSI, Calaccitra, Hastagina, Damar Pedalangan, Cita Kara, Igel, Bhumidevi, Retina, Tattwaloka, and Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management. Through this synergy, LPPM ISI BALI remains committed to continuously assisting journal managers in achieving sustainable standards of academic reputation.
Foto: Seminar Internasional Bali-Bhuwana-Waskita VI bertajuk “Parama-Jnana-Patra: True Knowledge in Context” di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen, ISI BALI. Selasa (22/9).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) kembali menggelar Seminar Internasional Bali-Bhuwana-Waskita VI bertajuk “Parama-Jnana-Patra: True Knowledge in Context” di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen, ISI BALI. Selasa (22/9). Seminar ini menjadi ruang akademik dan kreatif yang mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari Indonesia maupun mancanegara untuk mendiskusikan pengetahuan dan kreativitas dalam bidang seni, desain, sastra, dan budaya dengan beragam perspektif kekinian.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Umum, dan Keuangan ISI BALI, Dr. Made Jodog. Sementara itu, Prof. Jaygo Bloom, MFA dari LASALLE College of the Arts, hadir sebagai pembicara kunci.
Ketua panitia Bali-Bhuwana-Waskita VI, Dr. Arya Pageh Wibawa, menyampaikan bahwa Seminar Internasional ini menghadirkan total 45 pembicara dari Indonesia dan berbagai negara. Jumlah tersebut terdiri atas satu pembicara kunci, enam pembicara undangan serta 38 pembicara yang terpilih melalui skema Call for Papers.
Sejumlah akademisi dan praktisi turut berbagi gagasan dalam forum tersebut. Mereka di antaranya Dr. Edward Walter Herbst, etnomusikolog; Ts. Dr. Ellyana Mohd Muslim Tan dari Universiti Teknologi MARA; Mrs. Misako Masuzumi, CTO BESTIE Co., Ltd.; serta Dr. Hamam Supriyadi, M.A. dari Thammasat University. Dari ISI BALI, forum ini menghadirkan Dr. I Nyoman Laba, S.Sn., M.Sn. dan Dr. I Kadek Widnyana, M.Si. sebagai pembicara.
Foto: Seminar Internasional Bali-Bhuwana-Waskita VI bertajuk “Parama-Jnana-Patra: True Knowledge in Context” di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen, ISI BALI. Selasa (22/9).
Melalui tema “Parama-Jnana-Patra: True Knowledge in Context”, seminar mengajak peserta untuk melihat pengetahuan tidak semata sebagai kumpulan informasi, tetapi sebagai sesuatu yang perlu dipahami dan diterapkan sesuai konteks. Perspektif tersebut menjadi penting dalam pengembangan penelitian di bidang seni, desain, sastra, dan kebudayaan yang terus berhadapan dengan perubahan dan tantangan kontemporer.
Forum ini juga menjadi wadah pertukaran pengetahuan antara berbagai latar belakang keilmuan dan pengalaman praktik. Gagasan yang disampaikan para pembicara diharapkan dapat membuka ruang dialog, memperluas perspektif, serta mendorong pengembangan penelitian dan kreativitas yang relevan dengan perkembangan zaman.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Umum, dan Keuangan ISI BALI, Dr. Made Jodog menyampaikan apresiasi kepada seluruh pembicara dan peserta yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan seminar. Ia berharap forum akademik tersebut dapat memperkuat pertukaran pengetahuan serta membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di bidang seni, desain, sastra, dan budaya.
Seminar Internasional Bali-Bhuwana-Waskita VI sekaligus menegaskan komitmen ISI BALI dalam menyediakan ruang akademik yang mempertemukan gagasan lokal dan global. Melalui forum semacam ini, pengetahuan seni dan budaya diharapkan terus berkembang melalui dialog, penelitian, dan praktik kreatif yang ditempatkan dalam konteks yang tepat.
Foto: Seminar Folklore bertajuk “What is Folklore for Us Today?” di Ruang Video Conference, Gedung Citta Kelangen ISI BALI, Kamis (24/9).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menjadi salah satu ruang berlangsungnya rangkaian Nusantara International Folklore Festival (NIFF) 2026 melalui Seminar Folklore bertajuk “What is Folklore for Us Today?”. Kegiatan yang membahas relevansi folklore dalam kehidupan masyarakat masa kini tersebut digelar di Ruang Video Conference, Gedung Citta Kelangen ISI BALI, Kamis (24/9).
Seminar dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI, Prof. Dr. I Komang Sudirga. Kegiatan menghadirkan maestro tari dan koreografer Indonesia, Didik Nini Thowok, serta Dr. I Kadek Widnyana, SPP., M.Si., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama sekaligus dosen Program Studi Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan ISI BALI. Diskusi dipandu Dr. Nungki Kusumastuti, seniman dan praktisi seni budaya.
Seminar mengangkat pertanyaan mengenai posisi dan relevansi folklore di tengah perubahan kehidupan masyarakat saat ini. Folklore tidak semata-mata dipandang sebagai warisan budaya dari masa lalu, tetapi juga sebagai pengetahuan dan ekspresi budaya yang terus hidup, berkembang, serta mengalami pemaknaan baru.
Foto: Seminar Folklore bertajuk “What is Folklore for Us Today?” di Ruang Video Conference, Gedung Citta Kelangen ISI BALI, Kamis (24/9).
Kehadiran Didik Nini Thowok memberikan perspektif dari pengalaman panjang dalam dunia seni pertunjukan dan pengembangan tradisi tari Indonesia. Sementara itu, perspektif akademik turut dihadirkan melalui Dr. I Kadek Widnyana yang memiliki latar belakang keilmuan dan praktik dalam bidang seni pertunjukan.
Pembahasan tersebut menjadi semakin relevan dalam konteks penyelenggaraan NIFF 2026 yang mempertemukan seni tradisi dari berbagai daerah di Indonesia dengan kelompok seni dari sejumlah negara. Festival ini menempatkan folklore sebagai ruang perjumpaan budaya, sekaligus sebagai medium untuk mengenali identitas, pengetahuan, dan cerita yang hidup dalam masyarakat.
NIFF 2026 mengusung tema “Global Rhythms, Shared Stories” dan berlangsung di Bali pada 25–28 September 2026. Festival menghadirkan peserta dari Indonesia dan sejumlah negara, antara lain Jepang, Polandia, Thailand, dan Selandia Baru. Rangkaian kegiatan mencakup pertunjukan, lokakarya, serta berbagai agenda pertukaran budaya.
Keterlibatan ISI BALI dalam rangkaian NIFF 2026 memperluas ruang dialog antara dunia akademik, seniman, praktisi, dan komunitas budaya. Seminar “What is Folklore for Us Today?” sekaligus menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana folklore dapat terus dipahami dan dikembangkan tanpa kehilangan keterkaitannya dengan akar budaya masyarakat.