Foto: Workshop Pembuatan Ider-Ider dan Saput Saka Gedung Jineng di Wantilan Loka Sabha Mandala ISI BALI, Senin (30/3).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menggelar Workshop Pembuatan Ider-Ider dan Saput Saka Gedung Jineng bertajuk “Kriya-Yadnya-Kawiya” pada Senin, 30 Maret 2026, di Wantilan Loka Sabha Mandala ISI BALI. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual, Kriya, dan Seni Murni.
Workshop dibuka oleh Ketua Senat ISI BALI, Prof. Dr. Drs. I Ketut Muka, M.Si. Dalam kegiatan tersebut, ISI BALI menghadirkan perajin asal Klungkung, Anak Agung Gede Anom Martawan, sebagai narasumber.
Ketua Panitia, Dr. Nyoman Laba, menjelaskan bahwa workshop ini bertujuan mengenalkan proses pembuatan gambar ider-ider dan saput saka dengan teknik prada bakar kepada mahasiswa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari proses artistik, tetapi juga memahami alat dan bahan yang diperlukan, teknik pengerjaan yang baik, hingga tahapan pembuatan karya.
“Mahasiswa diharapkan dapat belajar langsung dari narasumber mengenai teknik pembuatan ider-ider dan saput saka dengan teknik prada bakar, mulai dari penggunaan alat hingga proses pengerjaannya,” ujar Dr. Nyoman Laba.
Foto: Workshop Pembuatan Ider-Ider dan Saput Saka Gedung Jineng di Wantilan Loka Sabha Mandala ISI BALI, Senin (30/3).
Dalam workshop tersebut, peserta diperkenalkan pada proses pembuatan ider-ider dan saput saka yang diawali dengan membuat sketsa motif pada kain beludru. Motif yang digambar umumnya terinspirasi dari ornamen tradisional Bali, seperti patra, pepatran, serta unsur flora dan fauna.
Setelah sketsa selesai, peserta mempelajari teknik prada bakar dengan memanaskan garis-garis sketsa menggunakan solder panas. Bagian kain beludru yang terkena solder akan membentuk alur sesuai gambar yang telah dibuat. Selanjutnya, bagian tersebut diberi warna prada emas sehingga motif tampak menonjol dan berkilau. Teknik ini membutuhkan ketelitian dan kestabilan tangan karena kesalahan sedikit saja dapat merusak kain maupun detail motif yang telah digambar. Melalui proses tersebut, mahasiswa belajar menghasilkan ornamen yang rapi dan memiliki nilai estetis tinggi.
Dalam sambutannya, Prof. I Ketut Muka berharap workshop tersebut dapat memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa, sekaligus menjadi sarana pembelajaran berbasis praktik yang memperkaya pengetahuan dan keterampilan mereka.
Ia juga menyampaikan bahwa hasil karya yang dibuat dalam workshop ini akan dimanfaatkan sebagai saput saka dan ider-ider Gedung Jineng, bangunan baru di lingkungan ISI BALI yang akan menjalani upacara melaspas pada 4 April 2026.
“Melalui workshop ini, mahasiswa tidak hanya belajar membuat karya, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap kebutuhan artistik kampus. Hasil karya yang dibuat hari ini nantinya akan digunakan pada Gedung Jineng yang akan diplaspas pada 4 April mendatang,” ungkapnya. Kegiatan ini menjadi wujud sinergi antara pembelajaran akademik dan pelestarian seni tradisi Bali. Dengan menghadirkan perajin berpengalaman, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mempelajari secara langsung teknik tradisional yang memiliki nilai estetika sekaligus fungsi dalam upacara dan arsitektur Bali. (ISIBALI/Humas)
Foto: Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana,B.Sc meninjau Pameran Retrospektif Seni Lukis Kontemporer “Parama Paraga” di Nata-Cita Art Space (N-CAS) ISI BALI pada Rabu (25/3).
Perjalanan panjang seni rupa kontemporer terangkum dalam Pameran Retrospektif Seni Lukis Kontemporer “Parama Paraga” karya perupa sekaligus Rektor Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI), Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana, yang digelar di Nata-Cita Art Space (N-CAS) ISI BALI pada Rabu (25/3) sore.
Pameran ini merupakan inisiatif personal Prof. Kun Adnyana yang menampilkan refleksi perjalanan artistiknya selama lebih dari dua dekade. Pameran yang dikurasi oleh Jeon Dongsu, Warih Wisatsana, dan Alaida Niwaya menyajikan 88 karya yang memperlihatkan transformasi visual dari eksplorasi bentuk tubuh hingga berkembang menuju komposisi abstrak berbasis garis dan warna.
Dalam momentum pembukaan, Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana,B.Sc turut hadir dan meninjau langsung karya-karya yang ditampilkan. Kehadiran Menteri Pariwisata juga menjadi bagian dari rangkaian pembukaan Kalangan Widya Mahardika V, yang berlangsung di lingkungan kampus ISI BALI.
Foto: Pameran Retrospektif Seni Lukis Kontemporer “Parama Paraga” karya Prof. Kun Adnyana di Nata-Cita Art Space (N-CAS) ISI BALI pada Rabu (25/3).
Dalam keterangannya, Prof. Kun Adnyana menegaskan bahwa “Parama Paraga” merupakan proses panjang yang merekam dinamika pencarian artistik yang terus berkembang. “Ini adalah proses panjang, lebih dari 20 tahun, dari eksplorasi tubuh hingga menjadi komposisi warna yang murni, dengan garis sebagai basis utama,” ungkapnya.
Guru Besar Bidang Sejarah Seni ini juga mengaitkan pameran dengan semangat Kalangan Widya Mahardika V yang mengusung tema “Kirtya Jnana Kawiya”, sebagai upaya menggali dan memuliakan pengetahuan melalui praktik berkesenian.
Sebagai ruang seni yang berada di lingkungan kampus, Nata-Cita Art Space (N-CAS) ISI BALI menjadi wadah strategis dalam menghadirkan praktik seni rupa kontemporer kepada publik sekaligus memperkuat ekosistem akademik. Kehadiran pameran tunggal ini turut memperlihatkan peran ganda Prof. Kun Adnyana, tidak hanya sebagai pimpinan institusi, tetapi juga sebagai seniman yang aktif berkarya.
Prof. Kun Adnyana menambahkan, kegiatan ini bukan sekadar pameran, tetapi juga menjadi “pesta seni akademika” yang mendorong dosen dan mahasiswa untuk berani tampil di panggung global. “Pariwisata berbasis budaya adalah fondasi penting dalam memajukan seni dan budaya Bali. Karena itu, kami menghadirkan Ibu Menteri Pariwisata sebagai bagian dari sinergi antara dunia seni dan pariwisata,” tegasnya.
Menpar Widiyanti Putri Wardhana,B.Sc memberikan apresiasi khusus terhadap pameran karya Prof. Kun Adnyana yang dinilai memiliki kekuatan artistik dan keragaman tema. Menurutnya, karya-karya tersebut tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga memperkaya narasi budaya Bali di tengah perkembangan seni kontemporer.
Pameran “Parama Paraga” dijadwalkan berlangsung hingga 4 Mei mendatang dan terbuka untuk publik sebagai ruang apresiasi terhadap perjalanan panjang seorang perupa dalam merespons perkembangan seni rupa kontemporer. (ISIBALI/Humas)
Foto: Pembukaan Kalangan Widya Mahardika V di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Institut Seni Indonesia (ISI BALI), Rabu (25/3).
Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana, B.Sc secara resmi membuka Kalangan Widya Mahardika V (Pekan Kesenian Akademika) bertajuk Kirtya-Jnana-Kawya “Mulia Pengetahuan Luhur” di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Institut Seni Indonesia (ISI BALI), Rabu (25/3). Kegiatan yang telah memasuki tahun kelima ini kembali merupakan ruang kreatif yang memadukan pengembangan seni, pengetahuan, dan penguatan nilai-nilai budaya Bali.
Dalam sambutannya, Widiyanti menyoroti perubahan tren pariwisata global yang kini semakin mengarah pada pengalaman yang lebih mendalam. Menurutnya, wisatawan tidak lagi hanya mencari destinasi, melainkan pengalaman yang memberi makna.
Menpar Widiyanti mengapresiasi peran ISI BALI sebagai institusi pendidikan seni yang memiliki keterkaitan erat dengan ekosistem pariwisata. Ia menilai kontribusi sivitas akademika dan alumni ISI BALI telah memperkaya berbagai ajang seni budaya, baik di tingkat lokal maupun nasional.
“Kalangan Widya Mahardika telah berlangsung selama lima tahun dan menjadi ruang penting untuk menampilkan inovasi sekaligus menggali keadiluhungan tradisi Bali,” ungkapnya.
Foto: Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana, B.Sc secara resmi membuka Kalangan Widya Mahardika V di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Institut Seni Indonesia (ISI BALI), Rabu (25/3).
Ia turut menyoroti berbagai karya kolaboratif yang ditampilkan dalam ajang tersebut, mulai dari pagelaran kolosal hingga pengembangan seni tradisi seperti drama tari arja yang dikemas dengan pendekatan baru.
Pada kesempatan tersebut, Menpar Widiyanti juga menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara ISI BALI dan Politeknik Pariwisata Bali. Penandatangan MoU menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia pariwisata, mengingat eratnya hubungan antara sektor pariwisata dan kebudayaan.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Menteri Pariwisata RI beserta jajaran serta para tokoh yang hadir dan memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Kalangan Widya Mahardika V.
Dalam sambutannya, ia menjelaskan makna filosofis dari Kalangan Widya Mahardika sebagai ruang aktualisasi yang tidak hanya bersifat artistik, tetapi juga spiritual dan intelektual. “Kalangan adalah ruang aktualisasi yang memerlukan pendakian yang sungguh-sungguh, sementara Mahardika bermakna kemerdekaan yang juga harus dicapai melalui proses yang tidak instan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kedua konsep tersebut merepresentasikan ruang pencapaian yang melampaui kepentingan personal. Kalangan Widya Mahardika menjadi wadah transformasi dari cita-cita individu menuju cita-cita institusi, yang kemudian berkembang menjadi cita-cita kebangsaan hingga kemanusiaan yang sejati.
Sebagai penutup, Rektor menegaskan komitmen ISI BALI dalam menghadirkan karya dan pengabdian terbaik bagi bangsa. “Kami persembahkan ketulusan ISI BALI untuk Indonesia,” pungkasnya.
Foto: Pembukaan Kalangan Widya Mahardika V di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Institut Seni Indonesia (ISI BALI), Rabu (25/3).
Kalangan Widya Mahardika V menghadirkan beragam sajian seni yang merepresentasikan kekayaan ekspresi dan inovasi sivitas akademika Institut Seni Indonesia Bali. Rangkaian kegiatan ini meliputi Gelar Pertunjukan Kolosal Intermedium bertajuk Kirtya–Jnana–Kawya yang menjadi pembuka utama, serta Pameran Retrospektif Seni Lukis Kontemporer Parama Paraga karya Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana.
Selain itu, Kalangan Widya Mahardika juga menampilkan Prosesi Seni Pertunjukan Ritus yang sarat nilai tradisi, serta Gelar Drama Tari Luwih Arja Luh bertajuk Ranu–Saraswati–Rasmi sebagai bentuk pengembangan seni pertunjukan berbasis tradisi dengan pendekatan kreatif dan kontekstual. (ISIBALI/Humas)
Foto: Pergelaran Tari Serng Kratip oleh sejumlah mahasiswa Angthong College of Dramatic Arts dan Roi Et College of Dramatic Arts, Thailand bersama mahasiswa ISI BALI, Senin (23/2) di Gedung Natya Mandala ISI BALI
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menggelar pergelaran seni yang menampilkan kolaborasi budaya antara Angthong College of Dramatic Arts dan Roi Et College of Dramatic Arts, Thailand, dengan sivitas akademika ISI BALI, Senin (23/2) di Gedung Natya Mandala ISI BALI. Pergelaran ini merupakan kelanjutan dari kegiatan workshop seni yang sebelumnya dilaksanakan bersama delegasi dari Thailand, sekaligus menjadi ruang apresiasi atas hasil pembelajaran dan pertukaran budaya yang telah berlangsung.
Acara diawali dengan penampilan Tari Selat Segara yang dibawakan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan (PSP) ISI BALI, diiringi tabuh gamelan oleh mahasiswa PSP. Penampilan pembuka ini menghadirkan nuansa dinamis sekaligus memperkenalkan kekayaan seni pertunjukan Bali kepada para tamu dari Thailand.
Foto: Pertunjukan karawintan oleh dosen Angthong College of Dramatic Arts dan Roi Et College of Dramatic Arts, Thailand dengan dosen dan mahasiswa ISI BALI, Senin (23/2) di Gedung Natya Mandala ISI BALI.
Selanjutnya, delegasi Thailand menampilkan tiga tarian tradisional Thailand yang merepresentasikan keragaman budaya dari berbagai wilayah di negara tersebut. Tarian pertama yang ditampilkan adalah Fon Dok Mai atau Dance of Flowers, sebuah tari tradisional yang menonjolkan gerak tangan yang lembut dengan penggunaan properti bunga sebagai simbol keindahan dan keharmonisan.
Tarian kedua adalah Serng Kratip, tarian rakyat dari wilayah Isan yang ditandai dengan gerakan dinamis serta penggunaan kain lipit yang membentuk siluet menyerupai sayap saat penari bergerak. Tarian ini ditampilkan secara kolaboratif oleh mahasiswa Thailand bersama mahasiswa ISI BALI yang sebelumnya mengikuti workshop tari tradisional Thailand.
Penampilan ditutup dengan tarian rakyat Isan yang dibawakan secara berpasangan oleh penari laki-laki dan perempuan. Tarian ini menggambarkan kehidupan masyarakat pedesaan yang penuh keceriaan dan kebersamaan, dengan gerakan yang enerjik dan ekspresif.
Selain pertunjukan tari, pergelaran ini juga menampilkan hasil workshop karawitan yang sebelumnya dilaksanakan bersama mahasiswa ISI BALI. Penampilan tersebut dibawakan oleh dosen dari Thailand bersama Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI Prof. Dr. Komang Sudirga, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Dr. Ketut Garwa, Koordinator Prodi (Koprodi) PSP, Putu Hartini, M.Sn, Koprodi Karawitan Made Dwi Andika Putra, M.Sn, serta sejumlah mahasiswa PSP ISI BALI. Kolaborasi ini memperlihatkan proses pertukaran pengetahuan dan praktik seni antara kedua pihak yang berlangsung selama kegiatan workshop.
Pergelaran ini menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan akademik dan budaya antara ISI BALI dan institusi seni dari Thailand. Melalui pertunjukan seni yang kolaboratif, kegiatan ini memperkaya pengalaman artistik mahasiswa sekaligus memperkuat dialog budaya di antara para seniman dan akademisi dari kedua negara.
Foto: ISI BALI melaksanakan workshop tari tradisional Thalind bersama Angthong College of Dramatic Arts dan Roi Et College of Dramatic Arts, Thailand, Senin (23/2) di Studio Tari ISI BALI.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menerima kunjungan delegasi dari Angthong College of Dramatic Arts dan Roi Et College of Dramatic Arts, Thailand, dalam rangka penjajakan kerja sama di bidang pergelaran seni dan workshop kolaboratif. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin (23/2) di Gedung Natya Mandala, ISI BALI.
Delegasi dari Thailand terdiri atas pimpinan, dosen, dan mahasiswa dari kedua institusi tersebut. Delegasi Angthong College of Dramatic Arts dipimpin oleh Mr. Etsawat Paksin selaku Direktur, didampingi para dosen Mr. Channar Kaeosawang, Mr. Chalermchai Pimonrak, Mrs. Ratchanewan Srinsakrat, Miss Suchanya Kongsin, Miss Thitima Ongthong, dan Mr. Atitak Rukdee, serta mahasiswa Mr. Vongathorn Timnoee, Miss Nattanan Chumsuwan, dan Miss Kanyarat Kumsin.
Sementara itu, delegasi Roi Et College of Dramatic Arts dipimpin oleh Miss Benjita Petchsom selaku Direktur bersama Miss Kemika Wongamrin sebagai Deputy Director. Turut hadir para dosen Mr. Achariya Wongsi, Miss Nattawan Pimonket, Miss Phailin Sarnkam, Mr. Chaimongkhon Sriphaet, Mr. Runset Sritham, dan Mr. Pongsakda Padkeoplon, serta mahasiswa Miss Jariya Chosakao dan Miss Chanantida Luaksiase.
Foto: Workshop karawitan yang diikuti dosen-dosen Angthong College of Dramatic Arts dan Roi Et College of Dramatic Arts, Thailand, Senin (23/2) di Studio Karawitan ISI BALI.
Selain pertemuan penjajakan kerja sama, kunjungan ini juga diisi dengan kegiatan workshop seni sebagai bentuk pertukaran pengetahuan dan pengalaman artistik antara kedua institusi. Delegasi Thailand memberikan workshop tari tradisional Thailand yang dilaksanakan di Studio Tari ISI BALI dan diikuti oleh mahasiswa Program Studi Tari ISI BALI. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal teknik, estetika, serta karakter gerak dalam tradisi tari Thailand.
Sebagai bentuk timbal balik, ISI BALI juga menyelenggarakan workshop karawitan yang berlangsung di Studio Karawitan ISI BALI. Workshop ini disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI, Prof. Dr. Komang Sudirga, bersama Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ISI BALI, Dr. Ketut Garwa. Kegiatan tersebut diikuti oleh para dosen dan mahasiswa dari delegasi Thailand yang berkesempatan mempelajari dasar-dasar musik tradisional Bali, khususnya dalam praktik karawitan. (ISIBALI/Humas)
Foto: Riri Riza (kanan) diwisuda pada Wisuda Sarjana, Sarjana Terapan, Magister, dan Doktor XXXIX yang digelar Jumat (27/2) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Program Studi Seni Program Doktor pada Program Pascasarjana ISI BALI yang telah terakreditasi Unggul oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) kembali menegaskan reputasinya sebagai ruang akademik yang melahirkan pemikir dan praktisi seni berbasis riset. Rekam jejak lulusannya menunjukkan kontribusi nyata di berbagai sektor seni dan kebudayaan, baik pada ranah penciptaan, pengkajian, maupun kebijakan budaya.
Pada Wisuda Sarjana, Sarjana Terapan, Magister, dan Doktor XXXIX yang digelar Jumat (27/2) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI, dua figur publik nasional turut dikukuhkan sebagai Doktor Seni, yakni sineas Riri Riza dan aktris Zeezee Shahab. Keduanya diwisuda bersama para lulusan lainnya dalam suasana khidmat dan penuh kebanggaan.
Riri Riza, yang memiliki nama lahir Mohammad Rivai Riza, dikenal sebagai sutradara dan produser yang karya-karyanya berperan penting dalam perkembangan perfilman Indonesia modern. Melalui film-filmnya, ia menghadirkan perspektif sinematik yang reflektif dan kontekstual dalam membaca realitas sosial dan budaya. Pendidikan doktoral yang ditempuhnya di ISI BALI menjadi ruang pendalaman akademik atas praktik kreatif yang selama ini digelutinya, sekaligus memperkaya khazanah kajian seni berbasis pengalaman profesional.
Foto: ZeeZee Shahab (kanan) diwisuda pada Wisuda Sarjana, Sarjana Terapan, Magister, dan Doktor XXXIX yang digelar Jumat (27/2) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Sementara itu, Zeezee Shahab, yang memiliki nama lengkap Fauziah Shahab, juga resmi menyandang gelar Doktor Seni pada kesempatan yang sama. Kiprahnya di industri seni peran dan dunia kreatif nasional kini diperkuat dengan landasan akademik dan riset yang mendalam. Pendidikan doktoral memberinya ruang refleksi kritis untuk mengelaborasi praktik keaktoran dan dinamika industri kreatif dalam perspektif keilmuan.
Kehadiran lulusan dengan latar belakang profesional yang beragam menegaskan bahwa Program Studi Seni Program Doktor ISI BALI bukan semata pusat pengembangan akademik, melainkan ruang dialog antara teori dan praktik, antara penciptaan dan pemikiran. Program ini terus memosisikan diri sebagai wahana penguatan gagasan, artikulasi praksis seni berbasis riset, serta pengembangan ilmu pengetahuan seni yang relevan dengan dinamika kebudayaan kontemporer.(ISIBALI/Humas)