
Foto: FGD “Menuju 100 Tahun Kepariwisataan Bali #2”, Rabu (16/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Guna mematangkan penyusunan buku kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Institut Seni Indonesia (ISI) BALI dan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali kembali menggelar Diskusi Terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) bertajuk “Menuju 100 Tahun Kepariwisataan Bali #2”, Rabu (16/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mematangkan penyusunan buku kajian 100 Tahun Kepariwisataan Bali yang direncanakan terbit pada 2027, bertepatan dengan satu abad perkembangan pariwisata Bali.
FGD yang mengusung tema “Yukti-Jnana-Yatra”, yang dimaknai sebagai pelayaran menuju kedalaman pengetahuan, merupakan kelanjutan dari FGD pertama yang telah dilaksanakan pada 13 Juli 2026. Forum ini mempertemukan akademisi, Kelompok Ahli Pembangunan Bidang Budaya dan Pariwisata Provinsi Bali, pelaku pariwisata, budayawan, serta peneliti untuk memperkaya kajian melalui perspektif historis, akademis, dan pengalaman praktis di lapangan.
Hadir membuka kegiatan, Sekretaris Kepala BRIDA Provinsi Bali, Ni Luh Putu Seni Artini, S.E., Ak., M.Si. Sementara itu, forum menghadirkan tiga narasumber dari berbagai latar belakang kepariwisataan Bali, yakni pendiri Agung Rai Museum of Art (ARMA), AA Gde Rai; Ketua Yayasan Pembangunan Sanur, Ida Bagus Sidharta Putra; serta Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya.
Dalam forum tersebut, Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, memaparkan hasil penelitian mengenai perkembangan kepariwisataan budaya Bali yang dipetakan ke dalam lima pembabakan waktu. Pembabakan tersebut meliputi Masa Pembentukan Kepariwisataan Bali (1927–1945), Masa Kebangkitan Pariwisata Bali Pertama (1945–1965), Masa Kebangkitan Kedua (1965–1996), Masa Kebangkitan Ketiga (1997–2017), serta Masa Kebangkitan Keempat (2018–kini).

Foto: FGD “Menuju 100 Tahun Kepariwisataan Bali #2”, Rabu (16/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Pemetaan tersebut menjadi salah satu pijakan dalam penyusunan buku yang dikerjakan oleh tim beranggotakan 20 orang, termasuk lima guru besar. Melalui rangkaian FGD, tim penyusun terus menggodok substansi buku agar mampu merekam perjalanan kepariwisataan Bali secara lebih utuh sekaligus memberikan perspektif terhadap perkembangan pariwisata Bali ke depan.
Sejumlah aspek strategis kemudian dibahas oleh para narasumber. AA Gde Rai menyampaikan materi bertajuk “Museum Sebagai Lembaga Pelestari Seni, Budaya, dan juga sebagai Destinasi Wisata”, yang menyoroti posisi museum dalam pelestarian kebudayaan sekaligus pengembangan daya tarik wisata.
Sementara itu, Ida Bagus Sidharta Putra membahas “Tata Kelola Pariwisata Berbasis Kawasan Sanur”, dengan mengangkat pengalaman pengelolaan kawasan Sanur yang melibatkan masyarakat. Adapun I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya memaparkan “Tata Kelola Destinasi dan Praktik Hospitality Khas Bali”, termasuk dinamika pengelolaan destinasi dan tantangan pariwisata Bali saat ini, seperti overtourism.

Foto: Penyerahan Piagam Penghargaan kepada narasumber FGD “Menuju 100 Tahun Kepariwisataan Bali #2”, Rabu (16/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Diskusi juga berkembang pada pemahaman bahwa kepariwisataan Bali tidak semata-mata bertumpu pada kebudayaan sebagai produk wisata, tetapi mencakup berbagai aktivitas dan daya tarik yang berkembang seiring perjalanan pariwisata Bali.
Anggota Kelompok Ahli Pembangunan Bidang Pariwisata Provinsi Bali, Cipto Aji Gunawan, mencontohkan perkembangan wisata bahari, khususnya surfing dan diving, yang turut membentuk karakter pariwisata Bali. Menurutnya, aktivitas tersebut pada awalnya diperkenalkan oleh wisatawan mancanegara, kemudian berkembang dan menjadi bagian dari ikon kepariwisataan Bali. Perspektif tersebut dinilai penting untuk melihat perkembangan pariwisata Bali secara lebih luas, termasuk interaksi antara masyarakat lokal dan berbagai pengaruh dari luar.
Masukan lainnya disampaikan Ir. Made Gunaja, M.Si., perwakilan Tim Pengendali Mutu BRIDA Provinsi Bali. Ia menekankan pentingnya memasukkan rekam kebijakan serta dukungan pemerintah daerah dalam perjalanan kepariwisataan Bali. Menurutnya, kebijakan dan dukungan para pemimpin Bali, termasuk gubernur pada setiap periode, perlu terdokumentasi sebagai bagian dari landasan objektif untuk melihat peran pemerintah dalam perkembangan pariwisata Bali.
Berbagai pandangan yang muncul dalam FGD tersebut selanjutnya menjadi bahan pengayaan bagi tim penyusun dalam menyempurnakan kajian 100 Tahun Kepariwisataan Bali. Melalui pendekatan yang memadukan catatan sejarah, hasil penelitian, pengalaman pelaku, serta perspektif kebijakan, buku tersebut diharapkan dapat menghadirkan dokumentasi komprehensif mengenai perjalanan satu abad kepariwisataan Bali. (ISIBALI/Humas)










