M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

ISI BALI Terima Kunjungan BAPPENAS

ISI BALI Terima Kunjungan BAPPENAS

Evaluasi Pemanfaatan SBSN TA 2024

Foto: kunjungan tim evaluator Bapenas dalam rangka Evaluasi Pemanfaatan Proyek SBSN TA 2024, Jumat (17/7/2026), di Ruang Sabha Citta Mahottama, Gedung Desain Hub ISI BALI.

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menerima kunjungan tim evaluator dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) dalam rangka Evaluasi Pemanfaatan Proyek Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Tahun Anggaran 2024, Jumat (17/7/2026), di Ruang Sabha Citta Mahottama, Gedung Desain Hub ISI BALI.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari surat Direktur Pendidikan Tinggi dan IPTEK Kementerian PPN/BAPPENAS mengenai pelaksanaan evaluasi pemanfaatan hasil proyek SBSN pada perguruan tinggi. Fokus evaluasi di ISI BALI adalah Gedung Desain Hub, yang dibangun melalui pendanaan SBSN Tahun Anggaran 2024 dan telah selesai pada tahun 2025.

Tim evaluator BAPPENAS yang hadir terdiri atas Dimas Suryo Sudarso, Ahmad Kholil, dan Yudi Lesmana. Kehadiran tim disambut langsung oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, didampingi para wakil rektor, kepala biro, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, serta para koordinator program studi yang menjadi pengguna fasilitas di Gedung Desain Hub.

Foto: kunjungan tim evaluator Bapenas dalam rangka Evaluasi Pemanfaatan Proyek SBSN TA 2024, Jumat (17/7/2026), di Ruang Sabha Citta Mahottama, Gedung Desain Hub ISI BALI.

Dalam pemaparannya, Rektor menjelaskan berbagai bentuk pemanfaatan Gedung Desain Hub beserta dampaknya terhadap peningkatan kualitas pembelajaran, pengembangan kreativitas mahasiswa, dan penguatan ekosistem pendidikan seni dan desain di lingkungan ISI BALI.

Saat ini, Gedung Desain Hub dimanfaatkan oleh Program Studi Desain Komunikasi Visual, Desain Interior, Arsitektur, serta Produksi Film dan Televisi sebagai pusat kegiatan akademik dan pengembangan karya kreatif mahasiswa. Selain itu, lantai 1 Gedung Desain Hub juga digunakan oleh Program Pascasarjana sebagai ruang administrasi sementara selama proses renovasi gedung Pascasarjana berlangsung.

Tim evaluator kemudian menggali informasi lebih rinci mengenai tingkat pemanfaatan ruang, sistem pengelolaan fasilitas, pemeliharaan sarana prasarana, serta rencana keberlanjutan operasional gedung agar manfaat investasi SBSN dapat terus dirasakan dalam jangka panjang.

Foto: kunjungan tim evaluator Bapenas dalam rangka Evaluasi Pemanfaatan Proyek SBSN TA 2024, Jumat (17/7/2026), di Ruang Sabha Citta Mahottama, Gedung Desain Hub ISI BALI.

Usai sesi pemaparan dan diskusi, tim evaluator bersama Rektor dan jajaran pimpinan ISI BALI melakukan peninjauan langsung ke seluruh area Gedung Desain Hub untuk melihat kondisi fasilitas dan penggunaannya dalam mendukung proses pembelajaran, produksi karya, serta aktivitas kreatif mahasiswa.

Melalui evaluasi ini, ISI BALI berharap pemanfaatan infrastruktur yang dibangun melalui skema SBSN dapat terus dioptimalkan dan memberikan dampak yang berkelanjutan bagi pengembangan pendidikan tinggi seni, desain, dan industri kreatif di Bali. Gedung Desain Hub diharapkan menjadi salah satu pusat inovasi dan kolaborasi yang mampu memperkuat daya saing lulusan ISI BALI di tingkat nasional maupun internasional. (ISIBALI/Humas)

ISI BALI dan BRIDA Provinsi Bali Gelar FGD 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali

ISI BALI dan BRIDA Provinsi Bali Gelar FGD 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali

Foto: FGD Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Senin (13/7), di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI BALI.

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali menyelenggarakan Diskusi Terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Senin (13/7), di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI BALI. Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama penelitian antara ISI BALI dan BRIDA Provinsi Bali dalam menyusun kajian komprehensif mengenai refleksi perjalanan satu abad kepariwisataan budaya Bali.

FGD menghadirkan tiga narasumber yang membahas sejarah dan perkembangan kepariwisataan Bali dari berbagai sudut pandang. Mereka, yakni Wakil Gubernur Bali periode 2018–2023 sekaligus Ketua PHRI Bali Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si., tokoh dan pelaku pariwisata Bali Ida Bagus Ngurah Wijaya, dan pengamat budaya dan ahli lontar Sugi Lanus.

FGD dibuka oleh Kepala BRIDA Provinsi Bali, Dr. Ketut Wica, S.Sos., M.H., serta dihadiri Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana, akademisi, pelaku pariwisata, budayawan, dan peneliti yang turut memberikan perspektif historis maupun akademis terhadap perkembangan kepariwisataan Bali.

Foto: FGD Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Senin (13/7), di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI BALI.

alam sambutannya, Dr. Ketut Wica menegaskan bahwa penelitian ini bertujuan membangun fondasi ilmiah bagi arah kebijakan kepariwisataan Bali di masa depan. Menurutnya, budaya Bali tidak boleh diperlakukan semata sebagai komoditas ekonomi yang kehilangan nilai kesakralan dan spiritualitasnya.

“Kajian ini dilakukan agar budaya Bali tidak dijual murah hingga kehilangan kesakralan dan spiritualitasnya di tengah masyarakat. Kebijakan yang nantinya disusun pemerintah harus mampu melindungi masyarakat sekaligus menjaga nilai-nilai budaya Bali,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kepariwisataan Bali tumbuh secara organis dari denyut kehidupan masyarakat yang berlandaskan taksu, seni, dan budaya. Melalui kolaborasi antara ISI BALI dan BRIDA Provinsi Bali, penelitian ini berupaya menarik benang merah perjalanan sejarah tersebut, mulai dari interaksi seniman, tokoh puri, peneliti, hingga masyarakat yang menjadi fondasi berkembangnya pariwisata Bali.

Menjelang satu abad kepariwisataan Bali, menurutnya, momentum ini menjadi refleksi penting untuk mengevaluasi apakah pembangunan pariwisata masih berpijak pada keaslian budaya Bali serta sejauh mana ketahanan budaya mampu menghadapi arus globalisasi dan dinamika zaman.

“Pemerintah Provinsi Bali melalui BRIDA ingin membangun kajian yang tajam secara akademis, tetapi juga valid secara sosial dan historis. Insan pariwisata, Asita Bali, telah mulai menggaungkan road to 100 years Bali tourism, melalui event Bali Tourism Run 2026 di Jatiluwih, “tambahnya.

Sementara itu, Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, memaparkan hasil penelitian awal yang menunjukkan bahwa perkembangan kepariwisataan budaya Bali dapat dipetakan ke dalam beberapa fase penting, yaitu masa perintisan, masa pembentukan, masa kebangkitan pertama, masa kebangkitan kedua, masa kebangkitan ketiga, dan masa kebangkitan keempat.

Menurutnya, perjalanan kepariwisataan budaya Bali tidak dibangun secara instan, melainkan tumbuh secara alami melalui kekuatan masyarakat dan industri budaya yang telah berkembang sejak awal abad ke-20.

“Kepariwisataan budaya Bali dalam refleksi kesejarahan dibangun secara organis oleh masyarakat Bali berbasis industri budaya. Interaksi dan kolaborasi antara masyarakat, seniman lokal, peneliti, serta tetamu internasional membangun ekosistem seni dan budaya yang kemudian memuarakan kunjungan pariwisata dan menggema secara luas pada medio akhir tahun 1920-an di Bali,” jelasnya.

Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si., Wakil Gubernur Bali periode 2018–2023 sekaligus Ketua PHRI Bali, memaparkan materi “Lahirnya Gagasan Menuju 100 Tahun Pariwisata Bali”. Ia mengulas lahirnya konsep kepariwisataan Bali yang bertumpu pada kekuatan budaya sebagai identitas utama destinasi.

Selanjutnya, Ida Bagus Ngurah Wijaya, tokoh dan pelaku pariwisata Bali, menyampaikan materi “Sanur dan Pariwisata: Refleksi Sejarah” yang mengangkat peran kawasan Sanur sebagai salah satu titik awal perkembangan industri pariwisata modern di Bali.

Sementara itu, Sugi Lanus, pengamat budaya dan ahli lontar, membawakan materi “Fajar Pariwisata Bali: Melihat Cikal-Bakal Infrastruktur Fisik dan Kultural Kepariwisataan Bali dari ‘Kaca Mata’ Rabindranath Tagore (1927)”. Pemaparannya menyoroti pengaruh kunjungan tokoh dunia seperti Rabindranath Tagore dalam memperkuat citra Bali sebagai pusat kebudayaan yang kemudian menarik perhatian masyarakat internasional.

Diskusi dipandu oleh Prof. Dr. I Komang Sudirga, M.Hum., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI. Melalui forum ini, para narasumber, peneliti, dan peserta mendiskusikan berbagai dinamika sejarah, tantangan, serta arah pengembangan kepariwisataan budaya Bali menjelang peringatan 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali.

Foto: FGD Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Senin (13/7), di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI BALI.

Diskusi juga diperkaya dengan masukan dari Tim Pengendali Mutu Penelitian, Prof. Ir. Made Supartha Utama, yang mengajak peserta merefleksikan kembali posisi budaya Bali dalam pembangunan kepariwisataan.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan sekadar bagaimana budaya Bali dipromosikan sebagai daya tarik wisata, tetapi sejauh mana nilai-nilai luhur yang hidup di dalamnya benar-benar dijadikan foundation value atau nilai dasar dalam tata kelola pembangunan. Ia menekankan bahwa nilai-nilai budaya Bali semestinya menjadi landasan dalam membangun sistem kepariwisataan, sistem hukum, maupun sistem sosial di Bali. Dengan demikian, pariwisata tidak hanya berorientasi pada penampilan luar atau aspek seremonial budaya semata.

“Yang perlu kita refleksikan adalah sejauh mana nilai-nilai budaya Bali telah dijadikan foundation value dalam tata kelola sistem pariwisata, sistem hukum, dan sistem sosial. Jangan sampai perhatian kita hanya tertuju pada behavior atau seremoni budaya, seperti upacara ngaben, tanpa memahami nilai-nilai filosofis yang menjadi roh di baliknya,” ujarnya.

Melalui penelitian kolaboratif ini, ISI BALI dan BRIDA Provinsi Bali berharap dapat menghasilkan rekomendasi akademis yang menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan kepariwisataan yang tetap berpijak pada nilai-nilai budaya, menjaga kesakralan tradisi, sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai destinasi budaya yang berkelanjutan di tingkat dunia.(ISIBALI/Humas)

ISI BALI dan BESTie CO., Ltd. Matangkan Program Magang Internasional di Jepang

ISI BALI dan BESTie CO., Ltd. Matangkan Program Magang Internasional di Jepang

Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana (kanan) dan CEO BESTie CO., Ltd., Mr. Matsumoto Yuki dalam rapat pembahasan persiapan program magang internasional di Ruang Sabha Citta Mahottama ISI BALI, Rabu (8/7).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) terus mematangkan pelaksanaan program magang internasional dengan Industri keramik di Kota Hasami, Jepang. Sebagai tindak lanjut kerja sama yang baru disepakati melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan mitra di Jepang, Chief Executive Officer (CEO) BESTie CO., Ltd., Mr. Matsumoto Yuki, mengunjungi ISI BALI pada Rabu (8/7) untuk membahas persiapan pelaksanaan program bersama jajaran pimpinan institut.

Pertemuan yang berlangsung di Ruang Teleconference ISI BALI tersebut diterima langsung oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. I Wayan “Kun” Adnyana, didampingi para wakil rektor, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD, Direktur Pascasarjana, Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama, serta Kepala Biro Perencanaan, Umum, dan Keuangan. Mr. Matsumoto hadir bersama Ibu Alja, pengajar bahasa Jepang yang akan memberikan pelatihan kepada mahasiswa calon peserta magang.

Sebelumnya, pada Selasa (23/6), ISI BALI menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Hasami Tohjiki Industrial Association dan BESTie Co., Ltd. di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang. Nota Kesepahaman tersebut ditandatangani oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. I Wayan “Kun” Adnyana, bersama Chairman Hasami Tohjiki Industrial Association Kazuhiko Ota dan CEO BESTie Co., Ltd. Matsumoto Yuki. Pada kesempatan yang sama juga ditandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI BALI dengan kedua mitra Jepang tersebut yang ditandatangani oleh Dekan FSRD ISI BALI, Drs. I Nengah Sudika Negara, M.Erg.

Foto: Pertemuan ISI BALI dan BESTie CO., Ltd membahas persiapan program magang internasional di Hasami Jepang, Rabu (8/7) di Ruang Sabha Citta Mahottama ISI BALI.

Rektor ISI BALI, Prof. Wayan ‘Kun’ Adnyana, menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut sebagai langkah lanjutan untuk merealisasikan program magang internasional yang telah disepakati. Pembahasan teknis mengenai kurikulum pelatihan akan ditindaklanjuti bersama pimpinan Fakultas Seni Rupa dan Desain agar program dapat berjalan sesuai kebutuhan industri keramik di Jepang.

“Terima kasih atas kunjungan Mr. Matsumoto. Pembahasan mengenai kurikulum dapat dilanjutkan bersama Dekan dan Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD. Dalam waktu dekat ISI BALI juga akan segera menyebarluaskan informasi rekrutmen peserta pelatihan,” ujarnya.

Pada tahap awal, ISI BALI akan merekrut sebanyak 25 mahasiswa semester tujuh yang berasal dari Program Studi Seni Kriya, Seni Murni, dan Desain Produk. Para peserta akan mengikuti pelatihan intensif, termasuk pembelajaran bahasa Jepang, yang direncanakan dimulai pada 1 September 2026 sebagai bekal sebelum memasuki dunia industri. Setelah menyelesaikan pelatihan, delapan peserta terbaik akan dipilih untuk mengikuti program magang internasional di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang. Sementara itu, 17 peserta lainnya akan menjalani program magang pada mitra industri seni kriya bereputasi di dalam negeri, sehingga seluruh peserta tetap memperoleh pengalaman profesional sesuai bidang keahlian masing-masing.

Sementara itu, CEO BESTie CO., Ltd., Mr. Matsumoto Yuki, menyatakan kesiapan pihaknya untuk segera melaksanakan proses wawancara sebagai bagian dari seleksi mahasiswa peserta pelatihan. Ia juga memperkenalkan Ibu Alja sebagai salah satu pengajar bahasa Jepang yang akan mendampingi mahasiswa selama masa persiapan.

Mr. Matsumoto mengungkapkan bahwa kerja sama ini tidak hanya membuka kesempatan bagi mahasiswa ISI BALI untuk memperdalam seni keramik di Jepang, tetapi juga berpotensi menjadi wadah pertukaran budaya yang saling menguntungkan. Menurutnya, minat mahasiswa Jepang untuk mempelajari seni keramik dan kebudayaan Bali juga terus meningkat.

“Saya melihat banyak mahasiswa Jepang yang tertarik belajar keramik di Bali. Setelah mengunjungi beberapa pura, saya juga merasakan kekayaan spiritual dan budaya yang dimiliki Bali. Pengalaman seperti ini tentu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa Jepang untuk belajar di sini,” ungkapnya.

Ia berharap koordinasi dan kerja sama yang erat antara BESTie CO., Ltd., Hasami Tohjiki Industrial Association, dan ISI BALI dapat terus terjalin sehingga seluruh rangkaian pelatihan hingga pelaksanaan magang internasional dapat berlangsung dengan lancar serta memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.

Program magang internasional di Hasami merupakan implementasi awal dari MoU dan PKS yang telah disepakati antara ISI BALI dengan mitra di Jepang. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar di salah satu sentra keramik terkemuka di Jepang, tetapi juga berkesempatan memperluas wawasan internasional, meningkatkan kompetensi profesional, serta memperkuat jejaring kerja sama seni dan industri kreatif antara Indonesia dan Jepang. (ISIBALI/Humas)

ISI BALI dan ARMA Gelar Pameran Kriya Internasional

ISI BALI dan ARMA Gelar Pameran Kriya Internasional

Hadirkan 79 Karya dari Delapan Negara

Foto: Rektor ISI BALI meninjau pameran kriya internasional “Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma” di ARMA, Ubud, Minggu (5/7).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) bekerja sama dengan Agung Rai Museum of Art (ARMA) menghadirkan pameran kriya internasional bertajuk “Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma” sebagai bagian dari rangkaian peringatan 30 tahun ARMA. Pameran dibuka oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, Minggu (5/7), di ARMA, Ubud.

Pameran yang dikuratori oleh Jean Couteau, Wayan Seriyoga Parta, dan Warih Wisatsana ini menjadi ruang apresiasi sekaligus perjumpaan seniman kriya dari berbagai negara. Sebanyak 50 seniman dari delapan negara, yakni Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, Iran, dan Indonesia, menampilkan 79 karya dua dan tiga dimensi yang merepresentasikan beragam medium seni kriya.

Ketua Panitia Pameran, Prof. Dr. Wayan Suardana, menjelaskan bahwa pameran ini merupakan salah satu agenda dalam peringatan HUT ke-30 ARMA yang jatuh pada 9 Juni 2026. Melalui kolaborasi dengan Program Studi Kriya ISI BALI, ARMA menghadirkan pameran kriya berskala internasional yang berlangsung 5-18 Juli 2026.

Prof. Suardana menambahkan, selain diikuti seniman internasional, pameran juga melibatkan dosen dan praktisi seni dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, antara lain ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, ISBI Bandung, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Institut Informatika Indonesia Surabaya, Universitas Muhammadiyah Bandung, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Bumigora Nusa Tenggara Barat, serta kelompok seniman seni rupa Surabaya.

Foto: Pameran kriya internasional “Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma” di ARMA, Ubud, Minggu (5/7).

Sebanyak 79 karya yang dipamerkan terdiri atas 28 karya patung keramik, 6 karya terakota, 9 guci keramik, 4 karya kriya logam, 3 keris, 6 karya wastra, 3 karya batik seni, 2 karya kriya kayu, 4 tapestri, 6 karya mixed media, 1 wayang kulit, dan 4 instalasi.

Dalam sambutannya, Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana memberikan apresiasi kepada Program Studi Kriya ISI BALI yang menjadi penggagas sekaligus pelaksana utama pameran tersebut.

“Pameran ini merupakan inisiatif murni Program Studi Kriya ISI BALI tanpa dukungan pendanaan dari instansi. Ini menunjukkan semangat berkarya dan kemampuan membangun jejaring kolaborasi yang patut diapresiasi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa seni kriya selama ini kerap dipandang sebatas kerajinan atau produk massal, padahal sejatinya merupakan hasil olah cipta yang lahir dari perjalanan panjang peradaban manusia. Menurutnya, seni dan kriya tidak seharusnya dipisahkan karena keduanya sama-sama lahir dari proses perenungan, kreativitas, dan pencarian makna, dengan seni kriya memiliki nilai artistik sekaligus daya guna.

Rektor menjelaskan bahwa tema Prakriti–Pustaka–Padma menawarkan refleksi filosofis mengenai proses lahirnya sebuah karya kriya. Prakriti mengingatkan bahwa alam merupakan sumber inspirasi, material, energi, sekaligus pengetahuan. Pustaka menegaskan bahwa kreativitas tumbuh melalui tradisi intelektual, pengalaman empiris, eksplorasi teknik, dan dialog budaya. Sementara Padma melambangkan pencapaian estetika yang lahir dari penghayatan mendalam sehingga karya kriya memiliki nilai fungsional, artistik, spiritual, serta kemanusiaan yang bersifat universal.

“Seni kriya bukanlah seni kelas dua. Pameran ini menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa seni merupakan bagian penting dalam pembangunan peradaban. Dari alam lahir kreativitas, melalui ilmu karya dimatangkan, dan melalui keindahan nilai budaya diwariskan kepada generasi mendatang,” tegas Guru Besar Bidang Sejarah Seni ini.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Wayan “Kun” Adnyana juga menyampaikan perkembangan kerja sama internasional ISI BALI di bidang seni kriya. Ia mengungkapkan bahwa ISI BALI telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan Hasami Tohjiki Industrial Association dan BESTie Co., Ltd., di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang. Melalui implementasi kerja sama tersebut, ISI BALI akan mengembangkan skema kurikulum magang internasional yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengikuti pelatihan bahasa Jepang dan keterampilan keramik sebelum menjalani program magang sekaligus bekerja di industri keramik Hasami, Jepang.

Ia turut menyampaikan penghargaan kepada keluarga besar ARMA atas ruang kolaborasi yang telah dibangun, serta kepada para kurator, dosen, mahasiswa, alumni, seniman peserta, panitia, dan seluruh mitra yang telah berkontribusi menyukseskan pameran.

Sementara itu, Pendiri ARMA, Anak Agung Gde Rai, menyampaikan apresiasi kepada ISI BALI atas sinergi yang terus terjalin. Menurutnya, pameran “Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma” tidak hanya menghadirkan karya seni, tetapi juga merepresentasikan semangat untuk terus bertumbuh.

Agung Rai berharap pameran ini menjadi saksi bahwa dari Ubud, dari Bali, kita terus merajut dunia. Bahwa kriya bukan benda mati, melainkan pusaka hidup yang terus menjadi.

“Becoming bukan sekadar judul. Ia mencerminkan proses panjang untuk terus menjadi. Dari sebuah mimpi kecil di Ubud, ARMA tumbuh menjadi tempat bertemunya dunia dengan jiwa Bali. Spirit becoming itulah yang kami lihat menyala dalam karya-karya kriya yang dipamerkan hari ini,” ungkapnya. (ISIBALI/Humas)

ISI BALI dan Wake Forest University Lahirkan Film Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali

ISI BALI dan Wake Forest University Lahirkan Film Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali

Foto: Dosen ISI BALI, I Gde Made Indra Sadguna, Ph.D. (kiri), dan Professor Elizabeth A. Clendinning dari Wake Forest University (kanan) dalam pemutaran perdana film dokumenter Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali, Senin (29/6) di Ruang Vicon ISI BALI.

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) dan Wake Forest University, Amerika Serikat menyelenggarakan pemutaran perdana (screening) film dokumenter Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali pada Senin (29/6) di Ruang Vicon Gedung Citta Kelangen Lantai 2 ISI BALI. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk diseminasi hasil penelitian kolaboratif antara dosen ISI BALI, I Gde Made Indra Sadguna, Ph.D., dan Professor Elizabeth A. Clendinning dari Wake Forest University.

Kegiatan tersebut merupakan implementasi dari Memorandum of Agreement (MoA) antara Institut Seni Indonesia Denpasar (kini ISI BALI) dan Wake Forest University yang ditandatangani pada 12 Juli 2023. Melalui kerja sama tersebut, kedua peneliti mengembangkan riset mengenai instrumen musik tradisional Bali, khususnya suling dan sunari, yang telah berlangsung sejak tahun 2024.

Dosen ISI BALI, I Gde Made Indra Sadguna, Ph.D. mengatakan penelitian tersebut pada awalnya berfokus pada aspek artistik suling Bali. Namun dalam perkembangannya, tim peneliti menemukan bahwa suling tidak dapat dipisahkan dari sunari serta ekosistem budaya yang melingkupinya. Hal ini kemudian memperluas cakupan penelitian, tidak hanya membahas instrumen musik sebagai benda seni, tetapi juga mengkaji hubungan antara material bambu, proses kreatif masyarakat, praktik budaya, hingga nilai-nilai spiritual yang hidup dalam masyarakat Bali.

Menurut Indra Sadguna, penelitian ini bertujuan memperkenalkan kearifan lokal Bali kepada masyarakat internasional melalui pendekatan akademik dan media visual. “Kami ingin semakin banyak masyarakat global memahami kearifan lokal Bali. Awalnya penelitian hanya berfokus pada suling, tetapi kami menyadari bahwa suling dan sunari merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan Bali. Dari sana penelitian berkembang menjadi kajian yang lebih luas mengenai hubungan antara alam, manusia, seni, dan Tuhan melalui pemanfaatan bambu,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa bambu dalam tradisi Bali bukan sekadar bahan baku pembuatan alat musik, melainkan memiliki makna filosofis yang mencerminkan penerapan konsep Tri Hita Karana, yaitu harmoni hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Perspektif tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat internasional memahami kebudayaan Bali secara lebih utuh.

Foto: Diskusi dalam pemutaran perdana film dokumenter Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali, Senin (29/6) di Ruang Vicon ISI BALI.

Kolaborasi penelitian ini telah menghasilkan sejumlah luaran akademik dan kreatif. Salah satunya adalah bab buku berjudul Crafting Harmony: Sustainable Instrument Production in Bali yang diterbitkan pada tahun 2025 oleh Universitätsverlag Hildesheim, Jerman. Selain itu, penelitian tersebut juga melahirkan film dokumenter Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali yang mengangkat nilai budaya, filosofi, dan praktik keberlanjutan dalam pemanfaatan bambu di Bali.

Film dokumenter tersebut diproduksi dengan dukungan program Wake the Arts dari Wake Forest University serta American Institute for Indonesian Studies (AIFIS). Seusai pemutaran perdana, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama para peneliti untuk membahas proses penelitian, substansi film, serta relevansinya terhadap pengembangan kajian seni dan budaya Bali.

Film Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali juga akan diperkenalkan kepada khalayak internasional melalui penayangan dalam Simposium Gabungan ICTMD kelompok studi Performing Arts of Southeast Asia (PASEA) di Chang Mai, Thailand, 2-8 Juli 2026 sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan diseminasi hasil penelitian lintas negara. (ISIBALI/Humas)

Foto: Pimpinan ISI BALI bersama narasumber dan peneliti dalam pemutaran perdana film dokumenter Guna Pering: The Use of Bamboo in Bali, Senin (29/6) di Ruang Vicon ISI BALI.

Rektor ISI BALI Lantik Koordinator Prodi Desain Produk dan 16 PNS

Rektor ISI BALI Lantik Koordinator Prodi Desain Produk dan 16 PNS

Foto: Pengambilan sumpah dan pelantikan Koordinator Prodi Desain Produk serta 16 Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan ISI BALI, Senin (29/6) di Studio Media Rekam ISI BALI.

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) kembali memperkuat tata kelola kelembagaan melalui pengambilan sumpah dan pelantikan Koordinator Program Studi (Prodi) Desain Produk serta 16 Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan ISI BALI. Pelantikan dipimpin langsung oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn., pada Senin (29/6) di Studio Media Rekam ISI BALI.

Dalam pelantikan tersebut, Dr. I Kadek Dwi Noorwatha, S.Sn., M.Ds., resmi dilantik sebagai Koordinator Program Studi Desain Produk. Ia menggantikan Wahyu Indira, S.Sn., M.Sn., yang sebelumnya menjabat sebagai Koordinator Prodi Desain Produk dan telah berpulang pada Selasa (2/6) karena sakit.

Selain melantik Koordinator Prodi Desain Produk, Rektor ISI BALI juga mengambil sumpah dan melantik 16 Pegawai Negeri Sipil di lingkungan ISI BALI. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12 orang merupakan dosen dan empat orang merupakan tenaga kependidikan yang akan memperkuat pelaksanaan tridarma perguruan tinggi serta pelayanan administrasi di lingkungan kampus.

Foto: Pengambilan sumpah dan pelantikan Koordinator Prodi Desain Produk serta 16 Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan ISI BALI, Senin (29/6) di Studio Media Rekam ISI BALI.

Dalam sambutannya, Rektor ISI BALI menyampaikan bahwa pelantikan merupakan amanah sekaligus bentuk kepercayaan yang harus dijalankan dengan penuh integritas, profesionalisme, dan tanggung jawab. Menurutnya, setiap jabatan dan status sebagai aparatur sipil negara membawa konsekuensi untuk memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan institusi.

Kepada Koordinator Program Studi Desain Produk yang baru, Rektor berharap kepemimpinan yang dijalankan mampu melanjutkan berbagai program pengembangan akademik yang telah dirintis sebelumnya, sekaligus menghadirkan inovasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, kepada para PNS yang baru dilantik, Rektor berpesan agar senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai ASN, menjaga etika profesi, serta bekerja secara kolaboratif dalam mendukung visi ISI BALI menjadi perguruan tinggi seni yang berkarakter, unggul, dan bereputasi global.

Prosesi pelantikan berlangsung dengan khidmat dan disaksikan oleh seluruh pejabat struktural di lingkungan ISI BALI. Momentum ini menjadi bagian dari upaya penguatan sumber daya manusia sekaligus memastikan keberlanjutan tata kelola organisasi dalam mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi secara optimal. (ISIBALI/Humas)

Loading...