Foto: Gelaran Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD)
Ajang dinanti ekosistem inovasi seni dan desain Asia-Pasifik, itulah Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD). Pasca dua kali perhelatan yang diapresiasi perguruan tinggi penyelenggara pendidikan seni dan desain di Asia-Pasifik, ISI BALI menghadirkan B-GAAD III dengan penuh optimisme dan empati persaudaraan lintas bangsa.
Mengusung tema “Roh-Rong-Reh: Soul-Space-Sincerity atau Jiwa-Jagat-Junjung”, B-GAAD III menjadi ruang pertukaran gagasan, jejaring, serta komunikasi strategis antarlembaga pendidikan tinggi seni dan desain di kawasan Asia-Pasifik. Dihelat 27 – 30 Oktober 2026 diselenggarakan di Kampus Meraya Citta ISI BALI, Neka Art Museum, Komaneka Art Gallery, serta beberapa ruang budaya di Bali.
B-GAAD II Tahun 2025 diikuti 11 perguruan tinggi dari berbagai negara, antara lain Malaysia, Kazakhstan, Singapura, Thailand, Australia, Jepang, Amerika Serikat, Bangladesh, dan Republik Korea. Perhelatan tersebut menghadirkan sejumlah program unggulan, seperti Bali-Global Arts and Design Symposium (B-GADS) dengan 26 pembicara internasional, Bali-Global Art Map Exhibition (B-GAME) yang melibatkan 60 perupa berpengaruh, serta Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) yang melibatkan 108 desainer dari Indonesia dan mancanegara.
Pada penyelenggaraan tahun ini, B-GAAD III mengembangkan cakupan kolaborasi melalui delapan program unggulan, yakni B-GAAD’s Leader Summit, Bali-Global Arts and Design Symposium (B-GADS), Bali-Global Performing Arts Map (B-GPAM), Bali-Global Art Map Exhibition (B-GAME), Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME), Bali-Global Encounter Figure (B-GEF), Bali-Global Authentic Trip (B-GAT), serta Bali-Global Expo and Job Fair (B-GEJF).
Ketua Panitia Pelaksana B-GAAD III, Dr. Kadek Dwiyani mengatakan, sejumlah perguruan tinggi dan institusi internasional telah mengonfirmasi partisipasi, di antaranya Dongduck Women’s University dan Sungkyunkwan University, Republik Korea; Brigham Young University, Amerika Serikat; University of Canterbury, Selandia Baru; Graduate Institute of Musicology, National Taiwan University, Taiwan; LASALLE College of the Arts, Singapura; serta Universiti Malaysia Kelantan dan Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan (ASWARA), Malaysia.
Foto: Penghargaan Internasional Bali-Bhuwana Nata Kerthi Nugraha
Memulia dedikasi dan reputasi sosok mumpuni, ISI BALI menyematkan penghargaan nasional dan internasional setiap tahun. Pada naungan energisitas “tahun kuda api” ini, dianugerahkan penghargaan nasional Bali-Dwipantara Nata Kerthi Nugraha VI dan penghargaan internasional Bali-Bhuwana Nata Kerthi Nugraha VI Tahun 2026. Penghargaan nasional dirayakan serangkaian Wisuda Wisuda Sarjana, Sarjana Terapan, Magister, dan Doktor ke-40 Semester Genap, pada Kamis (27/8) ini. Sebelumnya, pada serangkaian Dies Natalis XXIII pada Jumat, 27 Februari 2026.
Penghargaan Nasional Bali Dwipantara Nata Kerthi Nugraha tahun ini disematkan kepada lima tokoh terpilih yang bereputasi sekaligus memiliki dedikasi, kecintaan, dan spirit pemajuan seni budaya. Kelima tokoh dimaksud, yaitu Jero Gede Duhuran Batur (tokoh pengayom seni budaya Bali), ABG Satria Naradha (tokoh pers nasional dan pencinta seni budaya), Luh Made Asmariani Budhi (entrepreneur dan pencinta seni), I Nyoman Sudiana, S.Skar., M.Si (tokoh pembina Karawitan Bali), Wahyu Indira, S.Sn., M.Sn (Dosen Penggerak – Desainer Komunikasi Visual).
Sebelumnya, pada Dies Natalis XXIII yang juga dirangkai pembukaan Festival Internasional Bali Padma Bhuwana VI, 27 Februari 2026, dianugerahkan penghargaan internasional Bali-Bhuwana Nata Kerthi Nugraha kepada lima tokoh seni dan budaya yang dinilai memiliki kontribusi besar dalam merawat, mengembangkan, serta mempromosikan seni dan budaya Bali di kancah global.
Lima penerima penghargaan tersebut, yaitu Dr. Mochammad Fadjroel Rachman, S.E., M.H., (sastrawan dan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Kazakhstan merangkap Tajikistan); Jeon Dongsu (seniman sekaligus Chairman Committee of Artist for World Peace, Korea Selatan); Mohd Asri Bin Abdul Ghafar (maesenas seni pertunjukan, Malaysia); Prof. Dr. Ni Made Arshiniwati, SST., M.Si., (akademisi dan seniman tari, Indonesia); serta Drs. I Made Bendi Yudha, M.Sn., (akademisi dan perupa, Indonesia).
Kedua penghargaan prestisius ISI BALI tersebut diatur dalam Peraturan Rektor ISI Denpasar Nomor 2 Tahun 2022 sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Peraturan Rektor ISI Denpasar Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Rektor ISI Denpasar Nomor 2 Tahun 2022 Tentang Penghargaan Institut Seni Indonesia Denpasar.
Foto: Pameran Bali–Dwipantara Adirupa VI bertajuk “Rupa Jnana Rasmi: Pendar Mahaindah Karisma Pengetahuan”, Rabu (26/8) di Nata-Citta Art Space, ISI BALI.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) kembali menghadirkan ruang perjumpaan bagi para perupa dan desainer melalui Pameran Bali–Dwipantara Adirupa VI bertajuk “Rupa Jnana Rasmi: Pendar Mahaindah Karisma Pengetahuan”. Pameran yang merupakan rangkaian program Bali Sangga Dwipantara VI ini dibuka secara resmi pada Rabu (26/8) di Nata-Citta Art Space, ISI BALI, dan akan berlangsung hingga 25 September 2026.
Pameran dibuka oleh Ida Bagus Sidharta Putra, maesenas sekaligus pencinta seni, serta dihadiri Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, para perupa dan desainer, sivitas akademika, pemerhati seni, serta undangan lainnya. Kehadiran pameran ini menjadi bagian dari upaya ISI BALI untuk terus membangun ekosistem seni yang mempertemukan praktik penciptaan, pengetahuan, kreativitas, dan apresiasi publik.
Mengusung tema “Rupa Jnana Rasmi” yang dimaknai sebagai “Pendar Mahaindah Karisma Pengetahuan”, pameran mengeksplorasi hubungan antara rupa dan pengetahuan melalui beragam karya seni visual. Rupa tidak semata diposisikan sebagai bentuk estetik, tetapi juga sebagai medium untuk merefleksikan pengalaman, gagasan, tradisi, perkembangan teknologi, serta berbagai persoalan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Foto: Pameran Bali–Dwipantara Adirupa VI bertajuk “Rupa Jnana Rasmi: Pendar Mahaindah Karisma Pengetahuan”, Rabu (26/8) di Nata-Citta Art Space, ISI BALI.
Kurator pameran, Arif B. Prasetyo, Warih Witsastana, dan Ni Wayan Idayati, menghimpun karya-karya yang memperlihatkan keberagaman perspektif dan pendekatan artistik. Arif B. Prasetyo dalam sambutan kuratorial menyampaikan bahwa Pameran BALI–DWIPANTARA ADIRUPA VI tahun ini diikuti 147 perupa dan desainer yang menghadirkan 117 karya.
Menurut Arif, karya-karya yang ditampilkan berangkat dari beragam latar penciptaan dan cara pengolahan medium. Keragaman tersebut sekaligus mencerminkan pengalaman personal maupun kolektif para seniman, serta persinggungan dengan tradisi, teknologi, dan dinamika persoalan keseharian. Dengan demikian, pameran menjadi ruang untuk melihat bagaimana pengetahuan dan pengalaman dapat diterjemahkan ke dalam bahasa rupa yang beragam.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, menegaskan pentingnya ruang pamer sebagai wahana apresiasi. Menurutnya, apresiasi pada dasarnya bertumpu pada semangat persahabatan atau brotherhood, yang kemudian bertemali dengan pertukaran ide dan gagasan.
“Ruang pameran adalah wahana apresiasi. Apresiasi dasarnya adalah persahabatan, brotherhood. Persahabatan yang bertemali dengan ide-ide membuat semua bergerak, semua hidup,” ujar Prof. Kun.
Ia menambahkan, ruang pamer tidak hanya menjadi tempat untuk menampilkan karya, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang memungkinkan seniman, akademisi, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan seni untuk saling bertukar gagasan. Dari perjumpaan tersebut, seni diharapkan terus tumbuh, bergerak, dan memberikan dampak yang lebih luas bagi kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Ida Bagus Sidharta Putra mengapresiasi konsistensi ISI BALI dalam menghadirkan ruang-ruang seni sekaligus mengambil peran dalam pelestarian dan promosi seni serta budaya Bali. Menurutnya, keberadaan institusi pendidikan seni memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan kekayaan seni budaya Bali di tengah perkembangan zaman.
Pameran BALI–DWIPANTARA ADIRUPA VI menjadi salah satu upaya ISI BALI memperkuat ekosistem seni melalui pertemuan antara penciptaan, pengetahuan, dan apresiasi. Dengan melibatkan ratusan perupa dan desainer serta menghadirkan karya-karya dari beragam latar penciptaan, pameran ini diharapkan membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai perkembangan seni visual sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai ruang penting bagi pertumbuhan dan perjumpaan seni.
Foto: Workshop Survey, Statistik, dan Pelacakan Alumni di Ruang Vicon ISI BALI, Jumat (21/8),
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menyelenggarakan Workshop Survey, Statistik, dan Pelacakan Alumni sebagai bagian dari rangkaian Program Bali Citta Samasta (Festival Seni Alumni) Tahun 2026. Kegiatan berlangsung di Ruang Vicon ISI BALI, Jumat (21/8), dan diikuti jajaran pimpinan ISI BALI, koordinator program studi, serta tim survei.
Workshop dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi ISI BALI, Prof. Dr. AA Gde Bagus Udayana. Kegiatan menghadirkan Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Bali, Dewa Ayu Eka Sumarningsih, SST, SAB, M.Stat., bersama Kepala Pusat Survey dan Statistik ISI BALI, I Nyoman Payu Yasa, S.Pd., M.Pd., serta Kepala Bagian Umum LPMPP ISI BALI, I Gede Indra Suwija Putra, S.H., sebagai narasumber.
Kepala Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) ISI BALI, Prof. Dr. I Wayan Setem, dalam laporannya menjelaskan bahwa Bali Citta Samasta merupakan salah satu wujud pelaksanaan misi ISI BALI melalui Astha Mahacitta Bali. Pelaksanaannya mengacu pada ketentuan Pasal 4 Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 50 Tahun 2025 tentang Statuta Institut Seni Indonesia Bali, serta berpedoman pada regulasi terkait pelacakan alumni atau tracer study di lingkungan ISI BALI.
Menurutnya, Bali Citta Samasta dirancang sebagai ruang interaksi sekaligus wahana kolaborasi antara ISI BALI dan para alumninya. Melalui kegiatan tersebut, kampus tidak hanya membangun jejaring dengan lulusan, tetapi juga memperkuat sistem pendataan dan pelacakan alumni sebagai bagian penting dalam mengukur keberhasilan pendidikan tinggi.
“Pelaksanaan Bali Citta Samasta bertujuan memberikan ruang interaksi dan wahana kolaborasi antara ISI BALI dengan alumni yang kemudian bermuara pada pemenuhan IKU 2,” ujar Prof. I Wayan Setem.
IKU 2 berkaitan dengan persentase lulusan pendidikan tinggi yang dalam jangka waktu satu tahun setelah kelulusan telah bekerja, berwirausaha, atau melanjutkan studi, termasuk lulusan yang telah bekerja atau berwirausaha sebelum menyelesaikan pendidikan. Karena itu, akurasi data alumni dan pelaksanaan tracer study menjadi bagian penting dalam memastikan capaian indikator tersebut dapat terukur secara baik.
Lebih lanjut, Bali Citta Samasta juga diharapkan memberikan kontribusi terhadap penyusunan Laporan Pemenuhan Indikator Dampak Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Perguruan Tinggi di lingkungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Kontribusi tersebut antara lain berkaitan dengan dampak sosial melalui pendidikan inklusif dan afirmasi, serta dampak ekonomi yang mencakup kontribusi ekonomi dari mahasiswa dan masyarakat yang menghadiri atau berkunjung ke perguruan tinggi maupun kegiatan yang diselenggarakan perguruan tinggi.
Selain itu, kegiatan ini juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan dan spin-off/start-up yang memperoleh dukungan atau fasilitasi dari perguruan tinggi. Dengan demikian, keberadaan alumni diharapkan tidak berhenti pada hubungan setelah kelulusan, tetapi berkembang menjadi jejaring yang memberikan dampak bagi institusi, alumni, masyarakat, dan perekonomian.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. AA Gde Bagus Udayana menekankan pentingnya pengelolaan data yang akurat sebagai dasar pengambilan kebijakan akademik dan pengembangan institusi. Ia berharap workshop dapat meningkatkan kapasitas tim survei dan program studi dalam melakukan pengumpulan, pengolahan, analisis, serta pemanfaatan data alumni secara sistematis.
Ia juga mendorong agar pelacakan alumni tidak dipandang semata-mata sebagai kewajiban administratif untuk memenuhi indikator kinerja, tetapi menjadi instrumen strategis bagi ISI BALI untuk mengetahui relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja, perkembangan karier lulusan, serta kontribusi alumni di tengah masyarakat. Melalui workshop ini, ISI BALI diharapkan semakin mampu membangun sistem survey dan pelacakan alumni yang terintegrasi, akurat, dan berkelanjutan. Data yang dihasilkan selanjutnya menjadi pijakan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat hubungan dengan alumni, sekaligus memastikan keberadaan ISI BALI sebagai kampus berdampak yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Buleleng, Bali — Upaya menjaga keberlanjutan seni tradisi di tengah derasnya perubahan sosial dan perkembangan teknologi terus dilakukan melalui berbagai pendekatan inovatif. Salah satunya diwujudkan melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang mengangkat revitalisasi Tari Rejang Keraman di Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali.Program ini tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan bentuk dan ritus Tari Rejang Keraman sebagaimana diwariskan oleh generasi terdahulu, tetapi juga dikembangkan sebagai upaya menjaga keberlanjutan sistem pengetahuan budaya agar tetap hidup, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Tari Rejang Keraman merupakan salah satu tari sakral yang memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Desa Kedis. Tari ini hadir dalam rangkaian upacara keagamaan desa adat dan memiliki karakteristik yang menarik karena melibatkan perempuan dan laki-laki secara setara. Keterlibatan tersebut mencerminkan nilai kebersamaan, gotong royong, dan kesetaraan peran yang hidup dalam masyarakat setempat. Namun, keberlanjutan Tari Rejang Keraman menghadapi tantangan seiring perubahan pola kehidupan masyarakat dan perkembangan teknologi. Selama ini, proses pewarisan tari masih banyak mengandalkan transmisi lisan dan praktik langsung dari generasi senior kepada generasi berikutnya. Pola tersebut memiliki nilai penting karena memungkinkan terjadinya transfer pengalaman secara langsung, tetapi sekaligus menghadapi tantangan ketika generasi muda semakin akrab dengan pola belajar visual, audiovisual, dan berbasis teknologi digital.
Kondisi tersebut menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program PISN. Keterbatasan media pembelajaran yang sistematis berpotensi menimbulkan persoalan dalam proses regenerasi, mulai dari penyederhanaan struktur gerak, kurangnya pemahaman terhadap pola lantai, hingga berkurangnya pemahaman terhadap makna simbolik yang terkandung dalam Tari Rejang Keraman. Karena itu, pelestarian seni tradisi dipandang tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan konservatif dengan mempertahankan bentuk yang telah ada. Pelestarian perlu dikembangkan sebagai proses adaptasi yang memungkinkan pengetahuan budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Menjembatani Tradisi dan Teknologi
Melalui program PISN, tim pengabdian mengembangkan pendekatan pembelajaran yang memadukan praktik seni tradisi dengan media audiovisual. Video pembelajaran dirancang bukan sekadar sebagai dokumentasi pertunjukan, tetapi sebagai media alih pengetahuan yang dapat digunakan dalam proses latihan dan pembelajaran Tari Rejang Keraman. Media tersebut dikembangkan untuk membantu peserta memahami struktur gerak, pola lantai, serta konteks dan makna simbolik tari secara lebih sistematis. Visualisasi gerak secara bertahap diharapkan dapat memudahkan generasi muda dalam mempelajari materi tari sekaligus membantu menjaga ketepatan bentuk gerak yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Dengan pendekatan tersebut, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti praktik tradisi, melainkan sebagai sarana pendukung untuk memperkuat proses pewarisan. Pengetahuan yang sebelumnya banyak disampaikan secara lisan dan melalui praktik langsung mulai diperkuat melalui dokumentasi audiovisual yang dapat dipelajari kembali secara berulang. Pendekatan ini sekaligus membuka ruang pembelajaran seni yang lebih adaptif. Generasi muda dapat tetap belajar dari penari senior dan pelaku budaya, tetapi memiliki media pendamping yang memungkinkan mereka mengulang materi secara mandiri di luar waktu latihan bersama.
Berangkat dari Potensi Masyarakat Desa Kedis
Pelaksanaan program melibatkan Kelompok Seni Kencana Jaya Paksi sebagai mitra masyarakat. Kelompok ini memiliki peran penting dalam aktivitas seni dan budaya masyarakat Desa Kedis serta memiliki keterlibatan langsung dalam praktik Tari Rejang Keraman. Potensi sumber daya manusia yang dimiliki mitra menjadi modal utama dalam pelaksanaan program. Para pelaku seni dan penari senior memiliki pengetahuan empirik mengenai bentuk gerak, tata cara pelaksanaan, serta konteks budaya Tari Rejang Keraman. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi sumber utama dalam proses dokumentasi dan pengembangan media pembelajaran. Di sisi lain, mitra juga menghadapi kebutuhan terhadap metode pembelajaran yang lebih terstruktur, dokumentasi gerak yang dapat digunakan sebagai rujukan, serta media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Pertemuan antara potensi dan kebutuhan tersebut kemudian menjadi dasar bagi pengembangan program yang bersifat kolaboratif. Tim pengabdian tidak hanya membawa teknologi kepada masyarakat, tetapi juga belajar dari pengetahuan lokal yang dimiliki para pelaku tradisi. Dengan demikian, proses revitalisasi tidak menghilangkan otoritas masyarakat sebagai pemilik dan pelaku budaya. Sebaliknya, masyarakat ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses produksi pengetahuan, dokumentasi, pembelajaran, dan keberlanjutan Tari Rejang Keraman.
Dilaksanakan Bertahap dari Mei hingga Agustus
Program PISN dilaksanakan melalui beberapa tahapan kegiatan sejak bulan Mei hingga Agustus. Tahap awal pada bulan Mei difokuskan pada koordinasi internal tim pelaksana, sosialisasi program kepada mitra dan pemangku kepentingan, identifikasi kebutuhan serta pemetaan permasalahan mitra, dan penyusunan materi pelatihan Tari Rejang Keraman.
Tahapan tersebut menjadi fondasi penting sebelum program memasuki proses pelatihan dan produksi media. Identifikasi kebutuhan dilakukan untuk memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kondisi masyarakat dan kebutuhan mitra.
Selanjutnya, pada bulan Juni hingga Agustus dilaksanakan pelatihan Tari Rejang Keraman tahap I dan tahap II, perekaman gerak dan dokumentasi Tari Rejang Keraman, penyusunan serta pengolahan media pembelajaran interaktif, dan uji pemanfaatan media pembelajaran dalam kegiatan latihan.
Proses perekaman tidak hanya memperhatikan aspek estetika visual, tetapi juga diarahkan untuk mendokumentasikan gerak tari secara sistematis agar dapat digunakan sebagai sumber belajar. Hasil dokumentasi kemudian diolah menjadi media pembelajaran yang lebih komunikatif dan mudah digunakan dalam kegiatan latihan. Uji pemanfaatan media dilakukan bersama mitra dalam situasi latihan. Tahapan ini penting untuk memperoleh pengalaman langsung mengenai sejauh mana media dapat membantu proses pembelajaran dan bagaimana media tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta.
Dari Pelestarian Menuju Keberlanjutan Pengetahuan Budaya
Program revitalisasi Tari Rejang Keraman menunjukkan bahwa pelestarian seni tradisi pada era digital tidak harus mempertentangkan tradisi dengan teknologi. Keduanya dapat dipertemukan melalui strategi yang tetap menghormati nilai, makna, fungsi ritual, serta pengetahuan lokal yang melekat pada sebuah karya seni.
Video pembelajaran yang dikembangkan dalam program ini diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat regenerasi penari dan menjaga kesinambungan pengetahuan Tari Rejang Keraman. Lebih jauh, media tersebut dapat menjadi bagian dari sistem dokumentasi budaya masyarakat Desa Kedis yang dapat dimanfaatkan oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang. Upaya tersebut juga memiliki relevansi dengan pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Pengembangan media pembelajaran seni tradisi berbasis teknologi tidak hanya berbicara mengenai pelestarian kebudayaan, tetapi juga mendorong masyarakat untuk memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan akar budaya.
Program ini sejalan dengan semangat Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045, khususnya agenda penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan, sains, teknologi, dan prestasi. Pada saat yang sama, inovasi pembelajaran seni tradisi juga memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan akses pembelajaran yang lebih inovatif dan kontekstual, serta SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan melalui pemanfaatan teknologi untuk memperkuat kapasitas pengetahuan masyarakat di wilayah pedesaan.
Apresiasi untuk Pemerintah dan Tim Pengabdian
Pelaksanaan program revitalisasi Tari Rejang Keraman ini tidak terlepas dari dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui BIMA dalam skema Pengabdian Program Inovasi Seni Nusantara (PISN). Dukungan tersebut memberikan ruang bagi perguruan tinggi untuk tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian, tetapi juga hadir secara nyata di tengah masyarakat melalui pengembangan dan penerapan inovasi seni yang berangkat dari kebutuhan lokal.
Tim pengabdian menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui BIMA atas dukungan terhadap pelaksanaan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN). Melalui program ini, tim memperoleh kesempatan untuk berkontribusi secara langsung dalam menjaga keberlanjutan seni tradisi sekaligus memberikan sumbangsih bagi masyarakat melalui inovasi pembelajaran seni berbasis teknologi.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada masyarakat Desa Kedis, para pelaku seni, pemangku kepentingan desa adat, serta Kelompok Seni Kencana Jaya Paksi yang telah berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan. Program ini dilaksanakan oleh tim pengabdian yang terdiri atas Prof. Dr. Ni Luh Sustiawati sebagai Ketua Tim Pengabdian, Dr. I Nyoman Larry Julianto sebagai Anggota Pengabdian, dan Dr. I Gusti Putu Sudarta sebagai Anggota Tim Pengabdian. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan tidak berhenti sebagai sebuah program, tetapi dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan.
Menjaga Tradisi agar Tetap Hidup
Revitalisasi Tari Rejang Keraman pada akhirnya bukan sekadar tentang mendokumentasikan sebuah tari tradisional. Lebih dari itu, program ini merupakan upaya menjaga pengetahuan, nilai, identitas, dan praktik budaya masyarakat agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Tradisi tidak harus berhenti pada masa lalu. Dengan strategi yang tepat, teknologi justru dapat menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman generasi terdahulu dengan cara belajar generasi masa kini.
Melalui inovasi pembelajaran digital, Tari Rejang Keraman diharapkan tidak hanya tetap hadir dalam ritual masyarakat Desa Kedis, tetapi juga terus dipahami, dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan oleh generasi berikutnya.
Dengan demikian, pelestarian seni tradisi bukan sekadar mempertahankan apa yang pernah ada, melainkan memastikan agar pengetahuan budaya tetap memiliki kehidupan, fungsi, dan makna bagi masyarakat pada masa kini dan masa yang akan datang.
Gambar 1. Koordinasi internal tim pelaksana dan Sosialisasi program kepada mitra dan pemangku kepentingan di Desa Kedis
Gambar 2. Pelaksanaan pelatihan Tari Rejang Keraman
DENPASAR – Permainan tradisional Bali tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga menyimpan potensi sebagai sumber pembelajaran seni yang mampu melibatkan tubuh, bunyi, ritme, sentuhan, dan interaksi sosial. Potensi tersebut kini dikembangkan melalui program “Ngenkebang Batu: Penciptaan Tari Intermedia Berbasis Permainan Tradisional Bali sebagai Media Peningkatan Kepekaan Sensorik dan Kesadaran Budaya bagi Tunanetra.”
Program pengabdian yang dilaksanakan di Desa Penatih Dangin Puri, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar, ini menghadirkan pendekatan seni tari yang lebih inklusif dengan menempatkan penyandang tunanetra sebagai subjek aktif dalam proses penciptaan dan pengalaman artistik. Program tersebut dilaksanakan bersama Sanggar Seni Kukuruyuk, sebuah sanggar yang selama ini aktif dalam pengembangan permainan tradisional dan kegiatan kebudayaan Bali. Melalui kolaborasi tersebut, permainan tradisional Bali ngenkebang batu dikembangkan menjadi sumber inspirasi penciptaan tari intermedia yang mengutamakan pengalaman nonvisual.
Berbeda dengan pembelajaran tari yang pada umumnya sangat bergantung pada pengamatan gerak secara visual, program Ngenkebang Batu mengembangkan pengalaman artistik melalui bunyi, sentuhan, ritme, gerak tubuh, kesadaran ruang, serta interaksi antarpeserta. Pendekatan ini membuka peluang bagi penyandang tunanetra untuk tidak hanya menikmati seni, tetapi juga terlibat secara langsung dalam proses kreatif.
Permainan tradisional dipilih karena memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan sosial masyarakat. Dalam permainan tradisional terdapat aktivitas bergerak, mengikuti ritme, merespons bunyi, menggunakan ruang, membangun komunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Unsur-unsur tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam proses penciptaan tari intermedia.
“Melalui Ngenkebang Batu, kami ingin menunjukkan bahwa seni tari tidak harus selalu berangkat dari pengalaman visual. Tubuh, bunyi, sentuhan, ritme, dan ruang juga dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus pengalaman artistik,” ujar tim pelaksana program.
Menghubungkan Tradisi dan Seni Inklusif
Program ini berangkat dari keprihatinan terhadap masih terbatasnya ruang partisipasi penyandang tunanetra dalam praktik seni tari. Selama ini, pembelajaran dan apresiasi tari cenderung menggunakan pendekatan visual sehingga diperlukan metode yang lebih adaptif terhadap pengalaman sensorik nonvisual.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya pengembangan praktik seni yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian bentuk tradisi, tetapi juga mampu memperluas fungsi seni sebagai ruang partisipasi sosial yang setara. Melalui permainan tradisional Bali, program ini berupaya mempertemukan dua hal penting, yakni pelestarian kebudayaan dan pengembangan seni yang inklusif. Permainan ngenkebang batu tidak ditempatkan semata-mata sebagai objek budaya yang harus dilestarikan, tetapi sebagai sumber gagasan kreatif yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman seni baru. Dengan demikian, nilai-nilai yang terkandung dalam permainan seperti kebersamaan, kepekaan terhadap lingkungan, koordinasi tubuh, ritme, dan interaksi sosial dapat dihadirkan kembali dalam bentuk yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Sanggar Menjadi Ruang Eksplorasi
Pemilihan Desa Penatih Dangin Puri sebagai lokasi program juga memiliki pertimbangan tersendiri. Kawasan tersebut masih memiliki keterikatan yang kuat dengan aktivitas sosial dan budaya masyarakat Bali. Keberadaan banjar, lingkungan pemukiman, aktivitas gotong royong, serta berbagai kegiatan seni dan budaya menjadikan sanggar tidak berdiri sebagai ruang seni yang terpisah dari masyarakat. Dalam program ini, Sanggar Seni Kukuruyuk menjadi mitra utama sekaligus ruang berlangsungnya berbagai aktivitas. Pengalaman sanggar dalam mengembangkan permainan tradisional menjadi modal penting dalam proses penciptaan karya.
Rangkaian kegiatan dimulai pada Mei 2026 melalui koordinasi dan penyelarasan program bersama mitra, sekaligus sosialisasi mengenai konsep seni inklusif dan permainan tradisional.
Selanjutnya, pada Juni hingga Agustus 2026, kegiatan dikembangkan melalui sejumlah tahapan, antara lain pelatihan koreografi tari intermedia, pelatihan pendukung sensorik dan penataan ruang, pelatihan dokumentasi dan publikasi digital, proses kreatif penciptaan karya tari kolaboratif, serta penataan lingkungan sanggar berbasis sensorik. Rangkaian tersebut dirancang agar proses penciptaan tidak berhenti pada menghasilkan sebuah karya tari, tetapi juga membangun kemampuan dan pengalaman baru bagi peserta serta mitra.
Mendorong Partisipasi Budaya yang Setara
Melalui pendekatan tersebut, Ngenkebang Batu diarahkan untuk menghasilkan model penciptaan tari intermedia yang dapat meningkatkan kepekaan sensorik sekaligus kesadaran budaya penyandang tunanetra.
Peserta tidak ditempatkan sebagai penerima manfaat secara pasif, tetapi sebagai bagian dari proses penciptaan. Mereka diberikan ruang untuk mengeksplorasi gerak, bunyi, ritme, ruang, dan interaksi sehingga pengalaman artistik dibangun berdasarkan kemampuan dan pengalaman tubuh masing-masing.
Program ini sekaligus menjadi upaya memperluas pemaknaan terhadap pelestarian budaya. Kebudayaan tidak hanya dilestarikan dengan mempertahankan bentuk tradisi, tetapi juga dengan memastikan bahwa berbagai kelompok masyarakat memiliki kesempatan untuk mengenal, mengalami, dan terlibat dalam praktik kebudayaan tersebut. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan inklusif serta SDG 10 tentang pengurangan kesenjangan. Program ini juga mendukung Asta Cita poin ke-4, khususnya dalam penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.
Didukung BIMA Kemendiktisaintek melalui Program PISN
Pelaksanaan program Ngenkebang Batu tidak terlepas dari dukungan BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN). Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam memungkinkan proses pengembangan program, mulai dari koordinasi dengan mitra, pelatihan, eksplorasi artistik, proses penciptaan karya, hingga pengembangan lingkungan sanggar yang lebih responsif terhadap kebutuhan sensorik peserta.
Tim pelaksana yang terdiri dari; Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati,SST.,M.Si sebagai Ketua Pengusul dengan Anggota; Dr. I Gusti Putu Sudarta, SSP.,M.Sn, dan Ida Bagus Ketut Trinawindu,S.Sn.,M.Erg menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada BIMA Kemendiktisaintek melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) atas dukungan yang diberikan sehingga program Ngenkebang Batu dapat dilaksanakan dan berjalan dengan baik.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada BIMA Kemendiktisaintek melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program ini. Dukungan tersebut sangat berarti dalam membantu kami menjalankan proses penciptaan, pelatihan, dan pengembangan seni yang inklusif berbasis budaya lokal Bali.”
Program Ngenkebang Batu diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan pengabdian, tetapi dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan praktik seni inklusif yang berakar pada kebudayaan lokal. Melalui perpaduan permainan tradisional, tari intermedia, dan pendekatan multisensorik, program ini menunjukkan bahwa warisan budaya dapat terus hidup dengan menghadirkan ruang partisipasi yang lebih luas bagi seluruh masyarakat, termasuk penyandang tunanetra.
(foto pada saat Sosialisasi Konsep Seni Inklusif dan Permainan Tradisional)
(gambar pada saat Pelatihan Pendukung Sensorik dan Penataan Ruang)
(gambar pada saat Proses Kreatif Penciptaan Karya Tari Kolaboratif)