Foto: Audiensi Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, dengan Gubernur DKI Jakarta, Dr. Ir. Pramono Anung Wibowo, M.M., di Ruang Tamu Gubernur, Balai Kota Jakarta, Kamis (5/2).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menjalin kerja sama strategis dengan Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta dalam bidang seni dan budaya. Penjajakan kerja sama tersebut dibahas dalam audiensi antara Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana, dengan Gubernur DKI Jakarta, Dr. Ir. Pramono Anung Wibowo, M.M., yang berlangsung di Ruang Tamu Gubernur, Balai Kota Jakarta, Kamis (5/2).
Audiensi ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, S.STP, MT, M.Sc., serta Kepala Biro Kerja Sama Daerah Sekretariat Daerah Provinsi DKI Jakarta, Marulina Dewi, S.STP, MPA. Dari ISI BALI hadir Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Prof. Dr. Komang Sudirga; Ketua Senat, Prof. Dr. Ketut Muka; Protokol, Made Irma Novita Sari, S.Sn.; serta Humas ISI BALI, Rara Tian Anyar Sari, S.S.
Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak membahas berbagai potensi kolaborasi antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan institusi pendidikan seni dalam rangka mendukung penguatan ekosistem kebudayaan. Kerja sama ini diharapkan mampu mendorong pengembangan seni, pelestarian budaya, serta peningkatan partisipasi masyarakat melalui program-program kolaboratif yang berkelanjutan.
Foto: Audiensi ISI BALI dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Ruang Tamu Gubernur, Balai Kota Jakarta, Kamis (5/2).
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana, pada kesempatan tersebut memaparkan salah satu program unggulan ISI BALI, yakni Bali Nata Bhuwana, sebagai wahana diseminasi nasional seni dan budaya yang telah dilaksanakan sejak tahun 2022. Program ini telah diselenggarakan di berbagai daerah, antara lain Kediri (Jawa Timur), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), Lampung, dan Yogyakarta, serta direncanakan akan berlanjut ke Kendari pada tahun 2026.
Menurut Rektor ISI BALI, Bali Nata Bhuwana tidak hanya berfungsi sebagai media diseminasi karya dan gagasan seni, tetapi juga berperan dalam memperkuat ekosistem seni yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat, baik dari sisi edukasi, ekonomi kreatif, maupun penguatan identitas budaya.
Gubernur DKI Jakarta, Dr. Ir. Pramono Anung Wibowo, M.M., menyampaikan apresiasi atas inisiatif kerja sama yang diusulkan ISI BALI. Ia menegaskan bahwa Jakarta sebagai kota multikultural memiliki ruang yang luas untuk pengembangan seni dan budaya dari berbagai latar belakang, sehingga kolaborasi dengan institusi pendidikan seni seperti ISI BALI dinilai sangat relevan dan strategis.
Audiensi ini menjadi langkah awal bagi terbangunnya sinergi antara ISI BALI dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menciptakan ekosistem seni dan budaya yang inklusif, dinamis, serta berdaya guna bagi masyarakat luas.
Foto: Penandatanganan MoU antara ISI BALI dengan Sampoerna University, Jumat (6/2) di Ruang Rapat Sampoerna University.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) dan Sampoerna University resmi menjalin kerja sama dalam bidang tridharma perguruan tinggi yang meliputi pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, dan Rektor Sampoerna University, Dr. Wahid Salasi April Yudhi, Jumat (6/2), bertempat di Ruang Rapat Sampoerna University.
Penandatanganan MoU tersebut disaksikan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI Prof. Dr. Komang Sudirga, Ketua Senat ISI BALI Prof. Dr. Ketut Muka, serta jajaran pimpinan Sampoerna University, antara lain Dekan Fakultas Engineering and Technology Dr. Eng. Farid Triawan, Ketua Program Studi Visual Communication Design Tombak Matahari, M.Ds., serta para dosen Program Studi Visual Communication Design, yakni Santo Tjhin, M.M., M.Ds., M.CHt, dan Arlene Dwiasti Soemardi, M.Arts.
Foto: Rektor ISI BALI beserta delegasi meninjau sejumlah fasilitas pembelajaran milik Sampoerna University, Jumat (6/2).
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan Adnyana, menyampaikan bahwa kerja sama ini membuka peluang kolaborasi yang luas, khususnya dalam bidang pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Bentuk kerja sama yang dapat dikembangkan antara lain penelitian bersama, pertukaran dan kehadiran dosen tamu, kolaborasi kegiatan akademik, hingga pengembangan kurikulum berbasis keunggulan masing-masing institusi. Selain itu, Prof. Wayan Adnyana juga menawarkan kesempatan bagi dosen Sampoerna University untuk melanjutkan studi doktoral di ISI BALI, mengingat ISI BALI memiliki Program Studi S3 Desain yang saat ini merupakan satu-satunya di Indonesia.
Sementara itu, Rektor Sampoerna University, Dr. Wahid Salasi, menyambut baik terjalinnya kerja sama ini. Ia menyampaikan bahwa Sampoerna University, khususnya melalui Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), melihat kolaborasi ini sebagai kesempatan strategis untuk memperkuat unsur keunikan dan kearifan lokal dalam pengembangan akademik dan karya desain, sejalan dengan karakter dan kekuatan yang selama ini diteguhkan oleh ISI BALI sebagai perguruan tinggi seni. Dalam kesempatan tersebut, Rektor ISI BALI beserta delegasi juga berkesempatan meninjau sejumlah fasilitas pembelajaran yang dimiliki Sampoerna University, seperti studio desain, laboratorium komputer, ruang kelas, perpustakaan, serta ruang-ruang pendukung kegiatan akademik lainnya. Kunjungan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk merealisasikan berbagai bentuk kolaborasi konkret antara kedua institusi di masa mendatang.
Foto: Penandatangan MoU antara ISI BALI dan Seoul Institute of the Arts, Rabu (14/1) di di Ruang Nata Widya Sabha, ISI BALI
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menerima kunjungan delegasi Seoul Institute of the Arts, Korea Selatan, Rabu (14/1), bertempat di Ruang Nata Widya Sabha, ISI BALI. Kunjungan ini menjadi momentum penting dalam penguatan jejaring internasional melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara kedua institusi.
Delegasi dipimpin langsung oleh Presiden Seoul Institute of the Arts, Prof. Chang Ji Hun, didampingi Dean of Planning Koh Joo Won, Dean of Academic Affairs Kim Dokyun, Dean of External Relations, Kim Ji Young, Staff of External Relations, Kim Sarang.
Rombongan disambut oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, bersama jajaran Wakil Rektor, Direktur Program Pascasarjana, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan, dan Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, serta Koordinator Urusan Internasional ISI BALI.
Kerja sama antara ISI BALI dan Seoul Institute of the Arts sejatinya telah terjalin sejak tahun 2017. Kerja sama telah diwujudkan melalui undangan kepada salah satu dosen ISI BALI, Dr. I Made Sidia, untuk memberikan pembelajaran tentang kesenian Bali di Seoul Institute of the Arts, termasuk gamelan Bali dan tari tradisional Bali.
Pada kunjungan kali ini, Seoul Institute of the Arts mengajak ISI BALI untuk berkolaborasi dalam program CultureHub Korea. Program ini dirancang untuk memperluas praktik kreatif mahasiswa dan dosen sekaligus menumbuhkan lingkungan pembelajaran yang imersif dan berwawasan global.
CultureHub Korea berfokus pada tiga komponen utama, yakni Creative Production, Research & Development, serta Education. Melalui kolaborasi dengan seniman dari berbagai negara di Art & Technology Center (ATEC) milik Seoul Institute of the Arts, CultureHub Korea mendorong eksplorasi teknologi mutakhir guna mengembangkan bentuk-bentuk seni baru yang inovatif.
Kerja sama ini diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi lintas disiplin, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan seni dan teknologi berbasis budaya yang berkelanjutan antara ISI BALI dan Seoul Institute of the Arts.(ISIBALI/Humas)
Foto: Pangurip Tri Angga bertajuk “Charma-Samasta-Chandika”, Rabu (31/12) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, ISI BALI.
Transformasi Institut Seni Indonesia Denpasar menjadi Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) memasuki babak peneguhan identitas. Melalui Pangurip Tri Angga bertajuk “Charma-Samasta-Chandika” yang digelar Rabu (31/12) di kampus setempat, ISI BALI secara resmi menghidupkan Lambang, Himne, dan Mars sebagai simbol kepribadian dan spirit baru perguruan tinggi seni negeri di Bali.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana dalam sambutannya, menyampaikan bahwa tahun 2025 menjadi tonggak sejarah penting bagi ISI BALI. Setelah transformasi kelembagaan dari ISI Denpasar menjadi ISI BALI dan pengundangan Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 28 Tahun 2025 tentang Organisasi dan Tata Kerja ISI BALI, transformasi ini digenapi dengan Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 50 Tahun 2025 tentang Statuta Institut Seni Indonesia Bali yang diundangkan pada 24 Desember 2025.
Prof. Kun Adnyana menerangkan statuta ISI BALI menjadi landasan fundamental yang menata secara resmi Lambang, Himne, dan Mars ISI BALI sebagai Tri Angga, tiga atribut agung kelembagaan sekaligus spirit ISI BALI. “Hari ini momentum kita menyemai Pangurip Tri Angga ISI BALI. Ketiga penanda kesejatian kepribadian insani, mewujud benderang lentera idea, cipta, dan karya, serta derma Tridharma lintas masa, ujar Guru Besar Sejarah Seni ini.
Foto: Pangurip Tri Angga bertajuk “Charma-Samasta-Chandika”, Rabu (31/12) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, ISI BALI.
Lambang Nretya atau Nritya Siwa Nataraja, merupakan simbol abadi yang disematkan sedini ISI Bali bernama ASTI Denpasar. Ragarupa lambang ditransformasi dalam gubah artistika dan stilistika kekinian nilai ISI BALI. Kesejatian nilai ISI BALI, berikut penghayatan pengalaman memulia kampus tercinta ini, menjadi mula rima dan puitika keagungan Himne ISI BALI. Keluhuran nilai Indonesia, digelora raya dalam Mars ISI BALI.
Selain penguatan identitas kelembagaan, Rektor juga memaparkan capaian strategis ISI BALI sepanjang 2025. ISI BALI meraih predikat Akreditasi Unggul dari BAN-PT, serta akreditasi Unggul untuk Program Studi Magister Desain dan Program Studi Doktor Seni. Capaian tersebut diperkuat dengan keberhasilan ISI BALI meraih tiga Anugerah Diktisaintek 2025, masing-masing Gold Winner Kerja Sama dengan Industri, Silver Winner Unit Layanan Terpadu, dan Bronze Winner Kerja Sama Internasional.
Kegiatan Pangurip Tri Angga ISI BALI turut dihadiri berbagai unsur penting. Gubernur Bali hadir melalui perwakilan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dr. I Gede Arya Sugiartha. Selain itu, acara dihadiri anggota Dewan Pertimbangan ISI BALI, Ketua dan anggota Senat ISI BALI, jajaran Wakil Rektor, Dekan, pimpinan unit kerja, dosen dan tenaga kependidikan, Ketua dan jajaran DWP ISI BALI, insan pers, seniman, budayawan, tokoh masyarakat, mitra strategis, serta sivitas akademika ISI BALI.
Mewakili Gubernur Bali, Prof. Dr. Gede Arya Sugiartha dalam sambutannya menegaskan bahwa peluncuran Tri Angga ISI BALI tidak sekadar menghadirkan simbol institusi. Menurutnya, Pangurip Tri Angga merupakan tonggak penting dalam peneguhan identitas kebudayaan Bali sebagai pulau yang ajeg dan berbudaya.
“Tri Angga ISI BALI adalah bagian dari upaya menjaga Bali sebagai pulau yang ajeg, bebudaya, dan berkepribadian. Ini bukan hanya milik institusi, tetapi juga menjadi representasi nilai-nilai kebudayaan Bali,” ujarnya.
Prof. Arya juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada ISI BALI atas pelaksanaan Pangurip Tri Angga. Ia berharap Lambang, Himne, dan Mars ISI BALI senantiasa menjadi sumber inspirasi, penguat jati diri, serta pendukung identitas kebudayaan Bali di tingkat nasional maupun global.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, ISI BALI juga menetapkan Resolusi 2026 sebagai Tahun Gerakan Koleksi Seni-Desain, sekaligus menganugerahkan Penghargaan Sewaka Nata Kerthi Nugraha 2025 kepada tiga seniman maestro, yakni Dra. I G.A. Susilawati (Seniman Tari Bali), I Made Sukanta Wahyu (Seniman Patung), dan I Nyoman Subrata (Seniman Drama Gong), atas dedikasi dan pengabdian mereka dalam memuliakan seni dan budaya. (ISIBALI/Humas)
Foto : Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana dan Ketua Senat ISI BALI Prof. Dr. Ketut Muka bersama empat Guru Besar Anyar ISI BALI dalam Sidang Senat Terbuka Inagurasi dan Sapa Publik Guru Besar bertajuk “Karma-Citta-Waskita”, Selasa (30/12) di kampus setempat.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menutup penghujung tahun 2025 dengan capaian strategis melalui pengukuhan empat Guru Besar anyar dalam Sidang Senat Terbuka Inagurasi dan Sapa Publik Guru Besar bertajuk “Karma-Citta-Waskita”, Selasa (30/12). Momentum ini menjadi penanda kuat konsistensi ISI BALI dalam memperkuat mutu akademik dan daya saing global di bidang seni dan desain.
Empat Guru Besar yang dikukuhkan yakni Prof. Dr. Drs. Anak Agung Gede Rai Remawa, M.Sn. (Desain Interior dan Arsitektur), Prof. Dr. I Ketut Suteja, SST., M.Sn. (Penciptaan Seni), Prof. Dr. I Wayan Setem, S.Sn., M.Sn. (Penciptaan Seni Rupa), serta Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn. (Penciptaan Seni Rupa Kriya). Keempatnya merupakan generasi pertama Guru Besar jalur Penciptaan Seni di ISI BALI.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, menyampaikan bahwa pengukuhan ini melengkapi rangkaian capaian penting ISI BALI sepanjang 2025, setelah transformasi kelembagaan dari ISI Denpasar menjadi ISI BALI serta diraihnya akreditasi Unggul institusi dan sejumlah program studi. Menurutnya, pengukuhan Guru Besar di akhir tahun menjadi refleksi keberhasilan pengelolaan mutu akademik yang berkelanjutan.
“Penghujung tahun 2025 menjadi momentum penuh makna bagi ISI BALI. Pengukuhan empat Guru Besar ini menegaskan kematangan institusi sekaligus kesiapan kami berkompetisi di tingkat global,” ujar Rektor.
Dengan tambahan empat Profesor tersebut, ISI BALI pada 2025 telah memenuhi rasio 10 persen Guru Besar, yakni 23 profesor dari 231 dosen tetap, tertinggi di antara seluruh perguruan tinggi seni di Indonesia. Capaian ini turut berdampak pada meningkatnya kepercayaan publik dan minat calon mahasiswa, khususnya pada jenjang pascasarjana dan doktoral.
Selain penguatan sumber daya akademik, sepanjang 2025 ISI BALI juga meraih Anugerah Diktisaintek 2025 dengan capaian Gold Winner Kerja Sama Industri, Silver Winner Unit Layanan Terpadu, serta Bronze Winner Kerja Sama Internasional. Di tingkat global, ISI BALI menginisiasi Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) II yang melahirkan deklarasi pembentukan The Asia Pacific’s Axis of Arts and Design Higher Education Network.
Acara inagurasi di penghujung tahun ini dihadiri Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun, SH., Anggota Dewan Pertimbangan ISI BALI, Ketua dan Anggota Senat ISI BALI, jajaran pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, Ketua dan pengurus Dharma Wanita Persatuan ISI BALI, seniman, budayawan, tokoh masyarakat, serta keluarga para Guru Besar. Kegiatan juga disiarkan secara langsung melalui kanal media sosial ISI BALI.
Dalam acara tersebut, Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun, SH., yang hadir mewakili Bupati Gianyar, menyampaikan sambutan dan apresiasi atas capaian ISI Bali. Ia menyatakan kebanggaannya karena keempat Guru Besar anyar memiliki talian kuat dengan Kabupaten Gianyar. Dua di antaranya, Prof. Anak Agung Gede Rai Remawa dan Prof. I Wayan Suardana, merupakan putra asli Gianyar. Sementara Prof. I Ketut Suteja memperistri gadis Gianyar, dan Prof. I Wayan Setem memilih berdomisili di Gianyar.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Gianyar, kami merasa bangga karena para Guru Besar yang hari ini dikukuhkan memiliki ikatan kultural dan emosional dengan Gianyar. Ini menjadi kebanggaan daerah sekaligus inspirasi bagi generasi muda Gianyar,” ujar Wakil Bupati membacakan sambutan Bupati Gianyar.
Lebih lanjut, dalam sambutan tersebut Pemerintah Kabupaten Gianyar berharap para Guru Besar dapat terus berkontribusi melalui pemikiran, riset, dan karya seni yang berdampak bagi pelestarian budaya, penguatan identitas lokal, serta pembangunan berbasis kebudayaan. Sinergi antara ISI Bali dan pemerintah daerah diharapkan semakin erat dalam memajukan seni, budaya, dan ekonomi kreatif Bali,
Dalam Sidang Senat Terbuka tersebut, masing-masing Guru Besar menyampaikan orasi ilmiah yang mencerminkan kepakaran dan kontribusi keilmuannya. Prof. Rai Remawa membahas orientasi estetik interior dan arsitektur tradisional Bali di Polandia, Prof. Suteja mengangkat konsep Tattwa Jnana dalam penciptaan seni pertunjukan, Prof. Setem memaparkan seni ekologis sebagai media kampanye lingkungan berkelanjutan, sementara Prof. Suardana memperkenalkan metode inovatif penciptaan seni kriya berbasis Tri Prakara Sapta Krama. (ISIBALI/Humas)
Foto: Penandatanganan MoU ISI BALI dengan University of Canterbury (UC), Jumat (19/12) di kampus UC, Christchurch, Selandia Baru.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menjalin kerja sama strategis dengan University of Canterbury (UC), Christchurch, Selandia Baru, melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang berlangsung pada Jumat (19/12) di kampus UC.
MoU tersebut ditandatangani langsung oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, didampingi Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Komang Sudirga, bersama Executive Dean of Faculty of Arts University of Canterbury, Prof. Dr. Kevin Watson. Penandatanganan ini turut disaksikan oleh perwakilan Urusan Kerja Sama Internasional UC, Monique van Veen dan Sakinah Tuan Besar.
Foto: Penandatanganan MoU ISI BALI dengan University of Canterbury (UC), Jumat (19/12) di kampus UC, Christchurch, Selandia Baru.
Kerja sama yang disepakati mencakup pengembangan bidang musik dan gamelan, serta lingkup desain digital, meliputi digital screening, sistem tata suara (sound system), dan animasi. Selain itu, MoU ini juga membuka peluang perluasan program pertukaran dosen dan mahasiswa antara kedua institusi.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, ISI BALI dan University of Canterbury melaksanakan workshop gamelan Gong Kebyar, kegiatan benchmarking laboratorium digital screening, serta peninjauan ruang sinema di lingkungan UC.
Rektor ISI BALI, Prof. Wayan ‘Kun’ Adnyana, menegaskan bahwa penandatanganan MoU ini menjadi gerbang penguatan kemitraan strategis antarperguruan tinggi seni dan desain di kawasan Asia Pasifik. “Termasuk penguatan Bali-Axis of Arts and Design (B-GAAD) sebagai melting pot inovasi global universitas yang tergabung dalam Poros Perguruan Tinggi Seni dan Desain Asia Pasifik (The Asia-Pasific Axis of Arts and Design Higher Education) yang diinisiasi ISI BALI sejak 2024”. Menindaklanjuti kerja sama tersebut, profesor musik University of Canterbury, Prof. Justin DeHart, juga memberikan workshop kepada mahasiswa Program Studi Musik ISI BALI pada Selasa (23/12) di Gedung Candrametu, Kampus ISI BALI. (ISIBALI/Humas)