Foto : Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana dan Ketua Senat ISI BALI Prof. Dr. Ketut Muka bersama empat Guru Besar Anyar ISI BALI dalam Sidang Senat Terbuka Inagurasi dan Sapa Publik Guru Besar bertajuk “Karma-Citta-Waskita”, Selasa (30/12) di kampus setempat.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menutup penghujung tahun 2025 dengan capaian strategis melalui pengukuhan empat Guru Besar anyar dalam Sidang Senat Terbuka Inagurasi dan Sapa Publik Guru Besar bertajuk “Karma-Citta-Waskita”, Selasa (30/12). Momentum ini menjadi penanda kuat konsistensi ISI BALI dalam memperkuat mutu akademik dan daya saing global di bidang seni dan desain.
Empat Guru Besar yang dikukuhkan yakni Prof. Dr. Drs. Anak Agung Gede Rai Remawa, M.Sn. (Desain Interior dan Arsitektur), Prof. Dr. I Ketut Suteja, SST., M.Sn. (Penciptaan Seni), Prof. Dr. I Wayan Setem, S.Sn., M.Sn. (Penciptaan Seni Rupa), serta Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn. (Penciptaan Seni Rupa Kriya). Keempatnya merupakan generasi pertama Guru Besar jalur Penciptaan Seni di ISI BALI.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, menyampaikan bahwa pengukuhan ini melengkapi rangkaian capaian penting ISI BALI sepanjang 2025, setelah transformasi kelembagaan dari ISI Denpasar menjadi ISI BALI serta diraihnya akreditasi Unggul institusi dan sejumlah program studi. Menurutnya, pengukuhan Guru Besar di akhir tahun menjadi refleksi keberhasilan pengelolaan mutu akademik yang berkelanjutan.
“Penghujung tahun 2025 menjadi momentum penuh makna bagi ISI BALI. Pengukuhan empat Guru Besar ini menegaskan kematangan institusi sekaligus kesiapan kami berkompetisi di tingkat global,” ujar Rektor.
Dengan tambahan empat Profesor tersebut, ISI BALI pada 2025 telah memenuhi rasio 10 persen Guru Besar, yakni 23 profesor dari 231 dosen tetap, tertinggi di antara seluruh perguruan tinggi seni di Indonesia. Capaian ini turut berdampak pada meningkatnya kepercayaan publik dan minat calon mahasiswa, khususnya pada jenjang pascasarjana dan doktoral.
Selain penguatan sumber daya akademik, sepanjang 2025 ISI BALI juga meraih Anugerah Diktisaintek 2025 dengan capaian Gold Winner Kerja Sama Industri, Silver Winner Unit Layanan Terpadu, serta Bronze Winner Kerja Sama Internasional. Di tingkat global, ISI BALI menginisiasi Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) II yang melahirkan deklarasi pembentukan The Asia Pacific’s Axis of Arts and Design Higher Education Network.
Acara inagurasi di penghujung tahun ini dihadiri Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun, SH., Anggota Dewan Pertimbangan ISI BALI, Ketua dan Anggota Senat ISI BALI, jajaran pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, Ketua dan pengurus Dharma Wanita Persatuan ISI BALI, seniman, budayawan, tokoh masyarakat, serta keluarga para Guru Besar. Kegiatan juga disiarkan secara langsung melalui kanal media sosial ISI BALI.
Dalam acara tersebut, Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun, SH., yang hadir mewakili Bupati Gianyar, menyampaikan sambutan dan apresiasi atas capaian ISI Bali. Ia menyatakan kebanggaannya karena keempat Guru Besar anyar memiliki talian kuat dengan Kabupaten Gianyar. Dua di antaranya, Prof. Anak Agung Gede Rai Remawa dan Prof. I Wayan Suardana, merupakan putra asli Gianyar. Sementara Prof. I Ketut Suteja memperistri gadis Gianyar, dan Prof. I Wayan Setem memilih berdomisili di Gianyar.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Gianyar, kami merasa bangga karena para Guru Besar yang hari ini dikukuhkan memiliki ikatan kultural dan emosional dengan Gianyar. Ini menjadi kebanggaan daerah sekaligus inspirasi bagi generasi muda Gianyar,” ujar Wakil Bupati membacakan sambutan Bupati Gianyar.
Lebih lanjut, dalam sambutan tersebut Pemerintah Kabupaten Gianyar berharap para Guru Besar dapat terus berkontribusi melalui pemikiran, riset, dan karya seni yang berdampak bagi pelestarian budaya, penguatan identitas lokal, serta pembangunan berbasis kebudayaan. Sinergi antara ISI Bali dan pemerintah daerah diharapkan semakin erat dalam memajukan seni, budaya, dan ekonomi kreatif Bali,
Dalam Sidang Senat Terbuka tersebut, masing-masing Guru Besar menyampaikan orasi ilmiah yang mencerminkan kepakaran dan kontribusi keilmuannya. Prof. Rai Remawa membahas orientasi estetik interior dan arsitektur tradisional Bali di Polandia, Prof. Suteja mengangkat konsep Tattwa Jnana dalam penciptaan seni pertunjukan, Prof. Setem memaparkan seni ekologis sebagai media kampanye lingkungan berkelanjutan, sementara Prof. Suardana memperkenalkan metode inovatif penciptaan seni kriya berbasis Tri Prakara Sapta Krama. (ISIBALI/Humas)
Foto: Penandatanganan MoU ISI BALI dengan University of Canterbury (UC), Jumat (19/12) di kampus UC, Christchurch, Selandia Baru.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menjalin kerja sama strategis dengan University of Canterbury (UC), Christchurch, Selandia Baru, melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang berlangsung pada Jumat (19/12) di kampus UC.
MoU tersebut ditandatangani langsung oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, didampingi Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Komang Sudirga, bersama Executive Dean of Faculty of Arts University of Canterbury, Prof. Dr. Kevin Watson. Penandatanganan ini turut disaksikan oleh perwakilan Urusan Kerja Sama Internasional UC, Monique van Veen dan Sakinah Tuan Besar.
Foto: Penandatanganan MoU ISI BALI dengan University of Canterbury (UC), Jumat (19/12) di kampus UC, Christchurch, Selandia Baru.
Kerja sama yang disepakati mencakup pengembangan bidang musik dan gamelan, serta lingkup desain digital, meliputi digital screening, sistem tata suara (sound system), dan animasi. Selain itu, MoU ini juga membuka peluang perluasan program pertukaran dosen dan mahasiswa antara kedua institusi.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, ISI BALI dan University of Canterbury melaksanakan workshop gamelan Gong Kebyar, kegiatan benchmarking laboratorium digital screening, serta peninjauan ruang sinema di lingkungan UC.
Rektor ISI BALI, Prof. Wayan ‘Kun’ Adnyana, menegaskan bahwa penandatanganan MoU ini menjadi gerbang penguatan kemitraan strategis antarperguruan tinggi seni dan desain di kawasan Asia Pasifik. “Termasuk penguatan Bali-Axis of Arts and Design (B-GAAD) sebagai melting pot inovasi global universitas yang tergabung dalam Poros Perguruan Tinggi Seni dan Desain Asia Pasifik (The Asia-Pasific Axis of Arts and Design Higher Education) yang diinisiasi ISI BALI sejak 2024”. Menindaklanjuti kerja sama tersebut, profesor musik University of Canterbury, Prof. Justin DeHart, juga memberikan workshop kepada mahasiswa Program Studi Musik ISI BALI pada Selasa (23/12) di Gedung Candrametu, Kampus ISI BALI. (ISIBALI/Humas)
Foto: Penyerahan Pengahrgaan Anugerah Diktisaintek, Jumat (19/12) di Jakarta.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) berhasil meraih tiga penghargaan Anugerah Diktisaintek 2025. Penghargaan yang diperoleh, yakni Gold Winner untuk Anugerah Kerjasama Diktisaintek, Kategori Perguruan Tinggi Negeri Satuan Kerja (PTN Satker), Sub Kategori PTN dengan Kerja Sama Industri Terbaik, dan Bronze Winner untuk Sub Kategori PTN dengan Kerja Sama Internasional Terbaik. Satu lagi, Silver Winner untuk Anugerah Humas Diktisaintek, Kategori PTN Satker, Sub Kategori Unit Layanan Terpadu.
Penghargaan diterima oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum ISI BALI, Dr. Made Jodong didampingi Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan, dan Kerjasama, Dr. Komang Arba Wirawan, Jumat (19/12) di Jakarta.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. I Wayan “Kun” Adnyana, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh tim kerja sama dan layanan terpadu atas kerja keras dan dedikasi yang telah ditunjukkan. Ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk terus memacu kinerja secara seksama dan berkelanjutan, seiring semakin ketatnya persaingan antar perguruan tinggi untuk menjadi yang terbaik.
Seperti diketahui, Anugerah Diktiristek 2025 merupakan ajang penghargaan tahunan yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI. Penghargaan ini mencakup Anugerah Prioritas Nasional, Mitra Kerja Sama, Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, Pangkalan Data Pendidikan Tinggi, Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Sumber Daya, Kelembagaan, Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat, serta Jurnalis dan Media.
Penghargaan diberikan kepada pemangku kepentingan dari perguruan tinggi, LLDIKTI, jurnalis, media, dan mitra (kementerian, lembaga, serta dunia usaha dan dunia industri) yang telah meraih pencapaian tertinggi dan berkontribusi dalam mendukung implementasi transformasi pendidikan MBKM, IKU, dan Matching Fund. (ISIBALI/Humas)
Bangun Kolaborasi Perancangan Desain Interior Bergaya Bali Melalui Kompetisi Karya Mahasiswa
Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana dan Walikota Misato, Provinsi Shimane, Jepang, Mr. Takashi Kado seusai penandatangan MoU, Jumat (12/12) di Canoe Park Misato.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menguatkan sayap global melalui kerja sama komprehensif dengan Kota Misato, Provinsi Shimane, Jepang. Ini merupakan kerja sama internasional pertama dengan lembaga pemerintah.
Penandatangan MoU dilakukan Rektor ISI BALI, Prof Wayan ‘Kun’ Adnyana dengan Walikota Misato, Mr. Takashi Kado, disaksikan Konsul Jenderal Indonesia untuk Osaka, Jhon Tjahjanto Boestami, dan Konsul Jenderal Jepang untuk Bali, Mr. Katsutoshi Miyakawa, pada Jumat (12/12) di Canoe Park Misato.
Kerja sama diantaranya, perancangan desain interior bergaya Bali untuk pusat perbelanjaan dengan kompetisi karya mahasiswa ISI BALI, penguatan Misato Bali Festival, dan pertemuan alumni ISI BALI asal negara Jepang.
Sebelum acara penandatangan dilaksanakan audiensi dengan Gubernur Shimane, Mr. Tatsuya Maruyama, pada Kamis (11/12) di kantor Gubernur, di Kota Matsue, dan kunjungan ke kuil Shinto Izumo Taisha, di Kota Izumo. Kunjungan juga dilakukan ke Shimane Art Museum yang mengoleksi masterpiece Katsushika Hokusai (1760-1849) dan Tokyo Metropolitan Museum yang sedang memamerkan karya Vincent van Gogh (1853-1890).
Acara penandatangan MoU ISI BALI dengan Pemerintah Kota Misato ini mendapat liputan media Jepang secara meluas. (ISIBALI/Humas)
Foto: Penyerahan bantuan tunai kepada mahasiswa ISI BALI terdampak bencana Sumatera, Selasa (9/12) di Kampus ISI BALI
Dosen dan pegawai (tenaga kependidikan) Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menggalang solidaritas berupa sumbangan dana untuk turut membantu masyarakat terdampak bencana banjir Sumatera, terutama untuk Sivitas Akademika, baik mahasiswa ISI BALI maupun kampus yang lain di lokasi terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Sumbangan dilakukan sejak 5 sampai dengan 8 Desember 2025, berhasil menghimpun dana sebesar Rp122.455.000,-(seratus dua puluh dua juta empat ratus lima puluh lima ribu rupiah). Dana sumbangan ini disalurkan melalui tiga jalur: 1) langsung kepada 36 mahasiswa ISI BALI yang berasal dari daerah terdampak, sebesar Rp18.000.000,-(delapan belas juta rupiah) dengan masing-masing diberikan uang tunai Rp500 ribu; 2) melalui rekening Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Peduli sebesar Rp75.000.000,-(tujuh puluh lima juta rupiah); dan 3) melalui rekening Infaq Sedekah ISI Padang Panjang-Sumatera Barat sebesar Rp29.455.000,-(dua puluh sembilan juta empat ratus lima puluh lima ribu rupiah).
Foto: Penyerahan bantuan tunai kepada mahasiswa ISI BALI terdampak bencana Sumatera, Selasa (9/12) di Kampus ISI BALI
Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menyerahkan langsung bantuan tunai kepada 36 mahasiswa ISI BALI dari daerah terdampak, pada Selasa (9/12) di kampus setempat. “Sumbangan ini sebagai bentuk solidaritas dan ungkapan empati dosen dan tenaga kependidikan (tendik) ISI BALI terhadap sahabat sebangsa yang terdampak bencana banjir Sumatera. Harapannya situasi segera pulih, dan masyarakat dapat kembali bangkit untuk berkarya dengan bahagia. Pada kesempatan ini, titiang menghaturkan terima kasih kepada seluruh dosen dan tendik ISI BALI yang telah dengan sukarela menyumbang”. Penyerahan dilakukan bersama Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum, Dr. Made Jodog; Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Prof. Komang Sudirga; Ketua Satuan Pengawas Internal, Dr. Made Bayu Pramana; serta jajaran koordinator program studi.
Prof. Kun Adnyana juga menyampaikan bela sungkawa yang mendalam kepada seluruh korban meninggal, serta bersimpati terhadap keluarga yang tengah mengalami musibah, sembari mendoa yang berpulang damai di sisi Tuhan Yang Maha Esa“ (ISIBALI/Humas)
Foto: Inagurasi dan Sapa Publik Guru Besar Anyar “Karma-Citta-Waskita”, Selasa (2/12) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, ISI BALI.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) mengukuhkan dua Guru Besar anyar dalam Inagurasi dan Sapa Publik Guru Besar Anyar “Karma-Citta-Waskita”, Selasa (2/12) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, ISI BALI. Dua Guru Besar dimaksud, yakni Prof. Dr. I Gede Yudarta dan Prof. Dr. Ni Made Arshiniwati.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana dalam sambutannya memaparkan Dua Profesor teranyar, yaitu: Prof. Dr. I Gede Yudarta, ilmu/kepakaran Pengkajian Seni, berdasarkan Keputusan Menteri Diktisaintek RI Nomor 43320/M/KPT.KP/2025, tertanggal 12 Oktober 2025, dan Prof. Dr. Ni Made Arshiniwati, ilmu/kepakaran Pengkajian Seni dan Budaya, berdasarkan Keputusan Menteri Diktisaintek RI Nomor 43317/M/KPT.KP/2025, tertanggal 12 Oktober 2025. Empat dosen Lektor Kepala yang telah lulus uji kompetensi keprofesoranya, tinggal menunggu terbitnya Surat Keputusan Menteri Diktisaintek RI. Dengan dikukuhkan dua guru besar anyar, ISI BALI kini memiliki 23 Profesor dari 231 dosen tetap. Capaian 10% Guru Besar ini, tertinggi dibanding seluruh Perguruan Tinggi Seni se-Indonesia.
Foto: Inagurasi dan Sapa Publik Guru Besar Anyar “Karma-Citta-Waskita”, Selasa (2/12) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, ISI BALI.
Prof Kun Adnyana menambahkan Perjuangan dua Profesor anyar dalam meraih Guru Besar, patut dijadikan inspirasi bagi seluruh dosen lektor kepala ISI BALI. Kedua Profesor ini, secara gigih berjuang memenuhi karya jurnal bereputasi, setaut jejak prestasi akademik, serta pemenuhan dokumen pendukung atas relevansi keilmuan masing-masing bagi pemajuan ISI BALI.
“Angayubagia, hari ini, Selasa (Anggara Pon-Langkir), 2 Desember 2025, dua Profesor anyar kebanggaan ISI BALI, Prof. Yudarta dan Prof. Arshiniwati diinagurasi sekaligus dikenalkan kepada publik. Kedua Profesor ini, telah mendermakan pengabdian lebih dari 30 tahun, sebagai penjaga kemuliaan ISI BALI,” ujarnya.
Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, S.E., M.M. yang dihadiri memberikan sambutan dalam pengukuhan guru besar ini mengungkapkan apresiasi atas kontribusi Prof. Yudarta dan Prof. Arshiniwati dalam melestarikan dan mengembangkan seni budaya Bali.
“Kami di Pemkot Denpasar sangat bangga dan terus berkomitmen untuk bersinergi dengan seluruh lembaga pendidikan, khususnya ISI Bali dalam mewujudkan Denpasar sebagai kota budaya, kreatif, dan berdaya saing global. Para guru besar yang baru dikukuhkan hari ini kami harapkan dapat menjadi obor pengetahuan yang menerangi perjalanan akademik mahasiswa, serta menjadi nakhoda pemikiran yang memandu perkembangan seni, budaya, dan ilmu pengetahuan Bali,” terangnya.
Pada Sidang Senat Terbuka Inagurasi dan Sapa Publik Guru Besar Anyar ini, dua Profesor menyajikan orasi ilmiah, Prof. Yudarta mendedahkan Orasi “Modal Budaya dan Kooptasi Simbolik dalam Kontestasi Musik Nyongkolan di Lombok: Perspektif Pengkajian Seni” dan Prof. Arshiniwati, mempresentasikan Orasi “Tari Kirana Rasmi: Ekspresi Budaya dalam Seni”. (ISIBALI/Humas)