M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Maknai 100 Tahun Rarud Batur, ISI BALI Diseminasikan Pergelaran Intermedium

Maknai 100 Tahun Rarud Batur, ISI BALI Diseminasikan Pergelaran Intermedium

Foto: Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026 Memaknai 100 Tahun Rarud Batur di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan seni berbasis riset melalui penyelenggaraan Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026. Mengambil momentum peringatan 100 Tahun Rarud Batur, ISI BALI mempersembahkan tiga karya hasil penelitian dan penciptaan seni, yakni Fragmen Tari Anyar “Ranu Saraswati Rena”, Tari Tengklung Kebah, dan komposisi musik “Cipta Gamelan Saraswati”, yang dipentaskan di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Ketiga karya tersebut menjadi bentuk diseminasi hasil penelitian sekaligus penghormatan terhadap sejarah, spiritualitas, dan kekayaan pengetahuan masyarakat Batur yang tetap lestari hingga kini. Pergelaran ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Rarud Batur, sebuah momentum bersejarah untuk mengenang satu abad perpindahan masyarakat Desa Adat Batur dari kawasan Batur Let menuju Batur Karangan Anyar akibat letusan besar Gunung Batur pada Agustus 1926.

Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menyampaikan sambutan dalam P2DSD Tahun 2026 Memaknai 100 Tahun Rarud Batur di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, mengatakan bahwa kawasan Batur merupakan pusat pengetahuan yang terus mengalir layaknya air Danau Batur. Pengetahuan tersebut tidak hanya hidup dalam tradisi masyarakat, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan penciptaan seni di ISI BALI.

“ISI BALI memuliakan pengetahuan yang begitu berlimpah seperti aliran Danau Batur. Pengetahuan itu terus mengalir dan bergema ke berbagai wilayah, termasuk menjadi sumber inspirasi bagi ISI BALI,” ujarnya.

Menurut Prof. Kun Adnyana, melalui Program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026, ISI BALI melaksanakan empat judul penelitian yang melibatkan sekitar 175 orang, terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Empat penelitian tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Wayan Suardana, Dr. Made Kartawan, Wayan Diana Putra, M.Sn., dan AA Ayu Mayun Artati, M.Sn.

Foto: Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026 Memaknai 100 Tahun Rarud Batur di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Ia menegaskan bahwa seluruh karya yang dipersembahkan merupakan bentuk pemaknaan terhadap lahirnya peradaban baru masyarakat Batur tanpa meninggalkan hulunya yang telah terbangun sejak ribuan tahun silam di Batur Let. Menurutnya, ISI BALI memiliki ikatan sekala dan niskala dengan Batur yang terus dirawat melalui pendidikan, penelitian, penciptaan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Prof. Kun Adnyana juga mengungkapkan bahwa ISI BALI menyucikan sesuhunan “Ratu Ayu Mas Membah”, sebuah topeng ciptaan maestro Cok Alit Artawan yang dibuat dari kayu Pura Dalem Serongga, salah satu pasihan Batur. Sesuhunan tersebut menjadi simbol yang diinternalisasikan oleh sivitas akademika ISI BALI sebagai sumber inspirasi untuk terus berkarya secara kreatif sekaligus mendalami khazanah pengetahuan warisan leluhur.

Foto: Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026 Memaknai 100 Tahun Rarud Batur di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Jro Penyarikan Duuran Batur menyampaikan apresiasi kepada ISI BALI atas partisipasinya dalam memaknai peringatan 100 Tahun Rarud Batur melalui karya-karya seni berbasis penelitian. Menurutnya, perpindahan Desa Adat Batur akibat letusan Gunung Batur pada tahun 1926 bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, tetapi juga peristiwa yang menguji keteguhan budaya, spiritualitas, dan kebersamaan masyarakat adat.

Ia menegaskan bahwa peringatan satu abad Rarud Batur bukan hanya menjadi seremoni mengenang masa lalu, melainkan gerakan bersama untuk merawat nilai-nilai luhur, memperkuat identitas budaya, serta membangun Batur yang lestari, harmonis, dan berdaya bagi generasi mendatang.

Salah satu karya utama yang dipentaskan adalah Fragmen Tari Anyar “Ranu Saraswati Rena” yang mengangkat kisah perpindahan masyarakat Batur Let menuju Batur Karangan Anyar setelah letusan Gunung Batur pada tahun 1926. Melalui perpaduan tari, musik, dan dramatika, karya ini merefleksikan perjalanan masyarakat yang tetap menjaga sastra agama, Raja Purana, pratima, serta berbagai perangkat upacara sebagai simbol keberlanjutan peradaban dan spiritualitas. Seratus Tahun Rarud Batur dimaknai sebagai pusaka pengetahuan dan bhakti kepada Hyang Dewi Danu yang menjadi spirit utama penciptaan karya tersebut. Fragmen tari ini dikomposisikan oleh Dr. Made Kartawan dan Dr. I Nyoman Kariasa, dengan penata gerong Nyoman Nik Suasti, S.Sn., serta koreografer AA Ayu Mayun Artati, M.Sn., I Gede Oka Surya Negara, S.ST., M.Sn., dan Gede Radiana Putra, M.Sn.

Selain itu, ISI BALI juga mendiseminasikan Tari Tengklung Kebah yang terinspirasi dari gerak olahraga bela diri tradisional Bali, yakni tengklung atau pencak silat. Karya tari ini menggambarkan semangat para pemuda dalam mengasah ketangkasan, kekuatan, dan ketangguhan melalui gerakan-gerakan yang menampilkan kuda-kuda yang kokoh, tangkisan yang lincah, serta langkah silat yang dinamis. Tari Tengklung Kebah dikoreografikan oleh I Gede Oka Surya Negara, S.ST., M.Sn., dengan komposisi musik garapan I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn.

Foto: Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026 Memaknai 100 Tahun Rarud Batur di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

Pergelaran juga menghadirkan komposisi musik “Cipta Gamelan Saraswati”, sebuah karya yang lahir dari kajian terhadap Tabuh Pat Parianom sebagai warisan musikal masyarakat Desa Adat Batur. Karya ini berpijak pada pemaknaan Dewi Saraswati sebagai simbol pengetahuan yang terus mengalir dan Betari Danu sebagai sumber kesejahteraan, sehingga menghadirkan gagasan bahwa pengetahuan mengenai konservasi lingkungan menjadi fondasi dalam membangun peradaban.

Melalui pengembangan formulasi musikal Tabuh Pat Parianom ke dalam gramatika musikal baru, “Cipta Gamelan Saraswati” memperlihatkan bagaimana pengetahuan lokal yang hidup dalam ruang-ruang ritual masyarakat Batur terus berkembang dan memperoleh dimensi akademik melalui penelitian dan penciptaan seni di ISI BALI. Komposisi ini digarap oleh I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn., Dr. I Nyoman Kariasa, S.Sn., M.Sn., dan I Made Dwi Andika Putra, S.Sn., M.Sn., dengan penata gerong Ni Komang Sekar Marheni, S.S.P., M.Si.

Melalui ketiga karya tersebut, ISI BALI menegaskan bahwa hasil penelitian dan penciptaan seni tidak berhenti sebagai luaran akademik, tetapi didiseminasikan kepada masyarakat sebagai media edukasi, pelestarian budaya, serta penguatan memori kolektif terhadap sejarah dan pengetahuan lokal. Momentum 100 Tahun Rarud Batur pun menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi seni dan masyarakat adat dalam menjaga kesinambungan warisan budaya Bali melalui pendekatan ilmiah, artistik, dan spiritual. (ISIBALI/Humas)

Foto: Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) Tahun 2026 Memaknai 100 Tahun Rarud Batur di Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Senin (3/8).

ISI BALI Raih Peringkat 1 Pengguna CMS Teraktif Semester I 2026

ISI BALI Raih Peringkat 1 Pengguna CMS Teraktif Semester I 2026

Apresiasi atas Peningkatan Efisiensi dan Akuntabilitas Transaksi Keuangan

Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menerima penghargaan Peringkat 1 Satuan Kerja Pengguna CMS Teraktif Semester I Tahun 2026 di Aula A Gedung Keuangan Negara (GKN) I Denpasar, Rabu (22/7).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) meraih penghargaan Peringkat 1 Satuan Kerja Pengguna Cash Management System (CMS) Teraktif Semester I Tahun 2026 dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Denpasar. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala KPPN Denpasar, Aris Saputro, kepada Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana, dalam Forum Konsultasi Publik di Aula A Gedung Keuangan Negara (GKN) I Denpasar, Rabu (22/7).

Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas komitmen ISI BALI dalam mendukung pengelolaan keuangan negara yang modern, transparan, dan akuntabel melalui pemanfaatan teknologi digital dalam transaksi perbankan pemerintah.

ISI BALI dinilai aktif dan optimal dalam memanfaatkan layanan CMS untuk mendukung pengelolaan keuangan institusi. Melalui sistem tersebut, ISI BALI secara konsisten menggunakan berbagai fitur transaksi perbankan pemerintah secara realtime online, mulai dari informasi saldo, transfer antar rekening, pembayaran penerimaan negara, hingga pembayaran utilitas. Pemanfaatan CMS secara intensif tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi, ketepatan waktu, serta akuntabilitas pengelolaan keuangan institusi, sekaligus mendukung transformasi digital layanan perbendaharaan pemerintah yang lebih transparan dan modern.

Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana (2 dari kanan) menerima penghargaan Peringkat 1 Satuan Kerja Pengguna CMS Teraktif Semester I Tahun 2026 di Aula A Gedung Keuangan Negara (GKN) I Denpasar, Rabu (22/7).

Forum tersebut dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Bali, Supendi, yang menegaskan bahwa Forum Konsultasi Publik merupakan wadah untuk menghimpun masukan dari para pemangku kepentingan guna meningkatkan kualitas pelayanan publik sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri PANRB Nomor 16 Tahun 2017.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor ISI BALI menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh unsur pengelola keuangan di lingkungan kampus. Menurutnya, optimalisasi penggunaan CMS tidak hanya meningkatkan efisiensi administrasi keuangan, tetapi juga memperkuat tata kelola keuangan institusi yang selaras dengan prinsip good governance.

Cash Management System (CMS) merupakan sistem aplikasi dan informasi yang menyediakan berbagai layanan transaksi perbankan secara realtime online, antara lain informasi saldo rekening, transfer antar rekening, pembayaran penerimaan negara, pembayaran utilitas, serta fasilitas transaksi lainnya yang mendukung pelaksanaan pengelolaan keuangan satuan kerja pemerintah.

Pada kesempatan tersebut, Kepala KPPN Denpasar, Aris Saputro, bersama Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran (PPA) I Kanwil DJPb Provinsi Bali turut memaparkan evaluasi pelaksanaan anggaran, sekaligus memperkenalkan tugas, fungsi, dan standar layanan KPPN kepada seluruh peserta forum.

Dengan diraihnya penghargaan ini, ISI BALI menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola keuangan berbasis digital, sekaligus mendukung transformasi layanan keuangan pemerintah yang semakin efisien, transparan, dan akuntabel. (ISIBALI/Humas)

ISI BALI dan BRIDA Provinsi Bali Gelar FGD 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali

ISI BALI dan BRIDA Provinsi Bali Gelar FGD 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali

Foto: FGD Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Senin (13/7), di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI BALI.

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali menyelenggarakan Diskusi Terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Senin (13/7), di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI BALI. Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama penelitian antara ISI BALI dan BRIDA Provinsi Bali dalam menyusun kajian komprehensif mengenai refleksi perjalanan satu abad kepariwisataan budaya Bali.

FGD menghadirkan tiga narasumber yang membahas sejarah dan perkembangan kepariwisataan Bali dari berbagai sudut pandang. Mereka, yakni Wakil Gubernur Bali periode 2018–2023 sekaligus Ketua PHRI Bali Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si., tokoh dan pelaku pariwisata Bali Ida Bagus Ngurah Wijaya, dan pengamat budaya dan ahli lontar Sugi Lanus.

FGD dibuka oleh Kepala BRIDA Provinsi Bali, Dr. Ketut Wica, S.Sos., M.H., serta dihadiri Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana, akademisi, pelaku pariwisata, budayawan, dan peneliti yang turut memberikan perspektif historis maupun akademis terhadap perkembangan kepariwisataan Bali.

Foto: FGD Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Senin (13/7), di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI BALI.

alam sambutannya, Dr. Ketut Wica menegaskan bahwa penelitian ini bertujuan membangun fondasi ilmiah bagi arah kebijakan kepariwisataan Bali di masa depan. Menurutnya, budaya Bali tidak boleh diperlakukan semata sebagai komoditas ekonomi yang kehilangan nilai kesakralan dan spiritualitasnya.

“Kajian ini dilakukan agar budaya Bali tidak dijual murah hingga kehilangan kesakralan dan spiritualitasnya di tengah masyarakat. Kebijakan yang nantinya disusun pemerintah harus mampu melindungi masyarakat sekaligus menjaga nilai-nilai budaya Bali,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kepariwisataan Bali tumbuh secara organis dari denyut kehidupan masyarakat yang berlandaskan taksu, seni, dan budaya. Melalui kolaborasi antara ISI BALI dan BRIDA Provinsi Bali, penelitian ini berupaya menarik benang merah perjalanan sejarah tersebut, mulai dari interaksi seniman, tokoh puri, peneliti, hingga masyarakat yang menjadi fondasi berkembangnya pariwisata Bali.

Menjelang satu abad kepariwisataan Bali, menurutnya, momentum ini menjadi refleksi penting untuk mengevaluasi apakah pembangunan pariwisata masih berpijak pada keaslian budaya Bali serta sejauh mana ketahanan budaya mampu menghadapi arus globalisasi dan dinamika zaman.

“Pemerintah Provinsi Bali melalui BRIDA ingin membangun kajian yang tajam secara akademis, tetapi juga valid secara sosial dan historis. Insan pariwisata, Asita Bali, telah mulai menggaungkan road to 100 years Bali tourism, melalui event Bali Tourism Run 2026 di Jatiluwih, “tambahnya.

Sementara itu, Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, memaparkan hasil penelitian awal yang menunjukkan bahwa perkembangan kepariwisataan budaya Bali dapat dipetakan ke dalam beberapa fase penting, yaitu masa perintisan, masa pembentukan, masa kebangkitan pertama, masa kebangkitan kedua, masa kebangkitan ketiga, dan masa kebangkitan keempat.

Menurutnya, perjalanan kepariwisataan budaya Bali tidak dibangun secara instan, melainkan tumbuh secara alami melalui kekuatan masyarakat dan industri budaya yang telah berkembang sejak awal abad ke-20.

“Kepariwisataan budaya Bali dalam refleksi kesejarahan dibangun secara organis oleh masyarakat Bali berbasis industri budaya. Interaksi dan kolaborasi antara masyarakat, seniman lokal, peneliti, serta tetamu internasional membangun ekosistem seni dan budaya yang kemudian memuarakan kunjungan pariwisata dan menggema secara luas pada medio akhir tahun 1920-an di Bali,” jelasnya.

Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si., Wakil Gubernur Bali periode 2018–2023 sekaligus Ketua PHRI Bali, memaparkan materi “Lahirnya Gagasan Menuju 100 Tahun Pariwisata Bali”. Ia mengulas lahirnya konsep kepariwisataan Bali yang bertumpu pada kekuatan budaya sebagai identitas utama destinasi.

Selanjutnya, Ida Bagus Ngurah Wijaya, tokoh dan pelaku pariwisata Bali, menyampaikan materi “Sanur dan Pariwisata: Refleksi Sejarah” yang mengangkat peran kawasan Sanur sebagai salah satu titik awal perkembangan industri pariwisata modern di Bali.

Sementara itu, Sugi Lanus, pengamat budaya dan ahli lontar, membawakan materi “Fajar Pariwisata Bali: Melihat Cikal-Bakal Infrastruktur Fisik dan Kultural Kepariwisataan Bali dari ‘Kaca Mata’ Rabindranath Tagore (1927)”. Pemaparannya menyoroti pengaruh kunjungan tokoh dunia seperti Rabindranath Tagore dalam memperkuat citra Bali sebagai pusat kebudayaan yang kemudian menarik perhatian masyarakat internasional.

Diskusi dipandu oleh Prof. Dr. I Komang Sudirga, M.Hum., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI. Melalui forum ini, para narasumber, peneliti, dan peserta mendiskusikan berbagai dinamika sejarah, tantangan, serta arah pengembangan kepariwisataan budaya Bali menjelang peringatan 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali.

Foto: FGD Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Senin (13/7), di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI BALI.

Diskusi juga diperkaya dengan masukan dari Tim Pengendali Mutu Penelitian, Prof. Ir. Made Supartha Utama, yang mengajak peserta merefleksikan kembali posisi budaya Bali dalam pembangunan kepariwisataan.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan sekadar bagaimana budaya Bali dipromosikan sebagai daya tarik wisata, tetapi sejauh mana nilai-nilai luhur yang hidup di dalamnya benar-benar dijadikan foundation value atau nilai dasar dalam tata kelola pembangunan. Ia menekankan bahwa nilai-nilai budaya Bali semestinya menjadi landasan dalam membangun sistem kepariwisataan, sistem hukum, maupun sistem sosial di Bali. Dengan demikian, pariwisata tidak hanya berorientasi pada penampilan luar atau aspek seremonial budaya semata.

“Yang perlu kita refleksikan adalah sejauh mana nilai-nilai budaya Bali telah dijadikan foundation value dalam tata kelola sistem pariwisata, sistem hukum, dan sistem sosial. Jangan sampai perhatian kita hanya tertuju pada behavior atau seremoni budaya, seperti upacara ngaben, tanpa memahami nilai-nilai filosofis yang menjadi roh di baliknya,” ujarnya.

Melalui penelitian kolaboratif ini, ISI BALI dan BRIDA Provinsi Bali berharap dapat menghasilkan rekomendasi akademis yang menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan kepariwisataan yang tetap berpijak pada nilai-nilai budaya, menjaga kesakralan tradisi, sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai destinasi budaya yang berkelanjutan di tingkat dunia.(ISIBALI/Humas)

ISI BALI dan BESTie CO., Ltd. Matangkan Program Magang Internasional di Jepang

ISI BALI dan BESTie CO., Ltd. Matangkan Program Magang Internasional di Jepang

Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana (kanan) dan CEO BESTie CO., Ltd., Mr. Matsumoto Yuki dalam rapat pembahasan persiapan program magang internasional di Ruang Sabha Citta Mahottama ISI BALI, Rabu (8/7).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) terus mematangkan pelaksanaan program magang internasional dengan Industri keramik di Kota Hasami, Jepang. Sebagai tindak lanjut kerja sama yang baru disepakati melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan mitra di Jepang, Chief Executive Officer (CEO) BESTie CO., Ltd., Mr. Matsumoto Yuki, mengunjungi ISI BALI pada Rabu (8/7) untuk membahas persiapan pelaksanaan program bersama jajaran pimpinan institut.

Pertemuan yang berlangsung di Ruang Teleconference ISI BALI tersebut diterima langsung oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. I Wayan “Kun” Adnyana, didampingi para wakil rektor, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD, Direktur Pascasarjana, Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama, serta Kepala Biro Perencanaan, Umum, dan Keuangan. Mr. Matsumoto hadir bersama Ibu Alja, pengajar bahasa Jepang yang akan memberikan pelatihan kepada mahasiswa calon peserta magang.

Sebelumnya, pada Selasa (23/6), ISI BALI menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Hasami Tohjiki Industrial Association dan BESTie Co., Ltd. di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang. Nota Kesepahaman tersebut ditandatangani oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. I Wayan “Kun” Adnyana, bersama Chairman Hasami Tohjiki Industrial Association Kazuhiko Ota dan CEO BESTie Co., Ltd. Matsumoto Yuki. Pada kesempatan yang sama juga ditandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI BALI dengan kedua mitra Jepang tersebut yang ditandatangani oleh Dekan FSRD ISI BALI, Drs. I Nengah Sudika Negara, M.Erg.

Foto: Pertemuan ISI BALI dan BESTie CO., Ltd membahas persiapan program magang internasional di Hasami Jepang, Rabu (8/7) di Ruang Sabha Citta Mahottama ISI BALI.

Rektor ISI BALI, Prof. Wayan ‘Kun’ Adnyana, menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut sebagai langkah lanjutan untuk merealisasikan program magang internasional yang telah disepakati. Pembahasan teknis mengenai kurikulum pelatihan akan ditindaklanjuti bersama pimpinan Fakultas Seni Rupa dan Desain agar program dapat berjalan sesuai kebutuhan industri keramik di Jepang.

“Terima kasih atas kunjungan Mr. Matsumoto. Pembahasan mengenai kurikulum dapat dilanjutkan bersama Dekan dan Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD. Dalam waktu dekat ISI BALI juga akan segera menyebarluaskan informasi rekrutmen peserta pelatihan,” ujarnya.

Pada tahap awal, ISI BALI akan merekrut sebanyak 25 mahasiswa semester tujuh yang berasal dari Program Studi Seni Kriya, Seni Murni, dan Desain Produk. Para peserta akan mengikuti pelatihan intensif, termasuk pembelajaran bahasa Jepang, yang direncanakan dimulai pada 1 September 2026 sebagai bekal sebelum memasuki dunia industri. Setelah menyelesaikan pelatihan, delapan peserta terbaik akan dipilih untuk mengikuti program magang internasional di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang. Sementara itu, 17 peserta lainnya akan menjalani program magang pada mitra industri seni kriya bereputasi di dalam negeri, sehingga seluruh peserta tetap memperoleh pengalaman profesional sesuai bidang keahlian masing-masing.

Sementara itu, CEO BESTie CO., Ltd., Mr. Matsumoto Yuki, menyatakan kesiapan pihaknya untuk segera melaksanakan proses wawancara sebagai bagian dari seleksi mahasiswa peserta pelatihan. Ia juga memperkenalkan Ibu Alja sebagai salah satu pengajar bahasa Jepang yang akan mendampingi mahasiswa selama masa persiapan.

Mr. Matsumoto mengungkapkan bahwa kerja sama ini tidak hanya membuka kesempatan bagi mahasiswa ISI BALI untuk memperdalam seni keramik di Jepang, tetapi juga berpotensi menjadi wadah pertukaran budaya yang saling menguntungkan. Menurutnya, minat mahasiswa Jepang untuk mempelajari seni keramik dan kebudayaan Bali juga terus meningkat.

“Saya melihat banyak mahasiswa Jepang yang tertarik belajar keramik di Bali. Setelah mengunjungi beberapa pura, saya juga merasakan kekayaan spiritual dan budaya yang dimiliki Bali. Pengalaman seperti ini tentu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa Jepang untuk belajar di sini,” ungkapnya.

Ia berharap koordinasi dan kerja sama yang erat antara BESTie CO., Ltd., Hasami Tohjiki Industrial Association, dan ISI BALI dapat terus terjalin sehingga seluruh rangkaian pelatihan hingga pelaksanaan magang internasional dapat berlangsung dengan lancar serta memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.

Program magang internasional di Hasami merupakan implementasi awal dari MoU dan PKS yang telah disepakati antara ISI BALI dengan mitra di Jepang. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar di salah satu sentra keramik terkemuka di Jepang, tetapi juga berkesempatan memperluas wawasan internasional, meningkatkan kompetensi profesional, serta memperkuat jejaring kerja sama seni dan industri kreatif antara Indonesia dan Jepang. (ISIBALI/Humas)

ISI BALI Tandatangani MoU Magang Internasional dengan Industri Keramik di Hasami, Jepang

ISI BALI Tandatangani MoU Magang Internasional dengan Industri Keramik di Hasami, Jepang

Kolaborasi Selenggarakan Pendidikan Seni Kriya Internasional

Foto: Rektor ISI BALI Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana (2 dari kanan) didampingi Dekan FSRD ISI BALI Drs. I Nengah Sudika Negara, M.Erg menandatangani MoU dengan Chairman Hasami Tohjiki Industrial Association Kazuhiko Ota (2 dari kiri), dan CEO BESTie Co., Ltd., Matsumoto Yuki (kiri).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) terus memperluas jejaring internasional dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing lulusan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Hasami Tohjiki Industrial Association dan BESTie Co., Ltd., Jepang, pada Selasa (23/6) di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang.

Nota Kesepahaman ditandatangani oleh Rektor ISI BALI Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, dengan  Chairman Hasami Tohjiki Industrial Association Kazuhiko Ota, dan CEO BESTie Co., Ltd., Matsumoto Yuki. Pada kesempatan yang sama juga ditandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI BALI dengan kedua mitra Jepang tersebut. PKS ditandatangani oleh Dekan FSRD ISI BALI Drs. I Nengah Sudika Negara, M.Erg.

Foto: Acara Penandatangan MoU antara ISI BALI dengan Hasami Tohjiki Industrial Association dan BESTie Co., Ltd., Jepang, pada Selasa (23/6) di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang.

Acara penandatanganan berlangsung sangat spesial dan dalam suasana yang hangat. Hadir sekitar 40 Undangan dari unsur industri keramik, lembaga penelitian keramik, anggota parlemen, dan pemerintah kota Hasami dan Perfecture Nagasaki, termasuk wakil walikota Hasami, Murayama Hiroshi. Sebelum acara penandatanganan, dikumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu kebangsaan Jepang, Kimigayo.

Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam mendorong penyelenggaraan pendidikan seni keramik bertaraf internasional melalui sinergi antara perguruan tinggi dengan industri keramik Jepang yang telah memiliki reputasi mendunia.

Kolaborasi tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan Wali Kota Hasami, Yoshinori Maekawa, bersama Ketua Hasami Tohjiki Industrial Association, Kazuhiko Ota, ke Kampus ISI BALI pada 18 Februari 2026. Dalam kunjungan tersebut, kedua belah pihak melakukan penjajakan kerja sama yang kemudian berlanjut dengan undangan resmi kepada Rektor ISI BALI dan Dekan FSRD untuk menghadiri penandatanganan kesepakatan di Jepang.

Foto: Keramik hasil prooduksi di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang.

Hasami dikenal sebagai salah satu sentra industri keramik paling terkenal di Jepang yang telah menghasilkan produk berkualitas tinggi selama ratusan tahun. Melalui kerja sama ini, Kota Hasami berupaya membangun proyek kolaboratif yang menjadi jembatan antara manusia, pendidikan, dan teknologi di Indonesia dan Jepang, sekaligus memperkuat hubungan antara dunia akademik dengan industri kreatif.

Rektor ISI BALI, Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn., menyambut baik terjalinnya kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi ini menjadi peluang penting bagi pengembangan pendidikan seni kriya di ISI BALI sekaligus membuka akses mahasiswa terhadap pengalaman belajar dan praktik kerja di lingkungan industri internasional.

“Program Studi Kriya, Desain Produk, dan Seni Murni di ISI BALI memiliki kualitas yang sangat baik dalam menghasilkan karya keramik inovatif. Mahasiswa tidak hanya menghasilkan karya keramik murni, tetapi juga berbagai produk keramik fungsional yang siap dipasarkan. Karena itu, kerja sama dengan industri keramik Jepang ini akan memperkuat kompetensi mahasiswa sekaligus mempersiapkan mereka memasuki dunia kerja global,” ujarnya.

Sementara itu, pihak Hasami menyatakan komitmennya untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan berbasis industri. Selain memberikan kesempatan bagi mahasiswa ISI BALI mempelajari industri keramik tradisional Jepang secara langsung, kerja sama ini juga membuka peluang karier bagi lulusan yang memiliki kompetensi di bidang keramik untuk bekerja di Hasami, Jepang.

Melalui Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerja Sama tersebut, para pihak sepakat mengembangkan berbagai program, meliputi penyelenggaraan pendidikan, pengembangan kurikulum internasional, pelaksanaan Kuliah Kerja Praktik (internship), penempatan kerja mahasiswa dan alumni, penyediaan infrastruktur pendidikan, serta berbagai bidang lain yang disepakati bersama.

Salah satu program prioritas yang segera direalisasikan adalah penyusunan dan penerapan kurikulum standar Jepang dalam penyelenggaraan pendidikan seni kriya internasional di ISI BALI. Kurikulum tersebut akan disusun bersama mitra industri di Jepang sehingga selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri keramik internasional.

Selain itu, mahasiswa akan memperoleh kesempatan mengikuti program Kuliah Kerja Praktik (internship) di perusahaan dan industri keramik di Hasami dengan fasilitasi penuh dari pihak Jepang. Program ini ditujukan bagi mahasiswa semester VII Program Studi Seni Murni, Seni Kriya, dan Desain Produk, serta direncanakan mulai dilaksanakan pada September 2026.

Melalui pengalaman belajar langsung di pusat industri keramik Jepang, mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai teknik produksi dan inovasi material, tetapi juga memahami budaya kerja, manajemen industri, hingga standar kualitas internasional. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal penting bagi lulusan ISI BALI untuk bersaing di tingkat global. (ISIBALI/Humas)

Wamen Diktisaintek Prof. Stella Apresiasi N-CAS ISI BALI

Wamen Diktisaintek Prof. Stella Apresiasi N-CAS ISI BALI

Foto: Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana bersama Wakil Menteri Diktisaintek Prof. Stella Christie pada ArtMoments Jakarta.

Kehadiran Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) dalam pameran seni rupa kontemporer dan modern internasional ArtMoments Jakarta 2026 mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan. Melalui booth Nata-Citta Art Space (N-CAS) yang mengusung tajuk RAYA-CITTA-RUPA (Cahya Imaji Cipta), karya-karya dosen dan mahasiswa ISI BALI dikunjungi sejumlah pejabat negara, kolektor, jurnalis, hingga tokoh seni nasional selama penyelenggaraan pameran di Agora Ballroom Jakarta, 4–7 Juni 2026.

Salah satu kunjungan penting datang dari Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie. Dalam kunjungannya, Wamen Stella mengapresiasi partisipasi ISI BALI yang menghadirkan beragam karya seni rupa kontemporer Bali dalam ajang internasional tersebut. Selain Stella Christie, booth N-CAS juga dikunjungi Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita serta Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha.

Foto: Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana bersama Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha pada ArtMoments Jakarta.

Tak hanya menarik perhatian kalangan pemerintahan, booth ISI BALI juga menjadi salah satu titik temu berbagai tokoh seni dan media. Sejumlah nama yang tercatat mengunjungi pameran antara lain jurnalis Kompas Hilmi Faiq, pendiri Nawa Tunggal, Pemimpin Majalah Prestige Ronald Liem, penulis dan kritikus seni Agus Dermawan T., serta Bambang Bujono. Dari kalangan kolektor hadir Tossin Himawan, Wiyu Wahono, dan Sendy Widjaya. Sejumlah figur publik seperti Anjasmara dan Chef Juna Rorimpandey juga tampak menyambangi booth ISI BALI.

Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana mengatakan, dalam ArtMoments Jakarta tahun ini, Nata-Citta Art Space (N-CAS) menampilkan karya-karya seni lukis, fotografi, patung, kriya keramik, serta desain wastra yang merepresentasikan perkembangan mutakhir seni rupa kontemporer Bali.

Foto: Booth Nata-Citta Art Space ISI BALI dalam ArtMoments Jakarta.

Pameran ini dikuratori oleh Prof. Dr. AA Rai Remawa, Warih Wisatsana, dan Alaida Niwaya. Sebanyak 16 perupa lintas generasi terlibat dalam pameran bersama ini, terdiri atas 13 dosen dan tiga mahasiswa terpilih ISI BALI. Mereka adalah I Wayan “Kun” Adnyana, I Ketut Muka Pendet, I Nengah Wira Kesuma, Wayan Sujana Suklu, I Made Jodog, I Made Suparta, Ida Ayu Gede Artayani, Tjok Istri Ratna C.S., Ida Bagus Candra Yana, Ni Made Tiartini Mudarahayu, I Made Hendra Mahajaya P., I Gede Jaya Putra, I Wayan Adi Sucipta, I Gede Ari Widia Utama Pucangan, Tebuana Istri Mahisarani, dan Desak Putu Agnis.

Prof. Kun Adnyana menambahkan, karya-karya yang ditampilkan lahir dari proses kreatif yang panjang, memadukan pengalaman personal, riset artistik, pengamatan empiris, dan pembacaan ulang terhadap berbagai jejak budaya yang hidup di Bali. “Beragam medium dan pendekatan artistik yang ditampilkan menunjukkan bagaimana seni rupa kontemporer Bali terus berkembang tanpa melepaskan akar budaya yang menjadi fondasinya,” ujar Guru Besar Bidang Sejarah Seni ini. Partisipasi ISI BALI dalam ArtMoments Jakarta 2026 menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan capaian kreatif sivitas akademika kepada publik nasional maupun internasional. Kehadiran berbagai pejabat, kolektor, pelaku industri kreatif, dan tokoh seni di booth N-CAS menunjukkan tingginya perhatian terhadap perkembangan seni rupa kontemporer yang lahir dari lingkungan akademik ISI BALI. (ISIBALI/Humas)

Loading...