Foto: Delegasi ISI BALIdalam malam resepsi perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 6–9 Oktober 2026 di Hanoi, Vietnam.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) memperkuat diplomasi budaya Indonesia di kawasan Asia Tenggara melalui partisipasi dalam rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang diselenggarakan pada 6–9 Oktober 2026 di Hanoi, Vietnam. Kehadiran ISI BALI merupakan undangan Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Demokratik Vietnam, Adam Mulawarman Tugio, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Indonesia di kancah internasional.
Delegasi ISI BALI dipimpin Rektor Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, didampingi Wakil Rektor Dr. I Made Jodog, serta tiga mahasiswa, yakni Gede Dipta, Mitha Apsari, dan Diah Nanta. Selain berpartisipasi dalam resepsi diplomatik, delegasi ISI BALI memanfaatkan kunjungan tersebut untuk memperluas jejaring kelembagaan melalui pembahasan kerja sama dengan Vietnam Academy of Dance (VAD) serta penyelenggaraan lokakarya tari Bali.
Pertemuan dengan VAD menjadi langkah strategis untuk membuka peluang kolaborasi di bidang pendidikan, pengembangan kompetensi seni tari, dan pertukaran pengetahuan budaya antara Indonesia dan Vietnam. Melalui lokakarya tari Bali, ISI BALI turut memperkenalkan kekayaan tradisi tari Bali sekaligus memberikan pengalaman pembelajaran seni secara langsung.
Foto: Delegasi ISI BALI bersama mahasiswa Vietnam Academy of Dance (VAD), 6–9 Oktober 2026 di Hanoi, Vietnam.
Direktur VAD, Dr. Nguyễn Thúy Nga, menyambut baik rencana kerja sama tersebut. Kolaborasi ini dinilai dapat memperkaya pengalaman belajar mahasiswa VAD, khususnya dalam meningkatkan penguasaan tari Indonesia, terutama tari Bali. Pertukaran pengetahuan dan praktik seni diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai karakteristik, teknik, serta nilai budaya yang terkandung dalam tradisi tari Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana juga secara resmi menyampaikan undangan kepada Direktur dan delegasi VAD untuk berpartisipasi dalam Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) yang diselenggarakan di ISI BALI. Forum ini merupakan wadah kemitraan, dialog, dan kolaborasi lintas perguruan tinggi seni dan desain di kawasan Asia-Pasifik.(ISIBALI/Humas)
Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana sebagai pembicara dalam simposium internasional Sea-ing The Land: Nyegara Gunung, 21-28 September 2026 di Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University.
The Southeast Asia Program (SEAP) Cornell University, Amerika Serikat mengundang Rektor Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI), Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana sebagai pembicara dalam simposium internasional Sea-ing The Land: Nyegara Gunung, 21-28 September 2026. Acara simposium dilaksanakan di Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University.
Prof Kun Adnyana membawakan presentasi berjudul Nyegara Gunung: Flowing Lines and The Metaphor of The Vessel, yang membahas ikonografi berbasis artistik garis tentang air dan ombak dalam beragam stilistika rupa seni lukis Bali. Simposium dipandu profesor sejarah seni Asia Tenggara, Prof. Dr. Kaja Maria McGowan. Selain presentasi makalah, karya Prof Kun Adnyana berjudul “Victory of Sailing”, ukuran 140 x 160 Cm, tinta cina dan acrylic di kanvas dipilih menjadi koleksi tetap Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University, berdampingan dengan karya seni rupa dan visual maestro berbagai negara.
Foto: Koordinator Prodi Teater, Dr. I Gusti Sudarta menampilkan pertunjukan Wayang Plastik dalam simposium internasional Sea-ing The Land: Nyegara Gunung, 21-28 September 2026 di Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University.
Selain Prof Kun Adnyana, dosen ISI Bali, yang juga Koordinator Prodi Teater, Dr. I Gusti Sudarta diundang untuk menampilkan pertunjukan Wayang Plastik serangkaian acara simposium dimaksud. Dr. Sudarta berkolaborasi dengan profesor musik, Prof Christopher J. Miller dan konposer Peni Candra Rini. Pertunjukan disambut antusias masyarakat kampus dan juga alumni Cornell University, di kota Itacha, New York.
Momentum undangan sebagai narasumber simposium, dimanfaatkan juga oleh Rektor ISI BALI Prof Kun Adnyana untuk membahas kerja sama antara ISI BALI dengan SEAP Cornell University. Prof Kun Adnyana bersama Direktur SEAP, Prof. Eric Tagliacozzo, telah menyepakati beberapa program, di antaranya mahasiswa peserta SEAP ke depan dapat mengikuti program internasional ISI BALI, termasuk visiting profesor kedua perguruan tinggi. (ISIBALI/Humas)
Foto: Seminar Internasional Bali-Bhuwana-Waskita VI bertajuk “Parama-Jnana-Patra: True Knowledge in Context” di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen, ISI BALI. Selasa (22/9).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) kembali menggelar Seminar Internasional Bali-Bhuwana-Waskita VI bertajuk “Parama-Jnana-Patra: True Knowledge in Context” di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen, ISI BALI. Selasa (22/9). Seminar ini menjadi ruang akademik dan kreatif yang mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari Indonesia maupun mancanegara untuk mendiskusikan pengetahuan dan kreativitas dalam bidang seni, desain, sastra, dan budaya dengan beragam perspektif kekinian.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Umum, dan Keuangan ISI BALI, Dr. Made Jodog. Sementara itu, Prof. Jaygo Bloom, MFA dari LASALLE College of the Arts, hadir sebagai pembicara kunci.
Ketua panitia Bali-Bhuwana-Waskita VI, Dr. Arya Pageh Wibawa, menyampaikan bahwa Seminar Internasional ini menghadirkan total 45 pembicara dari Indonesia dan berbagai negara. Jumlah tersebut terdiri atas satu pembicara kunci, enam pembicara undangan serta 38 pembicara yang terpilih melalui skema Call for Papers.
Sejumlah akademisi dan praktisi turut berbagi gagasan dalam forum tersebut. Mereka di antaranya Dr. Edward Walter Herbst, etnomusikolog; Ts. Dr. Ellyana Mohd Muslim Tan dari Universiti Teknologi MARA; Mrs. Misako Masuzumi, CTO BESTIE Co., Ltd.; serta Dr. Hamam Supriyadi, M.A. dari Thammasat University. Dari ISI BALI, forum ini menghadirkan Dr. I Nyoman Laba, S.Sn., M.Sn. dan Dr. I Kadek Widnyana, M.Si. sebagai pembicara.
Foto: Seminar Internasional Bali-Bhuwana-Waskita VI bertajuk “Parama-Jnana-Patra: True Knowledge in Context” di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen, ISI BALI. Selasa (22/9).
Melalui tema “Parama-Jnana-Patra: True Knowledge in Context”, seminar mengajak peserta untuk melihat pengetahuan tidak semata sebagai kumpulan informasi, tetapi sebagai sesuatu yang perlu dipahami dan diterapkan sesuai konteks. Perspektif tersebut menjadi penting dalam pengembangan penelitian di bidang seni, desain, sastra, dan kebudayaan yang terus berhadapan dengan perubahan dan tantangan kontemporer.
Forum ini juga menjadi wadah pertukaran pengetahuan antara berbagai latar belakang keilmuan dan pengalaman praktik. Gagasan yang disampaikan para pembicara diharapkan dapat membuka ruang dialog, memperluas perspektif, serta mendorong pengembangan penelitian dan kreativitas yang relevan dengan perkembangan zaman.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Umum, dan Keuangan ISI BALI, Dr. Made Jodog menyampaikan apresiasi kepada seluruh pembicara dan peserta yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan seminar. Ia berharap forum akademik tersebut dapat memperkuat pertukaran pengetahuan serta membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di bidang seni, desain, sastra, dan budaya.
Seminar Internasional Bali-Bhuwana-Waskita VI sekaligus menegaskan komitmen ISI BALI dalam menyediakan ruang akademik yang mempertemukan gagasan lokal dan global. Melalui forum semacam ini, pengetahuan seni dan budaya diharapkan terus berkembang melalui dialog, penelitian, dan praktik kreatif yang ditempatkan dalam konteks yang tepat.
Foto: FGD “Menuju 100 Tahun Kepariwisataan Bali #2”, Rabu (16/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Guna mematangkan penyusunan buku kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Institut Seni Indonesia (ISI) BALI dan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali kembali menggelar Diskusi Terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) bertajuk “Menuju 100 Tahun Kepariwisataan Bali #2”, Rabu (16/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mematangkan penyusunan buku kajian 100 Tahun Kepariwisataan Bali yang direncanakan terbit pada 2027, bertepatan dengan satu abad perkembangan pariwisata Bali.
FGD yang mengusung tema “Yukti-Jnana-Yatra”, yang dimaknai sebagai pelayaran menuju kedalaman pengetahuan, merupakan kelanjutan dari FGD pertama yang telah dilaksanakan pada 13 Juli 2026. Forum ini mempertemukan akademisi, Kelompok Ahli Pembangunan Bidang Budaya dan Pariwisata Provinsi Bali, pelaku pariwisata, budayawan, serta peneliti untuk memperkaya kajian melalui perspektif historis, akademis, dan pengalaman praktis di lapangan.
Hadir membuka kegiatan, Sekretaris Kepala BRIDA Provinsi Bali, Ni Luh Putu Seni Artini, S.E., Ak., M.Si. Sementara itu, forum menghadirkan tiga narasumber dari berbagai latar belakang kepariwisataan Bali, yakni pendiri Agung Rai Museum of Art (ARMA), AA Gde Rai; Ketua Yayasan Pembangunan Sanur, Ida Bagus Sidharta Putra; serta Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya.
Dalam forum tersebut, Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, memaparkan hasil penelitian mengenai perkembangan kepariwisataan budaya Bali yang dipetakan ke dalam lima pembabakan waktu. Pembabakan tersebut meliputi Masa Pembentukan Kepariwisataan Bali (1927–1945), Masa Kebangkitan Pariwisata Bali Pertama (1945–1965), Masa Kebangkitan Kedua (1965–1996), Masa Kebangkitan Ketiga (1997–2017), serta Masa Kebangkitan Keempat (2018–kini).
Foto: FGD “Menuju 100 Tahun Kepariwisataan Bali #2”, Rabu (16/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Pemetaan tersebut menjadi salah satu pijakan dalam penyusunan buku yang dikerjakan oleh tim beranggotakan 20 orang, termasuk lima guru besar. Melalui rangkaian FGD, tim penyusun terus menggodok substansi buku agar mampu merekam perjalanan kepariwisataan Bali secara lebih utuh sekaligus memberikan perspektif terhadap perkembangan pariwisata Bali ke depan.
Sejumlah aspek strategis kemudian dibahas oleh para narasumber. AA Gde Rai menyampaikan materi bertajuk “Museum Sebagai Lembaga Pelestari Seni, Budaya, dan juga sebagai Destinasi Wisata”, yang menyoroti posisi museum dalam pelestarian kebudayaan sekaligus pengembangan daya tarik wisata.
Sementara itu, Ida Bagus Sidharta Putra membahas “Tata Kelola Pariwisata Berbasis Kawasan Sanur”, dengan mengangkat pengalaman pengelolaan kawasan Sanur yang melibatkan masyarakat. Adapun I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya memaparkan “Tata Kelola Destinasi dan Praktik Hospitality Khas Bali”, termasuk dinamika pengelolaan destinasi dan tantangan pariwisata Bali saat ini, seperti overtourism.
Foto: Penyerahan Piagam Penghargaan kepada narasumber FGD “Menuju 100 Tahun Kepariwisataan Bali #2”, Rabu (16/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Diskusi juga berkembang pada pemahaman bahwa kepariwisataan Bali tidak semata-mata bertumpu pada kebudayaan sebagai produk wisata, tetapi mencakup berbagai aktivitas dan daya tarik yang berkembang seiring perjalanan pariwisata Bali.
Anggota Kelompok Ahli Pembangunan Bidang Pariwisata Provinsi Bali, Cipto Aji Gunawan, mencontohkan perkembangan wisata bahari, khususnya surfing dan diving, yang turut membentuk karakter pariwisata Bali. Menurutnya, aktivitas tersebut pada awalnya diperkenalkan oleh wisatawan mancanegara, kemudian berkembang dan menjadi bagian dari ikon kepariwisataan Bali. Perspektif tersebut dinilai penting untuk melihat perkembangan pariwisata Bali secara lebih luas, termasuk interaksi antara masyarakat lokal dan berbagai pengaruh dari luar.
Masukan lainnya disampaikan Ir. Made Gunaja, M.Si., perwakilan Tim Pengendali Mutu BRIDA Provinsi Bali. Ia menekankan pentingnya memasukkan rekam kebijakan serta dukungan pemerintah daerah dalam perjalanan kepariwisataan Bali. Menurutnya, kebijakan dan dukungan para pemimpin Bali, termasuk gubernur pada setiap periode, perlu terdokumentasi sebagai bagian dari landasan objektif untuk melihat peran pemerintah dalam perkembangan pariwisata Bali.
Berbagai pandangan yang muncul dalam FGD tersebut selanjutnya menjadi bahan pengayaan bagi tim penyusun dalam menyempurnakan kajian 100 Tahun Kepariwisataan Bali. Melalui pendekatan yang memadukan catatan sejarah, hasil penelitian, pengalaman pelaku, serta perspektif kebijakan, buku tersebut diharapkan dapat menghadirkan dokumentasi komprehensif mengenai perjalanan satu abad kepariwisataan Bali. (ISIBALI/Humas)
Foto: Mahasiswa ISI BALI pada malam pengumuman juara PEKSIMINAS XVIII di Universitas Jember, Kamis (10/9)
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) kembali mencatatkan prestasi pada ajang Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) XVIII Tahun 2026 yang diselenggarakan di Universitas Jember, Jawa Timur, 7–10 September 2026. Dari sejumlah tangkai lomba yang diikuti mahasiswa ISI BALI sebagai bagian dari Kontingen Provinsi Bali, empat tangkai berhasil menyumbangkan prestasi bagi Bali di tingkat nasional.
Prestasi tertinggi diraih Sri Agung Wulandewi Putri Laksana, mahasiswa Program Studi (Prodi) Musik yang berhasil meraih Juara I Tangkai Lomba Menyanyi Keroncong Putri. Capaian tersebut menjadi salah satu prestasi terbaik Kontingen Provinsi Bali sekaligus menunjukkan kemampuan mahasiswa ISI BALI dalam berkompetisi pada ajang seni mahasiswa tingkat nasional.
Prestasi berikutnya diraih Insan Kamis, mahasiswa Prodi Fotografi ISI BALI, yang memperoleh Juara II Tangkai Lomba Fotografi Jurnalistik Dokumenter. Sementara itu, Ni Luh Made Bindi Hita dari Prodi Animasi berhasil meraih Harapan II pada Tangkai Lomba Komik Strip.
Pada tangkai lomba Tari, ISI BALI turut memperkuat Kontingen Provinsi Bali melalui karya berjudul “Ngetug Bumi” yang dibawakan oleh tujuh mahasiswa Prodi Tari, yakni I Putu Gede Pradipta Utama, Ni Kadek Dhya Sumitha Apsari, Made Githa Sanjiwani, I Made Wahyu Danurtha, Ida Ayu Adi Tri Wiranti, Ni Nengah Diah Tantri, dan G. Ngr Bagus Andika Prasetya. Karya tersebut berhasil meraih Harapan I.
Sebelumnya, mahasiswa ISI BALI yang tergabung dalam Kontingen Provinsi Bali telah melalui proses seleksi dan pembinaan setelah meraih prestasi pada PEKSIMIDA Bali. Selain empat tangkai tersebut, ISI BALI juga mengirimkan Zahid Zahendra dari Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan pada Tangkai Lomba Menyanyi Dangdut Putra dan mahasiswa Prodi Desain Komunikasi Visual, I Kadek Ariandi Triana Putra Widi Nugraha pada Tangkai Lomba Baca Puisi Putra.
Foto: Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI sekaligus Ketua Umum Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Pengprov Bali, Prof. Dr. Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum., menerima penghargaan Terbaik 7 PEKSIMINAS XVIII di Universitas Jember, Kamis (10/9)
Keikutsertaan mahasiswa ISI BALI dalam PEKSIMINAS XVIII menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan, kreativitas, dan pengalaman berkompetisi di tingkat nasional. Prestasi yang diraih juga menjadi hasil dari proses persiapan dan pembinaan yang dilakukan secara serius bersama dosen pendamping sebelum mahasiswa bertanding di tingkat nasional.
Secara keseluruhan, Kontingen Provinsi Bali berhasil meraih sembilan prestasi pada PEKSIMINAS XVIII, terdiri atas Juara I Keroncong Putri, Juara II Lukis, Juara II Fotografi Jurnalistik, Harapan I Desain Poster, Harapan II Komik Strip, Harapan I Baca Puisi Putri, Harapan II Monolog, Harapan III Vokal Grup, serta Harapan I Tari.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI sekaligus Ketua Umum Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Pengprov Bali, Prof. Dr. Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum., menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas perjuangan seluruh mahasiswa yang tergabung dalam Kontingen Provinsi Bali pada PEKSIMINAS XVIII.
“Selamat kepada adik-adik yang telah berhasil meraih prestasi dari berbagai tangkai lomba. Kami salut dan bangga atas totalitas kalian. Bagi yang belum beruntung, jangan kecewa karena persaingan sangat ketat. Jadikan pengalaman ini sebagai motivasi untuk memperbaiki dan menyempurnakan diri ke depan. Yang tidak kalah penting, mari tetap solid karena merawat persaudaraan adalah bagian penting selain kejuaraan,” ujar Prof. Komang
Capaian tersebut menempatkan Kontingen Provinsi Bali sebagai salah satu kontingen terbaik, yakni peringkat ketujuh dari seluruh provinsi di Indonesia. Hasil ini menjadi capaian membanggakan bagi Bali sekaligus memperlihatkan kontribusi mahasiswa ISI BALI dalam mengharumkan nama daerah melalui prestasi di bidang seni pada tingkat nasional. (ISIBALI/Humas)
Foto: Pangurip Magang Kreatif Bersertifikat Internasional JANA-WIDYA-JNANA di Ballroom Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lt. 3, ISI BALI, Selasa (1/9).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) mengawali program Magang Kreatif Bersertifikat Internasional JANA-WIDYA-JNANA (Talenta Mulia Dunia) melalui kegiatan pangurip yang digelar Selasa, 1 September 2026, di Ballroom Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai 3, ISI BALI. Kegiatan pangurip dihadiri Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana bersama seluruh jajaran pimpinan ISI BALI, Chairman Hasami Ceramic Industry Cooperative Association Mr. Ota Kazuhiko, Deputy Director Ceramic Research Center of Nagasaki Mr. Hideki Yoshida, perwakilan BESTie CO., Ltd Ms. Misako Masuzumi, dan staf Hasami Ceramic Industry Cooperative Association Mr. Hirotoshi Yamada, serta Dewan Pertimbangan ISI BALI, AA Gde Raid an Warih Wisatsana.
Sebanyak 25 mahasiswa semester tujuh dari Program Studi Seni Kriya, Seni Murni, dan Desain Produk terpilih mengikuti program setelah melalui proses seleksi yang dilaksanakan ISI BALI bersama mitra industri keramik Jepang. Ke-25 mahasiswa tersebut adalah I Gusti Ayu Wijayanti P., Ida Made Gaodya Rendraswara, I Dewa Bagus Wahyu, I Wayan Aria Santosa, Rayna Najla K., I Wayan Aria Sisya N., Martha, I Made Sofyan, Zefanya Awan B., Ni Wayan Arianti Dewi, Arwen Jennifer P., Ni Luh Dewi Kusuma W., I Komang Aryawan, Cokorda Gede Raka Wisma W., Ni Luh Putu Karina Praba D., I Putu Ranu Weda W., I Kadek Agus Adi W., I Kadek Sudana, Ni Kadek Karini A., Adi Purnama Yoga, I Wayan Adi Wiryatama, I Kadek Fajar N., Alfridus Moensaku, I Kadek Calvin Y., dan I Gst. Ngurah Putu Diva.
Melalui program ini, para peserta akan mengikuti pelatihan intensif di ISI BALI sebagai tahap persiapan sebelum memasuki dunia industri. Materi penting yang diberikan yakni pembelajaran bahasa Jepang, teknik keramik Hasami, teknologi produksi keramik, desain produk 3D, dan lainnya. Pembekalan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis mahasiswa, tetapi juga mempersiapkan kemampuan komunikasi, adaptasi budaya, kedisiplinan, serta kesiapan bekerja dalam lingkungan industri yang memiliki standar profesional dan internasional.
Setelah menyelesaikan rangkaian pelatihan dan melalui proses evaluasi, delapan peserta terbaik akan dipilih untuk mengikuti program magang internasional di Kota Hasami, Prefektur Nagasaki, Jepang. Hasami dikenal sebagai salah satu sentra keramik penting di Jepang, sehingga pengalaman magang di kawasan tersebut diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa mengenai proses produksi, inovasi desain, budaya kerja, serta perkembangan industri keramik Jepang.
Sementara itu, 17 peserta lainnya akan menjalani program magang pada mitra industri seni kriya bereputasi di dalam negeri. Dengan skema tersebut, seluruh mahasiswa peserta tetap memperoleh kesempatan untuk mengimplementasikan kompetensi akademik ke dalam praktik profesional, baik melalui pengalaman industri di Jepang maupun di Indonesia.
Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana dalam kesempatan tersebut menegaskan pentingnya menghadirkan pengalaman belajar yang tidak berhenti di ruang kelas. Melalui program magang yang terhubung langsung dengan industri, mahasiswa didorong untuk memahami standar kerja profesional, mengembangkan kreativitas, sekaligus membangun jejaring yang dapat mendukung pengembangan karier setelah menyelesaikan pendidikan.
Chairman Hasami Ceramic Industry Cooperative Association, Mr. Ota Kazuhiko, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat kepada 25 mahasiswa yang telah terpilih mengikuti program Magang Kreatif Bersertifikat Internasional JANA-WIDYA-JNANA. Ia menyampaikan bahwa para peserta akan mendapatkan berbagai pembekalan sebagai persiapan memasuki dunia industri, antara lain pembelajaran bahasa Jepang, 3D CAD, serta pengetahuan dan keterampilan dalam pengembangan produk desain. Menurutnya, kemampuan bahasa menjadi salah satu aspek penting bagi mahasiswa sebelum mengikuti pengalaman magang, khususnya bagi peserta yang nantinya berkesempatan menjalani program di Jepang. “Saya berharap mahasiswa dapat belajar bahasa Jepang dengan baik,” ujarnya.
Melalui rangkaian pelatihan, seleksi, hingga pelaksanaan magang, program ini diharapkan melahirkan talenta seni dan desain yang tidak hanya memiliki kemampuan kreatif, tetapi juga siap beradaptasi dengan kebutuhan industri, memiliki wawasan global, serta mampu membawa kompetensi seni Indonesia ke ruang profesional internasional.