Foto: Sosialisasi Penguatan Tata Kelola Jurnal Menuju Akreditasi Nasional ISI BALI di Ruang Sidang Natha Widya Sabha, Gedung Rektorat Lantai 2 ISI BALI, Jumat (25/9).
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Seni Indonesia (ISI) Bali menggelar kegiatan “Sosialisasi Penguatan Tata Kelola Jurnal Menuju Akreditasi Nasional ISI BALI” pada Jumat, 25 September 2026 di Ruang Sidang Natha Widya Sabha, Gedung Rektorat Lantai 2 ISI BALI. Kegiatan diselenggarakan untuk mendorong peningkatan mutu serta tata kelola publikasi ilmiah di lingkungan kampus agar sesuai dengan standar akreditasi nasional berdasarkan ketentuan Permendiktisaintek Nomor 9 Tahun 2026.
Kegiatan dibuka Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi, Prof. Dr. Anak Agung Gde Bagus Udayana, S.Sn., M.Si. Hadir dalam kegiatan sosialisasi, Ketua LPPM ISI BALI, Dr. I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn., Kepala Pusat Penerbitan dan Kekayaan Intelektual ISI BALI I Putu Udiyana Wasista, S.Sn., M.Sn, serta dosen pengelola jurnal pada masing-masing program studi.
Sesi pemaparan materi inti menghadirkan I Dewa Gede Agung Kurnia Juliharta, MM, yang memberikan panduan teknis serta strategi penguatan tata kelola jurnal. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif dan evaluasi bersama para peserta. Antusiasme pengelola jurnal terlihat sepanjang sesi tanya jawab yang membahas berbagai tantangan teknis dalam pemenuhan substansi dan manajemen penerbitan berkala.
Sosialisasi ini melibatkan pengelola dari 15 jurnal program studi di lingkungan ISI BALI, di antaranya Amarasi, Ghurnita, Anggit, Anima Rupa, Vastukara, PENSI, Calaccitra, Hastagina, Damar Pedalangan, Cita Kara, Igel, Bhumidevi, Retina, Tattwaloka, serta Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management. Melalui sinergi ini, LPPM ISI BALI berkomitmen untuk terus mendampingi pengelola jurnal dalam mencapai standar reputasi ilmiah yang berkelanjutan.
LPPM ISI BALI Holds Socialization on Journal Governance Enhancement Towards National Accreditation
The Institute for Research and Community Services (LPPM) of Institut Seni Indonesia (ISI) Bali held a socialization session titled “Strengthening Journal Governance Towards National Accreditation at ISI BALI” on Friday, September 25, 2026. The event, which began at 08:30 WITA, took place in the Natha Widya Sabha Meeting Room, 2nd Floor of the Rectorate Building, ISI BALI. The activity was organized to enhance the quality and governance of scientific publications across the campus to meet national accreditation standards pursuant to Regulation of the Minister of Higher Education, Science, and Technology Number 9 of 2026.
The program commenced with participant registration and an official opening, featuring opening remarks from the Head of LPPM ISI BALI, Dr. I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn., and the Vice Rector for Academic Affairs and Information Systems, Prof. Dr. Anak Agung Gde Bagus Udayana, S.Sn., M.Si. The presence of institutional and faculty leaders underscored the importance of this agenda for the sustainability and advancement of ISI BALI’s academic publication reputation.
The core presentation session featured I Dewa Gede Agung Kurnia Juliharta, MM, who delivered technical guidance and strategies for strengthening journal management. The event continued with an interactive discussion and joint evaluation with the participants. The enthusiasm of the journal managers was evident throughout the Q&A session, which addressed technical challenges regarding substantive quality and periodic publishing management.
This socialization session involved representatives from 15 study program journals within ISI BALI, including Amarasi, Ghurnita, Anggit, Anima Rupa, Vastukara, PENSI, Calaccitra, Hastagina, Damar Pedalangan, Cita Kara, Igel, Bhumidevi, Retina, Tattwaloka, and Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management. Through this synergy, LPPM ISI BALI remains committed to continuously assisting journal managers in achieving sustainable standards of academic reputation.
Foto: Seminar Internasional Bali-Bhuwana-Waskita VI bertajuk “Parama-Jnana-Patra: True Knowledge in Context” di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen, ISI BALI. Selasa (22/9).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) kembali menggelar Seminar Internasional Bali-Bhuwana-Waskita VI bertajuk “Parama-Jnana-Patra: True Knowledge in Context” di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen, ISI BALI. Selasa (22/9). Seminar ini menjadi ruang akademik dan kreatif yang mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari Indonesia maupun mancanegara untuk mendiskusikan pengetahuan dan kreativitas dalam bidang seni, desain, sastra, dan budaya dengan beragam perspektif kekinian.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Umum, dan Keuangan ISI BALI, Dr. Made Jodog. Sementara itu, Prof. Jaygo Bloom, MFA dari LASALLE College of the Arts, hadir sebagai pembicara kunci.
Ketua panitia Bali-Bhuwana-Waskita VI, Dr. Arya Pageh Wibawa, menyampaikan bahwa Seminar Internasional ini menghadirkan total 45 pembicara dari Indonesia dan berbagai negara. Jumlah tersebut terdiri atas satu pembicara kunci, enam pembicara undangan serta 38 pembicara yang terpilih melalui skema Call for Papers.
Sejumlah akademisi dan praktisi turut berbagi gagasan dalam forum tersebut. Mereka di antaranya Dr. Edward Walter Herbst, etnomusikolog; Ts. Dr. Ellyana Mohd Muslim Tan dari Universiti Teknologi MARA; Mrs. Misako Masuzumi, CTO BESTIE Co., Ltd.; serta Dr. Hamam Supriyadi, M.A. dari Thammasat University. Dari ISI BALI, forum ini menghadirkan Dr. I Nyoman Laba, S.Sn., M.Sn. dan Dr. I Kadek Widnyana, M.Si. sebagai pembicara.
Foto: Seminar Internasional Bali-Bhuwana-Waskita VI bertajuk “Parama-Jnana-Patra: True Knowledge in Context” di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen, ISI BALI. Selasa (22/9).
Melalui tema “Parama-Jnana-Patra: True Knowledge in Context”, seminar mengajak peserta untuk melihat pengetahuan tidak semata sebagai kumpulan informasi, tetapi sebagai sesuatu yang perlu dipahami dan diterapkan sesuai konteks. Perspektif tersebut menjadi penting dalam pengembangan penelitian di bidang seni, desain, sastra, dan kebudayaan yang terus berhadapan dengan perubahan dan tantangan kontemporer.
Forum ini juga menjadi wadah pertukaran pengetahuan antara berbagai latar belakang keilmuan dan pengalaman praktik. Gagasan yang disampaikan para pembicara diharapkan dapat membuka ruang dialog, memperluas perspektif, serta mendorong pengembangan penelitian dan kreativitas yang relevan dengan perkembangan zaman.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Umum, dan Keuangan ISI BALI, Dr. Made Jodog menyampaikan apresiasi kepada seluruh pembicara dan peserta yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan seminar. Ia berharap forum akademik tersebut dapat memperkuat pertukaran pengetahuan serta membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di bidang seni, desain, sastra, dan budaya.
Seminar Internasional Bali-Bhuwana-Waskita VI sekaligus menegaskan komitmen ISI BALI dalam menyediakan ruang akademik yang mempertemukan gagasan lokal dan global. Melalui forum semacam ini, pengetahuan seni dan budaya diharapkan terus berkembang melalui dialog, penelitian, dan praktik kreatif yang ditempatkan dalam konteks yang tepat.
Foto: Seminar Folklore bertajuk “What is Folklore for Us Today?” di Ruang Video Conference, Gedung Citta Kelangen ISI BALI, Kamis (24/9).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menjadi salah satu ruang berlangsungnya rangkaian Nusantara International Folklore Festival (NIFF) 2026 melalui Seminar Folklore bertajuk “What is Folklore for Us Today?”. Kegiatan yang membahas relevansi folklore dalam kehidupan masyarakat masa kini tersebut digelar di Ruang Video Conference, Gedung Citta Kelangen ISI BALI, Kamis (24/9).
Seminar dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI, Prof. Dr. I Komang Sudirga. Kegiatan menghadirkan maestro tari dan koreografer Indonesia, Didik Nini Thowok, serta Dr. I Kadek Widnyana, SPP., M.Si., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama sekaligus dosen Program Studi Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan ISI BALI. Diskusi dipandu Dr. Nungki Kusumastuti, seniman dan praktisi seni budaya.
Seminar mengangkat pertanyaan mengenai posisi dan relevansi folklore di tengah perubahan kehidupan masyarakat saat ini. Folklore tidak semata-mata dipandang sebagai warisan budaya dari masa lalu, tetapi juga sebagai pengetahuan dan ekspresi budaya yang terus hidup, berkembang, serta mengalami pemaknaan baru.
Foto: Seminar Folklore bertajuk “What is Folklore for Us Today?” di Ruang Video Conference, Gedung Citta Kelangen ISI BALI, Kamis (24/9).
Kehadiran Didik Nini Thowok memberikan perspektif dari pengalaman panjang dalam dunia seni pertunjukan dan pengembangan tradisi tari Indonesia. Sementara itu, perspektif akademik turut dihadirkan melalui Dr. I Kadek Widnyana yang memiliki latar belakang keilmuan dan praktik dalam bidang seni pertunjukan.
Pembahasan tersebut menjadi semakin relevan dalam konteks penyelenggaraan NIFF 2026 yang mempertemukan seni tradisi dari berbagai daerah di Indonesia dengan kelompok seni dari sejumlah negara. Festival ini menempatkan folklore sebagai ruang perjumpaan budaya, sekaligus sebagai medium untuk mengenali identitas, pengetahuan, dan cerita yang hidup dalam masyarakat.
NIFF 2026 mengusung tema “Global Rhythms, Shared Stories” dan berlangsung di Bali pada 25–28 September 2026. Festival menghadirkan peserta dari Indonesia dan sejumlah negara, antara lain Jepang, Polandia, Thailand, dan Selandia Baru. Rangkaian kegiatan mencakup pertunjukan, lokakarya, serta berbagai agenda pertukaran budaya.
Keterlibatan ISI BALI dalam rangkaian NIFF 2026 memperluas ruang dialog antara dunia akademik, seniman, praktisi, dan komunitas budaya. Seminar “What is Folklore for Us Today?” sekaligus menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana folklore dapat terus dipahami dan dikembangkan tanpa kehilangan keterkaitannya dengan akar budaya masyarakat.
Foto: FGD penyusunan buku profil Industri Kecil dan Menengah (IKM) perajin wastra dan logam Kabupaten Gianyar, Jumat (18/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gianyar menggelar Diskusi Terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) bertajuk “Gina-Jnana-Guna (Kharisma Mahakarya Pengetahuan)”, Jumat (18/9). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen, Lantai 3 ISI BALI ini menjadi bagian dari proses penyusunan buku profil Industri Kecil dan Menengah (IKM) perajin wastra dan logam Kabupaten Gianyar.
FGD digelar untuk memperdalam dan merekam kekayaan kriya Gianyar, mulai dari taksonomi wastra dan logam, perjalanan historis usaha, kapasitas produksi, hingga daya resiliensi pelaku IKM dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan industri. Pendalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat dokumentasi sekaligus memberikan gambaran mengenai potensi pengembangan IKM wastra dan logam Gianyar di masa mendatang.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, dalam sambutannya menyampaikan bahwa proses pendalaman bersama pelaku usaha dan perajin menunjukkan besarnya potensi kriya Gianyar untuk terus berkembang. Tim dari Program Studi Kriya dan Program Studi Desain ISI BALI juga menemukan berbagai bukti mengenai daya kebertahanan atau resilience IKM di tengah perubahan lingkungan usaha.
Foto: FGD penyusunan buku profil Industri Kecil dan Menengah (IKM) perajin wastra dan logam Kabupaten Gianyar, Jumat (18/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama.
“Pendalaman yang dilakukan bersama narasumber, baik pengusaha maupun perajin kecil dan menengah, semakin memperlihatkan bahwa Gianyar memiliki potensi besar untuk terus berkembang di masa mendatang. Kami menemukan berbagai fakta dan pengalaman baru yang menunjukkan bagaimana pelaku IKM mampu mempertahankan keberlangsungan usahanya di tengah berbagai tantangan, mulai dari persaingan yang semakin ketat, keterbatasan dan kelangkaan bahan baku, hingga hadirnya industri-industri baru. Kemampuan untuk beradaptasi, berinovasi, dan mempertahankan pengetahuan kriya yang diwariskan menjadi bagian penting dari daya resiliensi pelaku IKM. Temuan-temuan inilah yang kemudian menjadi bagian penting dalam membaca masa depan kriya Gianyar,” jelasnya.
Hasil pengkajian tersebut kemudian dikonstruksi menjadi dua buku, yakni Sawen Wastra Gianyar yang mengangkat profil 20 IKM dan perajin wastra terpilih serta Tatah Logam Titah Leluhur yang mendokumentasikan profil IKM dan perajin logam terpilih di Kabupaten Gianyar.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Gianyar, Dr. Surya Adnyani Mahayastra, yang membuka FGD secara resmi, menegaskan pentingnya upaya dokumentasi dan pelestarian karya kriya Gianyar, terlebih Gianyar telah dikenal sebagai World Craft City.
“Sebagai World Craft City, Gianyar memiliki kekayaan kriya yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Tantangannya bukan hanya mempertahankan karya yang telah diwariskan, tetapi juga memastikan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang menyertainya tetap hidup dan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, kerja sama Pemerintah Kabupaten Gianyar dengan ISI BALI dalam penyusunan buku ini menjadi langkah penting untuk mendokumentasikan kekayaan kriya dan wastra Gianyar secara lebih komprehensif. Melalui FGD ini, berbagai pengalaman dan pengetahuan langsung dari perajin dapat dihimpun sebagai bahan untuk merumuskan langkah pengembangan yang lebih tepat, sekaligus menjadi masukan bagi Pemerintah Kabupaten Gianyar dalam menjaga keberlanjutan, memajukan, dan memperluas apresiasi terhadap kriya dan wastra Gianyar,” ujarnya.
Foto: FGD penyusunan buku profil Industri Kecil dan Menengah (IKM) perajin wastra dan logam Kabupaten Gianyar, Jumat (18/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama.
Ketua Tim Penyusun Buku, Nyoman Dewi Pebryani, ST., MA., Ph.D, memaparkan perkembangan penyusunan kedua buku yang disusun 12 peneliti. Sawen Wastra Gianyar disusun sebagai penanda kekhasan wastra Gianyar, mencakup teknik, motif, warna, serta sistem pewarisan pengetahuan dari generasi ke generasi. Buku ini terdiri atas tiga bab yang membahas endek, songket, serta wastra berbasis pewarna alam.
Sementara itu, Tatah Logam Titah Leluhur mengangkat totalitas perajin logam Gianyar dalam mempertahankan warisan tradisi pahat emas dan perak sekaligus mengembangkan kreativitas untuk menjawab kebutuhan masa kini. Buku ini terdiri atas empat bab yang membahas perajin keris dan pusaka; tatah perak untuk sesuhunan, wayang pacadatu, serta rangkaian uang kepeng hingga perkembangan kriya dan perak kontemporer; inovasi branding untuk memperluas pasar; serta pengembangan kriya logam sebagai produk cenderamata.
Pendalaman melalui FGD menghadirkan empat narasumber yang merepresentasikan pengalaman dan perspektif pelaku IKM wastra dan logam Gianyar. Ni Nengah Sri Swarti Asih, pemilik Sri Intan Jewelry, memaparkan “Kreativitas Desain Aksesoris dan Tata Kelola Bisnis Berkelanjutan”. Selanjutnya, I Made Megayasa, Ketua Celuk Design Center, membawakan materi “Produktivitas dan Daya Dukung Modal pada IKM Logam”.
Dari sektor wastra, Ida Bagus Adnyana, pemilik Pertenunan Putri Ayu, menyampaikan paparan “Inovasi dan Sistem Pewarisan Tenun Gianyar”, sedangkan Pande Nyoman Yori Pratana, generasi penerus Pertenunan Setia Cap Cili, mengangkat tema “Resiliensi dan Regenerasi Perajin Wastra Gianyar”.
Keempat perspektif tersebut memperkaya penyusunan profil IKM dengan tidak hanya mendokumentasikan produk, tetapi juga menelusuri pengetahuan, pengalaman usaha, proses regenerasi, inovasi, pengelolaan bisnis, serta strategi perajin dalam mempertahankan keberlanjutan usaha.
Melalui FGD ini, Sawen Wastra Gianyar dan Tatah Logam Titah Leluhur diarahkan menjadi lebih dari sekadar buku profil. Keduanya diharapkan menjadi dokumentasi kekayaan kriya Gianyar, khususnya wastra dan logam, sekaligus media pelestarian pengetahuan dan tradisi perajin agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kedua buku tersebut juga diharapkan dapat menjadi sarana promosi bagi IKM unggulan Kabupaten Gianyar kepada masyarakat, wisatawan, kolektor, dan pasar yang lebih luas. Di sisi lain, dokumentasi ini diharapkan memperkuat identitas dan kekhasan produk Gianyar dengan memperlihatkan hubungan antara keterampilan, kreativitas, budaya, dan nilai-nilai leluhur.
Lebih lanjut, hasil pengkajian diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan IKM Gianyar, terutama dalam aspek regenerasi perajin, inovasi desain, peningkatan kualitas produk, penguatan branding, dan perluasan akses pasar.
Dengan demikian, penyusunan kedua buku tidak hanya merekam apa yang telah diwariskan, tetapi juga memetakan bagaimana pengetahuan dan keterampilan kriya Gianyar dapat terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (ISIBALI/Humas)
Foto: FGD “Menuju 100 Tahun Kepariwisataan Bali #2”, Rabu (16/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Guna mematangkan penyusunan buku kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Institut Seni Indonesia (ISI) BALI dan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali kembali menggelar Diskusi Terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) bertajuk “Menuju 100 Tahun Kepariwisataan Bali #2”, Rabu (16/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mematangkan penyusunan buku kajian 100 Tahun Kepariwisataan Bali yang direncanakan terbit pada 2027, bertepatan dengan satu abad perkembangan pariwisata Bali.
FGD yang mengusung tema “Yukti-Jnana-Yatra”, yang dimaknai sebagai pelayaran menuju kedalaman pengetahuan, merupakan kelanjutan dari FGD pertama yang telah dilaksanakan pada 13 Juli 2026. Forum ini mempertemukan akademisi, Kelompok Ahli Pembangunan Bidang Budaya dan Pariwisata Provinsi Bali, pelaku pariwisata, budayawan, serta peneliti untuk memperkaya kajian melalui perspektif historis, akademis, dan pengalaman praktis di lapangan.
Hadir membuka kegiatan, Sekretaris Kepala BRIDA Provinsi Bali, Ni Luh Putu Seni Artini, S.E., Ak., M.Si. Sementara itu, forum menghadirkan tiga narasumber dari berbagai latar belakang kepariwisataan Bali, yakni pendiri Agung Rai Museum of Art (ARMA), AA Gde Rai; Ketua Yayasan Pembangunan Sanur, Ida Bagus Sidharta Putra; serta Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya.
Dalam forum tersebut, Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, memaparkan hasil penelitian mengenai perkembangan kepariwisataan budaya Bali yang dipetakan ke dalam lima pembabakan waktu. Pembabakan tersebut meliputi Masa Pembentukan Kepariwisataan Bali (1927–1945), Masa Kebangkitan Pariwisata Bali Pertama (1945–1965), Masa Kebangkitan Kedua (1965–1996), Masa Kebangkitan Ketiga (1997–2017), serta Masa Kebangkitan Keempat (2018–kini).
Foto: FGD “Menuju 100 Tahun Kepariwisataan Bali #2”, Rabu (16/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Pemetaan tersebut menjadi salah satu pijakan dalam penyusunan buku yang dikerjakan oleh tim beranggotakan 20 orang, termasuk lima guru besar. Melalui rangkaian FGD, tim penyusun terus menggodok substansi buku agar mampu merekam perjalanan kepariwisataan Bali secara lebih utuh sekaligus memberikan perspektif terhadap perkembangan pariwisata Bali ke depan.
Sejumlah aspek strategis kemudian dibahas oleh para narasumber. AA Gde Rai menyampaikan materi bertajuk “Museum Sebagai Lembaga Pelestari Seni, Budaya, dan juga sebagai Destinasi Wisata”, yang menyoroti posisi museum dalam pelestarian kebudayaan sekaligus pengembangan daya tarik wisata.
Sementara itu, Ida Bagus Sidharta Putra membahas “Tata Kelola Pariwisata Berbasis Kawasan Sanur”, dengan mengangkat pengalaman pengelolaan kawasan Sanur yang melibatkan masyarakat. Adapun I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya memaparkan “Tata Kelola Destinasi dan Praktik Hospitality Khas Bali”, termasuk dinamika pengelolaan destinasi dan tantangan pariwisata Bali saat ini, seperti overtourism.
Foto: Penyerahan Piagam Penghargaan kepada narasumber FGD “Menuju 100 Tahun Kepariwisataan Bali #2”, Rabu (16/9) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Diskusi juga berkembang pada pemahaman bahwa kepariwisataan Bali tidak semata-mata bertumpu pada kebudayaan sebagai produk wisata, tetapi mencakup berbagai aktivitas dan daya tarik yang berkembang seiring perjalanan pariwisata Bali.
Anggota Kelompok Ahli Pembangunan Bidang Pariwisata Provinsi Bali, Cipto Aji Gunawan, mencontohkan perkembangan wisata bahari, khususnya surfing dan diving, yang turut membentuk karakter pariwisata Bali. Menurutnya, aktivitas tersebut pada awalnya diperkenalkan oleh wisatawan mancanegara, kemudian berkembang dan menjadi bagian dari ikon kepariwisataan Bali. Perspektif tersebut dinilai penting untuk melihat perkembangan pariwisata Bali secara lebih luas, termasuk interaksi antara masyarakat lokal dan berbagai pengaruh dari luar.
Masukan lainnya disampaikan Ir. Made Gunaja, M.Si., perwakilan Tim Pengendali Mutu BRIDA Provinsi Bali. Ia menekankan pentingnya memasukkan rekam kebijakan serta dukungan pemerintah daerah dalam perjalanan kepariwisataan Bali. Menurutnya, kebijakan dan dukungan para pemimpin Bali, termasuk gubernur pada setiap periode, perlu terdokumentasi sebagai bagian dari landasan objektif untuk melihat peran pemerintah dalam perkembangan pariwisata Bali.
Berbagai pandangan yang muncul dalam FGD tersebut selanjutnya menjadi bahan pengayaan bagi tim penyusun dalam menyempurnakan kajian 100 Tahun Kepariwisataan Bali. Melalui pendekatan yang memadukan catatan sejarah, hasil penelitian, pengalaman pelaku, serta perspektif kebijakan, buku tersebut diharapkan dapat menghadirkan dokumentasi komprehensif mengenai perjalanan satu abad kepariwisataan Bali. (ISIBALI/Humas)
Foto: Mahasiswa ISI BALI pada malam pengumuman juara PEKSIMINAS XVIII di Universitas Jember, Kamis (10/9)
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) kembali mencatatkan prestasi pada ajang Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) XVIII Tahun 2026 yang diselenggarakan di Universitas Jember, Jawa Timur, 7–10 September 2026. Dari sejumlah tangkai lomba yang diikuti mahasiswa ISI BALI sebagai bagian dari Kontingen Provinsi Bali, empat tangkai berhasil menyumbangkan prestasi bagi Bali di tingkat nasional.
Prestasi tertinggi diraih Sri Agung Wulandewi Putri Laksana, mahasiswa Program Studi (Prodi) Musik yang berhasil meraih Juara I Tangkai Lomba Menyanyi Keroncong Putri. Capaian tersebut menjadi salah satu prestasi terbaik Kontingen Provinsi Bali sekaligus menunjukkan kemampuan mahasiswa ISI BALI dalam berkompetisi pada ajang seni mahasiswa tingkat nasional.
Prestasi berikutnya diraih Insan Kamis, mahasiswa Prodi Fotografi ISI BALI, yang memperoleh Juara II Tangkai Lomba Fotografi Jurnalistik Dokumenter. Sementara itu, Ni Luh Made Bindi Hita dari Prodi Animasi berhasil meraih Harapan II pada Tangkai Lomba Komik Strip.
Pada tangkai lomba Tari, ISI BALI turut memperkuat Kontingen Provinsi Bali melalui karya berjudul “Ngetug Bumi” yang dibawakan oleh tujuh mahasiswa Prodi Tari, yakni I Putu Gede Pradipta Utama, Ni Kadek Dhya Sumitha Apsari, Made Githa Sanjiwani, I Made Wahyu Danurtha, Ida Ayu Adi Tri Wiranti, Ni Nengah Diah Tantri, dan G. Ngr Bagus Andika Prasetya. Karya tersebut berhasil meraih Harapan I.
Sebelumnya, mahasiswa ISI BALI yang tergabung dalam Kontingen Provinsi Bali telah melalui proses seleksi dan pembinaan setelah meraih prestasi pada PEKSIMIDA Bali. Selain empat tangkai tersebut, ISI BALI juga mengirimkan Zahid Zahendra dari Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan pada Tangkai Lomba Menyanyi Dangdut Putra dan mahasiswa Prodi Desain Komunikasi Visual, I Kadek Ariandi Triana Putra Widi Nugraha pada Tangkai Lomba Baca Puisi Putra.
Foto: Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI sekaligus Ketua Umum Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Pengprov Bali, Prof. Dr. Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum., menerima penghargaan Terbaik 7 PEKSIMINAS XVIII di Universitas Jember, Kamis (10/9)
Keikutsertaan mahasiswa ISI BALI dalam PEKSIMINAS XVIII menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan, kreativitas, dan pengalaman berkompetisi di tingkat nasional. Prestasi yang diraih juga menjadi hasil dari proses persiapan dan pembinaan yang dilakukan secara serius bersama dosen pendamping sebelum mahasiswa bertanding di tingkat nasional.
Secara keseluruhan, Kontingen Provinsi Bali berhasil meraih sembilan prestasi pada PEKSIMINAS XVIII, terdiri atas Juara I Keroncong Putri, Juara II Lukis, Juara II Fotografi Jurnalistik, Harapan I Desain Poster, Harapan II Komik Strip, Harapan I Baca Puisi Putri, Harapan II Monolog, Harapan III Vokal Grup, serta Harapan I Tari.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI sekaligus Ketua Umum Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Pengprov Bali, Prof. Dr. Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum., menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas perjuangan seluruh mahasiswa yang tergabung dalam Kontingen Provinsi Bali pada PEKSIMINAS XVIII.
“Selamat kepada adik-adik yang telah berhasil meraih prestasi dari berbagai tangkai lomba. Kami salut dan bangga atas totalitas kalian. Bagi yang belum beruntung, jangan kecewa karena persaingan sangat ketat. Jadikan pengalaman ini sebagai motivasi untuk memperbaiki dan menyempurnakan diri ke depan. Yang tidak kalah penting, mari tetap solid karena merawat persaudaraan adalah bagian penting selain kejuaraan,” ujar Prof. Komang
Capaian tersebut menempatkan Kontingen Provinsi Bali sebagai salah satu kontingen terbaik, yakni peringkat ketujuh dari seluruh provinsi di Indonesia. Hasil ini menjadi capaian membanggakan bagi Bali sekaligus memperlihatkan kontribusi mahasiswa ISI BALI dalam mengharumkan nama daerah melalui prestasi di bidang seni pada tingkat nasional. (ISIBALI/Humas)