M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

ISI BALI Gelar Pameran BURU–JIWA–BUMI, Perkuat Dialog Seni Bali–Seoul

ISI BALI Gelar Pameran BURU–JIWA–BUMI, Perkuat Dialog Seni Bali–Seoul

Foto: Pameran seni rupa BURU–JIWA–BUMI bertajuk Bali–Seoul on Dialogue di Nata-Citta Arts Space (N-CAS), ISI BALI, Jumat (16/10)

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) bekerja sama dengan The Korea Indonesia Center (KIC) menghadirkan pameran seni rupa BURU–JIWA–BUMI serangkaian Festival Internasional Bali Padma Bhuwana VI, dalam Program Bali-Bhuwana Rupa #2 bertajuk Bali–Seoul on Dialogue. Pameran ini dibuka oleh pendiri Agung Rai Museum of Art (ARMA), Anak Agung Gde Rai, Jumat (16/10) di Nata-Citta Arts Space (N-CAS), ISI BALI.

Pameran ini mempertemukan empat seniman dari Bali dan Korea Selatan melalui karya keramik, fotografi, gerabah, dan lukisan yang mengeksplorasi hubungan manusia, pengalaman batin, dan alam. Mereka, yakni Prof. Wayan Kun Adnyana, Young Choi, I Ketut Muka Pendet, dan Hyonsun Kim. Pameran ini dikuratori oleh Prof. Koh Young Hun dan Warih Wisatsana, yang merangkai perbedaan latar budaya dan medium artistik menjadi ruang dialog lintas budaya.

Dalam sambutannya sebagai tuan rumah, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI, Prof. Dr. Komang Sudirga, menyampaikan bahwa pameran ini juga mencerminkan eratnya hubungan dan kerja sama yang terus terjalin antara ISI BALI dan Korea Selatan. Kolaborasi tersebut telah diwujudkan melalui berbagai kegiatan akademik dan seni yang mempertemukan komunitas kedua negara.

Foto: Pameran seni rupa BURU–JIWA–BUMI bertajuk Bali–Seoul on Dialogue di Nata-Citta Arts Space (N-CAS), ISI BALI, Jumat (16/10)

Pada 2025, ISI BALI bekerja sama dengan KIC, Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) dan Korea Association of Malay-Indonesian Studies (KAMIS) menyelenggarakan Seminar Internasional Bali-Bhuwana Waskita V bertajuk Pram–Bhuwana–Prana (Pramoedya–World–Paradigm). Kegiatan tersebut digelar untuk memperingati 100 tahun kelahiran sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.

Selain kerja sama akademik, ISI BALI juga kerap menghadirkan karya fotografer Korea Selatan dalam berbagai pameran, termasuk Bali-Bhuwana Rupa dan Bali-Global Art Maps (B-GAME), yang diselenggarakan dalam rangkaian Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD).

Menurut Komang Sudirga, berbagai kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa seni dan budaya dapat menjadi jembatan antarmasyarakat sekaligus memperkuat pemahaman bersama. Melalui pameran BURU–JIWA–BUMI, hubungan tersebut kembali memperoleh ruang perjumpaan melalui praktik seni dan pertukaran gagasan lintas budaya.

Kurator Warih Wisatsana menjelaskan bahwa BURU–JIWA–BUMI berangkat dari gagasan penciptaan seni sebagai perjalanan pencarian dan penemuan diri. Buru merepresentasikan keberanian menjelajahi kemungkinan baru, jiwa menggambarkan pengalaman yang membentuk karakter dan bahasa artistik, sedangkan bumi menjadi sumber sekaligus ruang kehidupan tempat pengalaman berakar.

Gagasan tersebut juga beririsan dengan konsep estetika wabi-sabi, yang menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan, ketidakteraturan, dan kefanaan. Melalui pendekatan ini, karya seni tidak hanya dipandang sebagai objek visual, tetapi juga sebagai ruang perenungan tentang kehidupan dan hubungan manusia dengan alam.

Foto: Pameran seni rupa BURU–JIWA–BUMI bertajuk Bali–Seoul on Dialogue di Nata-Citta Arts Space (N-CAS), ISI BALI, Jumat (16/10)

Masing-masing seniman menghadirkan pendekatan yang khas. Kim Hyonsun mengeksplorasi tanah liat melalui bentuk-bentuk keramik yang ekspresif. Young Choi mengolah cahaya, bayangan, dan ruang dalam fotografi untuk menghadirkan perspektif baru terhadap objek keramik. Sementara itu, I Ketut Muka Pendet mengangkat makna spiritual dan kultural wadah air suci kumba dalam tradISI BALI melalui karya gerabah.

Adapun Wayan Kun Adnyana menampilkan eksplorasi abstraksi melalui lapisan warna, guratan, dan tekstur yang menyimpan jejak pengalaman serta perjalanan waktu. Karya-karyanya memperlihatkan perkembangan bahasa visual yang tidak sekadar menggambarkan kenyataan, tetapi menafsirkan kembali pengalaman melalui kebebasan artistik.

Melalui pertemuan empat pendekatan tersebut, BURU–JIWA–BUMI tidak berupaya menyeragamkan perbedaan, melainkan membuka ruang bagi beragam cara pandang dalam memaknai alam, tradisi, dan kehidupan. Pameran ini sekaligus menjadi wadah pertukaran gagasan artistik antara Bali dan Seoul melalui bahasa seni yang melampaui batas medium maupun budaya.

Rektor ISI BALI, Prof Kun Adnyana Raih Global Arts Award

Rektor ISI BALI, Prof Kun Adnyana Raih Global Arts Award

Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menerima penghargaan Global Arts Award 2026 dari The Korea-Indonesia Center (KIC) di beranda Nata-Citta Art Space (N-CAS) ISI BALI, Jumat, 16 Oktober 2026.

Rektor Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI), Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menerima penghargaan Global Arts Award 2026 dari The Korea-Indonesia Center (KIC). Penghargaan diserahkan langsung Direktur KIC, Prof. Dr. Koh Young Hun di beranda Nata-Citta Art Space (N-CAS) ISI BALI, pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Penghargaan juga diberikan kepada Founder Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, Anak Agung Gde Rai, dan akademisi yang fotografer kebangsaan Korea Prof. Dr. Young Choi. Penghargaan disampaikan di tengah acara pembukaan pameran internasional Bali-Bhuwana Rupa #2 bertajuk Buru-Jiwa-Bumi serangkaian Festival Bali Padma Bhuwana VI. Pameran menghadirkan empat seniman, yakni Prof Kun Adnyana dengan karya lukis “Blue Period”,  Prof Young Choi dengan fotografi alam benda, Prof Ketut Muka Pendet dengan karya keramik dan gerabah, serta seniman Korea Hyonsun Kim menyertakan karya keramik. Penghargaan Global Art Awards didedikasikan kepada tokoh seni budaya yang dipandang memiliki dedikasi yang tinggi dalam memajukan seni budaya sekaligus berkontribusi dalam hubungan Indonesia-Korea. Ketiga tokoh, Prof Choi, Agung Rai, dan Prof. Kun Adnyana dipandang sangat mumpuni dan telah terbukti berkontribusi dalam pemajuan seni, berikut aktif membangun sinergi kreatif Indonesia-Korea.

ISI BALI Gaungkan Seni Bali di Panggung Diplomasi Vietnam

ISI BALI Gaungkan Seni Bali di Panggung Diplomasi Vietnam

Foto: Delegasi ISI BALIdalam malam resepsi perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 6–9 Oktober 2026 di Hanoi, Vietnam.

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) memperkuat diplomasi budaya Indonesia di kawasan Asia Tenggara melalui partisipasi dalam rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang diselenggarakan pada 6–9 Oktober 2026 di Hanoi, Vietnam. Kehadiran ISI BALI merupakan undangan Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Demokratik Vietnam, Adam Mulawarman Tugio, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Indonesia di kancah internasional.

Delegasi ISI BALI dipimpin Rektor Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, didampingi Wakil Rektor Dr. I Made Jodog, serta tiga mahasiswa, yakni Gede Dipta, Mitha Apsari, dan Diah Nanta. Selain berpartisipasi dalam resepsi diplomatik, delegasi ISI BALI memanfaatkan kunjungan tersebut untuk memperluas jejaring kelembagaan melalui pembahasan kerja sama dengan Vietnam Academy of Dance (VAD) serta penyelenggaraan lokakarya tari Bali.

Pertemuan dengan VAD menjadi langkah strategis untuk membuka peluang kolaborasi di bidang pendidikan, pengembangan kompetensi seni tari, dan pertukaran pengetahuan budaya antara Indonesia dan Vietnam. Melalui lokakarya tari Bali, ISI BALI turut memperkenalkan kekayaan tradisi tari Bali sekaligus memberikan pengalaman pembelajaran seni secara langsung.

Foto: Delegasi ISI BALI bersama mahasiswa Vietnam Academy of Dance (VAD), 6–9 Oktober 2026 di Hanoi, Vietnam.

Direktur VAD, Dr. Nguyễn Thúy Nga, menyambut baik rencana kerja sama tersebut. Kolaborasi ini dinilai dapat memperkaya pengalaman belajar mahasiswa VAD, khususnya dalam meningkatkan penguasaan tari Indonesia, terutama tari Bali. Pertukaran pengetahuan dan praktik seni diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai karakteristik, teknik, serta nilai budaya yang terkandung dalam tradisi tari Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana juga secara resmi menyampaikan undangan kepada Direktur dan delegasi VAD untuk berpartisipasi dalam Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) yang diselenggarakan di ISI BALI. Forum ini merupakan wadah kemitraan, dialog, dan kolaborasi lintas perguruan tinggi seni dan desain di kawasan Asia-Pasifik.(ISIBALI/Humas)

Mahasiswa ISI BALI Siap Tampilkan Ragam Karya dan Talenta di FKI+ XIII 2026

Mahasiswa ISI BALI Siap Tampilkan Ragam Karya dan Talenta di FKI+ XIII 2026

Foto: Karya Seni Pertunjukan UnggulanTaru Pramana bertajuk Wana-Jnana-Warsita dalam acara pelepasan delegasi FKI+ ISI BALI, Kamis (15/10) di Gedung Natya Mandala, ISI BALI

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) bersiap berpartisipasi dalam Festival Kesenian Indonesia (FKI+) XIII Tahun 2026 yang mengusung tema “Art Folklore and Ecology”. Festival yang diselenggarakan oleh Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Seni Indonesia (BKS-PTSI) ini berlangsung pada 20–24 Oktober 2026 di Kampus ISI Padangpanjang, Sumatera Barat, dan diikuti sembilan perguruan tinggi seni dari Aceh hingga Papua.

Sebagai tanda kesiapan mengikuti festival, pelepasan delegasi FKI+ ISI BALI telah dilaksanakan pada Kamis (15/10) di Gedung Natya Mandala, ISI BALI. Delegasi dilepas oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi, Prof. Dr. AA Gde Bagus Udayana, sebagai bentuk dukungan institusi terhadap partisipasi sivitas akademika dalam ajang seni tingkat nasional tersebut.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama sekaligus ketua delegasi ISI BALI, Prof. Dr. Komang Sudirga dalam laporannya mengatakan, ISI BALI mengirimkan 23 orang delegasi dengan beragam karya dan program, mulai dari pameran seni rupa, pertunjukan seni, pemutaran film, kompetisi mahasiswa, temu maestro, hingga seminar internasional dan lokakarya. Keikutsertaan ini menjadi ruang bagi sivitas akademika ISI BALI untuk memperkenalkan kreativitas seni sekaligus memperluas jejaring ant perguruan tinggi seni di Indonesia.

Pada pameran seni rupa, ISI BALI menyiapkan 10 karya unggulan yang mencakup lukisan, fotografi, kriya, dan satu karya digital. Di bidang seni pertunjukan, ISI BALI akan mementaskan karya Taru Pramana bertajuk Wana-Jnana-Warsita, yang mengangkat alam sebagai sumber pengetahuan. Pertunjukan ini dijadwalkan berlangsung di Prosenium Hoerijah Adam pada Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 20.40–21.20 WIB.

Karya mahasiswa Program Studi Produksi Film dan Televisi (PFTV) serta Animasi juga akan ditampilkan melalui pemutaran film unggulan. Selain itu, mahasiswa ISI BALI akan mengikuti 12 kategori perlombaan dengan peserta dari berbagai program studi.

Pada lomba lukis, ISI BALI diwakili I Kadek Agus Aditya Pratama dari Program Studi Seni Murni. Lomba lukis digital diikuti Laetitia Gabriella dari Program Studi Animasi, sedangkan lomba film fiksi diikuti Kanaya Khumaira Aisya, I Dewa Putu Nova Andika Putra, I Komang Mahkota Rama Adinata, dan Naufall Adithya Islami Pasya dari Program Studi PFTV.

Selanjutnya, I Kadek Wantaro dari Program Studi Desain Interior akan mengikuti lomba sketsa arsitektur. Pada lomba fotografi, ISI BALI mengikutsertakan I Wayan Arwin Pratama dari Program Studi Fotografi, sementara lomba poster diwakili I Nyoman Jati Sumarsana dari Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV). Lomba fashion diikuti Ni Made Suanditari dari Program Studi Desain Mode.

Di bidang seni musik, Marcella Gracia Joana Tasya dari Program Studi Musik akan mengikuti lomba menyanyi solo. Lomba musik kontemporer diikuti Gentuh Gede Gandiwa dan Ketut Yogi Wiriatama dari Program Studi Karawitan. Sementara itu, pada lomba tari kontemporer, ISI BALI diwakili Yemima Grace Susanto dan Ni Made Dwi Novita Sawitri dari Program Studi Tari.

Partisipasi mahasiswa juga hadir melalui lomba monolog yang diikuti I Komang Arthana Anugrah dari Program Studi Teater serta lomba tatah kulit yang diikuti Kadek Yosa Prayoga dari Program Studi Kriya.

Selain pameran, pertunjukan, pemutaran film, dan perlombaan, ISI BALI turut menghadirkan Dr. I Made Sidia dalam agenda temu maestro. Delegasi juga akan mengikuti seminar internasional dan berbagai lokakarya sebagai sarana pertukaran pengetahuan serta pengembangan wawasan seni.(ISIBALI/Humas)

Mahasiswa ISI BALI Ikuti Sosialisasi Pencegahan IRET

Mahasiswa ISI BALI Ikuti Sosialisasi Pencegahan IRET

Foto: Sosialisasi dan Edukasi Pencegahan Paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET), serta Fanatisme Kekerasan di Ruang Video Conference (Vicon), Gedung Citta Kelangen Lantai 2, ISI BALI, Selasa (6/10).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menggelar kegiatan “Sosialisasi dan Edukasi Pencegahan Paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET), serta Fanatisme Kekerasan”, Selasa (6/10). Kegiatan berlangsung di Ruang Video Conference (Vicon), Gedung Citta Kelangen Lantai 2, ISI BALI, dan diikuti puluhan mahasiswa dari Fakultas Seni Pertunjukan serta Fakultas Seni Rupa dan Desain.

Kegiatan ini menghadirkan Tim Pencegahan Satgas Wilayah Bali Densus 88 AT Polri, Briptu I Made Yoga Pramana, S.H., M.H., sebagai narasumber. Sosialisasi menjadi ruang edukasi bagi mahasiswa untuk memahami berbagai bentuk paham dan perilaku yang dapat mengarah pada intoleransi, radikalisme, ekstremisme, terorisme, maupun fanatisme kekerasan.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama ISI BALI, Dr. I Komang Arba Wirawan, S.Sn., M.Si. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya membekali mahasiswa dengan pemahaman dan kesadaran dalam menyikapi berbagai informasi serta dinamika sosial yang berkembang di lingkungan sekitar.

Sebagai bagian dari sivitas akademika, mahasiswa memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan saling menghargai. Karena itu, penguatan pemahaman mengenai pencegahan intoleransi dan kekerasan menjadi salah satu upaya untuk membangun daya kritis mahasiswa dalam menghadapi berbagai pengaruh yang berpotensi mengganggu kehidupan bersama.

Foto: Sosialisasi dan Edukasi Pencegahan Paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET), serta Fanatisme Kekerasan di Ruang Video Conference (Vicon), Gedung Citta Kelangen Lantai 2, ISI BALI, Selasa (6/10).

Dalam pemaparannya, Briptu I Made Yoga Pramana memberikan edukasi mengenai pengenalan dan pencegahan paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme, termasuk pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai bentuk pengaruh yang dapat berkembang di lingkungan sosial maupun ruang digital.

Mahasiswa juga diajak untuk tidak mudah menerima maupun menyebarkan informasi tanpa melakukan verifikasi. Kemampuan berpikir kritis, memahami keberagaman, serta membangun komunikasi yang sehat menjadi bagian penting dalam mencegah berkembangnya sikap dan tindakan yang mengarah pada kekerasan.

Sosialisasi berlangsung interaktif dengan mahasiswa berkesempatan menyampaikan pertanyaan dan berdiskusi terkait berbagai situasi yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memperluas pemahaman sekaligus membangun kesadaran mengenai pentingnya menjaga toleransi dan keharmonisan di tengah keberagaman.(ISIBALI/Humas)

Diundang SEAP Cornell University, Amerika Serikat Rektor ISI Bali Prof. Kun Adnyana Usung Seni Rupa Maritim, Koorprodi Teater Dr. Gusti Sudarta Tampilkan Wayang Plastik

Diundang SEAP Cornell University, Amerika Serikat Rektor ISI Bali Prof. Kun Adnyana Usung Seni Rupa Maritim, Koorprodi Teater Dr. Gusti Sudarta Tampilkan Wayang Plastik

Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana sebagai pembicara dalam simposium internasional Sea-ing The Land: Nyegara Gunung, 21-28 September 2026 di Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University.

 The Southeast Asia Program (SEAP) Cornell University, Amerika Serikat mengundang Rektor Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI), Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana sebagai pembicara dalam simposium internasional Sea-ing The Land: Nyegara Gunung, 21-28 September 2026. Acara simposium dilaksanakan di Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University.

Prof Kun Adnyana membawakan presentasi berjudul Nyegara Gunung: Flowing Lines and The Metaphor of The Vessel, yang membahas ikonografi berbasis artistik garis tentang air dan ombak dalam beragam stilistika rupa seni lukis Bali. Simposium dipandu profesor sejarah seni Asia Tenggara, Prof. Dr. Kaja Maria McGowan. Selain presentasi makalah, karya Prof Kun Adnyana berjudul “Victory of Sailing”, ukuran 140 x 160 Cm, tinta cina dan acrylic di kanvas dipilih menjadi koleksi tetap Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University, berdampingan dengan karya seni rupa dan visual maestro berbagai negara.

Foto: Koordinator Prodi Teater, Dr. I Gusti Sudarta menampilkan pertunjukan Wayang Plastik dalam simposium internasional Sea-ing The Land: Nyegara Gunung, 21-28 September 2026 di Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University.

Selain Prof Kun Adnyana, dosen ISI Bali, yang juga Koordinator Prodi Teater, Dr. I Gusti Sudarta diundang untuk menampilkan pertunjukan Wayang Plastik serangkaian acara simposium dimaksud. Dr. Sudarta berkolaborasi dengan profesor musik, Prof Christopher J. Miller dan konposer Peni Candra Rini. Pertunjukan disambut antusias masyarakat kampus dan juga alumni Cornell University, di kota Itacha, New York.

Momentum undangan sebagai narasumber simposium, dimanfaatkan juga oleh Rektor ISI BALI Prof Kun Adnyana untuk membahas kerja sama antara ISI BALI dengan SEAP Cornell University. Prof Kun Adnyana bersama Direktur SEAP, Prof. Eric Tagliacozzo, telah menyepakati beberapa program, di antaranya mahasiswa peserta SEAP ke depan dapat mengikuti program internasional ISI BALI, termasuk visiting profesor kedua perguruan tinggi. (ISIBALI/Humas)

Loading...