M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

ISI BALI Gelar Mareresik dan Penanaman Pohon dalam Bali-Dwipantara Karma

ISI BALI Gelar Mareresik dan Penanaman Pohon dalam Bali-Dwipantara Karma

Foto: Kegiatan mareresik dan penanaman pohon di lingkungan Kampus ISI BALI, Jumat (3/4)

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) melaksanakan kerja bakti atau mareresik dan penanaman pohon dalam kegiatan Bali-Dwipantara Karma (Nemu Gelang Nusantara) serangkaian Bali Sangga Dwipantara VI bertema Kerthi-Tuwuh-Krama, Jumat (3/4) di Kampus ISI BALI.

Kegiatan mareresik diikuti oleh ratusan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan ISI BALI. Mereka bergotong royong membersihkan lingkungan kampus, area pura, halaman, serta sejumlah fasilitas penunjang sebagai bentuk persiapan menyambut pelaksanaan Upacara Mecaru, Mlaspas, dan Pasupati, serta Mapadagingan.

Selain kerja bakti, kegiatan juga dirangkaikan dengan penanaman pohon di lingkungan kampus. Penanaman pohon tersebut menjadi wujud komitmen ISI BALI dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung semangat tema Kerthi-Tuwuh-Krama yang menekankan pentingnya keharmonisan antara manusia, alam, dan kehidupan bersama.

Foto: Kegiatan mareresik dan penanaman pohon di lingkungan Kampus ISI BALI, Jumat (3/4)

Suasana kebersamaan tampak selama kegiatan berlangsung. Mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan bekerja bersama membersihkan lingkungan kampus dan menata area yang akan digunakan untuk pelaksanaan upacara. Kegiatan ini juga menjadi bentuk implementasi nilai gotong royong dan rasa memiliki terhadap lingkungan kampus.

Upacara Mecaru, Mlaspas, dan Pasupati, serta Mapadagingan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (4/4) bertepatan dengan Hari Raya Saraswati di Pura Padma Nareswari ISI BALI. Rangkaian persiapan melalui mareresik dan penanaman pohon diharapkan dapat mendukung kelancaran pelaksanaan upacara sekaligus memperkuat semangat kebersamaan sivitas akademika ISI BALI. Bali-Dwipantara Karma (Nemu Gelang Nusantara) merupakan salah satu rangkaian Bali Sangga Dwipantara VI yang tidak hanya menghadirkan aktivitas seni dan budaya, tetapi juga menanamkan nilai kepedulian terhadap lingkungan dan penguatan harmoni sosial di lingkungan kampus.(ISIBALI/Humas)

ISI BALI Tetapkan Mahasiswa Berprestasi Tahun 2026

ISI BALI Tetapkan Mahasiswa Berprestasi Tahun 2026

Foto: Mahasiswa berpresatasi ISI BALI, I Kadek Ongky Dwi Dhavinci (paling kanan) dan Haggai Osfred Benagamma Dao (kiri) dalam kegiatan pembekalan dan pengunggahan berkas Pilmapres tingkat wilayah, Selasa (31/3) di Ruang Lounge ISI BALI.

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menetapkan mahasiswa berprestasi tingkat institut untuk program sarjana dan diploma tahun 2026. Penetapan tersebut dilakukan berdasarkan hasil Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) yang dilaksanakan pada Jumat (27/3) di Kampus ISI BALI.

Hasil pemilihan dituangkan dalam Berita Acara Nomor Manual.1056/IT5.5/DT.01.02/2026 untuk program sarjana dan Nomor Manual.1057/IT5.5/DT.01.01/2026 untuk program diploma, tertanggal 30 Maret 2026.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI, Prof. Dr. I Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum., menyampaikan bahwa pemilihan mahasiswa berprestasi mengacu pada Pedoman Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Tahun 2026 yang diterbitkan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

“Mahasiswa berprestasi yang terpilih merupakan mahasiswa terbaik yang dinilai berdasarkan capaian akademik, prestasi unggulan, gagasan kreatif, serta kemampuan berbahasa Inggris dan kepribadian,” ujarnya.

Pada kategori program sarjana, I Kadek Ongky Dwi Dhavinci dari Program Studi Desain Komunikasi Visual berhasil meraih predikat Mahasiswa Berprestasi I. Posisi Mahasiswa Berprestasi II diraih oleh Nyoman Atheny Pramasastra Dewi dari Program Studi Teater, sedangkan Mahasiswa Berprestasi III diraih oleh Ketut Yogi Wiriatama dari Program Studi Seni Karawitan.

Sementara itu, predikat Mahasiswa Berprestasi Harapan I diraih oleh Desak Putu Agnis Dewa Yanti Putri dari Program Studi Seni Murni. Mahasiswa Berprestasi Harapan II diraih oleh Ni Putu Harimayaka Putri Lila dari Program Studi Musik, dan Mahasiswa Berprestasi Harapan III diraih oleh Neisha Zintya Fireska dari Program Studi Kriya.

Adapun pada kategori program diploma, Haggai Osfred Benagamma Dao dari Program Studi Produksi Film dan Televisi terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi I. Mahasiswa Berprestasi II diraih oleh Angelina Agatha Mardiancia dari Program Studi Desain Mode, sedangkan Mahasiswa Berprestasi III diraih oleh Caleb Nikao Hutabarat dari Program Studi Animasi.

Mahasiswa Berprestasi I tingkat sarjana dan diploma juga akan mewakili ISI BALI pada seleksi tahap wilayah yang diselenggarakan oleh LLDIKTI Wilayah VIII sebelum melaju ke tingkat nasional. (ISIBALI/Humas)

ISI Bali Haturkan Ayahan di Pura Besakih

ISI Bali Haturkan Ayahan di Pura Besakih

Foto: ISI BALI menghaturkan ayahan di Pura Agung Besakih, Kamis (2/4).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menghaturkan ayahan di Pura Agung Besakih dalam rangka Upacara Karya Ida Bhatara Turun Kabeh yang bertepatan dengan Purnama Kadasa pada Kamis (2/4).

Ayahan tersebut menampilkan beragam kesenian sakral Bali yang dibawakan secara khidmat oleh mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan ISI BALI. Sajian yang dipentaskan meliputi Rejang Dewa, Baris Gede, Topeng, Wayang Gedog, serta Tabuh Gong Gede.

Kegiatan ini merupakan salah satu implementasi program Bali Citta Pradesa, khususnya Aktualisasi Pembelajaran di Ruang Sakral. Melalui program ini, ISI BALI menghadirkan proses pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga langsung di tengah kehidupan spiritual dan budaya masyarakat Bali.

Foto: ISI BALI menghaturkan ayahan di Pura Agung Besakih, Kamis (2/4).

Dalam konteks tersebut, ayahan di Pura Agung Besakih menjadi ruang bagi sivitas akademika ISI BALI untuk memahami, menghayati, sekaligus mempraktikkan nilai-nilai kesenian sakral Bali sesuai dengan fungsi, etika, dan konteksnya. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mempelajari seni secara teknis, tetapi juga memahami dimensi religius dan filosofis yang melekat pada setiap sajian. Kehadiran sivitas akademika ISI BALI dalam upacara tersebut juga menjadi wujud implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat, sekaligus komitmen kampus dalam menjaga dan melestarikan seni budaya Bali yang adi luhung. (ISIBALI/Humas)

Mahasiswa ISI BALI Ikuti Workshop Pembuatan Ider-Ider dan Saput Saka Gedung Jineng

Mahasiswa ISI BALI Ikuti Workshop Pembuatan Ider-Ider dan Saput Saka Gedung Jineng

Foto: Workshop Pembuatan Ider-Ider dan Saput Saka Gedung Jineng di Wantilan Loka Sabha Mandala ISI BALI, Senin (30/3).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menggelar Workshop Pembuatan Ider-Ider dan Saput Saka Gedung Jineng bertajuk “Kriya-Yadnya-Kawiya” pada Senin, 30 Maret 2026, di Wantilan Loka Sabha Mandala ISI BALI. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual, Kriya, dan Seni Murni.

Workshop dibuka oleh Ketua Senat ISI BALI, Prof. Dr. Drs. I Ketut Muka, M.Si. Dalam kegiatan tersebut, ISI BALI menghadirkan perajin asal Klungkung, Anak Agung Gede Anom Martawan, sebagai narasumber.

Ketua Panitia, Dr. Nyoman Laba, menjelaskan bahwa workshop ini bertujuan mengenalkan proses pembuatan gambar ider-ider dan saput saka dengan teknik prada bakar kepada mahasiswa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari proses artistik, tetapi juga memahami alat dan bahan yang diperlukan, teknik pengerjaan yang baik, hingga tahapan pembuatan karya.

“Mahasiswa diharapkan dapat belajar langsung dari narasumber mengenai teknik pembuatan ider-ider dan saput saka dengan teknik prada bakar, mulai dari penggunaan alat hingga proses pengerjaannya,” ujar Dr. Nyoman Laba.

Foto: Workshop Pembuatan Ider-Ider dan Saput Saka Gedung Jineng di Wantilan Loka Sabha Mandala ISI BALI, Senin (30/3).

Dalam workshop tersebut, peserta diperkenalkan pada proses pembuatan ider-ider dan saput saka yang diawali dengan membuat sketsa motif pada kain beludru. Motif yang digambar umumnya terinspirasi dari ornamen tradisional Bali, seperti patra, pepatran, serta unsur flora dan fauna.

Setelah sketsa selesai, peserta mempelajari teknik prada bakar dengan memanaskan garis-garis sketsa menggunakan solder panas. Bagian kain beludru yang terkena solder akan membentuk alur sesuai gambar yang telah dibuat. Selanjutnya, bagian tersebut diberi warna prada emas sehingga motif tampak menonjol dan berkilau. Teknik ini membutuhkan ketelitian dan kestabilan tangan karena kesalahan sedikit saja dapat merusak kain maupun detail motif yang telah digambar. Melalui proses tersebut, mahasiswa belajar menghasilkan ornamen yang rapi dan memiliki nilai estetis tinggi.

Dalam sambutannya, Prof. I Ketut Muka berharap workshop tersebut dapat memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa, sekaligus menjadi sarana pembelajaran berbasis praktik yang memperkaya pengetahuan dan keterampilan mereka.

Ia juga menyampaikan bahwa hasil karya yang dibuat dalam workshop ini akan dimanfaatkan sebagai saput saka dan ider-ider Gedung Jineng, bangunan baru di lingkungan ISI BALI yang akan menjalani upacara melaspas pada 4 April 2026.

“Melalui workshop ini, mahasiswa tidak hanya belajar membuat karya, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap kebutuhan artistik kampus. Hasil karya yang dibuat hari ini nantinya akan digunakan pada Gedung Jineng yang akan diplaspas pada 4 April mendatang,” ungkapnya. Kegiatan ini menjadi wujud sinergi antara pembelajaran akademik dan pelestarian seni tradisi Bali. Dengan menghadirkan perajin berpengalaman, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mempelajari secara langsung teknik tradisional yang memiliki nilai estetika sekaligus fungsi dalam upacara dan arsitektur Bali. (ISIBALI/Humas)

Mahasiswa ISI BALI dan Thailand Bersinergi dalam Pergelaran Seni Kolaboratif

Mahasiswa ISI BALI dan Thailand Bersinergi dalam Pergelaran Seni Kolaboratif

Foto: Pergelaran Tari Serng Kratip oleh sejumlah mahasiswa Angthong College of Dramatic Arts dan Roi Et College of Dramatic Arts, Thailand bersama mahasiswa ISI BALI, Senin (23/2) di Gedung Natya Mandala ISI BALI

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menggelar pergelaran seni yang menampilkan kolaborasi budaya antara Angthong College of Dramatic Arts dan Roi Et College of Dramatic Arts, Thailand, dengan sivitas akademika ISI BALI, Senin (23/2) di Gedung Natya Mandala ISI BALI. Pergelaran ini merupakan kelanjutan dari kegiatan workshop seni yang sebelumnya dilaksanakan bersama delegasi dari Thailand, sekaligus menjadi ruang apresiasi atas hasil pembelajaran dan pertukaran budaya yang telah berlangsung.

Acara diawali dengan penampilan Tari Selat Segara yang dibawakan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan (PSP) ISI BALI, diiringi tabuh gamelan oleh mahasiswa PSP. Penampilan pembuka ini menghadirkan nuansa dinamis sekaligus memperkenalkan kekayaan seni pertunjukan Bali kepada para tamu dari Thailand.

Foto: Pertunjukan karawintan oleh dosen Angthong College of Dramatic Arts dan Roi Et College of Dramatic Arts, Thailand dengan dosen dan mahasiswa ISI BALI, Senin (23/2) di Gedung Natya Mandala ISI BALI.

Selanjutnya, delegasi Thailand menampilkan tiga tarian tradisional Thailand yang merepresentasikan keragaman budaya dari berbagai wilayah di negara tersebut. Tarian pertama yang ditampilkan adalah Fon Dok Mai atau Dance of Flowers, sebuah tari tradisional yang menonjolkan gerak tangan yang lembut dengan penggunaan properti bunga sebagai simbol keindahan dan keharmonisan.

Tarian kedua adalah Serng Kratip, tarian rakyat dari wilayah Isan yang ditandai dengan gerakan dinamis serta penggunaan kain lipit yang membentuk siluet menyerupai sayap saat penari bergerak. Tarian ini ditampilkan secara kolaboratif oleh mahasiswa Thailand bersama mahasiswa ISI BALI yang sebelumnya mengikuti workshop tari tradisional Thailand.

Penampilan ditutup dengan tarian rakyat Isan yang dibawakan secara berpasangan oleh penari laki-laki dan perempuan. Tarian ini menggambarkan kehidupan masyarakat pedesaan yang penuh keceriaan dan kebersamaan, dengan gerakan yang enerjik dan ekspresif.

Selain pertunjukan tari, pergelaran ini juga menampilkan hasil workshop karawitan yang sebelumnya dilaksanakan bersama mahasiswa ISI BALI. Penampilan tersebut dibawakan oleh dosen dari Thailand bersama Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI Prof. Dr. Komang Sudirga,  Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Dr. Ketut Garwa, Koordinator Prodi (Koprodi) PSP, Putu Hartini, M.Sn, Koprodi Karawitan Made Dwi Andika Putra, M.Sn, serta sejumlah mahasiswa PSP ISI BALI. Kolaborasi ini memperlihatkan proses pertukaran pengetahuan dan praktik seni antara kedua pihak yang berlangsung selama kegiatan workshop.

Pergelaran ini menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan akademik dan budaya antara ISI BALI dan institusi seni dari Thailand. Melalui pertunjukan seni yang kolaboratif, kegiatan ini memperkaya pengalaman artistik mahasiswa sekaligus memperkuat dialog budaya di antara para seniman dan akademisi dari kedua negara.

ISI BALI dan Kampus Seni Thailand Perkuat Kolaborasi melalui Workshop Seni

ISI BALI dan Kampus Seni Thailand Perkuat Kolaborasi melalui Workshop Seni

Foto: ISI BALI melaksanakan workshop tari tradisional Thalind bersama Angthong College of Dramatic Arts dan Roi Et College of Dramatic Arts, Thailand, Senin (23/2) di Studio Tari ISI BALI.

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menerima kunjungan delegasi dari Angthong College of Dramatic Arts dan Roi Et College of Dramatic Arts, Thailand, dalam rangka penjajakan kerja sama di bidang pergelaran seni dan workshop kolaboratif. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin (23/2) di Gedung Natya Mandala, ISI BALI.

Delegasi dari Thailand terdiri atas pimpinan, dosen, dan mahasiswa dari kedua institusi tersebut. Delegasi Angthong College of Dramatic Arts dipimpin oleh Mr. Etsawat Paksin selaku Direktur, didampingi para dosen Mr. Channar Kaeosawang, Mr. Chalermchai Pimonrak, Mrs. Ratchanewan Srinsakrat, Miss Suchanya Kongsin, Miss Thitima Ongthong, dan Mr. Atitak Rukdee, serta mahasiswa Mr. Vongathorn Timnoee, Miss Nattanan Chumsuwan, dan Miss Kanyarat Kumsin.

Sementara itu, delegasi Roi Et College of Dramatic Arts dipimpin oleh Miss Benjita Petchsom selaku Direktur bersama Miss Kemika Wongamrin sebagai Deputy Director. Turut hadir para dosen Mr. Achariya Wongsi, Miss Nattawan Pimonket, Miss Phailin Sarnkam, Mr. Chaimongkhon Sriphaet, Mr. Runset Sritham, dan Mr. Pongsakda Padkeoplon, serta mahasiswa Miss Jariya Chosakao dan Miss Chanantida Luaksiase.

Foto: Workshop karawitan yang diikuti dosen-dosen Angthong College of Dramatic Arts dan Roi Et College of Dramatic Arts, Thailand, Senin (23/2) di Studio Karawitan ISI BALI.

Selain pertemuan penjajakan kerja sama, kunjungan ini juga diisi dengan kegiatan workshop seni sebagai bentuk pertukaran pengetahuan dan pengalaman artistik antara kedua institusi. Delegasi Thailand memberikan workshop tari tradisional Thailand yang dilaksanakan di Studio Tari ISI BALI dan diikuti oleh mahasiswa Program Studi Tari ISI BALI. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal teknik, estetika, serta karakter gerak dalam tradisi tari Thailand.

Sebagai bentuk timbal balik, ISI BALI juga menyelenggarakan workshop karawitan yang berlangsung di Studio Karawitan ISI BALI. Workshop ini disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI, Prof. Dr. Komang Sudirga, bersama Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ISI BALI, Dr. Ketut Garwa. Kegiatan tersebut diikuti oleh para dosen dan mahasiswa dari delegasi Thailand yang berkesempatan mempelajari dasar-dasar musik tradisional Bali, khususnya dalam praktik karawitan. (ISIBALI/Humas)

Loading...