M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Prodi Musik ISI BALI Gelar Kuliah Umum Industri Digital

Apr 22, 2026 | Berita, Berita Kegiatan

Foto: Kuliah umum bertema Industri Musik Digital dan Hak Cipta di Ruang Vicon, Gedung Citta Kelangen, Rabu (15/4).

Program Studi Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menggelar kuliah umum bertema Industri Musik Digital dan Hak Cipta di Ruang Vicon, Gedung Citta Kelangen, Rabu (15/4). Prodi Musik menghadirkan dua tokoh besar industri musik nasional, Agung Bagus Mantra (Pregina Showbiz Bali) dan Trie Utami (penyanyi dan pencipta lagu) sebagai dosen tamu.

Kegiatan ini bertujuan untuk berbagi wawasan serta pengalaman kepada mahasiswa utamanya tentang industri musik digital. Sebanyak 80 peserta hadir didominasi oleh mahasiswa program studi musik.

Dalam paparannya, produser musik senior Agung Bagus Mantra menyoroti pentingnya adaptasi teknologi dan perlindungan karya di era modern. Ia menekankan bahwa mendistribusikan musik melalui platform digital tidak hanya tentang bisnis, tapi juga upaya menghargai kerja keras dan meninggalkan jejak sejarah (legacy).

Foto: Kuliah umum bertema Industri Musik Digital dan Hak Cipta di Ruang Vicon, Gedung Citta Kelangen, Rabu (15/4).

Vokalis dan penulis lagu Trie Utami membedah lebih dalam mengenai persoalan hukum dan royalti. Menurutnya, meski Undang-Undang Hak Cipta sudah ada, realitas di lapangan masih jauh dari kata rapi dibandingkan sistem di luar negeri yang sudah terintegrasi kuat.

“Di luar negeri ada Union yang rapi. Kalau perform, daftar, bayar, pas cap imigrasi otomatis keluar. Sementara di sini, kalau ada musisi asing datang, siapa yang lindungi kita? Belum ada yang pasti. Ekosistem kita belum bersatu,” papar Trie Utami.

Melalui proyek Sound of Borobudur, Trie Utami juga mengajak generasi muda menghargai sejarah. Salah satunya penelitian terhadap relief candi membuktikan bahwa 1.300 tahun lalu nusantara sudah memiliki peradaban musik yang sangat maju dengan sistem orkestra yang lengkap.

“Di Borobudur sudah ada ansambel lengkap. Terlihat di reliefnya. Kalau sudah main bareng berarti ada komposisi, ada aransemen, berarti ada ekosistem. Zaman Eropa masih gelap, di Jawa kita sudah nonton orkestra. Bahkan sudah ada pencatatan pembayaran bagi musisi di zaman itu,” ucapnya. Acara ini juga mempererat hubungan kampus ISI BALI dengan industri. Ini menyoroti peran Pregina Production milik Agung Bagus Mantra yang menjadi mitra utama Program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka), di mana banyak mahasiswa yang magang hingga direkrut langsung bekerja. 

Categories

Berita Terkini

Loading...