M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Revitalisasi Tari Rejang Keraman, Tim PISN Hadirkan Inovasi Pembelajaran Digital di Desa Kedis

Aug 20, 2026 | Berita, Berita Kegiatan

Buleleng, Bali — Upaya menjaga keberlanjutan seni tradisi di tengah derasnya perubahan sosial dan perkembangan teknologi terus dilakukan melalui berbagai pendekatan inovatif. Salah satunya diwujudkan melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang mengangkat revitalisasi Tari Rejang Keraman di Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali.Program ini tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan bentuk dan ritus Tari Rejang Keraman sebagaimana diwariskan oleh generasi terdahulu, tetapi juga dikembangkan sebagai upaya menjaga keberlanjutan sistem pengetahuan budaya agar tetap hidup, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tari Rejang Keraman merupakan salah satu tari sakral yang memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Desa Kedis. Tari ini hadir dalam rangkaian upacara keagamaan desa adat dan memiliki karakteristik yang menarik karena melibatkan perempuan dan laki-laki secara setara. Keterlibatan tersebut mencerminkan nilai kebersamaan, gotong royong, dan kesetaraan peran yang hidup dalam masyarakat setempat. Namun, keberlanjutan Tari Rejang Keraman menghadapi tantangan seiring perubahan pola kehidupan masyarakat dan perkembangan teknologi. Selama ini, proses pewarisan tari masih banyak mengandalkan transmisi lisan dan praktik langsung dari generasi senior kepada generasi berikutnya. Pola tersebut memiliki nilai penting karena memungkinkan terjadinya transfer pengalaman secara langsung, tetapi sekaligus menghadapi tantangan ketika generasi muda semakin akrab dengan pola belajar visual, audiovisual, dan berbasis teknologi digital.

Kondisi tersebut menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program PISN. Keterbatasan media pembelajaran yang sistematis berpotensi menimbulkan persoalan dalam proses regenerasi, mulai dari penyederhanaan struktur gerak, kurangnya pemahaman terhadap pola lantai, hingga berkurangnya pemahaman terhadap makna simbolik yang terkandung dalam Tari Rejang Keraman. Karena itu, pelestarian seni tradisi dipandang tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan konservatif dengan mempertahankan bentuk yang telah ada. Pelestarian perlu dikembangkan sebagai proses adaptasi yang memungkinkan pengetahuan budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Menjembatani Tradisi dan Teknologi

Melalui program PISN, tim pengabdian mengembangkan pendekatan pembelajaran yang memadukan praktik seni tradisi dengan media audiovisual. Video pembelajaran dirancang bukan sekadar sebagai dokumentasi pertunjukan, tetapi sebagai media alih pengetahuan yang dapat digunakan dalam proses latihan dan pembelajaran Tari Rejang Keraman. Media tersebut dikembangkan untuk membantu peserta memahami struktur gerak, pola lantai, serta konteks dan makna simbolik tari secara lebih sistematis. Visualisasi gerak secara bertahap diharapkan dapat memudahkan generasi muda dalam mempelajari materi tari sekaligus membantu menjaga ketepatan bentuk gerak yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Dengan pendekatan tersebut, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti praktik tradisi, melainkan sebagai sarana pendukung untuk memperkuat proses pewarisan. Pengetahuan yang sebelumnya banyak disampaikan secara lisan dan melalui praktik langsung mulai diperkuat melalui dokumentasi audiovisual yang dapat dipelajari kembali secara berulang. Pendekatan ini sekaligus membuka ruang pembelajaran seni yang lebih adaptif. Generasi muda dapat tetap belajar dari penari senior dan pelaku budaya, tetapi memiliki media pendamping yang memungkinkan mereka mengulang materi secara mandiri di luar waktu latihan bersama.

Berangkat dari Potensi Masyarakat Desa Kedis

Pelaksanaan program melibatkan Kelompok Seni Kencana Jaya Paksi sebagai mitra masyarakat. Kelompok ini memiliki peran penting dalam aktivitas seni dan budaya masyarakat Desa Kedis serta memiliki keterlibatan langsung dalam praktik Tari Rejang Keraman. Potensi sumber daya manusia yang dimiliki mitra menjadi modal utama dalam pelaksanaan program. Para pelaku seni dan penari senior memiliki pengetahuan empirik mengenai bentuk gerak, tata cara pelaksanaan, serta konteks budaya Tari Rejang Keraman. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi sumber utama dalam proses dokumentasi dan pengembangan media pembelajaran. Di sisi lain, mitra juga menghadapi kebutuhan terhadap metode pembelajaran yang lebih terstruktur, dokumentasi gerak yang dapat digunakan sebagai rujukan, serta media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Pertemuan antara potensi dan kebutuhan tersebut kemudian menjadi dasar bagi pengembangan program yang bersifat kolaboratif. Tim pengabdian tidak hanya membawa teknologi kepada masyarakat, tetapi juga belajar dari pengetahuan lokal yang dimiliki para pelaku tradisi. Dengan demikian, proses revitalisasi tidak menghilangkan otoritas masyarakat sebagai pemilik dan pelaku budaya. Sebaliknya, masyarakat ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses produksi pengetahuan, dokumentasi, pembelajaran, dan keberlanjutan Tari Rejang Keraman.

Dilaksanakan Bertahap dari Mei hingga Agustus

Program PISN dilaksanakan melalui beberapa tahapan kegiatan sejak bulan Mei hingga Agustus. Tahap awal pada bulan Mei difokuskan pada koordinasi internal tim pelaksana, sosialisasi program kepada mitra dan pemangku kepentingan, identifikasi kebutuhan serta pemetaan permasalahan mitra, dan penyusunan materi pelatihan Tari Rejang Keraman.

Tahapan tersebut menjadi fondasi penting sebelum program memasuki proses pelatihan dan produksi media. Identifikasi kebutuhan dilakukan untuk memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kondisi masyarakat dan kebutuhan mitra.

Selanjutnya, pada bulan Juni hingga Agustus dilaksanakan pelatihan Tari Rejang Keraman tahap I dan tahap II, perekaman gerak dan dokumentasi Tari Rejang Keraman, penyusunan serta pengolahan media pembelajaran interaktif, dan uji pemanfaatan media pembelajaran dalam kegiatan latihan.

Proses perekaman tidak hanya memperhatikan aspek estetika visual, tetapi juga diarahkan untuk mendokumentasikan gerak tari secara sistematis agar dapat digunakan sebagai sumber belajar. Hasil dokumentasi kemudian diolah menjadi media pembelajaran yang lebih komunikatif dan mudah digunakan dalam kegiatan latihan. Uji pemanfaatan media dilakukan bersama mitra dalam situasi latihan. Tahapan ini penting untuk memperoleh pengalaman langsung mengenai sejauh mana media dapat membantu proses pembelajaran dan bagaimana media tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta.

Dari Pelestarian Menuju Keberlanjutan Pengetahuan Budaya

Program revitalisasi Tari Rejang Keraman menunjukkan bahwa pelestarian seni tradisi pada era digital tidak harus mempertentangkan tradisi dengan teknologi. Keduanya dapat dipertemukan melalui strategi yang tetap menghormati nilai, makna, fungsi ritual, serta pengetahuan lokal yang melekat pada sebuah karya seni.

Video pembelajaran yang dikembangkan dalam program ini diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat regenerasi penari dan menjaga kesinambungan pengetahuan Tari Rejang Keraman. Lebih jauh, media tersebut dapat menjadi bagian dari sistem dokumentasi budaya masyarakat Desa Kedis yang dapat dimanfaatkan oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang. Upaya tersebut juga memiliki relevansi dengan pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Pengembangan media pembelajaran seni tradisi berbasis teknologi tidak hanya berbicara mengenai pelestarian kebudayaan, tetapi juga mendorong masyarakat untuk memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan akar budaya.

Program ini sejalan dengan semangat Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045, khususnya agenda penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan, sains, teknologi, dan prestasi. Pada saat yang sama, inovasi pembelajaran seni tradisi juga memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan akses pembelajaran yang lebih inovatif dan kontekstual, serta SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan melalui pemanfaatan teknologi untuk memperkuat kapasitas pengetahuan masyarakat di wilayah pedesaan.

Apresiasi untuk Pemerintah dan Tim Pengabdian

Pelaksanaan program revitalisasi Tari Rejang Keraman ini tidak terlepas dari dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui BIMA dalam skema Pengabdian Program Inovasi Seni Nusantara (PISN). Dukungan tersebut memberikan ruang bagi perguruan tinggi untuk tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian, tetapi juga hadir secara nyata di tengah masyarakat melalui pengembangan dan penerapan inovasi seni yang berangkat dari kebutuhan lokal.

Tim pengabdian menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui BIMA atas dukungan terhadap pelaksanaan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN). Melalui program ini, tim memperoleh kesempatan untuk berkontribusi secara langsung dalam menjaga keberlanjutan seni tradisi sekaligus memberikan sumbangsih bagi masyarakat melalui inovasi pembelajaran seni berbasis teknologi.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada masyarakat Desa Kedis, para pelaku seni, pemangku kepentingan desa adat, serta Kelompok Seni Kencana Jaya Paksi yang telah berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan. Program ini dilaksanakan oleh tim pengabdian yang terdiri atas Prof. Dr. Ni Luh Sustiawati sebagai Ketua Tim Pengabdian, Dr. I Nyoman Larry Julianto sebagai Anggota Pengabdian, dan Dr. I Gusti Putu Sudarta sebagai Anggota Tim Pengabdian. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan tidak berhenti sebagai sebuah program, tetapi dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan.

Menjaga Tradisi agar Tetap Hidup

Revitalisasi Tari Rejang Keraman pada akhirnya bukan sekadar tentang mendokumentasikan sebuah tari tradisional. Lebih dari itu, program ini merupakan upaya menjaga pengetahuan, nilai, identitas, dan praktik budaya masyarakat agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Tradisi tidak harus berhenti pada masa lalu. Dengan strategi yang tepat, teknologi justru dapat menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman generasi terdahulu dengan cara belajar generasi masa kini.

Melalui inovasi pembelajaran digital, Tari Rejang Keraman diharapkan tidak hanya tetap hadir dalam ritual masyarakat Desa Kedis, tetapi juga terus dipahami, dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan oleh generasi berikutnya.

Dengan demikian, pelestarian seni tradisi bukan sekadar mempertahankan apa yang pernah ada, melainkan memastikan agar pengetahuan budaya tetap memiliki kehidupan, fungsi, dan makna bagi masyarakat pada masa kini dan masa yang akan datang.

Gambar 1. Koordinasi internal tim pelaksana dan Sosialisasi program kepada mitra dan pemangku kepentingan di Desa Kedis

Gambar 2. Pelaksanaan pelatihan Tari Rejang Keraman

Gambar 3. Tim pengabdian dan mitra PISN

Categories

Loading...