Foto: Pembukaan Pameran Seni Rupa dan Desain Nasional (Waskita Rupa) di Sangkring Art Space, Sabtu (8/11).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menyelenggarakan Pameran Seni Rupa dan Desain Nasional (Waskita Rupa): Warma Bhuwana Wangsa – Derma Manusia Dunia. Pameran ini menjadi bagian dari rangkaian Bali Nata Bhuwana IV, wahana aktualisasi hasil pembelajaran di tingkat nasional.
Acara prestisius ini digelar di Sangkring Art Space, 8 hingga 18 November 2025. Pembukaan pameran berlangsung pada Sabtu (8/11), dibuka secara resmi oleh Gusti Pangeran Haryo Indrokusumo mewakili Adipati Pakualaman, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X. Acara pembukaan turut dihadiri oleh Rektor ISI Yogyakarta beserta jajaran, delegasi Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, para akademisi, serta seniman-seniman bereputasi dari berbagai wilayah Indonesia.
Foto: Pameran Seni Rupa dan Desain Nasional (Waskita Rupa) di Sangkring Art Space, Sabtu (8/11).
Pameran yang dikuratori Prof. Dr. I Wayan Karja, MFA dan Dr. A.A. Gede Rai Remawa ini, menghadirkan karya-karya seniman dan desainer dari sembilan perguruan tinggi di Indonesia, yakni ISI BALI, ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Universitas Negeri Surabaya, STKW Surabaya, Institut Kesenian Jakarta, Telkom University, dan Universitas Bumigora. Lebih dari 60 perupa dan desainer turut berpartisipasi, di antaranya A.A. Anom Mayun Kt., Agung Cahyana, Aries Burdani, Bayu Segara Putra, Cokorda Alit Artawan, Danang Priyanto, Djul Djati Parmuhadi, dan sejumlah nama lain yang mewakili keberagaman gaya, media, dan perspektif artistik.
Gusti Pangeran Haryo Indrokusumo mewakili Adipati Pakualaman mengapresiasi pameran yang diinisiasi ISI BALI ini. “Kami menyambut baik tema besar yang diusung, yaitu “Warma- Bhuwana-Wangsa” atau yang diartikan sebagai Derma Manusia Dunia. Filosofi ini sangat relevan dengan semangat kebudayaan Nusantara, di mana seni tidak hanya menjadi ekspresi diri, tetapi juga persembahan dan sumbangsih bagi kemanusiaan dan alam semesta”.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menjelaskan, penyelenggaraan kegiatan ini, yang bertujuan untuk mendesiminasikan hasil penelitian dan penciptaan seni dari dosen dan mahasiswa ISI BALI, merupakan wujud nyata dari “derma” pengetahuan dan estetika. Ini adalah upaya mulia untuk merangkul dan memberi pencerahan melalui karya-karya seni yang visioner dan bermakna.
Prof. Kun Adnyana menambahkan, dipilihnya Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai tempat pelaksanaan kegiatan ini, khususnya Pameran Waskita Rupa di Sangkring Art Space, adalah penanda betapa kuatnya tali silaturahmi budaya antara Bali dan Jawa, khususnya Yogyakarta. (ISIBALI/Humas)
Foto: Pergelaran Seni Nasional (Kalang Kalangon), Minggu (9/11) di Bangsal Kepatihan, Pakualaman, Yogyakarta.
Serangkaian Bali Nata Bhuwana IV 2025, Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menyelenggarakan pergelaran seni nasional (Kalang Kalangon) dengan tema “Warma–Bhuwana–Wangsa: Derma Manusia Dunia”, Minggu (9/11) di Bangsal Kepatihan, Pakualaman, Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi wahana diseminasi hasil Penelitian, Penciptaan, Diseminasi, Seni – Desain (P2DSD) dosen ISI BALI, yang menampilkan hasil riset, penciptaan, dan inovasi artistik dalam format pertunjukan publik.
Pergelaran Kalang Kalangon dibuka secara resmi oleh Gusti Pangeran Haryo Indrokusumo, yang hadir mewakili Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPA) Paku Alam X, Adipati Pura Pakualaman. Dalam pembukaan tersebut, beliau menyampaikan apresiasi atas kontribusi ISI BALI dalam memperkaya ekosistem seni nasional serta mempererat hubungan budaya antara Yogyakarta dan Bali.
Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menyerahkan cinderamata kepada Gusti Pangeran Haryo Indrokusumo dan Ketua Komisi Senat ISI Yogyakarta, Prof. Dr. I Wayan Dana, S.S.T., M.Hum, Minggu (9/11) di Bangsal Kepatihan, Pakualaman, Yogyakarta.
Rektor ISI BALI Prof. Dr. I Wayan Adnyana dalam sambutannya menyampaikan bahwa pergelaran Kalang Kalangon merupakan wujud komitmen ISI BALI dalam meneguhkan seni sebagai ruang perjumpaan nilai, pengetahuan, dan kemanusiaan. “Melalui tema Warma–Bhuwana–Wangsa, kami ingin menegaskan bahwa seni adalah derma—pengabdian kreatif manusia kepada dunia. Pergelaran ini menjadi medium untuk membangun jejaring kebudayaan, memperkuat kolaborasi antarwilayah, serta menghadirkan karya-karya yang lahir dari penelitian, pengajaran, dan praktik artistik di lingkungan kampus,” ujarnya.
Foto: Pergelaran Tari Warma–Bhuwana–Wangsa (Derma Manusia Dunia), Minggu (9/11) di Bangsal Kepatihan, Pakualaman, Yogyakarta.
Pergelaran ini menampilkan rangkaian karya seni terpilih sebagai wujud “derma” pengetahuan, kreativitas, dan estetika kepada masyarakat. Adapun karya yang dipentaskan meliputi Tari Golek Nangun Asmara oleh AKN Yogyakarta, Konser Ladrang Asmaradana Laras Pelog Pathet Nem oleh AKN Yogyakarta, Tari None Nyentrik oleh Sanggar Ayodya Pala Jakarta. Karya Pemenang P2DSD Berdampak ISI BALI yang dipentaskan, yakni Tari Prasnaya Prami, Konser Kebyar Citta Utsawa, dan karya utama Tari Warma–Bhuwana–Wangsa (Derma Manusia Dunia).
Melalui pergelaran ini, ISI BALI tidak hanya mementaskan sajian seni, tetapi juga mendiseminasikan hasil penelitian dan penciptaan seni dari dosen dan mahasiswa, sebagai bentuk nyata kontribusi akademik dan artistik bagi perkembangan seni budaya Nusantara. Acara ini menjadi ajang penting dalam memperkuat dialog kreatif antara seniman, akademisi, dan masyarakat, sekaligus menegaskan peran seni sebagai jalan pengabdian manusia kepada dunia. (ISIBALI/Humas)
Inovasi Seni dari Keheningan:ISI Bali Bangun Kepercayaan Diri Komunitas Difabel Lewat Tari Pependetan Nirmala, Buleleng. Bali
Foto: Latihan bersama masyarakat Kolok di Desa Bengkala, Buleleng, Bali Kamis (30/10)
Tim pengusul dari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali) sukses melaksanakan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) dengan tema “Inovasi Seni dari Keheningan: Membangun Ekspresi dan Kepercayaan Diri Komunitas Difabel melalui Tari Pependetan Nirmala.”Program ini diketuai oleh Ida Ayu Trisnawati, dengan anggota pelaksana I Gusti Putu Sudarta dan Ida Bagus Ketut Trinawindu, serta melibatkan tiga mahasiswa ISI Bali: Made Tarayana Amanda Putra, I Dewa Gede William Sedana Putra, dan Komang Jana Arta Saputra.
Program ini berfokus di Desa Bengkala, Kabupaten Buleleng, yang dikenal sebagai “Desa Kolok”, karena sebagian warganya merupakan penyandang tunarungu. Meskipun desa ini memiliki potensi seni yang kuat, komunitas difabel masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam mengakses ruang ekspresi dan pengembangan diri. Dari kondisi itulah muncul gagasan untuk menghadirkan karya seni yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga bermakna sosial dan spiritual.
Melalui penciptaan Tari Pependetan Nirmala, tim ISI Bali berupaya menghadirkan ruang seni yang inklusif, memberi kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk mengekspresikan diri, meningkatkan kepercayaan diri, sekaligus menjaga nilai budaya dan spiritual masyarakat Bali. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pembangunan sumber daya manusia di bidang seni, pendidikan, kesetaraan gender, dan pemberdayaan penyandang disabilitas.
Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap, dimulai dengan sosialisasi program PISN pada 17 Oktober 2025, diikuti oleh pelatihan tari Pependetan Nirmala pada 30 Oktober 2025. Pelatihan dilaksanakan bersama mitra Komunitas Kolok Santhi di Banjar Dinas Kajanan, Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng. Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh semangat, di mana peserta tidak hanya diajarkan gerak dasar dan koreografi, tetapi juga diajak untuk mengolah ekspresi diri, memahami makna spiritual gerak, serta berkolaborasi dalam mencipta. Selain pelatihan, program ini juga melibatkan penciptaan kostum dan properti adaptif, pendampingan intensif, serta dokumentasi proses dan hasil karya. Tujuan akhirnya adalah melahirkan model seni pertunjukan inklusif yang dapat diterapkan oleh komunitas lain, sekaligus memperkuat hubungan antara seni, budaya, dan pemberdayaan sosial.
Foto: Bersama masyarakat Kolok di Desa Bengkala, Buleleng. Bali.
Hasil dari pelaksanaan program ini sangat positif. Para anggota Komunitas Kolok Santhi menunjukkan peningkatan keterampilan, rasa percaya diri, dan antusiasme dalam menampilkan karya mereka. Puncaknya adalah terselenggaranya pertunjukan inklusif Tari Pependetan Nirmala yang mendapat apresiasi luas dari masyarakat Desa Bengkala dan para pemerhati seni.
Selain pertunjukan, program ini juga menghasilkan modul dan video pembelajaran tari, serta dokumentasi ilmiah populer sebagai referensi untuk pengembangan seni inklusif di masa mendatang. Dengan demikian, Tari Pependetan Nirmala tidak hanya menjadi karya seni baru, tetapi juga simbol dari kebersamaan, keberanian, dan keindahan yang tumbuh dari keheningan. Program ini menjadi bukti bahwa seni dapat menjadi jembatan bagi siapa saja untuk mengekspresikan diri, tanpa batas kemampuan fisik atau kondisi sosial. Melalui kerja sama antara akademisi, seniman, dan komunitas lokal, ISI Bali berhasil menunjukkan bahwa inovasi dalam seni tradisi dapat melahirkan perubahan sosial yang nyata dan berkelanjutan.
Denpasar, 4 November 2025 — Program Studi Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali kembali menyelenggarakan kegiatan Kuliah Dosen Tamu sebagai bagian dari pengayaan wawasan akademik mahasiswa. Pada kesempatan kali ini, program studi menghadirkan Bapak Achmad Syarief, MSD., Ph.D., dosen dan peneliti di bidang desain produk yang dikenal luas atas kepakarannya dalam semantik produk.
Kegiatan yang berlangsung di kampus ISI Bali pada Selasa, 4 November 2025, diikuti oleh sekitar 80 mahasiswa Program Studi Desain Produk. Dalam kuliah tamu tersebut, Achmad Syarief menyampaikan materi bertajuk “Semantik Produk: Memahami Pemaknaan Obyek Desain”, yang menyoroti bagaimana bentuk, warna, dan material pada produk dapat menyampaikan pesan dan membangun persepsi pengguna.
Dalam paparannya, beliau menekankan pentingnya pemahaman semantik dalam proses perancangan desain agar produk tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki nilai komunikasi yang kuat. “Desainer perlu memahami bagaimana pengguna menafsirkan bentuk dan simbol pada produk. Di situlah semantik berperan sebagai jembatan antara desain dan persepsi,” ujar Achmad Syarief.
Ketua Program Studi Desain Produk ISI Bali, Wahyu Indira, S.Sn., M.Sn, menyampaikan bahwa kegiatan kuliah dosen tamu ini merupakan bagian dari upaya prodi untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan relevan dengan perkembangan industri desain terkini. “Melalui kegiatan ini, mahasiswa mendapatkan wawasan langsung dari pakar yang berpengalaman, sehingga dapat memperkaya sudut pandang mereka dalam proses perancangan produk,” ungkapnya.
Mahasiswa yang hadir tampak antusias mengikuti jalannya kuliah, dengan sesi diskusi interaktif yang membahas berbagai contoh penerapan semantik produk pada desain kontemporer. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap aspek konseptual dan filosofis dalam desain produk, serta mendorong lahirnya karya-karya inovatif yang berdaya makna tinggi.
*Hadirkan Dosen University of Western Australia, Prof. Paul Trinidad sebagai Narasumber
Foto: Workshop Cetak Grafis di Gedung Citta Kelangen Lt. 2 ISI BALI, Rabu (29/10).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menyelenggarakan Bali-Global Encounter Figure (B-GEF) #2: Workshop Cetak Grafis di Gedung Citta Kelangen Lt. 2 ISI BALI, Rabu (29/10). Kegiatan ini merupakan rangkaian Event Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) II Tahun 2025.
B-GEF merupakan sebuah ruang dialog tentang interrelasi individual dan kolektif, yang dikemas dalam bentuk kolaborasi kreatif antara maestro, seniman, tokoh budaya, atau kritikus melalui format workshop.
Foto: Workshop Cetak Grafis di Gedung Citta Kelangen Lt. 2 ISI BALI, Rabu (29/10).
Pada pelaksanaan B-GEF #2 ini, hadir Prof. Paul Trinidad dari University of Western Australia sebagai narasumber. Ia memperkenalkan teknik cetak tinggi (relief printing) yang diaplikasikan pada media kain dan kaos, memperagakan secara langsung proses pengolesan tinta hingga tahap pencetakan hasil karya.
Workshop ini diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai program studi, di antaranya Desain Komunikasi Visual, Seni Murni, Kriya, dan Desain Produk ISI BALI. Para peserta tampak antusias mempelajari serta mempraktikkan teknik cetak grafis bersama sang maestro, mendapatkan pengalaman artistik yang memadukan pendekatan tradisional dengan eksplorasi kontemporer. (ISIBALI/HUMAS)
Foto: Jajaran Pimpinan ISI BALI dan Delegasi B-GAAD II bersama seluruh kontingen World Cultural Carnaval ISI BALI, Selasa (28/10) di Gedung Desain Hub ISI BALI.
World Cultural Carnaval yang menjadi bagian dari rangkaian Bali–Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) II Tahun 2025 sukses memukau para delegasi luar negeri yang hadir di Kampus Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI), Selasa (28/10). Pawai seni lintas disiplin ini menampilkan kekayaan mitologi, kreativitas, dan daya cipta mahasiswa dari seluruh program studi di ISI BALI, yang dirangkai dalam tema besar “Tutur–Bhuwana–Tuwuh” (Myths–World–Memories).
Digelar seusai apel peringatan Hari Sumpah Pemuda, karnaval dimulai dari depan Gedung Lata Mahosadhi menuju area Desain Hub, berlanjut ke selatan Fakultas Seni Rupa dan Desain, dan kembali ke titik awal. Sepanjang rute, para peserta menampilkan parade busana tematik, tari, teater, musik, dan properti artistik yang mencerminkan identitas masing-masing program studi. Panggung kehormatan di depan Gedung Desain Hub menjadi pusat perhatian, tempat seluruh kontingen menampilkan atraksi utama di hadapan Rektor, pimpinan perguruan tinggi, mitra, dan tamu-tamu internasional B-GAAD.
Foto: Jajaran Pimpinan ISI BALI dan Delegasi B-GAAD II menyaksikan World Cultural Carnaval ISI BALI, Selasa (28/10) di Bencingah Gedung Desain Hub ISI BALI.
Sebanyak 16 kontingen andil dalam pergelaran ini, masing-masing menafsirkan tema mitologi dan kosmologi Bali melalui medium seni yang berbeda. Prodi Tari dengan tema Sanghyang yang sakral, Karawitan dengan denting kulkul yang menggema secara live, hingga Pendidikan Seni Pertunjukan yang menampilkan kreativitas kostum Cupak Gerantang.
Kontingen Seni Pedalangan dan Teater memadukan wayang orang dengan body painting, sementara Seni Murni menghadirkan visual memedi-median menggunakan bahan alam. Kriya menonjolkan keanggunan bentuk naga, sedangkan Desain Interior dan Arsitektur menampilkan sosok lelakut (orang-orangan sawah) dalam wujud artistik.
Nuansa perang dan keberanian terasa kuat dari kontingen Musik dan Bisnis Digital melalui tema Genderang Perang dengan iringan alat musik tiup yang dimainkan secara langsung. Sementara itu, Desain Komunikasi Visual memeriahkan suasana dengan tema Mayadenawa disertai bunyi-bunyian khas yang mereka ciptakan sendiri.
Foto: Penampilan Prodi Tari dengan judul Sasanghyangan pada World Cultural Carnaval ISI BALI, Selasa (28/10) di Bencingah Gedung Desain Hub ISI BALI.
Dari sisi visual, Fotografi memukau lewat tema Kalarau dengan permainan cahaya reflektor, Desain Mode menampilkan sosok Dadayangan berambut panjang, dan Produksi Film dan Televisi mengusung Wong Samar dengan kostum kamuflase yang misterius. Tak kalah menarik, Desain Produk hadir dengan kostum berbentuk Bedawang (kura-kura raksasa bersisik), dan Animasi menampilkan parade karakter Tantri bertema hewan.
Kelas pascasarjana turut memeriahkan parade ini, Program Doktor (S3) mengangkat simbol kekuatan Garuda, sementara Program Magister (S2) menampilkan figur Dewi Sri sebagai lambang kesuburan, lengkap dengan properti tirta dan musik live yang anggun.
Setiap kontingen terdiri dari sekitar 20 anggota, termasuk dosen dan mahasiswa, yang menampilkan perpaduan antara fashion, koreografi, properti, dan musik tematik. Kolaborasi lintas disiplin ini menunjukkan kekayaan ekspresi artistik sivitas akademika ISI BALI dalam merespons tema besar B-GAAD II yang menautkan antara mitos, dunia, dan kenangan peradaban. (ISI BALI/Humas)