Foto: Upacara Mecaru, Mlaspas, Pasupati, serta Mapadagingan, Sabtu (4/4) di kampus ISI BALI
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) melaksanakan upacara Mecaru, Mlaspas, Pasupati, serta Mapadagingan pada Sabtu (4/4) bertepatan dengan Hari Suci Saraswati (Saniscara Kliwon Wuku Watugunung) di lingkungan kampus ISI BALI. Upacara tersebut dilaksanakan sebagai rangkaian penyucian dan penyelarasan terhadap sejumlah bangunan baru maupun bangunan yang telah selesai direnovasi di lingkungan kampus.
Adapun bangunan yang diupacarai meliputi Gedung Jineng, Bencingah Agung, Candi Nretya Mandala, Tugu Nama, Gedung Natya Mandala, dan Gedung Gede Manik. Dosen, mahasiswa, serta tenaga kependidikan ISI BALI bersama-sama mengikuti jalannya upacara yang berlangsung khidmat.
Foto: Upacara Mecaru, Mlaspas, Pasupati, serta Mapadagingan, Sabtu (4/4) di kampus ISI BALI.
Pelaksanaan Mecaru dilakukan sebagai upaya menjaga keharmonisan dan keseimbangan alam sekala maupun niskala di lingkungan kampus. Selanjutnya, upacara Mlaspas dan Pasupati dilaksanakan untuk menyucikan serta memohonkan kekuatan spiritual bagi bangunan-bangunan yang akan digunakan sebagai ruang aktivitas akademik, kesenian, dan pelayanan di ISI BALI. Sementara itu, Mapadagingan menjadi simbol pengisian dan penghidupan bangunan agar siap difungsikan.
Foto: Ayahan Tari Baris Gede oleh mahasiswa ISI BALI dalam Upacara Mecaru, Mlaspas, Pasupati, serta Mapadagingan, Sabtu (4/4) di kampus ISI BALI.
Rangkaian upacara juga diiringi dengan berbagai ayahan seni yang dihaturkan oleh sivitas akademika ISI BALI. Mahasiswa ISI BALI menghaturkan Konser Gamelan Ritus, Tari Rejang Dewa, Tari Baris Gede, dan Topeng Wali sebagai bagian dari persembahan sakral dalam upacara.
Selain itu, Dharma Wanita Persatuan (DWP) ISI BALI turut menghaturkan Tari Rejang Nata Hita. Penampilan tersebut menambah kekhidmatan sekaligus memperlihatkan semangat kebersamaan seluruh unsur kampus dalam mendukung pelaksanaan upacara. (ISIBALI/Humas)
Foto: Ayahan Tari Rejang Nata Hita oleh DWP ISI BALI dalam Upacara Mecaru, Mlaspas, Pasupati, serta Mapadagingan, Sabtu (4/4) di kampus ISI BALI.
Foto: Kegiatan mareresik dan penanaman pohon di lingkungan Kampus ISI BALI, Jumat (3/4)
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) melaksanakan kerja bakti atau mareresik dan penanaman pohon dalam kegiatan Bali-Dwipantara Karma (Nemu Gelang Nusantara) serangkaian Bali Sangga Dwipantara VI bertema Kerthi-Tuwuh-Krama, Jumat (3/4) di Kampus ISI BALI.
Kegiatan mareresik diikuti oleh ratusan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan ISI BALI. Mereka bergotong royong membersihkan lingkungan kampus, area pura, halaman, serta sejumlah fasilitas penunjang sebagai bentuk persiapan menyambut pelaksanaan Upacara Mecaru, Mlaspas, dan Pasupati, serta Mapadagingan.
Selain kerja bakti, kegiatan juga dirangkaikan dengan penanaman pohon di lingkungan kampus. Penanaman pohon tersebut menjadi wujud komitmen ISI BALI dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung semangat tema Kerthi-Tuwuh-Krama yang menekankan pentingnya keharmonisan antara manusia, alam, dan kehidupan bersama.
Foto: Kegiatan mareresik dan penanaman pohon di lingkungan Kampus ISI BALI, Jumat (3/4)
Suasana kebersamaan tampak selama kegiatan berlangsung. Mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan bekerja bersama membersihkan lingkungan kampus dan menata area yang akan digunakan untuk pelaksanaan upacara. Kegiatan ini juga menjadi bentuk implementasi nilai gotong royong dan rasa memiliki terhadap lingkungan kampus.
Upacara Mecaru, Mlaspas, dan Pasupati, serta Mapadagingan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (4/4) bertepatan dengan Hari Raya Saraswati di Pura Padma Nareswari ISI BALI. Rangkaian persiapan melalui mareresik dan penanaman pohon diharapkan dapat mendukung kelancaran pelaksanaan upacara sekaligus memperkuat semangat kebersamaan sivitas akademika ISI BALI. Bali-Dwipantara Karma (Nemu Gelang Nusantara) merupakan salah satu rangkaian Bali Sangga Dwipantara VI yang tidak hanya menghadirkan aktivitas seni dan budaya, tetapi juga menanamkan nilai kepedulian terhadap lingkungan dan penguatan harmoni sosial di lingkungan kampus.(ISIBALI/Humas)
Foto: Mahasiswa berpresatasi ISI BALI, I Kadek Ongky Dwi Dhavinci (paling kanan) dan Haggai Osfred Benagamma Dao (kiri) dalam kegiatan pembekalan dan pengunggahan berkas Pilmapres tingkat wilayah, Selasa (31/3) di Ruang Lounge ISI BALI.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menetapkan mahasiswa berprestasi tingkat institut untuk program sarjana dan diploma tahun 2026. Penetapan tersebut dilakukan berdasarkan hasil Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) yang dilaksanakan pada Jumat (27/3) di Kampus ISI BALI.
Hasil pemilihan dituangkan dalam Berita Acara Nomor Manual.1056/IT5.5/DT.01.02/2026 untuk program sarjana dan Nomor Manual.1057/IT5.5/DT.01.01/2026 untuk program diploma, tertanggal 30 Maret 2026.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI BALI, Prof. Dr. I Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum., menyampaikan bahwa pemilihan mahasiswa berprestasi mengacu pada Pedoman Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Tahun 2026 yang diterbitkan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
“Mahasiswa berprestasi yang terpilih merupakan mahasiswa terbaik yang dinilai berdasarkan capaian akademik, prestasi unggulan, gagasan kreatif, serta kemampuan berbahasa Inggris dan kepribadian,” ujarnya.
Pada kategori program sarjana, I Kadek Ongky Dwi Dhavinci dari Program Studi Desain Komunikasi Visual berhasil meraih predikat Mahasiswa Berprestasi I. Posisi Mahasiswa Berprestasi II diraih oleh Nyoman Atheny Pramasastra Dewi dari Program Studi Teater, sedangkan Mahasiswa Berprestasi III diraih oleh Ketut Yogi Wiriatama dari Program Studi Seni Karawitan.
Sementara itu, predikat Mahasiswa Berprestasi Harapan I diraih oleh Desak Putu Agnis Dewa Yanti Putri dari Program Studi Seni Murni. Mahasiswa Berprestasi Harapan II diraih oleh Ni Putu Harimayaka Putri Lila dari Program Studi Musik, dan Mahasiswa Berprestasi Harapan III diraih oleh Neisha Zintya Fireska dari Program Studi Kriya.
Adapun pada kategori program diploma, Haggai Osfred Benagamma Dao dari Program Studi Produksi Film dan Televisi terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi I. Mahasiswa Berprestasi II diraih oleh Angelina Agatha Mardiancia dari Program Studi Desain Mode, sedangkan Mahasiswa Berprestasi III diraih oleh Caleb Nikao Hutabarat dari Program Studi Animasi.
Mahasiswa Berprestasi I tingkat sarjana dan diploma juga akan mewakili ISI BALI pada seleksi tahap wilayah yang diselenggarakan oleh LLDIKTI Wilayah VIII sebelum melaju ke tingkat nasional. (ISIBALI/Humas)
Foto: ISI BALI menghaturkan ayahan di Pura Agung Besakih, Kamis (2/4).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menghaturkan ayahan di Pura Agung Besakih dalam rangka Upacara Karya Ida Bhatara Turun Kabeh yang bertepatan dengan Purnama Kadasa pada Kamis (2/4).
Ayahan tersebut menampilkan beragam kesenian sakral Bali yang dibawakan secara khidmat oleh mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan ISI BALI. Sajian yang dipentaskan meliputi Rejang Dewa, Baris Gede, Topeng, Wayang Gedog, serta Tabuh Gong Gede.
Kegiatan ini merupakan salah satu implementasi program Bali Citta Pradesa, khususnya Aktualisasi Pembelajaran di Ruang Sakral. Melalui program ini, ISI BALI menghadirkan proses pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga langsung di tengah kehidupan spiritual dan budaya masyarakat Bali.
Foto: ISI BALI menghaturkan ayahan di Pura Agung Besakih, Kamis (2/4).
Dalam konteks tersebut, ayahan di Pura Agung Besakih menjadi ruang bagi sivitas akademika ISI BALI untuk memahami, menghayati, sekaligus mempraktikkan nilai-nilai kesenian sakral Bali sesuai dengan fungsi, etika, dan konteksnya. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mempelajari seni secara teknis, tetapi juga memahami dimensi religius dan filosofis yang melekat pada setiap sajian. Kehadiran sivitas akademika ISI BALI dalam upacara tersebut juga menjadi wujud implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat, sekaligus komitmen kampus dalam menjaga dan melestarikan seni budaya Bali yang adi luhung. (ISIBALI/Humas)
Foto: Workshop Pembuatan Ider-Ider dan Saput Saka Gedung Jineng di Wantilan Loka Sabha Mandala ISI BALI, Senin (30/3).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menggelar Workshop Pembuatan Ider-Ider dan Saput Saka Gedung Jineng bertajuk “Kriya-Yadnya-Kawiya” pada Senin, 30 Maret 2026, di Wantilan Loka Sabha Mandala ISI BALI. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual, Kriya, dan Seni Murni.
Workshop dibuka oleh Ketua Senat ISI BALI, Prof. Dr. Drs. I Ketut Muka, M.Si. Dalam kegiatan tersebut, ISI BALI menghadirkan perajin asal Klungkung, Anak Agung Gede Anom Martawan, sebagai narasumber.
Ketua Panitia, Dr. Nyoman Laba, menjelaskan bahwa workshop ini bertujuan mengenalkan proses pembuatan gambar ider-ider dan saput saka dengan teknik prada bakar kepada mahasiswa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari proses artistik, tetapi juga memahami alat dan bahan yang diperlukan, teknik pengerjaan yang baik, hingga tahapan pembuatan karya.
“Mahasiswa diharapkan dapat belajar langsung dari narasumber mengenai teknik pembuatan ider-ider dan saput saka dengan teknik prada bakar, mulai dari penggunaan alat hingga proses pengerjaannya,” ujar Dr. Nyoman Laba.
Foto: Workshop Pembuatan Ider-Ider dan Saput Saka Gedung Jineng di Wantilan Loka Sabha Mandala ISI BALI, Senin (30/3).
Dalam workshop tersebut, peserta diperkenalkan pada proses pembuatan ider-ider dan saput saka yang diawali dengan membuat sketsa motif pada kain beludru. Motif yang digambar umumnya terinspirasi dari ornamen tradisional Bali, seperti patra, pepatran, serta unsur flora dan fauna.
Setelah sketsa selesai, peserta mempelajari teknik prada bakar dengan memanaskan garis-garis sketsa menggunakan solder panas. Bagian kain beludru yang terkena solder akan membentuk alur sesuai gambar yang telah dibuat. Selanjutnya, bagian tersebut diberi warna prada emas sehingga motif tampak menonjol dan berkilau. Teknik ini membutuhkan ketelitian dan kestabilan tangan karena kesalahan sedikit saja dapat merusak kain maupun detail motif yang telah digambar. Melalui proses tersebut, mahasiswa belajar menghasilkan ornamen yang rapi dan memiliki nilai estetis tinggi.
Dalam sambutannya, Prof. I Ketut Muka berharap workshop tersebut dapat memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa, sekaligus menjadi sarana pembelajaran berbasis praktik yang memperkaya pengetahuan dan keterampilan mereka.
Ia juga menyampaikan bahwa hasil karya yang dibuat dalam workshop ini akan dimanfaatkan sebagai saput saka dan ider-ider Gedung Jineng, bangunan baru di lingkungan ISI BALI yang akan menjalani upacara melaspas pada 4 April 2026.
“Melalui workshop ini, mahasiswa tidak hanya belajar membuat karya, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap kebutuhan artistik kampus. Hasil karya yang dibuat hari ini nantinya akan digunakan pada Gedung Jineng yang akan diplaspas pada 4 April mendatang,” ungkapnya. Kegiatan ini menjadi wujud sinergi antara pembelajaran akademik dan pelestarian seni tradisi Bali. Dengan menghadirkan perajin berpengalaman, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mempelajari secara langsung teknik tradisional yang memiliki nilai estetika sekaligus fungsi dalam upacara dan arsitektur Bali. (ISIBALI/Humas)
Foto: Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana,B.Sc meninjau Pameran Retrospektif Seni Lukis Kontemporer “Parama Paraga” di Nata-Cita Art Space (N-CAS) ISI BALI pada Rabu (25/3).
Perjalanan panjang seni rupa kontemporer terangkum dalam Pameran Retrospektif Seni Lukis Kontemporer “Parama Paraga” karya perupa sekaligus Rektor Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI), Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana, yang digelar di Nata-Cita Art Space (N-CAS) ISI BALI pada Rabu (25/3) sore.
Pameran ini merupakan inisiatif personal Prof. Kun Adnyana yang menampilkan refleksi perjalanan artistiknya selama lebih dari dua dekade. Pameran yang dikurasi oleh Jeon Dongsu, Warih Wisatsana, dan Alaida Niwaya menyajikan 88 karya yang memperlihatkan transformasi visual dari eksplorasi bentuk tubuh hingga berkembang menuju komposisi abstrak berbasis garis dan warna.
Dalam momentum pembukaan, Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana,B.Sc turut hadir dan meninjau langsung karya-karya yang ditampilkan. Kehadiran Menteri Pariwisata juga menjadi bagian dari rangkaian pembukaan Kalangan Widya Mahardika V, yang berlangsung di lingkungan kampus ISI BALI.
Foto: Pameran Retrospektif Seni Lukis Kontemporer “Parama Paraga” karya Prof. Kun Adnyana di Nata-Cita Art Space (N-CAS) ISI BALI pada Rabu (25/3).
Dalam keterangannya, Prof. Kun Adnyana menegaskan bahwa “Parama Paraga” merupakan proses panjang yang merekam dinamika pencarian artistik yang terus berkembang. “Ini adalah proses panjang, lebih dari 20 tahun, dari eksplorasi tubuh hingga menjadi komposisi warna yang murni, dengan garis sebagai basis utama,” ungkapnya.
Guru Besar Bidang Sejarah Seni ini juga mengaitkan pameran dengan semangat Kalangan Widya Mahardika V yang mengusung tema “Kirtya Jnana Kawiya”, sebagai upaya menggali dan memuliakan pengetahuan melalui praktik berkesenian.
Sebagai ruang seni yang berada di lingkungan kampus, Nata-Cita Art Space (N-CAS) ISI BALI menjadi wadah strategis dalam menghadirkan praktik seni rupa kontemporer kepada publik sekaligus memperkuat ekosistem akademik. Kehadiran pameran tunggal ini turut memperlihatkan peran ganda Prof. Kun Adnyana, tidak hanya sebagai pimpinan institusi, tetapi juga sebagai seniman yang aktif berkarya.
Prof. Kun Adnyana menambahkan, kegiatan ini bukan sekadar pameran, tetapi juga menjadi “pesta seni akademika” yang mendorong dosen dan mahasiswa untuk berani tampil di panggung global. “Pariwisata berbasis budaya adalah fondasi penting dalam memajukan seni dan budaya Bali. Karena itu, kami menghadirkan Ibu Menteri Pariwisata sebagai bagian dari sinergi antara dunia seni dan pariwisata,” tegasnya.
Menpar Widiyanti Putri Wardhana,B.Sc memberikan apresiasi khusus terhadap pameran karya Prof. Kun Adnyana yang dinilai memiliki kekuatan artistik dan keragaman tema. Menurutnya, karya-karya tersebut tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga memperkaya narasi budaya Bali di tengah perkembangan seni kontemporer.
Pameran “Parama Paraga” dijadwalkan berlangsung hingga 4 Mei mendatang dan terbuka untuk publik sebagai ruang apresiasi terhadap perjalanan panjang seorang perupa dalam merespons perkembangan seni rupa kontemporer. (ISIBALI/Humas)