Tugas akhir mahasiswa program Kurikulum ISI Bali Berdampak. Diseminasi tahun semester ganjil tahun akademik 2025/2026 diselenggarakan secara kolektif dibawah naungan Fakultas. Pelaksanaannnya diatur dengan jadwal pelaksanaan yang dikoordinasikan antar program studi. Seluruh tahapan Tugas akhir diatur dengan time line yang ketat mulai dari pengajuan proposal, review proposal, monitoring evaluasi, uji kelayakan, gladi bersih, diseminasi hingga pendaftaran yudisium.
Tahun ini diseminasi tugas akhir di lingkungan Fakultas Seni Pertunjukan diikuti oleh 5 program studi yaitu Prodi Tari, Prodi Seni Karawitan, Prodi Seni Pedalangan, Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan dan Prodi Musik. Mahasiswa yang mengikuti diseminasi tugas akhir tahun ini berjumlah 163 mahasiswa dengan rincian : 1) Prodi Tari sebanyak 18 orang (Project Independen: 14, Riset: 2, Magang 1 dan KKNT 1). 2) Prodi Seni Karawitan sebanyak 41 orang (Project Independen 40 orang dan Magang 1 orang). 3) Prodi Seni Pedalangan sebanyak 6 orang (PI 5 orang dan Riset 1 orang). 4) Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan 64 orang (PI 5, Riset 12, Magang 4 dan Asistensi Mengajar 43). 5) Prodi Musik 34 orang (PI 9 orang, Riset 5 orang,Magang 2 dan Asistensi Mengajar 14)
Diseminasi tugas akhir mahasiswa di lingkungan Fakultas Seni Pertunjukan diberikan tajuk Gebyar Widya Guna: Gebyar Cipta Seni Hasil Pembelajaran Berdampak Bagi Masyarakat. Gebyar Widya Guna berlangsung dari tanggal 10 sampai dengan 20 Januari 2026 dengan format pementasan karya seni dan seminar. Kegiatan berlangsung di Gedung Natya Mandala, Gedung Candra Metu, Ruang Vicon Gedung Citta Kelangen dan Gedung Desain Hub. Selain berlangsung di kampus ISI Bali beberapa mahasiswa juga ada yang memilih melakukan diseminasi di Klungkung, Singaraja dan Nusa Penida.
MahasiswaFakultas Seni Pertunjukan, ISI Bali Tampilkan Karya Cipta Seni Terbaru
Dalam pelaksanaan diseminasi tugas akhir semester Gasal 2025/2026 ditampilkan karya cipta baru dari karya tari, karawitan, pedalangan dan musik. Selain itu juga didedahkan hasil kegiatan riset, magang, KKN dan asistensi mengajar tentang seni pertunjukan. Pada tanggal 10 sampai dengan 11 Januari 2026 dipentas lima karya baru mahasiswa dari Prodi Pedalangan. Kemudian selama dua hari dari tanggal 12 sampai 13 Januari 2026 disajikan karya-karya inovasi dari mahasiswa prodi Tari. Mahasiswa Prodi Karawitan juga akan menyajikan hasil kreativitas mereka dalam bentuk komposisi baru mulai dari tanggal 14 sampai 18 Januari 2026. Prodi Musik menyelenggarakan konser Project Independent dan seminar magang, riset serta Asistensi Mengajar mulai tanggal 8 sampai 20 Januari 2026. Selanjutnya hasil penelitian dan asistensi mengajar tentang pendidikan seni pertunjukan diselenggarakan dengan format seminar mulai dari tanggal 12 sampai 14 Januari 2026 di Gedung Desain Hub.
Foto: Ayahan wewalen ISI BALI dalam Tawur Agung Padanan di Kahyangan Pura Dalem Puri Peliatan, Ubud, Gianyar, Sabtu (11/1).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menghaturkan ayahan wewalen dalam rangkaian Tawur Agung Padanan yang merupakan bagian dari Karya Padudusan Agung, Mupuk Padagingan, Ngenteg Linggih, Ngusabha Dalem, dan Ngusabha Pitra di Kahyangan Pura Dalem Puri Peliatan, Ubud, Gianyar, Sabtu (11/1).
Ayahan wewalen yang dihaturkan ISI BALI meliputi sejumlah sajian seni sakral, yakni Tari Baris Gede, Rejang, Topeng, Wayang Gedog, serta iringan Gong Gede. Seluruh sajian tersebut dipersembahkan sebagai bentuk ngayah dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam pelaksanaan upacara besar tersebut.
Foto: Ayahan wewalen ISI BALI dalam Tawur Agung Padanan di Kahyangan Pura Dalem Puri Peliatan, Ubud, Gianyar, Sabtu (11/1). Ngayah ini melibatkan sebanyak 80 orang yang terdiri atas mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan ISI BALI. Partisipasi lintas sivitas akademika ini menjadi wujud nyata komitmen ISI BALI dalam menjaga kesinambungan seni tradisi Bali, khususnya seni wali yang hidup dan tumbuh dalam konteks upacara keagamaan.
Kegiatan ngayah ini juga merupakan bagian dari Bali Citta Pradesa (diseminasi hasil pembelajaran di ruang sakral), salah satu kegiatan pada depan program utama Asta Mahacita Bali ISI BALI. Melalui program ini, ISI BALI meneguhkan peran perguruan tinggi seni sebagai penggerak kesadaran budaya, spiritualitas, dan pengabdian kepada masyarakat berbasis nilai-nilai kearifan lokal Bali. (ISIBALI/Humas)
DENPASAR – Dalam semangat kolaborasi akademik dan penguatan jejaring kreatif, Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) BALI menerima kunjungan studi ekskursi dari Program Studi DKV, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan pada Jumat, 9 Januari 2026. Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam mempertautkan visi pendidikan desain antara kedua institusi.
Penyambutan Hangat dan Penjajakan Strategis
Rombongan yang terdiri dari 70 mahasiswa dan 10 dosen pendamping dari UNU Pasuruan disambut hangat oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FSRD ISI BALI, Dr. Ni Luh Desi In Diana Sari, M.Sn. Di bawah suasana yang penuh keakraban, delegasi UNU Pasuruan dipimpin langsung oleh Wakil Rektor III, Dr. Amidatus Sholihat Jamil, didampingi Dekan Fakultas Ilmu Komputer, Senjaya Machfudi Zulkif, M.I.Kom., Ketua Prodi Kharisma Nanda Zenmira, S.Pd., M.Sn, dan seluruh jajaran dosen DKV UNU Pasuruan.
Pertemuan ini dirangkai dengan diskusi mendalam mengenai penjajakan kerja sama strategis di bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi. Salah satu poin krusial yang dibahas adalah komitmen peningkatan kualitas akademik melalui pertukaran penulis dalam jurnal ilmiah, yang diharapkan mampu memperkaya literatur desain dan memperluas cakrawala pemikiran para akademisi di kedua belah pihak.
Kuliah Tamu: Membedah Esensi Penjenamaan Bali
Menambah bobot akademik dalam kunjungan ini, diselenggarakan sesi kuliah tamu bertajuk “Penjenamaan Bali”. Materi ini disampaikan secara komprehensif oleh Koordinator Program Studi DKV ISI BALI, Gede Bayu Segara Putra, S.Ds., M.Sn. Dalam paparannya, Bayu Segara membahas bagaimana elemen budaya Bali dikelola melalui pendekatan desain komunikasi visual sehingga mampu menciptakan identitas wilayah yang kuat secara global. Mahasiswa UNU Pasuruan tampak antusias menyelami strategi di balik estetika visual Bali yang selama ini menjadi rujukan desain berbasis kearifan lokal.
Simbolisme Kerja Sama dan Apresiasi Karya
Sebagai bentuk komitmen atas keterbukaan peluang kerja sama di masa depan, acara dilanjutkan dengan prosesi pertukaran cenderamata. Pertukaran ini menjadi simbolisasi ikatan persahabatan serta harapan akan tumbuhnya sinergi yang berkelanjutan.
Kegiatan studi ekskursi ini kemudian diakhiri dengan kunjungan langsung ke lingkungan Program Studi DKV ISI BALI. Para peserta diajak melihat secara dekat karya mahasiswa yang merupakan luaran dari berbagai mata kuliah unggulan.
Kunjungan ini ditutup dengan kesan yang mendalam, meninggalkan jejak keakraban yang menjadi landasan kuat bagi kolaborasi-kolaborasi transformatif di masa mendatang.
Foto: Kegiatan Workshop Sevima di Prime Plaza Hotel Sanur, Denpasar, Bali, Kamis (6 November 2025
Pada tanggal 6 November 2025, SEVIMA (Sistem Evaluasi dan Informasi Manajemen Akademik) menyelenggarakan sebuah workshop bertajuk “From Outcome to Outshine: Kupas Tuntas Kurikulum Outcome Based Education untuk Memimpin Kampus Menuju Kelas Dunia”. Acara ini bertujuan untuk memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE), yang dirancang untuk memenuhi standar akreditasi nasional dan internasional di dunia pendidikan tinggi.
Peserta dan Tujuan Workshop
Workshop ini diikuti oleh 294 peserta yang berasal dari berbagai institusi pendidikan di Indonesia. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 16.00 WITA ini memiliki beberapa tujuan utama, yakni menyampaikan informasi terbaru tentang penyusunan kurikulum berbasis OBE, memberikan pemahaman mengenai aplikasi yang diproduksi oleh SEVIMA untuk mendukung efisiensi administrasi akademik, serta menyediakan ruang bagi peserta untuk berdiskusi mengenai penggunaan teknologi dalam pendidikan.
Materi yang Disampaikan
Beberapa materi utama yang dibahas dalam workshop ini meliputi pengenalan kurikulum OBE, yang dirancang untuk menghasilkan lulusan yang unggul dan siap menghadapi tantangan global. Para peserta juga diperkenalkan dengan SEVIMA, sebuah platform yang membantu institusi pendidikan dalam mengelola data akademik secara efisien. Fitur-fitur utama SEVIMA, termasuk sistem informasi akademik, pengelolaan nilai, serta pendaftaran mata kuliah, turut dijelaskan, dengan penekanan pada keunggulan penggunaan platform ini dalam meningkatkan akurasi dan kecepatan pengelolaan data.
Selain itu, sesi studi kasus dan best practices memberikan contoh penerapan SEVIMA di berbagai perguruan tinggi. Para peserta juga diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan seputar kendala yang mereka hadapi dalam implementasi teknologi pendidikan.
Manfaat yang Diperoleh
Workshop ini memberikan wawasan baru mengenai pentingnya digitalisasi dalam pengelolaan data akademik. Peserta merasa lebih siap untuk mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh, baik dalam konteks kurikulum OBE maupun penggunaan platform SEVIMA. Diskusi yang dilakukan membuka perspektif baru dalam pemecahan masalah administrasi akademik di perguruan tinggi.
Beberapa manfaat yang didapatkan antara lain adalah pemahaman lebih dalam mengenai kurikulum OBE dan fitur-fitur SEVIMA yang mendukung efisiensi kerja, serta kesempatan untuk berinteraksi dengan peserta dari berbagai latar belakang institusi yang berbeda.
Workshop ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman tentang penggunaan teknologi dalam manajemen administrasi akademik. SEVIMA terbukti menawarkan solusi efektif untuk perguruan tinggi dalam mengelola data akademik secara lebih efisien. Sebagai hasil dari workshop ini, peserta merasa lebih siap untuk mendorong implementasi kurikulum OBE dan sistem manajemen berbasis teknologi di kampus mereka.
Foto: Pangurip Tri Angga bertajuk “Charma-Samasta-Chandika”, Rabu (31/12) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, ISI BALI.
Transformasi Institut Seni Indonesia Denpasar menjadi Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) memasuki babak peneguhan identitas. Melalui Pangurip Tri Angga bertajuk “Charma-Samasta-Chandika” yang digelar Rabu (31/12) di kampus setempat, ISI BALI secara resmi menghidupkan Lambang, Himne, dan Mars sebagai simbol kepribadian dan spirit baru perguruan tinggi seni negeri di Bali.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana dalam sambutannya, menyampaikan bahwa tahun 2025 menjadi tonggak sejarah penting bagi ISI BALI. Setelah transformasi kelembagaan dari ISI Denpasar menjadi ISI BALI dan pengundangan Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 28 Tahun 2025 tentang Organisasi dan Tata Kerja ISI BALI, transformasi ini digenapi dengan Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 50 Tahun 2025 tentang Statuta Institut Seni Indonesia Bali yang diundangkan pada 24 Desember 2025.
Prof. Kun Adnyana menerangkan statuta ISI BALI menjadi landasan fundamental yang menata secara resmi Lambang, Himne, dan Mars ISI BALI sebagai Tri Angga, tiga atribut agung kelembagaan sekaligus spirit ISI BALI. “Hari ini momentum kita menyemai Pangurip Tri Angga ISI BALI. Ketiga penanda kesejatian kepribadian insani, mewujud benderang lentera idea, cipta, dan karya, serta derma Tridharma lintas masa, ujar Guru Besar Sejarah Seni ini.
Foto: Pangurip Tri Angga bertajuk “Charma-Samasta-Chandika”, Rabu (31/12) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, ISI BALI.
Lambang Nretya atau Nritya Siwa Nataraja, merupakan simbol abadi yang disematkan sedini ISI Bali bernama ASTI Denpasar. Ragarupa lambang ditransformasi dalam gubah artistika dan stilistika kekinian nilai ISI BALI. Kesejatian nilai ISI BALI, berikut penghayatan pengalaman memulia kampus tercinta ini, menjadi mula rima dan puitika keagungan Himne ISI BALI. Keluhuran nilai Indonesia, digelora raya dalam Mars ISI BALI.
Selain penguatan identitas kelembagaan, Rektor juga memaparkan capaian strategis ISI BALI sepanjang 2025. ISI BALI meraih predikat Akreditasi Unggul dari BAN-PT, serta akreditasi Unggul untuk Program Studi Magister Desain dan Program Studi Doktor Seni. Capaian tersebut diperkuat dengan keberhasilan ISI BALI meraih tiga Anugerah Diktisaintek 2025, masing-masing Gold Winner Kerja Sama dengan Industri, Silver Winner Unit Layanan Terpadu, dan Bronze Winner Kerja Sama Internasional.
Kegiatan Pangurip Tri Angga ISI BALI turut dihadiri berbagai unsur penting. Gubernur Bali hadir melalui perwakilan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dr. I Gede Arya Sugiartha. Selain itu, acara dihadiri anggota Dewan Pertimbangan ISI BALI, Ketua dan anggota Senat ISI BALI, jajaran Wakil Rektor, Dekan, pimpinan unit kerja, dosen dan tenaga kependidikan, Ketua dan jajaran DWP ISI BALI, insan pers, seniman, budayawan, tokoh masyarakat, mitra strategis, serta sivitas akademika ISI BALI.
Mewakili Gubernur Bali, Prof. Dr. Gede Arya Sugiartha dalam sambutannya menegaskan bahwa peluncuran Tri Angga ISI BALI tidak sekadar menghadirkan simbol institusi. Menurutnya, Pangurip Tri Angga merupakan tonggak penting dalam peneguhan identitas kebudayaan Bali sebagai pulau yang ajeg dan berbudaya.
“Tri Angga ISI BALI adalah bagian dari upaya menjaga Bali sebagai pulau yang ajeg, bebudaya, dan berkepribadian. Ini bukan hanya milik institusi, tetapi juga menjadi representasi nilai-nilai kebudayaan Bali,” ujarnya.
Prof. Arya juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada ISI BALI atas pelaksanaan Pangurip Tri Angga. Ia berharap Lambang, Himne, dan Mars ISI BALI senantiasa menjadi sumber inspirasi, penguat jati diri, serta pendukung identitas kebudayaan Bali di tingkat nasional maupun global.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, ISI BALI juga menetapkan Resolusi 2026 sebagai Tahun Gerakan Koleksi Seni-Desain, sekaligus menganugerahkan Penghargaan Sewaka Nata Kerthi Nugraha 2025 kepada tiga seniman maestro, yakni Dra. I G.A. Susilawati (Seniman Tari Bali), I Made Sukanta Wahyu (Seniman Patung), dan I Nyoman Subrata (Seniman Drama Gong), atas dedikasi dan pengabdian mereka dalam memuliakan seni dan budaya. (ISIBALI/Humas)
Foto : Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana dan Ketua Senat ISI BALI Prof. Dr. Ketut Muka bersama empat Guru Besar Anyar ISI BALI dalam Sidang Senat Terbuka Inagurasi dan Sapa Publik Guru Besar bertajuk “Karma-Citta-Waskita”, Selasa (30/12) di kampus setempat.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menutup penghujung tahun 2025 dengan capaian strategis melalui pengukuhan empat Guru Besar anyar dalam Sidang Senat Terbuka Inagurasi dan Sapa Publik Guru Besar bertajuk “Karma-Citta-Waskita”, Selasa (30/12). Momentum ini menjadi penanda kuat konsistensi ISI BALI dalam memperkuat mutu akademik dan daya saing global di bidang seni dan desain.
Empat Guru Besar yang dikukuhkan yakni Prof. Dr. Drs. Anak Agung Gede Rai Remawa, M.Sn. (Desain Interior dan Arsitektur), Prof. Dr. I Ketut Suteja, SST., M.Sn. (Penciptaan Seni), Prof. Dr. I Wayan Setem, S.Sn., M.Sn. (Penciptaan Seni Rupa), serta Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn. (Penciptaan Seni Rupa Kriya). Keempatnya merupakan generasi pertama Guru Besar jalur Penciptaan Seni di ISI BALI.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, menyampaikan bahwa pengukuhan ini melengkapi rangkaian capaian penting ISI BALI sepanjang 2025, setelah transformasi kelembagaan dari ISI Denpasar menjadi ISI BALI serta diraihnya akreditasi Unggul institusi dan sejumlah program studi. Menurutnya, pengukuhan Guru Besar di akhir tahun menjadi refleksi keberhasilan pengelolaan mutu akademik yang berkelanjutan.
“Penghujung tahun 2025 menjadi momentum penuh makna bagi ISI BALI. Pengukuhan empat Guru Besar ini menegaskan kematangan institusi sekaligus kesiapan kami berkompetisi di tingkat global,” ujar Rektor.
Dengan tambahan empat Profesor tersebut, ISI BALI pada 2025 telah memenuhi rasio 10 persen Guru Besar, yakni 23 profesor dari 231 dosen tetap, tertinggi di antara seluruh perguruan tinggi seni di Indonesia. Capaian ini turut berdampak pada meningkatnya kepercayaan publik dan minat calon mahasiswa, khususnya pada jenjang pascasarjana dan doktoral.
Selain penguatan sumber daya akademik, sepanjang 2025 ISI BALI juga meraih Anugerah Diktisaintek 2025 dengan capaian Gold Winner Kerja Sama Industri, Silver Winner Unit Layanan Terpadu, serta Bronze Winner Kerja Sama Internasional. Di tingkat global, ISI BALI menginisiasi Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) II yang melahirkan deklarasi pembentukan The Asia Pacific’s Axis of Arts and Design Higher Education Network.
Acara inagurasi di penghujung tahun ini dihadiri Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun, SH., Anggota Dewan Pertimbangan ISI BALI, Ketua dan Anggota Senat ISI BALI, jajaran pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, Ketua dan pengurus Dharma Wanita Persatuan ISI BALI, seniman, budayawan, tokoh masyarakat, serta keluarga para Guru Besar. Kegiatan juga disiarkan secara langsung melalui kanal media sosial ISI BALI.
Dalam acara tersebut, Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun, SH., yang hadir mewakili Bupati Gianyar, menyampaikan sambutan dan apresiasi atas capaian ISI Bali. Ia menyatakan kebanggaannya karena keempat Guru Besar anyar memiliki talian kuat dengan Kabupaten Gianyar. Dua di antaranya, Prof. Anak Agung Gede Rai Remawa dan Prof. I Wayan Suardana, merupakan putra asli Gianyar. Sementara Prof. I Ketut Suteja memperistri gadis Gianyar, dan Prof. I Wayan Setem memilih berdomisili di Gianyar.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Gianyar, kami merasa bangga karena para Guru Besar yang hari ini dikukuhkan memiliki ikatan kultural dan emosional dengan Gianyar. Ini menjadi kebanggaan daerah sekaligus inspirasi bagi generasi muda Gianyar,” ujar Wakil Bupati membacakan sambutan Bupati Gianyar.
Lebih lanjut, dalam sambutan tersebut Pemerintah Kabupaten Gianyar berharap para Guru Besar dapat terus berkontribusi melalui pemikiran, riset, dan karya seni yang berdampak bagi pelestarian budaya, penguatan identitas lokal, serta pembangunan berbasis kebudayaan. Sinergi antara ISI Bali dan pemerintah daerah diharapkan semakin erat dalam memajukan seni, budaya, dan ekonomi kreatif Bali,
Dalam Sidang Senat Terbuka tersebut, masing-masing Guru Besar menyampaikan orasi ilmiah yang mencerminkan kepakaran dan kontribusi keilmuannya. Prof. Rai Remawa membahas orientasi estetik interior dan arsitektur tradisional Bali di Polandia, Prof. Suteja mengangkat konsep Tattwa Jnana dalam penciptaan seni pertunjukan, Prof. Setem memaparkan seni ekologis sebagai media kampanye lingkungan berkelanjutan, sementara Prof. Suardana memperkenalkan metode inovatif penciptaan seni kriya berbasis Tri Prakara Sapta Krama. (ISIBALI/Humas)