Denpasar, 4 November 2025 — Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, menyelenggarakan Workshop Cetak Tinggi bertema “PRAMANA-BHUWANA-KALYANA: Pengetahuan Dunia, Kemuliaan Semesta.”
Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 4 November 2025, pukul 09.00 – 14.00 WITA, di Ruang Cetak, Lab Terpadu ISI Bali, dan diikuti oleh mahasiswa semester 3 Program Studi DKV ISI Bali.
Workshop ini dibuka secara resmi oleh Dekan FSRD ISI Bali, Bapak Drs. I Nengah Sudika Negara, M.Erg, serta dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FSRD, Dr. Ni Luh Desi In Diana Sari, S.Sn., M.Sn, narasumber workshop, Bapak Reno Megy Setiawan, dan Koordinator Program Studi DKV ISI Bali sekaligus Ketua Pelaksana acara, Bapak Bayu Segara Putra, S.Ds., M.Sn.
Kegiatan ini merupakan bagian penting dari proses pembelajaran di Program Studi Desain Komunikasi Visual, khususnya dalam memperdalam pemahaman mahasiswa terhadap bidang reproduksi grafika. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diperkenalkan pada teknik cetak tinggi, penggunaan alat dan bahan, serta proses pembuatan karya dengan teknik cukil dan alat cetak manual.
Dalam sambutannya, Koordinator Program Studi DKV ISI Bali, Bapak Bayu Segara Putra, S.Ds., M.Sn., menyampaikan bahwa kegiatan ini dimaknai sebagai bentuk penerapan pembelajaran berbasis praktik yang menekankan hubungan antara pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Dijelaskan bahwa tema “Pramana Bhuwana Kalyana” memiliki makna pengetahuan untuk kesejahteraan dan kebaikan semesta. Melalui tema tersebut, proses belajar dan berkarya diharapkan dapat dijalankan sebagai wujud dharma — upaya membangun kesadaran dan kebajikan melalui karya visual.
Disampaikan pula bahwa teknik cetak tinggi mengajarkan kesabaran, ketelitian, dan kepekaan terhadap bentuk serta tekstur. Nilai-nilai tersebut dianggap relevan dengan semangat Pramana Bhuwana Kalyana, yaitu bahwa pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk memberi manfaat lebih luas bagi dunia seni dan masyarakat.
Melalui workshop ini, diharapkan wawasan dan keterampilan mahasiswa dapat semakin berkembang, serta mendorong lahirnya karya-karya desain yang mengangkat nilai budaya dan filosofi lokal dengan makna universal.
Foto: Pimpinan dan dosen dari perguruan tinggi seni dan desain di Kawasan Asia Pasifik dalam B-GAAD Leaders’ Summit, Selasa (28/10) di Ruang Sabha Citta Mahottama Gedung Design Hub ISI BALI.
Sebagai rangkaian Event Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) II Tahun 2025, Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menyelenggarakan B-GAAD Leaders’ Summit, Selasa (28/10) di Ruang Sabha Citta Mahottama Gedung Design Hub ISI BALI. Pertemuan strategis ini dipimpin langsung oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana, dan diikuti oleh para pimpinan serta anggota fakultas dari berbagai perguruan tinggi seni dan desain terkemuka di kawasan Asia Pasifik.
Forum ini dihadiri oleh sejumlah pimpinan perguruan tinggi seni dan desain, antara lain Prof. Dr. Wayan Adnyana selaku Rektor ISI BALI, Asst. Prof. Dr. Sanor Klinngam, Dr. Kitsada Tungchawal, dan Asst. Prof. Rapipan Thiamdaet dari Phetchaburi Rajabhat University, Thailand; Prof. Kate Hislop dari University of Western Australia, Australia; Asst. Prof. Catherine Parrott, MFA dari The University of Iowa, Amerika Serikat; Prof. Dr. K. Azril Ismail dan Assoc. Prof. Suzlee Ibrahim dari Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan (ASWARA), Malaysia; serta Prof. Jaygo Bloom, MFA dari Lasalle College of the Arts, Singapura. Dari pihak ISI BALI, turut hadir Dr. Ni Made Arshiniwati, SST., M.Si. (Ketua Senat), Prof. Dr. Anak Agung Gde Bagus Udayana, S.Sn., M.Si. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi), Dr. I Made Jodog, MFA. (Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum), Prof. Dr. I Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama), serta Nyoman Dewi Pebriyani, ST., MA, Ph.D. (Direktur Pascasarjana). Dengan suasana hangat, forum ini menjadi ruang dialog strategis yang mempertemukan para pemimpin pendidikan tinggi seni dan desain dari berbagai negara. Para peserta berbagi pandangan dan paradigma dalam pengelolaan pendidikan tinggi seni dan desain yang berkomitmen pada kemakmuran masyarakat, pelestarian budaya lokal, serta keseimbangan ekologis. Pertemuan tersebut juga menjadi ajang memperkuat solidaritas dan jejaring kerja sama antarperguruan tinggi seni dan desain di kawasan Asia Pasifik.
Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana (kanan) bersama Penasihat Presiden Phetchaburi Rajabhat University-Thailand, Asst. Prof. Dr. Sanor Klinngam pada penandatanganan Deklarasi B-GAAD, Selasa (28/10) di Ruang Sabha Citta Mahottama Gedung Design Hub ISI BALI.
Puncak dari forum ini ditandai dengan lahirnya The B-GAAD Declaration: Caksu-Bhuwana-Citta (Noble Vision for Shining Futures), sebuah deklarasi yang menegaskan visi bersama perguruan tinggi seni dan desain di Asia Pasifik untuk menumbuhkan semangat solidaritas, tanggung jawab kolektif, dan kerja sama lintas budaya dalam membangun masa depan seni dan desain yang berkelanjutan. Melalui deklarasi ini, para pemimpin sepakat membentuk Asia Pacific’s Axis of Arts and Design Higher Education Network, sebagai wadah untuk menumbuhkan semangat persaudaraan dan kolaborasi lintas bangsa melalui pertukaran pengetahuan dan mobilitas akademik.
Deklarasi tersebut memuat lima misi utama yang disebut Panca Mahadharma, yaitu: (1) Memperkuat kemitraan untuk memajukan dan menjaga keunggulan akademik; (2) Berkomitmen pada kesejahteraan masyarakat dan komunitas; (3) berkolaborasi dalam pelestarian budaya dan warisan local; (4) Bberpartisipasi aktif dalam menjaga keseimbangan ekologi; serta (5) Mendorong kreativitas dan inovasi teknologi dalam bidang seni dan desain. Lima misi ini menjadi pedoman bersama dalam mengarahkan kolaborasi lintas lembaga untuk mencapai visi pendidikan seni dan desain yang unggul, berakar pada nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan keberlanjutan.
Deklarasi tersebut ditandatangani oleh seluruh peserta yang hadir, meliputi pimpinan ISI BALI serta para perwakilan perguruan tinggi dari Thailand, Australia, Korea Selatan, Amerika Serikat, Malaysia, dan Singapura. Penandatanganan deklarasi ini menjadi simbol komitmen bersama untuk menjadikan B-GAAD sebagai forum dialog, kemitraan, dan kolaborasi berkelanjutan antarperguruan tinggi seni dan desain di kawasan Asia Pasifik dalam mewujudkan The Panca Mahadharma Mission.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana, menyampaikan bahwa B-GAAD Leaders’ Summit meupakan langkah konkret untuk memperkuat posisi ISI BALI dan Indonesia sebagai poros global pendidikan tinggi seni dan desain. “Melalui Deklarasi B-GAAD ini, kita bersama-sama menyalakan cahaya bagi masa depan seni dan desain yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan keberlanjutan,” ujarnya. (ISIBALI/Humas)
Teguhkan Komitmen Melalui Deklarasi Panca Mahadharma B-GAAD
Foto: Rangkaian B-GAAD II Tahun 2025 mempergelarkan Tari Cancala-Bhuwana-Candika, Trunajaya, dan Jeriring Janger di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI, Jumat (31/10).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) kembali menyelenggarakan poros pendidikan tinggi seni dan desain di kawasan Asia-Pasifik melalui perhelatan Bali–Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) II 2025, yang resmi dibuka pada Selasa (28/10) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI. Tahun ini, B-GAAD mengusung tema Tutur–Bhuwana–Tuwuh (Mitos–Dunia–Memori), yang menegaskan pentingnya mitos sebagai pengetahuan hidup yang membentuk kebijaksanaan dan identitas peradaban manusia.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. I Wayan Adnyana, menyampaikan bahwa B-GAAD merupakan inisiatif ISI BALI untuk membangun ruang aktualisasi strategis berskala internasional yang mempertemukan lembaga-lembaga pendidikan tinggi seni dan desain di kawasan Asia-Pasifik. “B-GAAD bukan sekadar forum pertemuan, melainkan wadah pencairan gagasan, konsep, dan visi yang memperkuat solidaritas Asia-Pasifik menuju inovasi baru,” ujarnya.
Tahun ini, B-GAAD II diikuti oleh sebelas universitas dari kawasan Asia-Pasifik, tiga institusi seni, dan satu lembaga pemerintah luar negeri, di antaranya: Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan (ASWARA) Malaysia; Kazakh National Academy of Choreography; Lasalle College of the Arts dan Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA) Singapura; Phetchaburi Rajabhat University Thailand; University of Western Australia (UWA); Kyoto Saga University of Arts dan Okinawa Prefectural University of Arts Jepang; University of Iowa Amerika Serikat; Jatiya Kabi Kazi Nazrul Islam (JKKNI) University Bangladesh; serta Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) Republik Korea. Dukungan juga datang dari Agung Rai Museum of Art (ARMA), Komaneka Art Gallery, Misato City Jepang, dan Wiswakarma Museum Gianyar.
Dalam pidato pembukaannya, Rektor ISI BALI menegaskan bahwa mitologi—sebagaimana dikemukakan oleh Edith Hamilton dalam Mythology: Timeless Tales of Gods and Heroes (1969)—adalah cermin cara manusia berpikir dan merasakan sejak masa purba. Melalui mitologi, manusia menelusuri kembali hubungan yang mendalam dengan alam—dengan bumi, laut, pepohonan, bunga, dan bukit—sebuah hubungan yang kian pudar di era modern ini.
Foto: Pembacaan Deklarasi B-GAAD oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana disaksikan oleh seluruh pimpinan perguruan tinggi seni dan desain di Asia-Pasifik, Selasa (28/10) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Sebagai wujud komitmen memperkuat jejaring kerja sama dan keberlanjutan keunggulan akademik, B-GAAD II melahirkan Deklarasi Panca Mahadharma B-GAAD bertajuk Caksu–Bhuwana–Citta (Noble Vision for Shining Futures), yang ditandatangani oleh para pimpinan dan dosen perguruan tinggi seni dan desain di Asia-Pasifik. Deklarasi ini menegaskan lima misi utama: (1) Memperkuat kemitraan untuk kemajuan dan keberlanjutan keunggulan akademik; (2) Berkomitmen terhadap kesejahteraan masyarakat dan komunitas; (3) Berkolaborasi untuk melestarikan budaya dan warisan local; (4) Berpartisipasi aktif dalam menjaga keseimbangan ekologis; (5) Menumbuhkan kreativitas dan inovasi teknologi dalam seni dan desain.
Deklarasi tersebut ditandatangani oleh para pemimpin dan akademisi terkemuka, yaitu:
Prof. Dr. I Wayan Adnyana (Rektor ISI BALI, Indonesia), Asst. Prof. Dr. Sanor Klinngam, Dr. Kitsada Tungchawal, dan Asst. Prof. Rapipan Thiamdaet (Phetchaburi Rajabhat University, Thailand); Prof. Kate Hislop (Dean, School of Design, University of Western Australia, Australia); Prof. Dr. Koh Young Hun (Hankuk University of Foreign Studies, Republik Korea); Asst. Prof. Catherine Parrott, MFA (University of Iowa, Amerika Serikat); Prof. Dr. K. Azril Ismail dan Assoc. Prof. Suzlee Ibrahim (Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan/ASWARA, Malaysia); Prof. Jaygo Bloom, MFA (Lasalle College of the Arts, Singapura); serta dari ISI BALI, Dr. Ni Made Arshiniwati (Ketua Senat), Prof. Dr. Anak Agung Gde Bagus Udayana (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi), Dr. I Made Jodog (Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum), Prof. Dr. I Komang Sudirga (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama), serta Nyoman Dewi Pebriyani, Ph.D (Direktur Pascasarjana ISI BALI).
Foto: Pembukaan B-GAAD II Tahun 2025, Selasa (28/10) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Serangkaian kegiatan B-GAAD II berlangsung dari 27 hingga 31 Oktober 2025 di berbagai venue di dalam dan luar kampus ISI BALI, meliputi Bali–Global Arts and Design Symposium (B-GADS), Bali–Global Performing Arts Map (B-GPAM), Bali–Global Art Map Exhibition (B-GAME), Bali–Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME), Bali–Global Encounter Figure (B-GEF), Bali–Global Authentic Trip (B-GAT), B-GAAD Leaders’ Summit, Bali–Global Expo and Job Fair (B-GEJF)
Kegiatan pembuka diwarnai World Cultural Carnival, yang menafsirkan tema Myths–World–Memories melalui parade artistik melibatkan seluruh program studi sarjana, sarjana terapan, dan pascasarjana ISI BALI. Selain itu, hadir pula peluncuran buku dan karya seni bertajuk Bali–Global Encounter Figure (B-GEF) #1: Unveiling Borrowed Light, hasil kolaborasi Prof. K. Azril Ismail dan Azrul K. Abdullah dari ASWARA Malaysia bersama ARMA Museum. Masih dalam rangkaian B-GAAD II, Workshop Woodcut oleh Prof. Paul Trinidad dari University of Western Australia juga diselenggarakan untuk mahasiswa ISI BALI, memperkaya pertukaran pengetahuan lintas budaya dan teknik artistik. (ISIBALI/Humas)
Foto: Pembukaan Pameran Internasional B-GAME, Senin (27/10) di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) resmi membuka Pameran Seni Rupa Internasional Bali–Global Art Map Exhibition (B-GAME) pada Senin (27/10) di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud. Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian Bali–Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) II 2025, yang menghadirkan karya 66 seniman dari Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Malaysia, Jepang, Australia, dan Bangladesh.
Mengusung tema Tutur–Bhuwana–Tuwuh (Myths–World–Memories), pameran yang dikuratori Arif B. Prasetyo, Warih Wisatsana (Bali), dan Jeon Dongsu (Korea) ini menjadi ruang dialog kreatif yang mempertemukan pengalaman otentik, daya tahan, serta inovasi para seniman dalam menafsirkan mitos sebagai sumber pengetahuan dan kebijaksanaan bangsa-bangsa di kawasan Asia-Pasifik.
Foto: Pameran Internasional B-GAME, Senin (27/10) di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menjelaskan mitos dipahami bukan sekadar cerita masa lampau, tetapi juga sebagai cahaya yang menuntun hubungan manusia dengan alam. “Sebagaimana dikemukakan oleh Edith Hamilton dalam Mythology: Timeless Tales of Gods and Heroes (1969), mitos adalah cara manusia purba berpikir dan merasakan dunia—menghubungkan manusia dengan bumi, laut, pepohonan, dan gunung dengan kedekatan yang kini jarang dirasakan,” ujar Guru Besar Bidang Sejarah Seni ini.
Prof. Kun Adnyana menambahkan, tantangan seniman masa kini, sebagaimana ditegaskan dalam teori Alison George (The Brain, 2018), adalah bagaimana karya seni dapat menguatkan memori kolektif—bahwa dalam hitungan detik, seni mampu menarik perhatian dan menanamkan kesan mendalam. Melalui karya-karya yang dipamerkan, B-GAME 2025 berupaya memperkuat ingatan kolektif kita tentang komitmen bersama terhadap kemanusiaan, pelestarian budaya lokal, dan keseimbangan ekologis.
Dalam sambutannya, A.A. Gde Rai, pendiri ARMA, menyambut baik penyelenggaraan B-GAME yang kedua kalinya di ARMA. Ia mengungkapkan kebanggaannya bahwa ARMA kembali dipercaya menjadi tuan rumah bagi pertemuan seniman internasional, setelah sukses menyelenggarakan edisi pertama tahun lalu. Menurutnya, pameran ini tidak hanya memperkuat posisi Bali sebagai pusat seni rupa dunia, tetapi juga mempertegas peran seni sebagai jembatan lintas budaya dan lintas bangsa.
Foto: Pameran Internasional B-GAME, Senin (27/10) di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud.
Pameran B-GAME 2025 digelar di dua lokasi utama, yakni Agung Rai Museum of Art (ARMA) dan Komaneka Art Gallery, keduanya berlokasi di Ubud. Dua ruang ini menjadi peta baru relasi antara seni dan mitos, serta menegaskan peran keduanya dalam memperkaya ingatan dan nalar generasi masa kini.
Hadir dalam pembukaan tersebut Koman Wahyu Suteja, delegasi luar negeri B-GAAD II, jajaran pimpinan dan dosen ISI BALI, seniman, budayawan, serta mahasiswa.
Dalam kesempatan itu, Rektor ISI BALI menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para kurator, seniman, desainer, maestro, profesor tamu, media, mitra, serta seluruh panitia yang telah bekerja dengan penuh semangat, cinta, dan dedikasi. Pameran ini diharapkan menjadi simbol solidaritas dan penguatan platform Asia-Pacific Axis of Arts and Design Higher Education, serta memperkuat posisi Bali sebagai poros global seni dan kebudayaan kontemporer.(ISIBALI/Humas)
Foto: Pembukaan Pameran Desain Internasional B-GIDME di N-CAS ISI BALI, Senin (27/10)
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) kembali menghadirkan pameran internasional bertajuk Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2025, sebagai bagian dari rangkaian Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) II 2025. Pameran yang berlangsung di Nata Citta Art Space (N-CAS), ISI BALI, resmi dibuka pada Senin (27/10) olehRektor ISI Bali, Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana.
Mengusung tema besar “Tutur Bhuwana Tuwuh (Myths–World–Memories)”, Pameran yang dikuratori Tjok Istri Ratna CS dan Pande Made Artadi- Bali, serta Prof. Loyce Arthur-USA, menjadi ruang dialog dialektis yang mempertemukan pengalaman autentik dan pergulatan perspektif mengenai ketahanan serta inovasi dalam menafsirkan mitos secara bebas. Mitos dihadirkan sebagai warisan kebijaksanaan luhur bangsa-bangsa Asia-Pasifik, yang sejak zaman kuno telah menjadi jembatan antara manusia dan alam.
B-GIDME 2025 menampilkan karya 108 desainer terkemuka dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Jepang, dan India, yang secara khusus terpilih karena kemampuannya menafsirkan tema Myths–World–Memories melalui perspektif inovatif. Melalui karya-karya ini, diharapkan terbentuk memori kolektif yang memperkuat komitmen bersama untuk kemakmuran manusia, pelestarian budaya lokal, serta keseimbangan ekologi.
Tahun ini, ISI BALI memberikan perhatian khusus terhadap penyelenggaraan B-GIDME dengan melakukan renovasi besar pada ruang pamer Nata-Citta Art Space (N-CAS). Langkah ini menjadi wujud visi ISI Bali untuk menjadikan B-GIDME sebagai pameran unggulan yang mencerminkan inovasi desain terkini.
Selain itu, apresiasi tinggi disampaikan kepada para kurator, desainer, maestro, dosen tamu, mitra media, dan seluruh panitia yang dengan dedikasi, cinta, dan semangatnya menyukseskan penyelenggaraan B-GIDME 2025. Melalui pertemuan ini, ISI Bali berharap dapat memperkuat solidaritas serta memperdalam platform kerja sama pendidikan tinggi seni dan desain di kawasan Asia-Pasifik.
Pameran B-GIDME 2025 berlangsung mulai 26 Oktober hingga 26 November 2025diN-CAS ISI BALI. (ISIBALI/Humas)
Denpasar, 10 Oktober 2025 — Dharma Wanita Persatuan (DWP) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menyelenggarakan Seminar dan Workshop bertajuk “Pengolahan Sampah Organik menjadi Eco Enzym” pada Jumat, 10 Oktober 2025, bertempat di Gedung Desain Hub ISI Bali. Kegiatan ini menghadirkan Ni Wayan Yuli Ekayani, seorang Volunteer Eco Enzym, sebagai narasumber utama.
Acara diikuti oleh 125 peserta yang terdiri dari unsur anggota DWP, dosen, mahasiswa, serta tenaga kependidikan ISI Bali. Melalui kegiatan ini, DWP ISI Denpasar berupaya meningkatkan kesadaran sivitas akademika terhadap pengelolaan sampah organik yang ramah lingkungan sekaligus memberikan keterampilan praktis dalam mengolah limbah rumah tangga menjadi produk bermanfaat.
Dalam sambutannya, Ketua DWP ISI Denpasar menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen DWP untuk mendukung program kampus hijau dan berkelanjutan. “Kami ingin menanamkan kesadaran bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan. Melalui pelatihan pembuatan Eco Enzym, kami berharap muncul perubahan nyata dalam perilaku pengelolaan sampah di lingkungan kampus maupun rumah tangga,” ujarnya.
Narasumber Ni Wayan Yuli Ekayani dalam paparannya menjelaskan bahwa Eco Enzym merupakan cairan alami hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayur dengan gula merah dan air. Cairan ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, antara lain sebagai pembersih alami, pupuk cair, dan pengurai limbah.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi praktik langsung, yang dilaksanakan di Teba Modern yang dikelola oleh ISI Bali sebagai tempat pengelolaan sampah organik. Dalam kegiatan ini, peserta diajak membuat Eco Enzym menggunakan bahan-bahan sederhana dari sisa dapur. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan serta partisipasi aktif selama sesi seminar dan workshop berlangsung. Melalui kegiatan ini, diharapkan DWP ISI Denpasar dapat menjadi pelopor dalam gerakan pengelolaan sampah organik di lingkungan kampus serta menginspirasi masyarakat luas untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan