M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Presiden Apresiasi Oratorium Anggada Duta

Presiden Apresiasi Oratorium Anggada Duta

Denpasar- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tetap fokus menyaksikan pagelaran tari Anggada Duta persembahan ISI Denpasar dalam acara pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-32 di Panggung Terbuka Ardha Chandra Art Centre Denpasar Bali (12/6). Presiden tidak beranjak dari tempat duduk meski hujan turun rintik-rintik dan ia tak menggunakan payung. Begitu juga dengan sejumlah menteri yang mendampinginya. Turut hadir mendampingi Presiden antara lain Mendiknas M Nuh, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Mohammad, Menko Kesra Agung Laksono, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menpora Andi Mallarangeng Mendagri Gamawan Fauzi, Menbudpar Jero Wacik dan juga dihadiri sejumlah duta besar negara sahabat, diantaranya adalah duta besa AS Cameron Hume. Setelah pagelaran selesai, Presiden bersama Ibu Negara Ani Yudhoyono dan para menteri menyempatkan diri berfoto dengan para pendukung oratorium. Pada kesempatan tersebut Menbudpar memperkenalkan langsung Rektor ISI Denpasar kepada Presiden. Malam hari itu Presiden dan Ibu Ani Yudhoyono yang secara khusus mengenakan pakaian tradisional Bali, tidak bisa menyembunyikan rasa bangga atas pertunjukan luarbiasa yang dipersembahkan ISI Denpasar, hingga tak hanya para penari yang disalami dan disapa tapi juga para penabuh, gerong, dalang hingga para peñata yang ada dibelakang panggung.

Atas apresiasi tersebut keesokan harinya, Mendiknas Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, DEA meluangkan waktu untuk berkunjung ke Kampus Institut Seni Indonesia Denpasar (13/6). Kedatangan Mendiknas ini merupakan kunjungan tidak resmi dan atas undangan khusus rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Wayan Rai S., MA. Di ISI Denpasar Mendiknas meninjau Pameran Seni Rupa Pesta Kesenian Bali XXXII yang dilakukan di Gedung Pameran Tetap Kriyahasta ISI Denpasar. Mendiknas juga mengunjungi dan meninjau stage terbuka Nirtya Mandala dan Gedung Lata Mahosadhi (PUSDOK). Di Gedung pusdok mendiknas meninjau Museum gamelan dan antusias melihat gamelan-gamelan langka koleksi ISI Denpasar.

Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Wayan Rai S., MA menyatakan ini merupakan kedatangan pertama Mendiknas setelah beliau dilantik menjadi Menteri Pendidikan Nasional pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II dan ini merupakan suatu kehormatan bagi Institusi, untuk menerima kedatanagan Mendiknas langsung dan berkenan meninjau pembangunan infrastruktur di ISI Denpasar. Prof. Rai menambahkan dengan kunjungan ini, kerja keras seluruh komponen ISI Denpasar dapat terobati.

“Kita patut bersyukur dan berterima kasih atas kerja keras Gubernur Bali, Wakil Gubernur Bali beserta jajarannya, penata, pendukung, seniman, budayawan, civitas ISI Denpasar, serta seluruh  pendukung acara yang telah memotivasi menyukseskan garapan tersebut,” ungkap Prof. Rai disela-sela kesibukannya.

Di sela-sela kunjungannya, Menteri yang murah senyum ini sesekali bersenda gurau dengan jajaran struktural ISI Denpasar. Mendiknas terlihat kagum dan tertarik melihat karya-karya mahasiswa ISI Denpasar dan berpesan agar terus meningkatkan diri untuk terus berkarya dan meningkatkan kualitas karya seni-akademisnya demi kemajuan dunia seni dan desain Indonesia ke depannya. Apalagi di era teknologi informasi yang berkembang pesat ini diharapkan institusi pendidikan seni merupakan benteng untuk melindungi warisan bangsa khususny di bidang seni agar tidak hilang bahkan bisa berkembang dan menjadi pondasi bagi perkembangan industri kreatif di Indonesia.

Humas ISI Denpasar

Wujud Visual Estetika Tradisional Karya Lukis I Ketut Budiana

Wujud Visual Estetika Tradisional Karya Lukis I Ketut Budiana

Oleh: Drs. I Gusti Ngurah Putra (Dosen PS Seni Rupa Murni)

Telah disebutkan di atas bahwa indah itu tidak selalu seni, dan seni itu tidak selalu indah (Soedarso, 1971:3). Namun estetika atau keindahan erat sekali kaitannya dengan seni atau art. Karya seni yang diciptakan secara sadar oleh penciptanya memenuhi tuntutan spiritual ditujukan untuk kepentingan batiniah, sebagai sarana persembahan kehadirat Tuhan yang diyakini bersemayam dalam diri senimannya. Oleh sebab itu, nilai keindahan atau estetika merupakan faktor penting dalam karya seni.

I Ketut Budiana sebagai seniman lukis yang dibesarkan dalam lingkungan masyarakat penganut Agama Hindu, tentunya sangat terpengaruh oleh pengalaman kesehariannya. Masyarakat pemeluk Agama Hindu meyakini bahwa apa yang dimiliki dan yang ada di muka bumi ini adalah anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa. Termasuk diantaranya adalah kemampuan skil, kemampuan menciptakan karya seni, adalah atas anugerah Tuhan. Hal ini mengajarkan pada para umat untuk selalu ingat dan sujud bakti pada Tuhan. Sujud bakti kehadirat Tuhan diimplementasikan dalam hidup keseharian, melalui persembahan apa yang telah dianugerahkan Tuhan pada para umat. Bagi masyarakat yang memiliki kemampuan sebagai berkah dalam bidang seni, akan mempersembahkan karya seni kehadirat Tuhan. Karya seni sebagai persembahan tentunya adalah yang terbaik. Keyakinan ini melahirkan upaya untuk menciptakan karya seni yang maksimal, dan pada tahapan berikutnya akan mengasah kemampuan para umat atau masyarakat yang bergelut dalam bidang seni untuk selalu menciptakan karya terbaik dan selalu berusaha menciptakan karya yang lebih sempurna. Hal ini didukung pula seperti terungkap dalam buku Estetica Barat dan Timur, yang menyebutkan bahwa manusia itu adalah animal aestheticum yaitu dorongan dan keinginan manusia itu selalu merubah atau memperbaiki dan memperindah semua alat yang telah dimilikinya dan keadaan alam sekelilingnya. Pemahaman keindahan ini dapat dilihat pada kehidupan I Ketut Budiana seperti misalnya pada upaya mendekorasi bangunan suci keluarga, di samping dalam perwujudan karya lukis yang merupakan profesi utama yang digelutinya.

Data yang dapat ditunjukan dalam kaitannya dengan yang penulis sampaikan di atas adalah melalui hasil karya yang berkaitan dengan kepentingan keagamaan dan budaya setempat seperti kemampuannya mewujudkan petulangan untuk kepentingan pengabenan, terciptanya patung penjaga di kuburan monkey forest Padang Tegal Ubud, dan yang lainnya. Hasil karya I Ketut Budiana yang penulis sampaikan tadi berkaitan dengan nilai tradisional dalam kehidupan masyarakat. Nilai tradisional ini juga nampak pada hasil karya lukis yang ditekuninya.

Wujud Visual Estetika Tradisional Karya Lukis I Ketut Budiana Selengkapnya

Banyak PTK-PNF Tak Penuhi Kualifikasi

Banyak PTK-PNF Tak Penuhi Kualifikasi

SEMARANG – Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, masih banyak Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal (PTK-PNF) yang tidak memenuhi kualifikasi minimal strata satu (S1). Mayoritas dari mereka berlatar belakang pendidikan D3, D2, D1, dan SMA/SMK. ’’Dari jumlah pendidik formal dan nonformal di Jawa Tengah, 408.144 orang yang berkualifikasi S1 baru 44% atau 180.099 orang,’’ tutur Kabid Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Aufrida Kriswati seusai Penutupan Jambore PTK dan PNF Tingkat Jateng di Gedung LPMP Srondol, belum lama ini.
Pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal adalah masyarakat yang peduli pada pendidikan. Selama ini selain terbatas dengan kualifikasi, mereka juga terkendala dalam melakukan proses belajar dengan peserta didik.
’’Pelaksanaan proses belajar antara tutor atau pengelola tergantung dari senggangnya warga yang belajar di kelompok itu, sehingga perlu mengelola waktu,’’ ujarnya.
Untuk meningkatkan kualifikasi mereka, lanjut dia, Kemendiknas menjanjikan akan memfasilitasi PTK-PNF dengan memberikan bantuan untuk melanjutkan studi bagi yang belum berstrata satu (S1). Targetnya pada 2015 PTK-PNF harus berkualifikasi S1. Sementara itu, Dinas Pendidikan juga memberikan bantuan studi lanjut sebesar Rp 2 juta per orang per tahun.
Peningkatan Mutu Jambore PTK-PNF se-Jateng ini melombakan 14 macam kompetisi dan diikuti perwakilan 35 kabupaten/kota sebanyak 490 orang. Lomba yang melibatkan pengelola, instruktur, dan tutor ini, di antaranya lomba pembelajaran gerak dan lagu anak usia dini, pembelajaran senam aerobik, pengelolaan blog PTK-PNF, cipta hymne PTK-PNF, pembelajaran bahasa Inggris yang efektif inovatif, dan pembelajaran tata rias pengantin daerah.
Frida menambahkan, Jambore PTK-PNF dapat dijadikan wahana peningkatan mutu, kualitas, dan kompetensi pengelola dan pendidik nonformal di kabupaten/kota se-Jateng. Harapannya, wakil Jawa Tengah pada Jambore PTK dan PNF tingkat nasional Juli mendatang mendapat juara umum. (K3,J14-37).

Sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/06/14/112995/Banyak-PTK-PNF-Tak-Penuhi-Kualifikasi

Nawa Swara Gamelan Sistem Sembilan Nada Dalam Satu Gembyang

Nawa Swara Gamelan Sistem Sembilan Nada Dalam Satu Gembyang

Oleh: Hendra Santosa, Dosen PS Seni Karawitan

Nada dan tangga nada, merupakan salah satu unsur yang paling mendasar dari sebuah musik. Nada dan tangga nada musi dari berbagai suku bangsa di dunia memiliki identitas, karakter, dan keunikan tersendiri. Ilmu pengetahun yang berkembang dewasa ini membedakan tangga nada musik menjadi dua yaitu pentatonis (lima nada) dan diatonis (7 nada). Secara umum, masing-masing tangga nada  yang ada terdiri dari tujuh nada dalam satu oktaf. Jika dilakukan pengamatan secara cermat dan teliti, terdapat fakta dan kemungkinan lain dalam sebuah bentuk tangga nada terdiri dari sembilan nada dalam satu oktaf.

Konsep sembilan nada dalam satu oktaf pernah dirumuskan oleh dua orang musikolog Indonesia yaitu Raden Mahyar Angga Kusumadinata dan R. Hardjo Subroto. Pada gamelan Bali hal tersebut tersirat dalam lontar Prakempa. Konsep musikal yang sesungguhnya menarik ini, belum pernah diteliti dan dilakukan pengkajian yang mendalam. Dalam konteks inilah, Nawa Swara (sistem nada pada gamelan dengan menggunakan sembilan nada dalam satu oktaf);  sebagai suatu bentuk penelitian terapan dilakukan.

Nawa Swara adalah sebuah konsep sistem nada dengan menggunakan sistem 9 nada pada satu oktafnya. Konsep sistem nada ini dirumuskan oleh dua orang etnomusikolog Indonesia yaitu oleh Raden Mahyar Angga Kusumadinata dengan teri lingkaran kempyung,  R. Hardjo Subroto dengan teori skema larasnya, dan tersirat pula pada sebuah manuskrip lontar di Bali bernama Prakempa yang telah diterjemahkan oleh I Made Bandem dengan istilah Pengider Bhuana.

Pengider Bhuana adalah konsep dasar dari berbagai macam tindakan, merupakan unsur pokok dalam pembentukan nada-nada pada gamelan Bali. Disebutkan bahwa laras nada-nada pelog dan slendro dicantumkan dalam sebuah urutan lingkaran dengan delapan arah mata angin di tambah satu untuk bagian pusat (centre). Kalau disusun nada-nada tersebut mulai dari tengah menjadi,  ndong dung, ndung, dang, ndang, ding, nding, deng, ndeng,  ding, nding, dong. Untuk nada ditengah disebut tentang atas dan bawah (dong dan ndong), penulis memperkirakannya sebagai  nada pengulangan.

Nawa Swara Gamelan Sistem Sembilan Nada Dalam Satu Gembyang selengkapnya

Loading...