M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Implementasi OTK Baru, Rektor ISI BALI Lantik 34 Pejabat Struktural

Implementasi OTK Baru, Rektor ISI BALI Lantik 34 Pejabat Struktural

Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, melantik 34 pejabat struktural pada Selasa (19/8) di Ruang Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lt.3 ISI BALI.

Rektor Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI), Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, melantik 34 pejabat struktural pada Selasa (19/8) di Ruang Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lt.3 ISI BALI. Pelantikan ini merupakan tindak lanjut dari terbitnya Permendiktisaintek Nomor 28 Tahun 2025 tentang Organisasi dan Tata Kerja (OTK) Institut Seni Indonesia Bali.

Perubahan ini menandai penyesuaian struktur organisasi setelah nomenklatur resmi ISI Denpasar berubah menjadi ISI Bali. Dengan adanya regulasi baru tersebut, sejumlah jabatan struktural mengalami penyesuaian dan pengisian kembali guna memperkuat tata kelola institusi.

Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana bersama 34 pejabat struktural yang dilantik pada Selasa (19/8) di Ruang Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lt.3 ISI BALI.

Sejumlah jabatan baru juga hadir dalam struktur kelembagaan ISI BALI. Untuk pertama kalinya, ISI BALI memiliki Direktur Pascasarjana yang dijabat oleh Nyoman Dewi Pebryani, ST., MA., Ph.D., serta Wakil Direktur Pascasarjana yang dijabat oleh Dr. Ni Wayan Ardini, S.Sn., M.Si. Selain itu, juga dibentuk Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran dengan Dr. I Wayan Setem, S.Sn., M.Sn. sebagai Ketua dan Dr. I Gede Mawan, S.Sn., M.Si. sebagai Sekretaris.

Dalam sambutannya, Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menekankan bahwa perubahan organisasi ini menjadi momentum untuk meningkatkan tata kelola, memperkuat sinergi kelembagaan, serta mendorong ISI BALI menuju pusat unggulan seni dan kreativitas yang berdaya saing global.

“Perubahan ini harus dimaknai sebagai langkah maju untuk membangun sistem yang lebih adaptif, profesional, dan visioner. Mari kita bersama-sama berkomitmen menjadikan ISI BALI semakin maju,” ujar Prof. Kun Adnyana.

Pelantikan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan, dosen, serta tenaga kependidikan ISI BALI. Dengan struktur organisasi baru ini, ISI BALI berkomitmen untuk memperkuat peran sebagai institusi pendidikan seni yang inovatif dan berdaya saing. (ISIBALI/Humas)

Rektor ISI BALI Buka PKKMB Tahun 2025

Rektor ISI BALI Buka PKKMB Tahun 2025

Foto: Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana bersama jajaran pimpinan dan mahasiswa baru ISI BALI dalam Pembukaan PKKMB Tahun 2025 di Lapangan Upacara Widya Mahardika ISI BALI, Senin (11/8)

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) secara resmi membuka kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun Akademik 2025/2026 pada Senin (11/8). Acara berlangsung di Lapangan Upacara Widya Mahardika ISI BALI.

Kegiatan PKKMB dibuka langsung oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, dan dihadiri oleh seluruh pimpinan struktural di lingkungan ISI Bali. Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan selamat datang kepada para mahasiswa baru yang memulai perjalanan akademik di kampus seni terbesar di Bali ini. Ia menegaskan menegaskan bahwa PKKMB bukan sekadar orientasi kampus, melainkan gerbang awal untuk menumbuhkan rasa memiliki, memahami nilai-nilai luhur seni, serta membentuk karakter akademik yang unggul. Ia juga mengingatkan pentingnya disiplin dan kerja keras sebagai kunci keberhasilan studi di perguruan tinggi.

Sebagai bagian dari agenda pembukaan, Rektor juga memperkenalkan jajaran pimpinan ISI BALI, mulai dari Wakil Rektor, Dekan, hingga Koordinator Program Studi (Koprodi). Perkenalan ini bertujuan agar mahasiswa baru mengenal lebih dekat para pemimpin dan pengelola program studi di kampus, sehingga dapat membangun komunikasi yang baik selama masa studi.

PKKMB ISI BALI 2025 menjadi momentum penting bagi mahasiswa baru untuk memahami nilai-nilai akademik, budaya kampus, serta visi ISI BALI yang berlandaskan kearifan lokal dan berorientasi global. (ISIBALI/Humas)

ISI BALI Terima Kunjungan Kehormatan Wamenlu Jepang

ISI BALI Terima Kunjungan Kehormatan Wamenlu Jepang

Foto: Wamenlu Jepang Akiko Ikuina, Konjen Jepang di Denpasar Miyakawa Katsutoshi, Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan Adnyana, beserta jajaran pimpinan ISI BALI di Ruang Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen ISI BALI, Rabu (23/7).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menerima kunjungan kehormatan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Jepang, Akiko Ikuina, beserta delegasi pada Rabu (23/7), bertempat di Ruang Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen ISI BALI. Kunjungan ini disambut langsung oleh jajaran pimpinan struktural di lingkungan ISI BALI.

Dalam suasana penuh kehangatan, Akiko Ikuina menyampaikan apresiasi mendalam atas sambutan yang diberikan ISI BALI. Ia mengaku terpukau dengan penampilan tari tradisional yang dibawakan oleh mahasiswa ISI BALI. Turut hadir dalam kunjungan ini Konsul Jenderal Jepang di Denpasar, Miyakawa Katsutoshi, yang juga memberikan dukungan atas peningkatan kolaborasi bidang seni dan pendidikan antara kedua negara.

Rektor ISI BALI dalam sambutannya menyampaikan bahwa dalam empat tahun terakhir, ISI BALI telah menjalin hubungan yang semakin erat dengan institusi pendidikan seni dan desain di Jepang. Salah satu wujud nyata kolaborasi ini adalah program internasional Bali Nata Bhuwana. Pada tahun 2024, ISI BALI berpartisipasi dalam Geidai Art Festival di Okinawa, bekerja sama dengan Okinawa Prefectural University of Arts. Dalam kegiatan tersebut, 20 dosen dan mahasiswa ISI BALI turut ambil bagian dalam pertunjukan, lokakarya, dan penandatanganan perjanjian kerja sama.

Rektor juga menambahkan bahwa ISI BALI telah melakukan kunjungan ke Kunitachi College of Music, yang menghasilkan penandatanganan Memorandum of Understanding serta hibah 18 instrumen tiup. “Instrumen ini sangat memperkaya koleksi kami dan meningkatkan pengalaman belajar serta performa orkestra ISI BALI,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kunjungan Wamenlu Jepang ini merupakan momentum strategis untuk memperkuat hubungan antara ISI BALI dan mitra-mitra pendidikan tinggi seni dan desain di Jepang. “Kami optimis kunjungan ini membuka lebih banyak peluang kolaborasi bertaraf internasional yang bereputasi tinggi,” pungkasnya. (ISIBALI/Humas)

Pameran Internasional Seni Rupa dan Desain BALI–BHUWANA RUPA “PRAM–BHUWANA–PATRA” (Earth and Humanity)

Pameran Internasional Seni Rupa dan Desain BALI–BHUWANA RUPA “PRAM–BHUWANA–PATRA” (Earth and Humanity)

Merayakan 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer Lewat Tafsir Visual Lintas Medium

Denpasar, 29 Juli 2025 — Sebuah peristiwa budaya yang melampaui sekadar perayaan estetika tengah berlangsung di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Bertajuk Pram–Bhuwana–Patra: Earth and Humanity, pameran internasional seni rupa dan desain ini menghadirkan 63 perupa dari Indonesia dan mancanegara, dalam rangka memperingati 100 tahun kelahiran sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer (1925–2006).

Diselenggarakan pada 29 Juli hingga 7 Agustus 2025, dan menjadi bagian dari Festival Bali Padma Bhuwana V, pameran ini lahir dari kolaborasi antara ISI Bali, Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), dan Korea-Indonesia Centre (KIC). Lebih dari sekadar mengenang, Pram–Bhuwana–Patra menghadirkan ruang tafsir atas pemikiran dan semangat Pramoedya melalui karya-karya seni yang membentang lintas medium: dari lukisan, fotografi, kriya, busana, keramik, hingga instalasi dan media baru.

“Karya Pram sepatutnya tidak hanya dikenang lewat teks, tetapi harus dibaca ulang melalui bahasa rupa, dalam konteks zaman yang terus bergerak,” ujar Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana, Rektor ISI Bali sekaligus kurator pameran.

Dari Kata ke Rupa: Membaca Kemanusiaan Hari Ini

Mengangkat tema Earth and Humanity (Bumi dan Manusia), pameran ini tidak hanya menampilkan tokoh-tokoh legendaris dari novel Bumi Manusia seperti Nyai Ontosoroh, Annelies, atau Minke. Melainkan, ia mengolah kembali warisan pemikiran Pram sebagai lensa kritis untuk menyoroti isu-isu kontemporer: krisis lingkungan, ketimpangan sosial, patriarki yang tak kunjung padam, serta trauma sejarah yang masih menganga.

Alih medium dari sastra ke seni rupa menjadi proses interpretasi yang kaya: negosiasi antara teks dan konteks, antara narasi historis dan refleksi kekinian. Sosok-sosok perempuan dalam karya Pram, misalnya, dihidupkan kembali bukan sebagai figur pasif, melainkan sebagai simbol agensi, luka, dan kekuatan.

Dalam karya Arka Nyai (Ni Luh Ayu Pradnyani Utami), Sekar Kolonial (Tjokorda Gde Abinanda Sukawati), dan Kala Rau dan Indrayudha (A.A. Anom Mayun Tenaya), karakter Nyai Ontosoroh menjelma dalam desain busana yang merepresentasikan keteguhan, kecerdasan, dan martabat perempuan di tengah ketidakadilan.

Di sisi lain, karya Sisa Tubuh, Sisa Tanah (Aprililia) dan Trinity (Nyoman Sani) menyoroti sisi rapuh sosok Annelies, sebagai metafora generasi yang tercerabut dari akar dan ruang pulang—potret batin manusia yang kehilangan pijakan di tengah zaman yang gaduh.

Kesadaran Ekologi dan Lintas Generasi

Seni tak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia juga menyuarakan kegelisahan hari ini. Lewat medium tiga dimensi, para seniman menyampaikan kritik atas eksploitasi alam dan hilangnya nilai-nilai spiritual. Dalam karya Paradoks Seribu Bunga (Nyoman Suardina), tubuh manusia dihiasi bunga artifisial sebagai metafora keindahan palsu dalam budaya citra. Sementara Menatap Luka Bumi (Ida Ayu Gede Artayani) menggambarkan penderitaan ekologis lewat wajah-wajah yang saling tatap di atas ranting mati.

Dalam fashion art, seniman seperti Dewa Ayu Putu Leliana Sari dan Tiartini Mudarahayu merajut narasi perempuan dalam bentuk kebaya, kain bordir, dan instalasi partisipatif yang menyentuh tema trauma keluarga dan penghapusan identitas.

Fotografi sebagai Arsip dan Memori Kolektif

Bagian paling menggugah dari pameran ini hadir dalam karya-karya fotografi yang melampaui fungsi dokumenter. Mereka menjadi ruang ekspresi atas luka sejarah dan kekerasan sistemik.

Karya The Day After–Without Us oleh fotografer Korea Joo Yong-seong menyoroti nasib perempuan “camptown” pasca-Perang Korea yang menjadi korban industri seks militer. Sementara Rustling Whisper of the Wind oleh Sung Namhun menghadirkan lanskap bekas pembantaian Jeju 4.3 yang ditangkap lewat teknik Polaroid memburam—simbol trauma yang tak terhapus.

“Fotografi tak hanya menyimpan citra, ia juga menyimpan luka. Melalui cahaya dan kontras, para fotografer menyuarakan kembali sejarah yang dibungkam,” ujar Jeon Dongsu, kurator asal Korea yang terlibat dalam pameran ini.

Tidak hanya seniman Indonesia, pameran ini juga menghadirkan perupa internasional seperti Ted van Der Hulst (Belanda), Aimery Joessel (Perancis), dan Paul Trinidad (Australia).

Dalam Colonial Threads, Van Der Hulst menyoroti tubuh albino Indonesia dalam balutan kolonial, mengangkat isu representasi visual dan warisan kuasa. Joessel menampilkan potret humanistik atas Ibu Hindun, petani lokal yang mengolah tanah dengan keteguhan senyap. Adapun Trinidad menelusuri relasi manusia dan alam melalui instalasi lintas budaya yang menyandingkan gurun Australia, tari Toraja, dan filosofi dualitas Bali.

Peristiwa Budaya, Bukan Sekadar Pameran

Pameran ini juga menayangkan video wawancara langka antara Pramoedya dan Prof. Koh Young Hun, Indonesianis asal Korea. Dalam kutipan rekaman tersebut, Pram berkata, “Duniaku bumi manusia dengan persoalannya.” Sebuah pernyataan yang kini menemukan gaung baru melalui seni rupa.

“Digagas oleh Prof. Koh Young Hun, Indonesianis terkemuka, penelaah karya dan sosok Pram, bersama kami  kurator, simposium dan pameran ini membentang sebagai ruang interaksi pemikiran berikut capaian seni visual. Salah satu penanda penting dalam pameran ini adalah petikan video wawancara Prof. Koh dengan Pramoedya, buah pertemuan puluhan tahun, “ ujar Warih Wisatsana, penyair dan salah satu kurator.

Pameran Bali Bhuwana Rupa dan Simposium Internasional ini menghadirkan juga tokoh-tokoh pemikir dan seniman mumpuni dari berbagai negara. Salah satunya adalah Happy Salma yang bertimbang renungan pengalamannya saat memerankan Nyai Ontosoroh pada berbagai panggung di tanah air, termasuk Blora, tanah kelahiran Pram. Sebuah napas panjang yang menghidupkan kembali tokoh perempuan yang melampaui zaman.

Peristiwa ini mempertemukan pemikiran Pram dengan gaung kemanusiaan yang melampaui batas geografis. Han Kang, sastrawan Korea Selatan peraih Nobel Sastra tahun 2024, menggemakan tentang cinta pada sesama manusia serta keyakinan akan masa lalu yang bisa menyelamatkan masa kini. Pandangan ini senapas dengan semangat Pram yang menempatkan manusia sebagai pusat perjuangan sejarah. Kepedulian Han Kang pun sejalan dengan karya-karya para fotografer Korea dalam pameran ini, yang mengabadikan jejak kekerasan dan tragedi kemanusiaan sebagai peringatan dan renungan lintas generasi.

Melalui benang merah pemikiran Pramoedya, Han Kang, dan para seniman lintas disiplin, pameran ini menegaskan bahwa sastra, seni, dan sejarah bukan sekadar artefak masa lalu, melainkan medan keberanian untuk menyuarakan keadilan, dan martabat kemanusiaan.

Sebagai ajang lintas generasi dan lintas disiplin, Pram–Bhuwana–Patra menunjukkan bahwa seni—seperti juga sastra—adalah ruang untuk menyimak jiwa zaman. Ia bisa menyembuhkan, menggugat, dan menyuarakan kembali apa yang nyaris luput dari ingatan kolektif.

“Metu Bhuwana Manu” Buka PKB XLVII dengan Simbol Kelahiran dan Harmoni Semesta

“Metu Bhuwana Manu” Buka PKB XLVII dengan Simbol Kelahiran dan Harmoni Semesta

Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII 2025 resmi dibuka dengan penampilan sendratari kolosal berjudul “Metu Bhuwana Manu”, di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Sabtu (21/6) malam. Sendratari ini menjadi persembahan simbolik kelahiran manusia dalam semesta yang harmonis, sejalan dengan tema besar PKB tahun ini: “Jagat Kerthi: Lokahita Samudaya”.Acara pembukaan dihadiri oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, Gubernur Bali Wayan Koster, serta ribuan penonton yang memadati arena.

Pertunjukan memukau yang diproduksi oleh Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) bekerja sama dengan Sanggar Seni Bungan Dedari. Mengusung kekuatan narasi visual, musikal, dan koreografi, Metu Bhuwana Manu menjadi refleksi artistik tentang perjalanan kelahiran manusia sebagai bagian dari keharmonisan jagat raya. Pergelaran ini dibuka dengan Tari Pendet sebagai penyambutan, lalu dilanjutkan oleh sendratari utama yang menghadirkan puluhan penari, penabuh, dan penggerong dalam satu kesatuan estetik.

Rektor ISI BALI, Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, menyampaikan apresiasinya terhadap seluruh tim kreatif yang terlibat “Metu Bhuwana Manu menjadi wujud kontribusi ISI BALI dalam mengembangkan seni pertunjukan yang berakar pada nilai-nilai adiluhung budaya Bali, namun dikemas dengan pendekatan estetik, konseptual, dan artistik yang kontekstual dengan zaman. Inilah komitmen kami dalam merawat tradisi sekaligus menjawab tantangan masa depan seni dan budaya,” ujarnya.

Pertunjukan ini dipimpin oleh Dr. Gede Mawan sebagai Koordinator, dengan Dr. Gusti Putu Sudarta sebagai Direktur Artistik. Tim komponis melibatkan nama-nama terkemuka: Dr. Ketut Garwa, Dr. Wayan Suharta, Made Dwi Andika Putra, M.Sn., Gde Made Indra Sadguna, Ph.D., Dr. Made Kartawan, M.A., dan Putu Hartini, M.Sn.

Kekuatan gerak tari disusun oleh koreografer senior dan muda: Dr. Made Sidia, A.A. Ayu Mayun Artati, M.Sn., Wayan Sutirtha, M.Sn., Komang Sri Wahyuni, M.Sn., Dr. Kt Suteja, dan Dr. Ketut Sariada. Gerong diciptakan oleh Komang Sekar Marhaeni, M.Si., menambah nuansa vokal khas dalam dinamika dramatik pertunjukan.

Sementara itu, detail visual diperkuat oleh tim penata kostum: Gusti Ayu Ketut Suandewi, M.Si., Nyoman Kasih, M.Sn., Wayan Adi Gunarta, M.Sn., Wayan Fajar Febriani, S.Sn., Suminto, M.Sn., dan Ketut Sutapa, M.Sn., yang menyatukan elemen tradisional dan kontemporer dalam balutan busana panggung. (ISIBALI/Humas)

ISI Bali Tampilkan Gong Guwung Gumi Pada Pembukaan Pesta Kesenian Bali

ISI Bali Tampilkan Gong Guwung Gumi Pada Pembukaan Pesta Kesenian Bali

Memaknai tema Pesta Kesenian Bali tahun 2025 yaitu Jagad Kerthi, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali menggubah barungan anyar bernama Gong Guwung Gumi. Barungan anyar sebagai hasil eksplorasi baru ISI Bali pada pawai PKB tahun ini dapat dikatakan cukup “melompat”. Melompati tradisi musik prosesi Bali yang lazim menggunakan instrumen kendang dan ceng-ceng kopyak. Prof. Dr. I Wayan Adnyana didampingi pula oleh Prof. Dr. I Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum sebagai penanggung jawab produksi pertunjukan menawarkan gagasan untuk mencoba menyusunan barungan baru berpijak pada istrumen gong dan pencon sarwa datu. Pijakan menyusun barungan anyar berbasis instrumen gong dan pencon untuk merayakan pencapaian tetinggi teknik cor logam sembari menafsir tema Jagad Kerthi.

Barungan anyar Gong Guwung Gumi menantang kreativitas baru untuk lepas dari kebiasaan murba kendang dan pengramen dari ceng-ceng kopyak. Kemudian istrumen reyong serta tawa-tawa selain memainkan melodi juga sebagai pemurba, penyaji angsel dan membentuk pola ornament ritmis. Gong dan kempul/kempur yang secara konvensional berfungsi sebagai kolotomik diposisikan sebagai instrumen melodis dengan olahan melodi teknik gebug calung/nyalungin.

            Gong Guwung Gumi sebagai nama dari barungan baru hasil olah kreatif dosen Fakultas Seni Pertunjukan ISI Bali merujuk pada gong sebagai instrumen terbesar golongan gong dan pencon yang dalam konsep kompositorisnya menjadi dasar pengembangan pola-pola dari instrumen lainnya seperti reyong, tawa-tawa, kajar dan kempul/kempur. Kemudian Guwung Gumi bermakna ruang dan wadah dari seluruh instrumen gong dan pencon berbahan sarwa datu untuk merajut ritme, melodi dalam bingkai matra serta tempo. 

            Barungan anyar Gong Guwung Gumi disusun oleh beberapa instrumen gong dan pencon dari barungan gamelan Bali dan Jawa yang sudah ada sebelumnya yaitu 14 pencon terompong Semara Dhana, 14 pencon reyong Baleganjur Saih Pitu, 11 pencon tawa-tawa berlaras Saih Pitu, 4 pencon kajar, 4 pencon kempli, 7 pencon kempur Jawa, 8 pencon gong Bali dan satu gong beri. Barungan Gong Guwung Gumi dimainkan oleh 63 penabuh dari mahasiswa program studi Seni Karawitan dan Pendidikan Seni Pertunjukan. Adapun komposer dari barungan Gong Guwung Gumi adalah Putu Tiodore Adi Bawa, S.Sn., M.Sn, Saptono, S.Sen., M.Si dan I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn yang juga selaku koordinator produksi pertunjukannya. Bertindak sebagai artistik director adalah Dr. I Wayan Budiarsa, S.Sn., M.Si dan koorprodi Seni Karawitan Dr. I Nyoman Kariasa, S.Sn., M.Sn sebagai Pembina teknik karawitan.

Barungan Gong Guwung Gumi turut menyertai energi tarian kosmik Dewa Siwa dalam mencipta tata semesta melalui lambaian estetis penari disertai olah ritme-melodi seluruh instrumen moncol/pencon yang disusun secara berlapis dalam metrum presisi. Prof. Kun menambahkan barungan anyar Gong Guwung Gumi menggelar altar adhi nada, nuwur Siwa Nataraja tedun menata R’ta Bhuwana. Semua kemudian menari, meraya ritmis samasta.  Kemudian penata tari dari Tari Siwa Nataraja yang disertai oleh barungan Gong Guwung Gumi adalah I Gede Oka Suryanegara, S.ST., M.Sn, Ni Kadek Diah Pramanasari, S.Sn., M.Sn dan Ni Nyoman Ayu Kunti Aryani, S.Sn., M.Sn. Jumlah penari yang terlibat sebanyak 27 orang dengan komposisi 1 orang penari putra berperan sebagai Dewa Siwa, 8 orang penari putri sebagai delapan sinar suci Dewa Siwa, 9 orang penari putri sebagai deeng pemendak dan 8 orang penari putra menarikan penjor sebagai sarana mendak Dewa Siwa. Para penari merupakan mahasiswa-mahasiswi program studi Tari dan Pendidikan Seni Pertunjukan.

Loading...