M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Tim Pengusul dari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali Sukses Melaksanakan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN)

Tim Pengusul dari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali Sukses Melaksanakan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN)

Inovasi Seni dari Keheningan:ISI Bali Bangun Kepercayaan Diri Komunitas Difabel Lewat Tari Pependetan Nirmala, Buleleng. Bali

Foto: Latihan bersama masyarakat Kolok di Desa Bengkala, Buleleng, Bali Kamis (30/10)

Tim pengusul dari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali) sukses melaksanakan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) dengan tema “Inovasi Seni dari Keheningan: Membangun Ekspresi dan Kepercayaan Diri Komunitas Difabel melalui Tari Pependetan Nirmala.”Program ini diketuai oleh Ida Ayu Trisnawati, dengan anggota pelaksana I Gusti Putu Sudarta dan Ida Bagus Ketut Trinawindu, serta melibatkan tiga mahasiswa ISI Bali: Made Tarayana Amanda Putra, I Dewa Gede William Sedana Putra, dan Komang Jana Arta Saputra.

Program ini berfokus di Desa Bengkala, Kabupaten Buleleng, yang dikenal sebagai “Desa Kolok”, karena sebagian warganya merupakan penyandang tunarungu. Meskipun desa ini memiliki potensi seni yang kuat, komunitas difabel masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam mengakses ruang ekspresi dan pengembangan diri. Dari kondisi itulah muncul gagasan untuk menghadirkan karya seni yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga bermakna sosial dan spiritual.

Melalui penciptaan Tari Pependetan Nirmala, tim ISI Bali berupaya menghadirkan ruang seni yang inklusif, memberi kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk mengekspresikan diri, meningkatkan kepercayaan diri, sekaligus menjaga nilai budaya dan spiritual masyarakat Bali.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pembangunan sumber daya manusia di bidang seni, pendidikan, kesetaraan gender, dan pemberdayaan penyandang disabilitas.

Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap, dimulai dengan sosialisasi program PISN pada 17 Oktober 2025, diikuti oleh pelatihan tari Pependetan Nirmala pada 30 Oktober 2025.
Pelatihan dilaksanakan bersama mitra Komunitas Kolok Santhi di Banjar Dinas Kajanan, Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng.
Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh semangat, di mana peserta tidak hanya diajarkan gerak dasar dan koreografi, tetapi juga diajak untuk mengolah ekspresi diri, memahami makna spiritual gerak, serta berkolaborasi dalam mencipta. Selain pelatihan, program ini juga melibatkan penciptaan kostum dan properti adaptif, pendampingan intensif, serta dokumentasi proses dan hasil karya.
Tujuan akhirnya adalah melahirkan model seni pertunjukan inklusif yang dapat diterapkan oleh komunitas lain, sekaligus memperkuat hubungan antara seni, budaya, dan pemberdayaan sosial.

Foto: Bersama masyarakat Kolok di Desa Bengkala, Buleleng. Bali.

Hasil dari pelaksanaan program ini sangat positif.
Para anggota Komunitas Kolok Santhi menunjukkan peningkatan keterampilan, rasa percaya diri, dan antusiasme dalam menampilkan karya mereka. Puncaknya adalah terselenggaranya pertunjukan inklusif Tari Pependetan Nirmala yang mendapat apresiasi luas dari masyarakat Desa Bengkala dan para pemerhati seni.

Selain pertunjukan, program ini juga menghasilkan modul dan video pembelajaran tari, serta dokumentasi ilmiah populer sebagai referensi untuk pengembangan seni inklusif di masa mendatang.
Dengan demikian, Tari Pependetan Nirmala tidak hanya menjadi karya seni baru, tetapi juga simbol dari kebersamaan, keberanian, dan keindahan yang tumbuh dari keheningan. Program ini menjadi bukti bahwa seni dapat menjadi jembatan bagi siapa saja untuk mengekspresikan diri, tanpa batas kemampuan fisik atau kondisi sosial.
Melalui kerja sama antara akademisi, seniman, dan komunitas lokal, ISI Bali berhasil menunjukkan bahwa inovasi dalam seni tradisi dapat melahirkan perubahan sosial yang nyata dan berkelanjutan.

Mahasiswa ISI BALI Antusias Ikuti Workshop Cetak Grafis

Mahasiswa ISI BALI Antusias Ikuti Workshop Cetak Grafis

*Hadirkan Dosen University of Western Australia, Prof. Paul Trinidad sebagai Narasumber

Foto: Workshop Cetak Grafis di Gedung Citta Kelangen Lt. 2 ISI BALI, Rabu (29/10).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menyelenggarakan Bali-Global Encounter Figure (B-GEF) #2: Workshop Cetak Grafis di Gedung Citta Kelangen Lt. 2 ISI BALI, Rabu (29/10). Kegiatan ini merupakan rangkaian Event Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) II Tahun 2025.

B-GEF merupakan sebuah ruang dialog tentang interrelasi individual dan kolektif, yang dikemas dalam bentuk kolaborasi kreatif antara maestro, seniman, tokoh budaya, atau kritikus melalui format workshop.

Foto: Workshop Cetak Grafis di Gedung Citta Kelangen Lt. 2 ISI BALI, Rabu (29/10).

Pada pelaksanaan B-GEF #2 ini, hadir Prof. Paul Trinidad dari University of Western Australia sebagai narasumber. Ia memperkenalkan teknik cetak tinggi (relief printing) yang diaplikasikan pada media kain dan kaos, memperagakan secara langsung proses pengolesan tinta hingga tahap pencetakan hasil karya.

Workshop ini diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai program studi, di antaranya Desain Komunikasi Visual, Seni Murni, Kriya, dan Desain Produk ISI BALI. Para peserta tampak antusias mempelajari serta mempraktikkan teknik cetak grafis bersama sang maestro, mendapatkan pengalaman artistik yang memadukan pendekatan tradisional dengan eksplorasi kontemporer. (ISIBALI/HUMAS)

WORKSHOP CETAK TINGGI DKV ISI BALI: “PRAMANA-BHUWANA-KALYANA” — Pengetahuan Dunia, Kemuliaan Semesta

WORKSHOP CETAK TINGGI DKV ISI BALI: “PRAMANA-BHUWANA-KALYANA” — Pengetahuan Dunia, Kemuliaan Semesta

Denpasar, 4 November 2025 — Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, menyelenggarakan Workshop Cetak Tinggi bertema “PRAMANA-BHUWANA-KALYANA: Pengetahuan Dunia, Kemuliaan Semesta.”

Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 4 November 2025, pukul 09.00 – 14.00 WITA, di Ruang Cetak, Lab Terpadu ISI Bali, dan diikuti oleh mahasiswa semester 3 Program Studi DKV ISI Bali.

Workshop ini dibuka secara resmi oleh Dekan FSRD ISI Bali, Bapak Drs. I Nengah Sudika Negara, M.Erg, serta dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FSRD, Dr. Ni Luh Desi In Diana Sari, S.Sn., M.Sn, narasumber workshop, Bapak Reno Megy Setiawan, dan Koordinator Program Studi DKV ISI Bali sekaligus Ketua Pelaksana acara, Bapak Bayu Segara Putra, S.Ds., M.Sn.

Kegiatan ini merupakan bagian penting dari proses pembelajaran di Program Studi Desain Komunikasi Visual, khususnya dalam memperdalam pemahaman mahasiswa terhadap bidang reproduksi grafika. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diperkenalkan pada teknik cetak tinggi, penggunaan alat dan bahan, serta proses pembuatan karya dengan teknik cukil dan alat cetak manual.

Dalam sambutannya, Koordinator Program Studi DKV ISI Bali, Bapak Bayu Segara Putra, S.Ds., M.Sn., menyampaikan bahwa kegiatan ini dimaknai sebagai bentuk penerapan pembelajaran berbasis praktik yang menekankan hubungan antara pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kemanusiaan.


Dijelaskan bahwa tema “Pramana Bhuwana Kalyana” memiliki makna pengetahuan untuk kesejahteraan dan kebaikan semesta. Melalui tema tersebut, proses belajar dan berkarya diharapkan dapat dijalankan sebagai wujud dharma — upaya membangun kesadaran dan kebajikan melalui karya visual.

Disampaikan pula bahwa teknik cetak tinggi mengajarkan kesabaran, ketelitian, dan kepekaan terhadap bentuk serta tekstur. Nilai-nilai tersebut dianggap relevan dengan semangat Pramana Bhuwana Kalyana, yaitu bahwa pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk memberi manfaat lebih luas bagi dunia seni dan masyarakat.


Melalui workshop ini, diharapkan wawasan dan keterampilan mahasiswa dapat semakin berkembang, serta mendorong lahirnya karya-karya desain yang mengangkat nilai budaya dan filosofi lokal dengan makna universal.

B-GAAD Leaders’ Summit 2025 Rumuskan Deklarasi Panca Mahadharma

B-GAAD Leaders’ Summit 2025 Rumuskan Deklarasi Panca Mahadharma

Foto: Pimpinan dan dosen dari perguruan tinggi seni dan desain di Kawasan Asia Pasifik dalam B-GAAD Leaders’ Summit, Selasa (28/10) di Ruang Sabha Citta Mahottama Gedung Design Hub ISI BALI.

Sebagai rangkaian Event Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) II Tahun 2025, Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menyelenggarakan B-GAAD Leaders’ Summit, Selasa (28/10) di Ruang Sabha Citta Mahottama Gedung Design Hub ISI BALI. Pertemuan strategis ini dipimpin langsung oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana, dan diikuti oleh para pimpinan serta anggota fakultas dari berbagai perguruan tinggi seni dan desain terkemuka di kawasan Asia Pasifik.

Forum ini dihadiri oleh sejumlah pimpinan perguruan tinggi seni dan desain, antara lain Prof. Dr. Wayan Adnyana selaku Rektor ISI BALI, Asst. Prof. Dr. Sanor Klinngam, Dr. Kitsada Tungchawal, dan Asst. Prof. Rapipan Thiamdaet dari Phetchaburi Rajabhat University, Thailand; Prof. Kate Hislop dari University of Western Australia, Australia; Asst. Prof. Catherine Parrott, MFA dari The University of Iowa, Amerika Serikat; Prof. Dr. K. Azril Ismail dan Assoc. Prof. Suzlee Ibrahim dari Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan (ASWARA), Malaysia; serta Prof. Jaygo Bloom, MFA dari Lasalle College of the Arts, Singapura. Dari pihak ISI BALI, turut hadir Dr. Ni Made Arshiniwati, SST., M.Si. (Ketua Senat), Prof. Dr. Anak Agung Gde Bagus Udayana, S.Sn., M.Si. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi), Dr. I Made Jodog, MFA. (Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum), Prof. Dr. I Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama), serta Nyoman Dewi Pebriyani, ST., MA, Ph.D. (Direktur Pascasarjana). Dengan suasana hangat, forum ini menjadi ruang dialog strategis yang mempertemukan para pemimpin pendidikan tinggi seni dan desain dari berbagai negara. Para peserta berbagi pandangan dan paradigma dalam pengelolaan pendidikan tinggi seni dan desain yang berkomitmen pada kemakmuran masyarakat, pelestarian budaya lokal, serta keseimbangan ekologis. Pertemuan tersebut juga menjadi ajang memperkuat solidaritas dan jejaring kerja sama antarperguruan tinggi seni dan desain di kawasan Asia Pasifik.

Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana (kanan) bersama Penasihat Presiden Phetchaburi Rajabhat University-Thailand, Asst. Prof. Dr. Sanor Klinngam pada penandatanganan Deklarasi B-GAAD, Selasa (28/10) di Ruang Sabha Citta Mahottama Gedung Design Hub ISI BALI.

Puncak dari forum ini ditandai dengan lahirnya The B-GAAD Declaration: Caksu-Bhuwana-Citta (Noble Vision for Shining Futures), sebuah deklarasi yang menegaskan visi bersama perguruan tinggi seni dan desain di Asia Pasifik untuk menumbuhkan semangat solidaritas, tanggung jawab kolektif, dan kerja sama lintas budaya dalam membangun masa depan seni dan desain yang berkelanjutan. Melalui deklarasi ini, para pemimpin sepakat membentuk Asia Pacific’s Axis of Arts and Design Higher Education Network, sebagai wadah untuk menumbuhkan semangat persaudaraan dan kolaborasi lintas bangsa melalui pertukaran pengetahuan dan mobilitas akademik.

Deklarasi tersebut memuat lima misi utama yang disebut Panca Mahadharma, yaitu: (1) Memperkuat kemitraan untuk memajukan dan menjaga keunggulan akademik; (2) Berkomitmen pada kesejahteraan masyarakat dan komunitas; (3) berkolaborasi dalam pelestarian budaya dan warisan local; (4) Bberpartisipasi aktif dalam menjaga keseimbangan ekologi; serta (5) Mendorong kreativitas dan inovasi teknologi dalam bidang seni dan desain. Lima misi ini menjadi pedoman bersama dalam mengarahkan kolaborasi lintas lembaga untuk mencapai visi pendidikan seni dan desain yang unggul, berakar pada nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan keberlanjutan.

Deklarasi tersebut ditandatangani oleh seluruh peserta yang hadir, meliputi pimpinan ISI BALI serta para perwakilan perguruan tinggi dari Thailand, Australia, Korea Selatan, Amerika Serikat, Malaysia, dan Singapura. Penandatanganan deklarasi ini menjadi simbol komitmen bersama untuk menjadikan B-GAAD sebagai forum dialog, kemitraan, dan kolaborasi berkelanjutan antarperguruan tinggi seni dan desain di kawasan Asia Pasifik dalam mewujudkan The Panca Mahadharma Mission.

Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana, menyampaikan bahwa B-GAAD Leaders’ Summit meupakan langkah konkret untuk memperkuat posisi ISI BALI dan Indonesia sebagai poros global pendidikan tinggi seni dan desain. “Melalui Deklarasi B-GAAD ini, kita bersama-sama menyalakan cahaya bagi masa depan seni dan desain yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan keberlanjutan,” ujarnya. (ISIBALI/Humas)

B-GAAD II Perkuat Kemitraan Strategis untuk Keunggulan Akademik

B-GAAD II Perkuat Kemitraan Strategis untuk Keunggulan Akademik

Teguhkan Komitmen Melalui Deklarasi Panca Mahadharma B-GAAD

Foto: Rangkaian B-GAAD II Tahun 2025 mempergelarkan Tari Cancala-Bhuwana-Candika, Trunajaya, dan Jeriring Janger di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI, Jumat (31/10).

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) kembali menyelenggarakan poros pendidikan tinggi seni dan desain di kawasan Asia-Pasifik melalui perhelatan Bali–Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) II 2025, yang resmi dibuka pada Selasa (28/10) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI. Tahun ini, B-GAAD mengusung tema Tutur–Bhuwana–Tuwuh (Mitos–Dunia–Memori), yang menegaskan pentingnya mitos sebagai pengetahuan hidup yang membentuk kebijaksanaan dan identitas peradaban manusia.

Rektor ISI BALI, Prof. Dr. I Wayan Adnyana, menyampaikan bahwa B-GAAD merupakan inisiatif ISI BALI untuk membangun ruang aktualisasi strategis berskala internasional yang mempertemukan lembaga-lembaga pendidikan tinggi seni dan desain di kawasan Asia-Pasifik. “B-GAAD bukan sekadar forum pertemuan, melainkan wadah pencairan gagasan, konsep, dan visi yang memperkuat solidaritas Asia-Pasifik menuju inovasi baru,” ujarnya.

Tahun ini, B-GAAD II diikuti oleh sebelas universitas dari kawasan Asia-Pasifik, tiga institusi seni, dan satu lembaga pemerintah luar negeri, di antaranya: Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan (ASWARA) Malaysia; Kazakh National Academy of Choreography; Lasalle College of the Arts dan Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA) Singapura; Phetchaburi Rajabhat University Thailand; University of Western Australia (UWA); Kyoto Saga University of Arts dan Okinawa Prefectural University of Arts Jepang; University of Iowa Amerika Serikat; Jatiya Kabi Kazi Nazrul Islam (JKKNI) University Bangladesh; serta Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) Republik Korea. Dukungan juga datang dari Agung Rai Museum of Art (ARMA), Komaneka Art Gallery, Misato City Jepang, dan Wiswakarma Museum Gianyar.

Dalam pidato pembukaannya, Rektor ISI BALI menegaskan bahwa mitologi—sebagaimana dikemukakan oleh Edith Hamilton dalam Mythology: Timeless Tales of Gods and Heroes (1969)—adalah cermin cara manusia berpikir dan merasakan sejak masa purba. Melalui mitologi, manusia menelusuri kembali hubungan yang mendalam dengan alam—dengan bumi, laut, pepohonan, bunga, dan bukit—sebuah hubungan yang kian pudar di era modern ini.

Foto: Pembacaan Deklarasi B-GAAD oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana disaksikan oleh seluruh pimpinan perguruan tinggi seni dan desain di Asia-Pasifik, Selasa (28/10) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.

Sebagai wujud komitmen memperkuat jejaring kerja sama dan keberlanjutan keunggulan akademik, B-GAAD II melahirkan Deklarasi Panca Mahadharma B-GAAD bertajuk Caksu–Bhuwana–Citta (Noble Vision for Shining Futures), yang ditandatangani oleh para pimpinan dan dosen perguruan tinggi seni dan desain di Asia-Pasifik. Deklarasi ini menegaskan lima misi utama: (1) Memperkuat kemitraan untuk kemajuan dan keberlanjutan keunggulan akademik; (2) Berkomitmen terhadap kesejahteraan masyarakat dan komunitas; (3) Berkolaborasi untuk melestarikan budaya dan warisan local; (4) Berpartisipasi aktif dalam menjaga keseimbangan ekologis; (5) Menumbuhkan kreativitas dan inovasi teknologi dalam seni dan desain.

Deklarasi tersebut ditandatangani oleh para pemimpin dan akademisi terkemuka, yaitu:

Prof. Dr. I Wayan Adnyana (Rektor ISI BALI, Indonesia), Asst. Prof. Dr. Sanor Klinngam, Dr. Kitsada Tungchawal, dan Asst. Prof. Rapipan Thiamdaet (Phetchaburi Rajabhat University, Thailand); Prof. Kate Hislop (Dean, School of Design, University of Western Australia, Australia); Prof. Dr. Koh Young Hun (Hankuk University of Foreign Studies, Republik Korea); Asst. Prof. Catherine Parrott, MFA (University of Iowa, Amerika Serikat); Prof. Dr. K. Azril Ismail dan Assoc. Prof. Suzlee Ibrahim (Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan/ASWARA, Malaysia); Prof. Jaygo Bloom, MFA (Lasalle College of the Arts, Singapura); serta dari ISI BALI, Dr. Ni Made Arshiniwati (Ketua Senat), Prof. Dr. Anak Agung Gde Bagus Udayana (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi), Dr. I Made Jodog (Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum), Prof. Dr. I Komang Sudirga (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama), serta Nyoman Dewi Pebriyani, Ph.D (Direktur Pascasarjana ISI BALI).

Foto: Pembukaan B-GAAD II Tahun 2025, Selasa (28/10) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.

Serangkaian kegiatan B-GAAD II berlangsung dari 27 hingga 31 Oktober 2025 di berbagai venue di dalam dan luar kampus ISI BALI, meliputi Bali–Global Arts and Design Symposium (B-GADS), Bali–Global Performing Arts Map (B-GPAM), Bali–Global Art Map Exhibition (B-GAME), Bali–Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME), Bali–Global Encounter Figure (B-GEF), Bali–Global Authentic Trip (B-GAT), B-GAAD Leaders’ Summit, Bali–Global Expo and Job Fair (B-GEJF)

Kegiatan pembuka diwarnai World Cultural Carnival, yang menafsirkan tema Myths–World–Memories melalui parade artistik melibatkan seluruh program studi sarjana, sarjana terapan, dan pascasarjana ISI BALI. Selain itu, hadir pula peluncuran buku dan karya seni bertajuk Bali–Global Encounter Figure (B-GEF) #1: Unveiling Borrowed Light, hasil kolaborasi Prof. K. Azril Ismail dan Azrul K. Abdullah dari ASWARA Malaysia bersama ARMA Museum. Masih dalam rangkaian B-GAAD II, Workshop Woodcut oleh Prof. Paul Trinidad dari University of Western Australia juga diselenggarakan untuk mahasiswa ISI BALI, memperkaya pertukaran pengetahuan lintas budaya dan teknik artistik. (ISIBALI/Humas)

Pameran Internasional B-GAME 2025 Refleksikan Mitos dan Memori

Pameran Internasional B-GAME 2025 Refleksikan Mitos dan Memori

Foto: Pembukaan Pameran Internasional B-GAME, Senin (27/10) di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud.  

Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) resmi membuka Pameran Seni Rupa Internasional Bali–Global Art Map Exhibition (B-GAME) pada Senin (27/10) di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud. Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian Bali–Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) II 2025, yang menghadirkan karya 66 seniman dari Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Malaysia, Jepang, Australia, dan Bangladesh.

Mengusung tema Tutur–Bhuwana–Tuwuh (Myths–World–Memories), pameran yang dikuratori Arif B. Prasetyo, Warih Wisatsana (Bali), dan Jeon Dongsu (Korea) ini menjadi ruang dialog kreatif yang mempertemukan pengalaman otentik, daya tahan, serta inovasi para seniman dalam menafsirkan mitos sebagai sumber pengetahuan dan kebijaksanaan bangsa-bangsa di kawasan Asia-Pasifik.

Foto: Pameran Internasional B-GAME, Senin (27/10) di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud.  

Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menjelaskan mitos dipahami bukan sekadar cerita masa lampau, tetapi juga sebagai cahaya yang menuntun hubungan manusia dengan alam. “Sebagaimana dikemukakan oleh Edith Hamilton dalam Mythology: Timeless Tales of Gods and Heroes (1969), mitos adalah cara manusia purba berpikir dan merasakan dunia—menghubungkan manusia dengan bumi, laut, pepohonan, dan gunung dengan kedekatan yang kini jarang dirasakan,” ujar Guru Besar Bidang Sejarah Seni ini.

Prof. Kun Adnyana menambahkan, tantangan seniman masa kini, sebagaimana ditegaskan dalam teori Alison George (The Brain, 2018), adalah bagaimana karya seni dapat menguatkan memori kolektif—bahwa dalam hitungan detik, seni mampu menarik perhatian dan menanamkan kesan mendalam. Melalui karya-karya yang dipamerkan, B-GAME 2025 berupaya memperkuat ingatan kolektif kita tentang komitmen bersama terhadap kemanusiaan, pelestarian budaya lokal, dan keseimbangan ekologis.

Dalam sambutannya, A.A. Gde Rai, pendiri ARMA, menyambut baik penyelenggaraan B-GAME yang kedua kalinya di ARMA. Ia mengungkapkan kebanggaannya bahwa ARMA kembali dipercaya menjadi tuan rumah bagi pertemuan seniman internasional, setelah sukses menyelenggarakan edisi pertama tahun lalu. Menurutnya, pameran ini tidak hanya memperkuat posisi Bali sebagai pusat seni rupa dunia, tetapi juga mempertegas peran seni sebagai jembatan lintas budaya dan lintas bangsa.

Foto: Pameran Internasional B-GAME, Senin (27/10) di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud.  

Pameran B-GAME 2025 digelar di dua lokasi utama, yakni Agung Rai Museum of Art (ARMA) dan Komaneka Art Gallery, keduanya berlokasi di Ubud. Dua ruang ini menjadi peta baru relasi antara seni dan mitos, serta menegaskan peran keduanya dalam memperkaya ingatan dan nalar generasi masa kini.

Hadir dalam pembukaan tersebut Koman Wahyu Suteja, delegasi luar negeri B-GAAD II, jajaran pimpinan dan dosen ISI BALI, seniman, budayawan, serta mahasiswa.

Dalam kesempatan itu, Rektor ISI BALI menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para kurator, seniman, desainer, maestro, profesor tamu, media, mitra, serta seluruh panitia yang telah bekerja dengan penuh semangat, cinta, dan dedikasi. Pameran ini diharapkan menjadi simbol solidaritas dan penguatan platform Asia-Pacific Axis of Arts and Design Higher Education, serta memperkuat posisi Bali sebagai poros global seni dan kebudayaan kontemporer.(ISIBALI/Humas)

Loading...