Photo: The Opening of the Fifth Widya Mahardika Kalangan at the Kirtya Sabha Mahottama Auditorium, Indonesian Institute of the Arts (ISI Bali), Wednesday (March 25).
The Minister of Tourism of the Republic of Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana, B.Sc., officially inaugurated the Fifth Widya Mahardika Kalangan (Academic Arts Week), themed Kirtya–Jnana–Kawya “The Nobility of Elevated Knowledge,” at the Kirtya Sabha Mahottama Auditorium, Indonesian Institute of the Arts (ISI Bali), on Wednesday (March 25). Now in its fifth year, this event continues to serve as a creative platform that integrates artistic development, knowledge advancement, and the reinforcement of Balinese cultural values.
In her remarks, Widiyanti highlighted the shifting trends in global tourism, which are increasingly oriented toward more meaningful and immersive experiences. According to her, tourists are no longer merely seeking destinations, but rather experiences that provide deeper significance.
She also expressed appreciation for the role of ISI Bali as an arts education institution closely connected to the tourism ecosystem. She noted that the contributions of its academic community and alumni have enriched various cultural and artistic events, both at the local and national levels.
“Widya Mahardika Kalangan has been held for five years and has become an important platform for showcasing innovation while exploring the noble values of Balinese tradition,” she stated.
Photo: The Opening Ceremony of the Fifth Widya Mahardika Kalangan at the Kirtya Sabha Mahottama Auditorium, Indonesian Institute of the Arts (ISI Bali), Wednesday (March 25).
The Minister of Tourism of the Republic of Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana, B.Sc., officially inaugurated the Fifth Widya Mahardika Kalangan (Academic Arts Week), themed Kirtya–Jnana–Kawya “The Nobility of Elevated Knowledge,” at the Kirtya Sabha Mahottama Auditorium, Indonesian Institute of the Arts (ISI Bali), on Wednesday (March 25). Now entering its fifth year, the event continues to function as a creative platform that integrates artistic development, intellectual advancement, and the strengthening of Balinese cultural values.
In her remarks, Widiyanti underscored the shifting trends in global tourism, which are increasingly oriented toward deeper and more meaningful experiences. According to her, tourists are no longer merely seeking destinations, but rather experiences that offer significance and lasting impressions.
She also expressed her appreciation for the role of ISI Bali as an arts education institution that maintains a close relationship with the tourism ecosystem. She emphasized that the contributions of its academic community and alumni have enriched a wide range of cultural and artistic events at both local and national levels.
“Widya Mahardika Kalangan has been held for five years and has become an important platform for presenting innovation while exploring the noble values inherent in Balinese traditions,” she stated.
Photo: The Opening of the Fifth Widya Mahardika Kalangan at the Kirtya Sabha Mahottama Auditorium, Indonesian Institute of the Arts (ISI Bali), Wednesday (March 25).
The Fifth Widya Mahardika Kalangan presents a diverse range of artistic programs that reflect the richness of expression and innovation of the academic community of the Indonesian Institute of the Arts (ISI Bali). The series of events includes a Colossal Intermedium Performance entitled Kirtya–Jnana–Kawya as the main opening highlight, as well as a Retrospective Exhibition of Contemporary Painting, Parama Paraga, featuring the works of the Rector of ISI Bali, Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana.
In addition, the Widya Mahardika Kalangan also showcases a Ritual Performing Arts Procession imbued with traditional values, alongside a Dance-Drama Performance of Luwih Arja Luh entitled Ranu–Saraswati–Rasmi, representing the development of tradition-based performing arts through creative and contextual approaches.
Foto: Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana,B.Sc meninjau Pameran Retrospektif Seni Lukis Kontemporer “Parama Paraga” di Nata-Cita Art Space (N-CAS) ISI BALI pada Rabu (25/3).
Perjalanan panjang seni rupa kontemporer terangkum dalam Pameran Retrospektif Seni Lukis Kontemporer “Parama Paraga” karya perupa sekaligus Rektor Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI), Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana, yang digelar di Nata-Cita Art Space (N-CAS) ISI BALI pada Rabu (25/3) sore.
Pameran ini merupakan inisiatif personal Prof. Kun Adnyana yang menampilkan refleksi perjalanan artistiknya selama lebih dari dua dekade. Pameran yang dikurasi oleh Jeon Dongsu, Warih Wisatsana, dan Alaida Niwaya menyajikan 88 karya yang memperlihatkan transformasi visual dari eksplorasi bentuk tubuh hingga berkembang menuju komposisi abstrak berbasis garis dan warna.
Dalam momentum pembukaan, Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana,B.Sc turut hadir dan meninjau langsung karya-karya yang ditampilkan. Kehadiran Menteri Pariwisata juga menjadi bagian dari rangkaian pembukaan Kalangan Widya Mahardika V, yang berlangsung di lingkungan kampus ISI BALI.
Foto: Pameran Retrospektif Seni Lukis Kontemporer “Parama Paraga” karya Prof. Kun Adnyana di Nata-Cita Art Space (N-CAS) ISI BALI pada Rabu (25/3).
Dalam keterangannya, Prof. Kun Adnyana menegaskan bahwa “Parama Paraga” merupakan proses panjang yang merekam dinamika pencarian artistik yang terus berkembang. “Ini adalah proses panjang, lebih dari 20 tahun, dari eksplorasi tubuh hingga menjadi komposisi warna yang murni, dengan garis sebagai basis utama,” ungkapnya.
Guru Besar Bidang Sejarah Seni ini juga mengaitkan pameran dengan semangat Kalangan Widya Mahardika V yang mengusung tema “Kirtya Jnana Kawiya”, sebagai upaya menggali dan memuliakan pengetahuan melalui praktik berkesenian.
Sebagai ruang seni yang berada di lingkungan kampus, Nata-Cita Art Space (N-CAS) ISI BALI menjadi wadah strategis dalam menghadirkan praktik seni rupa kontemporer kepada publik sekaligus memperkuat ekosistem akademik. Kehadiran pameran tunggal ini turut memperlihatkan peran ganda Prof. Kun Adnyana, tidak hanya sebagai pimpinan institusi, tetapi juga sebagai seniman yang aktif berkarya.
Prof. Kun Adnyana menambahkan, kegiatan ini bukan sekadar pameran, tetapi juga menjadi “pesta seni akademika” yang mendorong dosen dan mahasiswa untuk berani tampil di panggung global. “Pariwisata berbasis budaya adalah fondasi penting dalam memajukan seni dan budaya Bali. Karena itu, kami menghadirkan Ibu Menteri Pariwisata sebagai bagian dari sinergi antara dunia seni dan pariwisata,” tegasnya.
Menpar Widiyanti Putri Wardhana,B.Sc memberikan apresiasi khusus terhadap pameran karya Prof. Kun Adnyana yang dinilai memiliki kekuatan artistik dan keragaman tema. Menurutnya, karya-karya tersebut tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga memperkaya narasi budaya Bali di tengah perkembangan seni kontemporer.
Pameran “Parama Paraga” dijadwalkan berlangsung hingga 4 Mei mendatang dan terbuka untuk publik sebagai ruang apresiasi terhadap perjalanan panjang seorang perupa dalam merespons perkembangan seni rupa kontemporer. (ISIBALI/Humas)
Foto: Pembukaan Kalangan Widya Mahardika V di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Institut Seni Indonesia (ISI BALI), Rabu (25/3).
Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana, B.Sc secara resmi membuka Kalangan Widya Mahardika V (Pekan Kesenian Akademika) bertajuk Kirtya-Jnana-Kawya “Mulia Pengetahuan Luhur” di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Institut Seni Indonesia (ISI BALI), Rabu (25/3). Kegiatan yang telah memasuki tahun kelima ini kembali merupakan ruang kreatif yang memadukan pengembangan seni, pengetahuan, dan penguatan nilai-nilai budaya Bali.
Dalam sambutannya, Widiyanti menyoroti perubahan tren pariwisata global yang kini semakin mengarah pada pengalaman yang lebih mendalam. Menurutnya, wisatawan tidak lagi hanya mencari destinasi, melainkan pengalaman yang memberi makna.
Menpar Widiyanti mengapresiasi peran ISI BALI sebagai institusi pendidikan seni yang memiliki keterkaitan erat dengan ekosistem pariwisata. Ia menilai kontribusi sivitas akademika dan alumni ISI BALI telah memperkaya berbagai ajang seni budaya, baik di tingkat lokal maupun nasional.
“Kalangan Widya Mahardika telah berlangsung selama lima tahun dan menjadi ruang penting untuk menampilkan inovasi sekaligus menggali keadiluhungan tradisi Bali,” ungkapnya.
Foto: Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana, B.Sc secara resmi membuka Kalangan Widya Mahardika V di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Institut Seni Indonesia (ISI BALI), Rabu (25/3).
Ia turut menyoroti berbagai karya kolaboratif yang ditampilkan dalam ajang tersebut, mulai dari pagelaran kolosal hingga pengembangan seni tradisi seperti drama tari arja yang dikemas dengan pendekatan baru.
Pada kesempatan tersebut, Menpar Widiyanti juga menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara ISI BALI dan Politeknik Pariwisata Bali. Penandatangan MoU menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia pariwisata, mengingat eratnya hubungan antara sektor pariwisata dan kebudayaan.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Menteri Pariwisata RI beserta jajaran serta para tokoh yang hadir dan memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Kalangan Widya Mahardika V.
Dalam sambutannya, ia menjelaskan makna filosofis dari Kalangan Widya Mahardika sebagai ruang aktualisasi yang tidak hanya bersifat artistik, tetapi juga spiritual dan intelektual. “Kalangan adalah ruang aktualisasi yang memerlukan pendakian yang sungguh-sungguh, sementara Mahardika bermakna kemerdekaan yang juga harus dicapai melalui proses yang tidak instan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kedua konsep tersebut merepresentasikan ruang pencapaian yang melampaui kepentingan personal. Kalangan Widya Mahardika menjadi wadah transformasi dari cita-cita individu menuju cita-cita institusi, yang kemudian berkembang menjadi cita-cita kebangsaan hingga kemanusiaan yang sejati.
Sebagai penutup, Rektor menegaskan komitmen ISI BALI dalam menghadirkan karya dan pengabdian terbaik bagi bangsa. “Kami persembahkan ketulusan ISI BALI untuk Indonesia,” pungkasnya.
Foto: Pembukaan Kalangan Widya Mahardika V di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Institut Seni Indonesia (ISI BALI), Rabu (25/3).
Kalangan Widya Mahardika V menghadirkan beragam sajian seni yang merepresentasikan kekayaan ekspresi dan inovasi sivitas akademika Institut Seni Indonesia Bali. Rangkaian kegiatan ini meliputi Gelar Pertunjukan Kolosal Intermedium bertajuk Kirtya–Jnana–Kawya yang menjadi pembuka utama, serta Pameran Retrospektif Seni Lukis Kontemporer Parama Paraga karya Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana.
Selain itu, Kalangan Widya Mahardika juga menampilkan Prosesi Seni Pertunjukan Ritus yang sarat nilai tradisi, serta Gelar Drama Tari Luwih Arja Luh bertajuk Ranu–Saraswati–Rasmi sebagai bentuk pengembangan seni pertunjukan berbasis tradisi dengan pendekatan kreatif dan kontekstual. (ISIBALI/Humas)
Foto: Pagelaran Tari Serng Kratip olih makudang-kudang mahasiswa saking Angthong College of Dramatic Arts lan Roi Et College of Dramatic Arts, Thailand sareng-sareng mahasiswa ISI BALI, nuju rahina Soma (23/2) magenah ring Gedung Natya Mandala ISI BALI.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) ngalaksanayang pagelaran seni sane nyihnayang kolaborasi budaya pantaraning Angthong College of Dramatic Arts lan Roi Et College of Dramatic Arts, Thailand, sareng sivitas akademika ISI BALI, nuju rahina Soma (23/2) magenah ring Gedung Natya Mandala ISI BALI. Pagelaran puniki pinaka lanturan saking parikrama workshop seni sane sadurungnyane sampun kalaksanayang sareng delegasi saking Thailand, sapisanan dados genah apresiasi ring pikolih pangajah-ajah miwah pakerat kanti budaya sane sampun mamargi.
Acara puniki kakawitin antuk sasolahan Tari Selat Segara sane kabaktayang olih mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan (PSP) ISI BALI, kaindihin antuk tabuh gamelan olih mahasiswa PSP. Sasolahan panyanggra puniki nyihnayang kawentenan sane dinamis sapisanan nyinahang kasugihan seni pertunjukan Bali ring sapangrauh sang sane saking Thailand.
Foto: Sasolahan Karawitan olih para dosen Angthong College of Dramatic Arts lan Roi Et College of Dramatic Arts, Thailand sareng para dosen miwah mahasiswa ISI BALI, nuju rahina Soma (23/2) magenah ring Gedung Natya Mandala ISI BALI.
Salanturnyane, delegasi saking Thailand nyihnayang tigang soroh sasolahan tradisional Thailand sane nyinahang kasugihan budaya saking makudang-kudang wewidangan ring panegara punika. Sasolahan sane kapertama inggih punika Fon Dok Mai utawi Dance of Flowers, silih tunggil sasolahan tradisional sane nyinahang solah tangan sane alus maduluran antuk sarana bunga pinaka simbol kalanguan lan kaharmonisan.
Sasolahan sane kaping kalih inggih punika Serng Kratip, sasolahan krama saking wewidangan Isan sane madue solah dinamis tur nganggen kain lipit sane rupa ipun kadi kampid ritatkala pragina punika masesolahan. Sasolahan puniki kabaktayang antuk kolaborasi olih mahasiswa Thailand sareng mahasiswa ISI BALI sane sadurungnyane sampun nyarengin workshop tari tradisional Thailand.
Panyutun sasolahan puniki inggih punika sasolahan krama Isan sane kabaktayang mapahiyasan (mapasangan) olih pragina lanang lan istri. Sasolahan puniki nyinahang kauripan krama ring desa sane bek antuk kaliangan miwah kapiulangan, antuk gerak sane enerjik tur ekspresif.
Siosan ring sasolahan, pagelaran puniki taler nyihnayang pikolih workshop karawitan sane sadurungnyane sampun kamargiang sareng mahasiswa ISI BALI. Sasolahan punika kabaktayang olih para dosen saking Thailand sareng Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan lan Kerja Sama ISI BALI, Prof. Dr. Komang Sudirga, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Dr. Ketut Garwa, Koordinator Prodi (Koprodi) PSP, Putu Hartini, M.Sn, Koprodi Karawitan Made Dwi Andika Putra, M.Sn, miwah makudang-kudang mahasiswa PSP ISI BALI. Kolaborasi puniki nyinahang paridabdab pakerat kanti kaweruhan miwah praktik seni pantaraning makakalih pihak sane sampun mamargi ritatkala parikrama workshop.
Pagelaran puniki dados galah sane mabuat pisan sajeroning ngeratang kanti akademik miwah budaya pantaraning ISI BALI lan institusi seni saking Thailand. Melarapan antuk sasolahan seni sane kolaboratif, parikrama puniki ngicenin pangalaman artistik ring para mahasiswa sapisanan nincapang dialog budaya ring sajeroning para seniman miwah akademisi saking makakalih panegara.