M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Local Color In The Novel “Tarian Bumi”: Balinese Cultural Expression

By I Made Suastika In MUDRA Special Edition 2007

Tarian Bumi (or “The Dance of the World”) by Oka Rusmini is published by Indonesia Tera, Magelang, in 2002. As a novel, Tarian Bumi consists of 140 pages and divided into 20 chapters but has no chapter’s number. In its introduction, the publisher tells about the general vision and mission of the novel, including the condition and position of woman writer (Oka Rusmini) in Indonesian literature.

Tarian Bumi is worth to be discussed because 1) Tarian Bumi is written by a woman writer in which, so far, dominated by man. 2) Tarian Bumi evokes local color, which is very rare and less attracted in literature writing. 3) The theme is about Balinese culture, one of the unique cultures in Indonesia. At the end, there is a brief biography of the writer and a note on local words.

Synopsis

Luh Sekar is a poor sudra, the lowest caste in Bali. Her mother is Luh Dalem. Some people say, she has been robbed and raped by more than three men, then she gets pregnant even blind. Many efforts have been done to miscarriage but fails to do that. She then bears two babies, they are Luh Kerta and Luh Kerti, Luh Sekar’s younger sisters. To earn their living, Luh Sekar sells things in Badung market.

Luh Dalem, especially her daughter Luh Sekar, is a hardworking  woman. They want to improve their life. That is why Luh Sekar chooses to marry a man from a brahmana caste, the highest caste. In order to attract the man, she learns dancing. She also prepares herself with a jimat (magical power) given by her mother. Beside that, she looks for a taksu (inner, spiritual power from God) by praying in a temple at night accompanied by Luh Kenten.

Luh Sekar is able to change her life for she succeeds to marry Ida Bagus Ngurah, a brahmana. Due to Balinese traditional culture, she is given a title called jero. Her new name is Jero Kenanga. It is true that, after the marriage, being a new brahmana, she becomes a woman with a changed socio-economic condition. In fact, she is not happy as her husband is a playboy and a gambler. She is so stressed because of the tight rule as a brahmana. So, many rules have to follow. In the family, she is so dilemmatic because she is now a brahmana but treated a sudra.

From her marriage, she has a brahmana daughter, named Ida Ayu Telaga Pidada alias Tugeg. Like her mother, Ida Ayu Telaga Pidada is good at dancing. Under the guidance of Luh Kambren, her dance teacher, she can dance various traditional dances.

However, there are so many different characters between Ida Ayu Telaga Pidada and her mother. Her mother is very ambitious in terms of socio-economic status whereas Ida Ayu Telaga Pidada seems very humble. As a brahmana, Ida Ayu Telaga Pidada cherishes all people. She hates any rule run in the brahmana family. Different from her mother, she does not like to marry a man from the same caste (brahmana). That is why, she chooses to marry a sudra painter named Wayan Sasmita. It is told that, Wayan Sasmita is an unexpected child from illegal marriage between Ida Bagus Ketu and Luh Gumbreg whom are Ida Ayu Telaga Pidada‘s father and mother-in-law.

The marriage between Ida Ayu Telaga Pidada and Wayan Sasmita is not lasted long for Wayan Sasmita dies of heart-attack. But, they have a daughter named Luh Sari. After her husband death, Ida Ayu Telaga Pidada suffers so much. Wayan Sasmita’s mother-in-law (Luh Gumbreg) blames Ida Ayu Telaga Pidada as the cause of her son‘s death. She thinks that it is all because Ida Ayu Telaga Pidada does not hold a special religious ceremony concerning her giving up relationship from her being brahmana. To do that, such a ceremony is held one day.

On the other hand, Sadri, Wayan Sasmita‘s sister, is jealous with Ida Ayu Telaga Pidada. Once, Ida Ayu Telaga Pidada is also raped by Putu Sarma, her brother-in-law.

Local Color In The Novel “Tarian Bumi”: Balinese Cultural Expression, download

Balaganjur dalam Makna Profan

Balaganjur dalam Makna Profan

Oleh I Wayan Suharta

Adi MerdanggaPerkembangan makna Balaganjur sebagai ekspresi berkesenian dalam konteks keterkaitannya dengan ritual menjadi pertunjukan yang bermakna profan dapat dijelaskan dari pendekatan wujud kebudayaan, yaitu dari sistem budaya, sistem sosial dan sistem fisik. Sebab pada hakekatnya setiap unsur kebudayaan bermula dari ide-ide dari nilai-nilai yang mendorong ke arah prilaku dalam bentuk aktivitas yang akhirnya menghasilkan peralatan atau benda-benda konkret.

Makna profan Balaganjur dari aspek sistem budaya adalah dijadikannya Balaganjur sebagai “media ungkap seni” atau menjadi sumber inspirasi dalam konteks intepretasi estetis maupun akulturasi seni antara tradisi dengan seni modern. Munculnya karya seni dengan media Balaganjur semuanya bermula dari dunia ide para senimannya dengan mempertimbangkan manfaat praktis yang secara positif perlu dipertahankan dan dikembangkan.

Makna profan pertunjukan Balaganjur dari aspek sistem sosial adalah sebagai media penyaluran pengisi waktu dengan berkesenian, berkumpul, dan berorganisasi. Para seniman ketika merintis lahirnya sebuah seni pertunjukan, memiliki wadah berkesenian yang tidak terikat dengan ritual keagamaan. Begitu pula seniman mempunyai ekspresi berkreativitas seni yang lebih memberikan kebebasan untuk berimprovisasi.

Pembentukan sekaa-sekaa Balaganjur yang kini tersebar di Bali, pada prinsipnya dapat mengangkat potensi seni di masing-masing komunitas. Sebuah sekaa Balaganjur terwujud dari sosio-estetis para seniman tabuh. Sesuai dengan peran dan tugasnya, semua sekaa mendapat pengakuan untuk mengekspresikan bakat seni dan rasa keindahannya yang terungkap lewat Balaganjur.

Makna profan pertunjukan Balaganjur dari aspek sistem fisik adalah leluasanya para seniman dan sekaa-sekaa Balaganjur menjelajahi berbagai kemungkinan konsep artistik, baik dari segi musikalitasnya maupun tata penyajiannya. Balaganjur dari aspek sistem pisik jika ditinjau dari kreativitas ekonomi adalah kebebasan akan tempat, waktu, keadaan dan penyajiannya. Dalam konteks presentasi estetis sebagai tontonan wisatawan, Balaganjur tidak mengklasifikasikan tempat, yang penting arenanya dianggap cukup pementasannyapun dapat berlangsung. Dalam konteks profan pada prinsipnya Balaganjur dapat dipentaskan kapan saja. Tetapi untuk pementasan di ruang terbuka, Balaganjur lebih ideal dipentaskan sebagai musik prosesi dengan pertimbangan estetika dan efek akustika.

Makna Estetis

Agama Hindu merupakan unsur paling dominan sekaligus merupakan roh budaya Bali. Agama Hindu adalah sumber utama dari nilai-nilai yang menjiwai kebudayaan Bali. Setiap hasil kreativitas budaya Bali termasuk kesenian seperti Balaganjur tidak akan bisa lepas dengan ikatan nilai-nilai luhur budaya Bali, terutama nilai-nilai estetika yang bersumber dari agama Hindu.

Estetika berasal dari kata aisthesis dalam bahasa Yunani  dapat diartikan sebagai rasa nikmat, indah yang timbul melalui pencerapan panca indra (Djelantik, 2004:5). Estetika dimaknai sebagai keindahan yang dapat merangsang dan mendorong manusia untuk berkreasi dan bersikap dinamis untuk mencapai kepuasan bathin dalam mempertajam intuisinya yang menyangkut rasa keindahan yang membuat kita senang, terkesima, terpesona, bergairah dan bersemangat.

Kebutuhan manusia akan rasa kenikmatan estetis mendorong mereka untuk terus menciptakan objek-objek bernilai estetis. Jika diperhatikan di sekeliling kita terdapat berbagai objek yang dapat menimbulkan rasa lango (menyenangkan). Di jalan-jalan kita melihat benda-benda yang bernuansa estetis seperti patung-patung, tiang-tiang lampu, ukiran-ukiran rumah dan dekorasi-dekorasi lainnya. Akan tetapi benda-benda estetik yang ada di sekitar kita sesungguhnya tidak semua diciptakan oleh seniman atau penciptanya dengan tujuan yang sama sebagai benda kesenian. Ada karya-karya seni yang memang sengaja dibuat untuk dinikmati keindahannya dan tidak sedikit yang semula berupa benda atau barang pakai yang baru kemudian dijadikan benda seni. Oleh Jacques Maquet menamakan tiap-tiap objek keindahan menjadi art by distination dan art by metamorphosis (Dibia, op. cit. p. 96).

Seni pada dasarnya tidak dapat dipisahkan kehidupannya dengan masyarakat, terutama masyarakat Bali. Seni dan masyarakat adalah satu. Oleh karena itu nilai estetis adalah sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Bali. Kesadaran dan kehidupannya di bidang seni sangat tinggi, dan boleh dikatakan antara seniman dan masyarakat penontonnya terdapat komunikasi yang hidup (Mantra, 1993:32). Keberadaan seni pertunjukan dalam kehidupan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari fungsinya sebagai suatu sarana interaksi dan komunikasi dalam masyarakat yang mengandung makna tertentu utamanya bermakna estetis.

Pembicaraan mengenai Balaganjur yang bernilai artistik bertumpu kepada masalah rasa akan selalu mengacu kepada dua sisi yang terkait, yaitu objektivitas dan subjektivitas. Sisi yang pertama menyangkut realita atau kenyataan dari bentuk Balaganjur, sedangkan sisi yang kedua menyangkut kesan yang ditimbulkan oleh Balaganjur tersebut. Oleh sebab itu, hasil penilaian estetis yang optimal dapat dicapai dengan memadukan kedua sisi objektif dan subjektif.

Penilaian terhadap kualitas Balaganjur secara estetis, juga sering kali ditentukan oleh etika (norma baik buruk) yang berlaku di lingkungan masyarakat budaya setempat. Kualitas keindahan Balaganjur sering kali kehilangan makna estetisnya jika ternyata didalamnya terdapat unsur-unsur yang bertentangan dengan etika yang ada dalam masyarakat. Oleh karena itu di lingkungan budaya tertentu kenikmatan keindahan juga memberikan kesenangan sesuai dengan norma baik-buruk yang berlaku.

Estetika Hindu pada intinya merupakan cara pandang mengenai rasa keindahan yang diikat oleh nilai-nilai agama Hindu yang didasarkan atas ajaran-ajaran kitab suci Weda. Ada beberapa konsep yang menjadi landasan penting dalam estetika Hindu. Konsep-konsep yang dimaksud antara lain konsep kesucian, konsep kebenaran dan konsep keseimbangan (Dibia, op. cit. p. 96).

Kesucian pada intinya menyangkut nilai-nilai ketuhanan yang juga mencakup yadnya dan taksu. Umat Hindu seperti yang terlihat di Bali, memiliki pandangan estetik yang diikat oleh nilai-nilai spiritual ketuhanan sesuai dengan ajaran agama Hindu. Seperti telah banyak dikemukakan oleh para pakar agama Hindu, bahwa Tuhan itu adalah maha-indah dan sumber dari segala keindahan. Atas ke-percayaan ini manusia Hindu percaya bahwa segala sesuatu yang bernilai artistik adalah ciptaan Tuhan.

Makna Kreativitas

Berbicara  tentang perwujudan karya seni, belumlah sempurna sebelum menyebut dua macam perbuatan dan perilaku kesenian yang berbeda secara mendasar, yakni kreativitas; perilaku kesenian yang menghasilkan kreasi baru, dan produktifitas; perilaku kesenian yang menghasilkan produksi baru merupakan ulangan dari apa yang telah terwujud, walau sedikit percobaan atau variasi di dalam pola yang telah ada (Djelantik, op. cit. p. 67).

Kebebasan berkreasi tidak berhenti pada satu titik atau era tertentu. Sepanjang proses berkesenian itu terus bergulir,  selama itu kreasi-kreasi baru akan terus ada, artinya pada suatu era suatu produk seni adalah sebuah kreasi baru. Namun ketika kreasi baru itu sudah biasa dan tidak baru lagi atau sudah menjadi pola tertentu, maka muncullah kreasi-kreasi yang lebih baru lagi yang pada era-era berikutnya kembali menjadi tidak baru, demikian seterusnya (Ibid., p. 68).

Kayam (1981:39) antara lain mengemukakan  bahwa kesenian tidak pernah lepas dari akar kulturnya yakni masyarakat. Masyarakat sebagai pendukung kesenian dan kebudayaannya tidak pernah berhenti berkreasi. Kesenian adalah ungkapan kreativitas dari kebudayaan itu sendiri. Masyarakat sebagai menyangga kebudayaan, demikian pula kesenian dapat memberikan peluang untuk bergerak, memelihara dan mengembangkan. Sedangkan kreativitas masyarakat berasal dari manusia-manusia yang mendukungnya.

Berpijak dari konsep Kayam tersebut, maka Balaganjur merupakan salah satu ungkapan kreativitas masyarakat dalam bidang seni pertunjukan, memiliki unsur-unsur yang bermakna dalam kehidupan bermasyarakat. Dorongan ke arah kreativitas dan pengalaman-pengalaman estetis dihidupi oleh semangat jiwa yang mendorong untuk tampil ke depan dan mengorbit (Sumandiyo, 2003:6). Sehubungan dengan dorongan kreatif serta kebutuhan indra yang mendasar, Balaganjur kaya akan warna nada dan ritme.

Lomba Balaganjur dan difungsikannya Balaganjur sebagai musik iringan tari merupakan babakan baru dari moment kreatif gamelan Bali. Sehingga penataan artistik dalam Balaganjur  menempati proporsi yang lebih dominan, Balaganjur sudah menjadi bentuk seni pertunjukkan tersendiri; para pemain sebagai penabuh dan juga sebagai penari. Hal ini merupakan bentuk kreativitas baru dalam menyemarakkan kehidupan dan perkembangan dunia kesenian, tentunya tidak terlepas dari peranan seniman didalam melahirkan nuansa baru dalam seni pertunjukan di Bali.

Seniman selalu berusaha memperbaharui tingkat perkembangan terakhir dari sebuah perkembangan. Tidak jarang garapan Balaganjur memiliki unsur kerumitan yang sangat tinggi dengan menampilkan kompleksitas garap melalui penonjolan pada pengolahan dinamika, ritme, melodi dan harmoni. Secara konsepsual telah menunjukkan adanya ungkapan kreativitas selera kekinian, terutama dalam hal penyajian gending-gending Balaganjur yang muncul belakangan ini.

Demikian pula upaya-upaya untuk menghasilkan sebuah ungkapan baru tidak saja mengolah materi yang telah ada melainkan menggali, menambahkan atau juga mereformasi bentuk-bentuk yang telah ada, sehingga memberi nuansa dan kesan yang baru pula. Memadukan unsur-unsur lama dan baru juga merupakan upaya kreatif seorang seniman, dalam upaya menghadapi pengaruh kultural dari luar dengan mencari bentuk dan model untuk menyesuaikannya.

Kusumawardani (2003:339), menyatakan berbagai bentuk seni timbul karena kemampuan manusia untuk menggali pandangan-pandangan yang tajam dari pengalaman hidup, karena keinginan untuk memberikan bentuk luar dari tanggapan serta imajinasi yang unik. Seni berkaitan erat dengan kreativitas, tentunya identik dengan kegiatan inovasi untuk menemukan gagasan baru, ide-ide baru yang cemerlang, fungsional dan komunikatif.

Makna Ekonomi

Ketika menjadi seni pertunjukan sekuler, Balaganjur telah mengalami perkembangan makna secara sistem budaya, sistem sosial dan sistem pisik. Perkembangan Balaganjur dari makna relegius dalam konteks ritual kepada makna ekonomi dapat ditinjau dari kreativitas estetis dan aktivitas sebagai seni wisata.

Balaganjur bermakna ekonomi dapat ditinjau dari aspek sistem budaya pada aktivitas dan kreativitas Balaganjur dalam perkembangannya menjadi seni pertunjukan turistik, penyajian Balaganjur dapat ditonton dan dibayar oleh para wisatawan. Munculnya Balaganjur sebagai tontonan turis di Bali merupakan stimulasi dari potensi pasar wisata dan kesadaran ekonomi para seniman Balaganjur.

Sebagaimana yang diramalkan oleh Covarrubias, kini terbukti bahwa perkembangan pariwisata telah membawa energi dobrak yang sangat dahsyat, sehingga menyebabkan perubahan-perubahan yang sangat struktural bagi masyarakat dan kebudayaan Bali (Bagus, 1977:92). Industri pariwisata adalah cermin teknologi modern. Ia digarap, dikelola dan digerakkan menurut prinsip dan nilai-nilai modern, nilai-nilai yang terutama berlaku dalam tatanan masyarakat  yang sudah bergeser dari statusnya yang “utuh” dan “tertutup”. Karena industri ini percaya kepada kompetisi, kepada prestasi individu, kepada efisiensi organisasi, kepada pengejaran dan perluasan keuntungan, kepada pengembangan yang terus menerus.

Pariwisata dalam arus modernisasi mengarahkan per-kembangan kebudayaan ke suatu arah modernitas. Pariwisata pada suatu sisi memberikan dampak positif, karena telah memberikan kontribusi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali yang tidak kecil jumlahnya. Demikian pula pada kehidupan berkesenian seperti Balaganjur selalu memberikan peluang untuk memunculkan kreativitas yang baru untuk menghibur wisatawan, sekaligus sebagai salah satu daya tarik pariwisata.

Barker (2004:115), menjelaskan globalisasi bukan hanya menyangkut persoalan ekonomi saja, melainkan juga telah terkait dengan isu budaya. Kendatipun nilai makna yang sudah melekat pada suatu tempat tetap mempunyai arti, bagi yang berkiprah di bidang budaya merasa semakin terjerat dalam jaringan yang meluas jauh keluar dari fisik budaya. Dalam hal ini yang digambarkan budaya bukanlah suatu bagian dari negara atau budaya dunia yang satu, namun di sini cukup jelas dapat mengidentifikasikan proses global, integrasi dan disintegrasi budaya, yang terlepas dari hubungan antar negara. Globalisasi yang mengalami percepatan pada era modernitas akhirnya menjadikan metafora perjalanan begitu relevan karena semua yang lokal kini mampu dipengaruhi.

Makna ekonomi seni pertunjukan Balaganjur dari aspek sistem sosial adalah munculnya Balaganjur sebagai komuditas pariwisata. Sebagian besar dari motivasi sekaa-sekaa Balaganjur adalah didasari oleh suatu kesepakatan sosio-ekonomis, dimana orientasi pasarnya adalah para wisatawan yang datang ke Bali. Sangat jarang ada pementasan Balaganjur yang mencari keuntungan finansial dari masyarakat lokal Bali.

Dikti Akan Menaikkan Besaran Beasiswa Mahasiswa

Setiap Penerima Mendapat Rp 4,8 Juta /Tahun

Sumber: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=126984

BANDUNG,(PR).-
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional akan meningkatkan besaran beasiswa Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM) serta beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) di tahun 2010 ini menjadi Rp 400 ribu per bulan per mahasiswa, atau menjadi Rp 4,8 juta per tahun. Sebelumnya, setiap mahasiswa penerima beasiswa PPA dan BBM menerima beasiswa sebesar Rp 250 ribu per bulan atau Rp 3 juta per tahun.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Kelembagaan Dikti, Hendarman, yang ditemui seusai menjadi pembicara dalam Seminar ”Scholarship for a Better Future” yang merupakan bagian dari kegiatan Education Festival yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Padjadjaran di Aula Unpad, Jln. Dipati Ukur Bandung, Rabu (10/2).

Menurut Hendarman, jumlah penerima beasiswa tahun ini mencapai 311.997 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Sementara untuk jumlah penerima per universitas akan sangat tergantung dari usulan yang disampaikan masing-masing perguruan tinggi. ”Nanti perguruan tinggi yang mengusulkan ke kita, selanjutnya akan kita sesuaikan dengan kuota yang tersedia. Namun kita upayakan agar semua perguruan tinggi bisa dapat beasiswa ini. Yang pasti kita akan tambah besarannya. Ini adalah program dari Pak Menteri agar disesuaikan dengan kebutuhan sekarang. Sudah diusulkan di APBN perubahan dan akan dibahas. Jadi nanti yang menerima beasiswa di tahun ini akan ditambah Rp 150 ribu,” ujarnya.

Yang terpenting, kata Hendarman, setiap perguruan tinggi harus memiliki database yang lengkap terkait kondisi mahasiswanya. Berapa jumlah mahasiswa tidak mampu yang berhak menerima beasiswa ini. ”Apalagi ke depan, sesuai dengan peraturan yang berlaku, setiap perguruan tinggi wajib menyediakan kuota 20 persen untuk mahasiswa tidak mampu,” ucapnya.

Dialihkan
Hendarman menambahkan, khusus untuk beasiswa Peningkatan Prestasi Ekstrakurikuler, mulai tahun ini akan dikurangi. Kalaupun perguruan tinggi masih mengajukan, alokasinya akan dialihkan ke beasiswa PPA dan BBM. ”Jadi kita akan fokus ke PPA dan BBM dulu, untuk ekstrakulikuler untuk sementara dialihkan dulu ke dua beasiswa ini,” ucapnya.
Sementara itu, terkait beasiswa bagi dosen untuk melanjutkan pendidikan S-2 atau S-3 di luar negeri, Hendarman mengakui bahwa permasalahan bahasa masih menjadi kendala yang membuat keterserapan dari beasiswa studi di luar negeri ini tidak optimal. Akibatnya, setiap tahun selalu ada beasiswa studi di luar bagi dosen yang tidak terpakai.
”Ada juga kasus lain walaupun sangat sedikit, yakni dosen yang enggan meninggalkan pekerjaannya di sini. Karena jika dia harus sekolah ke luar, artinya pekerjaan yang selama ini dia kerjakan di sini harus ditinggalkan. Sementara jika dia sekolah di luar belum tentu bisa memperoleh pekerjaan serupa.”

Oleh karena itu, pihaknya terus berupaya memacu agar dosen mau sekolah lagi. “Kita juga terus mengupayakan agar nama-nama dosen kita yang selama ini masuk di jurnal internasional tetapi menggunakan nama pribadi, mau memasukkan nama institusi pendidikannya di Indonesia ,” tuturnya.

Sementara itu, Staf Ahli Kantor Kerja Sama Unpad, Urip Purwono mengatakan, salah satu kunci utama untuk bisa meraih beasiswa luar negeri adalah kesiapan pada saat wawancara. Apalagi jika beasiswa tersebut bersifat kompetisi. (A-157)***

Penulis:

An Ethnomusicological Study Of The Belia Ceremony In Central Kalimantan

By Haryanto

Siang people, like other Dayak ethnic groups, believe in the presence of life after death. After a person dies, his or her soul begins its travel to a place called rowulio, a kind of purgatory, before finally arriving at heaven. The soul has the same form and face as in its previous life, but cannot be seen by the living ones.

However, the soul can still have a relationship with the living ones, for example through dreams or if called up by a magician or medium named Basi (shaman). There are not only good and helpful souls, but also bad spirits called ontu or ghosts. The ontu usually lives in a big tree, river, grave or mountains. This ghost spirit frequently disturbs humans. When this occurs, the Siang people hold a ceremony, at which they always serve ritual food as an offering to it. The good soul, on the other hand, usually lives around the house before leaving for heaven or batang talla bulan (Siang language).

Despite their logical and critical thought, mythological thought still plays an important role for Dayak ethnic groups in general and Siang people in particular, specifically when facing some unexplainable occurrence whilst working on the farm, making a fence to protect their plants from animal attack, or in formulating traditional medicine to cure a disease and so on. If an undertaking fails, they attribute it to mythology, as they believe failure is a punishment or disturbance from surrounding spirits, and that such spirits must be paid with a worship ceremony, for example the belian ceremony.

The belian ceremony itself is currently under threat due to several issues. The younger generation are generally not interested in learning the music and continuing the tradition. The influence of Christianity is having a negative effect in that the religion forbids use of the ceremony as a means of cure. The associated introduction of Western pharmaceuticals to treat ailments has strongly influenced society, to the extent that many societal members favor their use over traditional medicine. There is a danger that the belian ceremony may become lost, and hence Siang society will also suffer the loss of the music associated with it, an aspect of the culture important to Siang identity.

I thus conducted a study to determine more about the belian ceremony from an ethnomusicological perspective. The purpose of this study was thus to describe the ethnography of the music of Siang society, which until now has remained unknown to outsiders. The goal of the study was based on the question: What do the Siang people think of the belian ceremony?

This research is related to earlier studies conducted on the music of the Dayak peoples, which were undertaken in East Kalimantan (1994-1995 – under the guidance of Prof Takashi Shimeda). The study reported here was undertaken in Central Kalimantan (Tanah Siang district) by myself as a sole researcher. In conducting the research, I obtained data from society members by observation, participation and from institutions of the Tanah Siang sub-district government, in addition to undertaking bibliographic research to supplement the data. Data obtained from the society were collected by interview with basi, the Head of traditional custom, the Head of the Kaharingan religion, kandan singers, a society pioneer, parents and youths. I also documented some photos and cassette recordings.

In mudra special edition 2007, download

Loading...