M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Sejarah Karawitan Bali di Yogyakarta

Sejarah Karawitan Bali di Yogyakarta

Oleh I Ketut Ardana

Ujian TA Seni KarawitanKarawitan Bali sebagai bagian dari seni musik tradisional (etnis) Indonesia telah berkembang pesat. Salah satu fenomena seni yang dapat mengindikasikan wacana tersebut di atas adalah banyaknya bermunculan group-group karawitan Bali di Bali, seperti sanggar printing mas, sanggar saraswasti, sekehe gong kencana wiguna, dan lain-lain. Berdirinya group-group karawitan Bali bahkan sampai ke luar Bali antara lain : Jepang(sekar jepun), Amerika Serikat (Sekar Jaya), Jerman (Kacau Balau), Jakarta, dan Yogyakarta. Perkembangan ini disebabkan antara lain: 1) budaya Bali yang tidak dapat dipisahkan dengan kesenian khususnya seni karawitan, seperti misalnya agama dan adat-istiadat Bali. 2) sikap terbuka masyarakat Bali yang selalu mampu mengkomparasi karawitan Bali dengan idiom-idiom musik atau karawitan Jawa (gending gambang suling). 3) sikap-sikap kreatif para seniman Bali yang selalu memberikan wajah-wajah baru dalam khasanah gending-gending karawitan Bali. 4) nuansa karawitan Bali khususnya gending-gending kebyar bersifat enerjik, keras, dan dinamis. Selain itu, keterkaitan antara upacara agama Hindu yang diklasifikasi dalam panca yadnya dengan karawitan Bali berdampak pada kehidupan karawitan Bali di luar Bali yaitu di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Orang-orang Bali yang merantau ke Yogyakarta selain berbekal tekad yang kuat untuk merintis karir secara ekonomi, bersekolah, juga membawa budaya dan pemikiran-pemikiran kreatif sebagai orang Bali. Oleh karena itu, peta perkembangan karawitan Bali di Yogyakarta cukup signifikan. Pada tahun 1953 pemerintah Daerah Bali mendirikan Asrama Putra Bali di Jalan Mawar no 2 Baciro Yogyakarta yang bernama Asrama Saraswasti, diresmikan pada tahun 1954. Asrama ini kemudian dijadikan pusat kegiatan untuk seluruh warga Bali yang ada di Yogyakarta, mulai dari kegiatan kesenian, olah raga, dan kegiatan keagamaan. Seiring dengan adanya sekretariat kegiatan orang Bali di Yogyakarta, maka dengan alasan sosial kemasyarakatan dibentuk sebuah organisasi yang menaungi orang-orang Bali di Yogyakarta. Organisasi itu bernama Keluarga Putra Bali (KPB) Purantara Yogyakarta. Sama halnya dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan yang lain, secara struktural kepengurusan KPB terdiri dari : ketua umum, wakil ketua umum, bendahara, sekretaris, ditambah dengan seksi-seksi seperti seksi kesenian, seksi upacara, dan lain-lain. sampai sekarang jumlah anggato dari KPB sudah mencapai ratusan kepala keluarga. Ada yang sebagai pengusaha, polisi, buruh, dosen, serta seniman. Meskipun memiliki bakat atau keahlian yang berbeda-beda namun masyarakat KPB menyempatkan diri untuk belajar bermain karawitan Bali khususnya gamelan. Adanya suatu oraganisasi yang menaungi masyarakat perantau dapat memberikan kebebasan ruang kepada masyarakat Bali di Yogyakarta untuk mengekspresikan budayanya. Sebuah budaya adiluhung sebagai identitas etnis asalnya.

Masyarakat KPB yang kebanyakan menganut agama Hindu bersama-sama, berbaur, bekerjasama dengan masyarakat Yogyakarta asli yang beragama Hindu dan para mahasiswa Hindu melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan mulai dari upacara piodalan di pura-pura di Yogyakarta maupun melakukan perayaan tahunan upacara nyepi yang terpusat di Candi Prambanan Yogyakarta. Agama sebagai garis vertikal yang menghubungkan tuhan dengan umatnya memberi suatu dampak positif terhadap kesenian. Ada anggapan bahwa ngayah dengan bermain gamelan dan menari merupakan sebuah doa sebagai umat beragama Hindu. Anggapan tersebut memberi motivasi yang kuat kepada masyarakat untuk belajar seni.  Oleh karena itu, pada tahun 1963 KPB Purantara membentuk sanggar tari Bali serta group karawitan Bali. Selain itu, pola pikir terhadap pengembangan budaya khususnya kesenian juga menjadi faktor kehadiran sanggar tari dan karawitan.

Sampai saat ini di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat lebih kurang 9 barung gamelan Bali, yaitu 1 barung gamelan gong kebyar, 1 barung gamelan semaradana, dan 1 barung balaganjur dimiliki oleh asrama Saraswati; 1 barung gamelan gong kebyar, 1 barung gamelan gong gede, 1 barung gamelan semar pagulingan, 1 barung gamelan gender wayang dimiliki oleh Institut Seni Indonesia Yogyakarta; 1 barung gamelan gong kebyar dimiliki oleh SMKI Yogyakarta; dan 1 barung gamelan semaradana dimiliki oleh Bapak I Wayan Senen. Dari sekian banyaknya barungan gamelan hanya 2 sekehe gong yang eksis sampai sekarang, yaitu sekehe gong Sarawati dan sekehe gong Arya Kusuma sekehe gong asrama saraswati anggotanya kebanyakan yang terlibat adalah para mahasiswa dari Universitas UKDW, Universitas Gadjah Mada, AKAKOM, ISI Yogyakarta, serta beberapa dari anggota KPB Purantara. Dengan demikian keanggotaan sekehe gong asrama saraswati bersifat sementara. Ketika para mahasiswa itu lulus maka mereka meninggalkan Yogyakarta sekaligus keluar dari anggota sekehe dan digantikan oleh mahasiswa baru. Dari tahun ke tahun regenerasi keanggotaan sekehe gong asrama saraswati lebih banyak dari orang yang keterima sebagai mahasiswa baru di lingkungan universitas se Yogyakarta. Seperti itulah keberadaan sekehe gong asrama Saraswati.

Seni Lukis Kontemporer

Seni Lukis Kontemporer

Oleh Ni Made Purnami Utami

Bhendi YudhaPengertian “Kontemporer” dibandingkan dengan istilah modern. Kontemporer sekedar sebagai munculnya perkembangan seni rupa sekitar tahun 70-an dengan menempatkan seniman-seniman Amerika seperti David Smith dan Jackson Pollok sebagai tanda peralihan. Udo Kulterman seorang pemikir Jerman mengatakan bahwa pengertian kontemporer dekat dengan pengertian post modern dalam arsitektur, munculnya era baru dalam ekspresi kesenian. Paham baru ini menentang paham modern yang dingin dan berpihak pada simbolisme instink (Dharsono, 2004). Sumartono menjelaskan, ada dua pengertian “seni rupa kontemporer” yang berlaku di Indonesia: 1). Pengertian yang beredar secara luas dimasyarakat, ‘seni rupa kontemporer’ bisa berarti seni rupa kontemporer bisa berarti seni rupa modern dan seni rupa alternatif, seperti: instalasi, happenings,dan  performance art , yang berkembang di masa sekarang. Instalasi adalah karya seni rupa yang diciptakan dengan menggabungkan berbagai media, dengan membentuk kesatuan baru, dan menawarkan makna baru. Karya instalasi tampil secara bebas, tidak menghiraukan pengkotakan cabang-cabang seni menjadi ‘seni lukis’ seni patung, seni grafis, dan lin-lain. Instalasi bisa saja mengandung kritik, sindiran atau keprihatinan. 2). Membatasi seni rupa kontemporer hanya saja pada seni rupa alternatif, seperti instalasi, happenings, performance art, dan karya-karya lain yang menggunakan kecendrungan bertentangan dengan seni rupa modern. Seni rupa kontemporer adalah penolakan terhadap seni rupa modern. Istilah kontemporer cenderung mengarah untuk seni rupa kontemporer dalam pengertian yang kedua ‘antimodernisme’.

Moderinisme selalu mementingkan norma kebenaran, keaslian dan kreativitas. Prinsip tersebut melahirkan “tradisi of the new”  atau “ tradisi Avan Garde”, pola lahirnya gaya seni yang baru, sempat ditolak kemudian diterima masyarakat sebagai inovasi baru. Seni instalasi, happenings, performance art, dan karya-karya lain yang mengandung sindiran, kritik, ritual, ruwatan atau keprihatinan sebagai perkembangan seni rupa paling mutakhir. Seni rupa ini dekat kepada masyarakat. Tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat menyentuh berbagai aspek kehidupan dengan media dan teknik terbatas. Dalam seni rupa kontemporer setiap negara memiliki cara pandangnya sendiri – sendiri dalam menghadapi globalisasi berlandaskan etnisitas masing-masing. Karena seni rupa kontemporer bukan gerakan atau aliran, bukan mengejar identitas, tetapi merupakan refleksi masa tradisi.

Munculnya berbagai karya seni yang radikal sebagai reaksi terhadap modernisme, seperti yang ditunajukkan oleh Pop Art, Neo Dada, performance Art, Happening Art, dan Seni Instalasi. Sering kali karya-karya mereka hanya membuat shock pada penonton dari pada kesenangan estetik, karena wajah seni rupa sudah tidak terperikan. Wajah seni yang semakin beragam, dikenal sebagai pluralisme, merupakan paraktek kesenian yang memiliki prinsip saling bertentangan. Seni terkadang tidak bisa lepas dari ideologi politik dan diperalat untuk memperjuangkan kepentingan ideologi yang bersifat advokatif. Akibatnya banyak karya-karya seniman kontemporer yang hadir dengan penampilan radikal untuk menarik perhatian, mengangkat persoalan dan mereka yakin bahwa seni bisa dipergunakan sebagaia salah satu alat untuk perubahan sosial (Irianto, 2000).

seni modernitas yang telah dianggap menjadi konvensi-konvensi yang beku terhadap perkembangan zaman, perlu pencarian nafas baru yaitu seni kontemporer yang dianggap mampu membikin gerak dinamika dan sesuai dengan nafas zaman. Seni kontemporer tidak terikat oleh konvensi atau dogma manapun. Oleh karena itu ia arti kemampuan (anti segala konvensi, gaya, corak bahkan estetik).

Memasuki abad, kita dihadapkan berbagai masalah sosial, budaya, politik, ekonomi dan berbagai segi kehidupan yang terkait dengan moralitas. Maka munculah beberapa kelompok seniman muda mencoba menawarkan berbagai warna dalam berbagai bentuk “performance art, instalasi art, dan collaborasi art, sebagai pijakan berkarya. Mereka mengangkat idiom tradisi yang sarat ajaran budaya pluralis sebagai satu tawaran alternatif tarif, yang mampu memberikan berbagai makna universal dari sisi kehidupan  (Dhasono, 2004).

Kecedasan kreatif adalah kemampuan untuk memunculkan ide-ide baru, menyelesaikan masalah dengan cara yang khas, untuk meningkatkan imajinasi, prilaku dan produktivitas kerja (Buzan, 2002). Seniman kreatif selalu berusaha mencari nilai-nilai kebaruan pada saat mereka berhadapan dengan setiap obyek dengan sikap pandangan yang berbeda untuk mencapai originalitas yang tinggi.

Sunjoya (1976), menyatakan bahwa jenjang karya menurut Revesz dipilih sebagai berikut:

1. Karya reproduktif, adalah hasil dari meniru karya lain setepat mungkin.

2. Karya aplikatif, karya yang dipelajari diterapkan dengan penuh arti pada situasi dan kondisi yang dihadapi.

3. Karya interpretatif, karya yang dipelajari, mendapat tafsir pribadi, masih mengalami dan menghormati sumbernya.

4.  Karya produktif, karya asli yang belum pernah ada.

Darma Wanita ISI Denpasar Tengah Mempersiapkan Tari Cak Wanita

Darma Wanita ISI Denpasar Tengah Mempersiapkan Tari Cak Wanita

Usai pentas kecak di konjen RIGuna memperingati hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April nanti, Darma Wanita ISI Denpasar tengah memnpersiapkan tari Cak Wanita. Ide yang digagas oleh Koordinator Asti Pertiwi (Skaa tabuh wanita ISI Denpasar), Ni Ketut Suryatini, M.Sn ini sangat didukung oleh ketua Darma Wanita ISI Denpasar, I Gusti Ayu Srinatih, S.ST., M.Si. Menurutnya kegiatan ini sangat penting untuk menjalin keakraban dan kebersamaan antar anggota. Selain kegiatan rutin tahunan yaitu kumpul bersama dan mengadakan arisan, banyak kegiatan telah dilakukan oleh Darma Wanita ISI Denpasar diantaranya kursus membuat sanggul Bali serta kursus tata rias kecantikan. Sementara kali ini ide membuat garapan tari Cak Wanita adalah sebagai bentuk dukungan terhadap emansipasi wanita yang didengung-dengungkan selama ini. “Ini adalah bentuk nyata persamaan gender yang selama ini diwacanakan” ungkap istri Rektor ISI Denpasar ini. Sehingga pertemuan yang biasanya dilakukan sebulan sekali, kini akan lebih intensif yaitu seminggu sekali guna mendapatkan latihan tari cak yang lebih baik. Selain potensi kita adalah di lingkungan seni, tari Cak wanita ini mudah-mudahan mampu memberi inspirasi bagi yang lainnya.

Untuk latihan pertama dihadiri sekitar 40 anggota Darma Wanita ISI Denpasar, dari dua fakultas yaitu Fakultas Seni Pertunjukan dan Fakultas Seni Rupa dan Desain. Mereka berlatih dibawah bimbingan salah satu dosen Jurusan Karawitan ISI Denpasar, I Nyoman Kariasa. Walaupun tampak kaku namun semangat ibu-ibu untuk berlatih sangat tinggi. Tak luput celetukan-celetukan pun muncul disetiap sesi latihan yang menjadikan suasana keakraban muncul dari para anggota Darma Wanita ISI Denpasar.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Apresiasi Estetika  Etnis Multikultur: Studi Kasus Sanggar Tari  Lokananta, Singapadu

Apresiasi Estetika Etnis Multikultur: Studi Kasus Sanggar Tari Lokananta, Singapadu

Oleh Ketut Sumadi

Ujian TA Seni Tari 2009Keanekaragaman kebudayaan Indonesia yang didukung oleh 931 etnik, 600-an bahasa daerah dan ribuan aspirasi kultural (Mulyana, 2005 : 9),  maka dalam proses interaksi sebagai bagian dari negara kesatuan antar etnik tersebut diperlukan sebuah toleransi yang tinggi terhadap keberadaan kebudayaan satu etnis dengan etnis yang lainnya dalam kerangka nasionalisme kebangsaan, sebuah ideologi transetnis yang menjadi cita-cita bersama. Toleransi inilah yang nantinya bermuara pada konsep adaptasi budaya sebagai sebuah out put yang bijaksana dan bebas konflik.

Konsep adaptasi sangat berkaitan dengan persoalan lingkungan sebagai kunci dalam orientasi ekologi budaya. Adaptasi sering diartikan sebagai proses yang menghubungkan sistem budaya dengan lingkungannya. Mustahil berpikir tentang adaptasi tanpa mengacu pada sesuatu lingkungan tertentu (Kaplan,1999:112). Dalam masyarakat multietnik maka kecenderungan proses adaptasi budaya ini semakin tinggi, sebab mobilitas penduduk antaretnis sangat tinggi. Konsep adaptasi ini adalah sebuah proses penyesuaian suatu budaya terhadap budaya lainnya, dalam rentang waktu yang cukup panjang.

Adaptasi budaya antaretnis di Indonesia, saat ini mengharuskan kita untuk melihat perspektif kemajemukan dan adaptasi tersebut dalam konteks daerah atau lokal, nasional dan internasional atau lintas negara. Kemajemukan dan adaptasi antaretnis pada tingkat lokal pada umumnya terdapat di daerah perkotaan, khsususnya kota-kota besar. Kemajemukan ini disebabkan oleh terpusatnya kegiatan ekonomi, politik, industri terutama industri berteknologi tinggi, pusat kekuasaan/pemerintahan dan sebagainya. Sebagai konsekuensi dari tersentralisasinya segala kegiatan seperti itu, maka jumlah urbanisasi menjadi sangat tinggi dan sulit untuk membendungnya di samping itu kota juga merupakan tempat berbagai hal yang saling bertentangan (kontras). Kota merupakan pusat pendidikan, seni, ilmu pengetahuan dan pengobatan, kegembiraan, daya tarik dan “kemajuan”; sebaliknya daerah pedesaan dipandang sebagai tempat cara pandang kedaerahan, takhayul, kebodohan dan kefanatikan (Horton dan Chester L. Hunt,1989:151 dalam Dwija, 2007: 20).

Semboyan Bhineka Tunggal Ika dalam Pancasila, lambang Negara Indonesia, tidak bisa terbantahkan keampuhannya mengukuhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Budayawan Muji Sutrisno dan Taufik Rahzen  dalam Dialog Budaya (Metro TV: 2006) yang selalu menjadikan  Bali sebagai contoh studi kasus dalam pembicaraannya tentang multiculture dan culture studies. Muji Sutrisno misalnya, menyebut konsep kearifan lokal  desa, kala, patra dari Bali sebagai konsep tentang tempat, ruang dan waktu, bisa sejalan dengan pemikiran culture studies yang melahirkan sikap saling menghargai keragaman budaya dan mengembangkan  sikap toleransi untuk saling memahami makna budaya masing-masing daerah. Selain itu, orang Bali juga memiliki beberapa konsep untuk menjalin hidup bersama, saling menghormati, dan menghargai satu sama lain, seperti tat twam asi,  menyama braya,  sagilik saguluk salunglung sabayantaka, paras paros sarpanaya.

Taufik Rahzen  lebih berani menyebut Bali sebagai model tempat persemaian budaya global tanpa menggilas budaya lokal. Pendapatnya ini didasari atas  hasil pengamatannya  tentang teguhnya masyarakat Bali mempertahankan tradisi seperti ritual yang hampir tiada putus-putusnya. Disamping mengutif hasil penelitian orang asing yang mengadakan penelitian di  tiga tempat  yakni New York, Papua, dan Bali, dalam kaitannya dengan  teroris dan tragedi bom di Bali Oktober 2002. Ternyata,   dibanding New York dan Papua,  masyarakat Bali memiliki respons budaya yang sangat unik untuk bangkit dari tragedi, yakni bangkit dengan kearifan lokalnya,  dalam bentuk ritual, perenungan ke dalam diri dan tidak balas dendam. Sedangkan masyarakat New York dan Papua lebih memilih membela diri dengan balas dendam lewat invasi perang. Ini terlihat dari invasi militer Amerika dan sekutunya ke negara-negara yang diduga sebagai sarang teroris,  sedangkan di Papua  terjadi perang suku.

Kasus menarik patut dilirik aktivitas  Sanggar Tari Lokananta di Banjar Mukti Singapadu, Sukawati, Gianyar yang berdiri tahun 2001. Jumlah anak-anak yang belajar menari di sanggar ini tercatat 180 orang, namun yang aktif bisa mengikuti pelatihan setiap minggu dua kali yakni pada hari Jumat dan Minggu sore sekitar 100 orang. Yang tidak aktif karena banyak ikut kegiatan di sekolah, tapi jika mereka akan pentas atau ngayah menari, biasanya mereka minta jadwal berlatih secara khusus.

Di Sanggar Tari Lokananta ternyata tidak hanya diberikan pelatihan menari Bali, tetapi juga diberikan pelatihan tari-tarian etnis dari berbagai daerah di Nusantara. Menurut Ketua Sanggar Tari Lokananta, I Wayan Sutirtha, SSn, apresiasi seni etnis multikultur itu diberikan kepada anak-anak agar mereka lebih mengenal seni budaya yang beranekaragam di Indonesia. “Kami sejak dini  ingin menanamkan  semangat multikulturalisme, semangat saling menghormati dan menghargai seni budaya berbagai daerah di Tanah Air, sebagai ilmpelementasi dari konsep “Ajeg Bali” dan memperteguh  Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkap Sutirtha yang juga dosen ISI Denpasar ini. (Bali Post, 4 Februari 2007).

Kondisi bangsa yang memprihatinkan ini memang telah menjadi wacana hangat belakangan ini. Banyak orang, para seniman  termasuk Wayan Sutirtha, tergerak melakukan sesuatu untuk menyelematkan bangsa dengan cara dan kemampuannya masing-masing. Sebagai seniman tari yang telah beberapa kali mengantar Kabupaten Gianyar meraih juara satu dalam bidang tari kreasi pada Pesta Kesenian Bali, I Wayan Sutirtha kini mengajak anak-anak yang tergabung di Sanggar Tari Lokananta mencintai kebudayaan bangsanya melalui seni tari. “Kekayaan budaya Nusantara itu harus dikuasai oleh anak-anak kita, agar mereka menjadi insan yang mampu hidup penuh toleransi dan saling menghormati, menembus batas etnis  serta lapisan sosial,” katanya.

Namun untuk menumbuhkan semangat multikulturalisme  dan memahami budaya orang lain di kalangan anak-anak melalui kegiatan berkesenian, memang tidak mudah. “Diperlukan kesabaran dan ketekunan melatih mereka, karena olah tubuh dalam gerakan tarian itu masih asing, di samping itu mereka belum memahami nilai-nilai luhur yang ada dalam tarian itu,” ungkap Sutirtha  serius.  Syukurnya, anak-anak memiliki talenta seni yang bagus, sehingga gerakan tarian akhirnya bisa dikuasai meskipun kurang sempurna, seperti penari dewasa.

Dalam tahap awal pengenalan tari Nusantara itu, Wayan Sutirtha yang mendirikan sanggar tari sejak enam tahun yang lalu bersama istrinya,  Dwi Wahyuning Kristiansanti, S.Sn,  anak-anak diberikan Tari Saman, sebuah tarian dari Daerah Aceh yang gerakannya  sangat dinamis dengan suasana ceria. “Tarian ini  sangaja dipilih, sekaligus kita ingin mengajak anak-anak memberi dukungan semangat dan moral kepada anak-anak di Aceh yang ditimpa bencana gempa dan tsunami,” ungkap Sutirtha. Di samping  itu, anak-anak dilatih Tari Rantak, sebuah tarian daerah Minangkabau, Sumatera Barat. Tarian ini mendapat inspirasi dari gerakan Pencaksilat  yang tangkas, cekatan, dan penuh sukaria,  sehingga cocok bagi perkembangan dan jiwa anak-anak gemar  bermain dan periang. “Untuk melatih dua tarian ini perlu waktu cukup panjang, agar mereka tidak hanya hafal gerakannya, tetapi juga memahami budaya Aceh dan Minangkabau untuk menambah pengetahuan budaya yang mereka dapatkan di bangku sekolah,” ujar Sutirtha, ayah dua putra ini.

Tari Saman dari Daerah Aceh, dan Tari Rantak dari daerah Minangkabau, Sumatera Barat, yang dipersembahkan pada  puncak perayaan Hari Ulang Tahun Sanggar Tari Lokananta ke-6, tanggal 28 Januari 2007,  di samping tari Bali berupa Tari Kukus Arum dan Tari Cak Sunda-Upasunda, merupakan salah satu wujud  dari proses belajar anak-anak yang panjang dalam mengapresiasi estetika etnis multikultur di Indonesia. Karena itu, tema yang diusung pada  peringatan pada Hut ke – 6  Sanggar Tari Lokananta  itu yaitu “Dengan Semangat Multikultural, Kita Bersatu dalam Aktivitas Seni Budaya Menuju  Ajeg Bali dan Keutuhan NKRI “. Tema ini kedengarannya memang sangat bombastis, tetapi dalam perspektif kajian budaya, kita patut memberikan dukungan dan semangat, bahwa Sutirtha dan anak didiknya telah berbuat yang terbaik demi bangsa dan negara. Meski belum berjalan sempurna, proses belajar apresiasi estetika model Sanggar Tari Lokananta ini patut ditiru dan disebarluaskan.

Loading...