by admin | Feb 20, 2010 | Berita, pengumuman
Dibentuk Kelompok Keilmuan
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/20/04303159/prosedur.guru.besar.diperketat
Jakarta, Kompas – Prosedur pengajuan untuk menjadi guru besar di perguruan tinggi akan diperketat. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin kualitas seorang guru besar sehingga benar-benar memiliki keahlian keilmuan tertentu, bukan sekadar memenuhi persyaratan administratif.
Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh mengatakan hal itu kepada wartawan, Jumat (19/2) di Jakarta. ”Kebijakan ini bukan tiba-tiba dan bukan reaktif,” kata Nuh, didampingi Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi yang juga Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal.
Menurut Mendiknas, sejak dua bulan lalu, Kementerian Pendidikan Nasional mulai meninjau kembali sistem evaluasi persetujuan pemberian status guru besar. Selain itu, juga dibentuk peer group atau kelompok dengan bidang keilmuan yang spesifik. Kelompok itu bertugas meninjau karya ilmiah yang diajukan untuk kenaikan jenjang atau memperoleh gelar guru besar.
”Sebenarnya sekarang sudah ada tim penilai, tetapi kami ingin lebih memperketat lagi tim itu, tidak hanya dari aspek administratif, tetapi dipertajam dari aspek akademik keilmuan,” kata Nuh.
Bukti bahwa Kementerian Pendidikan Nasional sangat ketat dalam pemberian gelar guru besar, sambung Nuh, sepanjang tahun 2009 perguruan tinggi negeri mengajukan permohonan 986 calon guru besar. Namun, yang disetujui hanya 286 guru besar. ”Ini membuktikan, untuk menjadi guru besar sangat ketat dan selektif,” kata Nuh.
Penambahan guru besar di perguruan tinggi juga tidak terjadi lonjakan. Tahun 2008, misalnya, ada 3.439 guru besar di perguruan tinggi negeri (PTN), sedangkan pada 2009 ada 3.662 guru besar. Adapun di perguruan tinggi swasta, tahun 2008 ada 512 guru besar, tahun 2009 ada 573 guru besar.
Pemberian sanksi
Terkait dengan pemberian sanksi kepada guru besar yang melakukan pelanggaran akademik, Nuh mengembalikan masalah itu kepada pihak perguruan tinggi masing-masing. Pasalnya, penanganan penyimpangan dosen menjadi tugas tim kode etik di perguruan tinggi masing-masing.
”Pemerintah tidak dapat turut campur karena setiap perguruan tinggi telah diberikan otonomi,” ujarnya.
Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal menambahkan, jika terjadi pelanggaran, rektor bisa memberikan sanksi, mulai dari teguran, baik secara tertulis maupun lisan, penundaan pemberian hak-hak dosen, penurunan pangkat dan jabatan akademik, dan pemberhentian dengan hormat serta pemberhentian dengan tidak hormat.
”Itu hak otonomi setiap perguruan tinggi,” kata Fasli.(LUK/THY)
by admin | Feb 19, 2010 | Artikel, Berita
Oleh : (Drs. Rinto Widyarto, M.Si., Jrusan Tari, FSP ,DIPA 2007)
Abstrak penelitian
Penelitian ini adalah sebuah pengkajian seni tari, bertujuan untuk mengetahui dan memahami kreativitas seorang seniman tari dalam membuat karya tari baru. Sebagai sampel penelitian ini adalah koreografi karya-karya I Gst. Ngr.Supartha (Alm), kiat-kiat artistik dan faktor-faktor pendorong. Sebagai sebuah peneltian kualitatif, penelitian ini menggunakan pendekatan multi disiplin dengan alasan teori dari ilmu estetika, SDR (Stimulation-Drive-Response), n-Ach atau need for achieve-ment (psokologis) dan teori perubahan (antropologi). Semua inforasi yang disajikan dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancar mendalam, observasi, studi laboratorium dan kepustakaan.
Hasil analisis data menunjukan bahwa dalam proses berkreativitas I Gst. Ngr. Supartha mempunyai gaya individu sebagai identitas yang kuat tercermin pada karya-karyanya (estetika,desa kala, patra dan variasi perubahan yang lentur); trik-trik sebagai kiat artistik dari desain koreografi yang diperhitungkan; dan stimulasi berkarya sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.
by admin | Feb 19, 2010 | Artikel, Berita
Oleh : ( Drs. I Wayan Mardana, Jurusan Pedalangan, FSP, DIPA, 2006)
Abstrak Penelitian
Penghayatan karya sastra apresiasi seni adalah mata kuliah wajib yang harus ditempuh oleh mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar. Tjuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara kemampuan menghayati unsur-unsur intristik karya sastra dengan kemampuan mengapresiasikan karya seni mahasiswa ISI Denpasar. Proses Penelitian ini terlebih dahulu melakukan dengan pengumpulan data dari nilai penghayatan karya sastra dan nilai apresiasi seni ISI Denpasar. Data dari 50 orang tersebut merupakan sampel penelitian yang mewakili seluruh mahasiswa ISI Denpasar sebagai populasi penelitian. Selanjutnya nilai penghayatan sastra sebagai variabel bebas dan apresiasi karya seni sebagai variabel terikat, dianalisis menggunakan analisis statistik. Teknik uji hipotesis dalam statistik yang digunakan adalah koefisien korelasi produk momen pearson. Koefisien korelasi dalam perhitungan keduanya lebih besar, berarti hipotesis penelitian yang berupa alternatif adalah signifikan. Sebagai kesimpulan penelitian bahwa ada korelasi yang positif antara kemampuan menghayati unsur-unsur intristik karya sastra dengan kemampuan mengapresiasikan karya seni mahasiswa ISI Denmpasar.
by admin | Feb 19, 2010 | Berita, pengumuman
DIBERITAHUKAN KEPADA SEMUA MAHASISWA FSRD ISI DENPASAR YANG SUDAH MENGAJUKAN PROPOSAL TUGAS AKHIR SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2009/2010 UNTUK HADIR :
HARI/ TGL. : KAMIS, 25 PEBRUARI 2010
WAKTU : 10.00 WITA
ACARA : PENGARAHAN DARI PD I
TEMPAT : PUSDOK
DEMIKIAN KAMI SAMPAIKAN, ATAS PERHATIAN DAN KERJASAMANYA DIUCAPKAN TERIMAKASIH
PENPASAR, 19 PEBRUARI 2010
A.N DEKAN,
PEMBANTU DEKAN I
DRS. OLIH SOLIHAT KARSO, M.SN
NIP. 196107061990031005