M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Perkembangan Ornamen Pada Bangunan Di Kota Denpasar

Perkembangan Ornamen Pada Bangunan Di Kota Denpasar

Oleh : Drs. I Nyoman Parnama Ricor, Jurusan Desain, FSRD, DIPA 2008

Abstrak penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif, pengambilan data dilakukan dengan teknik sampel. Hal ini dilakukan mengingat banyaknya sampel dalam populasi sehingga tidak memungkinkan semua diambil disamping itu dukungan dana yang tidakmemadai. Untuk mengumpulkan data perkembangan ornamen di Denpasar dilakukan dengan teknik pengamatan terhadap subyek penelitian dengan memperhatikan tanda-tanda yang ada pada sumber data tersebut. .Dengan demikian pendekatan. Dapat dikatakan sebagai pendekatan semiotik. Dengan memperhatikan tanda-tanda tersebut dapat diketahui perkembangan ornamen pada bangunan tersbut, sehingga dapat dijelaskan antara bangunan yang baru. .sesuai dengan variabel dan tujuan penelitian yang diajukan, maka dapat dijelaskan sebagai berikut Perkembangan bahan/meterial banguan termasuk ornamen yang terjadi saat ini di Kota Denpasar mengalami keragaman bahan baku. Pada bangunan-banguan tua seperti pada banguan –banguan suci bahan-bahan yang digunakan hanya bata merah dan batu padas sebagai tambahan untuk penerapan ornamen ukiran. Namun kalau dilihat pada bangunan baru saat ini material bangunan tersbut lebih variatif,  selain bata merah dan batu padas, saat ini digunakan batu padas kerobokan yang sifatnya lebih kasar dari pada batu padas ukiran yang dikenal sebelumnya. Disamping itu juga digunakan material pasir laut hitam, di Bali dikenal dengan bias melila, dimanfaatkan sebagai ornamen pelinggih padmasana, ornamen angkul-angkul, penyengker, dan sebagainya. Perkembangan terkahir adalah pemanfaatan batu candi atau batu hitam sebagai bahan pelinggih, gapura, maupun penyengker suatu banguan suci.

Perkembangan motif ornamen yang paling menonjol kelihatan adalah pada bangunan bale kulkul, gapura an pelinggih. Hal ini nampak dari bangunan lama yang motif ukirannya tidak rapat, terkesan kaku, saat ini motif ukiran lebih luwes, rapat, rumit terkesan mewah. Motif-motif yang dikembangkan masih tetap sama seperti sebelumnya seperti karang asti, karang boma, karang tapel dan sebagainya, serta pepatran seperti patra sari, patra punggeln patra sambung, patra mesir, patra cina, emas-emasan dan lain-lain yang penerapannya dilakukan dengan teknik ukir. Dulu seorang pengukir adalah seorang penggagas motif sdangkan sekarang kebanykan pengukiur adalah seorang plagiator, yaitu seorang peniru dan penyebar motif dan style yang sudah ada. Dampaknya style ukiran dibeberapa tempat sama. Tidak ada kekhasan ukiran seorang tukang ukir atau kekhasan suatu daerah.

Pada banguan publik seperti sekolah dan perkantoran tidak terjadi perkembangan ornamen yang sioginifikan seperti yang terjadi pada gapura atau pelinggih. Penerapan ornamen hanya sebagai sebagai aksen pada beberapa tempat, wujudnya berupa pola-pola ornamen tanpa ukiran. Bahkan beberapa bangunan tampil polos dan sderhana namun tetap dapat memunculkan keindahan. Bangunan seperti itu keindahannya dapat dimunculkan dari bentuk dan karakter bahan yang digunakan. Namun beberapa publik yang membawa citra Bali menerapkan ortnamen ukiran yang sangat keltal seperti bangunan Art Centre Denpasar, BPD BaliJalan Gajah Mada Denpasar, dan Muium Bali Denpasar.

Eksistensi Tradisi Pertunjukan Wayang Lakon Bharata Yuda Dalam Upacara Bersih Desa Di Pandanan Klaten : Perspektif Budaya

Eksistensi Tradisi Pertunjukan Wayang Lakon Bharata Yuda Dalam Upacara Bersih Desa Di Pandanan Klaten : Perspektif Budaya

Oleh: Dru Hendro, S.Sen., M.Si., Jurusan Pedalangan, FSP, DIPA 2008

Abstrak Penelitian

Penelitian yang berjudul “Eksistensi Tradisional Pertunjukan Wayang Kulit Purwa Lakon Bratayuda Dalam Upcara Bersih Desa Di Desa pandanan Klaten : Perspektif Budaya” ini merupakan hasil kajian terhadap pertunjukan seni tradisional wayang dikalangan masyarakat Pandanan, Klaten. Kegiatan yang masih dianggap sakral ini, pada era Globalisasi ini telah mengalami perubahan seiring dengan perubahan sikap dan pola pikir masyarakat sekarang. Perubahan itu terjadi karena respon masyarakat terutama generasi muda terhadap kegiatan ritual dan salkral itu mulai berkurang, sehingga berpengaruh terhadap semaraknya penyelenggaraan kegiatan upacara ritual.

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah 1). Bagaimanakah bentuk pertunjukan wayang kulit purwa dengan lakon Bratayuda dalam upacara Bersih Desa yang diselenggarakan oleh masyarakat Pandanan, Klaten Jawa Tengah ? 2). Apakah pungsi pertunjukan wayang kulit purwa lakon Bratayuda dalam upacara Bersih Desa pada masyaraklat Pandanan, Klaten? 3). Apakah makna penyelenggaraan pertunjukan wayang kulit purwa dengan lakon Bratayuda dalam upacara Bersih Desa dengan kehidupan masyarakat sekarang? Dalam pembahasan ini digunakan teori Estetika untuk mengkaji bentuk pertunjukan wayang kulit purwa dengan lakon Bratayuda, teori Interaksionisme Simbolikuntuk membahas masalah fungsi seni pertunjukan wayang kulit purwa lakon Bratayuda pada masyarakat Pandanan, dan teori semiotika untuk menganalisa makna yang terkandung dalam pertnjukan wayang kulit purwa dengan lakon Bratayuda bagi kehidupan masyarakat Pandanan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, teknik pengumpulan data berupa pengamatan, wawancara, penelaahan dokumen, dan studi kepustakaan.

Pertunjukan wayang kulit dalam ritual Bersih Desa merupakan bentuk karya seni budaya nenek moyang yang secara budaya merupakan sinkritisme dari system religi, kepercayaan, dan adat istiadat. Proses ritual di dalam Bersih Desa merupakan bentuk system religi dan kepercayaan, sedangkan bentuk penyucian atau pelepasan denagn sajian pertunjukan wayang kulit purwa lakon Bratayuda merupakan proses pegalaman yang ditanamkan oleh lelluhurnya kepada keturunannya secara berkesinambungan sehingga masuk adat istiadat dalam ligkungan masyarakat Pandaan. Upacara ritual bersih desa sebagai bentuk religi ini masih dikembangkan sampai sekarang.

Fungsi pertunjukan wayang kulit bagi masyarakat Pandaan meliputi fungsi ritual, sosial, dan estetis. Fungsi-fungsi pada dasarnya sebagai jaringan interaksi sosial adanya rasa kebersamaan, rasa kekeluargaan, rasa solidaritas yang tinggi, dalam hidup di masyarakat. Sedangkan makna yang dapat diambil dari pertunjukan wayang kulit adalah makna estetis, makna spiritual, makna sosio-kultural, dan makna kesejahteraan.

Kata Kunci: Pertunjukan Wayang Kulit Purwa, Lakon Bratayuda, Ritual Bersih Desa, Budaya.

Seminar

PENGUMUMAN

DIUMUMKAN KEPADA SELURUH MAHASISWA KRIYA SENI UNTUK

MENGIKUTI SEMINAR SEHARI

INDUSTRI EMOSI & ENTREPRENEURSHIP : QUO VADIS

MANUSIA SENI RUPA INDONESIA

Oleh

Sitomorang Jr.

Alumnus Seni Rupa ITB

Pendiri Rokets Indonesia

Hari : Selasa

Tanggal: 30 Maret 2010

Jam : 10.00 Wita

Tempat : Pusdok ISI Denpasar

Ttd

Ketua PS. Kriya Seni

Drs. I Ketut Muka P., M.Si

NIP. 196112311993111001

Studi Desain Interior Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya (Bali Arya)

Studi Desain Interior Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya (Bali Arya)

Oleh: A.A. Gede Rai Remawa, M.Sn. Jurusan Desain, FSRD, DIPA 2008

Abstrak Penelitian

Desain interior adalah bidang ilmu baru yang sedang berkembang dan memiliki prospek yang cukup luas pada era modern ini. Semakin modern perkembangan budaya dan kehidupan maka bidang desain ini akan semakin diperlukan, untuk memberikan berbagai kemudahan berbagai aktivitas kehidupan di dalam rumah tinggal. Belakangan ini pembangunan dan renovasi rumah tinggal cenderung mengabaikan kaidah-kaidah estetika (tujuan akhir dalam bidang seni rupa dan desain). Hal tersebut terlihat pada penurunan derajat keberaturan unsur-unsur desain pada setiap desain interior  bangunan baik yang direnovasi maupun pada bangunan baru.

Fenomena desain interior masa lalu secara logis dapat dijadikan pengalaman untuk mengembangkan desain interior di masa yang akan datang. Ketaatan desainer masa lalu untuk mengikuti peraturan-peraturan bangunan terlihat lebih baik apabila dibandingkan dengan kondisi saat ini. Hal ini terjadi akibat kolektivitas budaya agraris yang membimbing masyarakat untuk tunduk pada peraturan dan ajaran (Hindu). Budaya ini bertentangan dengan era sekarang yang didominasi individualitas kapitalis yang mengabaikan aturan-aturan masa lalu. Dalam konsep Bali telah dirumuskan bahwa masa depan adalah akibat dari masa kini dan masa lalu yang dikenal dengan sebutan Tri Semaya (Atita, Wartamana dan Nagata).

Konsep ruang rumah tinggal tradisional Bali Madya (Bali Arya) adalah konsep ruang yang dikembangkan dari konsep ruang Bali Age (Bali Pegunungan) dengan konsep ruang era masuknya Majapahit ke Bali yang mengalami keemasannya pada masa Dalem Waturenggong. Konsep ruang ini diterapkan dengan mengutamakan fungsi dan lingkungan. Fungsi-fungsi ruangnya mengacu pada situasi dan kondisi aktivitas penghuni pada saat itu sehingga melahirkan konsep ruang seperti yang diwarisi sekarang. Keterbatasan waktu untuk melakukan penelitian maka sesuai dengan metode yang digunakan (purposive sample) maka Desa-desa yang dipilih adalah yang berada di Kecamatan Gianyar seperti: Sukawati, Gianyar, Blahbatuh, Tegallalang, Ubud, Payangan dan Tampaksiring.

Penelitian ini akan dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif yang dianalisis dari sudut pandang desain interior untuk mengetahui desain ruang Bali Madya dan melihat secara cermat tingkat keberaturan desain yang ada pada data lapangan dan dinilai secara visual. Pembuktian akan dilakukan dengan melihat konsep dan derajat keberaturan unsur-unsur desain pada desain rumah tinggal tradisional Bali Madya (Bali Arya) khususnya yang menyangkut keberaturan garis dan bidang. Pengkhususan penelitian ini dilakukan untuk memperdalam dan mempertajam penelitian sehingga diperoleh hasil yang  dapat  mengembangkan materi dasar untuk kepentingan konservasi, pengembangan pembangunan rumah tinggal dan pengkayaan materi pembelajaran.

Keyword: Konsep ruang, Bali Madya, dan Keberaturan

Loading...