by admin | Jun 18, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Drs. I Made Bendi Yudha, M.Sn
1. Proses Penciptaan
Dalam proses penciptaan karya seni lukis ini, diperlukan suatu metode untuk menguraikan secara rinci tahapan-tahapan yang di lakukan dalam proses penciptaan, sebagai upaya dalam mewujudkan karya seni. Melalui pendekatan-pendekatan dengan disiplin ilmu lain, dimaksudkan agar selama dalam proses penciptaan dapat dijabarkan secara ilmiah dan argumentatif. Dalam kaitan ini Sachari (2000: 223), menguraikan bahwa selama ini penelitian yang bersifat proses penciptaan dengan bahasa rupa dapat dikelompokkan dalam dua katagori, yaitu kajian estetik dan proses desain. Dalam kajian estetik jurus-jurus yang sering dipakai oleh seniman dan perancang dalam penggalian ide dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan: a). heurostik: spontanitas dan kreatif; b). semantik: metafor atau kepatutan; c). sinektik: analogi atau fantasi; d). semiotik: pengkodean atau penandaan; e). simbolik: pemaknaan atau penyimbolan; f). holistik: bersifat universal dan global; g). tematik: pendekatan tema tertentu; h). hermeneutik: tafsiran atau interpretasi.
Sehubungan dengan penciptaan ini, dalam proses penciptaan karya seni lukis ini menggunakan metode pendekatan semiotik, karena data-data yang akan dicermati dalam penciptaan ini berupa tanda-tanda. Sedangkan metode pendekatan hermeneutik dan simbolik digunakan karena data-data yang akan dicermati berupa interpretasi, dan berupa simbol-simbol. Sedangkan metode penciptaan yang digunakan dalam penciptaan ini adalah menggunakan teori Hawkins, karena metode tersebut dapat dipakai sebagai rambu-rambu yang menuntun dan mengarahkan pola pikir dan pola tindak yang lebih sistimatis. Hal ini akan lebih mempermudah langkah-langkah aplikasinya secara teknik, demikian juga dalam mengimplementasikan ide-ide dan tahapan penciptaan, sehingga persoalan-persoalan yang dilakukan dalam penciptaan ini dapat dideskripsikan dengan jelas serta dielaborasi secara optimal.
Hawkins dalam bukunya Creating Through Dance yang diterjemahkan oleh RM. Soedarsono (2001: 207), menyebutkan; penciptaan seni lukis dan seni tari yang baik, selalu melewati tiga tahap: pertama exploration (eksplorasi); kedua improvisation (improvisasi); dan yang ketiga forming (pembentukan atau komposisi). Dalam Hubungan ini Hadi (2003: 24,29,40) menterjemahkan, metode tersebut meliputi: eksplorasi, improvisasi, dan forming (pembentukan).Eksplorasi yang dimaksud dalam hal ini adalah sebagai langkah awal dari suatu penciptaan karya seni. Tahap ini termasuk berpikir, berimajinasi, merasakan dan merspon objek yang dijadikan sumber penciptaan; Improvisasi tahap ini memberikan kesempatan yang lebih besar bagi imajinasi, seleksi dan mencipta dari pada tahap eksplorasi.
Karena dalam tahap improvisasi terdapat kebebasan yang baik, sehingga jumlah keterlibatan diri dapat ditingkatkan. Dalam tahap improvisasi memungkinkan untuk melakukan berbagai macam percobaan-percobaan (eksperimentasi) dengan berbagai seleksi material dan penemuan bentuk-bentuk artistik, untuk mencapai integritas dari hasil percobaan yang telah dilakukan. Forming (pembentukan), tahap ini adalah suatu proses perwujudan (eksekusi) dari berbagai percobaan yang telah dilakukan.
Metode Penciptaan Simbolisasi Bentuk Dalam Ruang Imaji Rupa selengkapnya
by admin | Jun 18, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Ida Bagus Nyoman Mas, SSKar
Bentuk garapan adalah hasil dari pengolahan elemen-elemen musikal dengan pengaturan pola-pola tertentu. Pola-pola tersebut nantinya akan mengalami suatu pembentukan atau proses untuk mencapai komposisi. Pengertian bentuk dalam hal penciptaan komposisi karawitan Bali adalah bentuk karawitan menurut sifat garapannya, seperti klasik tradisi, klasik modern (kreasi baru) dan kontemporer.
Pada dasarnya garapan Cak Lubdhaka adalah bentuk drama-musikal “kreasi baru” atau klasik modern, suatu pengolahan komposisi yang telah memiliki pola-pola tersendiri dengan model pengembangan yang sudah ada serta mengutamakan motif-motif yang lebih dinamis dan bervariasi. Merupakan suatu perwujudan hasil kreativitas yang lebih mengutamakan nilai-nilai dan kebebasan individual. Kendatipun karya olah vokal ini dalam bentuk kreasi baru, namun dalam mengolah materinya masih bertitik tolak pada bentuk-bentuk seni tradisi, yaitu ada keterikatan pada pola yang sudah dianggap baku dan lebih mengutamakan nilai-nilai kolektif.
Menurut Soedarso (1972 : 20), seni tradisi adalah bentuk yang sudah memiliki pola-pola dan standarisasi yang baku sering dikategorikan sebagai seni klasik atau tradisional. Sedangkan kata modern berarti sesuatu yang berkaitan dengan gaya, metode atau gagasan terbaru, tidak ketinggalan zaman, dan berhubungan dengan trend dan aliran masa kini. Bentuk klasik atau tradisional dan kreasi baru atau modern, sesungguhnya saling membutuhkan, saling mendukung dan bahkan saling memperkaya. Untuk menghasilkan karya-karya kreasi baru para seniman tidak harus melepaskan diri dari seni tradisi. Perlu diingat, kesenian tradisional yang dijauhkan dari moderenisasi sama dengan membiarkan kesenian itu mati, dan sebaliknya kesenian modern yang lepas dari akar budaya tradisi akan menyebabkan kehilangan identitas budayanya.
Para seniman tidak membiarkan kesenian tradisi menjadi beku, dan untuk itu setiap generasi terus berusaha untuk melakukan inovasi terhadap kesenian tradisi milik mereka. Para seniman secara sadar, kreatif dan selektif memasukkan ide-ide kedalam kesenian tradisional yang mereka warisi sejak zaman lampau dengan tujuan untuk memberikan “nafas” baru yang dapat mendekatkan kesenian itu dengan masyarakat zaman sekarang.
Bentuk Karya Cak Lubdhaka Selengkapnya
by admin | Jun 18, 2010 | Berita
JAKARTA – Kapasitas mahasiswa di perguruan tinggi negeri dan swasta pada 2014 akan ditambah hingga 30 persen.
Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Fasli Jalal menyatakan, untuk mencapai target itu Kemendiknas akan memberikan hibah atau block grant kepada perguruan tinggi negeri dan swasta sebanyak Rp100 juta hingga Rp1 miliar. Hibah itu tujuannya menyehatkan mutu kualitas dan manajemen keuangan perguruan tinggi.
Dengan adanya hibah, tandasnya, maka perguruan tinggi semakin terpacu untuk menambah kapasitas disetiap fakultas. Tidak hanya hibah penjaminan mutu, Kemendiknas tetap akan memberikan beasiswa melalui Bidik Misi yang dibagikan kepada 20 ribu mahasiswa dengan total dana mencapai Rp100 miliar pada tahun ini. Tahun berikutnya, jumlah peserta akan ditambah dan dana akan meningkat antara Rp300 miliar hingga Rp1 triliun.
Mantan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) ini menambahkan, untuk mengejar target itu dosen harus bergelar pascasarjana (S2) dan doctor (S3). Lebih jauh Fasli menambahkan, saat ini fakultas yang patut ditambah kapasitasnya adalah fakultas bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA). “Saat ini jumlah fakultas di bidang MIPA ini masih di bawah 5 persen,” jelasnya saat sidak SNMPTN di SMAN I Bekasi.
Apalagi untuk fisika dan kimia merupakan program studi yang paling penting. Pasalnya, berbagai industri saat ini menggunakan rekayasa kimia.
“Selain itu, pemenang nobel pun sebagian besar merupakan orang-orang yang berkecimpung di bidang MIPA,” tegas Fasli.
Sementara itu, fakultas lainnya yang juga menjadi target pengembangan dan penambahan kapasitas Kemendiknas adalah bidang pertanian. “Alasannya, sebagian besar tenaga kerja di Indonesia bergerak di bidang pertanian. Bayangkan saja, hampir lebih dari 40 persen tenaga kerja kita bergerak di bidang pertanian,” sebutnya.
Sebelumnya, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh, juga mengatakan hal senada. Ada dua hal yang dapat dilakukan untuk menaikkan porsi penerimaan siswa baru di perguruan tinggi negeri.
Pertama, perguruan tinggi negeri harus menaikkan kapasitas daya tampung mahasiswa, misalnya yang tadinya satu program studi menerima 50 mahasiswa, jadi 70 siswa.
Kedua, menaikkan efesiensi lama pendidikan, yang tadinya 6 tahun untuk delapan semester, bisa diefisienkan atau diperpendek sehingga perguruan tinggi negeri bisa cepat menampung mahasiswa baru.
Pada sidak kemarin, Fasli mengakui masih ada kecurangan yang terjadi pada tes tulis SNMPTN. Masih ada peserta yang membawa handphone kedalam ruangan, ujarnya. Fasli mengatakan, kecurangan itu dapat diketahui panitia lantaran system pengamanan yang sudah berjalan. “Kalau ada yang melanggar, ya di hokum. Kalau ada joki dari universitas maka harus dipecat sebagai mahasiswa,” lugasnya.
Peserta sidak yang ditemui Fasli mayoritas memilih Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sebagai kampus favorit. Peserta memilih UNJ karena biaya pendidikannya yang lebih terjangkau. (Neneng Zubaidah/Koran SI/rhs)
Sumber: http://kampus.okezone.com/read/2010/06/17/373/344010/kapasitas-perguruan-tinggi-akan-ditambah-30
by admin | Jun 18, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: I Nyoman Suardina, S.Sn.,Msn
Dalam proses penciptaan karya seni kriya, tentu melalui berbagai tahapan. Tahapan tersebut harus terstruktur, dan sedapat mungkin menggambarkan suatu proses penciptaan yang teratur dan rasional. Maka diperlukan pendekatan atau acuan metode yang comparable dengan proses penciptaan yang dilakukan. SP Gustami, seperti yang disitir I Made Bandem dalam buku Metodologi Penciptaan Seni Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, mengajukan tigapilar penciptaan karya kriya. SP Gustami secara cerdik dan sadar telah …membuat proses penciptaan seni kriya itu melalui tiga pilar penciptaan karya kriya seperti eksplorasi, perencanaan, dan perwujudan. Tentu di antara tiga pilar utama proses penciptaan ini diikuti oleh proses antara seperti pengkajian sumber ide, perwujudan konsep, mendiskripsikan masalah, dan mencari solusi untuk kemudian menjadi perancangan yang diinginkan. Perancangan diteruskan dengan predisain, mendisain, serta mewujudkan model sebagai awal dari pembentukan akhir karya seni. Perwujudan diikuti oleh finalisasi karya seni konstruksi dan pengujian artistik, serta memberi asesemen sebelum karya kriya itu disosialisasikan kepada masyarakat. Proses seperti itu memberi gambaran dasar kepada setiap pencipta seni kriya dan guna memahami suatu proses penciptaan kriya seni yang di samping bisa dilaksanakan secara intuitif, proses ilmiah juga berlaku dalam sebuah penciptaan.( Bandem, 2001,: 3-4). Berdasarkan acuan metode penciptaan seni di atas, ada beberapa tahap penyelesaian yang dilakukan dalam penciptaan ini.
1. Eksplorasi
Judul atau topik ciptaan ‘Serikat Serangga’ berupa image kehidupan, digali dari hal-hal dan kejadian yang dialami dalam hidup, yang mengusik sanubari, dikiaskan dalam metafor didasari ide dan konsepsi pribadi. Dari faktor eksternal, sebagaimana yang telah dipaparkan dalam bab pendahuluan, bahwa hal-hal yang menghambat kemajuan bangsa seperti, korupsi, penipuan, kerakusan, dan lain-lain, ataukah sebaliknya hal-hal yang membawa kearah kemajuan, sepeti semangat kerja, gotong-royong, dan sebagainya, dipetakan dalam wilayah pikiran. Timbul kemudian imaji-imaji, sehingga pikiran menanggapi realitas itu dan ditafsirkan sebagai suatu metafor baru yang merupakan bagian dari layar kehidupan. Karena dimensi kehidupan ini begitu luasnya, sangat misteri dan menarik untuk diungkap, maka dipandang sangat tepat memilih ‘Serikat Serangga’ sebagai tema. Melalui kontemplasi mendalam, ‘Serikat Serangga’ diyakini dapat mewadahi pencitraan fenomena alam semesta yang memberi inspirasi dalam penciptaan.
Metode Penciptaan Serikat Serangga Dalam Penciptaan Seni Kriya selengkapnya