by admin | Aug 25, 2010 | Artikel, Berita
Oleh Ni Wayan Ardini, Dosen PS Seni Karawitan
Di samping penguasaan teknik suara sebagai aspek utama dalam bernyanyi, ada satu hal yang tidak kalah penting, yaitu penguasaan unsur-unsur yang berkenaan dengan penyajian serta pembawaan sebuah lagu. Diantara teknik penyajian dan pembawaan yang harus dikuasai antara lain:
a. Teknik Frasering
Frasering adalah aturan pemenggalan kalimat bahasa atau kalimat musik menjadi bagian-bagian yang lebih pendek, tetapi tetap mempunyai kesatuan arti. Tujuan frasering aialah pemenggalan kalimat, baik kalimat bahasa maupun kalimat musik dapat lebih tepat sesuai dengan kelompok-kelompok kesatuan yang berarti. Untuk melakukan frasering dengan baik, perlu diperhatikan hal-hal seperti berikut:
– Pelajari arti kalimat dan isi lagu secara utuh
– Temukan kalimat-kalimat musiknya secara lengkap
– Temukan frase-frase berdasarkan kalimat musik dengan tidak menghilangkan keutuhan arti kalimat lagu.
b. Teknik Penguasaan Isi Lagu
Penguasaan isi lagu berarti pembawaan dengan baik suatu lagu sesuai dengan jiwa dan makna lagu tersebut, misalnya lagu yang bersifat sedih, gembira, sehingga mampu menciptakan emosional dan daya imajinasi yang tepat.
c. Penguasaan tempat penyajian lagu
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penguasaan tempat penyajian lagu adalah, Posisi tubuh waktu berdiri:
Teknik PenyajianPembawaan Lagu selengkapnya
by admin | Aug 25, 2010 | Berita
Jakarta — Fotografi ternyata tidak sekedar gambar dua dimensi saja, tetapi bila dimaknai secara lebih mendalam. “Ternyata fotografi menyimpan kesempatan untuk membangun nasionalisme bangsa,” ujar Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal dalam sambutannya pada acara International 1st Indonesian Salon of Art Photography, Sabtu (21/08) di Hotel Atlet Jakarta.
Acara yang diselenggarakan oleh Lembaga Fotografi Candra Naya ini, merupakan perlombaan fotografi salon berskala Internasional. Tidak kurang 6.822 jumlah foto dari 730 peserta yang tersebar di 58 negara mengikuti ajang yang pertama kali diadakan di Indonesia ini.
Fasli menilai positif acara ini, sebagai bentuk konkret pembangunan karakter bangsa dan nasionalisme. “Dari foto-foto ini akan membangkitkan rasa nasionalisme kita. Dengan foto-foto tersebut kita bisa melihat kekayaan bangsa, sekaligus membangun kebanggaan kita,” ucapnya.
Melalui foto-foto itu pun, kita dapat mengabarkan banyak mengenai kekayaan yang dimiliki Bangsa Indonesia. “Dengan cara ini tentunya citra di Indonesia di mata dunia akan semakin baik,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Fasli juga mengatakan acara ini secara tidak langsung berfungsi membangun people to people diplomacy. Artinya masing-masing individu yang berbeda spasial di belahan dunia, akan saling terhubung dengan tidak tergantung bagaimana hubungan diplomasi antar negara.
Menurut dia, pemerintah akan mendukung acara tersebut menjadi acara reguler. Dengan adanya acara yang berkelanjutan, Indonesia akan menjadi anggota terhormat dan memiliki kepercayaan dari dunia. (yogi).
Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/2010/8/24/fotografi.aspx
by admin | Aug 24, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Saptono, Dosen PS Seni Karawitan
Kehidupan masyarakat di wilayah daerah Banyumas pada prinsipnya mengikuti sistem kekerabatan masyarakat Jawa. Dalam kehidupan keluarga, istilah kekerabatan ditunjukan dengan sistem klasifikasi berdasarkan angkatan-angkatan (Koentjaraningrat, 1984:330). Misalnya, kepada semua sodara kakak laki-laki dan perempuan dari ayah dan ibu, dipanggilnya sama yaitu dengan istilah uwa. Uwa lanang untuk panggilan kepada sodara tua atau kakak laki-laki dari ayah dan ibu, sedangkan istilah uwa wadon untuk sodara perempuan yang lebih tua dari ayah dan ibu. Bedanya untuk sodara yang lebih muda atau adik dari ayah dan ibu diklasifikasikan menjadi dua yang tergatung menurut jenis kelamin, jika laki-laki dipaggil dengan istilah paman atau pak lik dan jika sodara perempuan dipanggil dengan istilah bibi. Bagi sebagian besar masyarakat Banyumas secara akrab cukup dengan memanggil “uwane” atau “bibine”.
Untuk memupuk rasa persaudaraan dan kekeluargaan, hubungan antar warga untuk menunjang semangat gotong-royong juga merupakan prinsip dalam pola kekerabatan yang dilakukan oleh masyarakat Banyumas. Wujud dari semangat gotong royong merupakan konsep kerja sama yang dijunjung tinggi, hal ini sangat agrab dengan kehidupan masyarakat petani-agraris. Wujud dari semangat gotong-royong merupakan pengerahan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga untuk mengisi atau menambah kekurangan tenaga pada saat sibuk (Koentjaraningrat, 2002:56-7). Contoh kongkrit dalam masyarakat pedesaan di Banyumas adalah kesambat pada saat membuat batur rumah (dari tanah), atau mendirikan rumah tradisional yang terbuat dari bambu dan kayu. Kesambat merupakan bantuan tenaga dari sanak saodara atau dari tetangga-tetangga dekat untuk meluangkan waktu dan tenaganya untuk membantu keperluan tertentu.
Tempat tinggal warga yang ada didusun-dusun kebanyakan masih sangat sederhana, ada yang rumahnya masih menggunakan atap alang-alang atau daon (tetapi sekarang ini kebanyakan seng dan genteng), lantainya masih dari tanah, dan dindingnya gedek bambu atau dari papan kayu “belabak”. Bagi warga yang dianggap kaya biasanya rumahnya besar dan masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah “rumah bandung” (mirip dengan rumah joglo) sepeti rumah-rumah milik kepala desa atau lurah. Selain itu, kebanyakan rumah-rumah di dusun-dusun tidak diberi pembatas pagar, hanya saja batas pekarangan milik antar warga biasanya menggunakan “telajak” pagar dari tanaman.
Pola kekerabatan juga terjadi karena perkawinan, maka perkawinan merupakan seuatu yang sangat penting dalam kelangsungan hidupnya. Bagi masyarakat Banyumas, perkawinan tidak hanya dimaknai dengan menyatukan dua individu laki-laki dan perempuan menjadi satu yang disebut keluarga, akan tetepi lebih dari itu bahwa perkawinan bisa dimaknai sebagai penyatuan atau ikatan silaturahmi antar keluarga.
Pola Kekerabatan Masyarakat Banyumas Selengkapnya
by admin | Aug 24, 2010 | Artikel, Berita
Oleh Drs. I Gede Mugi Raharja, MSn
Berdasarkan hasil pengamatan dan pengkajian tentang desain interior rumah tingal era Bali Madya di lapangan, maka sebagian besar konsep ruang rumah tinggal tradisional era Bali Madya berdasarkan pola-pola ruang sanga mandala, swastika, serta mengadaptasi konsep pempatan agung atau catuspatha. Aplikasi filosofi Trihitakarana pada konsep ruang rumah tinggal tradisional Bali Madya, sangat jelas memperlihatkan pembagian area: Parahyangan untuk tempat suci (sanggah/ merajan); Pawongan untuk bangunan dan bale-bale; dan Palemahan untuk kebun/ teba. Bebagai aktivitas keluarga dilakukan di dalam satu area atau ruang yang dibatasi tembok pembatas atau penyengker. Berbagai jenis bale-bale berada di dalam tembok pembatas/ penyengker, seperti bangunan Bale Dauh, Paon (dapur) dan Jineng (lumbung). Area khusus untuk tempat suci (sanggah/ merajan) keluarga, terletak di area timur laut.
1. Orientasi Ruang
Orientasi ruang rumah tinggal tradisional era Bali Madya nampak mengacu pada konsep Andabhuwana (bumi), berarti konsep ruang yang berorientasi pada potensi alam setempat (local oriented). Orientasi ruang ini mengacu pada arah: Gunung-laut (arah: kaja – kelod); Terbit-terbenamnya matahari (arah: kangin – kauh). Berdasarkan konsep ini kemudian ditetapkan area/ zona yang paling suci sampai area/ zona yang paling provan, sehingga unit-unit bangunan ditempatkan sesuai dengan fungsinya. Ruang paling suci adalah di timur laut (kaja kangin) untuk tempat suci, area utara (kaja) untuk tempat tidur (Bale Daja/ Bale Meten), area timur (kangin) untuk balai upacara (Bale Dangin/ Bale Gede), area barat untuk bangunan anak remaja/ tamu (Bale Dauh/ Loji), sedangkan area selatan untuk lumbung dan dapur. Selanjutnya orientasi ruang pada desain interiornya juga menyesuaikan, sehingga hulu ruang balai upacara mengarah ke timur (kangin) dan hulu ruang tidur mengarah ke utara (kaja).
Konsep Ruang yang Mendasari Desain Interior Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya/Bali Arya I Selengkapnya
by admin | Aug 24, 2010 | Berita
Perth (Australia)– Setelah suskses menyelenggarakan pameran, agenda akademis selanjutnya yang ditampilkan delegasi ISI Denpasar adalah menyelenggarakan seminar dan workshop sehari, pada tanggal 18 Agustus 2010, bertempat di hall Fakultas ALVA Universitas Western Australia. Seminar Internasional diawali dengan pengenalan keberadaan Perguruan Tinggi Seni di Indonesia khususnya ISI Denpasar oleh Pembantu Rektor II ISI Denpasar, I Gede Arya Sugiartha, S.S.Kar., M.Hum., yang mewakili Rektor ISI Denpasar. Dilajutkan dengan seminar yang dibawakan oleh para dosen ISI Denpasar, diantaranya Dr. Drs. I Nyoman Artayasa, M.Kes dengan makalah berjudul ‘Ergonomics and Tri Hita Karana Conception in Balinese Traditional Houses’, Putu Agus Bratayadnya, S.S., M.Hum. membahas tentang ‘The Color Meaning in Kamasan Painting’ serta Nyoman Lia Susanthi, S.S. dengan makalah berjudul ‘The Analysis of Communicative Meaning in Kamasan Painting: a Case Study Within Bima Swarga.
Tampak para peserta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa dari Faculty of Architecture, Landscape and Visual Arts, University of Western Australia, sangat antusias mengikuti seminar. Mengingat content makalah yang dibawakan sangat menarik yaitu masing-masing pembicara menyelipkan local genius Bali diantaranya Lukisan Kamasan dan Konsep Tri Hita Karana.
Setelah seminar usai dilanjutkan dengan workshop tentang proses pembuatan lukisan Kamasan Bali, yang dibawakan oleh para dosen FSRD ISI Denpasar, diantaranya I Made Subrata, Ni Made Rinu, I Made Bendi Yudha, , I Wayan Kondra dan para dosen lainnya. Pada sesi inipun para peserta sangat tertarik mengikuti satu demi satu proses pembuatan Lukisan gaya Kamasan. Ketertarikan mereka tampak ketika usai kegiatan workshop para peserta masih betah untuk meneruskan lukisan mereka. Bahkan saking antusiasnya mereka ingin ke Bali untuk belajar lebih dalam tentang lukisan klasik Bali. “Ini pengalaman yang menarik bagi kami dapat belajar dan mengenal lukis wayang tradisional” ungkap Lina, salah satu mahasiswa Fakultas ALVA UWA.
“Melihat apresiasi civitas UWA terhadap kesenian Bali, saya cukup puas” kata Ni Made Rinu seusai menarikan memberikan workshop. Ini membuktikan ISI telah go Internasional” Imbuhnya.
Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Wayan Rai S., MA dilain kesempatan menanggapi dengan baik kerjasama ini dan mengharapkan realisasi kerjasama antara University of Western Australia dengan ISI Denpasar dan antara FSRD ISI denpasar dengan Faculty of Architecture, Landscape and Visual Arts University of Western Australia, sebagai langkah nyata untuk meningkatan akuntabilitas dosen dan Internasionalisasi kampus seni khususnya ISI Denpasar. Besar harapan ini mampu meningkatkan citra positif ISI Denpasar dan Bangsa Indonesia di tingkat Internasional. Dengan kerjasama ini juga dapat menambah networking kita di dunia dan diharapkan dapat memotivasi diri untuk mengasah kualitas dan kemampuan diri agar dapat bersaing di tingkat internasional.
Humas ISI Denpasar melaporkan
by admin | Aug 24, 2010 | Berita
Perth (Australia)- Sebanyak 29 karya digital seni lukis, kriya, fotografi, dan desain karya para mahasiswa dan dosen dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar tampil dikancah internasional dalam pameran bertajuk “Truly Bagus Exhibition” bertempat di Cullity Gallery, Faculty of Architecture, Landscape and Visual Arts (ALVA), The University of Western Australia (UWA). Pameran dibuka oleh Pembantu Rektor II ISI Denpasar, I Gede arya Sugiartha,S.SKar., M.Hum., pada tanggal 17 Agustus 2010, sekitar pukul 7 malam. I Gede Arya Sugirtha yang mewakili rektor ISI Denpasar menyampaikan bahwa saat ini kita tengah dihadapkan pada kompetisi kreatif yang sangat cepat dan ketat. Oleh karena itu, pencipta (seniman) harus meningkatkan daya imajinasi dengan idealisme konseptual, kualitas visual, apresiasi visual, komunikasi, pengetahuan global, teknologi, sejarah, tradisi dan elemen pendukung lainnya yang berhubungan satu sama lain. Dengan kolaborasi dua lembaga pendidikan ini (ISI Denpasar dan The University of Western Australia), mudah-mudahan beberapa aspek kreativitas dapat ditingkatkan melalui pengetahuan dan berbagi informasi antara dua lembaga. Kegiatan semacam ini penting selain untuk bertukar budaya, juga misi ini sebagai begian untuk menjalin hubungan baik antara dua negara, mampu meningkatkan daya saing bangsa, mencitrakan posistif Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Sementara Prof. Paul Trinidad (dosen UWA) yang menjadi penghubung dua istitusi ini menyampaikan uangkapan kerjasama ini sebagai bentuk realisasi dari kerjasama antara ISI Denpasar dengan University of Western Australia. Kerjasama (UtoU) ini sudah terjalin sejak 4 tahun yang lalu, banyak kegiatan sudah dilahirkan dari kerjasama ini, diantaranya pemeran “truly bagus” ini yaitu sebuah Bridge of culture (Jembatan kebudayaan) yang bermakna estetika yang tinggi. Sebagai Kurator bersama I Komang Arba Wirawan, S.Sn., M.Si., (dosen fotografi ISI Denpasar) mengungkapkan, Truly Bagus ini juga dipromosikan lewat website sebagai media promosi agar masyarakat dunia secara umum dan masyarakat Indonesia dan Australia pada khususnya dapat melihat karya mahasiswa dan dosen dari kedua Universitas, sehingga bisa memberikan input terhadap peningkatan kualitas karya, baik secara akademis maupun komersial.
Hal senada juga diungkapkan Dekan Fakultas ALVA UWA, Winthrop Prof. Simon Anderson. Pihaknya sangat mengapresiasi karya-karya seni dari ISI Denpasar, dan berharap hubungan kerjasama ini dapat terjalin secara berkelanjutan. Kerjasama ini menjadi titik awal hubungan dua istitusi yang nantinya dapat melahirkan banyak program kerjasama. Dinataranya dalam waktu dekat salah satu dosen dari Fakultas ALVA-UWA akan memberikan workshop di ISI Denpasar. Serta pada tahun 2011 nanti rencananya akan dilaksanakan program pertukaran mahasiswa serta dosen.
Pembukaan pameran dihadiri oleh perwakilan dari Vice Chancellor UWA, Kim Brown, Director of Culture Preanct Ted Snell, Dekan Fakultas ALVA UWA Winthrop Prof. Simon Anderson, PR III ISI Denpasar, Dekan FSRD ISI Denpasar, delegasi yang terdiri dari dosen dan mahasiswa dari ISI Denpasar, wakil Konsul Republik Indonesia di Perth, serta dosen dan mahasiswa dari UWA.
Dekan FSRD ISI Denpasar, Dra. Ni Made Rinu, M.Si., tidak bisa menyembunyikan rasa bangga dan bahagia atas terselenggaranya kegiatan ini. Pameran yang berlangsung hingga tanggal 3 September 2010, mendapat respon positif dari kalangan kampus UWA, bahkan kedatangan delegasi ISI Denpasar disambut hangat oleh Vice Chancellor UWA beserta jajarannya. Agenda kegiatan ISI Denpasar di UWA pun telah dipublikasikan keberbagai media nasional di Perth.
Suasana pembukaan pemeran terasa lebih berkesan dengan penampilan dua tari Bali persembahan ISI Denpasar. Dimana pada tari pembukaan menampilkan Tari Jauk Keras yang dibawakan oleh I Gusti Ngurah Darma Antara, mahasiswa FSRD ISI Denpasar, Jurusan Desain Komunikasi Visual. Walaupun tercatat sebagai mahasiswa FSRD namun kemampuannya menari mampu menghipnotis para pengunjung pameran. Ngurah pernah menyandang juara I Tari Jauk Manis dalam rangka Dies Natalis ke -6 2009, serta Juara III Jauk Manis dalam rangka Ubud Festival tahun 2006 serta pernah mengikuti misi kesenian ke Austria, Swiss dan Prancis pada tahun 2008. Sementara tari penutup dibawakan oleh dosen Jurusan Tari, FSP ISI Denpasar, Tjokorda Raka Tisnu, S.ST., M.Si., dengan tarian Topeng Tua.
Humas ISI Denpasar melaporkan