Foto: Pergelaran intermedium bertajuk Ananta–Mahaboga–Anantya dalam Pembukaan B-GAAD II 2025, Selasa (28/10) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Menandai pembukaan perhelatan Bali–Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) II, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali menghadirkan pertunjukan intermedium bertajuk Ananta–Mahaboga–Anantya, Selasa (28/10) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI. Pergelaran ini menjadi bagian dari program Bali–Global Performing Arts Map (B-GPAM) yang menampilkan kolaborasi lintas disiplin seni antara tari, musik, animasi, dan desain kostum.
Mengusung konsep “Bumi dalam memori peradaban Bali”, karya ini menghidupkan kembali mitologi Anantaboga, sosok naga raksasa penyangga dunia yang dipercaya sebagai simbol kemakmuran dan sumber kesejahteraan. Melalui metafora kosmik, pertunjukan Ananta–Mahaboga–Anantya menghadirkan pembacaan baru atas mitos tersebut dalam bentuk tari yang menghanyutkan sekaligus menggugah, memvisualkan tragedi alam yang merekah menjadi harapan kehidupan.
Foto: Pergelaran intermedium bertajuk Ananta–Mahaboga–Anantya dalam Pembukaan B-GAAD II 2025, Selasa (28/10) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Karya ini dikemas sebagai pertunjukan multi-medium, memadukan unsur gerak, animasi, dan kostum yang saling berkelindan membangun pengalaman visual dan emosional bagi penonton. Di bawah koordinasi Dr. I Gede Yudarta, SSKar., M.Si., karya ini melibatkan tim kreatif dari berbagai program studi di ISI BALI.
Karya ini dikemas sebagai pertunjukan multi-medium, memadukan unsur gerak, animasi, dan kostum yang saling berkelindan membangun pengalaman visual dan emosional bagi penonton. Di bawah koordinasi Dr. I Gede Yudarta, SSKar., M.Si., karya ini melibatkan tim kreatif lintas program studi di ISI Bali, mencerminkan kekuatan kolaborasi antardisiplin seni.
Salah satu elemen paling mencuri perhatian adalah kostum para penampil yang dilengkapi dengan lampu LED yang dapat menyala dan meredup mengikuti ritme gerak tubuh serta animasi di layar LED. Efek pencahayaan yang sinkron dengan visual digital ini menghadirkan sensasi dinamis seolah tubuh penari dan layar menjadi satu kesatuan hidup yang berinteraksi secara real-time.
Foto: Pergelaran intermedium bertajuk Ananta–Mahaboga–Anantya dalam Pembukaan B-GAAD II 2025, Selasa (28/10) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Pertunjukan ini juga menampilkan perpaduan apik antara gamelan Bali dan orkestra modern yang berfungsi sebagai pengantar dramatik sepanjang pergelaran. Alunan gamelan yang sarat nuansa spiritual berpadu dengan orkestra yang megah, menciptakan jalinan bunyi yang memperkuat atmosfer visual dan memperdalam makna karya. Pergelaran memberikan pengalaman multisensori yang menggugah, di mana tradisi dan teknologi bertemu dalam harmoni yang memukau.
Koreografi diciptakan oleh Kadek Diah Pramanasari, M.Sn. dan Ni Nyoman Ayu Kunti Aryani, M.Sn. Penataan kostum digarap oleh Ida Ayu Ari Mahadewi, M.Sn. dan Ni Putu Dyah Pradnya Candriasih, M.Sn., sementara visual animasi dikerjakan oleh I Wayan Agus Mahardika, M.Sn., I Made Hendra Mahajaya Pramayasa, M.Sn., Gede Lingga Ananta Kusuma Putra, M.Sn., Muhammad Ragil Zulkifly, Anak Agung Istri Kirana Maheswari, Andi Adytia Moh Firmansyah, I Gede Krisnayaka Saskara, I Kadek Angga Dwipayana, Armansyah Rizki Alfahkri, I Dewa Putu Nova Andika Putra, dan I Gede Mahendra Dana. Bidang music dan gamelan ditangani oleh I Wayan Diana Putra, M.Sn., Ni Putu Hartini, M.Sn., Guntur Eko Prasetyo, M.Sn., Putu Lukita Wiweka Nugraha Putra, M.Sn., serta I Gede Raditya Yudhistira, M.Sn. (ISIBALI/Humas)
Foto: Pembukaan Pameran Internasional B-GAME, Senin (27/10) di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud.
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) resmi membuka Pameran Seni Rupa Internasional Bali–Global Art Map Exhibition (B-GAME) pada Senin (27/10) di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud. Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian Bali–Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) II 2025, yang menghadirkan karya 66 seniman dari Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Malaysia, Jepang, Australia, dan Bangladesh.
Mengusung tema Tutur–Bhuwana–Tuwuh (Myths–World–Memories), pameran yang dikuratori Arif B. Prasetyo, Warih Wisatsana (Bali), dan Jeon Dongsu (Korea) ini menjadi ruang dialog kreatif yang mempertemukan pengalaman otentik, daya tahan, serta inovasi para seniman dalam menafsirkan mitos sebagai sumber pengetahuan dan kebijaksanaan bangsa-bangsa di kawasan Asia-Pasifik.
Foto: Pameran Internasional B-GAME, Senin (27/10) di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menjelaskan mitos dipahami bukan sekadar cerita masa lampau, tetapi juga sebagai cahaya yang menuntun hubungan manusia dengan alam. “Sebagaimana dikemukakan oleh Edith Hamilton dalam Mythology: Timeless Tales of Gods and Heroes (1969), mitos adalah cara manusia purba berpikir dan merasakan dunia—menghubungkan manusia dengan bumi, laut, pepohonan, dan gunung dengan kedekatan yang kini jarang dirasakan,” ujar Guru Besar Bidang Sejarah Seni ini.
Prof. Kun Adnyana menambahkan, tantangan seniman masa kini, sebagaimana ditegaskan dalam teori Alison George (The Brain, 2018), adalah bagaimana karya seni dapat menguatkan memori kolektif—bahwa dalam hitungan detik, seni mampu menarik perhatian dan menanamkan kesan mendalam. Melalui karya-karya yang dipamerkan, B-GAME 2025 berupaya memperkuat ingatan kolektif kita tentang komitmen bersama terhadap kemanusiaan, pelestarian budaya lokal, dan keseimbangan ekologis.
Dalam sambutannya, A.A. Gde Rai, pendiri ARMA, menyambut baik penyelenggaraan B-GAME yang kedua kalinya di ARMA. Ia mengungkapkan kebanggaannya bahwa ARMA kembali dipercaya menjadi tuan rumah bagi pertemuan seniman internasional, setelah sukses menyelenggarakan edisi pertama tahun lalu. Menurutnya, pameran ini tidak hanya memperkuat posisi Bali sebagai pusat seni rupa dunia, tetapi juga mempertegas peran seni sebagai jembatan lintas budaya dan lintas bangsa.
Foto: Pameran Internasional B-GAME, Senin (27/10) di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud.
Pameran B-GAME 2025 digelar di dua lokasi utama, yakni Agung Rai Museum of Art (ARMA) dan Komaneka Art Gallery, keduanya berlokasi di Ubud. Dua ruang ini menjadi peta baru relasi antara seni dan mitos, serta menegaskan peran keduanya dalam memperkaya ingatan dan nalar generasi masa kini.
Hadir dalam pembukaan tersebut Koman Wahyu Suteja, delegasi luar negeri B-GAAD II, jajaran pimpinan dan dosen ISI BALI, seniman, budayawan, serta mahasiswa.
Dalam kesempatan itu, Rektor ISI BALI menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para kurator, seniman, desainer, maestro, profesor tamu, media, mitra, serta seluruh panitia yang telah bekerja dengan penuh semangat, cinta, dan dedikasi. Pameran ini diharapkan menjadi simbol solidaritas dan penguatan platform Asia-Pacific Axis of Arts and Design Higher Education, serta memperkuat posisi Bali sebagai poros global seni dan kebudayaan kontemporer.(ISIBALI/Humas)
Foto: Pembukaan Pameran Desain Internasional B-GIDME di N-CAS ISI BALI, Senin (27/10)
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) kembali menghadirkan pameran internasional bertajuk Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2025, sebagai bagian dari rangkaian Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) II 2025. Pameran yang berlangsung di Nata Citta Art Space (N-CAS), ISI BALI, resmi dibuka pada Senin (27/10) olehRektor ISI Bali, Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana.
Mengusung tema besar “Tutur Bhuwana Tuwuh (Myths–World–Memories)”, Pameran yang dikuratori Tjok Istri Ratna CS dan Pande Made Artadi- Bali, serta Prof. Loyce Arthur-USA, menjadi ruang dialog dialektis yang mempertemukan pengalaman autentik dan pergulatan perspektif mengenai ketahanan serta inovasi dalam menafsirkan mitos secara bebas. Mitos dihadirkan sebagai warisan kebijaksanaan luhur bangsa-bangsa Asia-Pasifik, yang sejak zaman kuno telah menjadi jembatan antara manusia dan alam.
B-GIDME 2025 menampilkan karya 108 desainer terkemuka dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Jepang, dan India, yang secara khusus terpilih karena kemampuannya menafsirkan tema Myths–World–Memories melalui perspektif inovatif. Melalui karya-karya ini, diharapkan terbentuk memori kolektif yang memperkuat komitmen bersama untuk kemakmuran manusia, pelestarian budaya lokal, serta keseimbangan ekologi.
Tahun ini, ISI BALI memberikan perhatian khusus terhadap penyelenggaraan B-GIDME dengan melakukan renovasi besar pada ruang pamer Nata-Citta Art Space (N-CAS). Langkah ini menjadi wujud visi ISI Bali untuk menjadikan B-GIDME sebagai pameran unggulan yang mencerminkan inovasi desain terkini.
Selain itu, apresiasi tinggi disampaikan kepada para kurator, desainer, maestro, dosen tamu, mitra media, dan seluruh panitia yang dengan dedikasi, cinta, dan semangatnya menyukseskan penyelenggaraan B-GIDME 2025. Melalui pertemuan ini, ISI Bali berharap dapat memperkuat solidaritas serta memperdalam platform kerja sama pendidikan tinggi seni dan desain di kawasan Asia-Pasifik.
Pameran B-GIDME 2025 berlangsung mulai 26 Oktober hingga 26 November 2025diN-CAS ISI BALI. (ISIBALI/Humas)
Denpasar, 10 Oktober 2025 — Dharma Wanita Persatuan (DWP) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menyelenggarakan Seminar dan Workshop bertajuk “Pengolahan Sampah Organik menjadi Eco Enzym” pada Jumat, 10 Oktober 2025, bertempat di Gedung Desain Hub ISI Bali. Kegiatan ini menghadirkan Ni Wayan Yuli Ekayani, seorang Volunteer Eco Enzym, sebagai narasumber utama.
Acara diikuti oleh 125 peserta yang terdiri dari unsur anggota DWP, dosen, mahasiswa, serta tenaga kependidikan ISI Bali. Melalui kegiatan ini, DWP ISI Denpasar berupaya meningkatkan kesadaran sivitas akademika terhadap pengelolaan sampah organik yang ramah lingkungan sekaligus memberikan keterampilan praktis dalam mengolah limbah rumah tangga menjadi produk bermanfaat.
Dalam sambutannya, Ketua DWP ISI Denpasar menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen DWP untuk mendukung program kampus hijau dan berkelanjutan. “Kami ingin menanamkan kesadaran bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan. Melalui pelatihan pembuatan Eco Enzym, kami berharap muncul perubahan nyata dalam perilaku pengelolaan sampah di lingkungan kampus maupun rumah tangga,” ujarnya.
Narasumber Ni Wayan Yuli Ekayani dalam paparannya menjelaskan bahwa Eco Enzym merupakan cairan alami hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayur dengan gula merah dan air. Cairan ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, antara lain sebagai pembersih alami, pupuk cair, dan pengurai limbah.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi praktik langsung, yang dilaksanakan di Teba Modern yang dikelola oleh ISI Bali sebagai tempat pengelolaan sampah organik. Dalam kegiatan ini, peserta diajak membuat Eco Enzym menggunakan bahan-bahan sederhana dari sisa dapur. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan serta partisipasi aktif selama sesi seminar dan workshop berlangsung. Melalui kegiatan ini, diharapkan DWP ISI Denpasar dapat menjadi pelopor dalam gerakan pengelolaan sampah organik di lingkungan kampus serta menginspirasi masyarakat luas untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan
JATILUWIH, TABANAN, Program Studi Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, melaksanakan kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Pengabdian ini terlaksana dalam rangka pemberdayaan Kelompok Usaha Kecil Menengah (UKM) Tridatu Jatiluwih. Kegiatan yang berfokus pada pengembangan branding dan desain kemasan teh beras merah. Produk olahan unggulan dari beras merah cendana merupakan varietas khas yang hanya ditemukan di Jatiluwih. “Kami ingin teh beras merah tidak hanya dikenal sebagai minuman sehat, tapi juga sebagai duta budaya Subak,” ujar Ni Luh Desi In Diana Sari selaku ketua pelaksana kegiatan PKM ini. Pelaksanaan kegiatan pengabdian dilaksanakan berkolaborasi antara dosen dan mahasiswa. Dosen Desain produk yang terlibat Made Gana Hartadi, Ni Wayan Sri Wahyuni, Genial Nabilaisyah Firdauzi, dan Ni Ketut Pande Sarjani.
Pameran produk kemasan teh beras merah UKM Tridatu Jatiluwih
Desain kemasan sebagai strategi branding Teh Beras Merah Jatiluwih dirancang melalui pendekatan desain berbasis kearifan lokal. Tim pengabdian membantu mitra merancang kemasan yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga merepresentasikan identitas budaya Jatiluwih. Identitas budaya yang ditonjolkan khususnya sistem Subak dan lanskap sawah terasering yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Desain kemasan mengintegrasikan elemen visual seperti gunung, alur sawah dengan terasiring berundak, serta aktivitas matekap (membajak sawah tradisional), dipadukan dengan palet warna alami dan informasi produk yang lengkap.
Desain kemasan teh beras merah UKM Tridatu Jatiluwih
Melalui kegiatan diseminasi yang dilaksanakan minggu 19 Oktober 2025 bertempat di Monumen UNESCO Jatiluwih. Wisatawan mancanegara yang berkunjung memberikan respons positif terhadap pelaksanaan kegiatan. Banyak pengunjung menyatakan bahwa kemasan baru teh beras merah terasa lebih autentik, bermakna, dan layak dijadikan oleh-oleh khas yang mencerminkan keunikan Jatiluwih. Destinasi yang baru saja dinobatkan sebagai Best Tourism Village 2024 oleh UN Tourism.
Wisatawan membeli produk teh beras merah UKM Tridatu Jatiluwih
Selain desain kemasan, tim juga memberikan pelatihan pengemasan higienis, pembuatan tas kertas ramah lingkungan, serta strategi promosi digital kepada anggota UKM Tridatu. Harapannya, produk ini dapat menjadi ikon ekonomi kreatif berkelanjutan yang memperkuat posisi Jatiluwih sebagai destinasi wisata berbasis budaya dan keberlanjutan. Bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas lokal, diharapkan dapat menjadi wujud nyata peran ISI Bali dalam mendukung pelestarian warisan budaya sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui desain yang berakar pada nilai lokal.
Foto bersama dosen Program Studi Desain Produk ISI Bali dan pihak UKM Tridatu Jatiluwih
Foto: Pembukaan IIDSA6 di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen ISI BALI, Kamis (9/10).
Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Indonesia Industrial Design Student Award (IIDSA) ke-6, ajang apresiasi terbesar bagi mahasiswa Desain Produk se-Indonesia. Kegiatan ini diikuti oleh 21 Program Studi Desain Produk dari berbagai perguruan tinggi yang tergabung dalam Forum Program Studi Desain Produk Industri Indonesia. Pembukaan IIDSA6 berlangsung di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen ISI BALI, Kamis (9/10), dan secara resmi dibuka oleh Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, S.Sn., M.Sn.
Dalam sambutannya, Prof. Kun Adnyana menegaskan pentingnya penguatan keilmuan di bidang desain produk yang berpijak pada jati diri bangsa. “Yang terpenting, setiap insan akademika mengalami pengalaman keindonesiaan, kesadaran untuk menempatkan nilai, kearifan lokal, serta keragaman budaya Nusantara sebagai sumber inspirasi dan pijakan dalam merancang karya desain. Desain produk industri menyatukan semangat berpikir dan semangat perancang yang berakar pada budaya bangsa. Selamat untuk seluruh Program Studi Desain Produk di Indonesia atas gelaran IIDSA6,” ujar Guru Besar Bidang Sejarah Seni ini.
Sementara itu, Koordinator Program Studi Desain Produk ISI BALI, Wahyu Indira, M.Sn., menekankan bahwa IIDSA6 bukan sekadar ajang penilaian karya, tetapi juga ruang untuk menghargai mimpi dan proses kreatif generasi muda. “Dalam ajang ini, kita tidak hanya menilai, tetapi juga menghargai mimpi, proses, dan dedikasi generasi muda dalam menciptakan solusi desain yang berdampak bagi masyarakat dan industri. Kegiatan ini menjadi momentum untuk saling menginspirasi dan memperkuat kolaborasi antar mahasiswa desain produk di seluruh Indonesia,” ungkapnya.
Ketua Forum Desain Produk Indonesia, Dr. Guguh Sujatmiko, S.T., M.Ds. dari Universitas Surabaya (UBAYA) menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi wujud nyata semangat kolaborasi antara mahasiswa dan dosen pembimbing dalam mengembangkan desain produk yang relevan dan berdampak. “Melalui event ini, kita membangun semangat kolaborasi dan mengglobalkan desain produk Indonesia agar bermanfaat dan memberi kontribusi nyata bagi bangsa,” katanya.
Foto: Pembukaan IIDSA6 di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen ISI BALI, Kamis (9/10).
IIDSA6 berlangsung selama dua hari, 9–10 Oktober 2025, dengan rangkaian kegiatan meliputi pameran, seminar, talkshow, presentasi karya, awarding, launching buku, serta diskusi agenda forum tahun 2026. Selain itu, ISI BALI juga menjadi lokasi penyelenggaraan Pameran Nasional Desain Produk bertajuk “Desain Bertutur: Merangkai Bukti, Menjaga Tradisi Nusantara”, yang digelar di Ruang Vicon Gedung Citta Kelangen Lantai 2 ISI BALI.
Kegiatan IIDSA6 turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting di bidang desain produk, di antaranya Achmad Syarief, S.Sn., M.S.D., Ph.D. dari Institut Teknologi Bandung, Dr. Rahmawan Dwi Prasetya, S.Sn., M.Si. dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Dr. Zaki Saptiar Saldi, S.T., M.Eng. dari Universitas Pembangunan Jaya, Dr. Guguh Sujatmiko dari Universitas Surabaya, Ira Samri, M.Ds. dari Universitas Paramadina, Winta Tridhatu Satwikasant, Ph.D. dari Universitas Kristen Duta Wacana, serta Prananda Luffiansyah Malasan, S.Ds., M.Ds., Ph.D. dari Institut Teknologi Bandung yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Desain Produk Industri Indonesia (ADPII) Pusat.
Melalui penyelenggaraan IIDSA6, ISI BALI mempertegas perannya sebagai ruang pertemuan akademisi dan praktisi desain untuk mendorong lahirnya inovasi, memperluas jejaring, serta memperkuat posisi desain produk Indonesia di kancah nasional dan global. Kegiatan ini juga menjadi momentum bagi generasi muda desainer untuk menampilkan karya terbaiknya, memperkaya pengalaman kreatif, dan menumbuhkan semangat keindonesiaan yang berpijak pada kekayaan budaya Nusantara. (ISIBALI/Humas)