Program Studi Kriya Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) Pelatihan Pembuatan Keramik Dasar bagi anak-anak Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Badung tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Jalan By Pass Ngurah Rai Nusa Dua Kabupaten Badung Bali, Jumat (30/1). Kegiatan pengabdian ini diikuti oleh 15 orang anak-anak SLB dan dibimbing dosen-dosen yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Koordinator Program Studi Kriya ISI BALI, Dr. Ida Ayu Gede Artayani, SSn, M.Sn., pada pembukaan acara tersebut menjelaskan kegiatan pelatihan pembuatan keramik dasar ini merupakan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi bidang pengabdian yang rutin dilaksanakan setiap tahun dengan tema dan sasaran yang berbeda. Pelatihan ini bukan sekadar kegiatan praktik seni, namun merupakan media pembelajaran yang sangat kaya manfaat, khususnya bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Anak-anak dilatih untuk mengembangkan sensorik, motorik halus, konsentrasi, serta kepercayaan diri, melalui sentuhan tanah liat, proses membentuk, menekan, dan merasakan tekstur.
Lebih jauh Koprodi Kriya ISI BALI menjelaskan setiap karya yang dihasilkan adalah proses belajar, berekspresi, dan menemukan potensi diri. Setiap anak diyakini memiliki kemampuan dan keunikan masing-masing. Tugas pendidik, pendamping, dan institusi pendidikan menyediakan ruang yang aman, menyenangkan, dan bermakna agar potensi tersebut dapat tumbuh dengan optimal. Seni kriya, khususnya keramik, menjadi salah satu pendekatan yang inklusif dan humanis untuk mewujudkan tujuan tersebut. Pada akhir sambutannya diucapkan terima kasih kepada SLB Negeri 1 Badung atas kerjasamanya, serta berharap kegiatan ini memberikan pengalaman baru bagi anak-anak dan juga menjadi langkah awal untuk membuka peluang keterampilan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan di masa depan.
Pada acara pelatihan ini Kepala Sekolah SLB Negeri 1 Badung mengucapkan terima kasih kepada Prodi Kriya ISI BALI atas perhatian, kepedulian, serta kemitraan yang terjalin melalui kegiatan pelatihan ini. Kepala Sekolah SLB Negeri 1 Badung juga menjelaskan kehadiran Prodi Kriya ISI BALI merupakan bentuk nyata sinergi antara dunia pendidikan tinggi dan pendidikan khusus dalam menciptakan pembelajaran yang inklusif dan bermakna. Kegiatan pelatihan keramik dasar ini memiliki nilai yang sangat penting. Proses mengenal dan mengolah tanah liat tidak hanya melatih keterampilan berkarya, tetapi juga membantu mengembangkan kemampuan sensorik, motorik halus, fokus, serta rasa percaya diri. Anak-anak diberi kesempatan untuk berekspresi, belajar melalui pengalaman langsung, dan merasakan kebahagiaan dalam proses berkarya. Kepada sekolah ini berharap anak-anak didik dapat memperoleh pengalaman baru, guru dan pendamping juga mendapatkan wawasan tambahan yang dapat dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran ke depan.
Tahapan kegiatan PKM ini diawali dengan pengenalan bahan dan alat keramik, pengenalan teknik dasar pembentukan keramik manual, dilanjutkan dengan praktik pembuatan karya sederhana seperti tempat pensil, mangkuk kecil, atau bentuk bebas, finishing sederhana dan pengeringan. Peserta didik mengikuti kegiatan ini dengan semangat dan suasana gembira sehingga mampu membuat karya-karya yang cukup bagus sesuai kemampuannya.
Foto: Siswa SLB Negeri 1 Badung dan karyanya, Guru dan Pendamping, serta Dosen Prodi Kriya ISI BALI usai pelatihan, Jumat (30/1) di SLB 1 Badung
Foto: Hasil karya keramik, siswa SLB Negeri 1 Badung
Foto: Rektor beserta jajaran pimpinan ISI BALI meninjau pameran “Tuai Tabur”, Senin (26/1) di N-CAS ISI BALI.
Mahasiswa Program Studi Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) unjuk karya tugas akhir semester Gasal 2025/2026 dalam Pameran Seni “Tuai Tabur”. Pameran ini berlangsung 26 – 30 Januari 2026 di Nata Citta Art Space (N-CAS), ISI BALI. Dengan berbagai macam karya, beragam media, serta dipajang secara eksploratif, pameran ini sangat menggugah perasaan dengan 37 macam cerita yang disuguhkan.
Pameran “Tuai Tabur” dibuka secara resmi oleh Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, S.Sn., M.Sn., Senin (26/1). Pembukaan juga dihadiri jajaran Wakil Rektor, Dekan dan Wakil Dekan FSRD ISI BALI, Koordinator Program Studi Seni Murni dan Dosen-Dosen Program Studi Seni Murni.
“Tuai Tabur” yang ditulis oleh salah satu mahasiswa yang berpameran, Ashlesha Barde, melihat ini sebagai “metafora perjalanan panjang” dimana ia dan teman-teman sejawatnya telah “menanam ide, merawat proses, hingga memanen hasil” yang lalu dilanjutkan dengan “menabur kembali benih-benih baru” di proses penciptaan masing-masing perupa di tahap selanjutnya. Pameran yang berisikan mahasiswa Seni Murni angkatan 2022 ini dengan jelas memperlihatkan metafora ini. “Apa yang didapatkan lewat kampus, pengajaran lintas program studi, lanjut ke studi independen atau magang di luar, lalu tugas akhir – ini tidak sebagai akhir, tetapi untuk melangkah kedepannya juga,” ungkap Made Krisna Danendra, Ketua Panitia Pameran “Tuai Tabur”.
Foto: Mahasiswa Prodi Seni Murni ISI BALI tunjukan karya lukis dalam pameran “Tuai Tabur”, Senin (26/1) di N-CAS ISI BALI.
Janice Josephine Wartju, selaku Sekretaris Panitia Pameran “Tuai Tabur”, mengungkapkan bahwa teman-teman seangkatannya memang sangat terdorong dalam eksplorasi. Sejak pelajaran sketsa di semester pertama mereka diajarkan oleh dosen-dosennya untuk menggunakan alat dan bahan di luar kertas hvs dan tinta cina, bahkan kayu bisa digunakan untuk menyeket. Belum lagi dampak dari mitra dimana mereka menjalankan Program ISI BALI Berdampak, dari program ini ia dan teman-temannya ingin mengembangkan kemampuannya secara lebih lagi. Sebagai salah satu anak rantau di kelasnya, awalnya ia dan yang memiliki status yang sama, merasa ragu karena di Bali sangat nyeni, namun akhirnya mereka bisa mengikuti, menghadirkan warna dan identitas baru. “Orang-orang mungkin tahunya Seni Murni itu oh lukis, oh patung. Nggak kok, Seni Murni lebih dari itu!” Ungkap Janice.
Dari Janice dan Krisna saja, mereka memiliki cara ungkap yang berbeda serta memilih cara berkarya yang berbeda juga. Krisna yang saat menjalankan pengajaran lintas prodi akhirnya menemukan cara berekspresi lewat teknik cetak cukil. Ia lalu mencari mitra yang senada untuk Studi Independen Program ISI BALI Berdampak dan bertemu dengan BHG dimana ia mempelajari berbagai cara cetak manual. Dengan kesempatannya mencoba berbagai hal selama 9 bulan disana, ia ingin menceritakan tentang kecepatan serta kerapuhan informasi digital saat ini lewat berbagai teknik cetak manual. “Saya ingin mengangkat bentuk kenangan yang dicetak maupun yang dibagikan secara digital, dimana hari ini berbagai hal negatif bisa terjadi seperti scam dan doxing,” Krisna menjelaskan.
Janice yang masa kecilnya menjalankan terapi lewat menggambar menjadi tertarik untuk mengembangkan kemampuan ini lebih lanjut di jenjang kuliah. Di ISI BALI ia merasa mendapatkan banyak pelajaran dalam mengangkat tentang tradisi. Di awal Studi Independen Program ISI BALI Berdampak, ia mengembangkan cara berkarya secara digital bersama mitra perupa Gangga Saputra, namun menemukan potensi plagiarisme. Bimbingannya yang diberikan oleh Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana, S.Sn., M.Sn., dan Prof. Dr. Drs. I Wayan Karja, MFA, merujuk untuk membuat karya yang lebih besar secara manual serta eksploratif, dan akhirnya Janice memilih mengangkat sisi tradisi Tionghoa yang ia lebih kenal. “Sebenarnya saya lebih tertarik pada tradisi daripada digital juga, saya ingin memberitahu audiens bahwa tradisi itu tidak seburuk yang dipikirkan kok, ditambah budaya Tionghoa memiliki banyak cerita bermakna,” Janice berbagi.
Janice dan Krisna berharap dengan kolaborasi teman mereka, Made Chandra Putra Adnya, yang telah menjadi pengarah pemajangan atau display karya, dapat memperlihatkan sudut pandang yang berbeda terhadap hasil karya Tugas Akhir mereka kepada audiens yang lebih luas. Mereka juga berpesan pada adik tingkat dan mahasiswa baru kedepannya bahwa tidak ada yang salah dan janganlah ragu dalam eksplorasi karya serta pilahlah berbagai kritik dan saran yang diterima dari dosen maupun mitra. Diharapkan rasa guyub antar mahasiswa terus berkembang dalam inovasi dan berjejaring yang lebih luas lagi. “Janganlah independen dulu sebelum studi independen,” sebut Krisna.
Terakhir, Janice dan Krisna sama-sama merasa belajar banyak dari ISI BALI dan berharap kedepannya tidak berhenti belajar juga. Perspektif seni dan budaya yang didapatkan sangat luas. Pengalaman yang dibagikan Janice dan Krisna memperlihatkan betapa serunya belajar Program Studi Seni Murni di ISI BALI.
Foto: Pelantikan Pengurus Organisasi Kemahasiswaan di Lingkungan ISI BALI, Rabu (28/1) di Ruang Vicon, Gedung Citta Kelangen ISI BALI.
Rektor Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI), Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana, secara resmi melantik pengurus 29norganisasi kemahasiswaan (Ormawa) di lingkungan ISI BALI periode tahun 2026. Pelantikan dilaksanakan pada Rabu (28/1) bertempat di Ruang Vicon, Gedung Citta Kelangan ISI BALI.
Pengurus Ormawa tingkat institut yang dilantik antara lain Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) ISI BALI, Yasuke Yamamoto, mahasiswa Program Studi Animasi, didampingi Wakil Ketua I Made Randhawa Senna dari Program Studi Arsitektur. Selain itu, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ISI BALI, Muhammad Duroris Shohab, mahasiswa Program Studi Seni Murni, turut dilantik bersama Wakil Presiden Rais Zain Syafar dari Program Studi Arsitektur.
Pelantikan ini juga mencakup pengurus DPM dan BEM tingkat fakultas, pengurus Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), serta pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di lingkungan ISI BALI sebagai bagian dari penguatan tata kelola organisasi kemahasiswaan yang berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menekankan pentingnya sinergi dan itikad baik dalam menjalankan roda organisasi kemahasiswaan. Ia mengajak seluruh mahasiswa ISI BALI untuk memiliki semangat yang sama dalam memanfaatkan gelanggang yang telah disediakan oleh institusi serta berbagai ruang ekspresi lainnya. Menurutnya, keberadaan ruang-ruang tersebut harus dihidupkan melalui aktivitas kreatif yang berkelanjutan dan berdampak positif.
Lebih lanjut, Prof. Kun Adnyana menegaskan bahwa mahasiswa ISI BALI diharapkan senantiasa hadir dan bersinergi dengan masyarakat. Keterlibatan aktif mahasiswa dalam kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat bersama dosen dinilai penting sebagai wujud tanggung jawab akademik sekaligus kontribusi nyata perguruan tinggi seni kepada lingkungan sosial dan budaya.
Foto: Pelantikan Pengurus Organisasi Kemahasiswaan di Lingkungan ISI BALI, Rabu (28/1) di Ruang Vicon, Gedung Citta Kelangen ISI BALI.
Ketua Pelaksana Pelantikan yang juga Ketua DPM ISI BALI periode tahun 2025, Kadek Ongky Dwi Dhavinci, dalam laporannya menyampaikan, melalui pelantikan ini, estafet organisasi kemahasiswaan telah resmi dilanjutkan oleh para kepengurusan baru. “Momentum ini juga menjadi sejarah, dimana pertama kalinya pelantikan Ormawa digelar dibawah nama Institut Seni Indonesia Bali, menandakan awal baru dari sebuah perjalan panjang, perjuangan baru untuk mencetak pemikir kreatif dan pemimpin visioner melalui organisasi mahasiswa, guna menjunjung nama baik institusi di kancah dunia,” ujar mahasiswa Prodi Desain Komunikasi Visual ini.
Sementara itu, Presiden BEM ISI BALI periode tahun 2025, Kadek Eky Virji, menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh pengurus organisasi kemahasiswaan tahun 2025 atas dedikasi dan kerja keras yang telah diberikan. Ia berharap kepengurusan Ormawa periode 2026 dapat melanjutkan estafet kepemimpinan dengan penuh tanggung jawab serta menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui berbagai program kreatif.
Kegiatan pelantikan ini dihadiri oleh Rektor ISI BALI beserta jajaran Wakil Rektor, Dekan dan Wakil Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) dan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), serta para Pembina Utama dan Pembina Pendamping dari masing-masing organisasi kemahasiswaan.(ISIBALI/Humas)
Denpasar, Bali – Suasana penuh antusiasme mewarnai ruang screening ketika mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Indonesia (ISI) Bali menampilkan karya video animasi terbaru mereka. Karya-karya tersebut merupakan hasil eksplorasi kreatif mahasiswa yang memadukan keterampilan teknis dengan gagasan komunikatif, sehingga menghasilkan tontonan yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga sarat pesan sosial.
Foto : foto bersama screening video animasi mahasiswa Desain Komunikasi Visual.
Video animasi yang ditayangkan menampilkan beragam gaya ilustrasi dan teknik animasi, mulai dari pendekatan dua dimensi yang ekspresif hingga eksperimen tiga dimensi yang lebih dinamis. Setiap karya mencerminkan identitas kreatif mahasiswa sekaligus memperlihatkan kemampuan mereka dalam mengolah narasi visual yang komunikatif. Penonton yang hadir, terdiri dari dosen, mahasiswa lintas jurusan, serta stakeholder, memberikan apresiasi atas keberanian mahasiswa dalam mengangkat isu-isu aktual melalui medium animasi.
Screening ini bukan sekadar ajang pamer karya, melainkan bagian dari proses pembelajaran yang terintegrasi pada Mata Kuliah Animasi dalam kurikulum DKV ISI Bali. Pembuatan video animasi tersebut merupakan tugas Mata Kuliah Animasi yang dirancang untuk melatih mahasiswa dalam menguasai konsep periklanan, storytelling visual, serta keterampilan teknis produksi. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran yang nyata, di mana mahasiswa dapat menguji kemampuan mereka sekaligus menerima masukan langsung dari audiens.
Tema yang diangkat dalam animasi kali ini adalah iklan layanan masyarakat. Mahasiswa ditantang untuk menyampaikan pesan-pesan penting seperti kesadaran lingkungan, kesehatan, keselamatan berlalu lintas, hingga nilai-nilai budaya lokal. Melalui pendekatan kreatif, pesan-pesan tersebut dikemas dalam bentuk animasi yang ringan, mudah dipahami, dan mampu menyentuh emosi penonton. Hal ini menunjukkan bahwa animasi tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi dan kampanye sosial yang efektif.
Foto : salah satu karya Animasi mahasiswa Desain Komunikasi Visual ISI Bali.
Kegiatan screening ini diakhiri dengan sesi diskusi antara mahasiswa, dosen, dan penonton. Diskusi tersebut membuka ruang refleksi mengenai bagaimana animasi dapat menjadi sarana komunikasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa diharapkan tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga peka terhadap isu-isu sosial yang berkembang di sekitarnya. Dengan terselenggaranya screening ini, ISI Bali kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak desainer komunikasi visual yang kreatif, kritis, dan beretika. Animasi karya mahasiswa bukan hanya bukti pencapaian akademik, tetapi juga kontribusi nyata dalam membangun kesadaran sosial melalui media visual.
Foto: Fashion Show “Diversity of Indonesia #9 diseminasi tugas akhir Program ISI BALI Berdampak Semester Gasal Tahun 2025/2026 di Gedung Citta Kelangan Lt.3 ISI BALI, Sabtu (24/1).
Program Studi (Prodi) Desain Mode, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menggelar Fashion Show “Diversity of Indonesia #9”. Fashion show diselenggarakan dalam rangka diseminasi tugas akhir Program ISI BALI Berdampak Semester Gasal Tahun 2025/2026 di Gedung Citta Kelangan Lt.3 ISI BALI.
Pembukaan Fashion show, Sabtu (24/1) malam, dihadiri oleh ratusan tamu undangan, diantaranya Rektor ISI BALI, Prof Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana berserta jajaran pimpinan di lingkungan ISI BALI, Anggota DPD RI asal Bali Dr. I Gusti Ngurah Arya Wedakarna, dosen, dan tenaga kependidikan ISI BALI. Hadir pula perwakilan mitra berdampak ISI BALI, orang tua/wali mahasiswa, dan undangan lainnya.
Foto: Fashion Show “Diversity of Indonesia #9 diseminasi tugas akhir Program ISI BALI Berdampak Semester Gasal Tahun 2025/2026 di Gedung Citta Kelangan Lt.3 ISI BALI, Sabtu (24/1).
Ketua Panitia Fashion Show, Grace Febbythadewi Simbang , dalam laporannya menyatakan sebanyak 213 busana dari 71 mahasiswa ditampilkan dalam diseminasi tugas akhir Program ISI BALI Berdampak bertajuk Diversity of Indonesia #9 ini. Setiap mahasiswa menciptakan 3 karya busana, terdiri dari ready to wear, ready to wear deluxe, dan semi couture.
Untuk pertama kali sejak tahun 2016, fashion show ini diselenggarakn selama 2 hari, Sabtu (24/1) dan Minggu (25/1). Pada hari pertama, diperagakan 108 busana dari 36 mahasiswa, dan 105 busana dari 35 mahasiswa pada hari kedua.
Proses diseminasi tugas akhir ini melalui sejumlah tahapan yang panjang dan terstruktur, dimulai dari pengumpulan proposal dan seleksi desain, dilanjutkan dengan asistensi serta evaluasi bersama dosen pembimbing dengan dukungan mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Dalam proses penciptaannya, mahasiswa juga melakukan riset mendalam terhadap kekayaan budaya Indonesia, yang meliputi eksplorasi arsitektur tradisional, flora dan fauna Nusantara, serta nilai-nilai kearifan lokal sebagai sumber inspirasi desain. Tahap akhir dari rangkaian ini meliputi sesi pemotretan karya hingga pementasan busana pada perhelatan fashion show.
Grace menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada semua pihak yang telah mendukung acara ini. “Kepada pimpinan ISI BALI, para dosen, mitra DUDI yang sudah membimbing, pengisi acara, alumni, dan pendukung acara lainnya. Tanpa dukungan mereka, acara ini tidak mungkin berhasil,” ujar mahasiswa Prodi Desain Mode semester 7 ini.
Rektor ISI BALI Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana mengapresiasi dedikasi dan kerja keras mahasiswa dalam menyelenggarakan diseminasi tugas akhir semester gasal tahun akademik 2025/2026 ini. Ia menegaskan bahwa fashion show merupakan pilar utama dalam pendidikan dan praktik desain mode, karena menjadi ruang aktualisasi gagasan, kreativitas, serta profesionalisme mahasiswa. Menurutnya, kegiatan ini mencerminkan kualitas dan potensi generasi cemerlang dunia desain Indonesia yang tumbuh di lingkungan ISI BALI. (ISIBALI/Humas)
Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan (PSP), Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, berpartisipasi dalam kegiatan Seminar Pendidikan Seni bertema “Seni Pertunjukan Nusantara Sebagai Wahana Literasi Multikultural dalam Pendidikan Seni” yang diselenggarakan oleh Universitas PGRI Mahadewa Indonesia pada Sabtu, 24 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar dan diikuti oleh mahasiswa, dosen, akademisi dari tiga perguruan tinggi yakni Universitas PGRI Mahadewa, Institut Seni Indonesia Bali, serta Universitas Hindu Indonesia.
Keikutsertaan Prodi PSP ISI Bali dalam seminar ini merupakan wujud komitmen institusi dalam memperkuat pemahaman akademik mengenai seni pertunjukan Nusantara sebagai bagian penting dari literasi multikultural dalam pendidikan seni. Seminar ini menjadi forum strategis untuk membahas peran seni drama, tari, dan musik dalam pengembangan wawasan kebangsaan, keberagaman budaya, serta pembentukan karakter melalui pendidikan seni. Melalui kegiatan ini, dosen dan mahasiswa memperoleh ruang diskusi ilmiah untuk bertukar gagasan terkait pendekatan konseptual, metodologi pembelajaran, serta praktik pedagogis seni pertunjukan yang kontekstual dan relevan dengan dinamika sosial-budaya masyarakat Indonesia. Seni pertunjukan Nusantara dipandang tidak hanya sebagai ekspresi estetis, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, nilai, dan identitas budaya. Selain memperkuat wawasan akademik, seminar ini juga menjadi sarana penguatan jejaring dan kolaborasi antara akademisi dan praktisi seni. Interaksi lintas institusi diharapkan dapat mendorong sinergi dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di bidang seni pertunjukan.
Mahasiswa PSP sebagai penyaji seminar. Dokumentasi: Aditya Putra Nugraha, 2026
Kegiatan seminar akademik ini selain pengadaan seminar akademik juga dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerjasama dan Implementation Arrangement antara Fakultas Bahasa dan Seni Universitas PGRI Mahadewa Indonesia dengan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Bali serta Prodi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik dengan Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan dengan tujuan mendukung program Kampus Berdampak dengan mengimplementasikan program secara bersama melalui kolaborasi sumber daya yang dimiliki oleh prodi masing-masing perguruan tinggi.
Penandatanganan PKS dan IA Dekan Fakultas Seni Pertunjukan, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, Koorprodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Kaprodi Pendidikan Sendratasik. Dokumentasi: PSP, 2026
Partisipasi Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan ISI Bali dalam kegiatan ini sejalan dengan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi serta visi ISI Bali sebagai pusat pengembangan dan pelestarian seni budaya Nusantara. Kegiatan ini diharapkan memberikan kontribusi positif bagi peningkatan kualitas pendidikan seni yang berlandaskan nilai-nilai budaya dan multikulturalisme.
Foto bersama Kaprodi Prodi Pendidikan Sendratasik, Koorprodi PSP, dosen PSP serta mahasiswa PSP. Dokumentasi : Hartini, 2026