M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Dari Pameran ICT: Stand Pameran UPT. Puskom ISI Denpasar Jadi Favorit

Dari Pameran ICT: Stand Pameran UPT. Puskom ISI Denpasar Jadi Favorit

Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Denpasar telah sukses menggelar pameran ICT, Lomba ICT dan Workshop “Open Source”, bertajuk “IT Competition & Expo 2010” dengan sub tema: “Kebangkitan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menuju Denpasar Kreatif Berbasis Budaya”. Kegiatan tersebut terselenggara dalam rangka pelaksanaan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) yang ke-15 pada 10 Agustus ini. Sehubungan dengan hal tersebut ISI Denpasar diminta untuk turut berpartisipasi dan ikut serta dalam gelar pameran ITC atau Gelar Inovasi Teknologi. ISI Denpasar yang terbilang sekolah seni ini mampu berkiprah ditengah kebangkitan teknologi saat ini dibawah naungan UPT. Pusat Komputer (Puskom) ISI Denpasar. Lewat leader Poskom, ISI Denpasar tampil selama 3 hari (3- 5 September 2010) dalam ajang pameran tersebut, yang bertempat di depan Pura Jagatnatha.

Menurut Kepala UPT. Puskom ISI Denpasar, Hendra Santosa, S.SKar., M.Hum., ISI Denpasar yang memiliki dua fakultas telah memamerkan berbagai dokumentasi kegiatan ISI Denpasar baik foto maupun video. Pada kesempatan tersebut ISI Denpasar juga menampilkan berbagai layanan yang dimiliki yaitu Website, Blog, Mail, Help desk, Download Portal, Akses Internet/ Hotspot, Chat, E-Jurnal, Video Conference, Multimedia Database, Network Operation Control, Warnet Kampus, Forum, Multimedia Portal, Silabus Online, Sistem Informasi Akademik dan Mobile Akses.

Ka. Sub. Bag. UPT. Puskom ISI Denpasar, Ni Luh Dwi Gunawati, S.E., menyatakan tercacat sejak pameran berlangsung sekitar ratusan orang menunjungi stand pameran ISI Denpasar. Menurut beberapa pengunjung, stand pameran ISI Denpasar sangat menarik, karena mampu memberikan nuansa berbeda, mengingat ISI Denpasar dengan latar belakang jurusan non IT mampu ikut berperan serta dalam pameran yang bertemakan teknologi. Diharapkan dengan keikutsertaan ISI Denpasar dalam ajang ini, selain mampu untuk mempromosikan kampus, juga sebagai ajang untuk menunjukkan jati diri bahwa kampus seni ISI Denpasar mampu bersaing ditengah derasnya arus teknologi. “Niscaya ISI denpasar yang merupakan Kampus lokal tradisional memiliki format digital dan modern” ungkap Dwi Gunawati.

Humas ISI Denpasar Melaporkan

Elemen-Elemen Estetika Jemblung Dalam Aspek Bentuk, Fungsi, Makna

Elemen-Elemen Estetika Jemblung Dalam Aspek Bentuk, Fungsi, Makna

Oleh Saptono, Dosen PS Seni Karwitan ISI Denpasar

Estetik, dulu maupun sekarang merupakan suatu pengertian yang dominan dalam paham kebudayaan dan penghayatan kebudayaan di Indonesia.  Persoalannya apakah seni harus berpedoman pada ide keindahan universal, atau dia harus memperhatikan kelenturan ide keindahan dan tingkat penghayatan keindahan dari lingkungan terdekatnya?

AADjelantik, dalam bukunya “Estetika Sebuah Pengantar”, pengalaman estetic experience tercapai jika didalam diri manusia terbangun rasa puas, rasa senang, rasa aman, rasa nyaman dan bahagia. Dalam proses apresiasi karya estetis beliau membagi menjadi tujuh bagian, yaitu; 1) sensasi berupa rangsangan yang ditangkap oleh mata dan telinga yang menghasilkan rasa enak atau tidak enak; 2) presepsi berupa kesan terjadinya proses asosiasi, komparasi, diferensiasi, analogi dan sintesa; 3) impresi berupa kesan dan berkembang menjadi keyakinan yang tertanam di dalam kesadaran manusia; 4) emosi berupa ketergugahan perasaan akibat menyerap objek estetik; 5) interpretasi berupa penafsiran-penafsiran yang dilakukan melalui olah pikir tatkala menyadari adanya objek estetik; 6)  apresiasi berupa renunan terhadap segala sesuatu yang telah diapresiasi; 7) penilaian (evaluasi) berupa hasil apresiasi yang disampaikan secara lisan maupun tertulis (AA Djelantik, 1999:5)

Pandangan Mudji Sutrisno (1993), pengalaman estetis hakikatnya melibatkan pengamatan indrawi yang sekaligus melibatkan seluruh unsur dalam diri manusia ikut terbawa oleh pengamatan itu, jiwaraga, dengan segala kemampuan-kemampuan lainnya; bagikan terikat dan terpikat hatinya. Dalam pengalaman tentang keindahan (kedahsyatan) alam maupun  dalam pengalaman tentang keindahan karya seni (lukisan, patung, musik, tarian, candi, karya sastra).

Estetika Jawa dapat dilihat dalam berbagai bentuk karya seni, terutama dalam kebudayaan Jawa yang berkaitan dengan ekspresi estetiknya dimana Herusatoto (1987) memberikan tiga ciri utama yang sifatnya berlaku secara lentur pada ungkapan estetika orang jawa. Ketiga ciri tersebut bersifat; kontemplatif-transendental, simbolik, dan filosofis (Sachari, 2002:12).

Elemen-Elemen Estetika Jemblung Dalam Aspek Bentuk, Fungsi, Makna selengkapnya

Aspek Ergonomi Dalam Desain Pahat II

Aspek Ergonomi Dalam Desain Pahat II

Oleh Drs. Made Radiawan, M.Erg., Dosen PS Kriya Seni

Sikap Kerja

Sikap tubuh  dalam beraktivitas pekerjaan  diakibatkan oleh hubungan antara demensi kerja dengan variasi tempat kerja, sikap tubuh dalam keadaan pasip tanpa melakukan aktivitas atau pekerjaan  adalah sikap berdiri, berbaring, jongkok, duduk. Sikap-sikap tubuh diaplikasikan  pada pekerjaan disebut sikap kerja (Pheasant,1991, Yusuf, 2004. 16).

Sikap seseorang dipengaruhi oleh empat factor:

  1. fisik, umur, jenis kelamin, ukuran antropometri, berat badan, kesegaran jasmani, kemampuan gerakan  sendi system musculoskeletal,  tajam penglihatan, masalah kegemukan, riwayat penyakit.
  2. Jenis keperluan tugas, pekerjaan memerlukan ketelitian, kekuatan tangan, ukuran tempat duduk, giliran tugas, waktu istirahat dan lain-lain.
  3. Disain  tempat kerja, seperti ukuran tempat duduk, ketinggian landasan kerja, kondisi bidang pekerjaan, dan factor-faktor lingkungan.
  4. Lingkungan kerja(environment) ; intensitas penerangan, suhu lingkungan, kelembaban udara, kecepatan udara, kebisingan, debu, dan getaran.(Bridger,1995)

Dalam empat factor diatas, sikap berdiri, sikap berbaring, sikap duduk di alntai dan sebagainya, pada pengerjaan perajin ukir kayu, sikap kerja yang terjadi  yakni sikap bersila dilantai dan telapak kaki mencengkram  benda (patung)  punggung agak membungkuk, dengan tempat duduk dari kayu yang keras dan tangan kiri memegang  pahat, dan yang kanan memegang palu kayu (pengotok) baik dalam proses pembentukan global, menghaluskan dan proses finishing (nyawi).

Pekerjaan mengukir yang selalu dilakukan  di Desa Guwang adalah dengan sikap membungkuk dengan lutut menekuk dengan menyentuh dada, hal ini terjadi sikap yang memaksa  terjadinya iklinasi kepala, leher tubuh condong kedepan. Sikap kerja paksa yang terlalu lama  dapat menimbulkan keluhan ada gangguan pada sistim musculoskeletal dan terjadi tekanan cukup besar pada discus intervebralis sehingga dapat  menimbulkan low back pain ( Gandjean 1993; Pheasant 1991).

Aspek Ergonomi Dalam Desain Pahat II Selengkapnya

Alur Perkembangan Kebudayaan Bali II

Alur Perkembangan Kebudayaan Bali II

Oleh: Hendra Santosa, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

2. Pengaruh Hindu

300 tahun sebelum Masehi, pada Zaman pemerintahan dinasti Maurya, para pelaut India telah sering melayari lautan disekitar pulau-pulau dan negara-negara Asia Tenggara. Demikianlah Kautilya, seorang Mahamentri Maurya memberitahukan dalam bukunya Artha-Sastra tentang negeri-negeri yang terletak di sebelah timur laut Benggala. Penyusun Ramayana telah menyebut pulau-pulau nusantara dan menyebutkan beberapa jenis pohon yang ada di pulau itu. Buku Brihat Katha Sarit Sagara menyebutkan tentang pulau-pulau yang terkenal karena hasil rempah-rempah. Di Pulau Bali bagian utara dekat gunung Agung disanalah bahan-bahan mentah dibeli oleh para saudagar India. Seorang pelaut bernama Ptolomesos telah pula berlayar ke Asia Tenggara dengan bantuan buku Ramayana, karena catatannya sesuai benar dengan tulisan pada buku Ramayana.

Menurut sejarah agama Hindu, Raja Kaniskalalah yang dianggap sebagai penumbuh tahun Saka yang dimulai saat penobatan putra mahkota  Caliwahana,  pada  tahun  78  Sesu  masehi. Tahun saka inilah

yang dibawa ke Indonesia oleh seorang imigran pada abad pertama masehi dikenal dengan nama Haji Saka yang berasal dari negeri Surati kerajaan Saka. Ketika negeri itu diserang musuh dan kemudian disuruh berlayar ke arah timur untuk bertapa. Kemudian beliau berlayar menyebrangi teluk Benggala dan sampailah disuatu pulau yang masih sunyi. Mulai dari ujung utara sampai selatan dan langsung ke timur, pulau-pulau tersebut kemudian diberi nama sesuai dengan pohon-pohon yang menumbuhinya seperti pulau perca untuk pulau Sumatra, pulau jawawut untuk pulau Jawa. Sesampainya di timur, tiba di Gunung Karang kemudian berbalik kembali menuju Barat. Dan pulau itu kemudian dinamakan pulau Bali (walik).

Prabu Aji Saka ini sering pula disebut dengan Siwa Guru, Kumbhayoni, dan di Bali dikenal dengan Puntahyang Agastya Maharesi. Dalam cerita Agastya Purana, diterangkan bahwa beliau datang dari india utara menuju India Selatan dan mendirikan asrama yang bernama Kunyara Kunya. Dalam perjalanan ke Asia Tenggara yang diikuti oleh para muridnya, yaitu Kaundinya dan Kudangga. Kaundinya menetap di sungai Mekong dan menikahi ratu Champa kemudian mendirikan ibukota yang bernama Widyapura, sedangkan Kudangga tinggal di Kutai Selatan, untuk selanjutnya menyebarkan agama Hindu di sana.

Alur Perkembangan Kebudayaan Bali II selengkapnya

Loading...