by admin | Oct 3, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Hendra Santosa, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Erwin Gutawa juga melakukannya dalam sejumlah kegiatan, antara lain bersama Aminoto Kosin yang ini project officernya 2 Warna di RCTI. Erwin berkarya lewat album Chrisye, termasuk album Badai Pasti Berlalu. Erwin memakai alat musik tradisi, antara lain saluang dari Padang yang juga dimainkan oleh pemain Padang asli, didukung gendang Bali-nya Kompiang Raka di pergelaran Chrisye di JHCC awal tahun ini. Penggalian musik etnik Indonesia menurut Erwin merupakan hal penting, karena rasanya agak mustahil kita memainkan musik diatonis sebaik musisi penemunya, dalam hal ini orang Barat. Itu pula sebabnya, sewaktu Karimata mau berangkat ke North Sea Jazz Festival tahun 1987, Karimata perlu mempersiapkan diri melatih lagu fusion komposisi sendiri yang merupakan eksplorasi musik Barat dan etnik Indonesia, tapi memakai instrumen konvensional macam keyboards, bas, gitar, drum dan saxophone. Erwin beranpendapat bahwa eksplorasinya dalam album Jezz Karimata. Artinya Karimata Etnik, sebuah band wakil ke North Sea Jazz tahun 1987. Karimata akhirnya merekam reportoar eksperimennya itu pada tahun 1988-1989, dengan bintang tamu musisi jazz dari GRP (Amerika), antara lain Lee Ritenour, Bob James, Dave Grusin, Phil Perry dan sejumlah nama tenar lainnya. Eksperimen Karimata pada saat itu terasa masih mentah, karena merupakan bagian dari persiapan ke North Sea saja. Tapi hal tersebut malah membuat kejutan, karena direspons positif oleh musisi dan gitaris Amerika sekaliber Lee. Dia memaminkan komposisinya berbasis musik Dayak. Arranger ini lantas berpendapat, idealnya melakukan eksplorasi memadukan musik Barat – Timur tak hanya lewat alat musik daerah aslinya, tapi juga bisa dimainkan lewat alat musik Barat, tapi ‘soulnya’ tetap dapat. Hal ini bisa didengar lewat album Yani, atau Kitaro. Mudah-mudahan hal yang sama juga terdengar waktu orang menikmati album Jezz Karimata untuk lagu Sing Ken-ken, Take Off to Padang atau yang bernuansa Sunda, Pady Field.
Perkembangan World Musik II selengkapnya
by admin | Oct 2, 2010 | Artikel, Berita
Oleh Drs. I Nyoman Nirma, Dosen PS Seni Rupa Murni
Desa Kamasan
Desa kamasan diperkirakan sudah ada sejak pemerintahan raja-raja Bali Kuno. Hal ini dibuktikan dengan hadirnya nama ‘kamasan’ dalam prasasti Anak Wungsu yang bertahun Saka 994 (1072 M) berarti benih yang bagus. Kamasan merupakan desa kecil di Kabupaten Klungkung, Bali yang berjarak 42 kilometer ke timur kota Denpasar. Desa ini dikategorikan sebagai desa kecil karena wilayah dukungannya yang hanya seluas 249 hektar dengan jumlah penduduknya hanya sekitar 3.400 jiwa yang tersebar dalam 10 banjar adat atau 4 dusun desa dinas. Desa Kamasan terhampar memanjang dari utara ke selatan dengan batasan-batasan sebagai berikut: di sebelah utara Desa Giliran; di sebelah selatan Desa Gelgel; disebelah Timur Desa Tangkas; disebelah barat Desa Jelantik.
Diwilayah Desa Kamasan terdapat sungai Hee sebagai anak sungai Unja yang mengalir sepanjang hari diperbatasan desa Kamasan. Kehadiran sungai ini menyebabkan sebagian matapencaharian masyarakanya adalah bertani. Masyarakat desa Kamasan juga melakukan pekerjaan-pekerjaan lain sebagai mata pencaharian sampingan. Ini terjadi karena luas tanah pertanian yang ada di desa ini tidak begitu banyak dan mereka kebanyakan bukanlah pula para petani pemilik sawah. Pekerjaan-pekerjaan sampingan yang dilakukannya antara lain: pedagang, buruh, pertukangan (pande besi, mas, perak, tembaga, tukang kayu dan pelukis wayang) dan lain-lain. Dalam perkembangan selanjutnya, pekerjaan yang semula merupakan pekerjaan sampingan berubah menjadi pekerjaan pokok karena hasil yang diperoleh cukup baik. Bahkan tidak jarang pekerjaan petani ditinggalkannya beralih ke pekerjaan melukis wayang dan pande perak. Dalam data statistik penduduk dikantor Kepala Desa Kamasan menunjukan bahwa warga yang paling banyak melakukan pekerjaan melukis wayang adalah dari Desa Sangging. Para pelukis terdiri dari pria dan wanita, mulai dari anak-anak, orang muda, hingga orang tua. (Bagus DKK, 1981:10)
Di Tahun 2003 Monografi Desa Kamasan mencatat tiga dusun di wilayah yang dimaksud kini tumbuh tiga jenis industri rumah tangga utama. Selain menggeluti lukisan wayang, juga ada kerajinan perak dan emas, industri kerajinan kuningan dan selongsong peluru.
Desa Kamasan merupakan induk seni lukis wayang purwa di Bali. Sejarah mencatat, desa Kamasan turut mewarnai perjalanan perkembangan seni lukis Bali. Desa ini bahkan dikenal sebagai “gudang”-nya karya seni lukis wayang klasik, hasil torehan para seniman yang terdiri dari warga kampung itu sendiri.
Wayang Kamasan I selengkapnya
by admin | Oct 2, 2010 | Berita

Motivasi ekonomi yang bertemu dengan sikap pragmatis dan lemahnya pengawasan telah memicu berbagai praktik tidak terpuji mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir. Sekitar lima tahun lalu, pemberitaan media diramaikan kasus terbongkarnya institut ”abal-abal” yang mengaku berafiliasi dengan sejumlah perguruan tinggi luar negeri yang sebenarnya adalah praktik menjual gelar akademik palsu.
Praktik penjualan gelar sarjana hingga doktor oleh institut tersebut telah dilakukan sejak tahun 1990-an. Hingga ditutup pada tahun 2005, institut jadi-jadian tersebut telah banyak menelan korban dari kalangan pejabat, pegawai negeri sipil, hingga artis.
Dunia pendidikan Tanah Air sudah lama mengenal fenomena ijazah palsu. Ijazah palsu ini meliputi pemberian gelar palsu tanpa kewajiban menempuh pendidikan akademik semestinya hingga ijazah yang dihasilkan dari jual beli tugas akhir semacam skripsi, tesis, ataupun disertasi.
Hasil pengumpulan pendapat pada pertengahan September ini menunjukkan, sebagian besar responden (54,0 persen) menyatakan pernah mengetahui tawaran pembuatan skripsi/tesis baik secara terang-terangan ataupun terselubung. Sebanyak 57,4 persen responden juga menengarai praktik pembuatan skripsi/tesis/ijazah palsu kini semakin parah.
Saat ini, jasa ”membantu” menyusun skripsi/tesis tidak lagi ditawarkan secara sembunyi-sembunyi, tetapi secara terang-terangan melalui media cetak, dunia maya melalui internet, hingga iklan di seputar kampus. Selain itu, pengalaman pribadi sekitar seperempat responden yang pernah menyusun skripsi/tesis menyatakan, mereka juga mendapat bantuan dalam menyusun skripsi, baik sebagian maupun seluruhnya.
Dari penilaian responden, tampak alasan terbesar yang melatarbelakangi bisnis pembuatan tugas akhir tersebut adalah motivasi ekonomi untuk mendapat penghasilan lebih (40,6 persen responden). Alasan berikut (22,9 persen) karena mahasiswa masa kini lebih menyukai kepraktisan dalam membuat tugas akhir dan menganggap hal itu sebagai ”biasa”.
Dua alasan berikut adalah faktor sulitnya menyusun skripsi dengan standardisasi yang ditetapkan kampus, dan pada sisi lain didukung longgarnya pengawasan akademik yang diterapkan oleh pihak kampus.
Faktor pendorong
Mengapa masyarakat, terutama di dunia pendidikan, sangat ”tergila-gila” gelar akademik dan melakukan perbuatan yang termasuk kategori korupsi tersebut?
Fakta menunjukkan, dunia kerja Tanah Air masih menempatkan bukti formal capaian pendidikan melalui ijazah, terutama ijazah pendidikan tinggi. Dalam setiap proses perekrutan pegawai baru di lembaga pemerintah ataupun swasta, saringan pertama selalu soal administrasi bukti kelulusan, lengkap dengan peringkat nilai dan asal kampus.
Penjaringan tahap ini saja sudah akan menentukan apakah calon pegawai bakal dipanggil tes berikutnya atau tidak. Setali tiga uang pada sistem kenaikan pangkat dan jabatan pegawai.
Untuk naik ke jabatan lebih tinggi, syarat utama adalah tingkat pendidikan, baru seleksi kemampuan. Meski demikian, opini dari jajak pendapat ini yang 60,5 persen di antaranya pekerja di berbagai instansi pemerintah ataupun swasta cenderung meragukan pandangan tersebut.
Bagian terbesar responden meyakini, dalam bekerja, bukti formal ataupun kemampuan-keterampilan sama pentingnya (39,1 persen) dan yang menyatakan kemampuan saja yang terpenting dalam pekerjaan sebanyak 28 persen. Sementara sepertiga responden sisanya (30,4 persen) mengakui ijazah masih menjadi faktor terpenting dalam dunia kerja.
Responden berlatar belakang pekerjaan guru, karyawan swasta, pegawai negeri sipil, bahkan pensiunan tampak kuat menyuarakan pendapat pentingnya ijazah. Hanya responden dari kalangan wiraswasta/usahawan yang sedikit lebih memboboti kemampuan sebagai yang terpenting.
Dalam jajak pendapat ini juga tergambar ketidaksesuaian antara pendidikan dari tingkat terakhir yang telah ditempuh dan pekerjaan yang ditekuni. Separuh responden (50,4 persen) mengaku pekerjaan yang mereka tekuni sesuai dengan pendidikan yang mereka jalani.
Namun, proporsi yang menyatakan kurang sesuai juga cukup besar, mencapai 14 persen, bahkan yang menyatakan tidak sesuai ada sepertiga bagian responden. Responden dengan pekerjaan PNS, karyawan swasta, dan guru adalah kelompok responden yang mengaku yakin dengan kesesuaian pendidikan dan pekerjaannya. Adapun kelompok wirausaha dan kalangan ibu rumah tangga menjadi kelompok yang merasa berprofesi di luar keahlian semula.
Sanksi
Lemahnya peranan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional dan kalangan dunia pendidikan sendiri (termasuk peserta didik), menurut responden adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas persoalan ini. Tudingan kepada sistem pendidikan, termasuk perekrutan dunia kerja yang berorientasi ijazah, justru hanya dituding oleh bagian kecil responden.
Artinya, persoalan ”aktor” lebih dominan daripada ”peraturan”. Bagaimanapun, perilaku mahasiswa atau peserta didik yang enggan bersusah payah belajar dan menyelesaikan tugas akhir—mudah ditebak—bakal menelurkan sikap koruptif dalam pekerjaan di kemudian hari. Tanpa pemberian sanksi berefek jera bagi pelaku tidak mungkin menghentikan anomali dunia pendidikan ini.
Menurut publik, sepatutnya diterapkan sanksi bagi penjual ataupun pengguna yang terlibat dalam praktik pembuatan tugas akhir. Bagian terbesar responden (40,6 persen) lebih menyetujui sanksi pidana ketimbang sanksi akademik atau administratif.
Sanksi akademik berupa pembatalan kelulusan juga menjadi usulan 20 persen responden. Kekhawatiran masyarakat akan kerugian yang ditimbulkan dari praktik pembuatan tugas akhir tersebut tentu dapat dimaklumi. Masyarakat mencemaskan generasi penerus yang bakal menjaga dan membangun negeri ini.
Apakah yang bisa diharapkan dari generasi muda yang pemalas, berpikir pragmatis, dan cenderung koruptif ketika menghadapi setiap tantangan pembangunan yang semakin kompleks? (Palupi Panca Astuti, Litbang Kompas)
Sumber: http://edukasi.kompas.com
by admin | Oct 2, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Hendra Santosa, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
4. Zaman Raja-raja Bali Kuno
Ditemukannya prasasti yang tertua di Bali yang berangka tahun 804 Saka, mulailah ada keterangan tentang Bali dari dalam (Bali). Prasasti tersebut disebut dengan Prasasti Sukawana yang berisi tentang perkenan raja bagi para biksu yaitu bhiksu Siwakangsita, Siwanirmala dan Siwaprajna, untuk mendirikan asrama dan penginapan di daerah perburuan di bukit Kintamani. Prasasti tersebut memberikan keterangan tentang alat-alat musik yang termuat dalam lembar 2.a baris kedua yaitu parsangkha (orang-orang yang meniup Sangka), parpadaha (orang-orang yang menabuh kendang), balian (penonton), pamukul (penabuh gamelan). Prasasti ini tidak menyebutkan nama raja tetapi menyebutkan sebuah kota (keraton) yaitu Singamandawa dan beberapa senapati pejabat tinggi pemerintahan seperti Senapati Sarbwa, Senapati Digangga, Senapati Danda, dan beberapa pejabat rendahan. Prasasti lainnya yaitu prasasti Bebetin A I sama dengan prasasti Sukawana yang tidak menyebutkan nama raja melainkan keraton yang disebut dengan panglapuan di Singamandawa, menyebutkan tentang instrumen musik pada lembar 2 b, no 5 tertulis pamukul (penabuh gamelan), pagending (pesinden), pabunying (penabuh angklung), papadaha (penabuh Kendang), parbhangsi (peniup Suling besar), partapukan (perkumpulan openg), parbwayang (dalang).
Menurut kronologi sejarah Bali, yang paling awal dan paling tua menyebut nama raja adalah Sri Kesari Warmadewa (835-837) dengan mengeluarkan 3 buah prasasti. Prasasti yang paling penting dan akan dibahas dalam sub bab kemudian adalah prasasti Blanjong yang didalamnya terdapat kata bheri yang diartikan sebagai alat bunyi-bunyian perang (gendang perang). Kemudian berselang dengan munculnya nama Sang Ratu Ugrasena (837-864 S). Dalam Purana Balidwipa, Sri Ugrasena bergelar Sri Ugrasena Warmadewa (864 S). Ugrasena mengeluarkan 8 prasasti dan empat buahnya mengungkap tentang pajak (tikasan) pemain gamelan, pajak peniup sangka sebesar dua piling.
Pada masa pemerintahan Sri Gunapriya Dharmmapatni yang merupakan putri dari Mpu Sendok dan Maharaja Sri Dharmmodhayana Warmadewa (911-923 S), mengeluarkan 10 buah prasasti. Empat buah prasastinya memuat tentang pengaturan kesenian dan membedakan pertunjukan puri dan pertunjukan ambaran, juga disebutkan tentang tikasan parsangkha atau pajak bagi peniup sangkha, yang termuat dalam prasati Buwahan A yang bertahun 916 S. Pada masa pemerintahannya telah terjalin suatu hubungan politik dan keluarga antara Bali dan Jawa Timur.
Alur Perkembangan Kebudayaan Bali IV Selengkapnya