M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Asti Pertiwi Persembahkan Tabuh Di Banjar Padang Tegal, Ubud.

Asti Pertiwi Persembahkan Tabuh Di Banjar Padang Tegal, Ubud.

Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dengan penabuh wanitanya yang tergabung dalam Asti Pertiwi, siang kemarin Sabtu 2 Oktober 2010 disambut hangat oleh masyarakat Padang Tegal, Ubud. Penabuh yang terdiri dari para dosen dan pegawai wanita ini mempersembahkan tetabuhan diantaranya Sinom Ladrang, Lengker, Godeg Miring, dan Selisir. Kegiatan “ngayah” secara rutin telah dilaksanakan oleh Asti Pertiwi ISI Denpasar. “Ngayah” kali ini dilaksanakan pada upacara Pengabenan Bapak I Made Kerejeng yang merupakan Ayahnda Pembantu Rektor III ISI Denpasar, Drs. I Made Subrata,M.Si. Selain memainkan tabuh-tabuh di atas, Asti Pertiwi juga mengiringi tari topeng yang ditarikan oleh mahasiswa dan dosen Jurusan Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar yang mendapat apresiasi serta antusiasme masyarakat yang hadir dalam upacara “ngaskara” atau pembersihan serangkaian upacara pengabenan yang dilaksanakan hari ini, 3 Oktober 2010.

Udara yang cukup panas siang itu tidak mengurangi antusiasme para penabuh Asti Pertiwi untuk mempersembahkan yang terbaik pada upacara tersebut,sehingga mengundang decak kagum para tamu yang hadir, termasuk anak-anak yang hadir bersama orang tua mereka dengan polos mengatakan ”wah, penabuhnya Ibu-Ibu cantik!” ujarnya sambil mendekat kearah para penabuh. Beberapa dari mereka memainkan jemari tangannya memperagakan gerakan menari. Sungguh Asti Pertiwi sangat dicintai dan diterima oleh masyarakat dari semua lapisan.

Koordinator Asti Pertiwi Ni Ketut Suryatini, S.Skar.,M.Sn. yang juga menjabat sebagai Pembantu Dekan II Fakultas Seni Pertunjukan, menyampaikan apresiasi serta ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada keluarga Bapak I Made Subrata dan juga masyarakat Padang Tegal yang telah memberi kesempatan kepada Asti Pertiwi untuk “ngayah” pada upacara tersebut. Suryatini juga mengungkapkan rasa bangga dan terima kasihnya kepada rekan-rekan dosen dan pegawai yang dengan tulus turut serta “ngaturang ayah” sebagai implementasi pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi, yakni Pengabdian Masyarakat. Saat ini Asti Pertiwi juga sedang melaksanakan persiapan untuk pementasan tanggal 15 Oktober mendatang di Nusa Dua, mengiringi siswa SLB menari dalam acara Nusa Dua Fiesta. Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A. yang juga hadir siang itu tidak menyembunyikan rasa kagum dan bangganya pada para penabuh Asti Pertiwi. “Kiranya sinergi kampus ISI Denpasar dengan masyarakat lewat kegiatan “ngayah” seperti ini, kedepan  dapat diteruskan dan ditingkatkan lagi,”harapnya tulus.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Kemendiknas Tetapkan PP 66/2010 Pengganti PP 17

Kemendiknas Tetapkan PP 66/2010 Pengganti PP 17

Kementerian Pendidikan Nasional resmi menetapkan pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun 2010.
Menurut M NUH Menteri Pendidikan Nasional, PP ini merupakan pengganti PP 17 yang sebelumnya tertuang dalam Undang-Undang Badan Hukum pendidikan (UU BHP) pasca pencabutan oleh Mahkamah Konstitusi (MK), Maret lalu.
“PP No. 66 Tahun 2010 ini resmi berlaku sejak ditetapkan, yakni 28 September 2010 lalu. Pemerintah membuat peraturan ini setelah MK membatalkan UU BHP yang memberikan amanah dan konsekuensi untuk menyiapkan dua hal, yang salah satunya perubahan PP ini,”ujar M NUH pada wartawan ketika ditemui di sela peresmian Gedung Yayasan Pendidikan dan Sosial Ma’arif (YPM) Sepanjang, Sidoarjo, Minggu (03/10).
Mengutip Antara, NUH menjelaskan, dalam PP ini, ada beberapa hal pokok, di antaranya yakni Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang tercantum dalam Badan Hukum Milik Negara (BHMN), pengelolaan keuangannya harus tunduk pada UU Keuangan.
“Presiden SUSILO BAMBANG YUDHOYONO juga sudah menyampaikan pidato nota pengantar keuangan bahwa keuangan BHMN masuk dalam APBN. Maka, penggunaannya hanya ada dua pilihan, yakni melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PKBLU),”paparnya.
Setelah dikaji, BHMN sepakat menggunakan yang paling dekat dengan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Lebih lanjut dikatakannya, untuk menyesuaikan dengan penggunakan PKBLU maka masih diperlukan masa transisi. Namun, diharapkan pada 31 Desember 2012, semuanya sudah selesai.
Sementara, dalam PP baru ini, ada juga kewajiban bagi PTN dalam proses rekrutmen mahasiswa baru. Kata Nuh, setiap perguruan tinggi minimal harus menerima 20% mahasiswa yang berkebatasan ekonomi, namun memiliki otak cemerlang.
“Ini bukan beasiswa lho, tapi bantuan pendidikan. Jadi, khusus mahasiswa berprestasi yang nilai akademiknya bagus, namun dalam hal ekonomi masuk kategori menengah ke bawah maka PTN wajib menerimanya. Ada 20% kuotanya,”tukasnya.
Sedangkan, untuk penerimaan mahasiswa baru, sesuai PP ini ditetapkan bahwa 60% mahasiswa baru harus melalui seleksi nasional dan terhitung sejak 2011 mendatang, sudah mulai dilaksanakan. (ant/tin)

Sumber: http://www.suarasurabaya.net

Lakon “Rsi Markandya” Dipentaskan Di Payangan

Lakon “Rsi Markandya” Dipentaskan Di Payangan

Geliat Institut Seni Indonesia Denpasar dalam melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi tidak pernah padam sedikitpun. Di sela-sela pelaksanaan perkuliahan, seminar hasil penelitian, civitas akademika kampus seni ini sibuk melaksanakan latihan untuk ngayah terutama untuk pentas kolosal serangkaian HUT ke-65 TNI mendatang.

Setelah dua hari sebelumnya ISI Denpasar “ngaturang ayah” di pura Dalem Br. Tegal Bebalang Bangli, Kamis 30 September 2010, sekitar 100 orang seniman ISI Denpasar yang terdiri dari mahasiswa dan dosen Fakultas Seni Pertunjukan “ngaturang ayah” di pura Puseh Banjar Sema, Desa Payangan Gianyar. Rombongan yang dipimpin langsung oleh Pembantu Rektor IV, I Wayan Suweca,S.Skar.,M.Mus ini mempersembahkan tarian Selat Segara, Jauk manis,dan Satya Brasta yang ditarikan dengan sangat memukau oleh mahasiswa Jurusan Tari, serta tari Truna Jaya yang ditarikan oleh Laras, putri seorang dosen Jurusan Karawitan, I Kadek Suartaya, S.Skar.,M.Si. dan iringan gambelan oleh mahasiswa Jurusan Karawitan. I Ketut Kodi,S.Sp.,M.Si. dan I Nyoman Sukerta,S.Sp.,M.Si. dosen Jurusan Pedalangan menampilkan Bondres yang selalu menjadi atraksi yang ditunggu-tunggu penonton. Masyarakat Desa Payangan sangat antusias menyimak lakon “Rsi Markandya” yang dibawakan kedua seniman kawakan ini.

Sambutan serta apresiasi masyarakat yang sangat positif terhadap ISI Denpasar membuktikan bahwa ISI Denpasar sangat dekat dengan masyarakat. Selain itu, masyarakat juga masih sangat menghargai dan mencintai kesenian Bali yang menjadi bagian dari kebudayaan Bali. Tari-tarian yang dipentaskan hingga tengah malam ini tetap dipenuhi “pemedek” yang tangkil malam itu. Cuaca dingin tanpa hujan membuat acara malam itu berjalan dengan baik dan lancar.

Rektor ISI Denpasar, Prof.Dr. I Wayan Rai S.,M.A., didampingi Pembantu Rektor II, I Gede Arya Sugiartha,S.Skar.,M.Hum, menyampaian ucapakan terima kasih serta apresiasi sedalam-dalamnya kepada Pemuka Adat serta seluruh masyarakat Banjar Sema, Desa Payangan atas kesempatan yang telah diberikan untuk “ngaturang ayah”, serta sambutan yang demikian hangat kepada seluruh rombongan ISI Denpasar. Rai juga mengungkapkan rasa terima kasih dan bangganya kepada seluruh dosen, pegawai, dan mahasiswa yang telah begitu tulus melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian pada masyarakat, disela-sela kesibukan melaksanakan kegiatan yang demikian padat di kampus. “Semoga dengan ketulusan, semangat, kerjasama,  serta tuntunan Ida Sanghyang Widhi, semua kegiatan kampus dapat dilaksanakan dengan baik,”harapnya.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Tesis dan Disertasi Aspal Kian Meluas…

Tesis dan Disertasi Aspal Kian Meluas…

Di ruang berukuran sekitar 2 x 4 meter di sebuah gang di Rawamangun, Jakarta Timur, dua laki-laki masing-masing menghadap layar komputer, salah satunya berisi permainan kartu. ”Kalau tesis, kami yang mengerjakan, tetapi disertasi nanti bos yang bikin, kami semua membantu,” tutur Oni, salah satu dari ketiganya.

Itulah praktik yang tersebar setidaknya di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar: membuatkan skripsi, tesis, dan disertasi sesuai pesanan. Ada yang jelas-jelas merupakan transaksi jual-beli biasa—sediakan judul penelitian dan uang, tesis, dan disertasi akan kami buatkan sesuai waktu—hingga praktik yang abu-abu karena masih melibatkan mahasiswa dalam pengerjaan.

Praktik seperti itu tidak sulit ditemui. Mereka beriklan di internet dan media cetak, lengkap dengan alamat dan nomor telepon serta nama yang bisa dikontak. Penelusuran di internet membawa ke lokasi seperti di atas. Isi ruangan hanya dua perangkat komputer dan beberapa kursi.

Untuk meyakinkan calon klien, ketiganya yang tampak santai dengan bersandal dan salah satunya memakai kaos oblong tanpa lengan mengklaim beberapa mahasiswa perguruan tinggi negeri di Yogyakarta dan Jakarta pernah meminta jasa mereka.

Tak jauh dari situ, di kawasan Jalan Pramuka, terselip di gang becek dan gelap di antara toko-toko pembuat stempel dan spanduk, di kios berukuran 2 meter x 2 meter, juga ditawarkan jasa pembuatan skripsi dan tesis.

”Saya hanya bisa beberapa bidang, hukum perdata tidak bisa; hukum yang ada hubungan dengan otonomi bisa. Saya tidak bisa bikin disertasi,” kata Igar (62) yang mengaku pensiunan guru SMA di Medan dan sarjana teknik mesin lulusan universitas swasta di kota yang sama.

Dia menunjukkan tesis yang baru dia selesaikan, topiknya otonomi di Papua untuk mahasiswa sebuah universitas swasta. ”Kalau sedang tidak banyak pesanan, tak sampai sebulan tesis selesai. Saya hanya perlu judul dan informasi tentang daerah yang diteliti, semua saya yang kerjakan. Pustaka bisa dari saya atau dari mahasiswa,” janjinya dan mengatakan dia hanya memahami buku berbahasa Indonesia.

Merata

Praktik subkontrak pembuatan skripsi, tesis, dan disertasi bukan barang baru. Yang memprihatinkan, praktik yang menghasilkan skripsi, tesis, dan disertasi asli tapi palsu (aspal) ini meluas.

Menurut klaim para pemberi jasa, jasa mereka juga dimanfaatkan oleh mahasiswa PTN terkemuka. Pemesannya, terutama untuk tesis dan disertasi, adalah profesional, politisi, petinggi di BUMN, dan birokrat di lembaga strategis perencanaan nasional.

Tono (36), pengajar di PTN terkemuka di Jakarta, mengaku pernah menghubungkan temannya, calon notaris, yang butuh bantuan membuat tesis, dengan temannya yang dosen di PTN terkenal di Jakarta. Aan (31), magister komunikasi dari PTN ternama di Jakarta, mengaku ”mengampu” temannya dalam menyelesaikan disertasi di sebuah PTN di Jakarta.

Di Surabaya, Tria, yang mengaku magister manajemen dari PTN terkenal di kota itu, bersedia melayani konsultasi melalui internet menjelang mahasiswa ujian tesis atau disertasi. Dia dan teman-temannya sanggup membuatkan tesis dan disertasi dari bidang keilmuan apa saja, termasuk kedokteran bidang tertentu, kecuali psikologi, arsitektur, dan teknik mesin.

”Konsultan untuk teknik mesin sudah berhenti, dapat kerja lebih baik,” paparnya.

Motivasi kedua belah pihak beragam. Dari pembuat, ada yang beralasan untuk menyambung hidup, seperti pengakuan Igar. Ada yang untuk mobilisasi sosial vertikal.

”Saya mendapat jaringan teman-teman orang yang saya bantu. Dari kontak-kontak itu saya dapat pekerjaan sampai sekarang,” kata Wid, sarjana tata negara, yang tutup mulut tentang orang yang dia bantu.

Motif dari pihak pemesan juga macam-macam, mulai dari agar diangkat jadi PNS, naik pangkat, gengsi, hingga mobilisasi sosial vertikal. Ira, yang pernah menjadi peneliti biologi di PTN di Bandung, menyebut, ada dokter klinik ”menyeberang” ke bidang riset laboratorium minta dibuatkan penelitian.

Selain ingin gelar mentereng, doktor, juga untuk membuat makalah yang dibawa ke seminar di luar negeri dan agar usia kerja sebagai PNS lebih panjang. ”Untuk makalah ilmiah, nama saya dicantumkan sebagai penulis kedua karena si dokter memotong DNA saja tidak bisa, tetapi dia pesan penelitian menyangkut biologi molekuler,” tutur Ira.

Ira dan beberapa teman bersedia melakukan penelitian pesanan itu karena semangat mengembangkan ilmu sebagai peneliti tidak difasilitasi memadai. ”Bahan kimia untuk penelitian mahal sekali dan penelitian selalu berisiko gagal sehingga harus diulang,” papar Ira.

Biaya bervariasi

”Biro jasa” menawarkan dari Rp 1,5 juta untuk skripsi, Rp 3,5 juta untuk tesis, hingga Rp 35 juta untuk disertasi. ”Biaya ini murah dibandingkan dengan tempat lain,” kata Oni.

”Biaya bikin disertasi mahal soalnya harus ada yang baru.” Mahasiswa cukup menyerahkan judul yang disetujui pembimbing atau promotor, menyebut atau memberi judul buku bacaan sesuai keinginan dosen pembimbing atau tak terlibat apa pun.

”Jurnal gampang dicari di intenet,” kata Irman, teman Oni, yang mengaku adalah magister hukum PTN di Jakarta. Soal mahasiswa paham atau tidak paham isi tesis atau disertasi bukan urusan pembuat.

”Nanti kalau baca, kan, ngerti sendiri,” ujar Irman. ”Kalau mau ada diskusi, latihan tanya-jawab sebelum ujian, saya carikan orang-orangnya, tetapi tidak termasuk paket.”

Ira menyebut angka hingga Rp 150 juta untuk penelitian biologi molekuler, sementara Aan menyebut sekitar Rp 60 juta untuk pekerjaan membaca buku dan mencari jurnal, menyusun proposal dan metodologi, hingga membuatkan kesimpulan disertasi temannya.

”Saya libatkan teman yang saya bantu itu ikut baca buku, meneliti ke lapangan, dan ambil kesimpulan penelitian,” tutur Aan, magister komunikasi PTN di Jakarta. ”Terus terang, saya mulanya hanya membantu, tapi belakangan merasa kok (tindakan) ini salah.” (NMP/MH)

Sumber: http://edukasi.kompas.com

Loading...