by admin | Oct 24, 2010 | Berita
JAKARTA – Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) menargetkan sebanyak 70 perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia, untuk dapat segera membentuk Badan Layanan Umum (BLU). Hal tersebut seperti diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemdiknas, Dodi Nandika, kepada JPNN di Jakarta, Kamis (21/10).
Dikatakan Dodi, saat ini ada 20 PTN yang sudah memiliki BLU. Menurutnya pula, untuk membentuk BLU, yang harus dilakukan PTN antara lain adalah mendapat persetujuan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu). “Total, jumlah PTN ada (sebanyak) 90. Jadi, sisanya saat ini ada 70 PTN yang belum membentuk BLU. Kita pastinya akan mendorong semua PTN tersebut untuk segera membentuk BLU, meskipun akan dilakukan secara bertahap. Tahun 2014 sudah harus selesai semua,” ungkapnya.
Dodi menambahkan, meski ada pembatalan UU BHP beberapa waktu lalu, pemerintah (Kemdiknas) tidak ingin menghilangkan otonomi perguruan tinggi yang selama ini sudah berjalan. Selain itu katanya, tetap perlu pengelolaan keuangan yang fleksibel bagi PTN, disertai kontrol terhadap pembiayaan orang tua pada perguruan tinggi. “Menurut kami, jika dilihat dari sisi kelembagaan, maka yang paling tepat untuk menampung misi tersebut adalah BLU,” ujarnya.
Selain itu untuk saat ini, lanjut Dodi, beberapa PTN diakui juga masih dalam tahap persiapan, serta belum memenuhi syarat untuk pembentukan BLU. “Banyak PTN yang belum siap untuk membentuk BLU. Tetapi kita akan tetap menunggu,” katanya.
Dodi menerangkan, awalnya hanya sebanyak 8 (delapan) PTN saja yang bersedia dan siap untuk membentuk BLU. Namun dalam kurun waktu dua tahun, sampai saat ini sudah meningkat menjadi 20 PTN yang telah memiliki BLU. “Maka dari itu, kami optimis-lah, jika tahun 2014 nanti semua PTN sudah membentuk BLU,” imbuhnya.
Sementara itu, Mendiknas M Nuh yang ditemui JPNN secara terpisah, juga sempat mengakui bahwa ada beberapa PTN yang menolak untuk membentuk BLU. Namun menurutnya, pihak Kemdiknas tak terlalu menanggapi penolakan tersebut. “Saya rasa penolakan itu bukan secara institusi, tetapi lebih bersifat personal. Mungkin mereka yang awalnya tidak perlu menyetor ke pemerintah melalui APBN, sekarang ditetapkan. Jadi, penolakan itu biarkan saja,” serunya. (cha/jpnn)
by admin | Oct 23, 2010 | Berita
Denpasar- Guna dapat mewakili keinginan-keinginan mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya serta meningkatkan kualitas pendidikan, Fakultas Seni Rupa dan Desain FSRD ISI Denpasar melantik Badan Perwakilan Mahasiswa FSRD ISI Denpasar, pada Jumat, 22 Oktober 2010. Pelantikan dilakukan oleh Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Dra. Ni Made Rinu, M.Si serta disaksikan oleh Ketua Jurusan dan Ketua Program Studi dilingkungan FSRD ISI Denpasar.
Menurut Pembantu Dekan III Bidang Kemahasiswaan FSRD ISI Denpasar Drs. D.A. Tirta Ray, M.Si, Senat Mahasiswa merupakan organisasi kemahasiswaan intra kampus yang memiliki kedudukan resmi dilingkungan kampus. Organisasi Kemahasiswaan ini terdiri dari Senat dan BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) yang berfungsi sebagai badan Legislatif sedangkan Senat Mahasiswa berfungsi sebagai Badan Eksekutif . Oleh karena itu Senat Mahasiswa dan BPM yang mempunyai tugas dan kewenangan masing-masing.
Para pengurus organisasi mahasiswa FSRD, Senat dan BPM berasal dari kader organisasi ekstra kampus ataupun aktivis-aktivis independen yang berasal dari berbagai Jurusan dan Bidang Studi atau Kelompok Kegiatan lainnya. Organisasi Mahasiswa tersebut dipilih melalui kegiatan Pemilu Mahasiswa yang berlangsung sangat demokratis dan penuh dengan semangat kekeluargaan serta menjungjung tinggi nilai-nilai kebersamaan untuk mencapai mufakat.
Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Dra. Ni Made Rinu, M.Si mengungkapkan selain berfungsi menyalurkan aspirasi para mahasiswa, terbentuknya organisasi kemahasiswaan ini juga berfungsi sebagai badan eksekutif yang diharapkan dapat melakukan partisifasi nyata dalam mewujudkan pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan ilmunya, berperan aktif mengembangkan sikap ilmiah dalam dunia kesenian, meningkatkan dinamika ilmiah dan kreativitas mahasiswa serta ikut menciptakan integritas mahasiswa seni rupa, desain, fotografi yang berkualitas. Pihaknya berharap agar para wakil mahasiwa ini dapat mengemban dan mengamalkan tugas dengan sebaik-biknya.
Sementara susunan organisasi BPM, Senat Mahasiswa dan HMJ FSRD ISI Denpasar periode 2010-2011 adalah I Ketut Alit Wijaya sebagai Ketua BPM dari Jurusan Seni Rupa Murni; Nyoman Teragradya Winaya Ketua Senat dari PS. Desain Komunikasi Visual; A.A. Gd. Agung Jayawikrama Ketua HMJ Seni Rupa Murni; I Nyoman Endra Ketua HMJ Kriya Seni; I Komang Swakarma Ketua HMJ PS. Desain Interior; Rizky Indra Berata Ketua HMJ PS. desain Komunikasi Visual; serta Arya Sutawan Ngurah Ketua HMJ PS. Fotografi.
Humas ISI Denpasar Melaporkan
by admin | Oct 22, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Alit Kumala Dewi, S.Sn, Dosen PS DKV
Baudrillard
Baudrillard memperkenalkan teori simulasi. Di mana peristiwa yang tampil tidak mempunyai asal-usul yang jelas, tidak merujuk pada realitas yang sudah ada, tidak mempunyai sumber otoritas yang diketahui. Konsekuensinya, kata Baudrillard, kita hidup dalam apa yang disebutnya hiperrealitas (hyper-reality). Segala sesuatu merupakan tiruan, tepatnya tiruan dari tiruan, dan yang palsu tampaknya lebih nyata dari kenyataannya (Sobur, 2006). Sebuah iklan menampilkan seorang pria lemah yang kemudian menenggak sebutir pil multivitamin, seketika pria tersebut memiliki energi yang luar biasa, mampu mengerek sebuah truk, tentu hanya ‘mengada-ada’. Karena, mana mungkin hanya karena sebutir pil seseorang dapat berubah kuat luar biasa. Padahal iklan tersebut hanya ingin menyampaikan pesan produk sebagai multivitamin yang memberi asupan energi tambahan untuk beraktivitas sehari-hari agar tidak mudah capek. Namun, cerita iklan dibuat ‘luar biasa’ agar konsumen percaya. Inilah tipuan realitas atau hiperealitas yang merupakan hasil konstruksi pembuat iklan. Barangkali kita masih teringat dengan pengalaman masa kecil (entah sekarang masih ada atau sudah lenyap) di pasar-pasar tradisional melihat atraksi seorang penjual obat yang memamerkan hiburan sulap kemudian mendemokan khasiat obat di hadapan penonton? Padahal sesungguhnya atraksi tersebut telah ‘direkayasa’ agar terlihat benar-benar manjur di hadapan penonton dan penonton tertarik untuk beramai-ramai membeli obatnya.
J. Derrida
Derrida terkenal dengan model semiotika Dekonstruksi-nya. Dekonstruksi, menurut Derrida, adalah sebagai alternatif untuk menolak segala keterbatasan penafsiran ataupun bentuk kesimpulan yang baku. Konsep Dekonstruksi –yang dimulai dengan konsep demistifikasi, pembongkaran produk pikiran rasional yang percaya kepada kemurnian realitas—pada dasarnya dimaksudkan menghilangkan struktur pemahaman tanda-tanda (siginifier) melalui penyusunan konsep (signified). Dalam teori Grammatology, Derrida menemukan konsepsi tak pernah membangun arti tanda-tanda secara murni, karena semua tanda senantiasa sudah mengandung artikulasi lain (Subangun, 1994 dalam Sobur, 2006: 100). Dekonstruksi, pertama sekali, adalah usaha membalik secara terus-menerus hirarki oposisi biner dengan mempertaruhkan bahasa sebagai medannya. Dengan demikian, yang semula pusat, fondasi, prinsip, diplesetkan sehingga berada di pinggir, tidak lagi fondasi, dan tidak lagi prinsip. Strategi pembalikan ini dijalankan dalam kesementaraan dan ketidakstabilan yang permanen sehingga bisa dilanjutkan tanpa batas.
Sebuah gereja tua dengan arsitektur gothic di depan Istiqlal bisa merefleksikan banyak hal. Ke-gothic-annya bisa merefleksikan ideologi abad pertengahan yang dikenal sebagai abad kegelapan. Seseorang bisa menafsirkan bahwa ajaran yang dihantarkan dalam gereja tersebut cenderung ‘sesat’ atau menggiring jemaatnya pada hal-hal yang justru bertentangan dari moral-moral keagamaan yang seharusnya, misalnya mengadakan persembahan-persembahan berbau mistis di altar gereja, dan sebagainya.
Semiotika, bagian II selengkapnya
by admin | Oct 22, 2010 | Berita, pengumuman
Pelantikan Ketua BPM, Senat dan HMJ FSRD Periode 2010-2011

Pelantikan Badan Perwakilan Mahasiswa FSRD ISI Denpasar Jumat, 22 Oktober 2010 Oleh Dekan Fakultas Seni Rupa dan desain Dra. Ni Made Rinu, M.Si disaksikan oleh Ketua Jurusan dan Ketua Program Studi dilingkungan FSRD.

Menurut Pembantu Dekan III Bidang Kemahasiswaan FSRD ISI Denpasar Drs. D.A. Tirta Ray, M.Si ; senat Mahasiswa merupakan organisasi kemahasiswaan intra kampus yang memiliki kedudukan resmi dilingkungan kampus. Organisasi Kemahasiswaan ini terdiri dari Senat dan BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) yang berfungsi sebagai badan Legislatif sedangkan Senat Mahasiswa adalah Berfungsi sebagai Badan eksekutif . Oleh karena itu senat Mahasiswa dan BPM yang mempunyai tugas dan kewenangan masing-masing.

Para Pengurus organisasi Mahasiswa FSRD; Senat dan BPM pada dasarnya berasala dari kaderorganisasi ekstra kampus ataupun aktivis-aktivis independen yang berasala dari berbagai jurusan dan Bidang Studi atau Kelompok Kegiatan Lainnya.
Organisasi Mahasiswa tersebut dipilih melalui Pemilu Mahasiswa yang berlangsung sangat demokratis dan penuh dengan semangat kekeluargaanyang menjungjung tinggi nilai-nilai kebersamaan untuk mencapai mufakat
