M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Proses Terbentuknya dan Proses Garapan Karya  Group Maliq Ghodong di Surakarta

Proses Terbentuknya dan Proses Garapan Karya Group Maliq Ghodong di Surakarta

Oleh: Galih Febri Hastiyanto

Pendahuluan

Jika kita membicarakan tentang perkembangan group-group band masa kini, kita bisa melihat banyaknya group-group band pop yang mendominasi dalam dunia musik Indonesia yang dimana kemunculan group band jaman sekarang hanya band-band pop, disemua kalangan masyarakat ada yang antosias terutama di kalangan remaja-remaja putri, maka dari itu menyinggung tentang group band, kita hanya melihat karya-karya yang mungkin hampir setara dengan band-band lain, kalau kita liat di daerah Surakarta khususnya Solo.

Disini yang sering kita lihat adalah berbagai acara-acara musik etnik yang digelar agar kita bisa melihat ternyata salain band, musik-musik etnik, perkusi, ensamble dan kolaborasi juga bisa membius para penonton dan masyarakat yang belum pernah melihat musik seperti ini.

Disini yang ingin dibicarakan perkembangan group ensamble yang baru terbentuk, mungkin disini semua masyarakat belum tahu terbentuknya group ini yang terbentuk tahun 2009 kemarin, disinilah penulis mengangkat group ensamble ini dengan acuan supaya keberadaan group ensamble ini bisa di terima dengan baik di hati para masyarakat khususnya Solo.

Latar Belakang

Group ensamble ini terbentuk tahun 2009 yang awal mulanya terbentuk di Kentingan dengan format pemain yang terdaftar di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, disini semua para personil group ensamble adalah mahasiswa Etnomusikologi yang terdaftar tahun ajaran 2009, group ini tergolong dalam seniman-seniman ‘kemaren sore’ karena diantara personil belum ada yang pernah menjajal di seni ensamble atau kolaborasi.

Maka masih banyak kebimbangan di antara mereka, namun di antara mereka saling memberikan keyakinan dan semangat ke personil-personil lainnya, dari keyakinan dan semangat mereka mampu menghasilkan sebuah karya yang sebetulnya masih banyak kekurangan di segi musikalitasnya, tetapi mereka mampu tampil dalam sebuah acara yang cukup dikenal di daerah Kentingan atau ISI Surakarta, walaupun ketidak siapan mental untuk menampilkan karyanya, mereka tampil dengan sangat baik walau masih banyak yang perlu dibenahi dan hingga mereka mampu menampilkan karya yang bisa memberikan kesan berbeda terhadap penonton, terbukti penonton memberikan aplouse yang keras buat kerja keras mereka.

Nama group ini pada awalnya adalah Himalaya yang terdiri dari 8 orang namun sekarang setelah terjadi transisi personil, maka nama group diubah menjadi Maliq Ghodong yang konon dikenal nama Maliq Ghodong adalah membalikkan daun, membalikkan selembar daun yang jatuh dan sering dikaitkan dengan ilmu Filsafat yang menandakan manusia sedang menunggu sebuah wahyu dari balik daun yang jatuh tak jauh dari pohonnya. Setelah masa transisi mereka sekarang terdiri dari 7 orang, dalam perjalanan mereka yang masih singkat ini mereka pernah menjamah acara keluarga besar Etnomusikologi yaitu dalam acara All Etno yang ke 6, acara ini secara turun-temurun selalu banyak dengan kejutan-kejutan dari adik-adik mahasiswa baru, maka acara ini jangan sampai tidak terlaksana dikarenakan acara yang paling ditunggu oleh mahasiswa-mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta tentunya.

Proses Terbentuknya dan Proses Garapan Karya Group Maliq Ghodong di Surakarta, selengkapnya

Dirjen Dikti: PP 66/2010 Cukup Jelas

Dirjen Dikti: PP 66/2010 Cukup Jelas

JAKARTA – Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Djoko Santoso menegaskan, aturan mengenai penerapan PP No 66 Tahun 2010 sudah cukup jelas, sehingga tidak ada alasan bagi para rektor untuk bingung melaksanakan PP tersebut.
”Rektor mana yang masih bingung? Nggak ada rektor yang bingung kok. Mereka juga menyatakan sudah siap untuk menerapkan. Aturan mengenai pemberian jatah 20% bagi mahasiswa miskin sudah sangat jelas,” katanya, Jumat (22/10).
Karena itu, Djoko justru mengaku heran jika masih ada rektor yang menyatakan belum jelas dengan PP tersebut. Terlebih, aturan yang tercantum dalam PP itu tidak menimbulkan kerancuan.
”Rektor yang masih bingung akan saya tanya, bingungnya di mana? Lha wong barange wis cetha. Sampeyan (para rektor) juga sudah melaksanakan yang 10% melalui program beasiswa Bidik Misi. Jadi, tidak ada alasan untuk bingung,” ujarnya.
Anggota Komisi X DPR RI Reni Marlinawati mengatakan, persoalan teknis yang muncul terkait PP tersebut tidak boleh dijadikan alasan bagi perguruan tinggi untuk menolak mahasiswa miskin. Senada dengan Djoko Santoso, Reni menilai aturan yang tercantum dalam PP  sebenarnya sudah jelas.
”PTN jangan mempermasalahkan persoalan teknis semacam itu. Kampus yang sebenarnya mampu tidak harus terpaku oleh aturan. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak melaksanakan,” tandasnya.
Mengingat penerima bantuan adalah mahasiswa yang mampu secara intelektual namun miskin, hal itu tidak akan memberatkan universitas. ”Kami berharap nantinya beasiswa yang diberikan bukan hanya bebas SPP, tapi juga bantuan biaya hidup sampai lulus..”
Mendiknas Mohammad Nuh menegaskan, tidak boleh ada siswa yang merengek untuk mendapatkan beasiswa. Sebab, perguruan tinggilah yang harus proaktif mendekati mereka.
”Pemerintah melalui PP No 66 menegaskan kepada setiap PTN agar mengalokasikan 20% untuk mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik bagus, tetapi punya keterbatasan ekonomi,” tandasnya. (H28-37)

Sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/10/23/127700/Dirjen-Dikti-PP-662010-Cukup-Jelas

Kelompok lukisan Pita Maha yang mengalami pembaharuan, Bagian I

Kelompok lukisan Pita Maha yang mengalami pembaharuan, Bagian I

Kelompok lukisan yang mengalami pembaharuan pada tema, sinar, bayangan, dan pewarnaan dalam Seni Lukis Pitamaha.
Oleh: Drs. I Dewa Made Pastika

a. Judul karya         : Rajapala.

Bahan                    : kanvas dan tempra.

Tahun pembuatan  : 1972.

Seniman                : Ida Bagus Made Nadera.

Ringkasan ceritera.

Rajapala sedang mencuri kain salah satu dari tujuh bidadari yang sedang mandi. Bidadari tersebut yang kemudian menjadi isterinya Rajapala.

Obyek lukisan.

Lukisan yang berjudul Rajapala mengambarkan bidadari dari kahyangan sedang mensucikan diri (mandi) di sebuah taman. Ketujuh bidadari, semuanya tanpa busana (telanjang), sambil membawa sekuntum bunga untuk menghias diri, berkumpul di sebuah kolam pertamanan.

Sementara dari sela pohon kayu Rajapala sedang mengkait selembar kain bidadari yang kemudian akan menjadi isterinya. Bidadari yang tanpa busana dalam berbagai gerakan menunjukkan adanya napas erotik yang merupakan ciri khas dari karya lukisan Ida Bagus Made Nadera. Di sekitar permandian berbagai jenis tumbuhan dan bunga-bungaan, menambah keheningan dan keindahan suasana taman. Pewarnaan alam cerah didominasi oleh warna biru kelam. Bidadari berwana oker kecoklatan, disertai kontras warna warna antara gelap dan terang sangat tegas dan tajam.

Kesatuan (unity) atau keutuhan

Dalam lukisan yang berjudul Rajapala, tersusun dari unsur-unsur rupa yang dapat menunjang kekompakan, mencapai  suatu kesatuan yang utuh. Unsur rupa tujuh bidadari tersusun dalam ikatan gerakan tubuh yang satu berkaitan dengan yang lainnya. Ada gerakan bidadari yang sedang berdiri, dengan yang  sedang duduk, saling berhubungan pandangan, mengesankan seolah-olah ada komunikasi diantaranya, merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Kelompok tujuh bidadari, ditunjang oleh elemen pertamanan seperti bunga-bungaan, tumbuh-tumbuhan, kolam dan batu-batuan. Rajapala yang sedang mencuri kain bidadari, adalah figur utama yang sangat erat kaitannya dengan judul ceritera, menyatu dengan elemen lainnya.

Garis kontour yang ritmis, sebagai pembatas bentuk sangat besar peranannya dalam mengikat elemen atau unsur rupa lainnya. Garis tersebut pada pemandangan alam sebagai pembatas kontras warna antara gelap dan terang. Yang memisahkan obyek yang jauh dengan obyek yang dekat letaknya, adalah merupakan ciri khas dari karya Ida Bagus Made Nadera.

Garis kontour pada figur bidadari dan bentuk lainnya, ketebalannya mengikuti arah penyinaran dapat mempersatukan bentuk bidadari dan lainnya. Bentuk bidadari didistorsi untuk  penekanan dalam pencapaian karakter, yaitu dengan cara menyangatkan atau memperpanjang proporsi  kaki dan tangan nya.

Kelompok lukisan yang secara utuh mengalami pembaharuan pada bidang tema, proporsi, anatomi plastis, pewarnaan, dan sinar bayangan dalam lukis Pita Maha, selengkapnya

BAN-PT Ingatkan Sistem Akreditasi Telah Berubah

BAN-PT Ingatkan Sistem Akreditasi Telah Berubah

JAKARTA – Kepala Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT), Kamanto Sunarto, mengatakan bahwa BAN-PT telah melakukan perubahan sistem akreditasi. Di mana katanya, yang semula hanya untuk program studi (prodi), saat ini menjadi sistem akreditasi untuk program studi dan institusi perguruan tinggi. Dikatakannya pula, perubahan ini merupakan bagian dari implementasi UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP No 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
“Informasi diubahnya sistem akreditasi ini memang belum banyak yang mengetahui. Oleh karena itu, kami jelaskan bahwa sejak tahun 2007, BAN-PT telah melakukan akreditasi sejumlah institusi perguruan tinggi,” terang Kamanto, di Gedung Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Jumat (22/10).
Selain itu, instrumen akreditasi generik yang dikembangkan pada tahun 2001, terang Kamanto lagi, juga dirumuskan ulang untuk menyesuaikan dengan peraturan/perundangan, serta mengakomodasi perubahan paradigma penjaminan mutu pendidikan. “Paradigma penjaminan mutu itu semula menekankan pada input. Namun sekarang, bergeser pada process-output dan bahkan outcome,” ujarnya.
Lebih lanjut Kamanto menambahkan, dengan memperoleh status akreditasi lewat instrumen baru ini, maka perguruan tinggi diharapkan untuk lebih siap mengajukan akreditasi program studi di tingkat internasional. Dikatakannya, instrumen akreditasi yang baru untuk program studi sarjana sendiri mulai diimplementasikan tahun 2009. Sedangkan untuk program studi diploma, magister dan doktor, dimulai pada tahun 2001.
Untuk diketahui, tercatat hingga saat ini BAN-PT telah melakukan akreditasi terhadap lebih dari 80 institusi perguruan tinggi. Jumlah institusi dan program studi yang harus diakreditasi atau akreditasi ulang sendiri selalu berubah, karena status akreditasi akan kadaluarsa dalam lima tahun. (cha/jpnn)

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2010/10/22/75214/BAN-PT-Ingatkan-Sistem-Akreditasi-Telah-Berubah-

Loading...