M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Ada Apa Dibalik Isu Penolakan PP Pengganti UU BHP?

Ada Apa Dibalik Isu Penolakan PP Pengganti UU BHP?

Judul asliu: Hanya Dimainkan Segelintir Orang
Isu Penolakan PP Pengganti UU BHP Terkait Kepentingan Suksesi Kampus

JAKARTA – Wacana penolakan Peraturan Pemerintah (PP) No 66 Tahun 2010 sebagaimana sempat diungkapkan sejumlah rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dinilai hanya manuver saja untuk kepentingan lain yang sesungguhnya sangat lokal. Kepala Pusat Informasi dan Humas Depdiknas M Muhadjir menegaskan, tidak ada sama sekali wacana penolakan tersebut dalam rapat Majelis Rektor PTN Indonesia di Jakarta, kemarin. “Yang ada rapat tersebut membahas soal persiapan seleksi penerimaan mahasiswa baru,” paparnya kepada INDOPOS (grup JPNN), kemarin.
Sebagaimana diberitakan, sebelumnya mantan Rektor Institut Teknologi Surabaya yang juga anggota kehormatan Majelis Rektor PTN Indonesia Profesor Soegiono mengatakan setuju dengan munculnya usulan dari sejumlah rektor agar materi PP No 66 dan Permendiknas No 24 Tahun 2010  direvisi. Menurutnya, PP yang mengatur pengangkatan rektor/ketua/direktur perguruan tinggi oleh menteri bisa menjadi masalah baru terutama bagi kalangan PTN di daerah. Masalah pengangkatan dan pemberhentian ini dinilainya akan sangat terkait dengan wibawa, peran, dan fungsi mereka sebagai tokoh akademisi di daerah.
“Pertemuan Majelis Rektor mengusulkan agar pengangkatan rector sebaiknya oleh presiden. Karena ini kalau yang ngangkat menteri wibawanya bagaimana nanti, ini menyangkut statusnya, fungsinya di daerah. Mereka itu sangat sentral sekali hubungannya dengan Kapolda, Pangdam, dan sebagainya,” kata Profesor Seogiono.
Terkait hal ini Mendiknas M Nuh menjelaskan, alasan pengangkatan dan pemberhentian rektor dilakukan oleh menteri sebagaimana tertuang dalam PP No 66 dan Permendiknas No 24 Tahun 2010, tak lain karena memang pimpinan Perguruan Tinggi bukan lagi pejabat eselon satu.
“Jabatan rektor atau direktur pada perguruan tinggi negeri sekarang hanya tugas tambahan disamping tugas utama sebagai tenaga pengajar atau atau tugas-tugas akademik,” jelas M Nuh.
Masih terkait isu penolakan PP No 66 Tahun 2010, Kepala Pusat Informasi dan Humas Depdiknas M Muhadjir juga menengarai ada sebagian peserta rapat yang memenag sengaja membocorkan dan menggeser materi rapat menjadi mempersoalkan tentang PP No 66 Tahun 2010. Ini karena substansi pertemuan yang sebenarnya sama sekali tidak membahas materi itu menjadi seolah-olah materi utama pembahasan.
“Padahal substansinya tidak sedang membicarakan hal itu. Sehingga klaim yang menyatakan mayoritas pimpinan perguruan tinggi mempersoalkan PP dan Permen itu juga tidaklah benar,” tutupnya.
Terkait hal ini dari informasi yang dihimpun INDOPOS, beredar kabar wacana penolakan PP No 66 Tahun 2010 sengaja diangkat terkait proses suksesi pemilihan rektor baru yang tengah digelar sebuah PTN di Surabaya. Dengan wacana tersebut diharapkan menjadi pressure untuk mengarahkan hak suara pemerintah dalam hal ini Mendiknas. Sekadar informasi sesuai PP yang baru, tata cara pemilihan rektor 65 persen menjadi hak suara senat kampus dan 35 persen selebihnya menjadi hak suara pemerintah. Disinilah peran pemerintah bisa ikut menentukan jalannya perguruan tinggi. (did)

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2010/11/03/76166/Hanya-Dimainkan-Segelintir-Orang-

Hasil Penelitian, Perkaya Repertoar Gending Gambang Di Bali

Hasil Penelitian, Perkaya Repertoar Gending Gambang Di Bali

Kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi di kampus ISI Denpasar senantiasa berjalan dengan harmonis. Kegiatan belajar-mengajar, ”workshop” dan seminar, pengabdian masyarakat, serta penelitian selalu mewarnai kampus seni ini. Di bidang penelitian, ISI Denpasar telah menelorkan sebuah hasil penelitian teks lontar Kidung Gambang Gita Gegrantangan yang ada di Desa Sidemen Karangasem dengan sembilan jenis Puh Kidung diantaranya Puh Ratricetana, Puh Jayendriya, Puh Pangalang Sumaguna, Puh Manjaya Saluaga, Puh Rangga Kikis, Puh Larangan, Puh Singanalang, Puh Ukir Padelegan, dan Puh Pamandana yang ditransformasikan ke dalam seni karawitan. Lontar ini menjadi obyek penelitian dalam mendukung industri kreatif yang merupakan hibah kompetitif penelitian sesuai priyoritas nasianal dengan tema seni dan sastra.

Penelitian yang diketuai oleh Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A., dosen jurusan karawitan yang juga Rektor ISI Denpasar ini menggandeng ahli sastra dari Fakultas Sastra UNUD, Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. yang mentransliterasi lontar dari aksara Bali kedalam tulisan latin  Bahasa Kawi dan menerjemahkan kedalam Bahasa Indonesia,  Ni Ketut Dewi Yulianti, S.S., M.Hum. dan I Gde Agus Jaya Sadguna, SST.,Par., M.Par. menerjemahkan kedalam Bahasa Inggris, serta I Gst Ayu Srinatih, S.ST.,M.Si. dan Drs. Rinto Widyarto, M.Si., dari Jurusan Tari. Hasil penelitian ini, kemarin Selasa (2/11) telah memasuki tahap perekaman proses transformasi dari Kidung Gambang Gita Gegrantangan kedalam Gambelan Gambang. Proses perekaman ini didukung oleh para seniman pengerawit ISI Denpasar yang handal dalam bidang Gambang diantaranya I Gede Yudartha, SSKar., M.Si., I.B. Nyoman Mas, SSKar.,M.Si., I Ketut Sudiana, SSKar., M.Si. dan mahasiswa serta alumni Jurusan Karawitan.

Prof. Rai mengatakan bahwa hasil penelitian ini akan menjadi sumber referensi dan inspirasi bagi seniman Bali dan dunia pendidikan. “Lontar Kidung Gambang Gita Gegrantangan yang ditranformasikan ke dalam seni karawitan, seni tari, pedalangan, serta seni lukis, yang sarat dengan makna filosofi, pendidikan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang cukup potensial ini, akan dapat dijadikan media informasi, edukasi, ritualisasi, pembinaan watak dan hiburan,” harapnya.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Generasi Muda Bali, Berlomba Menyayangi Seni

Generasi Muda Bali, Berlomba Menyayangi Seni

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan

Kompetisi seni merupakan arena pacu yang telah melecut gairah bercumbu dengan nilai-nilai keindahan dan mereguk esensi kasih jagat seni. Seperti tampak sejak pagi hingga sore hari pada tanggal 24-25 Juli lalu itu  di Bale Wantilan Puri Ubud. Ratusan remaja yang datang dari seantero Bali  hadir sarat gairah unjuk kebolehan membawakan tari Baris, Legong, Margapati, Tarunajaya, Kebyar Duduk, dan tari Topeng Keras. Gelora menjadi yang terbaik memompa semangat mereka untuk menunjukkan totalitasnya menari. Namun demikian, dalam persaingan lomba seni tersebut, riak-riak damainya kasih seni mengemuka sangat kental. Rona kegirangan menyembur pada para peserta lomba.

Kreativitas dan inovasi seni tabuh dan tari secara bersaing dan bersanding telah menunjukkan fenomena menggembirakan terhadap pewarisan nilai-nilai estetik bangsa, misalnya tampak dalam peristiwa seni yang bersifat kompetitif. Di kalangan anak-anak Bali, seperti yang mencuat dalam Festival/Parade  Gong Kebyar, menabuh atau menari dengan dorongan lomba menggedor motivasi mereka untuk berprestasi seni yang biasnya bukan hanya sebatas hasrat berprestasi dalam jagat seni semata namun bisa jadi pula dalam kehidupan yang lebih luas. Lewat kancah seni ini, anak-anak Bali yang sejak dini berasyik masyuk dengan nilai-nilai keindahan seni akan tumbuh menjadi generasi kontributif bagi masa depan yang lebih cerah dalam kehidupan berbangsa.

Eksistensi kesenian Bali, seni pertunjukan khususnya, kiranya ikut disangga oleh penyelenggaraan kompetisi seni. Lomba-lomba tari Bali, gamelan Baleganjur, Gong Kebyar yang belakangan sering digelar memiliki kontribusi yang signifikan terhadap internalisasi nilai-nilai estetik bagi generasi muda. Melalui arena lomba ini, diantaranya, muncul generasi pewaris bangsa yang teruji dalam bidang seni pertunjukan. Globalisasi yang mencengkeram segala aspek kehidupan direspon dengan penuh respek oleh kalangan generasi seniman belia Bali terhadap nilai-nilai budaya lokalnya. Lomba adalah sebuah strategi menempatkan dan memberdayakan energi kesenian Bali dalam konteks kekinian.

Seni adalah nilai keindahan yang hidup dan berkembang seturut dengan peradaban kebudayaan manusia. Dipercaya, binar lahiriah keindahan seni menyemburkan kedamaian nurani dan aura terdalam dari jagat seni memiliki dimensi spiritual yang berkontribusi kuat pada moralitas  subjek kemanusiaan. Idealnya, seni malahan dianggap mampu memanusiakan manusia. Untuk mengawal moralitas setiap individu–dengan keyakinan seni sebagai penyejuk moral—jagat kesenian sangat fungsional dijadikan sebagai media pendidikan moralitas bangsa. Kebhinekaan Indonesia yang memiliki puspa warna ekspresi seni, dengan demikian, sangat memungkinkan menjadi bangsa yang menjunjung moral dengan penuh takzim. Mungkinkah?

Generasi Muda Bali, Berlomba Menyayangi Seni

PT Terkendala Pengisian Borang

PT Terkendala Pengisian Borang

SEMARANG- Perguruan tinggi (PT) baik negeri maupun swasta mengaku pesimistis untuk memenuhi target penyelesaian proses akreditasi pada 2012.
Pasalnya, selain karena menambah prodi baru di institusinya, pihaknya juga terkendala pengisian borang (lembaran pengecekan penilaian akreditasi dari BAN PT) sebagai syarat akreditasi.
’’Kalau proses akreditasi ditargetkan harus selesai 2012, jelas akan ada persoalan terutama pada pengisian borang yang dilakukan PT,’’ kata Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang Wijaya SH MHum, kemarin.
Pengisian borang memerlukan waktu lama, karena harus mengumpulkan data mahasiswa, kegiatan tri darma pendidikan, dan penelitian yang merupakan syarat proses akreditasi.
Wijaya menuturkan, perlu ada pengecualian bagi PT yang membuka prodi baru terutama pada 2010 dan 2011. Sebab, jangan sampai keinginan PT untuk berkembang dihambat  sebuah aturan. Karena itu, dia mengharapkan aturan yang diadakan untuk memenuhi target tersebut diarahkan pada inovasi yang lebih baik.
Perkembangan prodi baru saat ini memang sangat dinamis di mana PT terus melihat peluang untuk meningkatkan daya tampung. Apalagi bagi mereka yang telah beralih status dari dinaungi Kemenkes menjadi Kemendiknas. Dengan demikian, perkembangan ilmu tidak dapat dibendung.
Untag dalam waktu dekat akan membuka dua prodi baru dan mengajukan proses akreditasinya pada tahun 2011, sehingga sangat sulit untuk menyelesaikan pada tahun 2012.
BAN PT Wijaya menjelaskan, kendala lain di luar PT bisa saja terjadi dari Badan Akreditasi Nasional (BAN) sendiri. Apakah BAN mampu mengakreditasi semua prodi di Indonesia dan dapat melakukan visitasi untuk penilaian di tiap PT? Sementara yang sudah divisitasi  belum ada hasilnya. Karena itu, BAN perlu mengeluarkan perpanjangan sementara dengan berkoordinasi dengan Dikti.
Kendala serupa juga dialami Rektor Unissula Prof Dr Laode M Kamaluddin. Pihaknya menyatakan kurang setuju dengan target penyelesaian proses akreditasi pada 2012. Hal ini dianggapnya amat cepat.
“Beri waktu perguruan tinggi untuk mengisi borang akreditasi dan mengaktifkan kegiatan tri dharma PT, terutama pada prodi-prodi baru untuk menggairahkan kegiatan akademis,” ujarnya.
Target dari Kemendiknas, jelas amat sulit diikuti. Kalau ini benar-benar diterapkan tanpa ada waktu perpanjangan, menjadi sebuah blunder bagi pemerintah. Itu artinya, pemerintah kurang merestui pengembangan seluruh perguruan tinggi, terutama yang berstatus swasta.
Ternyata tak hanya PT swasta yang kesulitan mematuhi aturan Kemendiknas. PT negeri juga mengeluhkan. Meski begitu, Rektor Undip Prof Dr dokter Susilo Wibowo menyatakan tidak mau pusing dengan aturan Kemendiknas.
“Kalau kami terpancang, pengembangan prodi yang benar-benar akademis tak akan bisa tercapai. Kami tetap menunggu hingga prodi-prodi baru meluluskan mahasiswa. Harusnya Pemerintah Pusat mengerti akan hal tersebut. Keterlambatan pengiriman borang ke pusat bukan dikarenakan kesalahan PT, melainkan kesalahan aturan dari pusat,” tutur dia seraya menguraikan beberapa prodi baru yang dibentuk Undip, yakni Geologi dan Teknik Sistem Komputer. (K3,hdq-37)

Sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/11/02/128807/PT-Terkendala-Pengisian-Borang

Loading...