by dwigunawati | Dec 7, 2011 | Berita, Galeri
Skrip karya ini mengambil tema “ Fenomena Kehidupan Perempuan Tua Sebagai Sumber Inspirasi Dalam Penciptaan Karya Seni Lukis”. Berawal dari melihat dan memperhatikan tentang kehidupan perempuan tua yang menyentuh perasaan yang mengarah pada filosofi tentang hakekat kehidupan, ketika perempuan mulai tua ia akan semakin berpegang teguh pada perbuatan dan tingkah laku yang bijak kesopanan dan kerendahan hati. Dari sudut pandang itulah menjadikan dorongan untuk pencipta mengangkat perempuan tua sebagai sumber inspirai dalam penciptaan karya seni lukis.
Untuk mempermudah proses perwujudan karya diperlukan kajian sumber sebagai referensi di dalam pencipta berkarya. Adapun kajian yang diterapkan dalam penciptaan ini adalah melalui pengamatan obyek, pengamatan karyadari seniman lain, dari media komunikasi dan media cetak lainnya, yang kemudian diteruskan pada proses penciptaan melalui tahap penjelajahan, tahap eksperimen, dan tahap pembentukan, sehingga terwujud karya yang sesuai tema yang diinginkan.
Akhirnya dapat disimpulkan terkait dengan tema bahwa sosok kehidupan perempuan tua mempunyai permasalahan yang komplek dan terkadang sangat sulit untuk dipecahkan, sehingga mampu mebangkitkan inspirasi seni yang mendorong munculnya ide-ide pencipta untuk merealisasikan semua itu kedalam karya seni lukis. Dalam visual karya pencipta menggunakan teknik dusel, dan teknik kerok.
Kata kunci : Fenomena Perempuan Tua, penciptaan seni lukis

by admin | Dec 6, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: I Made Budiarsa, Mahasiswa PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Genggong merupakan sebuah instrument musik yang sudah kita warisi sejak zaman yang lampau. Sebagai instrumen musik tua, Genggong memiliki bentuk yang sangat kecil dan nampaknya sangat sederhana. Meskipun demikian, alat music ini memiliki teknik yang cukup rumit. Genggong merupakan sebuah instrumen musik yang sangat menarik. Alat musik ini terbuat dari pelepah enau (Bahasa Bali Pugpug), berbentuk segi empat panjang dengaan ukuran panjang kurang lebih 16 cm dan lebar 2 cm. Ditangah- tengahnya sebuah pelayah sepanjang kurang lebih 12 cm; pada ujung kanan di buat lubang kecil tempat benang itu diikatkan pada sebuah potongan bambu kecil sepanjang 17 cm, sedangkan pada ujung kirinya diikatkan kain sebagai tempat pegangan ketika bermain. Genggong sering dimainkan oleh para petani sambil melepas lelah di sawah, kadang- kadang di mainkan di rumah, bahkan tidak jarang bahwa seseorang memainkan genggong dengan maksud menarik perhatian wanita (kekasihnya), sebagaimana halnya dilakukan dengan instrumen suling. Hanya saja dengan adanya parkembangan dunia yang sangat pesat dewasa ini, kebiasaan untuk menarik perhatian wanita dengan menggunakan genggong semakin jarang kita jumpai.
Jumlah tungguhan dalam satu perangkat gambelan genggong, pada masing-masing sekha didapatkannya adanya jumlah maupun jenis tungguhan yang berbeda-beda. Perbedaan penggunaan tungguhan-tungguhan dalam satu perangkat merupakan hal yang umum di kalangan karawitan bali.
Jumlah Instrumentasi
Instrumen utama yaitu Genggong yang terbuat dari Pugpug terdiri dari dua jenis yaitu:
Beberapa buah Genggong yang bertugas membentuk jalinan-jalinan.
Seperti dari apa yang telah dijelaskan diatas bahwa alat music ini terbuat dari pelepah enau (Bahasa Bali Pugpug), berbentuk segi empat panjang dengaan ukuran panjang kurang lebih 16 cm dan lebar 2 cm. Ditangah-tengahnya terdapat sebuah pelayah sepanjang kurang lebih 12 cm; pada ujung kanan di buat lubang kecil tempat benang itu diikatkan pada sebuah potongan bambu kecil sepanjang 17 cm, sedangkan pada ujung kirinya diikatkan kain sebagai tempat pegangan ketika bermain.
Alat yang disebut Sompret. Dimana suara yang ditimbulkan menyerupai suara katak.
Alat ini pula sama bahannya terbuat dari pelapah enau (Pupug dalam bahasa Bali). Tungguhan ini tidak memiliki ikuh capung seperti pada gambar diatas, namun hanya memiliki sebuah pelayah sebagai sumber bunyinya.
Selain dari dua yang telah disebutkan diatas terdapat beberapa instrument lain, diantaranya :
Sepasang kendang krumpungan.
Nama dari salah satu tungguhan yang bahan utamanya terdiri dari kayu dan kulit. Kayu digunakan pada bagian bantang sedangkan kulit digunakan pada bagian penukub. Kendang krumpungan dimainkan dengan tehnik mamukul dengan tangan (tanpa menggunakan panggul), seperti kendang kekebyaran. Perbedaan pada kendaang kekebyaran dengan kendang krumpungan terletak pada ukurannya serta cara menabuhnya. Pada kendang krumpungan, tebokan yang kedil dipukul pada bagian atasnya dengan jari-jari, sehingg amenimbulkan bunyi “teng” dan “tong”. Kendang krumpungan selalu dimainkan dengan cara berpasangan (tidak ada kendang tunggal).
Satu buah Plentit.
Tungguhan iini terbuat dari potongan bamboo dengan lubang yang menganga pada bagian atasnya berfungsi sebagai resonator. Pada bagian sisi dari lobang tersebut ditancapkan besi kecil dimana nantinya bilah yang akan dipukul ditancapkan. Perlu diingat Pada bagian pangkal besi diisi karet agar suara yang dihaslkan dari bilah tersebut dapat optimal.
Satu buah Gong Pulu.
Gong pulu menggunakan dua buah bilah, satu dengan yang lainnya mempunyai nada yang sama dengan sedikit perbedaan frekwensi, sehingga menimbulkan efek ombak. Stik atau panggul yang dipergunakan mirip dengan panggul jegog hanya yang membedakannya adalah berbentuk huruf V, dimana dua panggul dikaitkan menjadi satu.
- Tungguhan Tawa-tawa (tambur)
Salah satu tungguhan sejenis kajar dibuat dari perunggu, berbentuk bundar dengan ukuran garis tengah sekitar 31 cm. tungguhan tawa-tawa tidak menggunakan tatakan seperti tungguhan kajar atau ceng-ceng. Tungguhan tawa-tawa ditabuh dengan cara meletakkannya di atas tekukan tangan kiri dan dipegang pada bagian batis. Tungguhan ini ditabuh dengan satu orang dengan menggunakan sebuah panggul terbuat dari kayu dimana pada bagian ujungnya dibungkus dengan kain agar dapat menimbulkan bunyi yang empuk. Saat menabuhnya tidak disertai dengan tutupan seperti pada tungguhan kajar. Namun dalam peranannya dalam genggong tungguhan ini biasanya diletakkan diatas paha saat dalam posisi bersila.
beberapa buah suling kecil dan menengah
Suling merupakan alat musik tiup dengan tehnik pernafasan tanpa terputus-putus (Ngunjal Angkihan). Secara suling di Bali terbuat dari bamboo. Dilihat dari cara memainkannya suling, jenis suling terdapat dua macam, yaitu suli yang ditiup pada bagian ujung dan suling yang ditiup pada bagian atas. Suling yang ditiup pada bagian atas biasanya menggunakan suwer dengan lubang pada bagian bawahnya. Saat memainkannya, jenis suling ini berada di depan pemain. Suling dalam hal ini biasanya bermain menyajikan bantang gending atau lagu pokok.
Genggong Selengkapnya
by admin | Dec 6, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Ida Bagus Surya Peradantha, SSn., MSn
Pembahasan tentang indera penciuman ini terdapat pada bab VII dari buku yang berjudul “Tubuh Sosial” karangan dari penulis Anthony Synnott. Penciuman merupakan indera yang sebenarnya memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Ia berperan begitu vital dalam setiap interaksi sosial, seperti soal makanan dan minuman, terapi, agama, industri, relasi klas etnik sosial, (dan bahkan ke dalam ranah seni), bau-bauan ada di mana-mana dan memiliki fungsi yang sangat beragam.
Ada tiga jenis bau-bauan yang bisa dibedakan, yaitu :
- bau-bauan alami : contohnya bau-bauan tubuh
- bau-bauan pabrik : contohnya parfum, polusi, limbah pabrik,
- bau-bauan simbolik : contohnya metafor-metafor bebauan.
Tiga jenis bebauan ini tidak sepenuhnya terpisah, karena dalam situasi apapun, ketiganya hadir berpadu bersama. Namun secara konseptual, ketiganya sesungguhnya terpisah.
Largey & Watson ( 1972 ) dalam artikelnya yang berjudul “ The Sociology of Odours “ menegaskan : Bebauan memiliki banyak sisi ; penanda ikatan, simbol status, penjaga jarak, suatu teknik manajemen kesan, lelucon, atau protes anak sekolah dan sinyal bahaya dan di atas semuanya, bebauan adalah pernyataan mengenai sesorang, siapapun dia. Artinya disini bahwa penciuman bisa mendefinisikan individu ataupun kelompok, sebagaimana indera yang lain, dan penciuman juga bisa menjadi perantara bagi interaksi sosial.
Kontradiktif terhadap beberapa pernyataan di atas bahwa secara mengejutkan, 57% dari total 182 sampel mahasiswa menyatakan lebih memilih kehilangan indera penciuman mereka dibanding indera yang lainnya. Beragam alasan pun diberikan, mulai dari penciuman relative tidak penting, kecuali menginformasikan bau roti gosong, penciuman terkait dengan alergi, sinus dan sebagainya, sehingga tidak merasa begitu kehilangan jika indera ini tak ada.
Di samping itu pula, organ penciuman dipandang rendah oleh karena sedikitnya kosakata yang khusus bagi penciuman. Penciuman hanya mengenal kosakata enak atau tidak enak, harum atau bau dan juga netral. Bila kita bandingkan dengan indera pengelihatan, ia akan tergantung dari intensitas cahaya yang masuk ke retina, sehingga bisa membedakan warna. Indera pengecapan memiliki 4 bentuk rasa yaitu : manis, asam, asin , pahit. Indera suara memiliki satuan ukuran kencang rendahnya suara, tergantung vibrasi yang tercipta dari sumber bunyi, yang disebut Decibel (db). Indera sentuhan ditentukan oleh temperatur, ambang rasa sakit, tekanan, dan respon kulit terhadap listrik dan variabel lainnya. Namun, tentang indera penciuman, tidak ada konsesnsusnya. Yang dibutuhkan disini hanyalah penghayatan semata.
Jika kita melihat ke belakang, maka tidaklah mengherankan apabila sebagian orang memandang remeh indera penciuman ini. Aristoteles, pada jaman dahulu telah mengembangkan suatu hierarki indera yang sangat jelas :
“di bagian atas terdapat indera pengelihatan dan pendengaran, karena bisa melihat kecantikan dan mendengar musik yang dapat membimbing menuju Allah.
di bagian bawah terdapat indera cita rasa dan sentuhan hewani, yang kerap kali disalah gunakan oleh kerakusan dan nafsu yang menjauhkan manusia dengan Tuhan.
penciuman berada di antara kedua bagian ini. Ia tak dapat disalahgunakan, juga tak dapat memimpin menuju Tuhan.”
Masih cukup banyak beberapa tokoh pada jaman dahulu yang menolak dan meremehkan keberadaan indera penciuman. Termasuk Helen Keller yang sejak usia 19 bulan mengalami buta tuli. Ia menyatakan indera penciuman sebagai “malaikat jatuh”, tetapi menekankan “keagungan indera yang telah kita tolak dan remehkan ini”. Mengapa malaikat jatuh, mungkin saja dapat diartikan sebagai anugerah Tuhan kepada dirinya untuk dapat melanjutkan hidup, dan selanjutnya ditolak atau diremehkan. Tetapi, mau tidak mau, penciuman itulah aset “berharga” yang ia miliki selain mungkin sentuhan untuk dapat memaknai segala yang terjadi di sekitarnya.
Secara fisiologis, penciuman adalah indera yang sangat kuat. Dengan latihan, seseorang yang sehat akan mampu mendeteksi antara 10 sampai 40.000 bau yang berbeda. Sementara para ahli seperti ahli parfum atau pencampur whiski, dapat membedakan hingga 100.000 bau. Statistic ini memang tidak mutlak dan sulit dibuktikan kebenarannya. Bagaimanapun juga, dari sana dapat dilihat betapa penciuman pun memiliki peranan penting secara fisiologis, sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk meniadakan indera yang satu ini.
Penciuman juga sering diasosiasikan dengan memori. Pengalaman–pengalaman yang terjadi pada masa lalu sering kali terbangkit ketika seseorang mencium bau yang khas. Dan sebaliknya pula, ketika seseorang mencium sesuatu, memorinya akan jauh melenggang ke masa lalu dimana bau-bauan itu pernah ia rasakan sebelumnya. Seperti yang dialami oleh Gilbert dan Wycoski ( 1987 : 524 ), salah satu penciuman favoritnya adalah bau pupuk kotoran sapi. Bau tersebut membawanya pada liburannya yang indah di tempat sang bibi di Ohio selatan saat masa kanak-kanak dulu. Mungkin inilah yang oleh Hellen Keller dikatakan sebagai “penyihir kuat” karena mampu membawa kita melintasi ribuan mil dan tahun-tahun yang telah dilewati karena teringat dengan bebauan tadi.
Ada satu hal menarik yang dapat dipetik dari pernyataan Gilbert dan Wycoski, dimana bau pupuk kotoran sapi itu menurut mereka harum karena menimbulkan memori yang indah. Ini menunjukkan bahwa bau fisik dan realitas metafisik secara simbolis saling timbal balik, dimana saat-saat yang baik sama dengan bau-bauan yang enak. Karena itu, bau-bauan sering kali dievaluasi sebagai positif atau negatif berdasarkan konteks yang diingat. Dengan demikian, makna dari bau-bauan ekstrinsik dan terkonstruksi secara individual atau sosial.
Indera Penciuman dalam Dunia Seni, sebuah resensi selengkapnya
by dwigunawati | Dec 6, 2011 | Berita, Galeri
Musik bagi sebagian orang merupakan sebuah kebutuhan pokok yang wajib mereka konsumsi setiap harinya. Tanpa musik dunia mungkin terasa kurang berwarna, bahkan ada yang menjadikan musik itu sebagai sumber inspirasi dan motivasi bagi hidup mereka. Tidak bisa dipungkiri lagi kalau musik pada zaman ini sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dari berbagai belahan dunia setiap harinya muncul begitu banyak musisi dalam format yang berbeda – beda dan aliran yang sangat beragam. Media komunikasi visual yang tepat guna memiliki peran yang sangat penting bagi para musisi dan pelaku bisnis di industri musik untuk mempromosikan produk mereka, tanpa mengesampingkan kualitas musikalitas yang mereka tawarkan dari produk mereka itu sendiri.
Scared of Bums adalah nama salah satu band indie bali yang sudah menapaki karier musiknya sejak tahun 2003. Untuk menunjukkan eksistensi mereka , band ini akan segera merillis album ke dua mereka. Guna mendukung penjualan album ini, maka diperlukan media komunikasi visual yang tepat guna sebagai sarana promosi album tersebut. Perancangan ini bertujuan untuk memperoleh media komunikasi visual yang efektif sesuai dengan teori, konsep dan keadaan di lapangan. Data-data yang diperoleh dari hasil penelitian, wawancara, dan data teoritis diolah melalui analisis dan sintesa sehingga diperoleh konsep perancangan sebagai dasar merancang media komunikasi visual yang sesuai dengan kriteria desain.
Konsep dasar perancangan yang digunakan adalah propaganda yang disesuaikan dengan judul album ke dua Scared of bums band yang bertajuk Let’s turn on a fire yang memiliki makna ayo kobarkan semangatmu . visualisasi desain menampilkan suasana penuh semangat dengan ilustrasi yang mengindikasikan ikon api dan kepalan tangan sebagai simbol semangat. Dalam proses perancangan media telah ditentukan media yang tepat dan sesuai yaitu kemasan compact disc, iklan majalah, poster, x-banner, stiker, baliho, goody bag, banner, t-shirt dan katalog sehingga, nantinya dapat menunjang penjualan album ke dua Scared of bums band.
Kata Kunci : Perancangan, Media Komunikasi Visual, Promosi, Album Let’s turn on a fire band Scared of bums.