Foto: Pergelaran Seni Nasional (Kalang Kalangon), Minggu (9/11) di Bangsal Kepatihan, Pakualaman, Yogyakarta.
Serangkaian Bali Nata Bhuwana IV 2025, Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) menyelenggarakan pergelaran seni nasional (Kalang Kalangon) dengan tema “Warma–Bhuwana–Wangsa: Derma Manusia Dunia”, Minggu (9/11) di Bangsal Kepatihan, Pakualaman, Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi wahana diseminasi hasil Penelitian, Penciptaan, Diseminasi, Seni – Desain (P2DSD) dosen ISI BALI, yang menampilkan hasil riset, penciptaan, dan inovasi artistik dalam format pertunjukan publik.
Pergelaran Kalang Kalangon dibuka secara resmi oleh Gusti Pangeran Haryo Indrokusumo, yang hadir mewakili Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPA) Paku Alam X, Adipati Pura Pakualaman. Dalam pembukaan tersebut, beliau menyampaikan apresiasi atas kontribusi ISI BALI dalam memperkaya ekosistem seni nasional serta mempererat hubungan budaya antara Yogyakarta dan Bali.
Foto: Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana menyerahkan cinderamata kepada Gusti Pangeran Haryo Indrokusumo dan Ketua Komisi Senat ISI Yogyakarta, Prof. Dr. I Wayan Dana, S.S.T., M.Hum, Minggu (9/11) di Bangsal Kepatihan, Pakualaman, Yogyakarta.
Rektor ISI BALI Prof. Dr. I Wayan Adnyana dalam sambutannya menyampaikan bahwa pergelaran Kalang Kalangon merupakan wujud komitmen ISI BALI dalam meneguhkan seni sebagai ruang perjumpaan nilai, pengetahuan, dan kemanusiaan. “Melalui tema Warma–Bhuwana–Wangsa, kami ingin menegaskan bahwa seni adalah derma—pengabdian kreatif manusia kepada dunia. Pergelaran ini menjadi medium untuk membangun jejaring kebudayaan, memperkuat kolaborasi antarwilayah, serta menghadirkan karya-karya yang lahir dari penelitian, pengajaran, dan praktik artistik di lingkungan kampus,” ujarnya.
Foto: Pergelaran Tari Warma–Bhuwana–Wangsa (Derma Manusia Dunia), Minggu (9/11) di Bangsal Kepatihan, Pakualaman, Yogyakarta.
Pergelaran ini menampilkan rangkaian karya seni terpilih sebagai wujud “derma” pengetahuan, kreativitas, dan estetika kepada masyarakat. Adapun karya yang dipentaskan meliputi Tari Golek Nangun Asmara oleh AKN Yogyakarta, Konser Ladrang Asmaradana Laras Pelog Pathet Nem oleh AKN Yogyakarta, Tari None Nyentrik oleh Sanggar Ayodya Pala Jakarta. Karya Pemenang P2DSD Berdampak ISI BALI yang dipentaskan, yakni Tari Prasnaya Prami, Konser Kebyar Citta Utsawa, dan karya utama Tari Warma–Bhuwana–Wangsa (Derma Manusia Dunia).
Melalui pergelaran ini, ISI BALI tidak hanya mementaskan sajian seni, tetapi juga mendiseminasikan hasil penelitian dan penciptaan seni dari dosen dan mahasiswa, sebagai bentuk nyata kontribusi akademik dan artistik bagi perkembangan seni budaya Nusantara. Acara ini menjadi ajang penting dalam memperkuat dialog kreatif antara seniman, akademisi, dan masyarakat, sekaligus menegaskan peran seni sebagai jalan pengabdian manusia kepada dunia. (ISIBALI/Humas)
Art Innovation Born from Silence: ISI Bali Fosters Self-Confidence among the Disabled Community through the Pependetan Nirmala Dance in Buleleng, Bali
Photo: Joint practice session with the Kolok community in Bengkala Village, Buleleng, Bali, Thursday (30/10)
The proposal team from the Indonesian Institute of the Arts (ISI) Bali successfully implemented the Nusantara Art Innovation Program (PISN) with the theme “Art Innovation from Silence: Building Expression and Self-Confidence among the Disabled Community through the Pependetan Nirmala Dance.” The program was led by Ida Ayu Trisnawati, with team members I Gusti Putu Sudarta and Ida Bagus Ketut Trinawindu, and involved three ISI Bali students: Made Tarayana Amanda Putra, I Dewa Gede William Sedana Putra, and Komang Jana Arta Saputra.
The program was centered in Bengkala Village, Buleleng Regency, widely known as the “Deaf Village” (Desa Kolok) due to its community of people with hearing impairments. Although the village possesses strong artistic potential, the disabled community still faces various limitations in accessing spaces for artistic expression and personal development. This situation inspired the creation of an artistic work that is not only aesthetically appealing but also socially and spiritually meaningful.
Through the creation of the Pependetan Nirmala Dance, the ISI Bali team sought to establish an inclusive artistic space—one that provides individuals with disabilities the opportunity to express themselves, enhance their self-confidence, and at the same time preserve the cultural and spiritual values of Balinese society. This initiative also aligns with broader efforts to strengthen human resource development in the fields of art, education, gender equality, and the empowerment of persons with disabilities.
The program was carried out in several stages, beginning with the PISN socialization session on 17 October 2025, followed by the Pependetan Nirmala dance training on 30 October 2025. The training took place in collaboration with the Kolok Santhi Community at Banjar Dinas Kajanan, Bengkala Village, Kubutambahan District, Buleleng Regency. The activities were conducted in an atmosphere of enthusiasm and inclusivity, where participants not only learned basic movements and choreography but also explored self-expression, spiritual meanings of movement, and collaborative creation.
In addition to the training, the program included the design of adaptive costumes and properties, intensive mentoring, and documentation of both process and outcomes. Ultimately, the program aims to produce a model of inclusive performing arts that can be adopted by other communities, while reinforcing the interconnection between art, culture, and social empowerment.
Photo: With the Kolok community in Bengkala Village, Buleleng, Bali.
The outcomes of this program have been remarkably positive. Members of the Kolok Santhi Community demonstrated significant improvement in their artistic skills, self-confidence, and enthusiasm in presenting their creations. The culmination of these efforts was the successful staging of an inclusive performance of the Pependetan Nirmala dance, which received widespread appreciation from both the people of Bengkala Village and art enthusiasts.
In addition to the performance, the program also produced a dance learning module, an instructional video, and popular scientific documentation as references for the future development of inclusive art practices. Thus, the Pependetan Nirmala dance stands not only as a new artistic creation but also as a symbol of togetherness, courage, and beauty born from silence.
This program serves as a testament that art can be a bridge for everyone to express themselves—beyond physical abilities or social conditions. Through the collaboration between academics, artists, and local communities, ISI Bali has successfully demonstrated that innovation within traditional arts can generate tangible and sustainable social transformation.
Inovasi Seni dari Keheningan:ISI Bali Bangun Kepercayaan Diri Komunitas Difabel Lewat Tari Pependetan Nirmala, Buleleng. Bali
Foto: Latihan bersama masyarakat Kolok di Desa Bengkala, Buleleng, Bali Kamis (30/10)
Tim pengusul dari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali) sukses melaksanakan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) dengan tema “Inovasi Seni dari Keheningan: Membangun Ekspresi dan Kepercayaan Diri Komunitas Difabel melalui Tari Pependetan Nirmala.”Program ini diketuai oleh Ida Ayu Trisnawati, dengan anggota pelaksana I Gusti Putu Sudarta dan Ida Bagus Ketut Trinawindu, serta melibatkan tiga mahasiswa ISI Bali: Made Tarayana Amanda Putra, I Dewa Gede William Sedana Putra, dan Komang Jana Arta Saputra.
Program ini berfokus di Desa Bengkala, Kabupaten Buleleng, yang dikenal sebagai “Desa Kolok”, karena sebagian warganya merupakan penyandang tunarungu. Meskipun desa ini memiliki potensi seni yang kuat, komunitas difabel masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam mengakses ruang ekspresi dan pengembangan diri. Dari kondisi itulah muncul gagasan untuk menghadirkan karya seni yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga bermakna sosial dan spiritual.
Melalui penciptaan Tari Pependetan Nirmala, tim ISI Bali berupaya menghadirkan ruang seni yang inklusif, memberi kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk mengekspresikan diri, meningkatkan kepercayaan diri, sekaligus menjaga nilai budaya dan spiritual masyarakat Bali. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pembangunan sumber daya manusia di bidang seni, pendidikan, kesetaraan gender, dan pemberdayaan penyandang disabilitas.
Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap, dimulai dengan sosialisasi program PISN pada 17 Oktober 2025, diikuti oleh pelatihan tari Pependetan Nirmala pada 30 Oktober 2025. Pelatihan dilaksanakan bersama mitra Komunitas Kolok Santhi di Banjar Dinas Kajanan, Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng. Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh semangat, di mana peserta tidak hanya diajarkan gerak dasar dan koreografi, tetapi juga diajak untuk mengolah ekspresi diri, memahami makna spiritual gerak, serta berkolaborasi dalam mencipta. Selain pelatihan, program ini juga melibatkan penciptaan kostum dan properti adaptif, pendampingan intensif, serta dokumentasi proses dan hasil karya. Tujuan akhirnya adalah melahirkan model seni pertunjukan inklusif yang dapat diterapkan oleh komunitas lain, sekaligus memperkuat hubungan antara seni, budaya, dan pemberdayaan sosial.
Foto: Bersama masyarakat Kolok di Desa Bengkala, Buleleng. Bali.
Hasil dari pelaksanaan program ini sangat positif. Para anggota Komunitas Kolok Santhi menunjukkan peningkatan keterampilan, rasa percaya diri, dan antusiasme dalam menampilkan karya mereka. Puncaknya adalah terselenggaranya pertunjukan inklusif Tari Pependetan Nirmala yang mendapat apresiasi luas dari masyarakat Desa Bengkala dan para pemerhati seni.
Selain pertunjukan, program ini juga menghasilkan modul dan video pembelajaran tari, serta dokumentasi ilmiah populer sebagai referensi untuk pengembangan seni inklusif di masa mendatang. Dengan demikian, Tari Pependetan Nirmala tidak hanya menjadi karya seni baru, tetapi juga simbol dari kebersamaan, keberanian, dan keindahan yang tumbuh dari keheningan. Program ini menjadi bukti bahwa seni dapat menjadi jembatan bagi siapa saja untuk mengekspresikan diri, tanpa batas kemampuan fisik atau kondisi sosial. Melalui kerja sama antara akademisi, seniman, dan komunitas lokal, ISI Bali berhasil menunjukkan bahwa inovasi dalam seni tradisi dapat melahirkan perubahan sosial yang nyata dan berkelanjutan.
Denpasar, 4 November 2025 — The Product Design Study Program, Faculty of Fine Arts and Design, Indonesian Institute of the Arts (ISI) Bali once again held a Guest Lecture as part of its academic enrichment initiatives for students. On this occasion, the program invited Dr. Achmad Syarief, MSD., a lecturer and researcher in the field of product design widely recognized for his expertise in product semantics.
The event, held on Tuesday, 4 November 2025 at the ISI Bali campus, was attended by approximately 80 students from the Product Design Study Program. In his lecture titled “Product Semantics: Understanding the Meaning of Design Objects,” Dr. Syarief discussed how form, color, and material in design communicate messages and shape user perception.
In his presentation, he emphasized the importance of understanding semantics in the design process, ensuring that a product is not only functional but also communicates effectively. “Designers must understand how users interpret form and symbolism in a product. This is where semantics serves as a bridge between design and perception,” Dr. Syarief remarked.
Head of the Product Design Study Program, Wahyu Indira, S.Sn., M.Sn., stated that the guest lecture is part of the program’s commitment to providing students with learning experiences that are both contextual and relevant to current developments in the design industry. “Through this activity, students gain direct insights from experienced experts, enriching their perspectives in the process of product design,” he explained.
Students showed great enthusiasm throughout the lecture, engaging in interactive discussions that explored various applications of product semantics in contemporary design. This activity is expected to strengthen students’ conceptual and philosophical understanding of product design, while inspiring the creation of innovative works imbued with meaningful expression.