by admin | Mar 11, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Drs. A.A. Gde Yugus, M.Si., Jurusan Lukis, FSRD, DIPA 2008
Abstract
Keberadaan Seni lukis gaya Keliki seperti yang bisa kita lihat dewasa ini, merupakan kelanjutan dari seni lukis yang berkembang di Ubud yang lebih dikenal dengan seni lukis Pitamaha, hal ini bisa dimengerti oleh karena beberapa diantara pelukis yang kini masih aktif melukis gaya Keliki pernah belajar melukis gaya Ubud. Seni lukis gaya Ubud/Pitamaha tersebut keberadaannya juga memiliki keterkaitan historis dengan seni lukis klasik Kamasan yang pernah mencapai puncak keemasannya di masa pemerintahan Dewa Agung Jambe di Kerajaan Klungkung, hal ini bisa dilihat sebagai bukti monumental berupa lukisan wayang yang menghiasi Balai Kertagosa.
Seni lukis gaya Keliki dkategorikan sebagai produk budaya populer, diproduklsi secara masal untuk memenuhi pesanan, sehingga muatan estetika yang ada di dalamnya mengikuti selera pasar pariwisata, yang keberadaannya dewasa ini pasang surut. Seni lukis populer gaya Keliki memiliki karakter dan sifat-sifat tertentu yang memberikan kesankhas pada karya seni lukis bersangkutan, yang bisa dilihat seara visual dalam wujud karya seni lukis. Teknik yang diterapkan adalah teknik basah dengan cat air di atas media kertas mengikuti proses penciptaan seni lukis Bali modern. Keunikan dari seni lukis gaya Keliki terlihat dari tampilan ukurannya, yakni memiliki ukuran yang relatif kecil dari ukuran lukisan pada umumnya, sehingga dikenal dengan istilah lukisan mini atau lukisan “postcard”, yang menjadi kekhasan seni lukis gaya Keliki. Sejak munculnya pada akhir tahun 19780-an, seni lukis gaya Keliki masih tetap eksis dan bertahan sampai kini, walaupun berbagai terpaan sudah pernah dialaminya terkait dengan kondisi daerah Bali terhadap berbagai kasus dan isu seperti bom Bali, penyakit kolera, teroris dan sebagainya. Hal ini menyebabkan berkurangnya jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Bali yang secara tidak langsung berdampak terhadap semakin lesunya pasar lukisan baik di gallery, artshop-artshop dan pasar seni lainnya.
by admin | Mar 11, 2010 | Artikel, Berita
Oleh : I Wayan Adnyana, S.Sn., Jurusan Seni Rupa, FSRD, DIPA 2008
Abstract
Menyusuri bagaimana posisi seniman Barat di Bali, dan bagaimana p[enmgaruh bagi perkembangan seni rupa lukis (rupa) di Bali, memang sebuah topik penelusuran sejarah yang sngat penting. Bagaimana pun berbagai tulisan menyangkut beberapa topikkecil tentang persoalan ini telah banyak ditulis beberapa peneliti dan juga pengakaji sejarah seni di Bali. Tetapi memetakannya ke dalam timbang; bagaimana model (karakteristik) pengaruh yang ditimbulkan oleh seniman Barat yang dimaksud, sangatlah masih krang.
Mengambil posisi untuk meneliti sekaligus memetakan bagaimana posisi seniman Barat di Bali dari kurun tahun 30-an hingga tahun 2005, adalah hal yang sangat penting untuk menjawab bagaimana peran sekaligus pula bagaimana posisi perupa Bali di hadapan seniman Barat di tiap generasinya.
by admin | Mar 10, 2010 | Artikel, Berita
Oleh : I Nyoman Adi Tiaga, S.Sn., Jurusan FSRD, DIPA 2008
Abstract Penelitian
Secara global wilayah kepulauan Indonesia tewrmasuk wilayah yang memiliki iklim tropis. Perubahan iklim dan suhu yang terjadi di Indonesia ini menjadi arsitektur rumah tinggal di I ndonesia dapat digolongkan ke dalam bangunan tropis. Salah satu contoh bangunan-bangunan trop[is di Indonesia dapat di temukan di Singaraja, Bali. Singaraja sebagai Ibu Kota Kabupaten Buleleng, Bali sekain dijuluki sebagai kota “panas” berlambangkan patung Singa Ambararaja dan sebagai cikal bakal ibu kopta “Sundan kecil” tempo dulu ternyata menyimpan kekayaan Arsitektur kolonial Belanda yang jarang dijinpai di kota-kota lain yang ada di Bali. Arsitektur kolonial ini dapat dijumpai di lingkungan Sukasada, Liligundi, Jalan Ngurah Rai, Jln. Gajahmada, Pelabuhan Buleleng dan lin-lain.
Munculnya rumah kolonial yang ada di Singaraja dikarenakan masuknya penjajah Belanda ke Bali Khususnya Singaraja di mana arsitektur kolonial ini sudah di pengaruhi oleh bangunan tropis yang ada di Indonesia ciri-ciri memadukan unsur-unsur seni dan budaya, menjadikan proses kolaborasi mengawali kointak budaya Bali dengan budaya barat. Bentuk bangunan pada masa pemerintahan Belanda di Buleleng memiliki arti yang sangat penting, karena dapat menggambarkan bentik arsitektur kolonial Belanda yang dapat di kolompokan kedalam jenis gaya ‘Landhuis’ The empire Style. Pengelompokan ini didasarkan pada rentang waktu periode perkembangan gaya arsitektur kolonial di Indonesia secara umum.
Pada prinsipnya wujud arsitektur rumah tinggal kolonial yang ada di kota Singaraja merupapkan bangunan yang selalu mempertimbankan iklim tropis basah di Indonesia. Ekpresi bangunan tropis diwakili oleh penggunaan bentuk dan kemiringan atap yang cukup tajam berkisar antara 35˚ hingga 40˚. Kemiringan atap yang tajam ini ditujukan untuk menghadapi curah hujan yang tinggi dan mengakibatkan jumlah air menimpa atap cukup banyak. Bentuk dasar denah sangat kental terlihat pengaruh arsitektur tropisnya. Ekspresi tropis pada denah ditujukan dengan adanya serambi/beranda pada masing-masing bangunan. Ketebalan dinding pada seluruh bangunan sampel dibuat satu batu bata (30 cm). Bidang dinding d3engan ketebalan 30 cm pada bangunan ini akan membuat kesejukan udara pada masing-masing ruang tetap terjaga. Ekspresi bangunan ptropis pada elemen pintu dan jendela diwakili dengan bentuk dan ukuran yang berskala besar. Daun pintu dan jendela di buat rangkap (dua lapis), yaikni: daun pintu jendela kaca di bagian dalam dan daun pintu jendela panil berkisi pada bagian luar. Letak jendela dan pintu yang saling berhadapan khususnya pada masing-masing ruang tidur memungkinkan adanya cross ventilation. Walaupun sebagaian besar arsitektur yang ada di daerah Buleleng tidak meninggalakn dengan jelas nama perancang atau arsiteknya, namun melalui tahun pendiriannya, konsep, dan ciri-ciri gaya yang ditampilkan mengindikasikan bahawa arsitektur kolonial yang ada adalah arsitektur kolonial yang berkonsep tropis dan bergaya ‘The Empire Style’ Dengan demikian tidak dapat dipungkiri lagi bahwa arsitektur kolonial yang ada di kota Singaraja merupakan bangunan yang mempertimbangkan iklim tro[pis basah di Indonesia. Hasil penelitian ini juga mengindikasikan bahwa terdapat benang merah antara arsitektur kolonial yang ada di Kota Singaraja dengan arsitektur kolonial yang umumnya ada di Indonesia.
by admin | Mar 9, 2010 | Artikel, Berita
Oleh : Drs. A.A. Ngurah Gde Surya Buana, Jurusan Lukis ,FSRD. ,DM. Pusat 2007
Abstract penelitian
Latar belakang dan daya tarik memilih topik penelitian TRANSPORMASI RERAJAHAN SENI LUKIS BALI MODERN adalah karena penulis melihat banyaknya muncul lukisan-lukisan Bali modern yang memakai tema-tema rerajahan. Ketika memasuki tengah abad ke 21, telah terjadi perubahan-perubahan, terutama dalam seni lukis Bali modern, dalam irama penuh kreasi, ide, dan kreatifitas senimannya yang bersumber pada “rerajahan”. Rerajahan pada hekekatnya merupakan budaya Hindu Bali, sebagai suatu produk lokal genius. Hal ini dapat dilihat pada upakara panca yadnya, sarana pengobatan, ilmu penengen dan ilmu pengiwa. Antara rerajahan, tantra, dan mantram memiliki suatu keterpaduan yang sangat erat dan saling mendukung di dalam membangkitkan kekuatan magis sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masyarakat Bali. Transformasi Rerajahan Seni Lukis Bali Modern pada dasarnya telah dimlai sejak masuknya pengaruh budaya luar. Rudolf Bonnet dan Walter Spioes memberikan pengaruh kepada kehidupan seniman Bali untuk mengungkapkan ide –idenya secara bebas. Transpormasi rerajahan telah diawali pada zaman Pitha Maha, perubahan dan pembaharuan terjadi karena transformasi melalui akulturasi dan asimilasi yang berkaitan erat dengan penemuan baru. Rerajahan sebagai subyek mater diolah dan dilebur menjadi bentuk, fungsi dan makna baru, pada seni lukis Bali modern. Meskipun demikian Rerajahan yang erat hubungannya denag nAgama Hindu tetap disakralkan. Metode transpormasi dapat memberikan penghayatan ide-ide terhadap pelukis, melalui; Adopsi, Deprmasi, Abstraksi dan Setelirisasi rerajahan, sehingga terwujudlah suatu karya sni Bali modern yang berkepribadian, original dan segar.
Tujuan dan manfaat penelitian ini adalah; untuk mendapatkan gambaran secara lebih mendalam dan jelas mengenai traspormasi rerajahan dalam kontek perubahan bentuk, fungsi dan makna, pada seni lukis ali modern. Penelitian ini menggunakan kerangka teori; estetika, yang menitik beratkan pada bentuk yang berhubungan dengan keindahan, teori struktural fungsional, untuk mengetahi fungsu suatu rangkaian kebutuhan naluri manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupan, teori semiotika, untuk membedah makna.
Metode yang digunakan adalah; dengan pendekatan kualitatif dengan mengidentifikasi obyek transpormasi rerajahan pada seni lukis Bali modern secara langsung. Data dipisahkan menjadi data primer dan data sekunder. Data primer didapat dari pelukisnya dan data sekunder didapat dari buku-buku refrensi yang relevan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan kepustakaan. Selanjutnya dilakukan pengkajian yang cermat, akurat terutama terhadap penyajian bentuk, fungsi dan makna transformasi rerajahan seni lukis Bali modern. Hasil analisis ditemukan, keberadaan rerajahan pada hakekatnya telah menunjukan perannya sebagai sumber inspirasi, sehingga adanya pergerakan perubahan budaya dari transformasi rerajahan menjadi suatu tema-tema atau bentuk baru, dari bentuk baru ke fungsi estetis dan dari fungsi estetis ke makna.
Dari perubahan dan pengaruh yang terjadi, transformasi rerajahan seni lukis Bali modern telah terhegemoni oleh pariwisata, art shop dan kolektor seni. Transformasi merupakan salah satu cara untuk mengekpresikan ide-idenya atau imaginasinya melalui bentuk-bentuk rerajahan, Dalam transpormasi tersebut unsur-unsur internal rerajahan, seperti nilai-nilai agama dan adat dilebur menjadi satu dengan disertai oleh pengaruh modern berupa olahan ide, teknik serta pengungkapan karya seni, memunculkan seni lukis bali modern yang bersifat individualistik dan mengandung nilai-nilai komersial.