M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Dari Workshop Mahasiswa Jurusan Pedalangan ISI Denpasar Dengan Seniman Teater Prancis Akan Melahirkan Karya Pertunjukan Baru

Dari Workshop Mahasiswa Jurusan Pedalangan ISI Denpasar Dengan Seniman Teater Prancis Akan Melahirkan Karya Pertunjukan Baru

Denpasar- Gairah atmotfir akademik di Jurusan Pedalangan sejak kemarin terasa berbeda dari biasanya. Mahasiswa Jurusan Pedalangan ISI Denpasar telah mengikuti workshop teater yang menghadirkan dua seniman asing dari Perancis yaitu Jean Francois Rene dan Sandrine Maunier. Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama Jurusan Pedalangan ISI Denpasar dengan Yayasan Indonesia Perancis. Sekitar 15 mahasiswa Pedalangan mendapatkan metode pembelajaran baru terkait dunia teater. Diawal latihan, mereka melakukan pemanasan, untuk mendapatkan gerakan teater yang baik dan maksimal.

Kemudian mahasiswa dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok mendapatkan box yang isinya berbeda-beda. Mereka dilatih merasakan dan berimajinasi dengan memasukkan tangan mereka ke dalam box yang mereka tidak ketahui isinya. Setelah itu isi dalam box diungkapkan melalui sebuah suguhan pementasan sesuai apa yang dirasa. Kelompok pertama mendapatkan isi boxnya adalah air. Kemudian mereka menterjemahkannya air tersebut dalam kelahiran manusia. Diaman diceritakan dalam kelahiran jabang bayi itu ke dunia bersama dengan empat saudaranya yang dikenal dengan Catur Sanak. Catur Sanak itu adalah ari-ari atau plasenta, darah, lamas dan yeh nyom. Empat hal itulah yang melindungi dan memelihara secara langsung sang jabang bayi dalam kandungan ibunya. Hingga akhirnya mereka memerankan empat creatur tersebut dengan karakter berbeda.

Kelompok kedua menggabungkan isi box yang berupa serabut kain dan kerikil. Mereka menterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari manusia yang tidak luput dari filosofi hindu yaitu Tri Hita Karana, yaitu hubungan manusia dengan lingkungan, manusia dengan sesama manusia dan masnusia dengan Tuhan. Dalam menjalankan kehidupan pasti akan menemui banyak halangan atau kerikil yang tentunya dapat dilewati apabila kita dapat menjaga keseimbangan ketiga hubungan tersebut.

Sementara mahasiswa asing (Darmasiswa) ISI Denpasar asal Perancis, Oveli,  juga turut terlibat dalam workshop mendapatkan isi dalam box adalah kawat besi. Dia lalu menginterpretasikannya dengan membuat ular yang terbuat dari besi, kemudian besi tersebut dibalut dengan kertas, yang akhirnya menyerupai seperti ular. Dengan teknik murah meriah tersebut, Oveli mampu menarik perhatian penonton.

Menurut Jean Francois Rene, pelatih teater, untuk menghasilkan sebuah karya seni tidak harus dengan kemewahan dan kemegahan. Yang terpenting adalah konsep yang ingin dituangkan, serta pesan yang ingin disampaikan. Sementara Ketua Jurusan Pedalangan ISI Denpasar, I Wayan Mardana mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan yang diberikan. Menurut Mardana mahasiswa Jurusan Pedalangan tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan workshop. Hasil kerja selama mengikuti workshop akan dipentaskan pada tanggal 9 April 2010, pukul 19.30 yang bertempat di Gedung Natya Mandala ISI Denpasar.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Mahasiswa Pedalangan Akan Berkolaborasi Dengan Seniman Prancis

Mahasiswa Pedalangan Akan Berkolaborasi Dengan Seniman Prancis

Denpasar- Selama 6 bulan terakhir Fakultas Seni Pertunjukan, Jurusan Pedalangan ISI Denpasar telah dua kali menggelar pertunjukan bertaraf internasional. Setelah beberapa waktu lalu Jurusan Pedalangan sempat berkolaborasi dengan seniman asing asal India, kini Jurusan Pedalangan tengah bekerjasama dengan Yayasan Indonesia Perancis lewat kegiatan pementasan, workshop dan kolaborasi pementasan bersama.

Pada malam hari (5 April 2010) Yayasan Indonesia Perancis (AF Denpasar) mengadakan pementasan teater boneka dengan judul ‘ Imago’ di Gedung Natya Mandala ISI Denpasar, yang menghadirkan dua seniman asing yaitu Jean Francois Rene dan Sandrine Maunier. Imago adalah kisah tokoh aneh dengan kepala tertanam. Dia tumbuh bak tanaman dan hidup bertransformasi secara tak lazim dari para penonton memasuki dongeng visual, yang mana di dalamnya ada segalanya seperti pohon di dalam benih, kupu-kupu di dalam ulat, serta sifat gotong-royong di dalam kejahatan. Dalam pementasan teater boneka ‘Imago” mereka berhasrat untuk mengespresikan diri melalui seni adi luhung seperti pertunjukan wayang yang dipadu dengan desain, suara dan pencahayaan, sehingga saat di panggung pembahasan cerita akan dapat dinikmati melalui transformasi dan metamorfosa tubuh serta simbol-simbol yang dapat lebih dikomunikasikan melalui cara-cara yang kuno. Berbagai harapan dalam Imago yaitu mampu mendekati penikmat baru seperti anak-anak yang belum terintimidasi dengan konsep drama paten, sehingga mampu menyerap apapun yang disodorkan, termasuk bagaimana mengkomunikasikan sesuatu dengan cara berbeda. Para penonton mendapatkan pengalaman berbeda dalam seni teater ala teater Yunani.

Kedua seniman tersebut diatas tergabung dalam kelompok teater Prancis « Désaccordé ». mereka telah residensi di Indonesia untuk menimba ilmu tentang kesenian topeng tradisional serta wayang Jawa dan Bali. Setelah melakukan residensi di Tampak Siring dan sebelum ke Lembaga Indonesia Prancis Jogjakarta dan CCCL Surabaya, « Désaccordé » mengepak koper ke Alliance française Denpasar untuk bertemu dengan seniman-seniman Bali, memandu sejumlah workshop dan mementaskan pertunjukan Imago, hasil dari riset dan melakukan pertemuan-pertemuan dengan seniman-seniman di Indonesia khususnya Bali.

Untuk di Bali mereka bekerjasama dengan ISI Denpasar sebagai salah satu lembaga pendidikan yang berperan besar melestarikan seni dan budaya Bali. Setelah melakukan pementasan, mereka akan berbagi ilmu dengan mahasiswa Jurusan Pedalangan ISI Denpasar selama 3 hari (6-8 April 2010). Setelah itu mahasiswa Jurusan Pedalangan ISI Denpasar akan berkolaborasi dengan seniman asal Perancis tersebut untuk menghasilkan sebuah karya pertunjukan. Hasil workshop tersebut akan dipertanggungjawabkan lewat pementasan kolaborasi yang rencananya akan dipentaskan malam hari, pada tanggal 9 April 2010.

Dalam sambutannya Ketua Yayasan Indonesia Perancis, Audrey Lamu mengungkapkan rasa terima kasih atas sambutan yang hangat dari ISI Denpasar untuk dapat bersama-sama menghasilkan serta menciptakan hasil karya baru dari dua Negara. Tentu besar harapannya hubungan kekerabatan dua Negara dapat terjalin baik lewat seni. Hal senada juga disampaikan Dekan FSP ISI Denpasar yang hadir membuka rangkaian acara tersebut. I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn., menyampaikan pesan kepada para mahasiswa ISI Denpasar untuk dapat memanfaatkan kesempatan yang baik ini guna memperoleh ilmu tambahan serta wawasan baru terkait perkembangan teater di luar negeri, khususnya dari Perancis. 
Humas ISI Denpasar melaporkan

Penciptaan Foto “Food Shot” Dalam Desain Komunikasi Visual

Penciptaan Foto “Food Shot” Dalam Desain Komunikasi Visual

Studi Kasus Promosi Restauran Bebek Bengil di Ubud Bali

Oleh : A.A. Gde Bagus Udayana, SSn., M.Si., Jurusan DKV, FSRD, Penciptaan DIPA 2008

Abstrak penelitian

Obyek Foto Food Shot adalah makan. Ia dapat berupa makan pembuka, makanan utama, makanan penutup, aneka jajanan, aneka jenis minuman dan lain-lain. Pemotretan Food Shot harus dibedakan dengan pemotretan pemandangan (landscape) atau fine art. Sebuah foto, meskip[un mengandung unsur makanan atu miniuman, tidak dapat dikatakan Food Shot apabila makanan dan minuman dalam foto tersebut aspek yang dikenakan fotogarafer bukan karya Food Shot yang terdapat dalam foto tersebut, Foto Food Shot harus memenuhi kriteria seperti diungkapkan Hanawi Winarko (2000; 52) bahwa pemotretan Food Shot tujuan utamanya adalah menampilkan unsur-uinsur makan dan minuman. Fotografer ditantang untuk dapat menghadirkan keunggulan makanan dan minukman daloam karya fotonya.

Berdasarkan atas latar belakang yang digambarkan di atas maka diajukan beberapa permasalahan sebagai berikut (1) Bagaimana proses penciptaan foto “Food Shot” dalam Desain Komunikasi Visual? (2) Bagaimana proses retouching digital dapat membantu pada foto “Food Shot” dalam Desain Komunikasi Visual?.

Metode penciptaan yang digunakan pada penciptaan bersifat “deskriptif” dengan caraq mencipakan foto “Food Shot” dengan Digital Still Life Photography dan mengiterpretasikan  foto-foto serta mengidentifikasikan  berdasarkan pada teori estetika dan desain.

Dalam pengambilan gambar, merupakan tata permainan cahaya. Dengan menggunakan dua buah lampu flash, satu dari kiri dengan penyinaran spot atau standar reflektor, lainnya diatas obyek dengan menggunakan soft boxx60x60. Posisi di sebelah kiri obyek 60 cm lebih kiri dari sasaran, sedangkan yang lainnya diatas obyek. Dari samping kanan diletakan selembar kertas putih yang berfungsi sebagai reflektor sekedar untuk memeberikan keseimbangan cahaya dan sebagai background menggunakan kain putih yang nantinya dapat dengan mudah seandainya dalam digital image ingin memberikan banyak variasi untuk backgroundnya. Dengan hadirnya cahaya-cahaya flash yang divariasi dengan standar reflektor dan soft box, maka warna alas yang menyatu dengan latar belakang atau background yang berwarna putih. Itu bisa menjelma dengan memberikan tidak sekedar satu warna tungal, melainkan nuansanya berbeda-beda. Di situlah inilah dan asiknya studi pemotretan Food Shot dengan berbagai lampu flash berikut asesorisnya, kita bisa mewujudkan imijinasi kita menjadi karya foto, wqalaupun tidak bisa sebebas seorang pelukis yang bekerja dengan kuas dan catnya.

Kata Kunci: Menciptakan foto “FOOd Shot” dengan Digital Still Life Photography dalam desain komunikasi visual

Keindahan Di Balik Tragedi

Keindahan Di Balik Tragedi

Oleh : I Made Saryana, SSn., M.Sn., Jurusan Fotografi, FSRD, Penciptaan DIPA 2008

Abstrak penelitian

Penggunaan alat-alat transportasi ibarat sebuah “pedang bermata dua”, di satu sisi memberi manfaat dan di sisi lain dapat menghancurkan .Sebuah dualitas ideal pecapaian kenudayaan modern, dan implikasi tragedi yang senantiasa inheren. Sebagimana kemudahan dalam melakukan perjalanan sebagai sisi positif sedangkan polusi dan kecelakan sebagai sisi negatifnya. Walau demikian kita punya pilihan lain, karena kebudayaan  modern menuntut mobilitas yng tinggi, sehingga transportasi modern adalah keharusan.

Hampir setiap hari kita dengar dan baca di media masa tentang berbagai peritiwa tabrakan. Sekecil apapun peristiwa tabrakan itu selalu menimbulkan korban juga kerugian. Terlebih-lebih peristiwa itu terjadi dalam sekala besar, melibatkan orang banyak serta menelan korban jiwa dan materi dalam jumlah besar, sehingga secara psikologis akan menimbulkan kesedihan maupun penderitaan bahkan traumaHal ini dapat dikatakan sebagai tragedi karena selalu membuat penderitaan bagi manusia itu sendiri.

Sebagai peristiwa, kecelakaan menyisakan paling tidak dua ralitas; antara yang berkaitan dengan implikasi mental/psikologis, dan lainnya menyangkut fakta-fakta benda yang secara otomatis menciptakan “makna” baru, atau malah peralihan ke “makna” lain. Bagi saya, realitas benda-benda dari mobil yang penyok, cat mengelupas, hingga struktur kendaraan yang tergeletak, atau hangusterbakar, adalah realitas fakta bendayang telah mengalami peralihan “makna”. Sebuah realitas makna paradoks; antara makna yang menunjuk ke sisi traumatik, dan makna yang menunjuk ke artistik visual. Pada makna paradoks inilah, saya menempatkan eksplorasi kreatif penciptaan karya fotografi saya. Berdasarkan pengamatan tercipta sebuah komposisi visual yang tak terduga, ketika kendaraan yang sebelumnya dikonstruksi sedemikian bagusnya tiba-tiba bertabrakan hingga memunculkan efek: ringsek, pemnyok, maupun hancur berkeping-keping namun dari situ muncul sesuatu yang unik dan menarik. Di sinilan saya melihat “makna keindahan” di balik sebuah tragedi.

Melalui pemotretan  bagian-bagian tersebut yang paling unik dan menarik untuk difoto dengan meng –close up obyek tersebut maka terciptalah karya fotografi yang memiliki nilai estetik dan artistik yang  khas, maka tajuk penciptaan karya fotografi ini adalah “ Keindahan di Balik Trgedi”.

Kata-kata Kunci : karya fotografi, tragedi dan keindahan.

Loading...