
Foto: Pangurip Tri Angga bertajuk “Charma-Samasta-Chandika”, Rabu (31/12) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, ISI BALI.
Transformasi Institut Seni Indonesia Denpasar menjadi Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI) memasuki babak peneguhan identitas. Melalui Pangurip Tri Angga bertajuk “Charma-Samasta-Chandika” yang digelar Rabu (31/12) di kampus setempat, ISI BALI secara resmi menghidupkan Lambang, Himne, dan Mars sebagai simbol kepribadian dan spirit baru perguruan tinggi seni negeri di Bali.
Rektor ISI BALI, Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana dalam sambutannya, menyampaikan bahwa tahun 2025 menjadi tonggak sejarah penting bagi ISI BALI. Setelah transformasi kelembagaan dari ISI Denpasar menjadi ISI BALI dan pengundangan Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 28 Tahun 2025 tentang Organisasi dan Tata Kerja ISI BALI, transformasi ini digenapi dengan Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 50 Tahun 2025 tentang Statuta Institut Seni Indonesia Bali yang diundangkan pada 24 Desember 2025.
Prof. Kun Adnyana menerangkan statuta ISI BALI menjadi landasan fundamental yang menata secara resmi Lambang, Himne, dan Mars ISI BALI sebagai Tri Angga, tiga atribut agung kelembagaan sekaligus spirit ISI BALI. “Hari ini momentum kita menyemai Pangurip Tri Angga ISI BALI. Ketiga penanda kesejatian kepribadian insani, mewujud benderang lentera idea, cipta, dan karya, serta derma Tridharma lintas masa, ujar Guru Besar Sejarah Seni ini.

Foto: Pangurip Tri Angga bertajuk “Charma-Samasta-Chandika”, Rabu (31/12) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, ISI BALI.
Lambang Nretya atau Nritya Siwa Nataraja, merupakan simbol abadi yang disematkan sedini ISI Bali bernama ASTI Denpasar. Ragarupa lambang ditransformasi dalam gubah artistika dan stilistika kekinian nilai ISI BALI. Kesejatian nilai ISI BALI, berikut penghayatan pengalaman memulia kampus tercinta ini, menjadi mula rima dan puitika keagungan Himne ISI BALI. Keluhuran nilai Indonesia, digelora raya dalam Mars ISI BALI.
Selain penguatan identitas kelembagaan, Rektor juga memaparkan capaian strategis ISI BALI sepanjang 2025. ISI BALI meraih predikat Akreditasi Unggul dari BAN-PT, serta akreditasi Unggul untuk Program Studi Magister Desain dan Program Studi Doktor Seni. Capaian tersebut diperkuat dengan keberhasilan ISI BALI meraih tiga Anugerah Diktisaintek 2025, masing-masing Gold Winner Kerja Sama dengan Industri, Silver Winner Unit Layanan Terpadu, dan Bronze Winner Kerja Sama Internasional.
Kegiatan Pangurip Tri Angga ISI BALI turut dihadiri berbagai unsur penting. Gubernur Bali hadir melalui perwakilan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dr. I Gede Arya Sugiartha. Selain itu, acara dihadiri anggota Dewan Pertimbangan ISI BALI, Ketua dan anggota Senat ISI BALI, jajaran Wakil Rektor, Dekan, pimpinan unit kerja, dosen dan tenaga kependidikan, Ketua dan jajaran DWP ISI BALI, insan pers, seniman, budayawan, tokoh masyarakat, mitra strategis, serta sivitas akademika ISI BALI.
Mewakili Gubernur Bali, Prof. Dr. Gede Arya Sugiartha dalam sambutannya menegaskan bahwa peluncuran Tri Angga ISI BALI tidak sekadar menghadirkan simbol institusi. Menurutnya, Pangurip Tri Angga merupakan tonggak penting dalam peneguhan identitas kebudayaan Bali sebagai pulau yang ajeg dan berbudaya.
“Tri Angga ISI BALI adalah bagian dari upaya menjaga Bali sebagai pulau yang ajeg, bebudaya, dan berkepribadian. Ini bukan hanya milik institusi, tetapi juga menjadi representasi nilai-nilai kebudayaan Bali,” ujarnya.
Prof. Arya juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada ISI BALI atas pelaksanaan Pangurip Tri Angga. Ia berharap Lambang, Himne, dan Mars ISI BALI senantiasa menjadi sumber inspirasi, penguat jati diri, serta pendukung identitas kebudayaan Bali di tingkat nasional maupun global.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, ISI BALI juga menetapkan Resolusi 2026 sebagai Tahun Gerakan Koleksi Seni-Desain, sekaligus menganugerahkan Penghargaan Sewaka Nata Kerthi Nugraha 2025 kepada tiga seniman maestro, yakni Dra. I G.A. Susilawati (Seniman Tari Bali), I Made Sukanta Wahyu (Seniman Patung), dan I Nyoman Subrata (Seniman Drama Gong), atas dedikasi dan pengabdian mereka dalam memuliakan seni dan budaya. (ISIBALI/Humas)










