
Acara yang turut meramaikan Pameran Vidya Vastu Virya berakhir di hari ke-3 dengan Art Talk beserta pagelaran seni dari Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Kriya, Desain Interior, Desain Komunikasi Visual (DKV), dan Fotografi. Masing-masing HMP berbagi pengalaman seru mereka sebagai mahasiswa di program studi masing-masing dan menghadirkan berbagai macam musik walaupun ditemani hujan.
HMP Kriya menghadirkan dua narasumber, Suryawan dan Naomi, mahasiswa yang ikut dalam pagelaran Pameran Desiminasi Tugas Akhir Program ISI Bali Berdampak Semester Gasal 2025/2026. Keduanya memiliki pengalaman yang berbeda dalam apa yang mereka kerjakan bersama mitra usaha yang dipilihnya. Di antaranya mempelajari tentang upcycling dan warna alam. Dengan begitu pengalaman tentang pengolahan material sangat berarti untuk mereka, begitu juga mempelajari pasar yang ada di dunia industri kriya. Sedangkan untuk pagelarannya sangat penuh antusiasme walaupun harus berpindah tempat dan berteduh dari kehujanan. HMP Kriya menghadirkan pagelaran ngelawang yang unik, daripada diiringi musik gamelan, mereka memakai kulkul berbahan bambu yang dibuatnya sendiri. Sehingga pagelaran ini terbilang sangat unik dan penuh semangat yang melibatkan 30-an mahasiswa Program Studi Kriya.
HMP Desain Interior menghadirkan satu narasumber, Komang, mahasiswa yang ikut dalam Tugas Akhir juga. Salah satu pengalaman yang berkesan untuknya adalah pengalaman yang keluar dari studio. Misalnya di saat ke lapangan untuk mengecek proyek bersama mitra yang tidak secara langsung didapatkan saat mengerjakan tugas kampus. Sehingga kesempatan yang didapatkannya melalui Program ISI Bali Berdampak tersebut menjadi sangat penting dalam pengembangan keahlian serta kompetensinya sebagai desainer untuk desain interior. Menurutnya jangan sampai ketinggalan dalam mendalami berbagai skill (kemampuan) desain dua dimensi maupun tiga dimensi yang harus dikuasai dalam Desain Interior karena nanti saat ikut Program ISI Bali Berdampak menjadi kesempatan untuk menggunakan semuanya. Karena dengan terbiasa menggunakannya, mahasiswa akan bisa melaksanakan tugas yang diberikan oleh client dengan lebih mudah. HMP Desain Interior lalu menghadirkan band pop yang membawakan lagu-lagu band Indonesia ternama seperti Sheila On 7 dan Dewa 19 dimana audiens tidak bisa menolak ikut bernyanyi.
HMP DKV menghadirkan dua narasumber mahasiswa yang sedang Tugas Akhir dan satu narasumber mahasiswa semester tiga. Adapun salah satu mahasiswa, Candra, yang ikut Program ISI Bali Berdampak di Polandia yang ikut dalam mengembangkan Taman Bali Indah yang baru dibangun. Disana ia ikut dalam pertunjukan seni, workshop seni, dan juga sebagai tim branding. Ada berbagai adaptasi yang harus dilalui terutama dalam budaya, bahasa serta cuaca yang berbeda. Pengalaman copywriting menjadi penting karena ada standar yang berbeda dengan di Indonesia.
Satunya, Dayu, melakukan Program ISI Bali Berdampak di Rumah Sakit Kenak Medika, Gianyar. Pengalamannya penuh hal yang menarik terutama mengetahui apa saja yang terjadi serta manajemen di dalam rumah sakit. Selain mendalami dalam membuat branding-nya, salah satu pengalaman yang tidak terpikirkan adalah sesi foto bayi yang baru lahir. “Excited, deg-degan juga, karena sesuatu yang baru,” Dayu menjelaskan.
Mahasiswa semester tiga, Dita, memilih DKV dari arahan orang tua yang melihat potensi Program Studi DKV itu seperti apa. Mengenal berbagai dasar pengembangan DKV melalui Nirmana dan DKV Dasar menjadi bagian dari mula perjalanan mempelajarinya. Pameran-pameran menjadi pengalaman yang tidak terlupakan terutama pameran berkolaborasi dengan S2 Tata Kelola Seni sehingga dapat mempelajari cara membuat pameran bersamanya. Pagelaran seni yang dihadirkan oleh HMP DKV adalah band musik yang membawakan lagu-lagu lawas pop rock luar negeri. HMP Fotografi menghadirkan tiga mahasiswa yang mengikuti Program ISI Bali Berdampak dan pagelaran DJ yang menemani audiens menembus malam. Dika, Tria, dan Bagus melaksanakan Program ISI Bali Berdampak di tiga tempat yang berbeda dengan konsentrasi yang berbeda-beda juga, di antaranya story telling,hospitality, dan fashion modelling.Skill baru dalam menangkap foto terbaik mungkin tidak didapatkan selama program berjalan tetapi skill membagi waktu, menggunakan lighting/pencahayaan dalam studio, dan marketing atau pemasaran menjadi hal-hal yang dipelajari lebih dalam. Momentum yang tidak terlupakan adalah bagaimana mengolah konsep tersendiri agar dapat menghasilkan karya fotografi yang baik, juga menghadapi serta belajar dari kesalahan yang terjadi. “Jangan pernah ngerasa takut yang berlebihan, takut boleh tetapi tetap komunikasikan dengan atasan, pokoknya jangan asumsi sendiri,” Tria berpesan.










